Friday, July 10, 2026

Dia Ingin Mengalahkan Para Mantan Presiden di Negara Itu

 

Ilustrasi: Pixabay 

Padahal dia hanyalah seorang pecatan tentara pada masa lalu. Para petinggi di Negara Republik Wahamiang tersebut sudah mencium gelagat buruknya sejak lama. Tepatnya jauh sebelum dirinya hendak melakukan kudeta tahun 2890 silam.

Ambisinya memang sangat menggebu-gebu sejak muda. Dan, ketika mertuanya yang baru saja lengser dari kursi presiden, ia mengumpulkan banyak tentara dari berbagai daerah menuju ibukota. Untungnya niat jahatnya tersebut berhasil digagalkan. Seandainya saja terwujud, maka kudeta berdarah pasti tak terhindarkan di negara.yang berjuluk Emas Hitam itu. 

Parahnya lagi, kalau saja kudeta tersebut berhasil, tentu saja semua sendi kehidupan akan diisi oleh para tentara. Mulai dari kementerian, pelatihan sipil, hingga ruang kelas para siswa. Singkat kata, para tentara akan mendominasi seluruh ruang kehidupan di sana.

Setelah gagal melakukan kudeta, tahun-tahun berikutnya ia isi dengan usaha menjadi presiden dengan cara sipil. Perjalanan politiknya banyak rintangan. Ya, kalah dan kalah lagi dalam pemilihan presiden. 

Nah, atas bantuan para elit global lah, akhirnya ia berhasil menjadi presiden dengan cara curang. 

Lantas apa yang dilakukannya sebagai presiden curang? Sebagai mantan tentara, cara-cara militer ia terapkan di banyak sendi kehidupan. Dirinya juga sering melakukan lawatan di negara-negara besar untuk mencari dukungan politik. Pidato demi pidato sering ia tampilkan dengan membangga-banggakan dirinya yang menurutnya lebih hebat daripada para mantan presiden sebelumnya.

Poin terakhir di atas itulah yang sangat merugikan bangsa dan negara itu. Segala cara dilakukannya untuk bisa terlihat sangat hebat. Mulai dari memberikan siswa makanan gratis yang menelan biaya sangat besar, pendirian koperasi di desa-desa yang juga menguras anggaran negara, merusak hutan demi bisa menanam padi agar swasembada pangan, membangun gedung-gedung sekolah rakyat yang pastinya membebani kas negara, dan banyak lagi demi dirinya bisa tampil wah. 

Lalu bagaimana tanggapan rakyat di sana? Pastinya mereka yang masih berakal sehat, tidak setuju dengan segala aktivitas buruknya tersebut. Demonstrasi demi demonstrasi digelar sebagai reaksi jujur mereka. Namun, sebagai seorang yang tidak memiliki empati terhadap sesama manusia, dirinya yang dikenal sebagai Bapak Gila Pujian itu tak mau ambil pusing. Baginya jeritan rakyat adalah lolongan anjing malam. Bahkan, dalam sebuah pidatonya, presiden yang bernama lengkap Pascawow Subotol tersebut mengatakan "emang gue pikirin" yang artinya ia tak memikirkan suara kesakitan rakyat di sana. 

Thursday, July 9, 2026

Intelijen Surat Dinas Kementerian Bertindak Cepat

Ilustrasi: Pixabay 

Di Republik Korupsia sedang heboh adanya kebocoran surat dinas di Kementerian Pekerjaan Khusus (PK). Surat yang tersebar luas itu merupakan dokumen administrasi untuk memenuhi persetujuan pengurusan visa.  Terkait hal itu, pihak intelijen surat dinas kementerian (ISDK) di sana menganggap perlu penyebarluasannya ke publik. Pasalnya, di dalam surat tersebut tercantum nama pihak keluarga sang mentari yang bakal turut serta melakukan perjalanan ke Amerika Serikat. 

"Itu (surat tersebut) sangat mencurigakan. Ada nama keluarga sang menteri di dalamnya. Jadi, publik sebagai pembayar pajak tentu harus tahu, 'kan siapa saja yang akan ke Amerika Serikat bulan depan? Jangan sampai uang pajak digunakan untuk aktivitas yang sia-sia!" tegas Kepala ISDK kepada awak media.

Sementara itu Menteri Pekerjaan Khusus, Dodol Hariroyo, M.Si, hingga berita ini diturunkan belum memberikan klarifikasi apa pun. 

