Monday, April 27, 2026

Bagaimana jika Iran Kalah?

Foto: Pixabay

Perang Iran versus Amerika Serikat + Israel belumlah usai. Masing-masing pihak masih dalam kondisi prima. Terlebih pascagencatan senjata beberapa waktu lalu. Dari sudut kacamata sederhana, Iran bisa dikatakan sebagai pihak dengan kekuatan di bawah Amerika Serikat. Apalagi ditambah kekuatan Israel, tentu saja Iran diprediksi akan kalah. 

Ya, cepat atau lambat kekalahan itu akan dialami Iran. Pertanyaannya, bagaimana seandainya Iran sudah kalah? 

Jawaban paling mencolok ialah Timur Tengah akan dikuasai secara mutlak oleh Amerika Serikat dan Israel. Kok? Bukankah di sana masih ada Turkiye dengan kekuatan yang besar? Bahkan, bisa dikatakan Turkiye merupakan kekuatan global yang tidak bisa diremehkan. Betul, faktanya memang demikian. Akan tetapi, negeri di bawah kepemimpinan Presiden Erdogan itu belum bisa sepenuhnya lepas dari jeratan Amerika Serikat dan Israel. 

Lihatlah betapa Turkiye berkehendak memiliki F-35. Pesawat F-16 varian terbaru pun masih dibeli republik yang didirikan Mustafa Kemal Attaturk itu selama KAAN belum 100% mengudara bebas. Dari sisi bisnis pun, Turkiye belum mau melepaskan diri dari Israel, yakni di bidang energi. 

Nah, Itu jika Iran kalah. Lantas bagaimana kalau dilihat lebih dalam lagi? Iran sebenarnya merupakan negara superpower, baik dari sisi militer, maupun sisi-sisi lainnya. Buktinya hingga detik ini Amerika Serikat dan Israel belum mampu menguasai Iran. Dalam rekam jejaknya, Amerika Serikat sebenarnya juga pernah berperang melawan negeri Syi'ah tersebut. Kapan? Itu terjadi ketika Iran melawan Irak. Amerika Serikat berada di pihak Irak, tapi selama delapan tahun peperangan, Iran tetap tak terkalahkan. 

Agaknya, perang melawan Iran jika diteruskan akan berkepanjangan, kecuali pihak Amerika Serikat dan Israel menyudahinya secara damai. Akankah? 


Kipandjikusmin: Ternyata Kian Mendung Ajah!

 

Ilustrasi: Pixabay

"Min! Ngapain loe duduk di situ?"

"Udah tau guwa duduk, masih nanya ajah."

"Nggak gitu juga, maksud guwa ngapain loe duduk di situ?"

"Ya, duduk lah. Emang ngapain lagi?"

"Ya elah, Min. Ribet banget. Okey, guwa cancel ajah pertanyaan barusan."

"Terus loe mo ngapain di sini kalo nggak nanya?"

"Ngadem!"

"Emang di sini lemari es apa? Pake ngadem segala."

"Hayaaaah! Di sini surga tau. Makanya enak buat ngadem."

"Tapi, bentar lagi surga di sini akan segera hilang."

"Hilang? Maksud loe?"

"Pihak perusahaan bakal nambang di sini. Pohon-pohon dan lainnya bakal tak ada lagi. Guwa beserta keluarga wajib ngosongin ni rumah. Paling lama besok. Oh, dunia kian mendung ajah!"

"OMG! Guwa turut prihatin."

"Makasih udah peduli."

"Btw, udah dapat tempat baru?"

Kusmin menggeleng. 

Iblis di depannya terdiam. 

Sedang angin sendalu dari timur sibuk mempermainkan rambut mereka. Ya, begitulah siang itu. Sebuah fenomena kekinian yang kian menuju kehancuran. Area yang sebenarnya subur akan segera ditelan keserakahan manusia-manusia rakus. 

