Thursday, December 31, 2020

Merayu Sukma, Siapa dan Bagaimana Puisinya



Oleh Tajuddin Noor Ganie

  

Biografi Ringkas 

Merayu Sukma (MS) dilahirkan di Desa Seberang Masjid, Banjarmasin, pada tahun 1914. Nama aslinya adalah Muhammad Sulaiman. Mulai menulis karya sastra sejak tahun 1930-an. Publikasi karya sastranya antara lain di Majalah Pelita Masyarakat Banjarmasin (1935--1936), Majalah Kebudayaan Timur Jakarta (1943), Majalah Sastrawan Malang (1946), dan Majalah Suara Asia Jakarta. 

Pada zaman kolonial Belanda 1930--1942, MS sudah berhasil menerbitkan sejumlah roman/novelnya di kota Medan, yakni : Kunang Kunang Kuning; Berlindung di Balik Tabir Rahasia; Menanti Kekasih Dari Mekah; Teratai Terkulai; Yurni Yusri; Sinar Memecah Rahasia; dan Putra Mahkota Yang Terbuang. 

Pada zaman kolonial Jepang 1942--1945, MS berhasil meraih prestasi sebagai pemenang pertama dalam sayembara menulis naskah drama yang diselenggarakan oleh Keimin Bunka Shidoso (Pusat Kebudayaan Jepang) yang berkedudukan di Jakarta. Naskah drama dimaksud diberinya judul Pandu Pertiwi, pada tahun 1943 diterbitkan oleh Majalah Kebudayaan Timur Jakarta bersama-sama dengan naskah drama Bende Mataram karangan Arifin K. Utoyo. 

Pada tahun 1945, MS pindah ke Malang. Di kota ini MS mendirikan Majalah Sastrawan (1946) dan mendirikan antologi puisinya berjudul Jiwa Merdeka (Penerbit Sumi Malang, 1946). Sementara itu, roman/ novelnya yang diterbitkan di kota Medan pada kurun waktu 1945--1949 adalah Jurang Meminta Kurban; Dalam Gelombang Darah; Gema Dari Menara; Mariati Wanita Ajaib; dan Kawin Cita Cita.

Pada tahun 1950, MS sempat kembali ke Kota Banjarmasin, tapi tidak lama kemudian, karena tidak betah, MS kembali ke Kota Malang. Di kota Malang inilah MS meninggal dunia dan dimakamkan pada tanggal 11 Maret 1951. Pada tanggal 17 Agustus 1980, MS menerima Hadiah Seni Bidang Sastra dari Gubernur Kalsel Soebardjo Soerjosaroso. 

 

Kutipan Teks Puisinya 


Di Sungai Martapura 

Sebentar kuning keruh airnya
Di kala sepi jernih kemilau
‘Gitu air sepanjang masa
Mengalirkan jasa bagi manusia
Purnama menyibak sungai Martapura
Air melaju membawa teratai
Semoga mulia jasamu air
Teladan manusia berjuang senantiasa 

(Koleksi Artum Artha, 1983) 

Sungai Martapura merupakan salah satu kekayaan alam yang dimiliki bangsa Indonesia. Kekayaan alam yang ada di daerah Kalsel ini digambarkan sebagai lanskap yang indah dipandang mata. 

Pesan tersirat yang ingin disampaikan MS sebagai penyairnya adalah fakta bahwa tanah air kita tercinta sesungguhnya sangat indah sehingga kita semua akan rugi besar jika membiarkannya terus dibelenggu oleh pemerintah kolonial Belanda. 

Pesan lain yang juga tersirat di dalam puisi di atas adalah nasihat agar kita semua berjuang tak kenal lelah, dan pantang menyerah, apalagi jika sampai surut ke belakang. Setiap orang mestinya meneladani perilaku air di sungai Martapura yang tak kenal lelah dalam perjalanannya menuju muara (lambang cita-cita yang ingin diraihnya). Perjalanan air sungai Martapura dari hulu ke hilir memang sangat jauh, sangat banyak tempat-tempat yang harus dilaluinya sebelum akhirnya tiba di Laut Jawa sebagai muara yang ditujunya. 


Ombak Samuderra 

O, nelayan lautan
Dari Malukukah?
Halmaherakah?
Atau kau anak Jasa Sundakah?
 
O, satukan barisan tuju laut bebas
Ombak dapat ditempuh
Gelombang dapat dilewati
Karang-karang laut dapat dihancurkan
 
Lekas! Kembangkan layar bebas
Ke pantai kita menyanyikan lagu
Lagu kebangsaan Indonesia Raya 

(Koleksi Artum Artha, 1983) 

Laut bebas dalam puisi di atas merujuk kepada Indonesia merdeka. Laut bebas itu tak mungkin dapat kita arungi bersama jika kita semua tidak memiliki sebuah kapal samudera. Kapal samudera itulah (negara berdaulat) yang harus kita bangun bersama jika ingin mengarungi laut bebas itu (berkehidupan sebagai bangsa yang merdeka). 

Jika kita sudah memiliki kapal samudera maka kita dapat dengan mudah mengarungi laut bebas itu tanpa takut diombang-ambingkan gelombang atau diporak-porandakan karang.  Jika kita sudah saling bersatu padu maka gelombang dan karang (pemerintah kolonial Belanda) dapat kita taklukkan dengan mudah. 

Pada tahun 1984, Yus Badudu (hal 563-564) memuat ulang 2 judul puisi MS yang dimuat di Majalah Pujangga Baru Jakarta, yakni Tekanan Sunyi (1940) dan Suling Pujangga Baru (1941). Puisi MS dimaksud dikutipkan selengkapnya di bawah ini: 


Tekanan Sunyi 

Tahukan tuan betapa duka
Kesenian rasa dilukiskan sunyi
Sayatan irama laguan nyanyi
Mereka ke jantung yang rindu dendam?
O, betapa hancur, betapa luluh
Hati nan rindu dikerling gemerlap
Mata kekasih dikhayal senyap
Di gua kenangan tidak bersuluh?
 
(Dari:Majalah Pujangga Baru Jakarta,
Edisi Nomor VII, 1-2 Juli-Agustus 1940) 

 

Mata kekasih dikhayal senyap yang sedang berada di dalam gua gelap tak bersuluh itu merupakan lambang kejayaan bangsa Indonesia yang terpuruk karena tanah air kita sedang berada di bawah kekuasaan pemerintah kolonial Belanda. 

Melalui puisi di atas penyair menggambarkan perasaan hatinya yang sedang merindukan kejayaan masa lalu bangsa Indonesia yang gilang gemilang sebagai bangsa yang berdaulat di tanah airnya sendiri (hati nan rindu dikerling gemerlap).

 

SULING PUJANGGA BARU 

Di tengah malam sunyi senyap
Kudengar sedih suling maratap
Meniup hatiku jauh ke sana
Jauh ke lembah gundah gulana
 
Kudengar sedih suling meratap
Menggolong sedan tingkahan gelap
Membangun rasa sedar dan insaf
Menggerak ke jiwa yang tidur lelap
 
O, suling
Suling pembangun rasa
Bunyian pusaka bangsa
Seni nyaring
Bunyimu menggelatar ke angkasa
Menggetarkan laguan kebangunan masa

(Dari:Majalah Pujangga Baru Jakarta,
Edisi Nomor VIII, 7 Januari 1941)

 

Kebangunan masa adalah lambang masa depan bangsa Indonesia yang gilang gemilang, yakni bangsa Indonesia yang hidup di zaman kemerdekaan sebagaimana yang dicita-citakan oleh segenap bangsa Indonesia yang ketika itu sedang terpuruk harga dirinya sebagai bangsa jajahan. 

