Sunday, January 20, 2019

7 Contoh Puisi Karya Penyair dari Kalimantan tentang Alam



Kalimantan melahirkan banyak penyair andal. Tidak sekadar eksis di tempat lahir mereka saja, akan tetapi puisi-puisi para penyair dari Pulau Seribu Sungai ini juga merambah wilayah nasional dan regional. Berikut adalah tujuh contoh puisi karya penyair dari Kalimantan tentang alam. 


Aku Ingin Mengajak Kau ke Hutan

Karya Akhmad Zailani (Samarinda, Kaltim)

I
Aku ingin mengajak kau ke hutan. Berkelana menulis puisi yang indah. Puisi tentang hutan. Mumpung belum punah. Sekalipun keindahannya hanya sedikit. Tentang  pohon-pohon yang kita lihat di sepanjang langkah. Jangan takut ada harimau, ular, beruang atau binatang buas lainnya. Ada aku. Aku bisa menjadi lebih dari harimau untuk membunuh harimau atau aku bisa lebih menjadi ular dan beruang untuk membantai ular dan beruang. Untuk mengusir rasa takut kau. Tapi tentu saja, binatang binatang itu sudah  tak ada lagi. Orang orang telah memelihara di dalam diri. Ya, aku berharap di dalam hati.  Bila aku dan kau beruntung; kita akan mendapati kupu-kupu yang terbang , mungkin akan ada bunga anggrek hutan, yang tumbuh liar di antara pohon-pohon besar, yang aku pun tak tahu namanya, lalu kau berteriak girang ; “ oh indahnya”.

II
Seorang kenalan menawarkan kelezatan hutannya.  Mungkin dia bercanda. Mungkin masih hutan. Tapi aku kurang terpikat, dan berpikir;  hutan dia, hutan ku dan hutan kau, tidak berbeda jauh. Sudah dijamah.  Aku dan kau memang bisa saja mencari hutan di daerah lain, berkelana untuk menulis puisi. Mencari kupu kupu dan inspirasi pun muncul berterbangan ke luar lewat telinga, mata dan mulut.  Tapi cukup lah sementara hutan  yang ada di pikiranku saja. Atau hutan di kepala kau saja, yang belum dijamah.  Tapi tidak menutup kemungkinan, bisa saja kita diam diam sambil mengendap-ngendap menengok hutan kenalan itu, lalu merasakan aromanya. Seperti menghirup secangkir kopi nikmat di hari dingin dan  kita rasakan perbedaannya ; “oh lezatnya”

III
Hutan perlu buru-buru diubah menjadi puisi, karena mimpi-mimpi dari tidur aku dan kau tentang hutan telah habis dimakan babi-babi, yang berdatangan dari jauh. Hutan perlu segera diberi sayap, agar segera terbang bersama kupu-kupu, dan tidak merasa kesepian. Karena kupu-kupu bukan sepenuhnya asesoris hutan.  Bila suatu ketika aku dan kau beruntung, akan ketemu kupu-kupu yang terbang bersama hutan-hutan secara terpisah.  Bila hutan sudah beterbangan,  babi-babi hanya bisa memakan kotoran sendiri secara berulang-ulang, tiada habis.  Hutan-hutan berterbangan, bersama kupu-kupu, lalu ada bunga anggrek yang menuliskan  harapan di  pohon-pohon besar, dan kau pun terkagum kagum melihatnya;” oh mari buru-buru kita lukis kenangan”

IV.
Tapi terlambat. Aku dan kau gagal membungkam waktu. Babi-babi tak bisa ditahan, terus berdatangan seperti hantu.  Mungkin berkendaraan angin. Tidak tampak, namun terus mencukur hutan hingga botak. Kau pun menangis sejadi jadinya. Hutan-hutan beberapa di antaranya tak sempat diterbangkan. Hutan-hutan yang tak sempat diberi sayap, lenyap dimakan babi-babi hingga tak bersisa.  Bukan sekedar mati. Bahkan hingga ke dalam jantung hati. Tersisa galian lubang-lubang besar  seperti mulut raksasa. Air mata kau menetes, tertampung di dalam lubang yang telah memakan anak-anak pewaris mimpi-mimpi aku dan kau.  Lalu dari lubang lubang berlarian babi-babi. Kau pun makin menangis sejadi-jadinya. “ Oh …”


