Saturday, July 18, 2026

Suruh Tanam Padi Sendiri? Tak Ada Empati dan Membuka Fakta Tersembunyi

 

Ilustrasi: Pixabay 

Dua ratus tahun yang lalu di Negara Batuisi terjadi anomali dalam hal pangan. Presiden di sana yang bernama Wopra Ansu membahas soal harga beras. Rakyat di negara tersebut secara apa adanya menyebut bahwa harga beras kala itu tergolong mahal. Padahal sang presiden dengan bangga menyatakan Batuisi sedang swasembada pangan.

Menurut masyarakat, kata "swasembada" hanyalah kebohongan belaka. Pasalnya, jika memang benar demikian, pastilah harga beras murah karena jumlahnya berlimpah. 

Nah, lantaran Presiden Wopra Ansu seorang pemarah yang antikritik dan ingin menutupi kebohongannya soal swasembada pangan itu, ia pun langsung mengatakan "Yang bilang beras mahal, suruh tanam padi sendiri."

Tak pelak, rakyat langsung tersentak dengan perkataan sang presiden tersebut. Betapa tidak? Perkataannya sungguh tidak beradab. Benar-benar tidak ada unsur empati terhadap rakyat. Sama sekali tak pantas diucapkan oleh manusia mana pun.

Dan, dengan adanya kalimat kasar yang keluar langsung dari mulutnya, muncullah fakta tersembunyi bahwa isi pidatonya yang selama bertahun-tahun berbunyi, "demi rakyat", "untuk rakyat", adalah bentuk kemunafikan dirinya saja. Aslinya tidak ada empati kepada rakyat.

Friday, July 17, 2026

Mau Jadi Presiden? Teruslah Berutang dan Bodohkan Rakyatmu!

Ilustrasi: Pixabay 

"Bagaimana caranya agar terus berutang, Tuan?"

"Gampang."

"Caranya?"

"Buatlah Megaproyek, seperti pembangunan jalan tol, bandara internasional, ibukota negara baru, dan bangunan-bangunan lainnya secara massal. Semua itu akan membuat pengeluaran negaramu membengkak karena menguras anggaran belanja yang ada. Dan, pastikan semuanya tanpa keuntungan agar negara yang kamu pimpin berutang dan berutang terus kepada kami."

"Lalu bagaimana caranya agar rakyat menjadi bodoh?"

"Mudah. Buatlah program pembodohan semisal kasih makan para siswa secara gratis. Ya, ngasih mereka makan secara cuma-cuma itu selain bisa menghabiskan ratusan triliun uang negara tanpa ada keuntungan, juga akan membuat mereka malas belajar. Pikirkan saja sendiri, kalau bisa gratis untuk apa lagi para siswa harus belajar untuk bisa bekerja kelak? Tujuan mereka belajar agar bisa bekerja pada masa depan, 'kan?"

"Benar, Tuan. Gratis memang membuat orang menjadi malas. Malas belajar salah satunya."

"Baguslah kamu sudah paham. Sekarang bersiaplah berkampanye politik. Buatlah dirimu seakan-akan dipilih rakyat. Kamu tenang saja, kami yang akan mengatur angka kemenanganmu. Dengan kata lain, meski di pemilu nyata tidak ada yang memilihmu sekalipun, kamu lah pemenangnya. Kamulah yang akan menjadi Presiden Negara Republik Gelasia"

"Baik, Tuan. Saya janji semua perkataan Tuan akan saya laksanakan."

"Anak pintar. Tapi ingat! Kalau kamu sudah menjadi presiden dan lalu mengingkari janjimu,  jabatanmu sebagai presiden langsung kami cabut!"

Beberapa bulan kemudian, politikus senior bernama Ya Pik Un itu resmi menjadi presiden di sana. Sesuai janjinya kepada para elit global waktu itu, maka hari demi hari negara tersebut kian suram. Para pengamat dari berbagai bidang sama satu suara: Republik Gelasia bakal tamat. 

***

Thursday, July 16, 2026

0,0026% dari 3 Milyar= 78K Selama 6 Bulan?

 

Ilustrasi: Pixabay 

"Ha ha ha ha! Itu laba usaha atau uang jajan?"

"Uang jajan! Ha ha ha ha!"

"Serius?!"

"Ah, itu... Uang jajan versi Negara Republik Moncong Bedil."

"Maksudnya?"

"Yaaaa itu hanyalah istilah aja. Aslinya sih laba, tapi cuma seupil."

"Emang waktu pendirian usahanya nggak ada studi dulu?"

"Nggak ada. Langsung didirikan dalam jumlah sangat banyak dengan bangunan megah.

"What?! Itu gila."

"Begitulah."

"Lalu, marketing dan pemasarannya bagaimana?"

"Ha ha ha. bagaimana ada keduanya? Bangunannya aja di tempat super sepi dan jauh dari penduduk, semisal di ketinggian seribu lebih mdpl."

