Friday, April 16, 2021

PERJALANAN ATI, Puisi Sosiawan Leak



atiku
menumpang huruf dan tanda
mengarungi gelombang udara
tak kan mampu menemu jalan pulang ia
tanpa peta
; rajutan asih, sayang kasihmu

pasrah dan doa
yang ngembara tanpa arah dan tanda
sudah waktunya ngaliri muara jiwa
labuhi delta nurani

agar suksma tak mbara
hingga kaki mampu menyentuh hijau rumputan
atau belukar segar.
agar tangan mampu merekah bunga
lantas mengecup kupu-kupu di mahkotanya.
agar mata membuka cakrawala
hingga bibir basah asma tuhan.

atiku
menumpang atimu
tiba di mulut tuhan.

solo, 19 nopember 2010



Tentang Penyair

Sosiawan Leak, lahir di Solo. Penyair, penulis lakon dan deklamator ini kerap melakukan perjalanan sastra di berbagai kota di Indonesia.

Puisinya dipublikasikan di berbagai media massa. Sejumlah antologi puisi yang memuat sajaknya antara lain Umpatan (1994), Cermin Buram (1996), Dunia Bogambola (2007), Matajaman (2011), dan lain-lain. 

Pernah diundang pada Festival Puisi Internasional Indonesia di Makassar, Solo,
dan Bandung (2002); dan Poetry on The Road di Bremen (2003), Ubud Writers & Readers Festival di Ubud (2010), Jakarta Berlin Art Festival di Berlin (2011), Pertukaran Budaya Indonesia-Korea di Seoul (2012), dan lain-lain.
----------------------------------------------

Sumber tulisan: Buku "Dari Bumi yang Sama"
Sumber ilustrasi: Pixabay


Thursday, April 15, 2021

Keterangan, Puisi Toto Sudarto Bachtiar


 

H.B. Jassin. Di mana berakhirnya mata seorang penyair?
Kau sudah lama sekali tahu, kuburan dia
Hanyalah nisan kata-katanya selama ini
Tentang mimpi, tentang dunia sebelum kau tidur

Terkadang kalau dia mau
Tulisannya hanya nasib jari yang lemah
Terkadang dia merasa aneh
Kalau anak bisa merasa kehilangan sesuatu

Seperti aku, di mana kata tak cukup buat berkata
Tertelungkup di bawah bakaran lampu seharian bernyala
Terkadang jemu terus melihat matahari
Pesiar, tanpa kawan berkejaran

Tanpa merasa tahu tentang apa
Dia menyeret langkahnya
Sampai di mana dia akan tiba
Tapi dengan jari kakinya ditulisnya sebuah sajak

1955

Sumber: Suara, Kumpulan Sajak 1950--1955 (Balai Pustaka, Jakarta, 1962)


Tentang Penyair

Toto Sudarto Bachtiar lahir di Cirebon, Jawa Barat, 12 Oktober 1929. la wafat di Paris, Perancis, 9 Oktober 2007 pada umur 77 tahun.

Adalah penyair seangkatan dengan W.S. Rendra. Penyair angkatan 1950--1960-an. Ia dikenal dengan puisinya, antara lain “Pahlawan Tak Dikenal”, “Gadis Peminta-minta”, “Ibukota Senja", "Kemerdekaa”n, dan “Tentang Kemerdekaan."

Adapun jarya puisinya, al. Suara: kumpulan sajak 1950-1955, 1956, memenangkan Hadiah Sastra BMKN, Etsa (kumpulan sajak, 1958), dan Datang dari Masa Depan: 37 penyair Indonesia (2000). 

Selain itu, ia juga banyak menerjemahkan, al. Sulaiman yang Agung (1958), karya Harold Lamb, Bunglon (1965), karya Anton Chekhov, Bayangan Memudar (1975), karya Breton de Nijs, diterjemahkan bersama Sugiarta Sriwibawa, Pertempuran Penghabisan (1976), karya Ernest Hemingway, dan Sanyasi (1979), terjemahan karya Rabindranath Tagore. 

--------------------------------------------------------

Sumber tulisan: Lautan Waktu

Sumber ilustrasi: Pixabay


Galuh, Cerpen Kony Fahran


HAMSANI, KONON menurut pengakuannya ke banyak orang, dirinya pernah berkelahi dengan hantu. Lelaki yang mendapat julukan pemberani itu mengajak Ilham dan Juhansyah memasuki alam gaib untuk sebuah pekerjaan yang bakal dilakukan. Mereka bertiga sudah menyalakan dupa kemenyan. Asap dupa mengepul, menyebarkan aroma wangi. Asap dupa itulah yang dimanfaatkan dalam pemanggilan untuk kegaiban yang bakal mereka masuki.

Malam merambat. Gelap mempertegas kehadirannya. Setelah asap dupa yang disebut perapin dianggap merata menyebar di sekitar mereka, api dupa dimatikan. Semua bentuk fisik api dipadamkan sehingga tidak setitik api pun terlihat. Semua gelap, terkecuali sinar bulan yang malam itu tengah purnama penuh. Angin malam itu nyaris tak ada berembus. Ketiga pria berusia rata-rata 40-an tahun itu mulai merafal ajian setelah ketiganya meyakini tidak ada lagi api maupun bara api di perapin. Sebagaimana diajarkan Guru Gani, sang juru kunci turunan ke-70 Pulau Kadap, mereka terus menerus merafalkan mantra.

Pulau Kadap, diyakini oleh mereka sebagai dunia gaib. Orang-orang pintar di Banjar menyebutnya Pulau Kadap orang subalah, artinya orang gaib, jin. Pulau Kadap dimaknai dalam pemahaman sebagian para pendulang intan sebagai tempat gaib para jin.

Para pendulang intan sebelum memulai dulangannya di lokasi Kampung Cempaka maupun lokasi lainnya di Kalimantan Selatan, kebanyakan mengharuskan diri dengan mendahuluinya kebentuk ritual agar dapat memasuki Pulau Kadap, tentu saja dalam bimbingan Guru Gani. Begitu juga yang dilakukan Hamsani dan kedua kawannya.

Pulau Kadap bukanlah dalam arti yang sesungguhnya sebagai sebuah pulau secara fisik, itu hanya semacam istilah untuk menyebut orang subalah berdiam, atau orang gaib bermukim dan orang subalah bisa ditemui untuk minta ditunjukkan lokasi lubang galian dengan harapan bisa menemukan intan yang bakal didulang. Hamsani yang sudah berpengalaman belasan tahun mendulang meyakini ritual itu mesti dilakukan.

"Aku mendengar suara seperti ada makhluk datang," kata Hamsani setengah berbisik seusai merafal mantra kesekian kali ditingkah tipis sisa wangi asap dupa di tengah malam itu. Angin masih seperti tadi, nyaris tak berembus.

"Aku juga," sahut Ilham menimpali, suaranya pelan nyaris tak terdengar.

Juhansyah yang tidak bersuara sejak lafalan mantranya selesai berkali-kali, hanya membisu dan mencoba menyebar pandangan ke segala arah. Ia berharap bisa melihat sesuatu berupa wujud atau apa saja. Tetapi harapannya itu sia-sia. Ia kemudian hanya menajamkan pendengarannya di tengah hutan dalam gelap tepat di jantung malam, pukul 00.00. Sunyi di sekeliling kian meraja.