Kabar dari Rajawali

Karya Edi Santosa (Banjarbaru, Kalsel)    

Rajawali terbang di senja yang jingga
cakarnya merobek langit
lengking suaranya menyayat cakrawala 
 
mengepak menggetarkan semesta,
menyampaikan kabar berita

Aku berdiri dalam genangan tanda tanya
angin menerpaku dalam hampa 
 
mendesau bergemuruh
datang dari degup jantung rimba
yang tertindas oleh serakah,
Dibawa ke kota meninggalkan luka
Di antara jejak - jejak buldoser
gergaji yang terus meraung
Menumpahkan derita,
menuliskan sejarah
yang akan dieja oleh anak cucu kita

Kapankah mereka menanam pepohonan itu?
Kenapa mereka menebangya sekarang?
Kapankah mereka merawat tunas-tunas itu?
 
Kenapa mereka membakarnya sekarang?
Kapankah mereka mencintai rimba itu?
Mereka mengkhianati dan tak pernah kembali

Wahai rajawali, terbanglah lebih jauh
melengkinglah lebih tinggi
Kutitipkan risauku bersamamu

Banjarbaru,  Juli 2016


Hutan di Mataku

Karya Micky Hidayat (Banjarmasin, Kalsel)

sebuah hutan
tak bernama
tak berpeta
tak terbaca
terhampar di anganku

sebuah hutan
tak berpohon
tak berakar
tak berdahan
tak beranting
tak berdaun
terbakar di jantungku

sebuah hutan
menjerit-jerit
melolong-lolong
mengerang-erang
meraung-raung
merintih-rintih
terkapar di lorong jiwaku

sebuah hutan
menjelma jadi api, asap,
bara, dan puing
berserakan di ruang sunyiku

sebuah hutan
adalah luka adalah duka
sebuah hutan
adalah perih adalah pedih
sebuah hutan
menjadi hujan di mataku
menderaskan bencana
berkepanjangan

2005


Hutan Penuh Air Mata                                                     

Karya Rusdi Fauzi (Barabai, Kalsel)

Hijau hutanku terhampar luas
udara yang sejuk berembus di antara pucuk-pucuk
tanah gembur menghasilkan kehidupan
flora dan fauna yang baru

Air hutanku mengaliri sungai-sungai
Yang bertanah, berumput, dan berbatu-batu,  
menciptakan panorama benua kita
dalam deras segala di hati ceria berpadu

Kini hutan mengadu dalam lusuh
benua hewan, tumbuhan hampir musnah
tanah pun merintih
oleh nafsu penuh keserakahan

Apakah semua berakhir, bencana di benua
mungkinkah, kami telah banyak meminta
kalian telah bangga dengan salah dan dosa
ketamakan yang membuat hutanku tak tersisa.

Barabai, 15/07/2016


Baritoku

Karya Selamat Bakumpai (Muara Lahei, Kalteng)

Melalui keruhmu yang seluruh,
Kau kabarkan tentang hutan belantara yang dibabat oleh mesin-mesin raksasa yang menggemuruh, memekakkan telinga, mengusir dan membunuh satwa-satwa liar serta membuahkan banjir-banjir yang menyengsarakan.

Melalui tongkang yang merayap ke muara,
Kau kabarkan tentang bumi yang dijungkirbalikkan dengan pongah demi emas hitam yang melimpah untuk menghidupkan industri dan listrik di pulau seberang sementara di tempatmu sendiri lebih sering gulita.

