Friday, June 5, 2026

Pemerintah Melawan Negara?

Ilustrasi: Pixabay 

Itu mustahil. Mengapa? Karena, negara bukanlah makhluk hidup. Jadi tidak mungkin dilawan. Secara ringkas, negara merupakan wilayah dan sistem hukum berdaulat yang melindungi sejumlah manusia atau masyarakat yang lazim disebut rakyat. 

Nah beda lagi ceritanya kalau yang dilawan adalah rakyat sebagai pemegang kekuasaan tertinggi dalam negara. Mungkin Anda pernah mendengar atau membaca sebuah kalimat seru, "Jangan jadikan rakyat sebagai musuh kalian (pemerintah)!" 

Begitulah yang sering terjadi. Rakyat dijadikan musuh pemerintah. 

Itu pun bisa terjadi jika pemerintah yang sejatinya sebagai pengelola negara dan pelayan rakyat, tidak lagi berlaku demikian. Ya, bukannya bekerja maksimal untuk menyejahterakan rakyat, malah mengutamakan kepentingan pribadi dan golongan. Sehingga, rakyat bereaksi atas ketidakbenaran pemerintah tersebut. Rakyat mulai turun di jalan-jalan hingga yang paling ekstrem, yakni pemberontakan.

Dan, reaksi apa pun oleh masyarakat tidak bisa dikategorikan sebagai bentuk kesalahan. Mengapa? Karena rakyat memegang kekuasaan tertinggi. Rakyat yang membiayai jalannya roda pemerintahan melalui pajak. Tanpa rakyat, negara tidak akan eksis. 

Benar, saat rakyat membeli makanan saja dikenai pajak, jadi wajar rakyat bereaksi seperti itu. Dalam hal ini pemerintah yang salah dan harus diingatkan. Pemerintah wajib tahu diri. Makan dari uang rakyat seharusnya benar-benar melayani rakyat! Bukan malah menjadikan rakyat sebagai musuh mereka.

MBG Itu Program Memerangi Virus Mematikankah?

Ilustrasi: Pixabay 

"Bukan."

"Terus mengapa seperti program yang sangat penting gitu?"

"Sangat penting bagaimana maksudmu?"

"Cek saja sendiri! Anggaran di bidang-bidang lain dipangkas untuk keberlanjutan MBG. Alhasil, capaian-capaian yang menjadi target sulit digapai. Yaaa tidak sesuai harapan."

"Contohnya?"

"Pembuatan kamus. Anggarannya dipotong untuk MBG sehingga tahun ini kami tidak bisa menyelesaikan dua kamus untuk pelajar. Yang kami lakukan Ini demi mencerdaskan generasi bangsa lho!"

"Sangat memperihatinkan memang. Aku juga dengar anggaran kesehatan masyarakat pun dipangkas demi MBG. Padahal kesehatan tak bisa ditawar-tawar."

"Makanya itu aku bertanya-tanya sebegitu pentingkah program MBG tersebut hingga mengorbankan banyak kepentingan orang banyak?"

"Bagaimana lagi? Itu, 'kan programnya presiden terdahulu yang dilanjutkan penerusnya. Kita rakyat bisa apa?"

"Berarti kalau presiden yang sekarang mundur, apakah MBG secara otomatis akan dihentikan?"

"Belum tentu."

"Kok?"

"MBG sangat sarat dengan unsur politik dan juga ekonomi elit."

"Kalau yang begituan aku tidak paham."

"Intinya gini, MBG adalah program abadi bagi mereka yang diuntungkan. Jadi, akan terus dipertahankan."

"Hadeeeuh! Berat kalau begitu."

***

Thursday, June 4, 2026

Dosa Presiden Ditanggung Para Menteri

Ilustrasi: Pixabay 

Presiden tak pernah salah. Dia adalah wakil Tuhan di dunia. Begitulah kira-kira perkataan yang diimani masyarakat di Negara Batuhijau. Sebuah negeri yang subur dan kaya sumber daya alam. Di sana berlimpah batu bara, minyak bumi, nikel,.emas, timah, dan aneka kekayaan lainnya. 

Meski begitu, sangat disayangkan masih banyak rakyatnya yang hidup di bawah garis kemiskinan. Para kuli bangunan, pemulung, penarik becak, dan para penjual dagangan kecil, misalnya, masih jauh dari kata sejahtera. Sedang para pejabatnya hidup glamor, terlebih presiden yang sedang berkuasa. 

Keglamoran itu sebagian dari hasil korupsi yang menjamur di sana. Ya, mulai tingkat RT hingga orang nomor satu di negeri berjuluk Bintang Mega tersebut. O iya, yang mereka korupsi sebenarnya belumlah dari semua kekayaan alamnya. Sebab, sebagian besar kekayaan mereka dikuasai beberapa negara lain. 

Dan, setiap kali presiden korupsi, dia tidak langsung melakukannya. Para pejabat di bawahnya, yakni para menteri lah yang menjadi praktisi tindak kejahatan tersebut. Karena itulah, yang ditangkap dan dipenjara bukanlah sang presiden. Dirinya selalu dicitrakan sebagai orang baik, jujur, dan bermartabat. Bisa dikatakan dosa presiden ditanggung para menteri.

***


Wednesday, June 3, 2026

∆18.028, Anjok Kelas Berat

Foto: Pixabay 

"Nilai mata uang Damai kita melemah lagi menjadi ∆18.028 per dolar Amerika Serikat."

"Wadduh! Berarti harga barang dan jasa kian naik lagi nih. Kita makin sengsara."

"Tapi, kok para pejabat kita, terutama Presiden Pascauwa Sebentar terlihat hepi-hepi aja ya?"

"Orang-orang seperti mereka mana peduli dengan hal beginian. Mau ∆30 ribu kek, ∆90 ribu kek emang mereka pikirin? Nggak lah! Bagi mereka yang penting jabatan tetap di tangan. Rakyat mati pun mereka hepi."

"Jahat banget ya mereka. Padahal 80% pendapatan negara dari uang pajak rakyat. Artinya, gaji mereka dari kita. Tapi, balasan mereka berupa air tuba."

"Pendapatan mereka bukan hanya dari pajak, tapi juga dari uang sogokan, korupsi, dan lainnya seperti penjualan kayu hutan yang mereka babat."

"Mereka makan uang kotor makanya jiwa mereka kotor."

"Itulah sebabnya, jangan heran mereka berbuat di luar hati nurani. So, kita harus hidup lebih hemat lagi mulai sekarang.'

"Kita juga harus lebih giat menanam yang bisa dimakan saat semua harga kian melambung akibat nilai mata uang Damai terus melemah."

"Kira-kira ubi kayu di depan sana cukup untuk berapa bulan ya?"

"Kita tambah saja dengan menanam ubi jalar dan lainnya."

"Aku setuju."

***

Tuesday, June 2, 2026

Pengalihan Isu ketika Kritik Menjadi Bola Panas

 

Ilustrasi: Pixabay 

"Ah sialan betul tu si Kino. Kritiknya ngena banget dan penolakan kita lewat si Teti malah menjadikannya bersinar."

"Kita perlu pengalihan isu agar kehebohan.masyarakat reda. Bahaya kalau diteruskan. Bisa-bisa kritik si Kino bakal menjadi senjata pemusnah Misi Pemborosan Negara."

"Siapa lagi yang kita suruh untuk melakukannya?"

Beberapa waktu mereka saling diam.

"Oh iya! Aku ada ide. Kita goyang saja perihal progam yang paling sensitif."

"Islam?"

"Bukan!"

"Lantas apa?"

"Progam Mancing Gratis. Program itu, 'kan sangat sensitif bagi masyarakat?"

"Lalu apa yang bakal kita perbuat terkait program tersebut?"

"Kita ganti saja kepalanya."

"Wah brilian banget idemu. Ya, ini pasti bakalan heboh."

"Bagaimana dengan yang lain? Setuju?"

Anggukan demi anggukan segera terlihat di meja bundar dalam ruangan itu.

Tak lama setelahnya, Kepada Badan Joran Nasional diganti. Mantan orang nomor satu di badan yang mengatur program Mancing Gratis tersebut langsung menjadi bahan perbincangan hangat di media masa dan masyarakat luas. Penggantinya pun ikut menjadi sorotan karena tidak memiliki latar belakang soal dunia perpancingan ikan.

Perlahan-lahan kritik dari ahli dunia internasional yang tadinya bagai api unggun raksasa menjadi mengecil. 

"Idemu benar-benar dahsyat!"

"Kamu memang sangat bisa diandalkan.

"Salut!"

"Keren, Bro!"

***

Monday, June 1, 2026

Lawan Kelompok Antitanah Air, seperti Pembeli Mobil Asing

Foto: Pixabay 

Sebagian pihak mengatakan bahwa para pembeli mobil asing dengan jumlah yang sangat banyak bisa dikategorikan antitanah air. Menurut mereka, seharusnya belilah produk lokal. Selain itu, pihak yang memberikan akses negara asing terbang di langit negaranya juga merupakan bagian dari kelompok ini. 

Kedua contoh di atas terjadi dalam dunia fiksi. Ya, keduanya bisa dikatakan merupakan fakta-fakta dalam realitas imajiner. Dan, kita patut bersyukur dalam realitas nyata tidak ada orang yang demikian. 

Akan hancur negara jika ada yang antitanah air. Bayangkan saja, mobil harus buatan asing, ruang udara dikasihkan kepada negara asing, apalagi seandainya kecintaannya terhadap asing semakin besar. Bisa-bisa setiap bulan akan melakukan perjalanan ke luar negeri untuk menikmati yang asing-asing. Alhasil, tanah air hanyalah tempat yang tak bernilai apa-apa di matanya. Parahnya, hal tersebut dapat melahirkan aktivitas yang merusak tanah air semisal penebangan hutan secara brutal.

Untuk itulah, idealnya sejak dini para orang tua menumbuhkembangkan kecintaan tanah air kepada anak-anak. Begitu pula di dunia pendidikan harus melakukan hal yang sama. Dengan begitu, diharapkan tanah air tetap dijaga dan dirawat secara baik dan benar. 


 

Pemerintah Ini Adalah Kebohongan

Ilustrasi: Pixabay 

"Presiden dan wakil presiden suatu negara dipilih oleh pemerintah negara lain sebagai boneka dan wakil boneka mereka."

"Kedengarannya menarik. Siapa penulis buku yang kamu baca itu?"

"Namanya Menjala Ikan Sungai."

"Wow keren sekali namanya."

"Kata-katanya?"

"Keren juga."

"Kalau keren, berarti kamu percaya ada negara dengan presiden dan wakil presiden seperti itu?"

"Pastinya."

"Tapi, ini buku fiksi lho! Emang ada contoh nyatanya?"

"Ada."

"Negara mana?"

"Negara itu ada di Asia Utara sekitar 2.000 tahun lalu. Namanya Batukensia."

"Kalau pemerintah yang memilih mereka dari negara mana?"

"Owh, kalau itu negara di bagian selatan bumi ini. Namanya Tulangan Iwak."

"Kok bisa?"

"Bisa lah. Negara-negara kecil tanpa kekuatan militer dan ekonomi yang besar, mudah diperlakukan demikian oleh negara adidaya."

"Pemilihan keduanya bagaimana?"

"Sudah ditentukan siapa yang bakal menjadi presiden dan wakilnya. Pemilu hanyalah sandiwara."

"Mengenai penghitungan di lapangan?"

"Angka-angka dengan mudah direkayasa mereka. Dan setelah semuanya usai, pemerintahannya pun penuh kebohongan."

"Rakyat terus-menerus dibohongi?"

"Ya. Bilangnya putih, tapi di lapangan hitam. Kalau dikriitik, jawabannya juga berisi kebohongagan."

"Misalnya?"

"Perjalanan dinas presiden ke luar negeri disebut memakai uang pribadi presiden, padahal dari anggaran negara."

"Wah parah banget!"

"Ya begitulah."

"Lalu bagaimana akhir cerita dari negara itu?"

"Bubar."

"Penyebab utamanya?"

"Selain soal kebohongan, itu juga dikarenakan oleh pemerintah yang berupa kebohongan tersebut terlalu besar menaikkan pajak. Rakyat, baik dari kalangan bawah, maupun para pengusaha kelas atas berontak, lalu mendirikan beberapa negara baru di sana."

"Wadduh!"

***