“Ssett... dengarlah," ujar Hamsani pelan. “Sepertinya ada yang datang...," sambungnya.

Setelah Hamsani berucap begitu. Satu bayangan tiba-tiba melintas. Berkelebat. Cepat. Lalu lenyap seketika. Ketiga orang itu kembali merafal mantra dengan panduan Hamsani. Nadanya memanggil dan memelas. Beberapa detik setelah rafalan selesai, sebuah bayangan lagi-lagi melintas. Kali ini pelan dan menampakkan wujud.

Wujud itu dalam bentuk perempuan setengah tua, rambutnya terurai sebatas pinggang. Kulitnya putih pucat. Kedua matanya memerah. Menyapu pandang kepada ketiga manusia itu. Tak ada yang bersuara. Malam kian sunyi.

“Kami mendengar panggilan kalian. Kini aku datang mewakili. Apakah gerangan maksud memanggil kami?" perempuan yang tak kelihatan kakinya lantaran tertutup kain panjang itu bersuara, tanpa membuka mulut. Suara itu sepertinya datang dari dalam diri ketiga pria, Hamsani dan kedua kawannya.

Setelah suara itu jelas terdengar, wujud perempuan itu dalam penglihatan mereka bertiga seperti mengambang di udara, hanya sejengkal dari tanah. Angin malam tiba-tiba berembus lemah. Tapi, di sekitar tak terdengar suara binatang malam. Senyap. Kesenyapan yang menyergap.

“Kami berharap mendapatkan petunjuk dari pian Galuh, untuk mendapatkan galuh yang disebar pian di siang hari," suara itu terlontar dari mulut Hamsani, pelan tapi jelas, nadanya memohon.

Perempuan itu mengangguk kecil. Lalu berkata, "Galilah, di tengah..., pergilah kalian." Suara itu masih seolah datang dari dalam diri Hamsani. Setelah itu perempuan tersebut menjauh sambil menyisakan beberapa bisikan yang juga seolah muncul dari dalam diri Hamsani.

Hamsani yang sudah kenyang menangguk pengalaman mendulang, dan untuk kedua kalinya memasuki alam subalah Pulau Kadap memahami ucapan wujud perempuan yang sepertinya sudah memberi isyarat mengizinkan untuk menggali. Ia menghela napas lega diikuti oleh kedua temannya yang sama sekali baru kali itu memasuki alam subalah di awal tahun 1989.

***

Tahun 50-an hingga sekarang di Kalimantan Selatan merupakan wilayah pendulangan intan, terutama di daerah Kampung Cempaka yang dulu ada di Kecamatan Cempaka Kabupaten Banjar-Martapura dan kini menjadi wilayah Kota Banjarbaru sekitar 60 kilometer dari Kota Banjarmasin.

Cempaka, hingga kini menjadi lokasi pendulangan intan yang sangat terkenal di dunia. Orang-orang tempo dulu sangat kuat rasa yakinnya untuk memulai mendulang intan mesti didahului ritual macam yang dilakukan Hamsani dan kedua teman. Ritual mengarah ke misteri gaib dan semua ritual itu masih dianut hingga sekarang oleh sebagian para pendulang tradisional.

Untuk mendapatkan semacam wangsit atau menerjemahkan isyarat letak intan di Cempaka, umumnya para pendulang mesti melewati pintu ritual misteri dengan cara menembus alam subalah, Pulau Kadap.

Pulau Kadap, yang ditembus dianggap misteri oleh para pendulang intan. Bagi siapa saja yang kurang siap mental atawa yang kerap disebut lemah bulu, jangan coba-coba memasuki alam subalah, Pulau Kadap, apabila keliru mematuhi tata tertibnya atau kurang syaratnya, bisa kepuhunan atau terkena tulah, hingga sakit berkepanjangan bahkan bisa meninggal dunia lantaran goncangan mental yang luar biasa yang ditimbulkan oleh ketidaksiapan mental. Ditambah lagi orang subalah yang bersedia ditemui di alamnya itu ragam kemunculannya berbeda-beda. Hamsani dan dua teman termasuk beruntung ditemui perempuan setengah tua berambut panjang yang mau berbagi isyarat dengan kelompoknya. Biasanya yang menemui adalah ragam-ragam yang aneh-aneh dan kebanyakan menyeramkan. Ada dalam bentuk manusia bundar tanpa tangan kaki dan tanpa wajah, artinya di bagian muka tidak terlihat ada hidung, mulut dan mata, bagai semangka besar.

Ada pula dalam ragam lelaki bertubuh raksasa, bertaring dan bermata tiga. Ada juga yang sama sekali tidak bisa bertemu lantaran ada yang keliru atawa si penjalan ritual dalam keadaan kotor pikiran.

Setiap orang yang ingin masuk Pulau Kadap mesti melalui bermacam syarat dan ritual yang harus dipatuhi, setelah lulus dan syarat-syaratnya lengkap, maka sang juru kunci yang dipegang orang pintar secara turun-temurun barulah bisa memasuki alam subalah itu. Pada tahun itu, Hamsani dan kawannya melengkapi syarat ritual itu, juru kunci Pulau Kadap dipercayakan kepada Guru Gani.

Setelah mampu menembus Pulau Kadap, para pendulang diharuskan pula bermalam, minimum tiga malam sebelum memulai kegiatan mendulang intan di Cempaka.

Malam itu merupakan malam ketiga Hamsani dan dua teman mencoba melakukan dialog dengan orang subalah. Sebagai pendulang yang ingin mendapatkan wangsit lokasi tanah yang mesti digali dan di dalamnya diyakini terdapat intan. Hamsani dan temannya sudah menyatakan kesiapan mental. Lebih-lebih tiga pria itu memang dikenal pemberani. Pernah Hamsani mendapat upah menunggu sebuah rumah tua kosong yang dinyatakan banyak orang sebagai rumah berhantu. Selama tiga bulan Hamsani seorang diri menunggu rumah tersebut dan ia memang kerap melihat penampakan dalam wujud yang aneh-aneh, tapi Hamsani tak pernah gentar. Apalagi hanya memasuki alam orang subalah, Hamsani betul-betul siap lahir batin. Kesiapan itu tentu saja diuji terlebih dulu oleh juru kunci Guru Gani yang sudah berusia hampir 70 tahun.

***

"Sekarang wasiat atau yang disebut wangsit sudah sepenuhnya kita dapat. Sudah ada petunjuk tanah yang mesti digali besok dan batu-batunya kita angkat," ujar Harsani kepada Ilham dan Juhansyah. Keduanya hanya mengangguk paham.

"Batu-batu yang nanti kita keluarkan dari dalam lubang lalu diangkut ke kubangan air untuk dilinggang, dari situ akan terlihat adanya galuh atau intan yang kita cari," papar Hamsani.

Linggangan yang dimaksud Hamsani berbentuk kerucut, berdiameter antara 30 sampai 50 centimeter. Dengan linggangan itu batu-batu kerikil berbaur pasir dan tanah dilinggang di kubangan air yang mencukupi untuk melinggang. Bila memang nasib baik, dalam linggangan bisa ditemukan galuh berbagai bentuk dan warna.

