Friday, May 22, 2026

Jika Presiden Kita Warga Negara Asing Pasti Keren

 

Ilustrasi: Pixabay 

"Kalau udah tuwir, sama aja bo-ong."

"Eh tunggu dulu. Andy Lau masih keren lho meski udah kepala enam."

"Nanggung amet lu. Kenapa ga sekalian Lee Min-ho atau Siwon aja?"

"Bener. Selain muda, kegantengan mereka benar-benar bikin hati meleleh."

"Tua muda boleh lah asal ngga gendut."

"Eh cowok gendut itu bikin hepi tauuu. Gimana ya njelasinnya? Pokoknya keren abis deh kayak Kim Jong-un dengan perut buncitnya yang aduhai."

Seketika tawa gadis-gadis itu pecah tanpa batas.

"Bye the way,  mungkin ga sih suatu waktu kelak presiden kita warga negara asing yang keren?"

"Kata guwa, mungkin banget. Liat aja sekarang, warga negara Australia, Luke Thomas Mahony, ditunjuk sebagai Direktur Untuk PT Danatara Sumberdaya Indonesia. So, lambat laun presiden kita bisa aja WNA."

"Betul banget kata lu. Guwa setuju seribu persen. Coba kalian pikir, Indonesia kurang apa coba? Para ahli banyak, tapi yang jadi dirut malah orang asing dengan segala alasan. Nah, kelak pun ada kemungkinan besar kita bakal memiliki presiden kek gitu juga. Semoga aja ganteng dan ngangenin."

"Terus dia bakal bawa anak, ponakan, dan para keluarganya yang lain dengan kegantengan super duper mantap untuk dijadiin pejabat di negara kita."

"Duuuuuh udah ga sabar deh punya presiden dan para pejabat WNA.yang bikin semangat hidup guwa menggebu-gebu."

"Kapan ya?"

"Besok!" 

Dan, sekali lagi tawa mereka pecah tumpah ruah di sana.

***




Presiden Bernurani Pasti Menolak Zionisme

Ilustrasi: Pixabay 

Ya, meski seorang penganut Yahudi sekalipun, pastilah presiden tersebut menolak gerakan politik zionis. Sebab, Zionisme sama sekali tidak bernurani dan juga tidak mewakili orang Yahudi. Gerakan politik ini banyak dipengaruhi imperialisme Eropa. Itulah sebabnya, bisa dikatakan orang-orang zionis merupakan para penjajah perebut tanah bangsa lain secara permanen dan sangat kejam.

Nah pertanyaannya, bagaimana kalau ada seorang presiden yang dikenal sebagai seorang muslim, tetapi mendukung Zionisme? 

Mungkin banyak orang berpikir mustahil seperti itu. Namun, faktanya ada. Bahkan, presiden tersebut menjamin keamanan Israel (negara zionis). 

Atau, mungkinkah diam-diam dirinya seorang Yahudi yang sekaligus juga bagian dari Zionisme seperti Presiden Benyamin Netanyahu? 

Kemungkinan apa pun bisa jadi benar adanya. Yang pasti, dirinya tak bernurani. Bagaimana bernuranii? Jelas-jelas Israel menjajah Palestina dengan sangat kejam malah dia dukung. 

Ini jauh berbeda dengan Presiden Korea Selatan yang begitu mendukung penuh penangkapan Presiden Israel, Benyamin Netanyahu. 

Sebagai seorang presiden, Lee Jae-myung tak habis pikir, bagaimana bisa Israel menyita, menangkap, dan menahan kapal negara ketiga yang membawa relawan termasuk warga Korea Selatan yang bermaksud mengirimkan bantuan kemanusiaan kepada rakyat Palestina. 

Sekadar informasi tambahan, tentara Israel menangkap para relawan armada bantuan kemanusiaan Global Sumud Flotilla yang di dalamnya juga ada warga negara Korea Selatan dan Indonesia saat mereka menuju Gaza antara tanggal 18--20 Mei 2026. 

Thursday, May 21, 2026

Agen Asing sebagai Musuh Semu Ciptaan Pemerintah

 

Ilustrasi: Pixabay 

"Kamu agen asing ya?"

"Kok kamu nuduh aku kek gitu sih?"

"Yaaaa soalnya kamu vokal banget ngritik pemerintah."

"Aneh kamu. Masa sih gara-gara aku ngritiik pemerintah langsung dikira agen asing?"

"Siapa tahu aja."

"Emang kamu dapat pemikiran kek gitu dari mana?"

"Dari pemilik akun-akun di medsos."

"Apa kata mereka?"

"Agen asing berseliweran mengkritik pemerintah. Misalnya pecinta lingkungan hidup dan pembela hak asasi manusia."

