Wednesday, November 13, 2019

Menjadi Sastrawan Idealnya Peka dan Berwawasan Luas?


Akhir tahun ini direncanakan akan ada sebuah acara sastra di salah satu wilayah Indonesia. Sengaja saya tidak menyebutkan nama acaranya.

Lalu seorang teman mengatakan bahwa dirinya kemungkinan besar tidak dapat mengikutinya. Alasannya berat. Ada kegiatan lain di tempat yang berbeda.

Dalam hal ini ada dua acara yang sama-sama penting. Tapi, bukan itu yang terpikirkan oleh saya. Ada sebuah pertanyaan yang pernah saya dengar terkait perkara acara sastra. Apakah itu?

Tentunya bukan soal dana atau semacamnya. Ini tentang kepekaan dan wawasan yang luas, terutama yang berkaitan dengan kehidupan  sesungguhnya di lapangan.

Benar, apakah selama ini selain mengikuti acara sastra, semua penulis yang dalam konteks ini disebut sastrawan sudah berangkat guna mendekati kehidupan langsung tersebut? Ya, mengamati langsung bagaimana kehidupan orang-orang kecil di kolong jembatan, misalnya.

Ah, agaknya ke mana pun tempat tujuannya, terpenting adalah terus mengasah kepekaan dan menambah wawasan masing-masing.


Tuesday, November 12, 2019

Serahkan kepada Ahlinya, Taufiq Ismail Itu Dokter Hewan kok Jadi Sastrawan?


Saya yakin banyak orang pernah menemui kalimat, "Serahkan kepada Ahlinya!" Dengan kata lain, jika diserahkan kepada yang sebaliknya, maka bersiaplah menghadapi kehancuran.

Seorang guru bahasa Indonesia, misalnya, diserahi tugas membedah tubuh pasien di rumah sakit. Kira-kira apa yang akan terjadi pada tubuh si sakit yang dibedah secara asal tersebut?

Atau, seorang psikiater diserahi tugas merancang sebuah rumah makan, kemungkinan besar hasilnya tidak akan sesuai dengan harapan.

Lalu, berlaku pada semua urusankah teori itu?

Pada kenyataannya banyak orang yang bukan berlatar belakang pendidikan keahlian tertentu, tapi ia mampu melakukan pekerjaan secara baik dan benar di bidang tersebut. Sebut saja sastrawan besar Taufiq Ismail. Ia adalah seorang dokter hewan. Meski begitu, dirinya mampu menuliskan puisi-puisi yang berkualitas tinggi.

Dalam hal ini kita benar-benar dihadapkan pada teori dan realitas. Pertanyaannya, manakah yang benar dari keduanya?

Konon, kata orang bijak, "Untuk menjawabnya, kita perlu memperhatikan yang terjadi di lapangan secara cermat." Kita ambil contoh saja tentang keahlian Taufiq Ismail dalam berpuisi di atas.

Meskipun ia seorang dokter hewan yang jauh hubungannya dari perpuisian, namun kecintaannya terhadap dunia sastra telah ditularkan sejak di lingkungan keluarganya yang gemar membaca dan juga sebagai jurnalis.

Dari sanalah Taufiq mulai menulis di berbagai media. Ia pun menjadi wartawan.  Bahkan, dirinya merupakan salah seorang pendiri Majalah (sastra) Horison pada tahun 1966.

Artinya apa? Taufiq Ismail sebenarnya seorang praktisi sastra yang kompeten. Dan, itu ia dapatkan setelah bergelut di dunia kesastraan dalam waktu yang lama. Bisa dikatakan bahwa ia memiliki keahlian bersastra dari pengalaman langsung. 

Maka, ia mampu bersastra karena dirinya ahli dalam bidang itu.

Dengan demikian, teori pada judul di atas itu benar dan telah dibuktikan di lapangan.

Begitukah? Bagaimana menurut Anda?


Monday, November 11, 2019

Mungkinkah bagi Penyair Lebih Baik Sakit Hati daripada Sakit Gigi?


Konon, sakit hati dapat melahirkan perasaan sedih, kecewa, bahkan marah yang luar biasa. Suasana yang emosional itu terkadang menimbulkan masalah serius dalam kehidupan. Ya, tanpa pengendalian jiwa secara sehat, maka tak ada pula kontrol pribadi. Alhasil, timbullah sikap negatif yang merugikan semisal pembunuhan, baik pada diri sendiri, maupun orang lain.

Kasus gantung diri setelah putus cinta, misalnya, adalah contoh nyata hal di atas. Meskipun pada kenyataannya ada yang seperti itu, bukan berarti bahwa semua orang bersikap demikian jika sedang sakit hati.

Di tangan penyair, sakit hati bisa menjadi energi tersendiri dalam melahirkan karya-karya berkualitas. Setelah diramu sedemikian rupa, tak jarang para penikmatnya (baca: pembaca/penyimak puisi), dapat tersentuh hatinya. Bahkan, efeknya bisa lebih daripada itu.

Contoh, puisi yang lahir dari tangan penyair yang sakit hati karena terjadi pembakaran hutan dan lahan dapat mengunggah jiwa penikmatnya.

Ya, dengan diksi yang tepat dalam melukiskan kondisi pepohonan, semak-semak, dan  hewan yang terbakar, juga adanya korban berjatuhan terpapar kabut asap, mereka yang membaca atau mendengarkannya pun tergugah jiwanya. Yang tadinya tak mau ambil pusing, menjadi bersimpati dan berempati terhadap kondisi alam dan sesamanya.

Lalu, bagaimana dengan sakit gigi? Saya yakin siapa pun tidak ada yang menginginkannya. Sebab, sakit gigi begitu menyengsarakan penderitanya.

Nah, sampai di sini tampaknya Anda sudah mendapatkan jawaban atas pertanyaan pada judul di atas. Benar begitu, 'kan? Semoga memang benar-benar sudah mendapatkannya.


Sunday, November 10, 2019

Arah Gerakan Literasi Nasional ke Mana, Membaca atau Menulis?


Tahun 2017 saya iseng mengikuti sayembara menulis buku bahan bacaan anak nasional. Sayembara itu bagian dari Gerakan Literasi Nasional (GLN) yang diadakan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (sekarang Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan), Kemendikbud RI.

Yang namanya iseng, saya pun membuat buku tersebut tanpa beban. Mulai mencari dan memahami bahan-bahan bacaan pendukung, menulis naskah buku, membuat ilustrasi, mendesain sampul buku, mencetak, menjilid, hingga mengirimkannya kepada panitia.

Keisengan itu sebenarnya lebih disebabkan oleh adanya waktu luang setelah saya menyelesaikan satu naskah buku horor. Dan, alhamdulillah ternyata merupakan iseng-iseng berhadiah.

Ya, naskah saya dinyatakan lolos seleksi oleh dewan juri. Dari Kalimantan hanya ada dua yang lolos, yakni naskah saya dan satu lagi naskah penulis dari Kalimantan Timur.  Demi perbaikan naskah, saya pun bolak-balik Jakarta-Kalimantan Selatan. Lelah, tapi mengasyikkan.

Setelah berlalu beberapa waktu saya berpikir sejenak mengenai hal itu. Bukan perkara persaingan dan bukan pula soal beratnya sayembara dalam wujud buku cetak. Ini perihal arah gerakan literasi nasional yang memang terus digalakkan semenjak Anies Baswedan menjabat Kemendikbud dulu.

Jika diperhatikan, beberapa pihak menyebutkan bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang malas membaca. Hal terakhir ini konon berdasarkan penelitian di lapangan yang tingkat validitasnya sangat tinggi.

Seandainya kata "malas" itu dijadikan landasan  untuk menjadikan masyarakat Indonesia rajin membaca dengan sayembara di atas, bagaimana menjelaskannya? Jelas-jelas itu adalah sayembara menulis dan bukannya membaca. Maka, tentunya minat dan keterampilan menulislah arah tujuannya.

Jujur saja, sebenarnya saya tidak setuju 100% tentang kata "malas" ini. Sebab, lihat saja betapa hebohnya masyarakat Indonesia membaca dan menulis pesan pendek di ponsel, misalnya. Atau, masih banyak umat Islam yang rajin membaca Alquran setiap harinya.