"Astaganagaaaa!"

"Presidennya yang bernama Gi Siang Lam itu emang suka terburu-buru. Gemar tergesa-gesa. Dia itu tidak menyukai perhitungan yang matang. Mungkin karena dirinya lemah di bidang matematika."

"Benar juga. Dia itu yang menjumlahkan 10+7=22, 'kan?"

"Betul sekali. Orangnya emang nggak suka ribet. Maunya instan. Padahal yang dipakai uang rakyat. Kasihan orang-orang yang menjadi rakyat di sana. Mereka diperas olehnya dengan beragam pajak. Bahkan, pajak berlapis"

"Udah tua banget juga sih dia. Seharusnya dirinya duduk-duduk manis aja di rumah."

"Ya. Usia segitu emang wajib istirahat. Tapi bagaimana lagi? Ambisinya menjadi presiden terhebat di dunia masih menggebu-gebu. Makanya dengan fakta usia tuanya dan ambisinya itu, dia memakai cara instan. Misalnya membangun ribuan koperasi di desa tanpa perencanaan matang, menjalankan proyek makan siang di sekolah yang membangkrutkan negaranya sendiri, dan lain sebagainya yang bombastis."

"Weleh-weleh. Ternyata ada juga ya orang seperti itu di dunia ini.... Sungguh dirinya adalah petaka."

***

Wednesday, July 15, 2026

Presiden Egois Omon-Omon Adalah Seorang Psikopat Sejati

Ilustrasi: Pixabay 

"Aku pikir presiden kita lah yang terbaik di kawasan agraris ini."

"Presiden kita selalu memberikan perhatian pada permasalahan bangsa."

"Mulai dari perbaikan jalan-jalan yang rusak, penyambungan jalur air yang terputus, pembemqhqn sekolah-sekolah dengan kondisi memperihatinkan, peningkatan gaji para tenaga honorer dengan gaji kecil, mengatasi kasus pengangguran, melakukan perbaikan tata kelola perekenomian negara, hingga meningkatkan keamanan masyarakat."

"Dari awal beliau benar-benar bekerja untuk rakyat. Ini jauh sekali berbeda dengan presiden di Negara Republik Layu."

"Kudengar Presiden Embe Prasu Genong di negara itu begitu egois. Semua program yang dijalankannya berfokus pada keuntungan pribadinya semata."

"Padahal usianya sudah sangat tua. Tapi, masih sangat doyan duit. Ya, duit dan duit saja di kepalanya."

"Dan, yang paling membuat banyak orang geram adalah, beliau selalu saja melancarkan aksinya dengan mengatasnamakan rakyat."

"Sementara rakyat di sana selalu beliau tekan dengan pajak, ancaman politik, bahkan pembungkaman nyata dengan kejahatan kemanusiaan."

"Sepertinya beliau itu seorang psikopat sejati. Beliau begitu menikmati kesengsaraan rakyatnya."

"Benar katamu. Status Pelanggar HAM berat masih beliau banggakan hingga sekarang."

*** 

Monday, July 13, 2026

Negara Bangkrut, Pajak Jadi Andalan

Ilustrasi: Pixabay 

Pajak rakyat kian merajalela. Bukan hanya pendapatan luring, yang daring pun disedot pemerintah. Alhasil, harga barang semakin melonjak. 

Dulu, hanya barang-barang yang kena cukai harganya menggunung. Sebutlah harga mobil impor. Kini, semua harga melesat bagai roket.

Negara Jahila memang benar-benar sudah bangkrut. Bahkan mereka tidak bisa lagi mendapatkan utangan dengan jumlah besar. Pihak luar sudah tidak percaya lagi kepada pemerintah negara tersebut. Betapa tidak? Anggaran negara di sana mereka bakar sesuka hati dalam program-program di luar nalar. Sebutlah dua contohnya, yakni makan buah gratis (MBG) dan usaha kota (UK). Keduanya benar-benar membakar anggaran negara tersebut habis-habisan. 

Padahal sejak awal para pengamat ekonomi sudah memberikan peringatan keras terhadap hal itu, tapi presiden di sana sangatlah sombong dan arogan. Dia tidak mau mendengarkan masukan dari orang-orang pintar. Dirinya merasa yang paling benar. Tapi kenyataannya sungguh memperihatinkan.

Dengan kebangkrutan tersebut, hanya pajaklah tumpuan di sana. Pajak diperluas. Yang semula tidak dikenai pajak, sekarang kena pajak. Rakyat di Negara Jahila sungguh mendapatkan beban hidup luar biasa. Sudah begitu, mereka diancam presiden dan menteri di sana untuk segera angkat kaki dari negara tersebut jika tak setuju dengan pemerintah. 

Bisa dibayangkan kalau mereka benar-benar angkat kaki dari sana. Siapa yang membayar pajak? Sudah dipastikan negara itu langsung knock-out. Tak bisa bangkit lagi. 

