Thursday, April 23, 2026

Indonesia akan Diserang?

Ilustrasi: Pixabay

Setiap pagi udara sejuk tetap betah di desa-desa. Para penduduk terlihat asyik menikmati seduhan kopi dan camilan sederhana. Di kota, banyak penjual kue dan nasi bungkus  pinggir jalan raya. 

Semua aktivitas itu tampak berjalan normal. Tidak ada desas-desus akan ada serangan. Ya, Indonesia aman dari ancaman militer. Tidak ada negara mana pun yang berencana menggempur bumi nusantara. 

Indonesia lebih cenderung diserang secara ekonomi yang berdampak pada kemiskinan. Bahkan, negara sedang mengalami defisit anggara. Pengeluaran belanja negara lebih besar daripada angka pendapatan yang diterima. Sehingga, utang demi utang kepada luar negeri kian bertambah. 

Itulah sebabnya, Pemerintah Indonesia idealnya lebih fokus pada upaya meningkatkan pendapatan negara, khususnya di luar pajak. Jika hanya bertumpu pada pajak, pastinya mustahil akan lebih baik karena pendapatan sebagian rakyat juga sedang tidak baik-baik saja. Sebutlah contohnya pekerja bangunan yang kian susah mendapatkan jatah kerja dari para pemborong. 

Di samping itu, pengeluaran negara harus dikurangi. Program makan bergizi gratis, misalnya, kalau bisa dihentikan. Program ini bukan hanya memakan anggaran di bagian dapur, tetapi juga pengadaan kendaraan bermotor, laptop, tablet, bahkan kaos kaki. 

Begitu pula perjalanan dinas presiden ke luar negeri juga perlu dikurangi demi menghemat pengeluaran anggaran negara. 

Nah, pertanyaan sederhananya, apakah hal mudah seperti di atas bisa diwujudkan?


Wednesday, April 22, 2026

Rakyat Sedih Presiden Prabowo Larut ke Budaya Modern Korea Selatan?

Foto: Pixabay

Rakyat mana yang sedih? Bagi K-Popers, ini sebuah berkah. Benar-benar kebahagiaan luar biasa. Pasalnya, Presiden Prabowo Subianto berkeinginan untuk meningkatkan jumlah gelaran konser K-Pop di Indonesia. Ya, akhirnya ada Presiden Indonesia yang ke asing-asingan. Sungguh kemajuan berpikir yang jauh ke depan. Sebab, jika tidak demikian, Indonesia susah majunya. Asing wajib ditiru dan diidolakan. 

Informasi terkait konser ini disampaikan oleh Menteri Luar Negeri, Sugiono, dalam konfrensi pers di Kompleks Istana, Jakarta, Rabu (22/4/2026). 

Tentu saja keinginan Prabowo ini merupakan bentuk kerja sama setelah lawatannya di Negeri Ginseng beberapa waktu lalu. 

Korea Selatan memang aktif dalam hallyu atau Korean wave di banyak negara, termasuk Indonesia. Dalam kaitannya dengan hal tersebut, Korea Selatan tidak hanya ingin artis-artis mereka konser, tetapi juga bisa aktif di negara-negara lain. Sebutlah menjadi bintang iklan produk lokal negara target. 

Di Indonesia sendiri, artis Korea Selatan yang sudah berhasil menjadi bintang iklan, seperti Siwon dari Boyband Super Junior. Sementara yang berhasil menggandeng artis ndonesia adalah Eru. Penyanyi Korea Selatan yang bernama lahir Jo Sung Hyun ini pernah menjadi teman duet pelawak Sule. 

Lantas bagaimana dengan sebagian rakyat Indonesia yang berjuang melestarikan budaya lokal? 


Pemimpin Haram Takut Diwartakan

Ilustrasi: Pixabay

Penakut lawannya adalah pemberani. Menjadi pemimpin, artinya ia berani dan siap kehilangan segalanya demi orang-orang yang dipimpinnya. 

