Sunday, June 28, 2026

Saya Presiden yang Bekerja untuk Rakyat

Ilustrasi: Pixabay 

Apa pun aktivitas saya sebagai presiden haruslah prorakyat. Itu semboyan yang sudah melekat dalam jiwa saya. Sejak hari pertama, saya langsung bergerak menunaikan janji-janji politik selama kampanye. Ya, terkait semua sendi kehidupan di negara kita.

Di dunia pendidikan, misalnya, saya naikkan gaji para guru honorer, terutama di daerah-daerah tertinggal, terdepan, dan terluar. Mereka juga saya bangunkan rumah dinas layak huni. Akses menuju sekolah yang bermasalah sudah diperbaiki secara bertahap. Mulai dari perluasan dan penebalan jalan, pembangunan jembatan penyeberangan, bahkan penyediaan perahu bermotor untuk membawa para siswa dan guru pulang pergi ke sekolah.

Buku-buku pelajaran dan penunjang pelajaran juga sudah saya sediakan. Dalam hal ini termasuk pengadaan komputer yang sudah direalisasikan dengan baik dan benar. Dan, yang tak kalah pentingnya, penggratisan biaya sekolah bagi anak-anak kurang mampu sudah saya wujudkan. 

Mengenai gizi? Bukan sekadar gizi, kesehatan para siswa dan guru pun saya perhatikan dengan mendatangkan tim kesehatan di setiap sekolah. 

Lalu di bidang-bidang lain juga sama. Bahan bakar minyak dan gas selalu tercukupi di setiap daerah dengan harga murah. Sebab, subsidi saya tambahkan di bidang migas. Sehingga, tidak ada lagi istilah langka dan mahal. Sebutlah pertalite harganya hanya seratus Rupanya. Sebelumnya tembus di angka 10 ribu Rupanya. Gas isi tiga kilogram kini harganya hanya lima ratus Rupanya. 

Swasembada pangan? Lihat saja sendiri. Dengan adanya program tani cerdas yang saya canangkan, padi melimpah ruah. Lahan pertanian yang sudah ada saya tingkatkan. Mulai dari penyediaan bibit padi unggul, pupuk organik super, hingga irigasi yang optimal. Hasilnya sungguh luar biasa. 

Dari semua yang sudah saya lakukan, kepercayaan para investor terus menguat. Industri-industri besar berjalan lancar. Tidak ada pemutusan hubungan kerja. Mata uang Rupanya juga kian perkasa. 

Nah, kalau ditanya puas? Jawabannya tentu saja ya. Akan tetapi, itu tidak membuat saya sombong dan terlena. Setiap hari saya selalu berusaha memajukan negara kita dengan meningkatkan kesejahteraan rakyat secara keseluruhan.


Saturday, June 27, 2026

Yang Disembunyikan Presiden

Ilustrasi: Pixabay 

Segala yang disembunyikan agaknya lebih banyak hal negatifnya daripada terbuka seluas-luasnya untuk dikonsumsi publik. Pertanyaan mendasar yang muncul adalah, mengapa disembunyikan? Bukankah jalannya roda pemerintahan haruslah transparan? Rakyat sebagai pemegang kedaulatan negara tidak boleh sampai tidak tahu agenda presiden sang bawahan rakyat. 

Akan tetapi, yang lebih sering terjadi, ternyata ada ketertutupan di balik pintu agar rakyat tidak tahu. Ini sebenarnya sudah tidak pantas dan tidak boleh dilakukan oleh presiden. Mau bagaimana pun keterbukaan idealnya diutamakan. Kita ini satu keluarga besar. Terasa sangat janggal jika dalam sebuah keluarga ada yang disembunyikan. Dengan ketertutupan ini, rakyat sudah dianggap musuh besar pemerintah. Bukan lagi bagian keluarga yang harmonis.

Berbeda kalau itu terkait masalah pribadi yang memang harus ditutupi sebagai aib. 

Selama hal tersebut bukanlah aib, untuk apa disembunyikan? Terutama jika sudah menyangkut kepentingan orang banyak, maka transparansi wajib ada. Sebutlah contohnya soal dunia pendidikan. Tak ada istilahnya "diskusi tertutup" antara presiden dan para praktisi pendidikan hingga tega mengusir para jurnalis dari dalam ruang acara.