Melalui riakmu yang miskin kecipak dan sambaran ikan,
Kau kabarkan tentang maraknya penyetruman, penggunaan racun serangga dan potas di seluruh aliran sampai ke paling udik dirimu, untuk kemudian mencipta rerintih dari tubuh-tubuh yang telah teracuni.

Melalui sampah dan limbah yang hanyut,
Kau kabarkan tentang penduduk yang sudah menaik taraf pendidikannya namun tak juga sadar bahwa sungai bukanlah tempat pembuangan akhir yang tepat.

Melalui jamban-jamban yang mengapung sepanjang aliranmu,
Kau kabarkan tentang masih adanya orang-orang yang berpikir setengah primitif atau sebagian lainnya lagi menganggap bahwa itu bagian dari rantai makanan dan manusia adalah bagian dari semesta makhluk hidup.

Melalui arusmu yang kian sepi dari perahu dan kapal yang hilir mudik,
Kau kabarkan tentang telah dibangunnya infrastruktur jalan dan jembatan yang membuka segala akses sampai ke kampung terisolir di pedalaman, kemudian lahirlah gadis-gadis dusun dengan bibir berlipstik dan pandai ber-selfie.

Baritoku,
Melalui seluruhmu kau kabarkan bahwa zaman telah berubah.

Muara Lahei, 14 Maret 2016


Nyanyian Sebatang Pohon

Karya Syarif Hidayatullah (Banjarmasin, Kalsel)

Burung-burung terbang tersesat di kotamu
Mencari hutan untuk jalan pulang
Mendengar nyanyian pohon
Yang semakin terkikis peradaban

Dan pagi sedang menikmati kopinya
Di antara jalanan tua
Tempat orang berlalu-lalang menuju pasar

Tanah terkikis bersama pohon yang tumbang
Kawah bumi menjadi genangan terbaikan
Di tumbuhi lumut dan jentik bersarang
Rumput pun menjadi mati
Tempat yang dulu jaya kini merana
Sementara kita di desa terus mencoba menanam oksigen
Kembali berharap mendengar nyanyian pohon
Meskipun hanya sebatang

Bantuil, 8 Juli 2016

  
Tangis Hutan Benuaku

Karya Taberi Lipani (Barabai, Kalsel)

Coba selami arti
ketika batang kayu-kayu tumbang
di antara kerlip bintang-bintang
buram kelabu
masa hijau benua ini telah ternoda
hati daki berdasi

Kering renta merana
hutan ini menangis rawan
sungai-sungai lali
kehilangan batu-batu pualam
ketika langit kita muru muram

Sisi hutan nan rawan
gelap tak terlalui mimpi
dan langkah pribumi yang serba salah
tak kuasa mengajak sanak saudara
pergi menjauhinya

Mari mendaki lembah-lembah
barangkali di sana terbaca sebabnya
tentang bayu yang memanas
kering merana
karena bibir tanah rengkah
tak kuasa memetik embun
senyap, getir bisiknya
kepada siapa ia dermakan air mata
berliku tak terjawab

Bila amarah sungai menyapa
tiada bergumam tentang kedamaian
yang keruh gemuruh
menyerbu padang-padang
tanpa sesunting senyum menyapa
dan dari hulu sungai-sungai itu
ada gunung yang hanyut
tanpa isak menyambutnya

Wahai kepada siapa bumi mengadu
apakah kami masih bias menangis
demi anak cucu
yang belum mengenal benua
hanya mampu merindu
ingin memeluk batang kayu
karena hutan ini jangan sirna
dimakan si tamak tama
matahari sudah mereguk ubun-ubun
gunung-gunung terapung
keringnya paya-paya
tuan, bapak, saudara-saudara
ini ruh gunung-gunung datang bertamu
menuntut setiap ulah polahmu

Sungguh karena kalian
sungai-sungai menjadi kubangan lumpur besar
setiap benua akan akan tahu hal ini
tentang kami yang telanjang tak berbaju
mencoba memberi wangi-wangi bunga
pada bau lumpur hutan bernanah
petikan dawai panting tak mampu mencanda kalbu
hanya pucuk-pucuk kering dimangsa sepi
balai-balai tanpa kehilangan balian
hutan jangan kehilangan tuah

Memang tak seharusnya beku kalbu
pura-pura tak merasa
di langit sana tertulis ribuan cerita
tentang keramahan sejuk benua kita
dan maaf tuan,bapak, saudara-saudara
berhentilah memamah kayu dan tunas-tunas
karena kami telah lebih mawas
saat dada rindu anak cucu menunggu

Barabai, 01 Juli 2016


Biodata Para Penyair.

