Thursday, May 28, 2026

Presiden yang Menjilati Presiden Lainnya

Ilustrasi: Pixabay 

Jilat-menjilat biasanya identik dengan budaya orang-orang ambisius ekstrem. Aktivitas ini dilakukan kepada orang di atas level mereka. Mulai dari kata-kata sanjungan hingga memberikan apa saja yang diminta orang yang mereka jilat.

Sebutlah misalnya ada seorang presiden yang mengatakan kepada presiden lainnya bahwa dirinya sudah menginstruksikan pihak sekolah di negaranya untuk meningkatkan pelajaran bahasa Belanda. Itu disampaikannya di hadapan Presiden Belanda. Ketika dirinya berkunjung di negara lainnya, ia pun mengatakan hal serupa, tetapi nama bahasanya diganti sesuai negara yang dikunjunginya. 

Ini dilakukannya untuk mendapatkan utang dari negara-negara bersangkutan. Dan, parahnya ketika setelah mendapatkan yang diinginkannya itu, lantas ia berpidato di negaranya dengan mengatakan sudah mendapatkan uang sitaan korupsi. Padahal itu adalah uang dari pinjaman dari negara yang presidennya ia jilat.

Ia berharap dengan hal demikian, ambisinya menjadi pemenang dalam pilpres selanjutnya bisa terwujud. Presiden seperti ini sangat membahayakan negara yang ia pimpin. Bayangkan saja ketika demi mendapatkan utang, ia setuju di negaranya dibangun pangkalan militer untuk negara yang presidennya ia jilat. 

Maka, idealnya sesegara mungkin dirinya dilengserkan dari kursi presiden agar kedaulatan negara yang ia pimpin aman dari bahaya negara lain. 

Meskipun tulisan di atas hanyalah contoh belaka, tapi bisa dijadikan bahan renungan bahwa budaya menjilat hanya dinilai baik bagi para pelakunya, tetapi bukanlah budaya dan merupakan aktivitas yang sangat berbahaya bagi orang-orang lain di sekitar mereka. 

Wednesday, May 27, 2026

Pesta Babi Versus Pesta Sapi 100M

Ilustrasi: Pixabay 

Film "Pesta Babi" yang merupakan sebuah film dokumenter investigasi langsung menjadi buah bibir banyak orang. Antusias warga untuk menonton bareng begitu besar. Ada rasa ingin tahu bagaimana kondisi alam Papua Selatan yang didokumentasikan dalam film tersebut.

Tak ayal, ada yang merasa tidak nyaman. Ya, sejak kemunculan film ini, sebagian orang ada yang terkena "flu burung", "Covid 19", "diabetes", "gerd", hingga "serangan jantung" yang parah. Itulah sebabnya, sebagian orang yang sakit tersebut ada yang berjalan dengan kaki pincang, memakai kursi roda, bahkan ada yang diantar mobil ambulan untuk membubarkan acara seru nonton bareng film tersebut. 

Entahlah mengapa mereka bisa terseramg penyakit mematikan seperti itu. Padahal film dokumenter ini sekadar kumpulan video nyata di lapangan terkait deforestasi tanah Papua. 

Dan, akhir-akhir ini kehebohannya mulai pudar oleh 1098 sapi. Ya, sapi-sapi itu menyerang babi-babi sampai masuk ke dalam hutan yang tersisa. Masyarakat pun saat ini lebih banyak membahas sapi daripada babi. 

Saat Usia Tua, Habiskanlah untuk Mengejar Dunia

Ilustrasi: Pixabay 


Judul di atas sebenarnya hanyalah sindiran bagi sebagian orang yang menghabiskan sisa-sisa umur saat sudah berusia renta hanya untuk ambisi dunianya. Orang-orang seperti ini memang benar-benar ada. Bisa dikatakan memang fakta dalam realitas yang nyata. Sebutlah misalnya seorang presiden yang meskipun sudah berusia 70-an tahun, tetapi masih saja berambisi ingin menjadi presiden lagi dan lagi. Bahkan, dengan senang hati menggunakan uang rakyat demi hal tersebut 

Dan, jika berpidato, dirinya selalu berapi-api mengatakan bahwa semua program yang dijalankannya demi rakyat. Padahal demi dirinya sendiri. Alhasil, dia pun menyombongkan dirinya sendiri sukses ini dan itu. 