Hari itu, sepagi buta Hamsani dan kedua teman barunya sudah siap membawa linggangan, sekrup, linggis, dan peralatan lain termasuk perbekalan mengisi perut untuk memulai mendulang. Namun khusus perbekalan makan itu, Hamsani mewanti-wanti temannya dengan serius agar ketika menyebut makan diganti dengan sebutan muat, karena sebutan makan dipendulangan termasuk yang dilarang dikatakan.

Ketika ketiganya sampai ke pendulangan, matahari mulai menampakkan diri di ufuk Timur. Semburat sinarnya menyapu dedaunan karamunting yang banyak tumbuh di lokasi pendulangan, embun yang tadi menempel di daun-daun itu sudah mengering terhisap sinar matahari. Cuaca hari itu cerah, sinar matahari tampaknya bakal cerah sepanjang hari lantaran sepagi itu tampak di angkasa gumpalan-gumpalan awan putih hampir merata terlihat di cakrawala.

"Semoga saja para Galuh yang menyebar intan hari ini menyebarkan butiran-butiran intan dan semoga kita yang menemukannya," kata Hamsani penuh harap yang disahut oleh kedua temannya dengan ucapan amin yang cukup panjang.

Sebelum menggali lubang persis di tengah-tengah lokasi pendulangan Cempaka terlebih dulu Hamsani meletakkan selembar daun talas di atas permukaan tanah sebagaimana diajarkan oleh nenek kakeknya ketika mengawali menggali. Daun talas yang tidak robek dianggap bisa menyedot hawa-hawa intan dari dalam tanah. Setelah itu ia menancapkan linggis di permukaan tanah yang bakal digali menjadi lubang, diikuti kedua teman.

Galuh yang dimaksudkan Hamsani, tentu saja mahkluk gaib dari alam subalah yang disebut-sebut memiliki panggilan Siti Anggani-Putri Hanjani sang penabur intan secara gaib ke dalam lubang-lubang yang digali dan batu-batunya diangkat oleh para pendulang.

Dalam bisikan mahkluk gaib yang tertangkap batin Hamsani malam itu di alam subalah kepadanya ternyata diiringi pula dengan permintaan persyaratan yang harus dipatuhi oleh ketiganya. Antara lain, mereka bertiga selama mendulang tidak dibenarkan menyalakan api, meski hanya untuk api merokok. Galuh si penabur intan tidak suka dengan api. Ini ada kaitan penciptaan mahkluk gaib--jin, makhluk halus yang diciptakan oleh sang Pencipta, terbuat dari api--sehingga tak mau berdekatan dengan wujud api yang dinyalakan manusia. Penjual rokok di lokasi pendulangan dijamin tidak laku, karena secara turun-temurun para pendulang tradisional mewarisi aturan untuk tidak menyalakan api termasuk api rokok.

Selain itu, tidak boleh membawa ayam baik dalam keadaan hidup maupun ayam yang dimasak untuk lauk para pendulang. Para Galuh penghuni alam subalah tidak suka hewan bernama ayam yang dianggap orang subalah menjijikkan.

Persyaratan lain yang dibisikkan, para pendulang apabila menemukan intan tidak boleh kegirangan, misal menari-nari, bernyanyi, bersiul-siul, sangat ditabukan di kawasan pendulangan. Termasuk juga dilarang keras berpakaian tidak sopan bagi pendulang perempuan, berbaju merah bagi laki-laki maupun perempuan termasuk pelanggaran ketika mendulang, karena Galuh menabur intan tak suka warna merah. Tidak terkecuali juga dilarang menunjuk-nunjuk sesuatu dengan jari telunjuk, maupun bertolak pinggang, lantaran berbuat itu dianggap bersikap sombong. Kalau mau menunjuk sesuatu harus dengan jempol atau ibu jari. Ini juga dilakukan agar tidak mendapat penilaian sombong. Orang subalah tak suka dengan kesombongan.

Bersin dalam lubang galian juga sangat ditabukan. Lebih-lebih bertengkar di lokasi pendulangan sangat dilarang, lantaran Galuh si Penabur intan tidak menyukai pertengkaran Perempuan mengalami datang bulan (menstruasi) termasuk ditabrakan masuk ke dalam lubang galian. Begitu juga mengeluarkan angin kentut serta berkata jorok dalam lubang sangat ditabukan, lebih-lebih buang air besar.

Malam itu orang subalah juga mengingatkan kepada kelompok Hamsani tentang pengucapan kata intan ketika menemukan intan sangat dilarang menyebut intan. "Jadi, sepanjang berada di lokasi pendekatan kita tidak boleh  mengucap intan, kata intan mesti diubah menjadi galuh," ujar Hamsani mengingatkan kedua temannya.

"Lalu, apabila kita pendulang menemukan galuh seberapa pun ukuran karatnya, langsung masukkan ke dalam mulut, tapi jangan sampai tertelan, sedangkan yang lainnya mengucap shalawat nabi," tambah Hamsan yang berkali-kali mengingatkan teman-temannya ketika bersiap menuju ke pendulangan.

***

Persis pukul 06.00 pagi, bertiga mulai menggali lubang seukuran tiga tubuh orang dewasa bisa masuk lubang. Di hari yang sama, ratusan pendulang di Cempaka juga sudah mulai melakukan aktivitas profesi sebagai pendulang.

Ada yang yang sudah menggali kedalaman 25 meter sejak beberapa bulan lalu. Kelompok pendulang itu tidak sedikit jumlahnya, ada 50 orang yang terlibat, ada yang bertugas mengangkut batu, ada pula yang menyedot air di dalam lubang yang terus-menerus mengeluarkan air melalui sejumlah mata air dalam lubang. Penyedotannya menggunakan mesin. Pekerjanya, bukan saja orang dewasa, juga anak-anak di bawah umur 18 tahun, bahkan ada banyak anak-anak berusia 10 hingga 15 tahun ikut membantu orang tuanya yang berupaya menemukan galuh. Anak-anak itu tentu saja tidak mempedulikan urusan pendidikan formal. Bahkan banyak pendulang tradisional turun temurun rata-rata tidak tamat pendidikan dasar. Mereka tahunya menggali dan menggali, melinggang dan melinggang, karena hanya itulah keterampilan yang mereka punya.

Ada pun kelompok kecil Hamsani juga terus menggali. Satu meter tergali, batu-batuan mulai menumpuk ke permukaan galian. Dua meter tergali, bebatuan kerikil campur pasir dan menyatu dengan tanah liat juga terangkat ke permukaan. Ketika lubang sudah tergali lebih tiga meter dalamnya, Hamsani memberi komando untuk berhenti menggali. Matahari sudah lebih sepenggalah menjalani berjalanan rutinnya. Itu berarti sudah lebih tiga jam mereka menggali. Bebatuan sudah menumpuk di permukaan galian.

