Friday, June 26, 2026

Wujud Kedaulatan Rakyat Sebatas Pemilihan?

 

Ilustrasi: Pixabay 

Terdengar sangat tidak familiar kalau kedaulatan rakyat hanya sebatas pemilihan pemimpin negara. Ya, maksudnya hanya memiliki satu hak, yakni hak memilih pemimpin di alam demokrasi. 

Ini menjadi kelucuan tersendiri dalam memandang kedemokrasian. Betapa tidak? Bagaimana mungkin kedaulatan rakyat begitu sangat minim ruang geraknya? Lantas kalau pemilu yang diikuti tersebut banyak mengandung kecurangan, apakah rakyat tidak memiliki hak mengkritisinya?

Nah, soal kritik juga tidak sebatas dalam pemilu saja. Siapa pun pemenangnya, baik curang atau tidak, kritik idealnya diterima dan bukan dianggap kegaduhan.

Jadi, siapa saja yang memandang kedaulatan rakyat hanya sebatas hak memilih dalam pemilu, jelas sekali orang tersebut antikritik dan sombong. Kalau dia seorang presiden, maka dia sudah dapat dipastikan tidak mau mendengarkan kritik rakyat. Bicaranya mungkin menggebu-gebu tentang rakyat, tapi sebenarnya itu hanyalah omong kosong besar. Rakyat hanyalah sapi perahan untuknya. Bahkan, rakyat yang pintar semisal pengamat ekonomi, dilabelinya sebagai biang kegaduhan. Demonstrasi juga akan dianggap makar yang merongrong kekuasaannya. 

Tentu saja hak tersebut sangat berbahaya bagi keberlangsungan hidup di negara yang dipimpinnya.  

Thursday, June 25, 2026

Banyak Negara Minta Beras? Kasihkan kepada Rakyat!

Ilustrasi: Pixabay 

"Ndasmu!!! Enak aja rakyat dikasih beras dan jagung! Beli, beli, beli! Hari gini masih dikasih gratis! Nggak!!!"

"Serius amet? Santai aja kaleee ngomongnya. Nggak usah bawa-bawa emosi kayak gitu ah. Apalagi pake 'ndasmu' segala."

"Ah, ini hanya menirukan gaya bicara Pak Presiden Pascabawang Sebatang ajah. Beliau biasanya suka emosi gitu, 'kan kalo pas lagi ngomong?"

"Ya juga sih, ha ha ha ha. Pada kenyataannya selama ini emang nggak pernah pemerintah ngasih pangan kepada seluruh rakyat secara gratis tanpa kecuali."

"Benar sekali, tanpa kecuali. Artinya seluruh rakyat, baik yang di bawah garis kemiskinan, maupun yang kaya raya, semuanya merasakan kenikmatan bersama. Sebab, semua rakyat adalah pemberi pajak. Tanpa pajak, negara kita pasti sudah lama tiada di muka bumi."

"Maka, dengan melimpahmya hasil pertanian, sudah saatnya pemerintah membagikannya secara gratis kepada kita semua. Kalau untuk negara lain, itu setelah rakyat di negara ini bahagia."

"Tepat sekali katamu. Untuk apa mengutamakan negara-negara lain kalau rakyat sendiri di dalam negeri belum sejahtera."

"Terlebih jika pemberian kepada negara-negara lain tersebut sekadar untuk gaya-gayaan dan mendapatkan pujian dari para pemimpin negara lain, itu namanya super egois."

"Dan, sungguh tidak pantas seseorang yang super egois menjadi presiden di belahan bumi mana pun."

***

Wednesday, June 24, 2026

Pidato yang Melemahkan Nilai Tukar Mata Uang

Ilustrasi: Pixabay 

"Kiamat maju enam hari lagi nh."

"Pak Presiden pidato lagi?"

"Betul."

"Kapan?"

"Kemarin siang."

"Kok aku baru tahu ya?"