Friday, June 26, 2026

Wujud Kedaulatan Rakyat Sebatas Pemilihan?

 

Ilustrasi: Pixabay 

Terdengar sangat tidak familiar kalau kedaulatan rakyat hanya sebatas pemilihan pemimpin negara. Ya, maksudnya hanya memiliki satu hak, yakni hak memilih pemimpin di alam demokrasi. 

Ini menjadi kelucuan tersendiri dalam memandang kedemokrasian. Betapa tidak? Bagaimana mungkin kedaulatan rakyat begitu sangat minim ruang geraknya? Lantas kalau pemilu yang diikuti tersebut banyak mengandung kecurangan, apakah rakyat tidak memiliki hak mengkritisinya?

Nah, soal kritik juga tidak sebatas dalam pemilu saja. Siapa pun pemenangnya, baik curang atau tidak, kritik idealnya diterima dan bukan dianggap kegaduhan.

Jadi, siapa saja yang memandang kedaulatan rakyat hanya sebatas hak memilih dalam pemilu, jelas sekali orang tersebut antikritik dan sombong. Kalau dia seorang presiden, maka dia sudah dapat dipastikan tidak mau mendengarkan kritik rakyat. Bicaranya mungkin menggebu-gebu tentang rakyat, tapi sebenarnya itu hanyalah omong kosong besar. Rakyat hanyalah sapi perahan untuknya. Bahkan, rakyat yang pintar semisal pengamat ekonomi, dilabelinya sebagai biang kegaduhan. Demonstrasi juga akan dianggap makar yang merongrong kekuasaannya. 

Tentu saja hak tersebut sangat berbahaya bagi keberlangsungan hidup di negara yang dipimpinnya.  

Thursday, June 25, 2026

Banyak Negara Minta Beras? Kasihkan kepada Rakyat!

Ilustrasi: Pixabay 

"Ndasmu!!! Enak aja rakyat dikasih beras dan jagung! Beli, beli, beli! Hari gini masih dikasih gratis! Nggak!!!"

"Serius amet? Santai aja kaleee ngomongnya. Nggak usah bawa-bawa emosi kayak gitu ah. Apalagi pake 'ndasmu' segala."

"Ah, ini hanya menirukan gaya bicara Pak Presiden Pascabawang Sebatang ajah. Beliau biasanya suka emosi gitu, 'kan kalo pas lagi ngomong?"

"Ya juga sih, ha ha ha ha. Pada kenyataannya selama ini emang nggak pernah pemerintah ngasih pangan kepada seluruh rakyat secara gratis tanpa kecuali."

"Benar sekali, tanpa kecuali. Artinya seluruh rakyat, baik yang di bawah garis kemiskinan, maupun yang kaya raya, semuanya merasakan kenikmatan bersama. Sebab, semua rakyat adalah pemberi pajak. Tanpa pajak, negara kita pasti sudah lama tiada di muka bumi."

"Maka, dengan melimpahmya hasil pertanian, sudah saatnya pemerintah membagikannya secara gratis kepada kita semua. Kalau untuk negara lain, itu setelah rakyat di negara ini bahagia."

"Tepat sekali katamu. Untuk apa mengutamakan negara-negara lain kalau rakyat sendiri di dalam negeri belum sejahtera."

"Terlebih jika pemberian kepada negara-negara lain tersebut sekadar untuk gaya-gayaan dan mendapatkan pujian dari para pemimpin negara lain, itu namanya super egois."

"Dan, sungguh tidak pantas seseorang yang super egois menjadi presiden di belahan bumi mana pun."

***

Wednesday, June 24, 2026

Pidato yang Melemahkan Nilai Tukar Mata Uang

Ilustrasi: Pixabay 

"Kiamat maju enam hari lagi nh."

"Pak Presiden pidato lagi?"

"Betul."

"Kapan?"

"Kemarin siang."

"Kok aku baru tahu ya?"

"Ah! Kamu emang manusia kudet."

