Monday, June 22, 2026

Meningkatkan Gizi Manusia di Negara Kita

Ilustrasi: Pixabay 

"Terkadang aku pusing sendiri ketika mendengar banyak pihak membicarakan program makan bergizi gratis."

"Kalau tak mau pusing, ya jangan didengar! Biarkan saja mereka sibuk membicarakan soal program tersebut."

"Bagaimana tidak didengar? Hampir di setiap sendi kehidupan ada perkara makan yang sebenarnya dibayar dengan pajak rakyat itu."

"Ah, kata-katamu membuatku sedih. Ya, soal pajak selalu membuatku tidak bahagia."

"Iya sih. Aku juga sebenarnya sedih. Pernah aku berpikir, mengapa uang pajak tidak digunakan saja untuk membuka usaha rumah makan, hotel, pabrik infus, dan lainnya agar pendapatan negara meningkat. Sehingga, pajak bisa ditekan atau bahkan dihapuskan."

"Masuk akal. Selain mendapatkan laba untuk negara, usaha-usaha seperti itu pasti menyerap tenaga kerja."

"Kalau rakyat Indonesia sudah bekerja layak, maka dapur akan berasap dan gizi pun meningkat. Bukan hanya gizi untuk anak-anak sekolah, tetapi juga untuk para orang tua mereka."

"Pertanyaannya, akankah semua usaha itu terwujud?

***

Sunday, June 21, 2026

Program Minum Dihentikan, Dananya Dialihkan ke Demonstrasi

 

Ilustrasi: Pixabay 

"Demonstrasi besar-besaran yang mendukung program minum teh kian besar gelombangnya."

"Yang kudengar dananya dari program minum teh yang dihentikan sementara."

"Kamu dengar dari mana?"

"Beberapa wartawan dua hari lalu."

"Mereka dapat kabar dari mana?"

"Langsung dari para konglomerat pendukung presiden."

"Kok bisa?"

"Bisa apa?"

"Itu. Mereka bisa dapat kabar dari lingkaran orang-orang besar."

"Mereka dibantu para hacker kelas dunia. Jadi, ceritanya ponsel pintar para konglomerat tersebut mereka retas dan hasilnya semua aktivitas yang dilakukan di perangkat canggih itu dapat diketahui secara gratis."

"Wah benar-benar hebat."

"Ya iyalah. Zaman sekarang kecanggihan benar-benar berkuasa. Tahun 2222 gitu lho."

"Sehari saja pengeluaran program minum teh menelan biaya 1,7 trilyun. Jadi, dana segede itu untuk membayar para demonstran dan juga semua yang diperlukan di lapangan."

"Benar sekali."

"Weddeeeew! Pantesan demonya besar-besaran."

***

Friday, June 19, 2026

Desa Ini Sepi, Investor Kabur!

Ilustrasi: Pixabay 

"Kata kakekku, saat ini, perekenomian di sini persis seperti 75 tahun lalu."

"Kita sudah kembali di masa lalu. Masa saat desa berupa kesunyian ekonomi."

"Masih terbayang di otakku, dua tahun lalu sebelum Lurah Praprapra Susanto naik tahta, ekonomi di desa ini bergerak lincah."

"Yah bagaimana tidak sepi, investor pada kabur. Lihatlah kolam ikan di sana sudah tidak beroperasi, pabrik kacang telur dan kripik singkong sudah tutup, tempat wisata kita juga berhenti total."

"Sayang sekali, Lurah Praprapra selalu saja mengambil keputusan dengan tergesa-gesa."

"Beliau sangat asal-asalan tanpa berpikir panjang terlebih dahulu."

"Ya, benar. Dengan kata lain, bersifat cepat. Bertindak secara tiba-tiba menurut gerak hati."

"Itu sangat parah. Logika tidak beliau gunakan. Hanya menggunakan perasaan semata."