"Ah! Kamu emang manusia kudet."

"Terus selain kiamat maju enam hari, apa lagi dampak buruk pidato presiden?"

"Nilai mata uang kita anjlok lagi."

"Busyeeeeet! Emang ngomong apaan sih kok bisa gitu efeknya?"

"Beliau ngomong bahwasanya tidak ada yang lebih krusial daripada makan. Kalau tidak makan, pasti mati!""

"Mbelenggedeng! Kok bisa-bisanya beliau ngomong kayak gitu. Itu sama aja artinya pemerintah tidak mengutamakan perbaikan ekonomi. Seharusnya, beliau ngomongnya bakal membuka lapangan kerja agar rakyat bisa dapat uang untuk makan sehingga tidak mati."

"Itu kalau kamu presidennya. Lhah ini beliau, mau apa lagi?"

"Kalau gini terus, aku pikir negara kita akan hancur dan tinggal sejarah. Terbayang, orang-orang masa depan akan tahu bahwa Negara Republik Jadualuza pernah ada dengan jumlah penduduk terbesar ketiga di bumi."

"Tiba-tiba aku jadi teringat negara-negara besar yang sudah tiada, seperti dinasti -dinasti di Cina, Majapahit, Turki Utsmaniyah, dan lainnya."

"Ya, negara-negara besar pun bisa hancur dan tinggal kenangan. Apalagi negara kita yang hingga detik ini masih berstatus sebagai negara berkembang."

***

Yang Presiden Aku, HANYA SEMENTARA KOK

Ilustrasi: Pixabay 

Tidak ada yang abadi di dunia ini. Kecantikan?  Ketampanan? Jabatan? Semua pasti sirna. 

Itulah sebabnya, gunakan semua yang dititipkan kepada kita dengan sebaik mungkin. Jabatan presiden, misalnya, siapa pun orangnya haruslah selalu bekerja sesuai cita-cita negara yang dipimpinnya. Contohnya menyejahterakan rakyat, maka setiap gerak langkahnya WAJIB benar-benar prorakyat.

Sebutlah perkara lapar, pemerintah wajib mempermudah rakyat dalam mendapatkan pekerjaan. Mulai dari menyiapkan rakyat sebagai sumber daya manusia yang unggul hingga menciptakan lapangan pekerjaan.

Dengan pekerjaan yang layak, rakyat akan mendapatkan uang sehingga mampu membeli makanan untuk dirinya sendiri dan keluarganya, baik pagi, siang, maupun sore hari. Khusus dalam hal makan siang untuk anak-anak yang bersekolah, orang tua bisa membuatkan bekal makanan atau uang jajan yang cukup kepada mereka. 

Selain contoh di atas, tentu saja masih banyak lagi yang idealnya dikerjakan presiden untuk menyejahterakan rakyatnya. Intinya, dia bekerja untuk rakyat selama jabatan presiden masih di tangannya. 

Saya Tahu Siapa yang Mendanai Demo

Ilustrasi: Pixabay 

"Ha ha ha ha ya iyalah tahu. Dia sendiri orangnya yang mendanai demo-demo itu."

"Demo-demo nggak mutu. Bayarannya juga nggak berkelas banget."

"Hanya dikasih 100 rebo, susu, roti, ama wajan."

"Katanya kaya, tapi pelit."

"Kalau nggak pelit, mana mungkin dia kaya."

"Saat kaya bisanya nyusahin rakyat saja."

"Padahal usianya dah tua."

"Tua banget malah."

"Tapi, dia doyanmya ama pria-pria muda yang ganteng."

"Hadeeeuh jeruk ketemu jeruk."

"Dia jeruk jenis apaan ya?"

"Jeruk keprok kayaknya."

"Padahal ada pepatah mengatakan, 'Semakin tua, jeruk kian berkhasiat.'. Nah, kalau dia malah sebaliknya."