Sebagaimana kita ketahui, ada beragam jenis pemimpin. Misalnya dari segi tingkatannya di pemerintahan. Ada yang dinamakan presiden, gubernur, bupati, camat, lurah, ketua rukun warga, dan ketua rukun tetangga. 

Semuanya wajib berani, termasuk dalam hal pemberitaan, baik tentang kelebihannya, maupun sebaliknya. Nah, tidak jarang pemimpin menjadi penakut saat dirinya akan diwartakan terkait kelemahan atau kekurangannya selama duduk di singgasana kekuasaan.

Pemimpin yang bersangkutan akan melakukan berbagai cara agar wartawan atau jurnalis tidak melakukannya. Sebutlah contohnya tindakan intimidasi, represif, juga perampasan alat rekam dan penghapusan data liputan 

Padahal di alam demokrasi kebebasan pers merupakan hal yang wajar dan tidak boleh diganggu dengan alasan takut diwartakan.

Sebagai pemimpin, idealnya harus sudah siap menerima segala resiko atas yang sudah diperbuatnya selama memimpin. Dan, janganlah sedikit pun takut setelah melakukan kesalahan. Hadapi dan pertanggungjawabkan! 


Tuesday, April 21, 2026

Indonesia Belum Surplus Pangan? Untungkan Asing?

Foto: Wikipedia 

Konon, Pemerintah Indonesia melalui Kamar Dagang dan Industri (Kadin) ingin bekerja sama dengan sejumlah perusahaan Asing, dari Republik Rakyat Cina. 

Hal itu guna menggarap hilirisasi industri unggas. Tujuannya tentu saja untuk pemenuhan kebutuhan pasokan ayam dan telur dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG). Ya, ini soal MBG lagi. Tapi, titik beratnya fokus pada bahan makanan yang akan diolah. 

Menurut Ketua Umum Kadin, Anindya Bakrie, kerja sama tersebut memiliki urgensi demi mendukung keberlanjutan MBG. 

Pertanyaannya, mengapa bukan pengusaha ternak unggas Indonesia yang diajak kerja sama? 

Padahal fakta bahwa Indonesia sedang memerlukan tambahan daging dan telur ayam, sebenarnya merupakan angin segar bagi tumbuh kembangnya sektor peternakan di negeri ini. Pemerintah seharusnya menggenjot produksi lokal, bukannya malah menguntungkan orang-orang Asing. Toh kalau para pengusaha lokal untung besar, pajak pun kian besar. 

Artinya, membantu perekonomian rakyat melalui upaya meningkatkan usaha dalam negeri sejatinya juga menambah pendapatan negara kita. 


Penyusup "BIKIN" Rusuh Demonstrasi

Ilustrasi: Pixabay

Sudah bukan rahasia pribadi lagi bahwa penyusup menciptakan kerusuhan saat demonstrasi sedang berjalan. Atau, saat massa demontrasi sudah meninggalkan arena aksi di jalan, para penyusup datang dan memulai kerusuhan. 

Orang-orang ini sejatinya dibayar atau diperintahkan komandan mereka. Umumnya para masa bayaran tersebut mengenakan helm dan bisa juga penutup kepala agar tidak dikenali. 

Apa yang mereka lakukan? Menyerang aparat. Ya, mulai dari tindakan sederhana, seperti mendorong, melemparikan batu, menyiramkan air, sampai adu jotos melawan aparat yang berjaga di kawasan demontrasi. 

Tujuannya apa? Tentu merusak citra para demonstran asli di mata dunia. Kalau dibahasakan secara verbal, dalang dari pengadaan penyusup itu berkata, "INI LHO KELAKUAN DEMOMSTRAN YANG BRUTAL!" 

Selain itu, dengan adanya penyusup yang menciptakan kerusuhan, maka para demonstran asli bisa ditangkap dan demonstrasi akan dibubarkan. 