"Sekarang saatnya batu-batu ini kita angkat ke kubangan air untuk dilinggang," ujar Hamsani kepada Ilham dan Juhansyah, yang hanya menurut saja apa yang diperintahkan Hamsani karena di sini Hamsani yang paling berpengalaman. Mereka mulai melinggang yang diajarkan Hamsani. Ternyata cekatan juga Ilham maupun Juhansyah melakukan yang diajarkan Hamsani dalam waktu beberapa menit tadi.

Matahari terus menyengat. Itu pertanda baik bagi pendulang. Hujan dianggap pertanda buruk, selain bisa menambah kedalaman air di dalam lubang yang memiliki mata air cukup deras, juga di tempat tanah lapang terbuka itu tidak menutup kemungkinan bisa tersambar petir. Itulah, ketika hujan para pendulang memilih menghentikan dulangan sambil menunggu hujan reda, berteduh di dataran terendah dan banyak pohon-pohonnya sekalian mendirikan pondok darurat. Tapi hari itu adalah hari dengan matahari menggantang, panas.

***

Sejak tahun 50-an hingga 1990-an ditemukan puluhan butir intan berbagai ukuran dan warna oleh para pendulang tradisional di pendulangan Cempaka, Dalam kurun waktu itu ratusan butir intan ditemukan, namun ada yang tercatat 27 butir intan yang terkenal lantaran dipublikasikan oleh media massa. Intan-intan itu ditemukan dan sempat diumumkan berbagai surat kabar dan majalah di Banjarmasin maupun dari provinsi lainnya di tanah air. Umumnya intan itu berukuran besar hingga ada yang mencapai 300 karat dengan harga jual saat itu triliunan rupiah.

Hamsani sempat bercerita kepada kawan-kawannya, Intan Trisakti yang menghebohkan di tahun 1965 ditemukan oleh para pendulang, ukurannya mencapai 166,75 karat. Para penemu Intan Trisakti itu adalah Madslam bersama 24 orang kawan. Lubang galiannya di Sungai Tiung Kecamatan Cempaka pada 26 Agustus 1965. Berdasarkan versi piagam Intan Trisakti, intan tersebut oleh Menteri Pertambangan RI waktu, Intan Trisakti hendak dijual oleh para penemu, tapi kemudian dipersembahkan kepada Presiden RI Soekarno saat itu.

Berdasarkan pemberitaan Majalah Sarinah Jakarta yang dikoleksi banyak pendulang, mempublikkan bahwa Intan Trisakti yang ditemukan oleh para pendulang tradisional, waktu itu mendapatkan semacam imbalan ongkos naik haji sebanyak 25 orang ditambah keluarga (istri/suami) termasuk para orang tua mereka lengkap dengan uang saku.

Secara keseluruhan balas jasa (imbalan) itu, berdasarkan catatan Tajuddin yang disalin dari media massa nilai balas jasanya di tahun 1965 itu tidak sampai 10 juta rupiah per orang. Konon harga Intan Trisakti menurut taksiran para ahli batu-batu mulia di tahun sulit itu disebut triliunan rupiah. Setelah itu tidak diketahui lagi di mana dan siapa yang mengoleksi Intan Trisakti.

Pada era sekarang ini, para pendulang intan tradisional di Cempaka mulai terkalahkan oleh aktivitas dulangan intan modern yang menggunakan alat-alat besar dan alat berat pertambangan para pemodal besar dan para pekerjanya, umumnya orang-orang pendatang, yang sama sekali tidak peduli dengan ritual-ritual misteri gaib maupun memenuhi syarat-syarat sebagaimana yang dilakukan Hamsani dan temannya sebagai pendulang tradisional. Tapi kenyataannya, ada saja intan berukuran besar ditemukan oleh pendulang bermodal besar itu, sehingga saat ini pemujaan ritual mulai luntur.

Kini tidak ada lagi ritual Pulau Kadap sebagai pintu masuk memulai dulangan intan di Cempaka dan di lokasi-lokasi lainnya di Kalimantan Selatan. Di atas keluasan lahan kosong beribu-ribu hektare itu, siapa pun tak ada larangan mendulanginya. Tetapi kendati begitu, para pendulang tradisional tetap saja mengadu nasib peruntungan melakukan dulangan dengan cara lama. Caranya Hamsani dan kawan-kawan. Kalau nasib beruntung, tidak menutup kemungkinan mendapatkan intan besar sampai 300 karat atau intan seukuran telor burung puyuh. Menurut cerita Hamsani kepada teman-teman, setiap hari ada saja para pendulang tradisional menemukan intan, begitu juga pendulang modern yang bermodal besar setingkat pengusaha tambang, tetapi ukuran intan temuannya kecil antara 5 hingga 15 karat yang harga jualnya bisa mencapai ratusan juta rupiah. Tapi kalau lagi tidak beruntung bisa berbulan-bulan tidak mendapatkan intan, maka para pendulang tradisional mesti ke luar modal terus bahkan sampai terutang beratus-ratus ribu rupiah setiap bulannya.

Sebagaimana kini dialami Hamsani dan kedua kawan barunya itu. Sudah berhari-hari menggali tidak juga sebutir intan pun mereka dapat. Modal terhabiskan sudah sekian ratus ribu bahkan jutaan rupiah.

***

Di hari kelima puluh sembilan. Hamsani dan dua teman masih giatmengumpulkan bebatuan kerikil maupun batu-batu sebesar buah kelapa yang dikeluarkan dari lubang galian didulang mereka. Itu berarti hampir dua bulan sudah pria-pria itu melakukan aktivitasnya di lokasi pendulangan Cempaka.

Hari itu 5 Juli 1989 di tahun Hamsani dan kawannya mendulang di hari kelima puluh sembilan, dikejutkan kabar beredar di lokasi pendulangan ada orang menemukan intan secara tak sengaja di tepi Sungai Rantau Bujur Kecamatan Aranio Kabupaten Banjar Kalimantan Selatan, yang jaraknya hanya beberapa kilometer dari Cempaka. Penemu intan 61 karat itu Husaini si Penjala Ikan.

Pagi itu Husaini menjala ikan, melunta di sungai. Lelaki yang gemar datang ke masjid salat berjamaah di kampungnya itu, pagi seperti biasa sehabis salat Subuh, ia melunta ikan, saat menarik lunta atau alat jala ikan, pandangan matanya bertumbukan dengan bebatuan di tepi kali, di sela-sela bebatuan itu ada sebiji batu memantulkan cahaya matahari pagi tepat ke kedua bola mata Husaini. Ketika batu bercahaya yang sedikit melesak ke batu agak rapuh itu dicongkelnya, ternyata batu itu berwarna bening.

Setelah kabar itu menyebar, sepekan kemudian Majalah Liberty Surabaya memberitakan intan bernama Galuh Anugerah temuan Husaini secara tak sengaja itu dibeli oleh pengusaha Surabaya, So Teng seharga 200 juta rupiah. Begitu inti artikel Liberty.

Gemparlah para pendulang Cempaka, maklum pada tahun 1989 itu uang 200 juta sangat bernilai tinggi, karena saat itu ongkos naik haji sebagai patokan kekayaan seseorang di Kalimantan Selatan masih sekitar 4,5 sampai 5 juta rupiah. Tapi kabar menggemparkan itu berlalu dengan cepat di lokasi pendulangan Cempaka lantaran para pendulang terus disibukkan oleh aktivitas mereka, Tidak terkecuali Hamsani dan kawan-kawan yang terus menggali dan belum mendapatkan sebutir intan pun, meski hanya setengah karat maupun sepiat dua piat sebagai sebutan ukuran intan paling kecil.

