Thursday, July 30, 2026

Pulau Dayak Gelap? Adakah Kejanggalan Padamnya Listrik Setiap Hari di Sini?

Ilustrasi Chatgpt 

Sebagian orang menyebut Pulau Kalimantan dengan nama lain, yakni Pulau Dayak. Nah di pulau ini, ada pemadaman listrik setiap hari. Hah?! Setiap hari?

Benar! Setiap hari rakyat di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah menjadi "penderita" atas tragedi pemadaman listrik oleh PLN Kalsel-Teng sampai (prediksi) akhir September 2026. Akibatnya? Tentu saja kerugian massal. Mulai dari level rumah tangga hingga perekonomian rakyat. Sebutlah contohnya banyak ternak ayam yang mati akibat pemadaman ini.

Lantas apa sebenarnya penyebab listrik dipadamkan setiap hari di Kalsel dan Kalteng? 

Konon, menurut informasi dari pihak PLN, penyebab utamanya adalah adanya "gangguan teknis" di tiga pembangkit listrik tenaga uap. 

Pertanyaan selanjutnya, apa yang menjadi penyebab gangguan teknis tersebut? 

Hingga detik ini belum ada jawaban dari pihak PLN, baik lokal, maupun pusat untuk pertanyaan terakhir di atas. Ya, hanya dikatakan ada gangguan teknis. Itu saja. Titik!

Pertanyaan lainnya, adakah tampak kejanggalan dalam penjelasan mereka? 

Kalau diperhatikan, muncul pertanyaan sederhana, mengapa gangguan teknisnya terjadi secara bersamaan? Dengan kata lain, kok berjamaah? Mungkinkah? 

Adapun tiga PLTU yang dimaksud PLN itu adalah, PLTU Asam-Asam, PLTU Stagen, dan PLTU Tabalong. Dan, setelah PLN pusat mendapatkan lawatan oleh para delegasi dari Kota Banjarmasin, durasi pemadaman pun menjadi lebih pendek. Yang semula enam jam lebih menjadi sekitar tiga jam pemadaman. Dari sini muncul lagi pertanyaan-pertanyaan baru. Misalnya, mengapa bisa dikurangi durasinya padahal gangguan teknis di tiga pembangkit listrik tersebut belumlah beres? Ini seakan-akan sudah beres sehingga memunculkan pertanyaan lain, apakah selama ini tiga pltu itu memang tidak mengalami gangguan teknis? Lantas, apa penyebab sebenarnya pemadaman listrik setiap hari di Kalsel-Teng ini? 

Dari pantauan di lapangan, banyak pihak menduga penyebabnya karena ketersediaan batu bara yang menipis. Pembelian bahan pembangkit listrik itu terkendala lantaran uangnya dikorupsi. Ada juga yang berpendapat  hal itu disebabkan oleh efesiensi anggaran demi keberlangsungan MBG dan Kodes Merah Putih.

Ah! Apa pun itu, terpenting pemadaman listrik setiap hari di Kalsel dan Kalteng segera berakhir. Begitu pula dengan tanggung jawab PLN terhadap kerugian yang telah dialami rakyat terdampak pemadaman listrik oleh mereka harus secepatnya diselesaikan. Rakyat perlu kesejahteraan dalam hal listrik, bukan sebaliknya.

0 comments: