Saturday, April 25, 2026

Korupsi Itu Budaya, Tidak Ada Hukumannya

 

Ilustrasi: Pixabay

Tak ada rotan akar pun jadi. Tak bisa korupsi besar-besaran, kecil-kecilan pun pasti. Terpenting bisa korupsi. Sebab, korupsi adalah budaya yang mengakar sejak dulu kala. 

Budaya, selalu baik di mata pelakunya, termasuk korupsi bagi koruptor. Kalau di luar dari komunitas mereka, orang-orang pasti menyebutnya sebagai bencana. Ya, bisa dikatakan ruang budaya korupsi tidaklah mencakup semua orang, meskipun tidak terbatas negara. Budaya ini lintas segalanya di dunia global. Artinya, jika dalam jiwa pelakunya terus membudayakannya, maka korupsi pasti akan terus ada. 

Budaya korupsi tidak memandang gaji dan apa pun juga. Orang-orang yang bergaji tinggi, misalnya, tetap saja melakukan korupsi selama dirinya berbudaya korupsi. Contohnya? Banyak kasus korupsi di Indonesia yang pelakunya merupakan pejabat. 

Dan, yang namanya budaya, tentu saja tidak ada hukumannya. Sesama pelaku budaya ini sudah dipastikan akan saling melindungi. Sebutlah misalnya, hakimnya berbudaya korupsi, para terdakwa korupsi pasti tidak mendapatkan hukuman. Karena mereka hiidup di negara umum, dibuatlah hukuman formalitas. Bisa dua tahun, tiga tahun, bisa juga lebih tinggi lagi, tapi tidak terlalu tinggi. Dalam pelaksanaannya, narapidana kasus korupsi tidak menempati sel, melainkan bebas diam-diam. 

Wow! Begitulah budaya korupsi! 


MBG Bukti Rakyat Indonesia Super Miskin?

Ilustrasi: Pixabay

Orang super miskin tak punya banyak uang. Jangankan beli barang-barang sekunder yang bekas, ngasih makan anak saja tidak mampu. Itulah sebabnya, anak-anak orang super miskin dikasih makan orang-orang berduit atau oleh pemerintah. 

Agaknya gambaran singkat orang-orang super miskin ya seperti itu. Benar, persis di Indonesia. Anak-anak sekolah dikasih menu makan bergizi gratis (MBG). Ya, GRATIS. 

Kata "gratis" membuktikan bahwa seluruh anak sekolah di negeri ini adalah anak orang-orang super miskin. Mereka kelaparan. Mereka tidak mampu membeli makanan. Mereka sekarat. Mereka sangat memperihatinkan. TRAGIS! 

Pertanyaannya, apakah benar demikian? 

Tentu saja tidak. Mereka anak-anak orang mampu. Buktinya, mereka mampu membayar biaya sekolah. Ingat! Sekolah tidak gratis. Sekolah itu berbayar. Bahkan, untuk bisa terus belajar di sekolah, para siswa dipungut sumbangan sana-sini yang memberatkan pihak siswa. 

Lantas, apakah MBG salah? Tidak tepat sasaran? Banyak pihak mengatakan lebih baik dikembalikan seperti dulu, yakni beasiswa kurang mampu. Bagi anak-anak yang memang orang tua mereka berpenghasilan kurang, maka mereka layak mendapatkan uang bantuan. 

Sebagian pihak yang lain berpendapat idealnya pemerintah membantu para orang tua dalam hal pekerjaan. Sehingga, mampu menyekolahkan dan memberikan makanan bergizi yang sesungguhnya. Zaman era Orde Baru, misalnya, pemerintah saat itu membantu masyarakat dalam hal pekerjaan seperti program transmigrasi. 

Intinya, banyak sekali pihak yang menghendaki agar dana MBG dialihkan kepada upaya pemerintah membantu masyarakat termasuk para orang tua siswa agar bisa mandiri secara ekonomi. 


Friday, April 24, 2026

Jemaah Sumbang Barang Ketika Kas Masjid Dikelola Pemerintah

Ilustrasi: Pixabay

Ini kejadian seribu tahun lalu di sebuah negara terkorup sedunia. Saking rakusnya, pemerintah negara tersebut membuatkan rekening tunggal di bank untuk setiap masjid secara keseluruhan. Orang-orang tamak itu tergiur dengan uang infak yang jumlahnya sangat fantastis. 

Mengetahui akal busuk pemerintah tersebut, seluruh jamaah langsung tidak setuju. Alhasil, celengan diganti dengan ruangan besar. Para jemaah ada yang memberikan paku, semen, dan barang lainnya ketika masjid mereka akan ada perbaikan. Bahkan, mereka pula yang menyediakan para pekerjanya.  

Untuk keperluan lain pun, seperti menu berbuka puasa bersama, pihak masjid langsung menerima makanan dan minuman siap saji dari para jemaah. 

Dengan kecerdasan para jemaah di sana, pemerintah Negara Republik Sen La Nah akhirnya gigit jari alias mati kutu. Selang beberapa tahun kemudian, negara berlambangkan piring cokelat itu bangkrut dan tutup permanen. 

Begitulah jadinya jika pemerintahan dipegang oleh orang-orang yang penuh dosa. Mereka tentu tidak akan berhenti berbuat dosa, kecuali tobat tidak lagi menjadi ahli dosa. Dan, idealnya rakyat wajib cerdas agar tidak dikadalin mereka. 

Sekadar informasi, setelah tutup permanen, rakyat bersatu padu membukanya kembali dengan pemerintah yang baru. 

(Cerita di atas hanya fiksi. Jika ada kesamaan kasus, itu hal biasa. Tidak usah diributkan) 

Thursday, April 23, 2026

Pajak, Pajak, Pajak, Jalan-Jalan, dan....

Sumber Foto: Pixabay

Di sebuah negeri, tepatnya di sebelah Gunung Pohinta, hiduplah seorang raja. Namanya Sau Kuarah Ansi. Dirinya naik tahta sejak usia muda. Ya, sepeninggal ayahnya yang tewas saat hendak mengusir sekawanan gajah di lereng gunung, dirinya dinobatkan sebagai raja di sana. 

Kerajaan yang sebenarnya kaya raya akan sumber alamnya itu sudah lama bernasib sial. Karena kalah perang melawan kerajaan lain, maka kerajaan yang bernama Kang Mendung itu terpaksa miskin. Benar, terpaksa. Bagaimana tidak? Di sana kaya emas, nikel, ikan, dan sebagainya, tapi dikuasai kerajaan asing. 

Sumber daya alamnya yang melimpah ruah menjadi tak berarti karena keadaan tersebut. Untuk mencukupi kehidupan di sana, pajak yang beragam dikenakan kepada seluruh rakyat. Mulai pajak penghasilan, pajak bumi dan bangunan, pajak hadiah, pajak pembelian, pajak penjualan, hingga pajak warisan. 

Selain itu, utang luar negeri menjadi santapan umum di kerajaan ini. Sedangkan berbagai usaha milik istana kurang dioptimalkan. Usaha -usaha yang meliputi pabrik semen, maskapai penerbangan, pariwisata, dan banyak lagi selalu merugi. 

Nah, yang anehnya, sang raja tidak peduli dengan kondisi perekonomian yang kian terpuruk di sana. Meski defisit anggaran, Raja Sau Kuarah Ansi hidup dengan boros. Misalnya, dirinya sangat senang melakukan lawatan demi lawatan di kerajaan-kerajaan lain. Tentu saja hal itui menelan biaya yang tidak sedikit dan yang menanggungnya adalah rakyat melalui pajak. 

Rakyatnya pun semakin tidak senang kepadanya. Sebagian kaum terpelajar terus mendorong adanya upaya mengganti dirinya dengan pangeran yang lain. 

Untuk mengamankan posisinya sebagai raja, maka ia melakukan pembungkaman terhadap para pengamat pemerintahannya. Kebebasan berpendapat dan lainnya yang dianggap dapat membahayakan kian dibatasi. 

Alhasil, suasana kehidupan, termasuk di lapisan bawah semakin tidak nyaman. Mereka seakan hidup dalam penjara yang sangat besar. Dan, harapan demi harapan dari hari ke hari terasa kian jauh untuk dapat digapai. 

Dengan kenyataan pahit seperti itulah, rakyat bersatu untuk bangkit. Bukan lagi sekadar kata-kata, melainkan sudah di level aksi nyata di lapangan. Siang malam mereka terus beraksi hingga pada suatu hari sang raja berhasil mereka lengserkan dari singgasananya. 


Indonesia Niru, Ditolak Malaysia dan Singapura

Ilustrasi: Pixabay

Hidup itu kalau bisa jangan suka niru. Berkreasilah meski sedikit. Dan, jika pun terpaksa niru, ya kreasikan agar tidak sama mutlak dengan yang ditiru. 

Agaknya benar saja kata-kata di atas. Hal tersebut berlaku dalam tataran terendah hingga tertinggi. Dalam dunia internasional, saat ini santer kata "tarif". Kata itu booming setelah Iran berencana memungut tarif di Selat Hormuz. 

Nah, pengenaan tarif inilah yang akan ditiru Indonesia di Selat Malaka. Akan tetapi, secara tegas Malaysia dan Singapura menolaknya. Pihak Malaysia melalui menteri luar (menlu) negerinya, Mohamad bin Hasan, mengatakan bahwa Selat Malaka adalah tanggung jawab bersama empat negara pantai. Tidak bisa dilakukan secara sepihak olah satu negara saja. Semua keputusan diambil bersama. 

Sejurus dengan Malaysia, Menlu Singapura--Vivian Balakrishnan--menyatakan bahwa prinsip kebebasan navigasi adalah hal mutlak. Itulah sebabnya, mereka tidak akan mendukung upaya pembatasan atau pungutan di Selat Malaka. 

Dengan demikian, langkah Indonesia untuk mendapatkan cuan dari Selat Malaka pun gagal. Semoga Pemerintah Indonesia mendapatkan ide lain guna meningkatkan pendapat negara. Sehingga, pajak rakyat dapat diperkecil agar kemakmuran yang berkeadilan sosial bisa diwujudkan. 

Indonesia akan Diserang?

Ilustrasi: Pixabay

Setiap pagi udara sejuk tetap betah di desa-desa. Para penduduk terlihat asyik menikmati seduhan kopi dan camilan sederhana. Di kota, banyak penjual kue dan nasi bungkus  pinggir jalan raya. 

Semua aktivitas itu tampak berjalan normal. Tidak ada desas-desus akan ada serangan. Ya, Indonesia aman dari ancaman militer. Tidak ada negara mana pun yang berencana menggempur bumi nusantara. 

Indonesia lebih cenderung diserang secara ekonomi yang berdampak pada kemiskinan. Bahkan, negara sedang mengalami defisit anggara. Pengeluaran belanja negara lebih besar daripada angka pendapatan yang diterima. Sehingga, utang demi utang kepada luar negeri kian bertambah. 

Itulah sebabnya, Pemerintah Indonesia idealnya lebih fokus pada upaya meningkatkan pendapatan negara, khususnya di luar pajak. Jika hanya bertumpu pada pajak, pastinya mustahil akan lebih baik karena pendapatan sebagian rakyat juga sedang tidak baik-baik saja. Sebutlah contohnya pekerja bangunan yang kian susah mendapatkan jatah kerja dari para pemborong. 

Di samping itu, pengeluaran negara harus dikurangi. Program makan bergizi gratis, misalnya, kalau bisa dihentikan. Program ini bukan hanya memakan anggaran di bagian dapur, tetapi juga pengadaan kendaraan bermotor, laptop, tablet, bahkan kaos kaki. 

Begitu pula perjalanan dinas presiden ke luar negeri juga perlu dikurangi demi menghemat pengeluaran anggaran negara. 

Nah, pertanyaan sederhananya, apakah hal mudah seperti di atas bisa diwujudkan?


Wednesday, April 22, 2026

Rakyat Sedih Presiden Prabowo Larut ke Budaya Modern Korea Selatan?

Foto: Pixabay

Rakyat mana yang sedih? Bagi K-Popers, ini sebuah berkah. Benar-benar kebahagiaan luar biasa. Pasalnya, Presiden Prabowo Subianto berkeinginan untuk meningkatkan jumlah gelaran konser K-Pop di Indonesia. Ya, akhirnya ada Presiden Indonesia yang ke asing-asingan. Sungguh kemajuan berpikir yang jauh ke depan. Sebab, jika tidak demikian, Indonesia susah majunya. Asing wajib ditiru dan diidolakan. 

Informasi terkait konser ini disampaikan oleh Menteri Luar Negeri, Sugiono, dalam konfrensi pers di Kompleks Istana, Jakarta, Rabu (22/4/2026). 

Tentu saja keinginan Prabowo ini merupakan bentuk kerja sama setelah lawatannya di Negeri Ginseng beberapa waktu lalu. 

Korea Selatan memang aktif dalam hallyu atau Korean wave di banyak negara, termasuk Indonesia. Dalam kaitannya dengan hal tersebut, Korea Selatan tidak hanya ingin artis-artis mereka konser, tetapi juga bisa aktif di negara-negara lain. Sebutlah menjadi bintang iklan produk lokal negara target. 

Di Indonesia sendiri, artis Korea Selatan yang sudah berhasil menjadi bintang iklan, seperti Siwon dari Boyband Super Junior. Sementara yang berhasil menggandeng artis ndonesia adalah Eru. Penyanyi Korea Selatan yang bernama lahir Jo Sung Hyun ini pernah menjadi teman duet pelawak Sule. 

Lantas bagaimana dengan sebagian rakyat Indonesia yang berjuang melestarikan budaya lokal?