![]() |
| Ilustrasi: Pixabay |
Konon, pada zaman dulu, di lereng Gunung Banyu ada sebuah negara bernama Pajakiya. Alamnya sungguh memukau hati. Tampak begitu hijau dengan aneka tambang di dalamnya.
Tak ayal banyak orang asing datang mencari keuntungan di sana. Mulai dari rempah-rempah hingga emas. Mereka yang datang dari luar itu bukan membeli, melainkan mengambil segala kekayaan milik negara tersebut tanpa harus terlebih dahulu menggunakan kekuatan militer.
Ya, negara itu dipimpin oleh antek asing. Dengan kata lain, presidennya merupakan anak buah atau orang suruhan dari negara lain yang adidaya. Kok bisa? Tentu saja bisa. Caranya? Dalam pemilihan presiden yang tidak adil, sang antek asing itu dimenangkan oleh negara adidaya tersebut dengan cara penghitungan curang. Alhasil, angka kemenangan selalu ada padanya.
Setelah menjadi presiden, segala program pemerintah yang dijalankannya merupakan perintah dari sang majikan, yakni presiden negara adidaya itu. Tidak ada yang prorakyat. Semuanya proasing. Uang negara digunakan untuk hal-hal yang tiada bermanfaat bagi bangsa. Setelah anggaran negara habis, sang presiden boneka diperintahkan untuk berutang. Utang pun kian hari semakin menggunung. Lantas siapa yang wajib membayarnya?
Rakyat lah jawaban dari pertanyaan di atas. Sejak lahir, rakyat di sana sudah dibebani dengan utang yang mencekik. Sedang pendapatan rakyat kian susah diperoleh meski dengan cara yang dikategorikan haram.
Menyikapi situasi dan kondisi tersebut, rakyat mulai bereaksi. Demonstrasi demi demonstrasi digelar dengan tuntutan yang sama, yakni agar pemerintah benar-benar menjalankan amanat rakyat dan jangan tunduk kepada asing. Akan tetapi, presiden boneka tersebut malah mengejek rakyat dengan kata-kata dan gestur mengolok-olok. Misalnya dia mengatakan "Nyinyir, nyinyir, nyinyir" yang sangat melukai jiwa rakyat di sana saat itu.
Pada kesempatan yang lain, dirinya menjawab kritik dengan playing victim. Dia menyatakan telah diserang. Dirinya adalah korban dalam drama yang dibuatnya sendiri. Aslinya tidak ada yang menyerangnya. Yang ada adalah kritik membangun yang disebunya sebagai serangan.
Dan, tindakan memusuhi rakyat tersebut terus saja dilakukannya dari waktu ke waktu hingga pada akhirnya dia ditembak mati oleh salah seorang penembak jitu yang misterius.