Jangan Nyinyir! Duduk saja dan Lihat Baik-Baik!

Ilustrasi: Pixabay 

"Kalau kamu tidak suka denganku, jangan bisanya nyinyir! Kamu duduk saja dan lihat baik-baik!"

"Bagaimana bisa aku hanya duduk dan lihat baik-baik kalau cara mengemudimu ugal-ugalan gini!"

"Diam! Kamu tidak usah nyinyir!"

"Aku tidak bisa diam selama cara mengemudimu tidak baik!"

"Tidak baik bagaimana? Aku mantan pembalap. Aku tahu cara mengemudi yang benar."

"Benar, katamu? Ugal-ugalan kayak gini kamu sebut benar? Benar dari Hong Kong?"

"Makanya itu kamu cukup duduk dan lihat baik-baik cara mengemudi sang mantan pembalap!'

"Tidak! Aku tidak bisa diam! Ini berbahaya bagi kita dan membahayakan juga bagi para pengguna jalan di sekitar kita! Ubah cara mengemudimu! Ini bukan arena balapan! Ini jalan raya! Jalan umum!"

"Simpan kata-katamu! Aku tidak memerlukannya! Aku sudah benar! Cara mengemudiku sangat bagus."

Dan, tak lama kemudian sebuah kecelakaan maut terjadi. Dua orang kekasih dalam mobil itu tewas seketika.

***

Sunday, July 12, 2026

Presiden: Negara Suram, Silakan Cari Negara Lain

 

Ilustrasi: Pixabay 

Dan akhirnya sedikit demi sedikit rakyat di Negara Namijersia itu pun merantau di luar negeri. Ada yang berdomisili di Yordania, India, Swiss, Belanda, Afrika Selatan, Turkiye, Amerika Serikat, Jepang, dan negara-negara cerah lainnya.

Bagi mereka, perkataan Presiden Pascaloba Sundulo tersebut sungguh melukai hati terdalam manusia. Betapa tidak? Sejatinya presiden di sana juga sama-sama manusia senegara dengan mereka, tapi sampai hati berkata demikian. Menurut mereka, pria lanjut usia itu sudah keterlaluan. 

Itulah sebabnya, seluruh rakyat di negara tersebut akhirnya meninggalkan negara yang dipimpinnya demi menyembuhkan luka hati mereka.

Alhasil, masalah besar pun datang. Pendapatan negara turun drastis. Pajak rakyat tak ada lagi. Nol besar! Yang ada hanyalah pendapatan nonpajak. Sedang utang negara sudah sangat tinggi. Pemerintah di negara tersebut tak memiliki solusi lagi. 

Akhirnya tanah air di sana pun dijual 100%. Dunia tak mengenal lagi nama Namijersia. Di peta bumi namanya sudah berganti menjadi Republik Nasionalis Demensia. 

***

Saturday, July 11, 2026

Medsos Lebih Dipercaya daripada Pemimpin Hasil Kecurangan

Ilustrasi: Pixabay 

Apa pun yang namanya hasil kecurangan tidak akan bertahan lama dan hasilnya hanyalah keburukan. Bukan sekadar satu kali keburukan, tetapi keburukan yang berulang-ulang. Itulah yang pernah terjadi di Negara Manipulatifanda. Di sana ada seorang pemimpin yang menang dalam pemilihan presiden dengan cara curang.

Kecurangan yang dilakukan bukan hanya isapan jempol. Dalam praktiknya melibatkan negara besar yang menginginkan keuntungan fantastis dari Negara Manipulatifanda tersebut terus mengalir kepada mereka. Salah satunya adalah kekayaan alamnya yang luar biasa. 

Sebelum pemilihan presiden berlangsung, mereka sudah merancang angka kemenangan sebesar 58 persen untuk calon presiden boneka mereka. Hal itu menyebabkan seberapa besar pun suara yang diraup musuh politik yang ada, angka yang masuk tak bisa melebihi 58 persen tersebut. Alhasil, sejak awal hingga penghitungan berakhir, calon presiden boneka terus mendapatkan angka sebesar 58 persen suara rakyat. 

Nah, setelah resmi ditetapkan sebagai presiden, segala program pemerintah yang dijalankannya selalu pro terhadap negara besar yang memenangkannya. Tak ada sama sekali untuk rakyat meski setiap kali berpidato, dirinya selalu mengatakan "demi rakyat".

Dengan fakta yang demikian, rakyat di sana  tidak ada lagi yang percaya kepadanya. Mereka lebih percaya kepada media sosial yang berisi kebenaran. Lama-kelamaan rakyat juga mulai enggan membayar pajak. Awalnya hanya segelintir orang yang berani seperti itu. Setelah beberapa hari berikutnya kian banyak yang berlaku sama. 

Pada dua tahun kepemimpinannya, semua rakyat tak ada lagi yang mau membayar pajak. Hari demi hari pemerintahannya semakin goyah, lalu sebulan kemudian hancur. Dirinya pun lengser teratur. Dan, rakyat menyambut kejatuhannya dengan penuh suka cita. 

