Tuesday, June 9, 2026

Presiden ATAUKAH Bos Preman?

 

Ilustrasi: Pixabay 

Dulu, dulu sekali berdiri sebuah negara bernama Kadalin. Dilihat dari luas wilayah dan kekayaan alamnya, seharusnya negara tersebut kaya raya dalam hal keuangan. Akan tetapi, dari tahun ke tahun bukannya kian maju, negeri yang dikenal dengan buah belimbingnya itu malah semakin amburadul perekonomiannya. Ya, terutama pada era Presiden Paranormal Sebangsa. 

Meskipun dirinya berlatar sipil, tapi tindakan-tindakannya sangat keras. Agaknya kedekatan dirinya dengan dunia malam membuat sosoknya terkesan mirip seorang bos preman. Hampir setiap malam ia mabuk di "klub-klub bahagia" bersama pacar lelakinya. 

Benar, pria gagah itu sejatinya adalah seorang homoseksual. Tapi, rakyat lebih menyoroti ketidakmampuannya mengurus negara daripada orientasi seknya tersebut. Rakyat benar-benar menginginkan dirinya bijak dalam mengambil segala keputusan. 

Akan tetapi, setiap masukan dari rakyat, khususnya para pengamat yang ahli di bidang masing-masing selalu ditolaknya. Bahkan, dirinya tak segan melukai rakyatnya sendiri. Hal terakhir ini ia lakukan kepada salah seorang aktivis pencinta batu permata. Dengan menggunakan tangan bawahannya, aktivis itu mendapatkan lemparan banyak batu hingga kondisinya kritis dan ditangani dokter ahli.

Presiden lanjut usia itu juga mengancam akan memenjarakan para demonstran yang menyuarakan kritik dan tuntutan terkait dirinya. Sementara saat nilai mata uang negaranya hancur, dengan mudahnya dirinya mengusulkan kenaikan pajak rakyat. 

Dan, tentu saja banyak pihak bertanya-tanya, sebenarnya ia seorang presiden ataukan bos preman.


Sunday, June 7, 2026

Sekolah Rakyat Itu Tidak Perlu Ada

 

Ilustrasi: Pixabay 

"Dengan utang yang banyak, negara kita tidak bisa disebut sebagai negara kaya."

"Betul. Yaaa presiden kita saja yang halu. Dalam otak tuanya negara kita kaya raya. Padahal utang kian mendekati puncak Everest."

"Aaaaah, bagaimana tidak meninggi, dianya saja jalan-jalan terus ke luar negeri? Membuat banyak satuan tugas bergaji besar. Sok-sokan ngasih makan gratis pula. Terus dia juga memboroskan uang hasil pajak dan ngutang tersebut buat program-program lainnya semisal sekolah rakyat. Alasannya untuk mencerdaskan anak-anak bangsa.'

"Betul. Padahal cukup dengan menggratiskan biaya sekolah bagi anak-anak tidak mampu di sekolah yang sudah ada. Ini malah membangun sekolahan baru. Itu sungguh menelan biaya yang sangat besar."

"Benar kata pujangga Merah Saga bahwa apalah artinya punya sumberdaya alam melimpah, tapi masih ngutang kepada pihak asing."

"Dan, juga perkataan penyanyi pop Nangka Lezat bahwa negara akan miskin selamanya jika sumber daya manusianya diabaikan."

"Ya itulah kenyataan yang aneh bin ajaib. Sekarang sok sibuk ingin mencerdaskan anak bangsa, eh orang-orang cerdas malah tidak dipakai. Ada berapa banyak penemuan berharga anak bangsa yang disia-siakan hingga dihargai negara-negara lain."

"Orang-orang cerdas juga saat ini dianggap sebagai musuhnya. Sampai-sampai dia menegaskan akan menertibkan para pengamat yang sejatinya merupakan orang-orang cerdas."

"Beginilah cerita menyedihkan di Negara Rintihan Debu. Rakyat bisa apa? Demonstrasi? Melakukan pemberontakan? Atau apa? Ah!"

"Puyeng!"

***

Bangsa yang Lemah, Takut Dolar Naik!

Foto: Pixabay 

"Ah, janganlah kamu berkata seperti itu, Wo!"

