Saturday, May 9, 2026

Bencana Tampilan "Luar" Sang Presiden Gila Pujian

Ilustrasi: Pixabay

Baginya penampilan luar harus terlihat "wah" agar ia menjadi sorotan publik internasional. Setidaknya itulah hal pertama yang menjadi upayanya untuk mendapatkan pujian. Ibarat rumah, yang terpenting harus dicat, dikeramik, diberi genteng mewah, dan sebagainya meskipun bagian dalamnya berantakan. 

Sekilas ini hal wajar. Penampilan luar memang diusahakan bagus. Akan tetapi, juga sangat berbahaya jika konteksnya sudah level kenegaraan. Sebab, ada rakyat yang dilibatkan di dalamnya. Ketika presiden lebih memilih kondisi yang demikian itu, artinya ia lebih mementingkan dirinya sendiri daripada rakyatnya. 

Apa pun akan dilakukannya agar ia terlihat sebagai presiden yang sukses membangun negaranya. Sebutlah misalnya agar pihak dari negara-negara lain memujinya, maka dijalankahlah program memberikan makan gratis kepada sebagian rakyat, penggantian atap rumah rakyat dengan atap baru yang seragam, pendirian rumah-rumah untuk nelayan dan buruh, yang semuanya menghabiskan anggaran belanja negara. Alhasil, terjadi defisit anggaran yang ujung-ujungnya rakyat lah sebagai penanggungnya. Sementara itu yang dibutuhkan rakyat secara umum malah diabaikannya. 

Ya, kebutuhan pokok rakyatnya, seperti bantuan pemerintah secara berkelanjutan untuk rakyat yang menjadi korban bencana alam, perbaikan jalan, layanan kesehatan yang prima, penciptaan lapangan kerja sesuai bidang masing-masing, subsidi BBM, dan pendidikan gratis bagi rakyat miskin hingga perguruan tinggi. 

Nah, idealnya rakyat lah yang didahulukan daripada dirinya sendiri. Dan, yang parahnya, ia selalu berapi-api mengatakan bahwa semua itu demi rakyat. Padahal segala yang dilakukannya berkebalikan dari yang dikatakannya. 


Friday, May 8, 2026

Bukan Anggaran Negara Halal Dicuri?

Ilustrasi: Pixabay

Konon, selama bukan keuangan negara, maka halal dicuri oleh siapa pun. Sebab, pencurian itu tidak tergolong tindak pidana korupsi. Contohnya dana zakat, infak, dan sedekah. 

Benarkah demikian? 

Belakangan ini ramai di media sosial tentang hal itu, yakni Majelis Hakim Tipikor pada Pengadilan Negeri Makassar menjatuhkan vonis bebas terhadap para terdakwa kasus dugaan korupsi pengelolaan dana zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Badan Amil Zakat Nasional Kabupaten Enrekang tahun 20211--2024.

Dikabarkan bahwa unsur-unsur tindak pidana korupsi tidak terpenuhi, khususnya terkait dengan status dana ZIS yang bukan merupakan keuangan negara. Kalau memang demikian adanya, ini sangat berbahaya. Orang-orang di area basah itu akan berlomba-lomba dalam memperebutkan dana umat. Siapa kuat, dialah pemegang uang terbanyak sebagai hasil curian tersebut. 

Mereka akan bebas menikmatinya bersama keluarga tercinta. Ya, makan-makan, berwisata ke luar negeri, beli rumah mewah, dan lain sebagainya. Sementara itu, umat hanya bisa gigit jari. 

Presiden RI Naik CN250 ke Filipina, Mobil Timor dan SMI Ekspressa Jadi Sorotan

Foto: Wikipedia

"Hebat!"

"Apanya yang hebat, Min?"

"Ini aku baca berita. Presiden RI naik CN250 ke Filipina."

"Kapan?"

"Awal April 2026 ini. Pasti para pemimpin negara lain takjub dengan kemandirian Industri penerbangan kita."

"Mereka pasti pada melongo melihat pesawat buatan era Presiden Soeharto tersebut."

Mereka berdua lalu membayangkan keterpukauan orang-orang asing terhadap karya anak bangsa Indonesia itu. 

"O iya, ada lagi ga selain pesawat yang dipertontonkan di sana?"

"Tunggu! Aku baca kelanjutannya."

Beberapa waktu suasan hening. 

"Mobil Timor dan sepeda motor SMI Ekspressa juga menjadi data tarik tersendiri dalam KTT ke-48 ASEAN."

"Wah mantap!"

"Kali ini Indonesia benar-benar naik daun di mata dunia."

(Obrolan fiksi santai si Min dan si Kang) 


Thursday, May 7, 2026

MBG, Pemborosan Pelanggeng Kursi Presiden

Ilustrasi: Pixabay

Suasana di warung kopi milik bu Yem ramai sekali. Bapak-bapak beragam usia begitu menikmati aroma dan kenikmatan seduhan kopi asli. Kebanyakan dari mereka memilih untuk tidak mencampuri kopi dengan gula. Alasannya sederhana, agar benar-benar murni. Rasa asam kopi terasa luar biasa di lidah mereka. 

"Coba ngopi gini bisa gratis ya? Alangkah indahnya."

"Ah itu mau kita. Tapi, belum bisa."

"Ha ha ha ha ha."

Suara tawa pecah membahana. Sedang bu Yem tampak senyum-senyum melihat mereka. 

"Kira-kira program minum bergizi gratis bakal ada ga ya?"

"Makan bergizi gratis, bukan minum bergizi gratis."

"Iya, tau. Itu programnya Prabowo yang sudah ada. Maksud guwa program baru, minum bergizi gratis. Ya, singkatnya ngopi gratis."

"Benar juga kata bang Edi. Bagus banget tu kalau bakalan ada. Kita bisa ngopi sepuasnya."

"Duitnya? Emang ada?"

"Pasti ada lah. Denger-denger siapa saja yang jadi presiden di negara ini wajib boros agar ngutang terus ke luar negeri. Jadi, duitnya pasti ada. Ngutang lagi ngutang lagi. Kalau kagak ngutang, pasti bakal dilengserkan."

"Serius? Gimana nih Pak RT? Emang bener kayak yang dibilang Nurdin barusan?"

"Gimana ya ngomongnya? Emang pernah sih ada yang bilang kayak gitu juga. Tujuannya agar pendapatan dari bunga utang terus mengalir ke pihak asing. Makanya, apa-apa dibeli. Mobil lah, sepatu lah, kaos kaki lah, segalanya dibeli biar anggaran habis dan ngutang lagi."

"Bisa dijamin kebenarannya ga, Pak RT?"

"Ya kagak tau. 'Kan itu kata orang lain juga. Ha ha ha ha ha ha."

Begitulah obrolan bapak-bapak di sana. Benar atau tidaknya, bukan masalah. Yang penting ada bahan untuk ngobrol dan tertawa gratis bareng-bareng. (Hanya fiksi). 


Tuesday, May 5, 2026

Legislatif dan Eksekutif yang Pemalas dan Gemar Hura-Hura

 

Ilustrasi: Pixabay

Tiga puluh ribu tahun lalu pernah berdiri sebuah negara di tanah tandus. Udara kering sering menjadi santapan orang-orang di sana. Hal ini tidak hanya membuat mereka kerap merasakan tidak enak di dada, tetapi juga menyebabkan pikiran mereka kacau. Ya, betapa tidak? Mereka sangat susah bercocok tanam. 

Untuk bisa mendapatkan penghasilan, masyarakat di sana menggunakan sistem hidroponik Dengan cairan bernutrisi, meski tanpa tanah sekali pun, mereka tetap bisa panen dan mendapat uang secukupnya. 

Meski begitu, masalah tidak berhenti sampai di situ. Pemerintah dan parlemen di negara tersebut sangat boros. Orang-orang politik biadab itu hidup berfoya-foya. 

Mereka menghambur-hamburkan anggaran belanja negara seenak hati. Dan, ketika utang negara meningkat, mereka menaikkan pajak rakyat. 

Padahal, perusahaan-perusahaan milik negara sudah ada di sana. Namun, keuntungannya mereka korupsi. Agar tidak ketahuan, maka dikatakanlah semua perusahaan itu rugi dan rugi. 

Alhasil, rakyat tercekik. Pajak ada di mana-mana. Saat rakyat panen, uang mereka dikenai pajak. Ketika rakyat belanja, harga barang menjadi tinggi karena kena pajak. Semua sektor kehidupan dikenai pajak. 

Suatu ketika rakyat di sana sudah tidak kuat menahan diri. Dengan segala upaya, mereka bahu-membahu merebut kemerdekaan dari tangan para elit politik yang pemalas dan suka hura-Hura itu. Setelah berupaya selama tiga pekan, akhirnya mereka berhasil. 

Tak mau menunggu lama, rakyat di negara tersebut membangun pemerintahan baru. (Cerpen fiksi) 

Monday, May 4, 2026

Bahasa Mandarin Memasangsa Bahasa Daerah? Cegah!

Foto: Pixabay

Sejak beberapa tahun lalu,. Pemerintah Indonesia menekankan penguasaan bahasa Mandarin oleh masyarakat Indonesia. Alasannya satu, yakni ekonomi. Hal ini dapat dipahami betapa banyaknya perusahaan milik orang berbangsa Han, baik dari Taiwan, maupun Cina Komunis. 

Dengan menguasai bahasa tersebut, diharapkan masyarakat Indonesia bisa bekerja di perusahaan-rusahaan itu. Ya, ini fenomena yang terjadi saat ini. Kita tidak bisa memungkirinya. 

Meski begitu, pemerintah juga wajib ikut serta dalam upaya menjaga eksistensi bahasa daerah sebagai wujud pemertahanan budaya di Indonesia. Terutama sekali, adalah bahasa-bajasa daerah yang hampir dan mendekati kepunahan. 

Menguasai bahasa asing memang perlu, tetapi jangan sampai bangsa Indonesia tercerabut dari akar budayanya sendiri. Dengan perkataan yang lebih khusus, hindari bahasa asing memangsa bahasa-bahasa daerah yang ada di negara ini. 

Sunday, May 3, 2026

Amien Rais, Pejuang yang Tak Kenal Usia

Ilustrasi: Pixabay

Bagi sebagian orang, sosok Amien Rais adalah sengkuni yang licik dan haus kekuasaan. Sebagian yang lain, menilai tokoh reformasi itu merupakan pejuang yang tak kenal usia. Ya, usianya sudah 82 tahun lebih dan masih mau memikirkan keindonesiaan. 

Pro dan kontra terhadap seseorang sebenarnya tak ada yang perlu dipermasalahkan. Setiap orang punya pendapat masing-masing. Si A berpendapat begini, silakan. Si B begitu juga silakan. Kebebasan berpendapat dijamin undang-undang. Itulah sebabnya, pak Amien tidak pernah mempermasalahkan adanya orang-orang yang mengatainya sebagai sengkuni. 

Begitu pula ketika seorang Amien Rais ini berpendapat bahwa sosok tertentu adalah penyuka sesama jenis, itu juga hal yang lumrah. Kalau semisal tidak benar, idealnya ditanggapi dengan bukti dari ahli sebagai sanggahan. Artinya, perihal berpendapat haruslah disikapi secara damai dan tidak cocok dibawa ke ranah hukum. 

Bahkan terkait hal terakhir di atas, sebagian orang berpendapat bahwa "penyelesaian" dengan memidanakan seseorang yang berpendapat bisa dikategorikan terlalu ekstrem dan sebaiknya dihindari.