Anak-Anak Lapar karena Pendapatan Ayah Mereka NOL, BUKAN lantaran Ketiadaan MBG


Ilustrasi: Pixabay 


Jangankan beli telur, krupuk mentah saja tak terbeli. Betapa tidak? Pekerjaan masih jauh dari genggaman. 

Begitulah yang dialami pak War Nong (bukan nama sebenarnya) yang merupakan seorang tukang bangunan di Negara Lapir. Saat ada pemborong memerlukan jasanya dalam membangun rumah, misalnya, uang bisa ia dapatkan seminggu sekali. Akan tetapi, jika tak ada panggilan kerja, baik dari pemborong, maupun orang yang rumahnya mengalami kerusakan, secara otomatis pendapatannya nol besar.

Kalau sudah demikian, tak ada pula yang bisa ia beli untuk kebutuhan primernya dan  keluarganya. Inilah penyebab utama anak-anak kelaparan dan mengalami gizi buruk. 

Lantas apa yang idealnya dilakukan pemerintah di sana untuk mengatasi gizi anak seperti ilustrasi di atas?

Tentu saja cabut akar permasalahannya. Ciptakan lapangan pekerjaan untuk para orang tua agar mereka memperoleh pendapatan sehingga bisa memenuhi gizi anak-anak di rumah dan di luar rumah. 

Ya, di rumah anak-anak mendapatkan menu makanan bergizi sebelum dan sepulang sekolah. Sedang di sekolah anak-anak bisa membeli menu makanan bergizi di kantin atau menikmati bekal makanan bergizi dari para orang tua mereka saat jam istirahat tiba.

Hal itu tentulah jauh lebih baik daripada sekadar memberikan siswa minuman bergambar gelas (MBG).

Ha Ha Ha, Ada yang Iri dengan Negara Mereka?

Ilustrasi: Pixabay 

"Ah, ini lucu sekali. Mana ada negara lain yang iri dengan negara mereka?"

"Rakyat di sana saja masih banyak yang susah.  Apalagi utang negara mereka banyak. Kekayaan alamnya juga dikuasai asing."

"Kocak emang presiden di negara itu."

"Kalau diperhatikan, Presiden Jamu Gendong memang beda. Maunya semua wow saat dirinya menjabat sebagai presiden. Intinya dia ingin mendapatkan pujian sebagai presiden terbaik sepanjang sejarah di negara tersebut. Dan, itu bagian dari kampanye dirinya untuk pemilihan presiden berikutnya."

"Yaaa susah kalau sudah begitu. Kalau ditanya susahnya apa? Ya susahnya uang negara pasti dihabiskan olehnya untuk membuat segala hal yang menjadikannya terlihat hebat. Misalnya program minum segar gratis (MSG) agar dirinya terlihat hebat bisa memberikan minuman kepada rakyatnya. Atau, program minimarket negeri (MN) agar dirinya terlihat luar biasa bisa membangun jutaan minimarket dalam waktu singkat."

"Kalau dibiarkan terus seperti itu, Negara Akar pasti hancur. Utang negara mereka akan menggapai awan, rakyat di sana pasti kian sengsara akibat pajak semakin besar, dan parahnya lagi tekanan negara asing yang memberikan utang akan semakin meningkat."

"Benar katamu. istilahnya tinggal menunggu waktu kehancurannya saja."

"Rakyat dan para tokoh di sana haru segera ambil tindakan nyata."

"Pertanyaannya, apa mereka berani melawan Presiden Jamu Gendong?"

***

Friday, July 10, 2026

Dia Ingin Mengalahkan Para Mantan Presiden di Negara Itu

 

Ilustrasi: Pixabay 

Padahal dia hanyalah seorang pecatan tentara pada masa lalu. Para petinggi di Negara Republik Wahamiang tersebut sudah mencium gelagat buruknya sejak lama. Tepatnya jauh sebelum dirinya hendak melakukan kudeta tahun 2890 silam.

Ambisinya memang sangat menggebu-gebu sejak muda. Dan, ketika mertuanya yang baru saja lengser dari kursi presiden, ia mengumpulkan banyak tentara dari berbagai daerah menuju ibukota. Untungnya niat jahatnya tersebut berhasil digagalkan. Seandainya saja terwujud, maka kudeta berdarah pasti tak terhindarkan di negara.yang berjuluk Emas Hitam itu. 

Parahnya lagi, kalau saja kudeta tersebut berhasil, tentu saja semua sendi kehidupan akan diisi oleh para tentara. Mulai dari kementerian, pelatihan sipil, hingga ruang kelas para siswa. Singkat kata, para tentara akan mendominasi seluruh ruang kehidupan di sana.

Setelah gagal melakukan kudeta, tahun-tahun berikutnya ia isi dengan usaha menjadi presiden dengan cara sipil. Perjalanan politiknya banyak rintangan. Ya, kalah dan kalah lagi dalam pemilihan presiden. 