Di hari selanjutnya dan hari-hari berikut dua teman, Ilham yang dikenal sebagai tukang gali sumur pekerja serabutan di kampung dan Juhansyah bekas Hansip pasar sudah kelelahan luar biasa, bahkan sudah berkali-kali mereka mengutarakan kepada Hamsani untuk menyerah. Tapi Hamsani sebagai kepala kelompok tetap meminta dua temannya itu untuk tidak menyerah dan terus-menerus memberi semangat.

Kini sudah empat bulan mereka berkubang di pendulangan. Lubang yang digali kedalamannya sudah lebih 9 meter, bahkan sudah dibuat lubang baru di samping lubang yang sudah tergali. Hingga kini sudah 4 lubang mereka gali. Hasilnya tetap nihil. Untung saja semua lubang galian mereka tidak ada mata airnya, sehingga lubang itu tetap kering dan itu memudahkan penggalian.

Di hari berikutnya, datang sekelompok orang yang juga memulai aktivitas penggalian berdekatan dengan lubang galian kelompok Hamsani. Di atas tanah luas dan kosong itu, siapa pun bebas mendulang. Terkecuali menggali lubang galian milik orang atau kelompok lain, itu yang tidak dibenarkan.

Kelompok baru berdekatan lubang galian Hamsani, ada tujuh orang, empat pria yang rata-rata berusia di atas 50 tahun dan tiga perempuan setengah tua. Para penggali baru itu, cara bekerjanya santai dan tidak tampak terburu-buru. Ketika tiba waktu salat, mereka semua salat berjamaah. Setiap usai salat, mereka berdoa berjamaah pula. Begitu seterusnya. Cara menggali mereka tidak seperti kelompok Hamsani yang seolah lupa dengan waktu, bahkan ketika memasuki senja, kelompok Hamsani terus menggali, baru berhenti apabila matahari benar-benar tenggelam di ufuk barat sana.

Setelah hari kesebelas tidak menemukan intan, kelompok baru itu tampaknya menyerah dan berniat pulang di hari kedua belas besoknya. Namun selepas salat Ashar, terdengar shalawat nabi dikumandangkan oleh kelompok itu bersahut-sahutan sebagai pertanda mereka menemukan galuh. Salah satu dari ketujuh orang itu mengulum sebutir intan dalam mulutnya. Pipi si Pengulum intan terlihat membesar, itu pertanda intan yang ada dalam mulut lumayan besar. Sekejap, mendengar shalawat nabi dikumandangkan bersahut-sahutan itu mengundang para pendulang lain berdatangan ingin mengetahui apa yang terjadi. Seorang dari ketujuh orang itu bercerita menemukan galuh menempel disela-sela bebatuan yang sudah diangkat ke permukaan lubang. Galuh intan itu seperti sengaja menunjukkan wujudnya.

Disaat bersamaan, Hamsani terkulai di dalam lubang.

Lelaki itu pingsan, tampaknya kekurangan oksigen selama berjam-jam dalam lubang menguras tenaga. Tapi beda dengan apa yang dirasakan Hamsani, ia merasa wujud perempuan yang malam itu ditemuinya di Pulau Kadap, seperti melambaikan tangan ke arahnya dengan tatapan kosong. Seolah memberi isyarat perpisahan.

Ilham dan Juhansyah sibuk memberi pertolongan kepada Hamsani dan berharap para pendulang lain peduli.

Samarinda, 20/9/11
Buat Tajuddin Noor Ganie


Tentang cerpenis

KONY FAHRAN, kelahiran Banjarmasin. Mulai menulis cerpen dan puisi sejak 1978. Masa
produktif menulis cerpen pada tahun 80-an hingga memasuki 2000-an. Karya tulisnya ada yang dimuat di Sinar Harapan, Suara Pembaruan, Merdeka, Sinar Pagi (cerber), Pelita, Majalah Panjimas, Majalah Putri Indonesia (cerber-ditulis ketika masih SLTA-STM Bersubsidi Kayu Tangi Banjarmasin), Majalah Hai (puisi pernah diulas Aswendo Atmowiloto) dan lainnya. Selain bergiat di dunia sastra, Kony juga meniti karier bidang jurnalistik sejak 1984. 

-------------------------------------------------------------

Sumber tulisan: Kalimantan Timur dalam Cerpen Indonesia

Sumber ilustrasi: Pixabay


Wednesday, April 14, 2021

Surat Ayah dari Rantau, Sebuah Cerpen Syafruddin Pernyata


SUNGAI MAHAKAM di waktu malam adalah surga bagi kunang-kunang. Air sungai yang mengalir dari ulu Mahakam tak pernah penat mengantar hilir mudik perahu, kapal motor, speedboat dan ilung bahkan limbah batu bara. Limbah batu bara bagai kolesterol, lemak dalam darah, dengan segala risiko yang bakal ditimbulkannya.

Aku masih duduk termangu di samping jamban yang menjorok ke arah sungai. Hilir mudik ces dan kapal motor memecah keheningan malam setiap kampung di tepi sungai yang dilintasinya. Sesekali terdengar kecipak air dan suara olah yang menyentuh bibir gubang menimbulkan ketukan nada bak ketukan pintu yang lamat terdengar.

Di seberang, kerlap-kerlip lampu menerangi batu bara yang dicurahkan ke dalam tongkang-tongkang milik perusahaan batu bara. Tak pernah henti sepanjang siang dan malam kecuali bila tongkang penuh dan siap ditarik tugboat menuju muara untuk selanjutnya dikapalkan entah kemana. Inilah potret keseharian kampungku: Loa Tebu sejak 30-an tahun yang lalu.

Aku tak pernah tahu, berapa banyak bumi digali dan banyak batu bara yang dibawa ke pulau Jawa bahkan ke luar negeri. Aku orang kampung. Bagiku, memikirkan apa yang akan dimakan esok hari dan minggu depan jauh lebih penting daripada memikirkan ke mana batu bara itu diangkut, berapa duit dari harga penjualan, siapa yang punya, dan siapa-siapa yang dengan gagahnya menjadi sopir alat-alat berat yang selalu mengaum setiap hari bak harimau kelaparan.

"Percuma ayahmu pindah ke Samarinda. Coba pikir, beras beli. Air beli.Minyak tanah beli. Sayur beli. Ikan beli. Di sini, kita bisa menanam padi di gunung dan setiap panen kita makan beras baru yang wangi baunya. Air? Tinggal ambil di sungai. Minyak tanah? Untuk apa? Kayu bisa diambil di hutan atau ngampar di sungai. Dijemur tiga hari sudah bisa digunakan. Sayur, lombok tinggal petik di samping rumah. Ikan? Mau ikan apa? Belida, patin, baung, banyak di sungai. Udang? Labuh jala, kalau hanya empat lima ekor bisa kita dapat. Kadang-kadang udang galah lagi," kata Busu Mudin.