Ya, semoga saja pemerintah di negara yang dikenal dengan julukan Gudang Koruptor tersebut dapat mengatasi aktivitas-aktivitas yang berpotensi menguras anggaran pengeluaran.dan belanja negara mereka.

Si Omon-Omon SELALU Bombastis, Rakyat Melongo

Ilustrasi: Pixabay 

Kalau bicara, dirinya selalu saja menyuarakan yang muluk-muluk, tapi kosong. Ya, kata-katanya hanyalah omong kosong belaka. Ia dijuluki oleh sebagian besar rakyatnya sebagai si Omon-Omon pengingkar janji.

Benar, ia adalah seorang presiden di Republik Gemoyan. Saat kampanye politik menjelang pemilihan presiden, dirinya banyak berjanji. Sebutlah contohnya kesehatan gratis, pendidikan gratis, dan bahan bakar minyak murah. Tapi nyatanya, setelah menjadi presiden, dirinya termasuk pemimpin negara pembohong kepada rakyat di negara yang dipimpinnya. 

Sejatinya ia lebih fokus pada kesejahteraan dirinya dan para penjilat di sekitarnya. Program-program yang ia jalankan selalu saja tidak berpihak kepada rakyat. 

Alih-alih bertindak untuk kemakmuran rakyat seperti omongan besarnya, setiap hari dirinya kian menyiksa rakyatnya sendiri. Hal itu begitu terasa dengan perluasan pajak. Para penjual daring dan pelaku UMKM, misalnya, sangat merasakan pemalakan olehnya yang dikenal dengan pajak.

Singkat kata, jargon terselebungnya dalam memimpin negara adalah, PAJAK, PAJAK, PAJAK di balik omon-omon mulut besarnya.

Wednesday, July 8, 2026

Ternyata Presiden Kita Orang India

 

Ilustrasi: Pixabay 


"Selama ini aku tahunya beliau itu orang Cina."

"Ternyata?"

"Orang India."

"Siapa sih? Aku jadi penasaran."

"Presiden kita, Bapak Presiden Prang Sung Tong."

"Ha?! Serius?"

"Emang dari tadi aku kelihatan sedang bercanda ya?"

"Nggak sih. Tapi, bukannya beliau orang asli dari Hubei, 'kan?"

"Beliau emang kelahiran sana, tapi berdarah India."

"Kamu dapat info itu dari mana?"

"Beliau sendiri yang ngomong."

"Beliau dikasih mic lagi?"

"Iya!""

"Wadduh! Kiamat maju satu hari berarti. Sialan! Siapa sih yang ngasih beliau mic?"

"Dari yang aku dengar, sebenarnya mic udah disimpan pihak panitia, tapi.beliau berhasil.menemukannya."

"Hadeeeuh!"

"Ya, hadeeeeuh!"

***

Tuesday, July 7, 2026

Ketika Ijazah Serupa Aib Besar

Ilustrasi: Pixabay 

Konon, di sebuah negara dekat Gunung Rudalan ada kasus fenomenal yang menggemparkan dunia. Diwartakan banyak media internasional bahwa salah seorang manusia di sana memiliki ijazah misterius.

Di depan publik ijazah itu ditampilkan hanya dalam wujud fotokopinya. Memang kedengarannya biasa-biasa saja, tetapi dengan wujud demikian mampu mengantarkan seseorang tersebut menjadi presiden dua periode di negara itu. Namanya Presiden Kaget Sekali.  

Waw, 'kan? 

Bayangkan hanya fotokopinya sudah memiliki kekuatan super. Apalagi aslinya? 

Nah, membahas aslinya inilah yang malah berkebalikan. Ya, wujud aslinya malah disembunyikan dengan sangat rapat. Ibaratnya aib besar yang wajib ditutupi. Padahal keaslian ijazah lah yang membuat kertas tanda kelulusan tersebut sah sebagai syarat untuk menjadi presiden atau sekadar mendaftar sebagai pekerja resmi. 

Pertanyaan awalnya, mengapa fotokopinya bisa diterima sebagai salah satu syarat kelengkapan menjadi presiden? Apakah karena pemilihan presiden di Republik Pohonima itu hanya formalitas belaka? Yang sebenarnya sudah diatur siapa pemenangnya?

Jika pertanyaan terakhir di atas jawabannya adalah ya, maka siapa pihak pengaturnya?