Nah, atas bantuan para elit global lah, akhirnya ia berhasil menjadi presiden dengan cara curang. 

Lantas apa yang dilakukannya sebagai presiden curang? Sebagai mantan tentara, cara-cara militer ia terapkan di banyak sendi kehidupan. Dirinya juga sering melakukan lawatan di negara-negara besar untuk mencari dukungan politik. Pidato demi pidato sering ia tampilkan dengan membangga-banggakan dirinya yang menurutnya lebih hebat daripada para mantan presiden sebelumnya.

Poin terakhir di atas itulah yang sangat merugikan bangsa dan negara itu. Segala cara dilakukannya untuk bisa terlihat sangat hebat. Mulai dari memberikan siswa makanan gratis yang menelan biaya sangat besar, pendirian koperasi di desa-desa yang juga menguras anggaran negara, merusak hutan demi bisa menanam padi agar swasembada pangan, membangun gedung-gedung sekolah rakyat yang pastinya membebani kas negara, dan banyak lagi demi dirinya bisa tampil wah. 

Lalu bagaimana tanggapan rakyat di sana? Pastinya mereka yang masih berakal sehat, tidak setuju dengan segala aktivitas buruknya tersebut. Demonstrasi demi demonstrasi digelar sebagai reaksi jujur mereka. Namun, sebagai seorang yang tidak memiliki empati terhadap sesama manusia, dirinya yang dikenal sebagai Bapak Gila Pujian itu tak mau ambil pusing. Baginya jeritan rakyat adalah lolongan anjing malam. Bahkan, dalam sebuah pidatonya, presiden yang bernama lengkap Pascawow Subotol tersebut mengatakan "emang gue pikirin" yang artinya ia tak memikirkan suara kesakitan rakyat di sana. 

Thursday, July 9, 2026

Intelijen Surat Dinas Kementerian Bertindak Cepat

Ilustrasi: Pixabay 

Di Republik Korupsia sedang heboh adanya kebocoran surat dinas di Kementerian Pekerjaan Khusus (PK). Surat yang tersebar luas itu merupakan dokumen administrasi untuk memenuhi persetujuan pengurusan visa.  Terkait hal itu, pihak intelijen surat dinas kementerian (ISDK) di sana menganggap perlu penyebarluasannya ke publik. Pasalnya, di dalam surat tersebut tercantum nama pihak keluarga sang mentari yang bakal turut serta melakukan perjalanan ke Amerika Serikat. 

"Itu (surat tersebut) sangat mencurigakan. Ada nama keluarga sang menteri di dalamnya. Jadi, publik sebagai pembayar pajak tentu harus tahu, 'kan siapa saja yang akan ke Amerika Serikat bulan depan? Jangan sampai uang pajak digunakan untuk aktivitas yang sia-sia!" tegas Kepala ISDK kepada awak media.

Sementara itu Menteri Pekerjaan Khusus, Dodol Hariroyo, M.Si, hingga berita ini diturunkan belum memberikan klarifikasi apa pun. 

Ya, semoga saja pemerintah di negara yang dikenal dengan julukan Gudang Koruptor tersebut dapat mengatasi aktivitas-aktivitas yang berpotensi menguras anggaran pengeluaran.dan belanja negara mereka.

Si Omon-Omon SELALU Bombastis, Rakyat Melongo

Ilustrasi: Pixabay 

Kalau bicara, dirinya selalu saja menyuarakan yang muluk-muluk, tapi kosong. Ya, kata-katanya hanyalah omong kosong belaka. Ia dijuluki oleh sebagian besar rakyatnya sebagai si Omon-Omon pengingkar janji.

Benar, ia adalah seorang presiden di Republik Gemoyan. Saat kampanye politik menjelang pemilihan presiden, dirinya banyak berjanji. Sebutlah contohnya kesehatan gratis, pendidikan gratis, dan bahan bakar minyak murah. Tapi nyatanya, setelah menjadi presiden, dirinya termasuk pemimpin negara pembohong kepada rakyat di negara yang dipimpinnya. 

Sejatinya ia lebih fokus pada kesejahteraan dirinya dan para penjilat di sekitarnya. Program-program yang ia jalankan selalu saja tidak berpihak kepada rakyat. 

Alih-alih bertindak untuk kemakmuran rakyat seperti omongan besarnya, setiap hari dirinya kian menyiksa rakyatnya sendiri. Hal itu begitu terasa dengan perluasan pajak. Para penjual daring dan pelaku UMKM, misalnya, sangat merasakan pemalakan olehnya yang dikenal dengan pajak.

Singkat kata, jargon terselebungnya dalam memimpin negara adalah, PAJAK, PAJAK, PAJAK di balik omon-omon mulut besarnya.