"Udah gitu, dia bilang nggak mikirin jeritan rakyatnya lagi. Dosa apa ya kita punya presiden kayak dia."

"Ini ujian. Suatu waktu kelak, seluruh rakyat Negara Kerak Langit termasuk kita berdua pasti akan terlepas dari penjajahan yang dia lakukan."

***

Tuesday, June 23, 2026

Dia Udah Jadi Presiden atau Masih Capres?

Ilustrasi: Pixabay 

"Katanya kekayaan kita keluar, pengusaha  bohong, dan tidak bisa ngasih gaji bagus kepada pegawai negeri karena uangnya ga ada."

"Berarti dia hanya menonton keburukan-keburukan itu."

"Dengan kata lain, dia belum jadi presiden atau bukan presiden."

"Wah berarti bener kata sebagian pihak bahwa presiden kita itu ya yang sekarang tinggalnya di Kota Jembarin Ajah."

"Memang begitu, 'kan? Pasalnya, jika dia sudah benar-benar udah jadi presiden, maka dirinya pasti sudah menghentikan keluarnya kekayaan negara kita, menangkap pengusaha yang bohong, dan mengalihkan uang dari program aneh seperti minum teh gratis, kepada para pegawai negeri."

"Pantesan selama ini dia ga kerja. Aktivitas yang dilakukannya hanya jalan-jalan dan pidato. Kedua aktivitas itu pasti atas perintah presiden yang sesungguhnya, yakni Bapak Presiden Sundul Ngombe."

"Menurutku, negara kita sudah beralih nama. Yang semula Republik Langit Biru, sekarang menjadi Republik Bohongin Rakyat."

"Bener banget katamu. Kalau begitu, sudah saatnya rakyat bangkit untuk mengembalikan muruah bangsa kita."

"Aku setuju soal itu. Tapi, kita sudah lama tidak bergerak, agaknya kata "bangkit" terlalu jauh untuk terwujud."

***

Koperasi Pinokio Berjatuhan

 

Ilustrasi: Pixabay 

"Ciyeeeee pink ungu. Ha ha ha"

"Ciye ciyeeeee wekawekaweka."

"Eh, bagus lho warnanya. Ada pink-nya,.ada ungunya. Serasi banget deh."

"Iya, bagus emang. Terlihat damai. Terasa nyaman. Tapi, kesannya kayak perpaduan pasangan sejenis ga sih?"

"Eemmm, ga juga. Yaaaa tepatnya terkesan romantis aja sih menurut aku."

"Sayangnya udah beberapa yang berjatuhan."

"Bener. Gimana ga berjatuhan, bikinnya asal-asalan gitu."

"Aku selalu ketawa saat melihat ada Koperasi Pink Ungu dibangun di tempat sepi. Di tengah hutan apa ya? Pokoknya sepi gitu."

"Siapa yang mau beli coba?"

"Eh iya, itu sebenarnya koperasi atau toko kelontongan sih? Kok yang terlihat cuma toko gitu."

"Namanya sih koperasi, tapi wujudnya minimarket yang menjual barang-barang dari gudang minimarket lain."

"Jadi dari gudang minimarket lain? Seriusan?"

"Iya. Aku lihat sendiri mereka ngangkut barang-barang dagangan dari sana."

"Berarti yang dikatakan mereka nyerap produk lokal di desa itu bohong belaka?"

"Yes. Benar sekali."

"Ternyata mereka Pinokio semua. Mengapa ga dinamakan Koperasi Pinokio aja ya?"

"Ha ha ha ha ha. Benar-benar. Tepat itu."

"Bahkan saat ada kunjungan bos besarnya, ada pihak Koperasi Pinokio yang menjual gas dengan harga palsu."

"Ya, aku juga lihat itu. Harga sebenarnya 40 ribu, dikatakan kepada bos besarnya hanya 16 ribu."

"Waduuuuh! Parah banget."

***