Akhmad Zailani. Jurnalis kelahiran Samarinda Kalimantan Timur ini suka menulis puisi, cerpen, essai, sejarah, cerbung, karya ilmiah, berita, dan lain-lain. Puisi-puisinya di antaranya dimuat di antologi puisi bersama penyair 5 negara SINAR SIDDIQ (Sempena Mahrajan Persuratan dan Kesenian Islam Nusantara 2012, Membakut Sabah-Malaysia/8-11 Februari 2012), Kepada Sahabat (antologi puisi Malaysia, Brunei Darussalam, Indonesia) yang diterbitkan Dewan Bahasa dan Pustaka Cawangan Sabah), Suara 5 Negara (prakata Korie Layun Rampan), dan Langit Terbakar Saat Anak-anak Itu Lapar (Sastra Welang Pustaka, Bali 2013). Cerpennya dimuat di beberapa kumcer bersama antara lain, Aminah Sjoekoer di Atas Kapal Nederland (22 Cerpen Borneo Pilihan 2012, Metro, 2012) bersama pengarang Malaysia dan Brunei Darussalam,  Kalimantan Timur dalam Cerpen Indonesia (editor Korrie Layun Rampan), dan Para Lelaki (Sultan Pustaka, 2013). Selain buku sastra, juga menulis buku sejarah politik di Kaltim, Wajah Parlemen Samarinda, wakil rakyat dari masa ke masa (DPRD Samarinda, 2006),  Catatan Kecil tentang Kerja Besar Walikota Achmad Amins Membenahi Samarinda (Pemkot Samarinda, 2005), Melawan Banjir di Kota Air Samarinda (Pemkot Samarinda,2004), Gubernur Datang, Bawa Uang Nggak? (Pemprov. Kaltim, 2002. Pos-el: Akhmadzailani2@gmail.com.

Edi Santosa lahir di Kabupaten Kulonprogo, Daerah Istimewa Yogyakarta, 18 September 1974. Aktif menulis  baik  dalam bentuk fiksi dan non fiksi di laman pribadi www.edisantosa.com, dan juga dalam pembacaan puisi pada berbagai acara sejak SMP sampai sekarang . Karya-karya puisi yang dimuat antara lain pada antalogi puisi: Kalimantan Selatan: Menolak untuk Menyerah (2015), Goyang Wc (2016), Ibu dalam Balutan Rindu (2016) Arus Puisi Sungai (2016), Ayo Goyang (2016),  dan Melepas Tubuh dalam Cahaya (2016 ).
  
Micky Hidayat lahir di Banjarmasin, 4 Mei 1959. Mulai bergiat menulis sajak sejak tahun 1978. Di samping sajak, ia juga menulis esai sastra, ulasan/kritik sastra dan teater, reportase seni, resensi, artikel masalah sosial, politik, dan gerakan mahasiswa, di sejumlah media cetak daerah dan nasional antara lain, PelitaRepublika, dan Majalah Horison, serta di beberapa Jurnal Sastra. Kumpulan sajak tunggalnya Meditasi Rindu (Tahura Media, Banjarmasin, 2008, dan Penerbit Bukupop, Jakarta, 2009). Pembicaraan atas sajak-sajaknya terhimpun dalam buku Memikirkan Sajak-sajak Micky Hidayat (Pustaka Puitika, Yogyakarta, 2016). Sajak-sajaknya juga diterbitkan dalam antologi bersama di berbagai event/forum dan festival sastra lokal dan nasional. Ia juga menjadi editor beberapa buku antologi sastra karya sastrawan Kalimantan Selatan. Mengikuti berbagai forum sastra dan pembacaan puisi di Kalimantan Selatan dan berbagai daerah di tanah air. 

