Wednesday, May 20, 2026

Solar Murah, Gudang Es, SPBU, atau Rumah Nelayan?

Foto: Pixabay 

Jika Anda adalah seorang nelayan, pilihan akan jatuh di nomor berapakah pada.judul di atas?

Ya, bisa jadi jawaban Anda akan sama dengan nelayan-nelayan lainnya. Atau, bisa juga berbeda. Sebutlah misalnya Anda memilih rumah dengan alasan tertentu, maka ada kemungkinan nelayan lain akan memilih solar yang murah. Dan, belakangan, Indonesia diramaikan dengan sebuah kata, yakni "solar" ketika dikaitkan dengan dunia nelayan.

Ketersediaan solar dengan harga murah pastinya menjadi harapan setiap pencari ikan di laut. Betapa tidak? Logikanya untuk bisa melaut diperlukan solar. Tanpa benda cair itu, para nelayan hanya bisa berada di daratan. Pertanyaan mendasarnya, akan makan apa mereka kalau tak bisa melaut? Menjadi kuli bangunan? Itu pun kalau saat ada rumah yang perlu diperbaiki atau akan dibangun. 

Selain nelayan, konsumen ikan juga akan kesusahan mendapatkan ikan segar yang murah saat para nelayan tidak melaut.

Jadi, solar sangatlah dibutuhkan dalam dunia ikan laut. 

Nah, jika kita runut alur kehidupan nelayan sehari-hari, secara mudah dapat kita pahami dengan adanya solar murah, mereka dapat mencari ikan di laut. Setelah di daratan, ikan hasil tangkapan mereka laku dan uangnya untuk kebutuhan sehari-hari, baik sandang, pangan, maupun papan.

Artinya, solar menjadi kebutuhan utama untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan lainnya dalam kehidupan para nelayan. Oleh karenanya, sangat ideal bagi pemerintah selalu bisa menyediakan solar murah khusus untuk para nelayan. Penyediaan solar murah tidak harus dengan pendirian SPBU di setiap desa nelayan. Cukup dengan distribusi yang lancar, solar akan dapat dengan mudah didapatkan dan digunakan para nelayan untuk mencari ikan di laut.


Tuesday, May 19, 2026

Negara yang Kalah Melawan Mafia Pangan

Ilustrasi: Pixabay 

"Song!"

"Ya?"

"kamu pernah dengar ga kalau ada sebuah negara yang kalah melawan mafia pangan?"

Beberapa waktu Wang tampak menunggu temannya yang cantik itu menjawab pertanyaannya tersebut. 

"Pernah ga?"

Song menggeleng. 

"Serius tidak pernah?"

"Serius. Setahuku setiap negara memiliki kekuatan militer, baik di darat, laut, maupun udara. Jadi, mana mungkin ada mafia pangan yang bisa mengalahkan sebuah negara?"

"Yang kamu katakan memang masuk akal. Tetapi, ada lho sebuah negara yang benar-benar dikalahkan mafia pangan."

"Ah, serius kamu?"

Wang mengangguk.

"Negara mana yang seperti itu?"

"Di Asia juga. Dalam pemberitaan yang aku baca tadi pagi, menteri pertaniannya mengatakan bahwa tata kelola minyak goreng di negara itu sulit dikendalikan akibat ulah mafia pangan sehingga harga minyak goreng domestik tetap kerap mengalami kenaikan."

"Wah parah banget itu. Seharusnya mafia pangan bisa ditaklukkan sehingga tidak bisa lagi berulah di sana."

"Benar katamu. Jujur saja, aku kasihan kepada rakyat di sana. Mereka harus membeli minyak goreng dengan harga tinggi."

*** 

WNI Ditahan di Negara yang Dijamin Presiden RI Keamanannya

Ilustrasi: Pixabay 

Kata Presiden Prabowo Subianto, '"Saya juga terang-terangan mengatakan perdamaian hanya bisa datang kalau semua orang mengakui, menghormati, dan menjamin keamanannya Israel." 