Sebagian pihak mengatakan yang mengaturnya ya orang-orang besar dengan sebutan para elit global. Para raksasa itulah yang menjadi dalang saat Presiden Kaget Sekali bertahta. Segala tindak tanduknya mewakili semua kehendak mereka. Mulai dari pencabutan besar-besaran subsidi bahan bakar minyak, proyek jalan tol dengan dana utangan, pembiaran masuknya tenaga kerja asing ilegal  secara bebas, pembuatan pulau-pulau reklamasi, pemberian nikel gratis kepada salah satu negara adidaya, hingga pembukaan hutan untuk ibukota negara baru yang akhirnya mangkrak. 

Semuanya berjalan lancar. Mengapa lancar? Karena Presiden Kaget Sekali sangatlah bodoh. Dan, mengapa bodoh? Sebab, dia sebenarnya tidak berpendidikan tinggi. Ijazahnya yang hanya berwujud fotokopi itu adalah palsu. Makanya yang berupa "wujud bukan fotokopi" tidak pernah diperlihatkan di depan publik. 

Pertanyaan sederhananya, mengapa para raksasa global menjadikannya presiden? Karena orang bodoh sangat mudah diatur tanpa pernah bertanya mengapa.


Negara Miskin, Presidennya Sok Kaya

 

Ilustrasi: Pixabay 

"Ya, aku sudah dengar tentang apa yang barusan kamu katakan. Di negara itu memang sedang dikuasai para begundal kelas teri yang disokong penjahat internasional."

"Kadang aku merasa kasihan dengan rakyat di sana, terutama kaum miskinnya. Mereka dipaksa membayar pajak untuk kesenangan para elit lokal dan global."

"Lokal dan global yang super jahat. Mereka menjajah rakyat. Itulah kenyataannya."

"Terlebih presidennya yang gendut dan sombong itu. Aaaaaah, dia selalu saja menghamburkan uang pajak demi kewibawaannya, terutama di mata dunia internasional."

"Ya, ya, aku sampai geleng-geleng kepala melihat tingkahnya yang seperti kanak-kanak tersebut. Sukanya bangun ini, bangun itu dengan jumlah besar. Dia juga gemar sekali jalan-jalan di luar negeri untuk bisa berjabat tangan dengan presiden negara maju. Yaaaa, apa ya namanya, narsis akut gitulah intinya."

"Orang tua itu memang gila sanjungan. Inginnya selalu dipuja-puja. Dan, dia tak peduli anggaran negaranya mengalami defisit parah. Para investor asing pun sudah tidak percaya lagi padanya. Mata uang negara yang dipimpinnya juga sudah anjlok drastis. Yang terakhir dia menawarkan listrik ke negara lain sementara di dalam negaranya sendiri sedang krisis listrik."

"Agaknya Republik Subur itu sebentar lagi akan sirna dari dunia ini. Prediksiku sekitar dua tahun lagi, yakni pada bulan Agustus tahun 2890."

"Benar. Aku juga berpikir demikian. Padahal di sana banyak orang-orang pintar, tapi yang jadi presiden dan wakilnya malah sangat memperihatinkan. Seumpama yang jadi presiden di sana seorang negarawan yang berkompeten, aku yakin negara tersebut akan maju pesat dengan modal kekayaan alamnya."


Sunday, July 5, 2026

Masihkah Pemerintah Diperlukan? TIDAK LAGI!

 

Ilustrasi: Pixabay 

Ada yang sangat hebat terjadi di Negara Warsimang. Konon, sebagian warganya patungan untuk memperbaiki jalan penghubung antardaerah. Dengan kata lain, mereka swadana dan swadaya dalam membuka akses yang selama ini tertutup. Ya, pemerintah di negara terkorup sedunia itu tak kunjung memperbaiki jalan rusak tersebut.

Dalam kaitannya dengan hal di atas, bisa dikatakan sebenarnya warga sudah mandiri. Mereka sudah tidak memerlukan lagi adanya pemerintah di negara yang kaya sumber daya alamnya itu. Dengan bahu-membahu, jalan rusak pun akhirnya bagus kembali. Akses antardaerah terbuka lebar dan tentunya perekonomian menjadi lancar terkendali. 

Sekadar bocoran informasi saja, sebelumnya warga di sana menanti-nanti uang pajak mereka digunakan pemerintah untuk memperbaiki jalan itu. Karena tak ada tanda-tanda ke arah yang diharapkan, mereka rela mengeluarkan uang tambahan selain pajak demi terbukanya akses antardaerah di sana. 

Nah, menurut kabar yang belum jelas, warga di sana berencana menuntut pembubaran pemerintah di negara tersebut.