"Memang sudah sangat tampak beliau tidak menggunakan logika. Buktinya beliau tidak mau berhitung dengan cermat. Seperti kita ketahui bersama, secara asal-asalan beliau menyamakan 1+1 sama dengan sembilan belas. Itu bukti nyata bahwa beliau tidak menggunakan logika berpikir."

"Sudah begitu, beliau tidak mau dikritik."

"Aku pernah dengar langsung saat di balai desa. Beliau marah dan berkata, 'Saya tidak bodoh! Jangan kritik saya!' Dan, para anak buah beliau langsung diam."

"Alhasil, semua itu menghasilkan produk kebijakan yang serampangan."

"Lalu kepercayaan para investor terkikis dan akhirnya habis." 

"Mereka pun meninggalkan desa ini."

"Sedangkan Lurah Praprapra asyik mengadakan lawatan di desa-desa lainnya bersama mas Jura."

***


Thursday, June 18, 2026

Ngumpulin Orang dari Berbagai Daerah DEMI Kursi Presiden

Ilustrasi: Pixabay 

Pagi masih dingin. Embun membentuk bola-bola bening mungil yang tampak berkilauan di ujung-ujung daun. Benar-benar eksotis. Sedang Jua Min dan San Kang asyik berbincang tak jauh dari keindahan panorama itu.

"Ini mengingatkanku pada peristiwa yang sudah kita lewati nyaris tiga puluh tahun lalu."

"Waktu yang panjang. Peristiwa yang mana?"

"Pengumpulan tentara dari berbagai daerah untuk berkumpul di Daerah Khusus Ibukota Chang Man."

"Owh yang itu. Tahun 2099 memang mencekam. Aku masih ingat betul bagaimana orang tersebut begitu berambisi menjadi presiden. Mulai dari menikahi putri presiden, menggulingkan mertuanya dengan sangat kejam, hingga menjalankan rencana kudeta."

"Tapi, semuanya gagal dan barulah setelah hampir tiga puluh tahun kemudian ia berhasil menjadi presiden dengan cara curang."

"Lantas, sebenarnya apa yang membuatmu teringat tahun 2099 itu?"

"Sebelum ke sini aku menonton berita di televisi bahwa nelayan, petani, pedagang, tokoh masyarakat, pelaku UMKM, buruh, dan juga mahasiswa dari berbagai daerah datang di ibukota negara."

"Apa yang mereka lakukan?"

"Menggelar aksi damai mendukung kebijakan kerakyatan Presiden Pung Sumbung."

"Hayyaaaa! Ini memang benar-benar mengingatkan kita pada tahun 2099 lalu. Demi kursi presiden, dirinya memobilisasi massa. Jika yang lalu adalah tentara, sekarang dari kalangan sipil."

***

 

Jak, Tunggu!

Ilustrasi: Pixabay 

"Kok sekarang lu panggil guwa 'Jak'? Panggilan apaan tu?"

"Lu, 'kan sekarang pejabat?"

"Lha apa hubungannya pejabat ama panggilan baru guwa?"

"Pejabat, 'kan makan uang pajak?"

"Ah! Lu kalo ngomong emang sering bener."

"Ha ha ha ha ha."

"Terus lu ngapain manggil guwa?"

"Ini guwa mo ngomong santuy aja ama lu."

"Soal apaan?"

"Proposal dana."

"Ah elu! Sama aja berarti kita bedua."

"Sama apaan?"

"Tu soal dana! Dana dari mana coba?"

"Eh iya ya, dari pajak."

"Ha ha ha ha."

"Ok. Kalo ini bener kata lu."

"Emang, dananya buat apaan, Jak?"

"Gini, Jak, di kampung guwa lagi ada rencana ngebangun tempat bersantai."

"Widiiih gaya kampung lu."

"Iya lah. Kampung guwa gitu. Nah, lu mo ga ngebantuin soal ini?"

"Ngebantuin biar dapet dananya?"

"Yes bener banget."

"Oke-oke aja, tapi ga seratus persen."