"Terus selain kiamat maju enam hari, apa lagi dampak buruk pidato presiden?"

"Nilai mata uang kita anjlok lagi."

"Busyeeeeet! Emang ngomong apaan sih kok bisa gitu efeknya?"

"Beliau ngomong bahwasanya tidak ada yang lebih krusial daripada makan. Kalau tidak makan, pasti mati!""

"Mbelenggedeng! Kok bisa-bisanya beliau ngomong kayak gitu. Itu sama aja artinya pemerintah tidak mengutamakan perbaikan ekonomi. Seharusnya, beliau ngomongnya bakal membuka lapangan kerja agar rakyat bisa dapat uang untuk makan sehingga tidak mati."

"Itu kalau kamu presidennya. Lhah ini beliau, mau apa lagi?"

"Kalau gini terus, aku pikir negara kita akan hancur dan tinggal sejarah. Terbayang, orang-orang masa depan akan tahu bahwa Negara Republik Jadualuza pernah ada dengan jumlah penduduk terbesar ketiga di bumi."

"Tiba-tiba aku jadi teringat negara-negara besar yang sudah tiada, seperti dinasti -dinasti di Cina, Majapahit, Turki Utsmaniyah, dan lainnya."

"Ya, negara-negara besar pun bisa hancur dan tinggal kenangan. Apalagi negara kita yang hingga detik ini masih berstatus sebagai negara berkembang."

***

Yang Presiden Aku, HANYA SEMENTARA KOK

Ilustrasi: Pixabay 

Tidak ada yang abadi di dunia ini. Kecantikan?  Ketampanan? Jabatan? Semua pasti sirna. 

Itulah sebabnya, gunakan semua yang dititipkan kepada kita dengan sebaik mungkin. Jabatan presiden, misalnya, siapa pun orangnya haruslah selalu bekerja sesuai cita-cita negara yang dipimpinnya. Contohnya menyejahterakan rakyat, maka setiap gerak langkahnya WAJIB benar-benar prorakyat.

Sebutlah perkara lapar, pemerintah wajib mempermudah rakyat dalam mendapatkan pekerjaan. Mulai dari menyiapkan rakyat sebagai sumber daya manusia yang unggul hingga menciptakan lapangan pekerjaan.

Dengan pekerjaan yang layak, rakyat akan mendapatkan uang sehingga mampu membeli makanan untuk dirinya sendiri dan keluarganya, baik pagi, siang, maupun sore hari. Khusus dalam hal makan siang untuk anak-anak yang bersekolah, orang tua bisa membuatkan bekal makanan atau uang jajan yang cukup kepada mereka. 

Selain contoh di atas, tentu saja masih banyak lagi yang idealnya dikerjakan presiden untuk menyejahterakan rakyatnya. Intinya, dia bekerja untuk rakyat selama jabatan presiden masih di tangannya. 

Saya Tahu Siapa yang Mendanai Demo

Ilustrasi: Pixabay 

"Ha ha ha ha ya iyalah tahu. Dia sendiri orangnya yang mendanai demo-demo itu."

"Demo-demo nggak mutu. Bayarannya juga nggak berkelas banget."

"Hanya dikasih 100 rebo, susu, roti, ama wajan."

"Katanya kaya, tapi pelit."

"Kalau nggak pelit, mana mungkin dia kaya."

"Saat kaya bisanya nyusahin rakyat saja."

"Padahal usianya dah tua."

"Tua banget malah."

"Tapi, dia doyanmya ama pria-pria muda yang ganteng."

"Hadeeeuh jeruk ketemu jeruk."

"Dia jeruk jenis apaan ya?"

"Jeruk keprok kayaknya."

"Padahal ada pepatah mengatakan, 'Semakin tua, jeruk kian berkhasiat.'. Nah, kalau dia malah sebaliknya."

"Udah gitu, dia bilang nggak mikirin jeritan rakyatnya lagi. Dosa apa ya kita punya presiden kayak dia."

"Ini ujian. Suatu waktu kelak, seluruh rakyat Negara Kerak Langit termasuk kita berdua pasti akan terlepas dari penjajahan yang dia lakukan."

***