Suling pembangunan rasa adalah lambang sarana yang harus dimiliki bangsa Indonesia jika ingin kembali hidup dalam kejayaan bersama yang gilang gemilang seperti di zaman-zaman kerajaan dahulu (Majapahit, Sriwijaya, Mataram, Demak, Banjar dll dst). 

Sarana yang dimaksudkan penyair adalah institusi dalam bentuk negara Republik Indonesia yang merdeka, bersatu, dan berdaulat dari Sabang hingga Merauke. Pada tahun 1992, Suripan Sadi Hutomo mempublikasikan dan membicarakan puisi MS berjudul Di Taman Puspa (SKH Banjarmasin Post Banjarmasin, 24 Juni 1992, halaman 11). Puisi MS dimaksud dikutipkan selengkapnya di bawah ini : 


TAMAN SISWA 

Dewangga pagi … menjelma rama-rama
Masuk ke taman menyeri madu
Tercium mengharum puspa pustaka
Cantik meresik putik baru
 
Bertanyalah rama-rama dengan berahi
“Puspa mengwarna luar biasa
Putik baru segar berseri
Apakah sebab seindah jelma?”
Puspa terangguk indah bermadah :
“O, rama-rama, kalau mata hati
Sudah cerah mencurah hati
Tamanpun rimbun indah bermegah”
 
“Lah, tiga abad taman berlumpur
Berat sarat puspa merana
Layu kering diinjak “buta”
Sekarang dijelang sempana surya
Dari lumpur derita siksa
Menyongsong sinar ke makmur subur”
Naiklah naik wangian warna
Semerbak semarak diarak lagu
Gembira menyongsong pancaran pagi
Naik bergulung di asap setanggi
 
Setanggi Timur, unggunan pandu
Membubung raksi di Indraloka 

Taman puspa merupakan lambang tanah air bangsa Indonesia yang sudah tiga abad ini dibiarkan merana karena porak poranda diamuk buta (raksasa) yang tidak lain merupakan lambang dari pemerintah kolonial Belanda yang angkara murka.

Rama-rama dan puspa adalah lambang dari bangsa Indonesia yang hidup menderita karena taman tempatnya hidup selama ini (tanah airnya) sudah rusak binasa karena dikuasai secara semena-mena oleh pemerintah kolonial Belanda. 

Dalam dialog yang terjadi antara rama-rama dan puspa tersirat adanya harapan bangsa Indonesia untuk bangkit kembali sebagai bangsa yang besar yang hidupnya makmur di tanah airnya yang subur.


Sumber tulisan: buku Jagat Puisi Indonesia di Kalsel 1930--1942

Sumber foto: Ensiklopedia Sastra Kemdikbud RI


Wednesday, December 30, 2020

Sutan Takdir Alisjahbana Bersama Puisi-puisinya

 


SUTAN TAKDIR ALISJAHBANA lahir di Natal, Tapanuli Selatan, Sumatra Utara, 11 Februari 1908, dan meninggal di Jakarta, 17 Juli 1994 dalam usia 86 tahun. Pernah menjadi Redaktur Panji Pustaka dan Balai Pustaka (1930--1933), kemudian mendirikan dan memimpin Majalah Pujangga Baru (1933--1942 dan 1948--1953), Pembina Bahasa Indonesia (1947--1952), dan Konfrontasi (1954--1962).

Buku-bukunya antara lain: "Tak Putus Dirundung Malang" (novel, 1929), "Dian Tak Kunjung Padam” (novel, 1932), “Tebaran Mega" (kumpulan sajak, 1935), “Tata Bahasa Baru Bahasa Indonesia” (1936), "Layar Terkembang" (novel, 1936), “Anak Perawan di Sarang Penyamun” (novel, 1940), “Kebangkitan Puisi Baru Indonesia” (kumpulan esai, 1969), “Grotta Azzura" (novel tiga jilid, 1970 & 1971), “Lagu Pemacu Ombak” (kumpulan sajak, 1978), “Amir Hamzah Penyair Besar antara Dua Zaman” dan “Uraian Nyanyian Sunyi” (1978), “Kalah dan Menang" (novel, 1978), “Perempuan di Persimpangan Zaman” (kumpulan sajak, 1985), “Seni dan Sastra di Tengah-Tengah Pergolakan Masyarakat dan Kebudayaan" (1985), dan "Sajak-Sajak dan Renungan” (1987).

la menerjemahkan buku Nelayan di Laut Utara (karya Pierre Loti, 1944) dan Nikudan Korban Manusia (karya Tadayoshi Sakurai; terjemahan bersama Soebadio Sastrosatomo, 1944) 

Sutan Takdir merupakan tokoh terkemuka dalam sejarah kesusastraan dan pemikiran kebudayaan di Indonesia. Dia banyak menulis puisi, novel, esai-esai sastra, bahasa serta tulisan ilmiah mengenai filsafat, ilmu-ilmu sosial dan kemanusiaan. Dia juga menaruh minat pada sejarah intelektual Islam, khususnya pemikiran Ibn Rusyd dan menjelang akhir hayatnya kepada Muhammad Iqbal. Berikut adalah puisi-puisinya.


Sesudah Topan

Bertiup, bertiuplah topan!
Liukan, lengkungkan, patahkan, hempaskan jangan sepala.

Terbangkan daun sampai ke langit
Tundukkan puncak menyembah bumi,
Serakkan ranting menabur tanah.

Biar mengaduh, biar mengelur biar mengerang putus suara,
Kacaulah perdu, adulah pohon, rusak remuk berpatah-patahan,
Gugurkan buah segala, tua muda jangan dihitung.

Apabila topan sudah berhenti,
Apabila hujan reda kembali, sinar suria turun ke tanah.
Beta melihat tunas memecah dan di tanah lembah kecambah
mengorak daun.

10 Mei 1935

Sumber: Tebaran Mega (Dian Rakyat, Jakarta, 1935)


Perjuangan 
KepadaTaman Siswa

Tenteram dan damai?
Tidak, tidak Tuhanku!
Tenteram dan damai waktu tidur di malam sepi.
Terteram dan damai berbaju putih di dalam kubur.
Tetapi hidup ialah perjuangan.
Perjuangan semata lautan segara.
Perjuangan semata alam semesta.
Hanya dalam berjuang beta merasa tenteram dan damai.
Hanya dalam berjuang berkobar Engkau Tuhanku di dalam dada.

24 Juli 1935

Sumber: Tebaran Mega (Dian Rakyat, Jakarta, 1935)


Awan Berkuak

Duduk beta merenung awan
Bercerai menipis di langit biru
Satu sendu alun di kalbu
Menurut mega Berkuak menjauh.

Wahai Chalik, mengapa kejam
Seganas ini hidup di dunia
Mengapa gerang dicerai pisah
Segala yang asik bercinta?

Menangislah jiwa tersedu-sedu
Mengalirlah air mata berduyun-duyun.