Bahkan, pada masa menjelang Pilpres 2019 lalu masyarakat Indonesia sangat antusias membaca artikel-artikel berkenaan dengan isu politik saat itu. Hingga kini pun artikel bertema politik masih digandrungi masyarakat Indonesia.

Nah, kembali ke GLN yang salah satu kegiatannya adalah sayembara menulis buku bahan bacaan anak tadi, ingatan saya pun mendarat pada empat jenis keterampilan berbahasa. Apa sajakah itu? Pertama ialah menyimak, berbicara, membaca, lalu menulis.

Artinya apa? Untuk dapat menulis, seseorang wajib membaca. Pastinya adalah bahan-bahan bacaan pendukung untuk dapat menuliskan ide di otak kita.

Dengan adanya sayembara tersebut di atas, mau tak mau para pesertanya harus membaca terlebih dulu bacaan lainnya. Setelah buku dinyatakan lolos dan selesai direvisi, hasilnya pun dapat menjadi bahan bacaan bagi masyarakat Indonesia.

Tampaknya demikianlah yang menjadi arah GLN yang digagas oleh Anies Baswedan kala itu.

Begitukah?


Saturday, November 9, 2019

Pelatihan Menulis dan Pendirian Gedung Megah


Waw! Judul di atas agaknya benar-benar tidak nyambung sama sekali ya? Lha, kalau tidak nyambung kok di kasih waw?

Saya jadi teringat sebuah kalimat, "Bagus sekali tulisanmu ini, Nak, mirip cakar ayam!"

Tapi, benarkah demikian? Sebuah sindiran belakakah?

Tunggu! Jangan-jangan memang ada hubungan antara pelatihan menulis dan pendirian gedung megah. Adakah? Yaaaa mungkin jika dikaitkan-kaitkan akan nyambung juga. Atau, bisa jadi malah menjadi kusut seperti benang layang-layang putus dan terlilit banyak kaki yang melangkah?

Begini Saudara sekalian, sebelum tahu jawabannya, ada baiknya perhatian dulu cerita saya di bawah ini.

Suatu ketika, entah tanggal berapa saya lupa. Yang jelas pada waktu itu saya menjadi salah seorang narasumber dalam penulisan bahan bacaan anak.

Sepanjang jalan menuju hotel tempat acara, saya teringat iklan kursus kilat bisa menyetir mobil. Disebut kilat karena dalam iklannya tertulis satu hari sudah bisa nyetir. Wah keren!

Setibanya di tempat acara, tentunya saya berada dalam sebuah gedung yang megah: hotel berbintang empat. Maka, terbayanglah dalam otak saya tentang para pekerja yang begitu gigih mendirikan gedung tersebut secara cepat dan tepat.

Benar, setelah adanya input, jadilah output berupa gedung megah yang saya pijak kala itu.

Lalu, saya, peserta, dan panitia sedang melakukan apa?

Tentunya, setelah tiba dan beramah-tamah, digelarlah acara pelatihan menulis. Dan hasilnya?  Apakah peserta bisa menulis?

Jawabnya sama dengan kursus menyetir tadi. Meskipun pelatihannya tiga hari, satu hari pelatihan saja hasilnya bisa. Lantas apakah cukup sampai di situ?

Jawabnya kali ini adalah tidak. Mengapa? Sebab, menulis itu sejatinya sebuah keterampilan berbahasa setelah seseorang mahir menyimak, berbicara, dan membaca. Lazimnya keterampilan, ia dilahirkan dari proses panjang. Dengan kata lain, terlebih dulu ada pembiasaan hingga terbiasa dan akhirnya menjadi kebiasaan.

Nah, kata "bisa" dalam konteks ini dapat dikatakan sebagai output. Dengan demikian, pelatihan menulis tak ubahnya mendirikan gedung yang megah. Sudah terjawab, 'kan?