Busu Mudin memang tidak setuju terhadap rencana ayahku yang akan pindah ke kota Samarinda. Bagi ayahku, masa depan keluargaku tidak akan berubah bila tetap tinggal di kampung. Ketrampilan ayahku menyetrika pakaian dan memotong rambut, tukang cukur, bisa menjadi modal untuk bekerja di kota.

Di desa, menurut ayahku, tidak ada orang yang mau mengeluarkan duit hanya untuk mencukur rambutnya. Pun tidak ada orang yang harus mengeluarkan duit untuk ongkos menyetrika baju atau celana. Pakaian dari kain koplin itu cukup ditaruh dibawah tilam semalam juga akan rapi bila diambil esok hari. Kalau kedua ketrampilan yang dimilikinya itu digunakan untuk mencari sesuap nasi di desa itu bagai menggarami air laut, sebuah pekerjaan sia-sia.

Kalau sudah begitu, ayah pun mengatakan maka nasib tidak akan bisa berubah dan kami, anak-anaknya, tidak akan bisa sekolah bila hanya mengandalkan panen padi yang tak seberapa, yang hanya bisa untuk isi perut selama empat bulan. Lantas dua bulannya makan apa? Menanam padi gunung baru bisa dipanen setelah enam bulan. 

Busu Mudin berseberangan pendapat dengan ayah, kakak iparnya. Ia sungkan untuk menyatakan penolakannya terhadap rencana ayah. Ia hanya bersungut-sungut dan menyatakan ketidaksetujuannya kepada kami, tiga orang keponakannya, aku dan dua orang kakakku.

Kami sendiri tidak tahu, mana yang benar, paman atau ayah. Kami masih kecil. Kakakku yang paling besar baru duduk di kelas 4 SD. Yang nomor 2 di kelas 1 dan aku sendiri belum sekolah.

Aku sendiri sukar membayangkan apa yang bakal dihadapi. Di mana kelak kami tinggal. Makan apa? Bukankah ayah tak punya tabungan?

"Ayah akan ke Samarinda besok. Kelak, bila ayah sudah bekerja jadi tukang cukur dan sudah dapat duit, ayah akan kirim ke Loa Tebu setiap minggu. Kalian tetap saja di sini. Ayah berangkat sendiri dulu. Nanti pamanmu mengantar ayah ke kapal selepas isa." Begitu kata ayahku akhirnya mengambil keputusan.

Berat hatiku berpisah dengan ayah malam itu. Kulihat ibuku yang penyabar mengantarkan ayah hingga suara kecipak air dan ketukan olah pada dinding perahu hilang dari pendengaran. Kedua kakakku menangis ingin ikut ayah ke kota tetapi juga ingin tinggal tetap bersama ibu.

Ayah tak mungkin membawa ibu dan kami bertiga karena belum tahu akan tinggal di mana.

"Doakan saja ayahmu sehat dan dapat uang. Ayahmu berjanji akan mengirim uang setiap minggu. Nanti, tunggu saja kapal SBN di dermaga Minggu sore, ayah akan kirim surat dan siapa tahu sudah ada rezekinya", kata ibu menyabarkan kami bertiga yang belum sepenuhnya rela ditinggalkan ayah ke kota.

Samarinda, meski hanya 45 Km dari desa kami, tapi cukup jauh dan memakan waktu setengah hari dengan kapal SBN yang berkekuatan 16 tenaga kuda. Memang hanya itulah alat transportasi menuju Samarinda. Tak ada jalan darat. 

Sejak pukul 1 siang kami sudah duduk-duduk di dermaga. Padahal kami tahu bahwa kapal SBN baru tiba biasanya menjelang Magrib. Terbayang oleh kami akan menerima surat dari ayah dan mengabarkan bahwa ayah sudah dapat duit dari bekerja sebagai tukang cukur dan sudah bisa mendapatkan rumah sewaan.

Ayah memang hanya lulus kelas 3 SR. Tapi ia lancar membaca dan pandai menulis. Buku-buku agama menjadi kesenangannya. Ia biasanya meminjam dari sahabat-sahabatnya di kampung. Ia juga rajin mendengarkan siaran berita RRI setiap malam di rumah tetangga. Setelah warta berita, biasanya ia baru pulang ke rumah.

Kalau ubi yang ditanam di ladang sudah bisa di ambil buahnya, maka ayah harus bermalam di kebun karena khawatir ubi dijarah rombongan babi. Aku masih ingat bagaimana ayah mengajakku tidur di pondok. Aku takut, karena pemandangan indah di sekitar kebun di siang hari berubah menjadi gelap dan menyeramkan di malam hari.

Aku tak kuasa menolak ajakan ayah sebagaimana jika kedua kakakku memperoleh giliran menemani ayah di kebun. Biasanya sebelum tidur aku diajak ayah mengelilingi kebun dengan membawa kentongan bambu.

Mestinya aku senang melakukan tugas itu. Bukankah memukul kentongan itu mengasyikkan? Tidak. Persoalannya bukan memukul kentongan. Persoalannya adalah memukul kentongan di malam hari, yang hanya diterangi oleh obor dan kaki sering tersandung ketika menyisir pagar kebun.

Ayah tenang-tenang saja. Ia menikmati ronda menyisir kebun sebagai sebuah permainan nostalgia ketika ia masa kecil barangkali. Sementara aku gugup dan takut karena jarak pandang hanya dua atau tiga meter sebab hanya sejauh itulah cahaya obor mampu menerangi.

"Nah, itu dia, SBN sudah datang" tiba-tiba kakakku tertua mengarahkan telunjuknya ke ujung tanjung. Sayup-sayup terlihat haluan kapal SBN. Tak terkirakan bagaimana gembiranya perasaanku. Pasti ada kabar ayah. Tak perduli ada kiriman oleh-oleh atau tidak, yang penting ada suratnya dan aku akan mendengarkan baik-baik apa kata ayah dalam surat yang akan dibaca oleh kakak tertuaku.

Awak kapal meloncat ke dermaga. Cekatan sekali padahal badan kapal belum merapat. Dengan tangkas dililitkannya tali kapal hingga kapal itu tak dapat bergerak lagi. Nakhodanya juga cekatan. Ia tahu, jika kapal akan merapat ke dermaga, maka haluan kapal harus mengarah melawan arus air sehingga pergerakan kapal lebih mudah diatur dan kapal tidak babas.

Nakhoda kapal SBN Busu Burhan segera menemui kami. Ia termasuk famili jauh tapi baik pada keluarga kami. Ia menyerahkan sepucuk surat. Ya sepucuk surat dan tanpa lampiran bungkusan. Tapi itu tak penting bagiku. Aku ingin segera tahu apa kabar ayah, dimana dia tidur dan akankah ia bercerita seperti apa rupanya kota Samarinda itu?

Kami segera pulang ke rumah dan di remang senja menjelang Magrib itu, aku dan ibuku, mendengarkan dengan hikmat suara kakakku yang kelas 4 SD itu membaca surat ayah.