Mengenai kesuksesan yang digembar-gemborkannya tersebut sejatinya hanyalah klaim semu. Sebutlah program bagi-bagi menu makanan yang dia jalankan, labanya tidak ada. Program itu dibiayai dari anggaran belanja negara. Begitu juga pendirian banyak minimarket di berbagai daerah, masih ditopang dengan anggaran dari sumber yang sama. 

Khusus bagian terakhir di atas malah menjual barang-barang dari gudang minimarket lainnya. Ini berkebalikan dari yang dikatakan sang presiden. Sebelumnya dia berkoar-koar akan membeli produk dari para petani, peternak, dan juga produk-produk olahan UMKM lokal. Itu jelas kebohongan luar biasa oleh orang yang berusia tua demi ambisi dunianya. 

Nah, kalau diperhatikan secara saksama, rakyat tidak butuh program-program pemborosan tersebut. Mengapa demikian? Sebab, semuanya bukanlah program prorakyat. 


Tuesday, May 26, 2026

Serius Rakyat Berkurban 1.098 Sapi, Total Rp 100 M?

Ilustrasi: Pixabay 

"Dari yang aku baca, lebih kurangnya sih kayak gini beritanya, sebanyak 1.098 ekor sapi kurban tahun ini dibeli Pemerintah Pusat dengan anggaran pendapatan dan belanja negara lalu akan diserahkan ke berbagai daerah di Indonesia." 

"Ada yang janggal deh. Kok pake APBN ya?"

"Nah makanya itu...!"

"Aneh sih. Dan, sebagaimana yang kita ketahui pendapatan negara didominasi dari uang rakyat yang disebut pajak. Nilainya sebanyak 82%--85%. Sisanya yang 15% dari pendapatan bukan pajak dan hibah. Jadi, rakyat dan orang-orang terkait dengan uang nonpajak lah yang berkurban, bukan pemerintah pusat."

"Benar. Melihat fakta yang demikian, bisa dikatakan yang membeli sapi-sapi itu sebenarnya hampir 100% adalah rakyat. Sisanya ya seperti yang kamu katakan barusan. Pemerintah pusat hanyalah pengguna uang Rp100 miliar tersebut."

"Menurutku kian hari tambah aneh saja yang kita hadapi."

"Yaaaa mau bagaimana lagi? Kita hanyalah rakyat kecil."

"Ya, kamu betul dan suara kita hanyalah angin lalu di negeri ini."

***

Monday, May 25, 2026

Minimarket Koperasi Desa Langsung Dibangun Banyak

 

Ilustrasi: Pixabay 

"Serius kagak ada uji cobanya gitu?"

"Serius lah. Ngapain juga guwa ngebohingin lu?"

"Kagak habis pikir dah. Guwa aja sebelum buka sepuluh cabang usaha es ini perlu mempelajarinya tiga tahun dulu."

"Mending lu tiga tahun. Nah guwa perlu waktu lebih lama, Bro. Sebelum punya 25 cabang usaha ayam tepung Cahaya Langit ini, guwa ngadain riset kecil-kecilan. Lalu guwa buka satu warung. Setelah enam tahun pertama,  guwa mulai berani buka cabang. Tahun-tahun berikutnya pun guwa lalui dan setelah sembilan tahun barulah bisa seperti ini."

"Terus bagaimana dengan pertumbuhan minimarket-minimarket itu? Maklum guwa ga sempet ngikutin kinerja pemerintah."

"Belum membahagiakan, Bro. Mulai dari pemangkasan anggaran hingga ada bangunannya yang udah rusak."