Dalam jiwa sedang meratap,
Dalam sukma pilu mengeluh,
Menyerbu sinar ke dalam kabut,
Menjelma kembali awan menjauh.

Beta melihat kilau bergurau,
Beta menyambut Suria bersinar.
Segar gembira sukma menggetar
Menunda melanda pergi berjuang

14 Mei 1935

Sumber: Tebaran Mega (Dian Rakyat, Jakarta 1935)


Seindah Ini

    Tuhan,
    Terdengarkah kepadamu himbau burung di hutan
sunyi meratapi siang di senja hari?
    Remuk hancur rasa diri memandang sinar lenyap
menjauh di balik gunung.
    Perlahan-lahan turun malam menutupi segala pandangan.

*

    Menangis, menangislah hati!
    Wahai hati, alangkah sedap nikmatnya engkau pandai menangis!
    Apa guna kutahan, apa guna kuhalangi?

*

    Aku terima kasih kepadamu, Tuhan, memberiku hati
tulus-penyerah seindah ini:
        Sedih pedih menangis, waktu menangis!
        Girang gembira tertawa, waktu tertawa!
        Marak mesra bercinta, waktu bercinta!
        Berkobar bernyala berjuang, waktu berjuang!

10 Agustus 1937

Pernah dimuat di Pujangga Baru, Agustus, 1937

Sumber: Lagu Pemaeu Ombak. (Dian Rakyat, Jakarta, 1978)


Kembali

Ketika beta terjaga di dini hari
Melihat alam sepermai ini,
Terasalah beta darah baru
Gembira berdebur di dalam kalbu.

Girang unggas bersuka ria,
Gemilang sekar bermegah warna.
Mega muda bermain di awang,
Kemilau embun menyambut terang.

Hidup, hiduplah jiwa,
Turut gembira turut mencipta
Dalam alam indah jelita

Jalan waktu terhambat tiada,
Siang terkembang malamlah tiba:
Percuma dahlia tiada berbunga.


Sumber: Tebaran Mega (Dian Rakyat, Jakarta, 1935)

Sumber tulisan: Lautan Waktu: Sepilihan Puisi Klasik Indonesia

Sumber foto: Wikipedia



Monday, December 28, 2020

Mari Berpantun



Siti Akbari

Tradisi pantun telah diakui UNESCO sebagai salah satu representasi warisan budaya takbenda bagi umat manusia. Hal itu cukup membanggakan bagi warga bangsa yang terkenal memiliki tradisi pantun, yakni Indonesia.

Pantun hampir terdapat di seluruh daerah di Indonesia. Di daerah-daerah yang memiliki budaya pantun, pantun merupakan salah satu jenis sastra lisan yang penting. Secara umum Pantun mempunyai kedudukan yang istimewa dalam pertumbuhan serta perkembangan puisi Melayu lama. Pantun sebagai jenis puisi Melayu lama yang tertua dan asli amat diminati. Buktinya yaitu pantun digunakan secara luas dalam kegiatan-kegiatan keseharian seperti dalam acara permainan, majelis keramamian, adat istiadat, dan upacara.

Apabila kita menikmati pantun, akan ditemukan gambaran ringkas kehidupan orang Melayu dalam rangkaian pantun. Di dalam pantun tergambar beragam unsur kehidupan manusia. Modal dasar pantun yang merupakan hasil citra yang meliputi tanah, rumah, kebun, ladang, sawah, sungai, laut, gunung, hutan, pepohonan, buah-buahan, binatang, burung, ikan, dan lain sebagainya (hal-hal bersahaja dalam kehidupan sehari-hari). 

Melalui pantun, dapat dilihat ekspresi adat istiadat, kebiasaan, kearifan lokal, kepercayaan, serta perasaan orang Melayu tentang segala hal, termasuk kecintaan mereka kepada alam, kepada sesama manusia, dan kepada Tuhan.

Budaya pantun yang dikenal mengakar di kehidupan masyarakat Melayu, disebabkan sifat pantun yang fleksibel. Pantun dapat digunakan kapan dan dalam moment apa pun. Pantun sebagai sebuah media penyampai rasa yang tidak terikat oleh waktu dan tempat karena pantun muncul terkadang terinspirasi oleh waktu dan tempat.  

Pantun dapat diselipkan dalam percakapan, nyanyian, atau pun senda gurau. Oleh karena itu, pantun sering disebut juga sebagai pemanis cakap, pelemak kata, penyedap bual, rencah perbuatan, dan buah bicara. Di bawah ini satu contoh pantun dalam bahasa Melayu Banjar.

Batang gumbili tanam di kabun
Mahadang waktu ambil bungkahnya
Mari kita lastariakan bapantun
Maangkat warisan budaya bangsa 


Penulis adalah staf teknis Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Selatan, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kemdikbud RI

Sumber ilustrasi: Akun resmi Instagram Ditjen Kebudayaan Kemdikbud RI

Pembahasan Orang-Orang yang Kenes


Asrul Sani


MENULIS tentang kesusastraan, ialah menulis perihal derita, kegembiraan, kepahitan, dan kemanisan yang telah dialami, pengalaman yang telah jadi kesadaran dan kemudian beroleh bentuk dalam kata yang membentuk kalimat dan kalimat yang menjadikan karangan. Tiada yang dapat mengingkari bahwa kesusastraan dan kata adalah kulit dan manusia. Kita tiada akan dapat menulis tentang kesusastraan jika pengarang-pengarang menyelesaikan deritanya dengan sebuah keluh atau ia berurai air mata ataupun mengepalkan tinju.Karena bagaimana murni pun perasaan yang menjadi sumber air mata itu, ia tak akan lebih dari air mata biasa: belum kesusastraan. Setiap puisi terdiri dari kata, kata yang liar dan kasar, kemudian dijinakkan oleh penyair dan dipatuhkannya kepada kehendaknya. 

Dan air mata penyair? Itu adalah urusannya sendiri. Jika baru tinggal pada air mata, publik tiada hak mencampurinya, karena ia hanya sekadar menjalankan kehidupan pribadinya. Air matai itu baru penting jika ia telah jadi puisi atau prosa. Pengarang baru jadi penting kalau ia mengarang. Jika pekerjaan ini tidak ia lakukan, maka tidaklah ia mencampuri kehidupan orang lain dan karena itu, tidak akan kita campuri. Mungkin sekali seorang pengarang adalah manusia yang termasyhur. Tetapi jika selidiki apa sebetulnya arti kemahsyuran seseorang, maka akan nyatalah bahwa ia tidak lebih dari suatu pendapat umum atau suatu kepatuhan umum yang tidak diucapkan terhadap suatu pendapat, suatu zaman zaman, suatu mode. Ada kata lain dekat sekali dengan kata ini, tapi sering orang kacaukan dengannya. Kata itu ialah "penghargaan", dan kata ini lebih lagi bisa dipercayai karena penghargaan terhadap seorang sastrawan adalah soal orang-seorang, dan darinya tak dapat diceraikan sebentar juga hasil pekerjaan pengarang itu, tulisan-tulisannya.

Jika orang menulis perihal kesusastraan, maka orang dapat menulis untuk dua golongan: untuk pengarang, dan untuk orang banyak. Untuk pengarang, karena ia dengan menulis telah mencampuri kehidupan kita. Dan karena itu, kita mau menyatakan kepadanya apakah ia dalam perbuatannya itu telah berlaku sewajarnya. Apakah ia jujur, apakah betul dasar kenyataan yang ia kemukakan dan sebagainya. Kita menentangnya atau menyertainya, karena ia menulis. Yang ditentang dan disertai ialah tulisannya.