Wednesday, July 8, 2026

Ternyata Presiden Kita Orang India

 

Ilustrasi: Pixabay 


"Selama ini aku tahunya beliau itu orang Cina."

"Ternyata?"

"Orang India."

"Siapa sih? Aku jadi penasaran."

"Presiden kita, Bapak Presiden Prang Sung Tong."

"Ha?! Serius?"

"Emang dari tadi aku kelihatan sedang bercanda ya?"

"Nggak sih. Tapi, bukannya beliau orang asli dari Hubei, 'kan?"

"Beliau emang kelahiran sana, tapi berdarah India."

"Kamu dapat info itu dari mana?"

"Beliau sendiri yang ngomong."

"Beliau dikasih mic lagi?"

"Iya!""

"Wadduh! Kiamat maju satu hari berarti. Sialan! Siapa sih yang ngasih beliau mic?"

"Dari yang aku dengar, sebenarnya mic udah disimpan pihak panitia, tapi.beliau berhasil.menemukannya."

"Hadeeeuh!"

"Ya, hadeeeeuh!"

***

Tuesday, July 7, 2026

Ketika Ijazah Serupa Aib Besar

Ilustrasi: Pixabay 

Konon, di sebuah negara dekat Gunung Rudalan ada kasus fenomenal yang menggemparkan dunia. Diwartakan banyak media internasional bahwa salah seorang manusia di sana memiliki ijazah misterius.

Di depan publik ijazah itu ditampilkan hanya dalam wujud fotokopinya. Memang kedengarannya biasa-biasa saja, tetapi dengan wujud demikian mampu mengantarkan seseorang tersebut menjadi presiden dua periode di negara itu. Namanya Presiden Kaget Sekali.  

Waw, 'kan? 

Bayangkan hanya fotokopinya sudah memiliki kekuatan super. Apalagi aslinya? 

Nah, membahas aslinya inilah yang malah berkebalikan. Ya, wujud aslinya malah disembunyikan dengan sangat rapat. Ibaratnya aib besar yang wajib ditutupi. Padahal keaslian ijazah lah yang membuat kertas tanda kelulusan tersebut sah sebagai syarat untuk menjadi presiden atau sekadar mendaftar sebagai pekerja resmi. 

Pertanyaan awalnya, mengapa fotokopinya bisa diterima sebagai salah satu syarat kelengkapan menjadi presiden? Apakah karena pemilihan presiden di Republik Pohonima itu hanya formalitas belaka? Yang sebenarnya sudah diatur siapa pemenangnya?

Jika pertanyaan terakhir di atas jawabannya adalah ya, maka siapa pihak pengaturnya?

Sebagian pihak mengatakan yang mengaturnya ya orang-orang besar dengan sebutan para elit global. Para raksasa itulah yang menjadi dalang saat Presiden Kaget Sekali bertahta. Segala tindak tanduknya mewakili semua kehendak mereka. Mulai dari pencabutan besar-besaran subsidi bahan bakar minyak, proyek jalan tol dengan dana utangan, pembiaran masuknya tenaga kerja asing ilegal  secara bebas, pembuatan pulau-pulau reklamasi, pemberian nikel gratis kepada salah satu negara adidaya, hingga pembukaan hutan untuk ibukota negara baru yang akhirnya mangkrak. 

Semuanya berjalan lancar. Mengapa lancar? Karena Presiden Kaget Sekali sangatlah bodoh. Dan, mengapa bodoh? Sebab, dia sebenarnya tidak berpendidikan tinggi. Ijazahnya yang hanya berwujud fotokopi itu adalah palsu. Makanya yang berupa "wujud bukan fotokopi" tidak pernah diperlihatkan di depan publik. 

Pertanyaan sederhananya, mengapa para raksasa global menjadikannya presiden? Karena orang bodoh sangat mudah diatur tanpa pernah bertanya mengapa.


Negara Miskin, Presidennya Sok Kaya

 

Ilustrasi: Pixabay 

"Ya, aku sudah dengar tentang apa yang barusan kamu katakan. Di negara itu memang sedang dikuasai para begundal kelas teri yang disokong penjahat internasional."

"Kadang aku merasa kasihan dengan rakyat di sana, terutama kaum miskinnya. Mereka dipaksa membayar pajak untuk kesenangan para elit lokal dan global."

"Lokal dan global yang super jahat. Mereka menjajah rakyat. Itulah kenyataannya."

"Terlebih presidennya yang gendut dan sombong itu. Aaaaaah, dia selalu saja menghamburkan uang pajak demi kewibawaannya, terutama di mata dunia internasional."

"Ya, ya, aku sampai geleng-geleng kepala melihat tingkahnya yang seperti kanak-kanak tersebut. Sukanya bangun ini, bangun itu dengan jumlah besar. Dia juga gemar sekali jalan-jalan di luar negeri untuk bisa berjabat tangan dengan presiden negara maju. Yaaaa, apa ya namanya, narsis akut gitulah intinya."