Ayah mengabarkan bahwa ia sehat-sehat saja. Selama ini ia menumpang tidur di kios tukang jahit yang ia kenal, hanya 30-an meter dari tempat ia mencukur rambut. Kata ayah, ia diizinkan Pong Amin, pemilik toko cat, untuk menaruh meja tempat ia mencukur di sisi kanan bangunan toko itu. Meja untuk meletakkan alat cukur dan kursi termasuk kursi untuk menunggu jika yang akan bercukur lebih daripada seorang ia buat sendiri dari papan peti bekas. Kayu bekas tempat menaruh mangga yang dikirim dari Pulau Jawa ke Samarinda itu banyak di rumah pak Usman, seorang pedagang mangga. Entah siapa dia, ayah tak menceritakannya secara rinci. Rupanya orang kota itu baik-baik, pikirku.

Sangu ayah yang tak seberapa hasil jual ubi digunakan untuk membeli cermin. Itulah modal ayah. Ayah juga meminta kami bersabar karena belum dapat mengirim uang sebab baru tiga hari menekuni pekerjaan yang sudah lama ditinggalkannya itu. Baru 2 orang, kata ayah, yang bercukur.

"Syukurlah, upahnya bisa ayah gunakan untuk makan selama seminggu. Mudah-mudahan besok-besok kalau orang sudah tahu, yang bercukur banyak dan ayah akan kirimkan sarung untuk kalian bertiga" bunyi surat ayah. 

Aku tak tahan mendengar cerita ayah. Aku menangis. Aku rindu ayah. Aku ingin berada di sampingnya. Aku ingin menemaninya tidur. Aku ingin mendengar cerita-cerita heroiknya ketika ia menjadi nakhoda kapal membawa pasukan merah putih dari Sulawesi ke Pulau Jawa atau sebaliknya. Aku juga ingin mendengar cita-citanya, keinginan besarnya untuk mengubah nasib dan menjadikan kami anak-anak yang cerdas dan sekolah tinggi.

Apakah yang sedang dilakukannya malam ini? Tidurkah ia karena lelah atau ia juga menangis memikirkan kami bertiga dan ibu yang penyabar?

Udara malam semakin menusuk tulang. Tak lagi terdengar perahu ces melintas. Kutinggalkan jamban tempatku termenung, Hanya tinggal seminggu lagi aku bisa duduk nyaman pada malam hari di batang jamban ini. Duduk di batang jamban apalagi pada saat bulan purnama, sangat menyenangkan dan terasa indah dan damai.

Kedua kakakku sudah lelap. Surat ayah masih dalam genggaman kakak tertuaku yang terlelap dalam mimpi-mimpinya. Semua memang sudah tidur, kecuali ibuku yang masih memasang kancing baju kakakku yang tanggal ketika bermain sore tadi.

Tak ada kata lain dari mulut ibu kecuali kata-kata yang memang selalu diucapkannya padaku bila ia melihat aku sudah mengantuk. 

"Bacalah doa. Tidurlah sayang.


Keterangan: 

Ilung: Eceng gondok
Jamban: MCK yang berada di bantaran sungai
Ces: Perahu bermesin
Olah: Dayung
Gubang: Perahu
Tongakang: Ponton
Ngampar: Mengambil kayu yang hanyut di sungai
Labuh: Tebar; menebarkan
Busu: Paman
Babas: Hanyut terbawa arus


Tentang Cerpenis

SYAFRUDDIN PERNYATA, lahir di Loa Tebu, Tenggarong, Kabupaten Kutai (kini Kutai Kartanegara). Ia pernah menjadi Pemimpin Redaksi Surat Kabar Sampe (1978--1999). Sejumlah karyanya pernah diterbitkan dalam buku Merobek Sepi (DKS), Secuil Bulan di Atas Mahakam (DKS), dan lain-lain. 

Karya-karyanya, terutama yang berupa cerpen dimuat di sejumlah media massa, di antaranya di Anita Cemerlang, Ringan, Melati, Puteri Indonesia, Senang, Detektif Romantika, Aneka, dan lain-lain. Ia juga aktif dalam teater, merupakan penggerak utama segala aktivitas bersastra dan berkesenian di Kalimantan Timur. 
--------------------------------------------------------------
Sumber tulisan: Kalimantan Timur dalam Cerpen Indonesia 

Sumber ilustrasi: Pixabay


Monday, April 12, 2021

Pada Saatnya Puisi Tak Ditulis, Sebuah Karya Ibramsyah Amandit


                   Diam-diam ia datang
                   hening subuh berbilang-bilang
                   hitungan embun batu
                   tak cair madu mawarku

Diam-diam ia datang
tahu roh suci puisi
makanya tangan berserah
belum tayamum tanah banua
belum wudhu mata air seribu sungai
belum menapak jiwa ke mati merah
apa layakkah puisi digubah?

Diam-diam ia datang
selagi jihad penyair luhur:
         "harmoni waktu tempat dan individu"
sayang daki belumlah mandi...

Yang diam-diam datang
meski bukan bangkit dari kuburan nafsu
yang diam-diam datang
meski bukan putih hati dan laku
yang diam-diam datang
meski puisi minta ditulis-tulis
rahasia langit minta diwaris-waris
Yang diam-diam datang:
cuma ilusi fantasi
khayal utopia manis jari tanganku
jangan ia sentuh puisi sucimu!

Tamban, 17 Juli 2010

Tentang Penyair



Bernama asli H. Ibramsyah bin H. Lawier, lahir di Desa Tabihi Kanan, Kelurahan Karang Jawa, Kecamatan Padang Batung, Kandangan, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Provinsi Kalimantan Selatan. Dalam dunia puisi ia menggunakan nama pena Ibramsyah Amandit dan di kalangan sastrawan Kalsel dirinya lebih dikenal dengan sebutan si Janggut Naga.

Mulai menulis sejak tahun 1970-an. Pada tahun 1971 ia aktif dalam diskusi dan pembacaan puisi Persada Club Yogyakarta di bawah bimbingan Umbu Landu Paranggi. 
Di samping rajin menulis puisi ia juga rajin mendalami ajaran tasawuf melalui guru-gurunya yaitu: KH Gusti Abdussamad, KH Ramli Tatah Daun, KH Ahmad Arsyad, KH Muhammad Nur Tangkisung, KH Sam’ani, Guru H. Basman Tinggiran, KH Abdul Mu’in yang membaiatnya dalam Thariqat Akhirul Zaman, dan KH Muhammad Zaini Ghani yang membaiatnya dalam Thariqat Syamaniah.
Keakrabannya di dunia tasawuf membuat hampir seluruh puisinya kental dengan pemikiran tasawuf. Hal ini dapat kita lihat dalam setiap puisinya yang pernah dimuat dalam berbagai media.
-----------------------------------------------

Sumber puisi: Menyampir Bumi Leluhur

Sumber biodata dan foto: https://www.wartamantra.com/2020/11/puisi-puisi-ibramsyah-amandit.html?m=1

Sumber ilustrasi: Pixabay


Puisi-Puisi Ariffin Noor Hasby dalam Meratus: Nyanyian Rindu Anak Banua


 

SIHIR HUTAN

Kudengar suara-suara hutan memanggilmu
Dengan irama kerinduan
Tapi tak ada sahutan
Padahal ia cuma ingin mengajakmu bercakap
Tentang burung-burung yang kehilangan nyanyian bukit
Anak-anak pohon yang sakit
Dan air sungai yang pahit.