"Mengapa? Bukankah betul kenyataannya demikian?"

"Itu akan membuat rakyatmu sedih."

"Sedih? Ha ha ha. Paman terlalu lebay!"

"Dengarkan dulu perkataanku. Tidak semua rakyat itu sekaya dirimu. Masih banyak dari mereka yang hidup pas-pasan, bahkan harus ngutang demi bisa hidup."

"Lha apa hubungannya dengan kemiskinan?"

"Ya tentu ada lah, Wo! Kamu pikir saja sendiri, mereka, dengan kemiskinan akut seperti itu akan tambah terbebani dengan dolar yang kian tinggi nilainya."

"Mereka, 'kan ga konsumsi dolar?'

"Wo, Wooo. Dengan naiknya dolar, barang-barang yang diimpor pasti naik harganya. Satu saja harga barang naik, harga semuanya termasuk jasa juga ikutan naik. Apalagi kalau yang diimpor berupa bahan mentah, kalau sudah menjadi barang siap pakai, harganya pasti naik tajam. Jadi, ini bukan perkara bangsa yang takut, melainkan kesejahteraan rakyatmu."

Raja Wojambi pun terlihat memahami kondisi yang sedang terjadi saat ini. 

"Aku harap, kamu segera bertindak untuk memperkuat nilai mata uang negara kita. Bekerjalah untuk rakyat. Jangan kecewakan mereka!"

Tak lama kemudian, setelah Pangeran Moko menepuk pundak keponakannya itu, ia pun melangkah menuju ruang baca istana. 

***

Friday, June 5, 2026

Pemerintah Melawan Negara?

Ilustrasi: Pixabay 

Itu mustahil. Mengapa? Karena, negara bukanlah makhluk hidup. Jadi tidak mungkin dilawan. Secara ringkas, negara merupakan wilayah dan sistem hukum berdaulat yang melindungi sejumlah manusia atau masyarakat yang lazim disebut rakyat. 

Nah beda lagi ceritanya kalau yang dilawan adalah rakyat sebagai pemegang kekuasaan tertinggi dalam negara. Mungkin Anda pernah mendengar atau membaca sebuah kalimat seru, "Jangan jadikan rakyat sebagai musuh kalian (pemerintah)!" 

Begitulah yang sering terjadi. Rakyat dijadikan musuh pemerintah. 

Itu pun bisa terjadi jika pemerintah yang sejatinya sebagai pengelola negara dan pelayan rakyat, tidak lagi berlaku demikian. Ya, bukannya bekerja maksimal untuk menyejahterakan rakyat, malah mengutamakan kepentingan pribadi dan golongan. Sehingga, rakyat bereaksi atas ketidakbenaran pemerintah tersebut. Rakyat mulai turun di jalan-jalan hingga yang paling ekstrem, yakni pemberontakan.

Dan, reaksi apa pun oleh masyarakat tidak bisa dikategorikan sebagai bentuk kesalahan. Mengapa? Karena rakyat memegang kekuasaan tertinggi. Rakyat yang membiayai jalannya roda pemerintahan melalui pajak. Tanpa rakyat, negara tidak akan eksis. 

Benar, saat rakyat membeli makanan saja dikenai pajak, jadi wajar rakyat bereaksi seperti itu. Dalam hal ini pemerintah yang salah dan harus diingatkan. Pemerintah wajib tahu diri. Makan dari uang rakyat seharusnya benar-benar melayani rakyat! Bukan malah menjadikan rakyat sebagai musuh mereka.

MBG Itu Program Memerangi Virus Mematikankah?

Ilustrasi: Pixabay 

"Bukan."

"Terus mengapa seperti program yang sangat penting gitu?"

"Sangat penting bagaimana maksudmu?"

"Cek saja sendiri! Anggaran di bidang-bidang lain dipangkas untuk keberlanjutan MBG. Alhasil, capaian-capaian yang menjadi target sulit digapai. Yaaa tidak sesuai harapan."

"Contohnya?"

"Pembuatan kamus. Anggarannya dipotong untuk MBG sehingga tahun ini kami tidak bisa menyelesaikan dua kamus untuk pelajar. Yang kami lakukan Ini demi mencerdaskan generasi bangsa lho!"