"Orang tua itu memang gila sanjungan. Inginnya selalu dipuja-puja. Dan, dia tak peduli anggaran negaranya mengalami defisit parah. Para investor asing pun sudah tidak percaya lagi padanya. Mata uang negara yang dipimpinnya juga sudah anjlok drastis. Yang terakhir dia menawarkan listrik ke negara lain sementara di dalam negaranya sendiri sedang krisis listrik."

"Agaknya Republik Subur itu sebentar lagi akan sirna dari dunia ini. Prediksiku sekitar dua tahun lagi, yakni pada bulan Agustus tahun 2890."

"Benar. Aku juga berpikir demikian. Padahal di sana banyak orang-orang pintar, tapi yang jadi presiden dan wakilnya malah sangat memperihatinkan. Seumpama yang jadi presiden di sana seorang negarawan yang berkompeten, aku yakin negara tersebut akan maju pesat dengan modal kekayaan alamnya."


Sunday, July 5, 2026

Masihkah Pemerintah Diperlukan? TIDAK LAGI!

 

Ilustrasi: Pixabay 

Ada yang sangat hebat terjadi di Negara Warsimang. Konon, sebagian warganya patungan untuk memperbaiki jalan penghubung antardaerah. Dengan kata lain, mereka swadana dan swadaya dalam membuka akses yang selama ini tertutup. Ya, pemerintah di negara terkorup sedunia itu tak kunjung memperbaiki jalan rusak tersebut.

Dalam kaitannya dengan hal di atas, bisa dikatakan sebenarnya warga sudah mandiri. Mereka sudah tidak memerlukan lagi adanya pemerintah di negara yang kaya sumber daya alamnya itu. Dengan bahu-membahu, jalan rusak pun akhirnya bagus kembali. Akses antardaerah terbuka lebar dan tentunya perekonomian menjadi lancar terkendali. 

Sekadar bocoran informasi saja, sebelumnya warga di sana menanti-nanti uang pajak mereka digunakan pemerintah untuk memperbaiki jalan itu. Karena tak ada tanda-tanda ke arah yang diharapkan, mereka rela mengeluarkan uang tambahan selain pajak demi terbukanya akses antardaerah di sana. 

Nah, menurut kabar yang belum jelas, warga di sana berencana menuntut pembubaran pemerintah di negara tersebut. 



Saturday, July 4, 2026

Ada Pejabat Bilang Setan-Setan dan Hamba Iblis

 

Ilustrasi: Pixabay 

Terkadang, ada saja sopir yang merasa paling jago dalam menyetir. Ia yang termasuk golongan ini susah menerima masukan. Sebutlah contohnya saat si sopir mendahului mobil lain secara ugal-ugalan.

Nah, ketika ada penumpang yang memberikan masukan terkait aksi ugal-ugalan itu, ia langsung menganggap penumpang tersebut sebagai pengganggu. 

Itu pula yang dewasa ini terlihat di Negara Kong Suan. Ada salah seorang pejabat publik di sana yang berlaku demikian. Sikap itu ditunjukkannya terkait adanya orang-orang yang menilai buruk dua program pemerintah. Mereka juga mendorong keduanya harus segera dihentikan. Pejabat itu pun dengan lantang mengatakan bahwa mereka ialah para penggangu dan langsung ia labeli sebagai setan-setan dan hamba iblis yang jahat. 

Pertanyaannya, apakah pantas kata-kata itu keluar dari mulut seorang pejabat? Sebenarnya sangat tidak pantas seorang pejabat publik yang hidupnya ditanggung pajak rakyat, berkata-kata kasar seperti itu. 

Kalau masalahnya berkenaan dengan program pemerintah, sikapilah dengan bijak. Lihat secara saksama. Pasalnya, tidak mungkin ada orang mengkritik dan mendorong penghentian program pemerintah yang kualitasnya terbukti bagus. Ingat! Kritik datang karena ada yang salah dari objek yang diamati. Dengan kata lain, datangnya kritik dan dorongan penghentian itu karena program pemerintah tersebut sudah terbukti jelek.

Oleh sebab itu, idealnya siapa pun pejabatnya, lebih baik mawas diri. Ia harus mampu objektif.  Kalau salah, katakan salah dan jangan gemar menjilat atasan untuk kepentingan pribadi. Selama ini begitu banyak penjilat yang suka sekali memuji presiden di negara itu. Dan, tak lama setelahnya, mereka satu per satu mendapatkan jabatan di pemerintahan atau ditambah jabatannya. Sungguh pemerintah di negara tersebut sudah sangat rusak.


Friday, July 3, 2026

MBG Penyebab Harga Naik

Ilustrasi: Pixabay 

Begitulah yang langsung muncul di kepala saat mendapatkan berita bahwa harga-harga bahan pangan turun saat MBG berhenti sementara. 

