![]() |
| Ilustrasi: Pixabay |
Lalu bagaimana dengan sarapan pagi dan makan sore? Atau, bila perut benar-benar lapar saat malam hari, harus makan apa jika menu yang ada sebatas makan siang saja?
Pemenuhan gizi pastilah bukan hanya makan siang atau sekali makan dalam 24 Jam. Bayangkan bagaimana bisa gizi terpenuhi kalau dalam sehari semalam hanya makan satu kali, yakni saat siang hari saja. TIDAK MUNGKIN TERPENUHI.
Terkadang saya heran bertubi-tubi ketika ada yang bangga dengan makan siang gratis di Republik Wahana ini.
Begitulah keheranan Prof. Banyu Grobak, Lc, MA, Ph.D. terhadap cara pemenuhan gizi di negaranya. Meski demikian, menurutnya masih ada yang lebih mengherankan lagi, yakni soal dananya. Dia menyadari bahwa negaranya sangatlah miskin dengan utang kepada asing sudah nyaris sepuluh ribu trilyun Dauna. Tetapi, dengan kenyataan pahit tersebut, presiden di sana masih saja memaksakan kehendaknya untuk program makan sehari semalam itu.
"Jelas sekali program tak bermutu ini sangatlah mengganggu kehidupan sehari-hari. Untuk tetap menjalankannya, anggaran di sektor lain semisal kesehatan dipangkas. Rakyat pun kian sengsara. Ini apa tidak aneh?" suara Prof. Banyu terdengar seperti sedang menangis.
Selain ekonom tersebut, banyak pihak juga berpikiran sama bahwa program makan siang yang dinamakan MBG ini bukanlah solusi tepat untuk pemenuhan gizi manusia di negara yang kaya akan tanaman liarnya itu.
Mereka juga mengusulkan agar Presiden Pranikah Sudah segera menciptakan lapangan pekerjaan yang layak kepada rakyat. Tujuannya supaya setiap rumah tangga memiliki uang yang cukup untuk memenuhi gizi keluarga setiap hari.