Kita menulis untuk orang banyak karena kita mengakui bahwa orang banyak itu penting. Publik ini juga penting bagi seniman yang beranggapan bahwa tujuannya ialah hasil pekerjaannya itu sendiri, atau seniman yang beranggapan seni untuk seni. Sebab sebuah karangan belum lagi mencapai tujuannya jika ia baru berbentuk buku dan belum dibaca. Seperti juga sebuah lukisan belum lagi mencapai tujuannya, jika ia baru berbentuk benda dan belum lagi dilihat. Karena setiap hasil seni mengandung "beban", dan "beban" ini dikandungkan untuk dikeluarkan kembali. Jika dilihat dari sudut ini, maka benarlah bahwa dengan perjuangan yang telah ia lakukan dan ketinggian tingkat kejiwaannya. Watak Awal atau dokter dalam buku Belenggu, atau Raskolnikov atau Josef K. tidak akan beroleh bentuk dan hidup jika pembaca tak dapat mengeluarkannya dari perumusannya.

Pengeluaran isi hasil seni adalah rahmat karena di dalamnya terkandung keterharuan dan kenikmatan. Ia adalah "nafkah" kita waktu membaca buku. Kritik kesusastraan dalam hal ini membenarkan hak hidupnya sebab ia tidak saja menyatakan dan menyebarkan kesusastraan yang telah dibuat itu, tapi lebih-lebih karena ia adalah semacam pasukan-pasukan yang termaju ke depan yang akan membebaskan daerah-daerah baru bagi kita dan dengan demikian mempertinggi nafkah kita waktu membaca hasil kesusastraan. Majalah-majalah kesusastraan baru dapat menghalalkan kehidupannya jika ia mempunyai kecondongan-kecondongan seperti yang dilakukan oleh pasukan-pasukan terkemuka ini. la membantu orang banyak membentuk kesusateraan.

Tetapi, baik kita menulis bagi golongan pertama, baik bagi golongan kedua, selamanya yang menjadi pokok pangkal ialah vang telah dituliskan. Jadi, kita senantiasa berada di belakang pengarang, karena tiada mungkin dan tiada ada gunanya kita mendahului pengarang dalam membicarakan kesusastraan. Saya mengikatkan segalanya pada kata, kepada yang dituliskan, malahan sampsi saat ini ia saya pentingkan benar. Sebabnya ialah karena dalam kritik kesusastraan kita ada yang terbalik. Seperti juga dalam kehidupan politik, di mana tokoh lebih penting daripada pekerjaan, demikian juga kritik kesusastraan kita (sekiranya itu ada) lebih berpusat kepada pengarang dan tidak kepada karangan. Kalau orang mau membahas kesusateraan, maka yang orang pertengkarkan ialah pengarang dan sering bukan apa yang telah ia karang.

Jika seseorang menyerang pengarang lain, maka umumnya karangannya tidak lebih dari kekenesan dirinya sendiri. Barangkali ia tidak begitu lembut seperti biasa kita temui pada perempuan-perempuan pesolek. Ia mungkin sangat lantang dan keras. Tentu. Karena ia seorang yang "kesusahan", karena ia sedang diterorisir kekenesannya sendiri. Tiada akal yang lebih baik untuk memuaskan keinginan bersolek ini daripada menyerang orang lain dan mencoba menjaga dalam perkelahian ini supaya pakaian sendiri jangan kotor. Orang ini mencoba menyelamatkan diri di balik kelancaran tulisan dan dengan itu mengelakkan permintaan orang kepada alasan. Pertengkaran ini adalah pertengkaran burung merak. Merak yang memakai bulu burung lain karena untuk menyatakan kecantikan dirinya sendiri ia perlu perbandingan. Untuk menyelamatkan diri sendiri diangan-angankannya sifat yang diserangnya, sifat-sifat yang dalam pembicaraannya tidak ia beri alasan.

Hanya dari sudut ini dapat saya lihat tulisan- ulisan Sitor Situmorang yang ia siarkan dalam Mimbar Indonesia (pelbagai surat) dan "Gelanggang" (pelbagai catatan), hanya dari sudut ini dapat saya lihat ucapannya yang mengatakan bahwa Jassin telah berlaku sebagai anak stambul dalam tulisannya "Selamat tinggal tahun 1952". Hanya dari sudut ini dapat saya lihat ucapan Pramoedya Ananta Toer yang mengatakan bahwa para pembicara simposium di Amsterdam adalah pembicara-pembicara salon, hanya dari sini dapat saya lihat jika Jassin pada suatu saat dalam suratnya kepada saya yang kemudian ia siarkan dalam Zenith nomor dua tahun ini bahwa Rivai Apin adalah pengekor Camus. Segala yang mereka katakan itu tiada mereka beri alasan sama sekali, dan jika kita minta kepada mereka untuk mensitir bagian-bagian karangan pengarang-pengarang yang diserang, yang menyebabkan mereka beroleh pendapat seperti yang mereka tuliskan, maka saya kira tiadalah mereka akan dapat mengadakan, Jassin tidak dapat menyatakan karangan mana dari Rivai Apin yang dapat menunjukkan bahwa ia dalam tahun 1953 tidak akan bisa hidup jika tidak ada Camus. Apakah Saudara Situmorang dapat menunjukkan dalam tulisan-tulisan Asrul Sani, bahwa jika ia berbicara tentang keisengan adalah ia membicarakan keisengan dilihat dari sudut memiliki kulkas? Tiada seorang pun yang akan keberatan jika hal itu dituliskan dalam surat pribadi kepada kawan. Di sana berlaku hukum-hukum lain. Tetapi jika surat ini disiarkan, maka sifatnya berubah sudah. Demikan juga halnya dengan surat saya kepada Jassin yang ia siarkan dalam Zenith dengan tak ada persetujuan saya sendiri.

Karangan ini tidak saya maksud untuk menyambut berbagal hal yang dikemukakan oleh Saudara Situmorang atau Ananta Tour atau siapa pun. Saya sebut nama mereka sebagan contoh dari keadaan yang ada dalam kehidupan kesusastraan kita sekarang ini. Permainan kekenesan dengan tak ada alasan ini telah begitu jauh, sehingga tak memperjernih pandangan kita terhadap kesusastraan. Orang barangkali akan mengatakan bahwa ini adalah suatu praktik dari vorm en pent (gencerasi Mennoster Braak di negeri Belanda) yang diperjauh. Tapi biarpun begitu, hal ini cuma bisa berlaku jika pengarang menulis. la didasarkan pada tulisan, tulisan yang menjadi hak milik orang banyak. Jika Dirk Coster tidak menulis, maka du Perron juga tidak akan bicara tentang dia. Kita bicara tentang Chairil Anwar sebab ia menulis sajak. Dalam hubungan sajak-sajaknyalah akan kita cari di mana tempatnya dalam kesusastraan Indonesia, tidak dalam hubungan kehidupannya di Karawang atau Cikampek. Tentu pengetahuan tentang kehidupan yang ia jalankan akan memperjelas beberapa sajak-sajaknya bagi kita. Tapi tidaklah ia berubah tempat karena ia pernah tinggal di sana. Orang selalu mensenyawakan sajak-sajak Chairil dengan seorang revolusioner. Mungkin ia dalam kehidupannya, dalam perjuangannya, tapi dalam sajak-sajaknya ia adalah suatu contoh dari "konsekuensi kebebasan", konsekuensi harus dijalankan setiap orang yang mulai sadar akan harga dirinya, kesadaran yang membawa sertakan kesunyian. Kesunyian disebabkan bebasnya ia dari dan belum bebasnya ia untuk.

