![]() |
| Ilustrasi: Pixabay |
"Bagaimana caranya agar terus berutang, Tuan?"
"Gampang."
"Caranya?"
"Buatlah Megaproyek, seperti pembangunan jalan tol, bandara internasional, ibukota negara baru, dan bangunan-bangunan lainnya secara massal. Semua itu akan membuat pengeluaran negaramu membengkak karena menguras anggaran belanja yang ada. Dan, pastikan semuanya tanpa keuntungan agar negara yang kamu pimpin berutang dan berutang terus kepada kami."
"Lalu bagaimana caranya agar rakyat menjadi bodoh?"
"Mudah. Buatlah program pembodohan semisal kasih makan para siswa secara gratis. Ya, ngasih mereka makan secara cuma-cuma itu selain bisa menghabiskan ratusan triliun uang negara tanpa ada keuntungan, juga akan membuat mereka malas belajar. Pikirkan saja sendiri, kalau bisa gratis untuk apa lagi para siswa harus belajar untuk bisa bekerja kelak? Tujuan mereka belajar agar bisa bekerja pada masa depan, 'kan?"
"Benar, Tuan. Gratis memang membuat orang menjadi malas. Malas belajar salah satunya."
"Baguslah kamu sudah paham. Sekarang bersiaplah berkampanye politik. Buatlah dirimu seakan-akan dipilih rakyat. Kamu tenang saja, kami yang akan mengatur angka kemenanganmu. Dengan kata lain, meski di pemilu nyata tidak ada yang memilihmu sekalipun, kamu lah pemenangnya. Kamulah yang akan menjadi Presiden Negara Republik Gelasia"
"Baik, Tuan. Saya janji semua perkataan Tuan akan saya laksanakan."
"Anak pintar. Tapi ingat! Kalau kamu sudah menjadi presiden dan lalu mengingkari janjimu, jabatanmu sebagai presiden langsung kami cabut!"
Beberapa bulan kemudian, politikus senior bernama Ya Pik Un itu resmi menjadi presiden di sana. Sesuai janjinya kepada para elit global waktu itu, maka hari demi hari negara tersebut kian suram. Para pengamat dari berbagai bidang sama satu suara: Republik Gelasia bakal tamat.
***









0 comments:
Post a Comment