"Ya ampuun. Jadi ladang korupsi berarti?"

"Pastinya. Lu pikir aja sendiri dari anggaran 1,6 miliyar, di lapangan hanya sampai setengahnya aja."

"Busyet dah! Pantesan aja ada yang udah rusak."

"Sebagian juga tutup. Sepi pembeli."

"Wadduh!"

"Parahnya lagi saat presiden meresmikan salah satu minimarket itu, eh bisa-bisanya pengelolaannya menjual harga fiktif."

"Ha?! Fiktif bagaimana maksud lu?"

"Harga gas elpiji dijual cuma 16 rebo doang. Padahal ga semurah itu aslinya."

"Sungguh manipulatif banget!"

"Ya. Kayak main-main gitu. Padahal pake anggaran belanja negara. Uang pajak disia-siakan."

***

Wahai Menteri-Menteri Buatlah Masyarakat Bereaksi!

Ilustrasi: Pixabay 

"Kalau aku perhatikan, tingkah para menteri ada unsur kesengajaan agar masyarakat bereaksi."

"Emosi maksudmu?"

"Benar. Emosi marah di tengah kehidupan yang parah."

"Demi menutupi keparahan negeri memang harus demikian. Masyarakat dibuat sebisanya melupakan isu demi isu agar pemerintah leluasa berbuat semau mereka."

"Aku masih ingat dulu ada menteri tenaga kerja yang manjat pagar lalu loncat indah dan mendarat di halaman dengan gagah."

"Aku juga masih ingat ada menteri mengatakan bahwa kalau harga lombok mahal, tanamlah lombok di pekarangan rumah."

"Ada lagi menteri yang bilang ekonomi tetap aman meski kekuatan nilai dolar Amerika Serikat kian kuat sehingga masyarakat pun menjadi geram."

"Lalu ada juga orang yang mewakil menteri menyebut presiden layak dijuluki bapak haji."

"Akhir-akhir ini ada pula seorang menteri yang bersuara lantang soal gaji besar dan kecil. Katanya, 'Orang yang bergaji 15 juta lebih pintar dan sehat daripada orang yang bergaji 5 juta.' Perkataanya sungguh sangat menggemaskan!"

"Ha ha ha ha ha!" 

Tawa mereka terdengar berpadu menjadi satu, lalu meledak dan seluruh serpihannya mengisi setiap ruang kosong di area itu. 

Sunday, May 24, 2026

Militer Indonesia Dibidik Parlemen Eropa

Ilustrasi: Pixabay 

Bisa dikatakan militer Indonesia menjadi buah bibir di antero dunia. Termasuk Parlemen Eropa (PE). Salah satu lembaga utama Uni Eropa yang berfungsi sebagai badan pembuat undang-undang ini menyoroti kasus pelanggaran HAM oleh militer Indonesia.

Lebih detail lagi mengenai kasus pembela HAM Andrie Yunus dan pembela lingkungan Muhammad Rosidi. Secara garis besar Parlemen Eropa menginginkan pihak Indonesia benar-benar mengadili para pelaku dan dalang utamanya tanpa campur tangan militer. 

Lantas apakah Pemerintah Indonesia bereaksi terhadap fenomena ini? 

Kalau diperhatikan, sebenarnya inilah momen penting bagi Presiden Prabowo Subianto unjuk gigi. Sebagai seorang presiden, idealnya dapat memenuhi tuntutan Parlemen Eropa tersebut. Bayangkan seandainya Presiden Prabowo berhasil menangkap, mengadili, dan menghukum dalang utamanya, pastilah semua manusia di bumi ini akan salut kepadanya. 

Orang-orang tentu akan menaruh hormat luar biasa kepada Presiden yang terkenal dengan makan bergizi gratis itu. Tetapi, bagaimana jika sebaliknya? Semua manusia di bumi akan meremehkannnya, bahkan tidak akan ada lagi yang mau memandangnya dengan hormat meski sepersekian detik saja.