Perkataan di atas sebenarnya merupakan dukungan penuh kepada negara Israel yang jelas-jelas merupakan negara penjajah. Ya, fakta di lapangan menunjukkan bahwa yang membuat tidak ada perdamaian di Timur Tengah adalah Israel. Jadi, sejatinya untuk menciptakan perdamaian di sana hanya dapat dilakukan dengan menghancurkan Israel. Bukan malah mengakui, menghormati, dan menjamin keamanan negara penjajah. Dan, dengan mendukung Israel, berarti mendukung pula penjajahan di muka bumi. Ini sama halnya ketika Indonesia belum merdeka dan dukungan penuh mengalir kepada negara penjajah, baik Belanda, maupun Jepang. 

Terkait hal di atas, agaknya tidak mungkin jika Presiden Prabowo Subianto langsung menemui Benyamin Netanyahu untuk membebaskan sembilan warga WNI yang ditahan Israel. 

Kesembilan warga negara Indonesia tersebut tergabung dalam misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla yang menuju Gaza, Palestina. Mereka terdiri atas lima aktivis dan empat jurnalis. 

Meski demikian, Kemenlu RI sedang berkoordinasi dengan KBRI Ankara, KBRI Roma, Kairo, KBRI Amman, dan KJRI Istanbul, serta melakukan pendekatan kepada otoritas setempat untuk memastikan akses transit pemulangan kesembilan WNI jika sudah dibebaskan Israel tanpa hambatan keimigrasian. 


Monday, May 18, 2026

Koperasi Pemerintah Versus Warung Tetangga

 

Ilustrasi: Pixabay 

Warung tetangga tentu saja dimaknai sebagai warung sederhana yang berisi beragam barang kebutuhan sehari-hari yang dijual kepada masyarakat luas. Kepemilikannya bisa perorangan, bisa juga lebih daripada satu orang. Selain menjual barang-barang produksi pabrik besar, barang-barang produksi rumahan juga dijual di warung tersebut. 

Contoh produk rumahan yang dimaksud di atas seperti, kacang goreng, aneka krupuk, kue donut, dan camilan lainnya yang dikemas dalam plastik sederhana. Terkadang di warung tetangga juga dijual aneka sayuran hasil kebun warga setempat.

Keberadaan warung tetangga menjadi salah satu motor penggerak roda perekonomian rakyat. Selama ini yang menjadi pesaing warung tetangga adalah ritel-ritel modern semisal Indomaret. Dengan luas bangunan yang melebihi warung tetangga, ritel modern ini dapat menampung barang lebih banyak. Mereka memiliki Indomarco, yakni perusahaan pengelola jaringan ritel Indomaret.

Rantai distribusi ritel modern yang demikian jelas sangat memperlancar usaha mereka. 

Nah, akhir-akhir ini pemerintah mendirikan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP). Salah satu unit usahanya berupa toko besar mirip Indomaret dan Alfamart. Toko KDMP tersebut digadang-gadang dapat membantu masyarakat produsen menjual produk mereka. Namun, ternyata di lapangan ada KDMP yang tertangkap tangan melakukan aktivitas yang berkebalikan. Ya, mereka memasok barang langsung dari perusahaan pengelola jaringan ritel Indomaret.

Temuan itu sungguh sangat mengecewakan. Betapa tidak? Yang semula KDMP diharapkan dapat membantu produsen lokal, ternyata malah membantu pabrik-pabrik besar. Ini namanya sama saja dengan ritel modern. Dengan kata lain, toko milik KDMP merupakan pesaing warung tetangga. 

Sekarang, masyarakat tinggal pilih, mau belanja di warung tetangga atau ritel modern KDMP. Pilihan ada pada Anda.


Menyapa Rakyat Versus Prorakyat

Ilustrasi: Pixabay 

Belakangan heboh di jagat Indonesia bahwa Presiden Prabowo Subianto menginginkan mobil kepresidenan berbahan kaca. Dalam hal ini PT Pindad yang mendapatkan tugas untuk membuatnya. 