"Kamu udah cek pemilik akun-akun itu sebenarnya siapa?"

Pardio menggeleng sambil menatap sepasang mata pacarnya itu.

"Gini-gini, aku jelasin. Pertama, aku ngritiik pemerintah karena mereka mengenai pajak untuk buku-buku fiksi. Kamu, 'kan tahu aku seorang novelis. Wajar kalau aku ngritik. Soalnya, dengan pajak seperti itu, harga buku karyaku di toko buku jadi naik dan imbasnya penjualannya lesu."

"Terus yang kedua?"

"Kedua karena pemerintah antikritik. Nah, soal agen asing itu sebenarnya ya wujud dari sikap pemerintah yang maunya sesuka hati tersebut. Mereka tidak mau rakyat kritis. Itulah sebabnya, mereka memfitnah para aktivis di semua sektor dengan istilah agen asing.."

"Tujuannya?"

"Sangat jelas, yakni supaya masyarakat membenci dan menghindari semua perkataan dari para pengkritik pemerintah. Dalam hal ini diharapkan masyarakat luas langsung berpikir bahwa kritik yang ditujukan ke pemerintah dibangun atas dasar kepentingan politik semata."

Kali ini pria berambut cepak itu terdiam.

"Udah paham, 'kan sekarang?"

"Ya. Kesimpulannya pemerintah sengaja membangun musuh semu dengan nama agen asing untuk melanggengkan kekuasaan mereka dan agar bisa bertindak sebebas-bebasnya."

Park Ji-won terlihat tersenyum.

Keduanya lalu sama menikmati ramyeon yang baru saja tersaji di sebuah meja rumah makan sore itu.

***

Tidak Selamanya Generalisasi oleh Presiden Benar?

Ilustrasi: Pixabay 

Terkadang orang dengan sangat mudah berpikir singkat dan diungkapkan lewat kata-kata. Itu berlaku bagi siapa saja yang malas berlama-lama menggunakan otaknya terhadap objek tertentu. Sebutlah misalnya tentang orang desa. Dikatakan bahwa orang desa suka makan singkong. Perkataan itu didasarkan pada pemikiran secara umum. Padahal belum tentu demikian. Kalau lebih diteliti lagi, tidak semua orang desa suka singkong. Ada saja yang menyukai pisang atau kelapa muda. 

Begitu pula ketika ada seorang presiden yang mengatakan rakyat Indonesia tidak bermimpi menjadi kaya raya, melainkan ingin hidup dengan layak dan berkecukupan. Pertanyaan yang segera muncul terkait pernyataan ini adalah, apakah semua rakyat Indonesia seperti itu? 

Kita lihat saja fakta di dalam realitas nyata, sebagian rakyat Indonesia kaya raya. Bahkan, ada yang berprinsip untuk menjadi kaya, haruslah berani bermimpi. Tanpa mimpi, manusia tak akan menjadi apa-apa. 

Baiklah, sekarang kita lupakan soal singkong dan kaya raya. Sebab, topik pembahasan di sini lebih menitikberatkan pada proses berpikir sang presiden dan siapa saja terkait generalisasi atau penyamarataan seperti dua contoh di atas.

Pertanyaan paling mendasar tentu saja apakah dibenarkan hal yang demikian? Jawabannya boleh iya, boleh tidak. Dibenarkan dengan catatan sudah dicek secara benar terlebih dahulu dengan hasil semuanya sama. Dan, tidak dibolehkan jika generalisasinya asal keluar darii mulut atau asbun (asal bunyi). 

Nah, pada dua contoh di atas sangat jelas hanya asbun. Penyamarataannya terbukti salah. Proses berpikir yang ideal itu tidak boleh tergesa-gesa, tetapi dilakukan secara mendalam dan luas. Terlebih jika dirinya seorang presiden, maka wajib baginya untuk lebih fokus terhadap segala yang menjadi bagian dari tugasnya termasuk saat berpidato di hadapan masyarakat luas. 

Wednesday, May 20, 2026

Demi Indonesia atau Demi Dihormati di Luar Negeri?

 

Foto: Pixabay 

Anggaran belanja negara sudah begitu banyak digunakan untuk beragam program yang dinilai sebagian pihak sebagai pemborosan. Mulai dari program makan bergizi gratis (MBG), gentengisasi, pembelian mobil dinas, hingga perjalanan presiden ke luar negeri.

Dan, program-program itu belum sama sekali menghasilkan laba atau pendapatan negara. Artinya, semua program pemborosan (menurut sebagian pihak) itu murni masih bergantung pada pajak dan utang luar negeri. Bisa dikatakan hanya membakar modal belaka dan menjadi kebanggaan bagi presiden agar dirinya dihormati di luar negeri. 