Rusdi Fauzi lahir di Barabai, Kalsel, 11 Agustus 1971. Mulai bergiat Seni dan Budaya sejak duduk di bangku sekolah dasar. Karya-karyanya pernah di muat dalam beberapa antologi puisi antara lain, Suara 5 Lima Negara (Kumpulan Puisi Penyair Lima Negara/2015), Nyanyian Kacincirak (Antologi 6 Penyair Hulu Sungai Tengah/2015), Ibuku Mendaki Badai (2015), dan Arus Puisi Sungai (2016). Tinggal di Jalan Perintis Kemerdekaan RT.007/RW.003. No. 97, Kelurahan Barabai Darat, Kec. Barabai, Kab. Hulu Sungai Tengah, Kalsel.

Selamat Bakumpai lahir di Muara Lahei (Kalteng) pada 1 Agustus 1972. Berprofesi sebagai guru SMP di kampung halamannya. Karyanya pernah dimuat di antologi puisi Suara Lima Negara dan antologi haiku 1000 Haiku Indonesia.

Syarif Hidayatullah, penikmat sastra asal Marabahan, tepian sungai Barito, lahir 20 oktober. Aktif di LPM SUKMA (lembaga pers mahasiswa suara kritis mahasiswa) LPM AnalisA dan Pondok Huruf Sastra (PHS)  organisasi kampusnya. Menghadiri beberapa peluncuran antologi puisi semisal Memo Untuk Presiden (MUP) Januari 2015 di Kotabaru. Puisi-puisinya pernah di muat di media massa seperti Banjarmasinpost dan Harian Pagi Jakarta. Puisi-puisinya juga dimuat  dalam antologi-antologi puisi bersama antara lain, Tadarus Rembulan (2013), Solo dalam Puisi (2014), dan, lumbung puisi sastrawan 2014 jilid 1 (2014). Sekarang ia bermukim di kos,  Jln. H. Mahat Kasan No 54. Rt. 35. Kel. Kuripan. Kec. Banjarmasin Timur, Asrama Putra Batola. Fb: syarif. Pos-el: lihums@yahoo.com. Laman: yangbernamasunyi.woordpress.com.

Taberi Lipani lahir pada tanggal 6 September 1971 di Barabai, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan. Penulis yang satu ini mulai belajar merangkai kata sejak di bangku SMP berlanjut di majalah dinding SMA 1 Barabai. Karya-karyanya pernah dimuat di beberapa media massa antara lain, SKH Banjarmasin Post, Majalah Dwi Mingguan Fakta, dan Tabloid Legalitas Bandung. Selain itu, karya-karyanya juga dimuat dalam antologi puisi bersama di antaranya, Tarian Cahaya Di Bukit Sanggam (2008), Suara 5 Negara (2015/Antologi Puisi Penyair Lima Negara), Ibuku Mendaki Badai (2015), dan Arus Puisi Sungai (2016). Antologi puisi tunggalnya adalah Puasa dan Rasaku (2013) dan Tadarus Kerinduan (2014). Taberi Lipani juga pernah menjuarai Lomba Bakisah Bahasa Banjar  Museum Banjar Baru Kalimanan Selatan. Kini Taberi Lipani, aktif sebagai pegiatsastra di LapakSeni Dan Sastra Dwi Warna Hulu Sungai Tengah dan sejak tahun 2000 aktif sebagai Ketua Bidang Sastra Dewan Kesenian Kabupaten Hulu Sungai Tengah Provinsi Kalimantan Selatan.


1 comments:

EDI SANTOSA said...

Terima kasih pak, semoga alam tetap lestari