Jika ditanya tujuannya untuk apa, jawabannya adalah agar memudahkannya menyapa rakyat saat sedang mengadakan kunjungan di daerah. Ia ingin ada kursi untuknya duduk, tapi diidesain agar seolah-olah dirinya sedang berdiri menyapa rakyat.

Pertanyaan berikutnya, seurgen itukah menyapa rakyat dengan gaya yang demikian? Padahal cukup dengan membuka kaca jendela lalu melambaikan tangan ke arah rakyat atau berhenti untuk menjabat tangan rakyat dengan hangat.

Dan, sebenarnya ada yang lebih penting dan sangat dinantikan rakyat Indonesia daripada sekadar menyapa, yakni seluruh kebijakan pemerintah prorakyat. Ya, mulai dari kebijakan pemerintah yang berkerja untuk menurunkan harga sembako, memperbesar subsidi di semua sektor kehidupan khususnya subsidi BBM, pendidikan gratis di sekolah umum (bukan sekolah rakyat) sampai perguruan tinggi, perbaikan sarana dan prasarana yang rusak, pengurangan pajak, pelestarian hutan untuk kelangsungan hidup rakyat pedalaman dan perkotaan, hingga penciptaan lapangan pekerjaan secara luas, 

Artinya, segala yang dilakukan presiden haruslah sampai di akar permasalahan yang masih melanda negeri ini. Bukan sebatas pada kulit luar saja. Sebab, rakyat sejahtera adalah yang utama. 


Sunday, May 17, 2026

Pemerintah Resmikan Baskom dan Seutas Tali Menuju Sekolah?

Ilustrasi: Pixabay 

Baskom dan seutas tali menjadi dua benda yang digunakan sebagian siswa di Indonesia untuk menuju sekolah. Ya, lebih tepatnya saat menyeberangi sungai sebagian siswa ada yang menggunakan baskom dan sebagian lagi menggunakan seutas tali.

Pertama, baskom dijadikan pengganti perahu. Anak-anak sekolah secara terpaksa duduk di dalam baskom. Lalu dengan tangan kosong, mereka mengayuhnya. Ini tentu butuh keseriusan dan keseimbangan agar baskom tidak terbalik.

Kedua, sebagian siswa menit seutas tali di atas sungai sebagai alat penyeberangan. Ini sangat membutuhkan kekuatan fisik dan keberanian tingkat tinggi.

Nah, pertanyaannya, apakah Pemerintah Indonesia seharusnya segera meresmikan baskom dan seutas tali sebagai benda penyeberangan untuk  sampai di sekolah? 

Idealnya adalah ya. Mengapa? Jawabannya mudah karena fakta di lapangan memanglah demikian. Para siswa tersebut tidak menyeberangi sungai dengan jembatan beton atau kayu, melainkan dengan kedua benda itu meskipun sangatlah berbahaya. 


Swasembada Pangan Jaminan Rakyat Tidak Lapar?

Foto: Pixabay 

Apakah dengan swasembada pangan membuat beras dan makanan lainnya menjadi gratis? 

Agaknya itu jauh dari harapan. Ketika pemerintah berkoar-koar bahwa Indonesia swasembada pangan, makanan tetaplah berbayar.

Lalu jika tidak gratis, apakah harga makanan di pasaran turun? Jawabannya malah naik.

Lantas, apa benar kita swasembada pangan?

Konon, ketika terjadi swasembada pangan, maka setidaknya dampak positif yang sampai di masyarakat adalah harga makanan seperti beras pasti turun.

Dengan kondisi di lapangan yang bertentangan dengan klaim pemerintah soal swasembada pangan tersebut, mungkinkah rakyat akan terbebas dari kelaparan? 

Jawabannya pastilah tidak. Sebagai contoh, para pekerja harian, sebutlah tukang bangunan, saat mereka tidak mendapatkan pekerjaan membuat atau memperbaiki rumah, tentu tidak memiliki uang untuk membeli beras. Selanjutnya, mereka lapar. Dan, pertanyaan yang paling sederhana, apa wujud tanggungjawab presiden saat mereka lapar?