![]() |
| Ilustrasi: Pixabay |
Jilat-menjilat biasanya identik dengan budaya orang-orang ambisius ekstrem. Aktivitas ini dilakukan kepada orang di atas level mereka. Mulai dari kata-kata sanjungan hingga memberikan apa saja yang diminta orang yang mereka jilat.
Sebutlah misalnya ada seorang presiden yang mengatakan kepada presiden lainnya bahwa dirinya sudah menginstruksikan pihak sekolah di negaranya untuk meningkatkan pelajaran bahasa Belanda. Itu disampaikannya di hadapan Presiden Belanda. Ketika dirinya berkunjung di negara lainnya, ia pun mengatakan hal serupa, tetapi nama bahasanya diganti sesuai negara yang dikunjunginya.
Ini dilakukannya untuk mendapatkan utang dari negara-negara bersangkutan. Dan, parahnya ketika setelah mendapatkan yang diinginkannya itu, lantas ia berpidato di negaranya dengan mengatakan sudah mendapatkan uang sitaan korupsi. Padahal itu adalah uang dari pinjaman dari negara yang presidennya ia jilat.
Ia berharap dengan hal demikian, ambisinya menjadi pemenang dalam pilpres selanjutnya bisa terwujud. Presiden seperti ini sangat membahayakan negara yang ia pimpin. Bayangkan saja ketika demi mendapatkan utang, ia setuju di negaranya dibangun pangkalan militer untuk negara yang presidennya ia jilat.
Maka, idealnya sesegara mungkin dirinya dilengserkan dari kursi presiden agar kedaulatan negara yang ia pimpin aman dari bahaya negara lain.
Meskipun tulisan di atas hanyalah contoh belaka, tapi bisa dijadikan bahan renungan bahwa budaya menjilat hanya dinilai baik bagi para pelakunya, tetapi bukanlah budaya dan merupakan aktivitas yang sangat berbahaya bagi orang-orang lain di sekitar mereka.