"Maksud lu?"

"Yaaaa guwa kudu dapet bagian lah."

"Seberapa persen?"

"Ga banyak-banyak amet. Cuma 35 persen aja."

"Busyet gede banget!?"

"Ya emang kudu segitu." 

"Yaaaa kalo emang ga bisa ditawar, ga apa-apalah. Toh uang pajak juga."

"Nah gitu baru temen guwa. Besok lu bawa proposalnya. Sisanya biar guwa yang urus."

"Ok."

***

Demonstran Tandingan? Piala Dunia Ya?

Ilustrasi: Pixabay 

Ini benar-benar seperti gelaran akbar sepak bola piala dunia. Kesebelasan-kesebelasan besar saling sikat memperebutkan piala rutin empat tahun sekali.

Anehnya, kesebelasan yang didukung pemerintah selalu kalah. Padahal mereka mendapatkan dukungan dana yang luar biasa. Bahkan, mereka tidak mendapatkan "gangguan" dari aparat keamanan. Waaaah! Kok bisa? 

Agaknya hal itu dikarenakan kurangnya pendidikan dan pengajaran dari pemerintah kepada mereka. Maklum, massa kesebelasan karbitan memang selalu demikian. Sedang para demonstran sejati.yang tidak dibayar adalah para pahlawan yang terlatih di medan pertempuran.

Dan kalau dipikir-pikir, menyediakan massa demonstran atau kesebelasan karbitan sangatlah merugikan dari sisi keuangan negara yang didapatkan dari pajak rakyat. Uang dari keringat rakyat mereka hambur-hamburkan untuk hal yang sungguh tidak bermanfaat. Ya, tidak bermanfaat bagi mereka (kalah di pertempuran) dan tidak bermanfaat bagi rakyat.

Agaknya sudah saatnya para politikus sadar bahwa ini adalah dunia. Semua akan berakhir seiring habisnya jatah kehidupan masing-masing di alam yang fana ini Jadi, ayolah bekerja untuk rakyat. Benar, untuk rakyat. Untuk rakyat!


Wednesday, June 17, 2026

Menuju Tiananmen, Prabowo Batal ke Rusia

 

Ilustrasi: Pixabay 

Aaaaah, emang benar begitu? Tiananmen itu ada di Republik Rakyat Cina. Jauh dari Indonesia. Dalam peta, daerahnya terlihat ada di Utara atau bagian atas Jamrud Khatulistiwa. Menuju ke sana, sungguh melelahkan. Terlebih kalau harus berjalan kaki. 

Meskipun demikian, akhir-akhir ini arah reaksi massa di Indonesia menuju ke sana. Benarkah? 

Ringkasnya, pada tahun 1989 terjadi demonstrasi besar-besaran di Tiananmen. Walaupun disangkal-sangkal, kenyataannya tindakan aparat Cina Daratan itu benar-benar keras. Konon, banyak sekali demonstran yang meregang nyawa. Alhasil, rezim komunis era Deng Xiaoping tetap aman. Pemerintah di sana terus berjaya.

Nah, kalau demikian, untuk apa demonstrasi di Indonesia ditakuti pemerintah? Eh, bener ya ditakuti? Ga kales! 

Atau, sebenarnya malah mirip Gerakan Demokrasi Juni yang terjadi tahun 1987 di Korea Selatan? Gelombang massa nasional ini sukses membuat rezim militer Chun Doo-hwan  mengadakan pemilu demokratis dan mengakhiri kekuasaan tangan besi di Negeri Ginseng itu.

Lalu bagaimana sejatinya yang sedang terjadi di negara kita? Apa pun model gerakan demonstrasi yang ada, idealnya tak perlu disikapi berlebihan, termasuk yang kata banyak pihak, menyebabkan Presiden Prabowo "batal" ke Rusia. Caranya cukup dengarkan, pahami, dan lakukan sesuai tuntutan para demonstran. Mudah, 'kan?