Dengan perkataan lain, MBG atau makan bergizi gratis satu kali setiap siang hari di sekolah ternyata menjadi penyebab naiknya harga di pasaran. Wow! Kalau begitu adanya, pastinya yang paling ideal adalah, menghentikan program tersebut selamanya. Dengan begitu, para orang tua bisa lebih banyak membeli kebutuhan pokok untuk memperkaya gizi anak masing-masing. Ya, baik di rumah, maupun di sekolah. 

Khusus di sekolah, para orang tua bisa membekali para siswa dengan makanan yang lebih bergizi daripada sekadar MBG yang hanya 8k per porsi. Benar, menu yang disajikan dalam program MBG hanya delapan ribu rupiah. Itu tentulah tidak cukup untuk memperkaya gizi anak selama 24 jam. Tubuh anak perlu asupan gizi yang lebih daripada sekadar menu MBG. 

Selain itu, tanpa MBG anggaran belanja negara pasti dapat lebih dihemat dan tidak akan ada lagi pemotongan anggaran di sektor-sektor lain. Alhasil, negara bisa lebih sehat, lebih lega bernapas, dan rakyat pun bisa menikmati alam kemakmuran secara keseluruhan. 

Thursday, July 2, 2026

Semua untuk Dirimu, Rakyat hanyalah Sebuah Kata dalam Politik

Ilustrasi: Pixabay 

Berhentilah kau menggunakan kata "rakyat" dalam konteks "...harus bela rakyat!" atau "...demi rakyat!" bahkan yang lebih panjang, "Saya rela mati demi rakyat!" 

Mengapa harus berhenti? Sebab, fakta dalam realitas yang nyata tidak ada yang namanya untuk rakyat. Hutan dibabat, katanya untuk swasembada pangan, tapi harga beras tidak turun, malah naik. Petani pun tak menjadi kaya. Tengkulak masih dibiarkan merajalela. Ya, pemerintah tidak membeli gabah langsung dari para petani. Coba kalau untuk rakyat, pastilah pupuk gratis, petani mendapatkan pendampingan oleh para penyuluh, tidak ada sewa lahan pertanian, bibit unggul disediakan gratis, sistem pertanian dibuat secanggih mungkin, dan hasil panen langsung dibeli di persawahan dengan harga yang pantas. Tidak ada lagi namanya tengkulak yang membeli gabah dengan harga murah. Sehingga, rakyat yang menjadi petani sejahtera, yang menjadi pedagang bahagia, dan tentunya Masya luas bisa menikmati nasi dengan harga murah.

Di bidang-bidang lain pun demikian. Kasus lakalantas, misalnya, korban tidak mendapatkan layanan BPJS, anak-anak ke sekolah masih ada yang harus berenang, orang-orang di desa terpencil harus berjuang di jalan tak layak pakai, angka pengangguran masih tinggi, dan masih banyak lagi kesusahan  lainnya. 

Jadi, untuk apa kau berkoar-koar dalam pidato "untuk rakyat", "demi rakyat", "bela rakyat.", jika tak ada program-program pemerintahanmu.yang prorakyat. 


Wednesday, July 1, 2026

Pajak Sukses, Lainnya Gagal Total?

 

Ilustrasi: Pixabay 

Pemerintah mana pun dilarang bangga jika kesusksesan mereka hanya di bidang penarikan pajak. Betapa tidak? Sebab, tak ada yang bisa dibanggakan dari aktivitas menarik pajak, apalagi jika dilakukan secara ugal-ugalan. 

Ya, sejatinya pajak adalah pungutan yang menyengsarakan rakyat. Jika di dunia hitam, maka namanya bukan pemerintah, melainkan penjahat besar yang zalim. 

Itulah sebabnya, meningkatkan kinerja perusahaan-perusahaan di bawah Badan Usaha Milik Negara tentu lebih terpuji dan bermartabat daripada sekadar memungut pajak. Tapi, sayangnya hal ini gagal. Dari sekian perusahaan yang ada, sekitar 800-an perusahaan disuntik mati. Padahal, perusahaan-perusahaan itulah warisan para leluhur negeri untuk terus ditumbuhkembangkan dari waktu ke waktu demi kesejahteraan rakyat. 

Bisa dikatakan para penerus pemegang wewenang negeri tidak menghargai jerih payah para pendahulu mereka. Negara sudah salah urus. Korupsi terjadi di mana-mana termasuk di perusahaan-perusahaan tersebut dan sebagainya dibiarkan, sebagian kecilnya masuk ruang pengadilan dengan hukuman ringan. Sehingga, besok dan besoknya lagi korupsi kian merajalela.

Alih-alih memberikan perhatian serius terhadap perusahaan-perusahaan yang masih hidup, pemerintah malah sibuk dengan program-program pemborosan anggaran negara. Uang pajak dihambur-hamburkan. Melayang begitu saja dan pemerintah kian memperluas jangkauan pajak. Usaha-usaha kecil pun tak luput dipalak demi kebahagiaan para pejabat negara yang sangat serakah luar biasa.