Nah, sebagian pihak berpendapat, kalau ini diteruskan, kemungkinan besar Indonesia akan bangkrut. Bagaimana tidak? Usaha apa pun jika hanya mengeluarkan modal tanpa laba, pasti akan gulung tikar. Jika pun memaksakannya dengan jalan memperluas pajak, rakyat pasti tidak akan mampu menutupi kerugian negara tersebut. Jangankan membayar pajak, dalam sehari saja belum tentu ada penghasilan yang bisa masuk di kantong sebagian rakyat. Ingat, tidak semua rakyat Indonesia ini kaya. Masih banyak yang berada di bawah garis kemiskinan. 

Itulah sebabnya, banyak kalangan menginginkan program-progtam bermodal raksasa, seperti MBG segera dihentikan demi keberlangsungan hidup Indonesia pada masa-masa mendatang. Harus ada sikap tegas demi eksistensi negara. 

Pertanyaan sederhananya, apakah sang presiden lebih memilih demi Indonesia ataukah akan terus beraktivitas demi dirinya dihormati di luar negeri?

Amrik Bangun Pangkalan Militer di Indonesia?

Foto: Pixabay 


Waduh! Ini sedang ramai diperbincangkan sebagian netizen terkait Presiden Prabowo Subianto yang menyediakan Bandara Kertajati untuk dijadikan pusat pemeliharaan dan perbaikan pesawat Hercules seluruh Asia.

Sebenarnya hal itu terlihat wajar mengingat Indonesia juga memiliki pesawat jenis tersebut. Akan tetapi, kalau kita memperhatikan awal mulanya mengapa demikian, tentu saja banyak yang terkaget-kaget dan bertanya-tanya, kok bisa?

Ya, ini bermula dari tawaran Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Pete Hegseth, untuk menjadikan Indonesia pusat pemeliharaan pesawat angkut militer C-130 Hercules seluruh Asia atas biaya Amerika Serikat.

Sontak, sebagian nitizen langsung berpikir dan khawatir adanya kemungkinan bahwa ini merupakan langkah kedua Amerika Serikat membangun pangkalan militernya di Indonesia. Langkah pertama pernah heboh beberapa waktu lalu, yaitu terkait bebas terbangnya pesawat-pesawat tempur Paman Sam di wilayah udara Indonesia. Dari keduanya terlihat Amerika Serikat sudah terlalu ikut campur dan terkesan menyetir negara kita. 

Kekhawatiran di atas bukan didasarkan oleh rasa takut, akan tetapi lebih kepada menjaga kedaulatan Indonesia. Bagaimana pun juga, wilayah NKRI, baik darat, laut, maupun udara wajib dijaga dan dipertahankan. Ketika ada gejala-gejala awal yang dinilai dapat mengikis kedaulatan negara, maka wajib diatasi dan dinormalkan kembali. Ingat! Kemerdekaan adalah harga mati. Sekali merdeka, tetap merdeka! 


PETANI= Pasukan Elit Terlatih Andalan Negara Indonesia

 

Foto: Pixabay 

Apa yang terpikir ketika Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat mengurus pertanian jagung dan Angkatan Laut mengurus kedelai?

Hal yang sebelumnya tak pernah terlintas di benak kita, tetapi menjadi keseharian nyata mereka yang sangat menyenangkan. Secara otomatis dengan fakta ini jumlah TNI yang siap siaga di bidang militer menjadi berkurang. Itu logika umumnya. 

Maka, harus ada pengisian di ruang kosong tersebut. Siapa? 

Kalau ditanya demikian, idealnya yang mengisinya adalah orang-orang yang digantikan peran mereka oleh TNI. Ya, petani. Ini jawaban paling pantas untuk harga atas jasa para tentara yang bersusah payah menggantikan para petani di sawah. 

Terkait hal itu, para petani bukan secara sukarela lagi, melainkan wajib mengisi kekosongan tersebut. Negara harus hadir dalam melatih para petani memikul senjata dan menggunakannya secara cepat dan tepat. Bukan sekadar keberanian, tetapi juga kesiapsiagaan, kegesitan, dan kecerdasan di lapangan menjadi modal utama mereka. 

Sehingga, ketika negara mendapatkan ancaman dan serangan dari negara lain, para petani yang sudah menjadi Pasukan Elit Terlatih Andalan Negara Indonesia (PETANI) maju gagah berani' di medan tempur.

Tentu saja mereka dibekali kecanggihan di bidang militer, seperti pesawat generasi kelima F-35, drone Bayraktar Kizililma yang mengangkut rudal Gazap berhulu ledak bom termobarik, dan rudal-rudal pencegat. 

Dengan demikian, negara kita akan tetap aman, damai, dan sentosa dari waktu ke waktu.