Tapi bagaimanapun harga Chairil dalam kesusastraan ialah harga dari sajak-sajaknya sendiri. Tidak usah ikut beramai-ramai ke kuburan Raden Saleh untuk memastikan bahwa ia seorang pencipta bangsanya dan mengganti "Ridder dan sebagainya" dengan "nasionalis". Barangkali ia memang nasionalis dan ia cinta kepada bangsanya. Dalam zaman ini sudah menurut cara-cara kini namanya itu, jika ia disebut pahlawan karena kita perlu pahlawan. Mau tidak mau ia harus jadi pahlawan karena ia sudah mati. Tapi ia pelukis. Atas nama ini ia masuk dalam sejarah. Oleh sebab itu, maka ia baru jadi orang besar jika telah nyata tempatnnya dalam seni lukis kita.

Dalam kesusastraan, orang harus diberi tempat atau dibuang sama sekali karena kegiatan-kegiatan kesusastraannya. Untuk ini kita harus mengemukakan alasan. Baik hal ini kita teliti kembali. Angkatan muda kesusastraan telah menyerang angkatan sebelumnya dengan sejadi-jadinya. Ia masih muda dan karena itu, pengetahuannya tidak cukup banyak. Tetapi ia tahu apa yang ia mau dan apa yang tidak ia suka. Yang ia tidak suka ini, ia kumpulkan dalam beberapa garis besar, dalam beberapa generalisasi, dan sesudah itu ia hanya memusatkan pikirannya kepada apa yang ia maui lagi. Senjatanya bukan alasan, tapi kegiatan. Akhir-akhirnya kesusastraan Indonesia sekarang ini terbiasa dalam kegigihannya ini. Sekarang juga masih gigih, tapi makin lama makin nyata bahwa dengan kegigihan ini saja ia belum lagi dapat melepaskan senjata seterus-terusnya. Orang tidak bisa dianggap angin, mereka punya tempat berdiri di bumi Tuhan ini. Bukan itu saja. Jika tiada lagi yang berani mengingkari kita, maka lucu sekali jika kita masih tinggal gigih. Kita akan kehabisan energi karena mengasyiki diri sendiri. Kita harus gigih dengan alasan-alasan yang lahir dari kenyataan-kenyataan, Pengeritik harus bekerja dengan kenyataan (tulisan atau ucapan yang diperuntukkan bagi umum) dan alasan. Kalau tidak, "percakapan" yang akan berlangsung adalah seperti percakapan berikut ini:

"Saya tahu siapa pengarang terbesar di negeri ini. Si Anu itu tidak penting sama sekali,"

"Siapa pengarang terbesar itu? Mengapa?"

"Ah! Saya segan berbicara tentang diri saya sendiri."

Bahwa seniman seorang pesolek adalah soal yang biasa. Sungguhpun begitu tidaklah dapat dibiarkan jika ia menyinggung hak bersolek orang lain dan tidaklah ia menjalankan kesusastraan lagi jika ia mencoba memasukkan keinginannya untuk bersolek itu dalam hubungan-hubungan sosial. Ini cuma bisa terjadi jika pengarang lebih menghargakan kedudukan lain daripada mempergunakan mediumnya sendiri, jika pengarang lebih menyukai untuk menjabat kedudukan penting daripada melakukan pekerjaannya:mengarang.


Siasat, 4 Oktober 1953

Sumber: Asrul Sani: Surat-Surat Kepercayaan dalam Kritik Sastra Indonesia Mencari Kambing Hitam: Sepilihan Esai dan Kritik Klasik Indonesia

 

Tentang Penulis



Asrul Sani (lahir di Rao, Sumatra Barat, 10 Juni 1927 – meninggal di Jakarta, 11 Januari 2004 pada umur 76 tahun) adalah seorang sastrawan, sutradara, dan penulis skenario film ternama asal Indonesia.

Di dalam dunia sastra Asrul Sani dikenal sebagai seorang pelopor Angkatan ’45. Kariernya sebagai sastrawan mulai menanjak ketika bersama Chairil Anwar dan Rivai Apin menerbitkan buku kumpulan puisi yang berjudul Tiga Menguak Takdir. Kumpulan puisi itu sangat banyak mendapat tanggapan, terutama judulnya yang mendatangkan beberapa tafsir. Setelah itu, mereka juga menggebrak dunia sastra dengan memproklamirkan Surat Kepercayaan Gelanggang sebagai manifestasi sikap budaya mereka. Gebrakan itu benar-benar mempopulerkan mereka.

Selain itu, ia pun pernah menjadi redaktur majalah Pujangga Baru, Gema Suasana (kemudian Gema), Gelanggang (1966--1967), dan pimpinan umum Citra Film (1981--1982).

Sebagai sastrawan, Asrul Sani tidak hanya dikenal sebagai penulis puisi, tetapi juga penulis cerpen, dan drama. Cerpennya yang berjudul Sahabat Saya Cordiaz dimasukkan oleh Teeuw ke dalam Moderne Indonesische Verhalen dan dramanya Mahkamah mendapat pujian dari para kritikus. Di samping itu, ia juga dikenal sebagai penulis esai, bahkan penulis esai terbaik tahun ’50-an. Salah satu karya esainya yang terkenal adalah Surat atas Kertas Merah Jambu (sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda).

Sejak tahun 1950-an Asrul lebih banyak berteater dan mulai mengarahkan langkahnya ke dunia film. Garapan pertamanya di bidang film adalah skenario Pegawai Tinggi (1953). Debut pertama penyutradaraan filmnya adalah Titian Serambut Dibelah Tudjuh (1959). Ia mementaskan Pintu Tertutup karya Jean-Paul Sartre dan Burung Camar karya Anton P., dua dari banyak karya yang lain. Skenario yang di tulisnya untuk Lewat Djam Malam (mendapat penghargaan dari FFI, 1955), Apa Jang Kau Tjari, Palupi? (mendapat Golden Harvest pada Festival Film Asia, 1971), dan Kemelut Hidup (mendapat Piala Citra 1979) memasukkan namanya pada jajaran sineas hebat Indonesia. Ia juga menyutradarai film Salah Asuhan (1972), Jembatan Merah (1973), Bulan di Atas Kuburan (1973), dan sederet judul film lainnya. Salah satu film karya Asrul Sani yang kembali populer pada tahun 2000-an adalah Nagabonar yang dibuat sekuelnya, Nagabonar Jadi 2 oleh sineas kenamaan Deddy Mizwar.

Selain menulis puisi, cerpen, esai, naskah teater, dan skenario film, dia banyak menerjemahkan karya sastra mancanegara.