"Sangat memperihatinkan memang. Aku juga dengar anggaran kesehatan masyarakat pun dipangkas demi MBG. Padahal kesehatan tak bisa ditawar-tawar."

"Makanya itu aku bertanya-tanya sebegitu pentingkah program MBG tersebut hingga mengorbankan banyak kepentingan orang banyak?"

"Bagaimana lagi? Itu, 'kan programnya presiden terdahulu yang dilanjutkan penerusnya. Kita rakyat bisa apa?"

"Berarti kalau presiden yang sekarang mundur, apakah MBG secara otomatis akan dihentikan?"

"Belum tentu."

"Kok?"

"MBG sangat sarat dengan unsur politik dan juga ekonomi elit."

"Kalau yang begituan aku tidak paham."

"Intinya gini, MBG adalah program abadi bagi mereka yang diuntungkan. Jadi, akan terus dipertahankan."

"Hadeeeuh! Berat kalau begitu."

***

Thursday, June 4, 2026

Dosa Presiden Ditanggung Para Menteri

Ilustrasi: Pixabay 

Presiden tak pernah salah. Dia adalah wakil Tuhan di dunia. Begitulah kira-kira perkataan yang diimani masyarakat di Negara Batuhijau. Sebuah negeri yang subur dan kaya sumber daya alam. Di sana berlimpah batu bara, minyak bumi, nikel,.emas, timah, dan aneka kekayaan lainnya. 

Meski begitu, sangat disayangkan masih banyak rakyatnya yang hidup di bawah garis kemiskinan. Para kuli bangunan, pemulung, penarik becak, dan para penjual dagangan kecil, misalnya, masih jauh dari kata sejahtera. Sedang para pejabatnya hidup glamor, terlebih presiden yang sedang berkuasa. 

Keglamoran itu sebagian dari hasil korupsi yang menjamur di sana. Ya, mulai tingkat RT hingga orang nomor satu di negeri berjuluk Bintang Mega tersebut. O iya, yang mereka korupsi sebenarnya belumlah dari semua kekayaan alamnya. Sebab, sebagian besar kekayaan mereka dikuasai beberapa negara lain. 

Dan, setiap kali presiden korupsi, dia tidak langsung melakukannya. Para pejabat di bawahnya, yakni para menteri lah yang menjadi praktisi tindak kejahatan tersebut. Karena itulah, yang ditangkap dan dipenjara bukanlah sang presiden. Dirinya selalu dicitrakan sebagai orang baik, jujur, dan bermartabat. Bisa dikatakan dosa presiden ditanggung para menteri.

***


Wednesday, June 3, 2026

∆18.028, Anjok Kelas Berat

Foto: Pixabay 

"Nilai mata uang Damai kita melemah lagi menjadi ∆18.028 per dolar Amerika Serikat."

"Wadduh! Berarti harga barang dan jasa kian naik lagi nih. Kita makin sengsara."

"Tapi, kok para pejabat kita, terutama Presiden Pascauwa Sebentar terlihat hepi-hepi aja ya?"

"Orang-orang seperti mereka mana peduli dengan hal beginian. Mau ∆30 ribu kek, ∆90 ribu kek emang mereka pikirin? Nggak lah! Bagi mereka yang penting jabatan tetap di tangan. Rakyat mati pun mereka hepi."

"Jahat banget ya mereka. Padahal 80% pendapatan negara dari uang pajak rakyat. Artinya, gaji mereka dari kita. Tapi, balasan mereka berupa air tuba."

"Pendapatan mereka bukan hanya dari pajak, tapi juga dari uang sogokan, korupsi, dan lainnya seperti penjualan kayu hutan yang mereka babat."

"Mereka makan uang kotor makanya jiwa mereka kotor."

"Itulah sebabnya, jangan heran mereka berbuat di luar hati nurani. So, kita harus hidup lebih hemat lagi mulai sekarang.'

"Kita juga harus lebih giat menanam yang bisa dimakan saat semua harga kian melambung akibat nilai mata uang Damai terus melemah."

"Kira-kira ubi kayu di depan sana cukup untuk berapa bulan ya?"

"Kita tambah saja dengan menanam ubi jalar dan lainnya."

"Aku setuju."

***