Bagi para demonstran yang sudah hapal strategi jahat ini, sudah dipastikan tidak akan terpancing. Mereka tetap tenang atau menghindarkan diri dari kerusuhan. 


Demo di Daerah untuk Tutupi Isu Nasional?

Ilustrasi: Pixabay

Entah ada unsur kesengajaan dari pihak tertentu atau memang murni kehendak rakyat menggelar demonstrasi di daerah. Yang jelas dengan adanya aktivitas massa seperti itu sangat berkontribusi besar dalam menutupi isu berskala nasional. 

Unsur kesengajaan di atas maksudnya ada kemungkinan pejabat daerah didorong atau diperintahkan untuk membuat kehebohan. Kalau perlu kegaduhan. Salah satunya dengan melakukan hal-hal yang tidak disenangi rakyat. Cepat lambat, massa di daerah akan terpancing untuk bereaksi. Mulai dari perbincangan di warung kopi hingga demontrasi turun di jalan. 

Mengenai reaksi massa, memang ada yang benar-benar murni yang lahir dari kekecewaan, kemarahan, lalu diungkapkan lewat demontrasi. Tuntutan demi tuntutan mereka sampaikan dengan apa adanya. 

Dan, tidak bisa dipungkir juga bahwa memang ada massa bayaran yang melakukan demontrasi. Mereka sebenarnya tidak tahu-menahu soal inti masalah yang disuarakan. Orang-orang ini tahunya akan mendapatkan bayaran dan wajib mengikuti segala perintah komandan lapangan. Biasanya aksi turun di jalan yang mereka ikuti berupa demontrasi tandingan. 

Terlepas dari murni atau tidak, semakin besar demontrasi yang digelar, akan semakin teralihkan pula isu nasional. Perhatian masyarakat, khususnya yang menjadi peserta aksi di jalan, tentu lebih tersedot ke tuntutan yang disuarakan di daerah. Sementara berbagai isu nasional menjadi kurang diperhatikan. 


Monday, April 20, 2026

Kaltim Rasa Negara? Republik Kalimantan Timur?

Ilustrasi: Pixabay

Wah! Sedemikian dahsyatnya Kalimantan Timur saat ini. Provinsi yang dikenal dengan tambang minyaknya telah berasa seperti negara. Ya, masih "seperti". Artinya belum menjadi sebuah negara. Tetapi, mengapa bisa menjadi "rasa negara" meski tetap sebagai provinsi? 

Itu pertanyaan yang menggoda. Awalnya biasa-biasa saja. Namun, setelah Rudy Mas'ud sudah menjadi Gubernur Kaltim, letupan demi letupan mulai terdengar, terutama di media sosial. Dan, hari ini, Selasa (21/4/2026) akan ada aksi turun ke jalan oleh banyak orang di Samarinda. 

Massa datang untuk menyuarakan protes kepada sang gubernur yang dinilai tidak prorakyat. Menurut masyarakat Kaltim, Gubernur Mas'ud lebih mengutamakan kepentingan elit saja. 

Sebutlah contohnya soal pengadaan mobil dinas seharga Rp8, 5 miliar yang akhirnya dibatalkan karena heboh di media sosial. Tak berhenti sampai di situ, pak gubernur membuat heboh kembali dengan anggaran renovasi rumah dinas yang menyentuh angka Rp25 miliar. 

Disebut-sebut juga sebelumnya bahwa massa hendak menggulingkan Gubernur Kaltim tersebut. Di sinilah sebuah provinsi, tetapi rasa negara. Sang gubernur seakan-akan adalah seorang presiden yang akan digulingkan melalui aksi turun ke jalan. Itulah sebabnya, menjelang aksi besar hari ini, Rudy Mas'ud melakukan persiapan dengan membentengi istananya dengan kawat berduri. 

Di sampai itu, dari pihak kepolisian juga menyiagakan sekitar 1.700 personel gabungan beserta kendaraan taktis untuk menjaga keamanan di lokasi-lokasi utama.