Sementara bergiat di film, pada masa-masa kalangan komunis aktif untuk menguasai bidang kebudayaan, Asrul, mendampingi Usmar Ismail, ikut menjadi arsitek lahirnya LESBUMI (Lembaga Seniman Budayawan Muslimin Indonesia) dalam tubuh partai politik Nahdhatul Ulama, yang mulai berdiri tahun 1962, untuk menghadapi aksi seluruh front kalangan "kiri". Usmar Ismail menjadi Ketua Umum, Asrul sebagai wakilnya. Pada saat itu ia juga menjadi Ketua Redaksi penerbitan LESBUMI, Abad Muslimin.


Sumber biodata penulis: Wikipedia


Sunday, December 27, 2020

MASRIADY MASTUR, Penyair yang Gemar Berteater, Menari, dan Memotret


 

Masriady Mastur dilahirkan pada tanggal 5 Mei
1957 di Sanga-Sanga, Kabupaten Kutai Kartanegara. Sebagai sastrawan ia kerap menggunakan nama samaran EM ES Koloq atau M.S. Koloq. Ayah Masriady bernama H. Mastur Dillah dan ibunya bernama Norasikin. Mastur Dillah adalah seorang pensiunan Dinas Peternakan Kalimantan Timur dan memiliki pengetahuan ilmu agama yang baik. Sosok sang ayah sering menjadi sumber inspirasi bagi Masriady dalam menulis karya sastra. Sastrawan ini tutup usia pada bulan Mei 2008.

Sejak lahir hingga remaja Masriady Mastur tinggal di Samarinda Seberang, tepatnya di Kampung Baka. Ia memiliki empat saudara yang semuanya laki-laki, yaitu Masriansyah, Masrianherdy, Masriawan, dan Heri Gunawan. Masriady menikah dengan Kustiah, wanita asal Banyuwangi, Jawa Timur. Mereka memiliki seorang anak. Masriady menempuh pendidikan dasar hingga menengah atas di Kota Tenggarong. Ia menamatkan pendidikan sekolah dasar pada 1971, sekolah menengah pertama pada 1974, dan menamatkan sekolah menengah atas pada 1977.

Masriady pernah mencoba berbagai jenis pekerjaan, misalnya, pelayan warung nasi dan pramuniaga toko. Kariernya sebagai pegawai negeri sipil dimulai dengan menjadi tenaga honorer di kantor Pemerintah Daerah Kabupaten Kutai Kartanegara. Setelah menjadi pegawai honorer selama lima tahun, ia akhirnya menjadi pegawai negeri sipil di Bagian Humas Pemda Tingkat II Kabupatan Kutai Kartanegara dengan spesifikasi sebagai fotografer. Pekerjaan sebagai fotografer dimanfaatkannya untuk memperoleh berbagai infomasi aktual yang akhirnya dituangkan dalam puisi. Masriady  sangat mencintai pekerjaannya sebagai fotografer dan penyair. Baginya kedua pekerjaan tersebut sudah mendarah daging walaupun ia tidak pernah bercita-cita sebagai penyair.

Masriady dalam mencipta puisi dimulai sejak duduk di bangku sekolah, Setelah lulus sekolah, ia mulai menunjukkan kemampuan melalui keikutsertaan dalam berbagai kegiatan sastra. Pada tahun 1978 ia mengikuti acara pembacaan puisi karya Alm. Drs. H. Ahmad Dahlan. Ia juga telah menulis hampir seratus judul puisi dan beberapa di antaranya sudah dibukukan. Di samping gemar membuat puisi, Masriady juga gemar berteater, menari, dan memotret. Berkat bantuan Lembaga Pengembangan Kebudayaan Kutai Kartanegara (LPKK), ia mengikuti kursus seni di Padepokan Bagong Kusudiarjo Yogyakarta dan bergabung dengan Teater Gandrik pimpinan Butet Kartajasa (1987). Bersama Yaya W.S., Masriady mendirikan dan membina Teater Gong Tenggarong. Anggota teaternya kini mencapai seratusan orang dan telah beberapa kali mengadakan pementasan, baik di Tenggarong maupun di Samarinda. Pada tahun 1980-an Koloq juga tergabung dalam Teater Total di LPKK pimpinan H. Zailani Idris.

Masriady sangat menyukai puisi-puisi Chairil Anwar, Hartoyo Andangjaya, dan Taufiq Ismail, seperti "Krawang Bekasi", "Aku", "Diponegoro", "Doa", "Manifestasi", "Benteng", dan lain-lain. Ia menyukai puisi-puisi karya para pengarang tersebut karena mengandung unsur sosial, perjuangan, kemanusiaan, dan ketuhanan. Selain membaca buku puisi-puisi hasil karya sastrawan nasional, Masriady juga membaca buku-buku yang berhubungan dengan pengetahuan Meninjau Sastra karangan A. Teuw, dan Prahara Budaya karya Taufiq Ismail.

Karya-karya Masriady terbit dalam berbagai buku antologi puisi bersama, misalnya Tempoyak (1980), Topeng (1981), Riak (1986), Menepis Ombak Menyusuri Sungai Mahakam (1999), dan Secuil Bulan di atas Mahakam (1999). Antologi puisi Tempoyak dan Topeng diterbitkan dalam bentuk stensilan bersama Karno Wahid. Antologi Riak diterbitkan oleh CV Bumi Kaltim Offset Tenggarong dan di dalamnya juga terdapat puisi-puisi karya Karno Wahid dan Budhi Warga.

Puisi karya Masriady yang paling berkesan baginya adalah puisi berjudul "Sebuah Renungan". Puisi tersebut pernah dipentaskan secara teatrikal oleh Teater Bintek (Bina Teater Kutai Kartanegara).

Berikut salah satu puisi yang ditulisnya pada masa awal era reformasi

BILA SUDAH BOSAN
Karya Masriady Mastur

tak ada bisik-bisik lagi
kalau rakyat sudah berteriak ah, bosan!
karena sudah jemu habis kesabaran
tak heran bila suara mereka
tak ada pilihan lain
untuk berkata dalam barisan aksi demonstrasi

sebab, segala tanya yang ditanyakan
hanya menunggu janji resah mengganjal telinga
pada mulut bujuk rayu dalam pidato
mata berkedip-kedip, tapi tidak bertindak
keadilan, kebenaran, kemakmuran
dan kesamarataan
lantas pindah ke dalam slogan!
nah, tak ada bisik-bisik lagi
bila rakyat sudah berteriak
ah, sudah bosan terhadap kepalsuan dan kebohongan

MS. Koloq, 98

Banyak hal yang ingin dilakukan oleh Masriady untuk memajukan sastra di Kalimantan Timur. la sangat menginginkan adanya kritikus atau pengamat sastra yang serius memperhatikan perkembangan sastra di Kalimantan Timur. Menurutnya, ulasan-ulasan sastra di media massa sangat membantu perkembangan sastra di Kalimantan Timur. Bahkan, ia menganggap perlu didirikannya Dewan Sastra Kaltim (DSK) atau Forum Komunikasi Sastra Kaltim (FKSK). Ia merasa perkembangan sastra di Kalimantan Timur sangat lamban. Pengembangan aktivitas bersastra di Kalimantan Timur memerlukan kerja sama antarlembaga, misalnya kerjasama para sastrawan dengan koran daerah untuk memublikasikan realitas perkembangan sastra di Kalimantan Timur. Masriady juga menyoroti perlunya kehadiran karya-karya sastra yang mencerdaskan generasi muda, menampilkan cerita yang berkualitas sosial dan intelektual. Bahkan, Masriady memandang perlunya pengajaran sastra dan bahasa Indonesia di sekolah dilakukan secara terpisah.