Dan, sebuah gedung yang baik idealnya dapat berfungsi dengan maksimal. Salah satunya digunakan sebagai tempat pelatihan menulis seperti dalam cerita saya di atas. Inilah yang disebut outcome. Begitu pula dengan pelatihan menulis. Pembiasaan yang berupa menulis dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam hal ini mengirimkannya ke media, sebenarnya merupakan outcome dari pelatihan menulis itu sendiri. Alhasil, menjadilah penulis yang terampil.

Pertanyaannya sekarang, apakah pelatihan menulis dapat menjadi jaminan pesertanya terampil dalam menulis? Sedang berada pada taraf outcome? Ataukah baru sebatas output saja?


Friday, November 8, 2019

Kepada Sastrawan: Mohon Maaf kalau Isinya Kekecilan


Pernah suatu ketika saya mendengar kalimat itu dari ketua panitia sebuah acara sastra di instansi pemerintah. Ya, lebih kurangnya begitu. Mungkin bahasa lainnya, "Jangan lihat isinya!"

Kalimat tersebut seakan menunjukkan bahwa dana untuk sastrawan memang kecil adanya. Tapi di sini bukan tempatnya berkeluh kesah. Mungkin akan indah kedengarannya jika berbunyi lebih baik membayar kecil daripada tidak memakai jasa sastrawan sama sekali.

Konon, memakai jasa sastrawan bisa dikatakan menghormati dan menghargai keberadaan sastrawan itu sendiri.

Sebaliknya, tentu sangat menyakitkan. Terlebih lagi jika yang dipakai adalah jasa sastrawan dari luar daerah bersangkutan. Sementara di daerah tersebut menyimpan sejumlah sastrawan top nasional dan mancanegara. 

Mengenai perkara bayaran, toh itu sudah dituliskan dalam kitab ilahi sebelum alam dan isinya diciptakan. Dan, uang bukanlah tolok ukur kekayaan dan kehormatan manusia, 'kan?

Nah, dalam hal ini, tentunya akan lebih tepat bila penggunaan jasa tersebut sesuai genre sastra yang digelutinya. Sebut saja misalnya penulis buku bahan bacaan anak ya dijadikan juri buku jenis itu. Bukannya malah penyair (pensyair) yang menjadi jurinya. Parahnya lagi jika yang jadi juri orangnya itu-itu saja tiap tahunnya. Semoga yang terakhir ini tidak terjadi.

Pada intinya saya hanya hendak mengatakan bahwa kalimat yang saya dengar tersebut di atas sebenarnya bukan masalah. Walaupun memang ada harapan penghargaan terhadap sastrawan akan lebih besar lagi.

Bagaimana menurut Anda?

Thursday, November 7, 2019

Beragam Seni Digabungkan?


Suatu waktu saya pernah ngobrol santai dengan seseorang tentang men
Penggabungan seni-seni yang jenisnya berbeda.

Maksud berbeda di sini secara mudah dapat disebutkan langsung seperti, seni sastra, seni rupa, dan seni pahat. Tentunya masih banyak lagi jenis seni lainnya.

Nah, teman ngobrol saya itu merupakan seorang pelaku seni fotografi dan sastra khususnya puisi.

Pertanyaan awalnya, apakah seni-seni yang beragam tersebut dapat digabungkan?

Anggaplah pertanyaan di atas sebagai pemantik agar kita sama-sama memikirkannya.

Kembali ke obrolan waktu itu, pembicaraan kami pun saya arahkan pada sebuah pameran waw yang telah di sebuah kota. Mengapa saya katakan waw? Sebenarnya pamerannya tidak begitu besar. Tapi, jarang diadakan.

Ya, kalau biasanya pameran seni di sebuah galeri hanya satu jenis seni yang dipajang, maka ini berbeda. Benar, dalam pameran itu ada dua seni yang dipajang. Apa yang dua itu? Foto dan puisi.

Jadi, foto dan puisi yang bertema sama di gabungkan dalam sebuah galeri seni.

Sebenarnya entah kita sadari atau tidak, dalam beberapa buku semisal antologi puisi, dimuat puisi-puisi disertai ilustrasi masing-masingnya. Buku-buku bahan bacaan anak juga demikian. Artinya, seni sastra dan rupa digabungkan dalam satu buku.

Lalu, bagaimana dengan seni-seni lainnya?