Masih terus kuingat asal suara itu
Adalah hutan tangis nenek moyangmu
Yang merajah sunyi tanah kelahiran
Yang membesarkan kesetiaan.

Di tengah gelisah percakapan tanah dan air
Kudengar suara burung-burung berzikir
Sehabis musim matahari mengabarkan mimpinya kepadaku:
Hutan menyihir manusia menjadi tulang-belulang waktu.

Banjarbaru, April 1994


IRAMA BELANTARA

Belantara: tahun dua ribu empat puluh
Aku berjalan dalam subuh mencari matahari
Tapi entah di mana
Beribu pohon tumbuh ke bawah
Seperti tanah yang dikejarnya
Ya Allah

Barangkali orang-orang berangkat meditasi
Ketika jalan-jalan yang kulewati pagi hari
Tak ingat lagi berapa jauh jarak musim gugur
Dan musim semi
Sementara peta sejarah hutan-hutan
Telah menjadi benda purbakala

Dalam ingatan yang tersimpan antara hilang dan ada
Aku menyaksikan orang-orang berebut gambar badak bercula
Menyimpannya dalam peradaban berhala
Aku tak pernah tahu berapa lama hutan-hutan
Kehilangan waktu menyanyikan irama kehidupan
Karena tahun-tahun yang beterbangan
Telah dilepas sebagai kenangan kepada anak-anak hutan

Dan aku pun mesti mengaji
Tahun dua ribu empat puluh
Bumi masih menyimpan jati diri!

Banjarbaru, April 1994

Tentang Penyair



Ariffin Noor Hasby lahir di Marabahan, Barito
Kuala, Kalimantan Selatan. Puisinya dipublikasikan di Banjarmasin Post, Dinamika Berita, Media Masyarakat, Barito Post, Radar Banjarmasin, Swadesi, Pelita, Angkatan Bersenjata, Berita Nasional, Yogya Pos, Tabloid Cempaka (Semarang), Pikiran Rakyat (Bandung), Majalah Mitra, Estafet, Anita Cemerlang, Ceria, HAI, Annida, Sabili, Darma Wanita, dan Majalah Sastra BAHANA (Brunei Darussalam, serta dibacakan di Radio Suara Jerman Deutsche Welle, juga siaran Untaian Mutiara Sekitar Ilmu dan Seni (UMSIS) RRI Banjarmasin. Puisi-puisinya juga termuat dalam antologi bersama. Penyair produktif ini menerbitkan kumpulan puisi "Kota yang Bersiul" (2012), "Salawat Laut" (2013), dan "Rumah Lanting" (2017). 

Biografi kepenyairannya tercatat dalam "Buku Pintar Sastra Indonesia" (Editor Pamusuk Eneste, Kompas, 2000), "Leksikon Susastra Indonesia" (Editor Korrie Layun Rampan, Balai Pustaka, 2000), "Ensiklopedi Sastra Indonesia" (Editor Hasanuddin WS, Bina Ilmu, 2004), "Ensiklopedia Sastra Kalimantan Selatan" (Balai Bahasa Banjarmasin, 2008), dan dalam buku "Apa dan Siapa Penyair Indonesia" (Penerbit: Yayasan Hari Puisi, Jakarta, 2017)
-------------------------------------------------------

Sumber tulisan dan foto penyair: Meratus (Nyanyian Rindu Anak Banua)

Sumber ilustrasi: Pixabay



Sunday, April 11, 2021

Salam Rimba Belalong Buana (Sajak Ini Terpilih Menerima Hadiah Kreatif Bahana 1996)


Karya Mohamad Rajab (Brunei Darussalam)

Jika kaudatang ke sini
pasti tercium wangi rimba
hutan Tropika Belalong Buana,

Jika kaudatang ke sini
pasti badanmu berbau rimba
nafasmu sungai rimba
rambutmu akar rimba
matamu buah rimba
kakimu pasak rimba
tanganmu dahan rimba
jarimu ranting rimba
hatimu wangi rimba
Belalong Buana.

Jika kaudatang ke sini
pasti kaudengar lagu rimba raya
lagunya rimba buana
iramanya wangi raya
getarnya setinggi sukma ria.

Jika kaudatang sini
datanglah datang
datanglah dengan salam rimba
datanglah dengan tertib
datanglah dengan sopan
datanglah dengan santun.

Jika kau nak turun
turunlah turun
turunlah dengan perlahan
turunlah dengan sopan
lalu
kaurebahkanlah badanmu
ke dada flora fauna
di jantungku ada cinta rimba menganga
di hatiku ada wangi rimba menyala
di mataku ada buah rimba menyirna
di kakiku ada pasak rimba gagah perkasa.

Jika kau nak pulang
pulanglah pulang
pulanglah dengan salam rimba
setanggi dupa flora fauna.

Hutan Tropika Belalong Buana
menyimpan sejuta rahsia rimba raya
ciptaan Tuhan Maha Kuasa.

Belalong ... Belalong oh ... Belalong
Kuala Belalong Belalong Buana.

16--18 November 1995
Pondok Lesong Kuala Belalong Field Studies Centre



Tentang Penyair



Anjung Seri Buana, M.A. Husna, Teratak Husna dan Jubah Hitam adalah antara nama pena yang pernah digunakan oleh Awang Mohammad bin Rajab. Lahir di Kuala Belait. Berkelulusan ijazah sarjana sastera kepujian dalam Pengajian Melayu, Universiti Malaya (1882--1985) dan Diploma Pendidikan, Universiti Kebangsaan Malaysia (1986--1987). 

Sekarang berkhidmat di Jabatan Sekolah-sekolah, Kementerian Pendidikan sebagai Pegawai Pelajaran Kanan. Mohammad Rajap mula berkarya sekita tahun 1960-an dalam bidang puisi dan kritik sastera, kebanyakan karya beliau tersiar dalam akhbar Borneo Bulletin, Radio Brunei, Majalah Sekolah dan Bahana. Karya Mohammad Rajap juga pernah diterbitkan dalam antologi puisi
bersama Kosovo Bilakah Langitmu kembali Biru (2000), Kembara Merdeka Dua Dekad Meniti Usia (2004) dan Episod Tsunami: Peringatan Ilahi Sebuah Iktibar dan Pengajaran (2005), karya perseorangan Kumpulan Puisi Gamitan Anjung Sri Buana (2007), terbitan Dewan Bahasa dan Pustaka Brunei. 

Selain aktif berkarya, Mohammad Rajab juga merupakan seorang pendeklamator puisi yang
berpotensi. Beliau pernah diundang untuk mendeklamasi puisi dalam kegiatan
kesusasteraan, kebudayaan, kenegaraan dan keagamaan. Di samping itu, beliau
juga sering dilantik selaku panel hakim dalam pertandingan/peraduan seperti penulisan syair, sajak, pantun, pidato, bahas, nasyid, lagu-lagu dakwah koir, mendeklamasi puisi dan panel penilai drama tv sama ada peringkat daerah dan negara.
-------------------------------------------------

Sumber tulisan dan foto: Majalah Sastra Pusat
Sumber ilustrasi: Pixabay