Sumber: Biografi Pengarang Kalimantan Timur


Friday, December 25, 2020

Puisi Dinullah Rayes dan M. Raudah Jambak dalam Ragam Jejak Sunyi Tsunami


 

Puisi Dinullah Rayes

(Mataram, Nusa Tenggara Barat)


Prahara Langit Prahara Bumi

buat : Yusnida perempuan tabah,
yang rindu
rindu nyawa hilang tiada
datang lagi di Banda Aceh

Negeri ini
luka mengucur air mata, darah nanah
Negeri ini
pintu syurga terbuka senyum ramah

Aceh serambi Mekah dan Sumut
tiba-tiba Ahad, dua enam, akhir tahun, kosong empat
Jemari Tuhan gemetar, lalu menggelar suara di persada
mengguncang gunung, lembah, bukit
hari itu sang gempa murka
tsunami menggulung semua yang bernyawa
memorakmorandakan tanah rembesan darah, air mata
mayat-mayat, bangkai-bangkai ditimbun puing-puing reruntuhan
anak-anak kecil pergi tiada kembali lagi
Ayah bunda mencari rindu antara jasad layu, kaku
bocah-bocah kehilangan tumpuan cinta, kasih sayang

Istri mencium kening suaminya yang terbaring, bisu batu bata
Suami memangku jasad istrinya yang lidah sepi kata-kata
Batang-batang tubuh membengkak menguap bau busuk
Mereka entah siapa, nama, alamat dijilat lidah ombak
Kenduri tangis di mana-mana, mengiris sukma
insan tangan langit
Inikah sepotong peringatan Ilahi Robbi
Buat mereka menepis damai tenang
di tanah Rencong

Kami yang lahir, hadir di sini
di pulau seberang, tanah hijau nusantara
Kami larut dalam duka lara
Karena Aceh adalah kita jua
Ibu pertiwi menangis dalam hati sembari mengirim doa:
Allah Tuhan Maha Segala
Ampunilah kami yang hitam, yang putih
Dari unsur air, tanah udara, api
Ciptaan-Mu ini, ya Illahi

Aceh oh Aceh
yang hidup di bawah bebatuan kota, tanah tegalan
yang menggapai-gapai mentari rembulan
Adalah jalan hidup misteri Alif-Mu senantiasa tegak berjalan
Tak pernah sendirian.

Sumbawa-Ubud, awal Januari Nol Lima


Puisi M. Raudah Jambak

(Medan, Sumatera Utara)


Musa yang Membelah Gelombang

Ke mana lagi musa pergi, selain membelah gelombang
dengan tongkat sakti
di sini tsunami angkuh berdiri menebar duri,
bersama angin
yang memburu mengekalkan seringainya
dalam bayang-bayang kabut
serombongan gagak memburu camar yang terbang
gontai, perlahan mengintai
sementara pepohonan tafakur, mengucap syukur
lalu membanjiri derail zikir
: telah menjadi suratan Fir'aun terkubur takabur
menafikan takdir di tengah laut yang terbelah
sehabis ketukan doa musa bersama takbir
yang menggema

ke mana lagi Musa pergi, selain membelah
gelombang
bersama para syuhada-di sini laut berubah raksasa
melahap apa saja, bagai sihir yang menumpahkan
muntahan air-menghantam beratus ribu pasir
dalam sir
sementara tenggorokan tersekat
bersama waktu
yang sekarat
telah menjadi suratan gelombang bukanlah hujjah
para syuhada hanya hijrah, berjalan di antara
pecahan resah, membius darah-dan tsunami
hanyalah
istilah, pintu hijrah menuju tempat
yang indah

maka,
bangunlah wahai Kekasih Sang Kekasih, sebab
resah
adalah miliknya orang-orang kalah, sebab kecewa
adalah miliknya para pendosa, orang-orang
yang tak mengerti arti mencinta, sebab nada kutuk
adalah miliknya orang-orang yang pintu hatinya tak terketuk

maka,
ke mana lagi musa pergi, bersama umi-bersama abah,
bersama inong-bersama agam, bersama geuchik
bersama teungku meunasah, bersama para syuhada
yang tak mengenal arti lelah
arti menyerah, selain membelah gelombang, menuju Allah

Medan, Februari 2005


Sumber puisi: Antologi puisi "Ragam Jejak Sunyi Tsunami


Biodata Penyair:


Dinullah Rayes


Dinullah Rayes (lahir di Kalabeso, Kecamatan Buer, Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, 7 Februari 1939; umur 81 tahun) adalah seorang sastrawan dan budayawan Indonesia asal Nusa Tenggara Barat. Dinullah Rayes telah aktif menulis sejak tahun 1956. Tulisannya dalam bentuk puisi, cerpen, esai, naskah drama, serta artikel kesenian dan kebudayaan telah tersebar di berbagai media massa, seperti Abadi, Pelita, Suara Karya, Panji Masyarakat, Salemba, Tifa Sastra, Seloka, Sarinah, Suara Muhammadiyah, Harmonis, Amanah, Sinar Harapan, Forum, Tribun, Swadesi, Republika, Bali Post, Nusa Tenggara, Suara Nusa, Dewan Sastra Malaysia, dan lainnya.

Sumber: Wikipedia

-------------------------------

M. Raudah Jambak


M. Raudah Jambak, lahir di Medan-5 Januari 1972. Jatuh cinta dengan teater sejak di SMP. Lalu melamar teater LKK di IKIP 1993. 1994/1995 ditunjuk sebagai ketua Teater LKK IKIP Medan, kemudian melahirkan beberapa nas kah dan pementasan baik sebagai pemain, kru, atau sutradara(radio, TeVe, ikLan, fiLm dan panggung). Penggagas festival DKOKUK LKK IKIP MEDAN (1995). 1995 ikut membidani SANGGAR TEATER GENERASI MEDAN dan tercatat sebagai pengurus angkatan I (bid. DIKLAT) sampai sekarang. Bergabung juga di PATRIA 1995. 

Beberapa kali diajak bergotong ro yong oleh bebe rapa kelompok teater di Medan, seperti : PATRIA, NUANSA, NASIONAL, IMAGO, MERDEKA, ANAK NEGERI, BLOK, GENERASI, Dan Lupa Lagi. Beberapa kali me menangkan festival baik sebagai pemain, artistik, penulis naskah, dan sutradara. Sebagai pengamat tetap PARADE TEATER PELAJAR dari 2003 s.d. 2006 ditunjuk Aso siasi Teater Sumatera Utara. Juri tetap festival teater (DKOKUK) sampai 2005. Melatih teater di beberapa sekolah sampai sekarang. Instruktur Acting D’WIN DOWS PRODUC TIONS sampai 2008. Riwayat pementasan serius setamat sekolah sejak 1993 di LKK IKIP (sekarang UNIMED) Medan. Tampil dalam TASSEMATA di TBSU 1994. 1995 menyutradarai SANG PENYAIR di Taman Budaya Sumatera Utara. ABRA KA DAB RA di pentas tertutup TIM Jakarta, 1996 dalam rangkaian Pekan Seni Mahasis wa tingkat Nasional. MENYIBAK TIRAI MASA DEPAN 1997 di Pardede Hall. WA JAH KITA 1998 di hotel GARUDA PLAZA Konvention Hall. TRAGEDI AL-HALLAJ di Hotel Tiara Konvention Hall 1999. PE TANG DI TAMAN di TBSU 2000. PEJUANG 2000 di Departeman Pariwisata, Seni dan Budaya Pematang Siantar. MARNI di TVRI Medan 2001. TANAH GARAPAN di TVRI 2002. Mengikuti workshop MASTERA, di Bogor (2003), Festival Teater Alternatif GKJ Awards, di Jakarta (2003) dan workshop teater alternatif, di TIM Jakarta (2003), Pameran dan Perge laran Seni Se-Sumatera, di Taman Budaya Banda Aceh-Monolog ANJING MASIH MENGGONGONG (2004). Menyutradarai monolog "Indonesia Undercover" dalam seleksi Monolog 2005, di Taman Budaya Suma tera dalam rangka monolog nasional di Graha Bakti, Taman Ismail Marzuki. 2006 JODOH PARADE TEATER SUMUT di TBSU. 2007 menyutradarai PEREMPUAN TANPA KEPALA di TBSU. 2008 JODOH SABTU TERTAWA ALA KAMPUSI di TBSU. Menyutradarai TIURMAIDA 08/09 di TBSU. 

Pada 2009 dalam CUBLIS di TBSU terlibat sebagai Co- Sutradara-bersama penulis/pemain Hasan Al-Banna, dalam rangkaian Jaringan Teater Se-Sumatera di LAMPUNG. Saat ini selain di FKS, HISKI, SIAN, AGBSI, HSBI dan GENERASI juga membidani Komunitas Home Poetry (Komunitas HP-1997) sekaligus sebagai Ketua Umum, juga bertugas di beberapa sekolah sebagai staf pengajar, Di perguruan dan Univeristas Panca Budi (Fakultas Agama Islam dan Fakultas Filsafat)


Sumber: Taman Sastra Raudah Jambak


Membuat Sajak Melihat Lukisan



Chairil Anwar


Sajak terbentuk dari kata-kata, seperti juga sebuah lukisan dari cat dan sehelai kain, atau sebuah patung dari pualam, lempung dan sebagainya. Tapi mereka yang mengalami keterharuan ketika melihat suatu lukisan atau sebuah patung, tidak akan menganggap kualitas cat dan kain atau batu pualam sebagai soal yang penting, soal yang pokok. Bukanlah bahan-bahan yang dipakai yang penting, yang penting adalah hasil yang dicapai.

"Hasil" ini pada umumnya "terbagi" dalam bentuk dan isi. Tetapi "pembatasan" yang sangat nyata dan terang antara bentuk dan isi ini tidak hanya rapat berjalan sama, mereka gonta-ganti tutup menutupi. Karena hanyalah perasaan-perasaan si seniman yang benar-benar jadi bentuk dan caranya menyatakan yang istimewa, tersendiri yang sanggup membikin si penglihat, pembaca atau pendengar terharu melambung atau terhenyak.

Jika dua orang pelukis sama-sama melukiskan suatu bagian dan kita, bisa kejadian yang lukisan satu mengagumkan kita, sedangkan lukisan yang lain kita rasa jelek. Perbedaan bukanlah jadinya terletak pada "pokok", karena di sini pokok adalah sama. Perbedaan terletak dalam perasaan-perasaan yang mengiringi pemandangan di kota tadi, dan dalam cara bagaimana perasaan-perasaan itu mencapai perasaannya.

Sebagaimana suatu pokok biasa mengesan pada dua orang pelukis, begitu juga sebaliknya dua bagai pokok bisa meninggalkan keterharuan yang sama pada seorang pelukis. Lukisan yang sederhana dari sepasang sepatu tua bisa "sebagus" lukisan satu pot kembang yang berbagai warna. Karena yang tampak oleh kita bukanlah semata-mata sepatu tua itu, tapi adalah sepatu tua yang "terasa bagus"-- dan karena si seniman sanggup menyatakan sepenuhnya dengan garis dan bentuk, karena itu pula maka dia bisa memaksa kita mengakui hasil keseniannya.

Jadi yang penting ialah: si seniman dengan caranya menyatakan harus memastikan tentang tenaga-tenaga perasaan-perasaannya. Perkakas-perkakas yang biasa dipakai oleh si penyair untuk menyatakan, adalah bahan-bahan bahasa yang dipakainya dengan cara intuitif. Dengan "memakaikan" tinggi- rendah dia bisa mencapai suatu keteraturan, dan dalam keteraturan ini diusahakannya variasi: irama dari sajaknya dipakainya sebagai perkakas untuk menyatakan. Lagu dari kata-katanya bisa pula dibentuknya sehingga bahasanya menjadi berat dan lamban atau menjadi cepat dan ringan. Dia bisa memilih kata-kata yang hubungan-kata yang tersendiri, ditimbang dengan seksama atau kata-kata ini menyatakan apa yang dimaksudnya. Bentuk kalimatnya bisa dibikinnya menyimpang dari biasa, dengan begitu mengemukakan dengan lebih halus, lebih pelik apa yang hidup dalam jiwanya. Dengan irama dan lagu, dengan bentuk kalimat dan pilihan kata yang tersendiri dan dengan perbandingan-perbandingan si penyair, menciptakan sajaknya dan hanya jika pembaca sanggup memperhatikan dengan teliti "keistimewaan yang tercapai oleh si penyair, bisalah si pembaca mengartikan dan merasakan sesuatu sajak dengan sepenuhnya. Merasa sebuah sajak bagus tidaklah harus didasarkan atas suatu atau beberapa dari "perkakas" bahasa yang disebut tadi, tapi harus didasarkan atas kerjasama dan perhubungannya yang sama dengan "pokok". 

Bahwasanya pokok tidak menetukan nilai hasil kesenian, bukanlah berarti bahwa semua pokok bisa membawa keterharuan yang sama pada penyair. Sebaliknya malahan: sudah tentu saja bahwa berbagai peristiwa dalam alam dan dalam kehidupan manusia tidak kita hiraukan, karena dia tidak menduduki tempat yang "penting" dalam kehidupan kita. Percintaan, kelahiran, kematian, kesepian, matahari dan bulan, ketuhanan-inilah pokok-pokok yang berulang-ulang telah mengharukan si seniman.

(Saumber H.B. Jassin CHAIRIL ANWAR PELOPOR ANGKATAN '45)


Tentang Penulis



Chairil Anwar (lahir di Medan, 26 Juli 1922 – meninggal di Jakarta, 28 April 1949 pada umur 26 tahun), dijuluki sebagai "Si Binatang Jalang" (dari karyanya yang berjudul Aku), adalah penyair terkemuka Indonesia. Dia diperkirakan telah menulis 96 karya, termasuk 70 puisi. Bersama Asrul Sani dan Rivai Apin, dia dinobatkan oleh H.B. Jassin sebagai pelopor Angkatan '45 sekaligus puisi modern Indonesia.


Sumber tulisan: Kritik Sastra Indonesia Mencari Kambing Hitam: Sepilihan Esai dan Kritik Sastra Klasik Indonesia

Sumber biodata dan foto penulis: Wikipedia