***

Sunday, April 26, 2026

Presiden Cerdas Punya Skala Prioritas

Ilustrasi: Pixabay

Menjalani kehidupan pastilah tidak pukul rata. Pasalnya, dalam realitas nyata terdapat beragam fakta. Seorang presiden yang cerdas harus mampu mendahulukan fakta tertentu, barulah ke fakta-fakta lainnya. 

Sebutlah fakta rumah-rumah warga yang hancur akibat banjir bandang dan tanah longsor, tentu lebih didahulukan penanganannya daripada memberikan makanan gratis kepada karyawan pabrik, misalnya. Begitu pula dengan fakta penting lainnya. Artinya, seorang presiden idealnya mengedepankan skala prioritas. 

Jangan sampai fakta yang sebenarnya tidak mendesak sekali malah didahulukan daripada yang lebih urgen. Jika ini yang terjadi, maka tinggal tunggu negara yang dipimpinnya akan segera bubar. 

Rakyat pasti mengidamkan-idamkan dipimipin seorang presiden yang cerdas. Ya, cerdas dalam hal intelektual, emosional, spritual, sosial, dan cerdas dalam hal-hal lainnya. Kembali ke contoh fakta di atas terkait banjir dan tanah longsor. Untuk terwujudnya sikap mendahulukan penanganan bencana alam, diperlukan kecerdasan-kecerdasan itu. Bagaimana mungkin seorang presiden akan berempati kepada para korban kalau kecerdasan sosialnya sangat rendah? Yang ada, presiden tersebut tidak peduli karena dianggapnya sama sekali tidak menguntungkan dirinya secara personal. Biasanya presiden seperti ini hanya senang dengan orang-orang kaya yang memiliki banyak uang, rupawan, berkuasa, dan memiliki kelebihan-kelebihan lainnya. Dengan demikian, ia berusaha untuk dapat turut serta menikmati berbagai kelebihan itu. Terlebih jika mereka memujinya. 

Nah, bagian terakhir di atas dapat berakibat fatal. Sebab, agar medapatkan pujian, dirinya pasti akan menggunakan uang negara untuk hal-hal yang bombastis. Contohnya memberikan makan gratis kepada karyawan pabrik, mendirikan unit-unit usaha di kota-kota, melakuan banyak kunjungan di negara-negara maju, dan sebagainya. Semuanya menguras anggaran belanja negata yang mempercepat kehancuran dan bubarnya negara yang dipimpinnya. 


Saturday, April 25, 2026

Korupsi Itu Budaya, Tidak Ada Hukumannya

 

Ilustrasi: Pixabay

Tak ada rotan akar pun jadi. Tak bisa korupsi besar-besaran, kecil-kecilan pun pasti. Terpenting bisa korupsi. Sebab, korupsi adalah budaya yang mengakar sejak dulu kala. 

Budaya, selalu baik di mata pelakunya, termasuk korupsi bagi koruptor. Kalau di luar dari komunitas mereka, orang-orang pasti menyebutnya sebagai bencana. Ya, bisa dikatakan ruang budaya korupsi tidaklah mencakup semua orang, meskipun tidak terbatas negara. Budaya ini lintas segalanya di dunia global. Artinya, jika dalam jiwa pelakunya terus membudayakannya, maka korupsi pasti akan terus ada. 

Budaya korupsi tidak memandang gaji dan apa pun juga. Orang-orang yang bergaji tinggi, misalnya, tetap saja melakukan korupsi selama dirinya berbudaya korupsi. Contohnya? Banyak kasus korupsi di Indonesia yang pelakunya merupakan pejabat. 

Dan, yang namanya budaya, tentu saja tidak ada hukumannya. Sesama pelaku budaya ini sudah dipastikan akan saling melindungi. Sebutlah misalnya, hakimnya berbudaya korupsi, para terdakwa korupsi pasti tidak mendapatkan hukuman. Karena mereka hiidup di negara umum, dibuatlah hukuman formalitas. Bisa dua tahun, tiga tahun, bisa juga lebih tinggi lagi, tapi tidak terlalu tinggi. Dalam pelaksanaannya, narapidana kasus korupsi tidak menempati sel, melainkan bebas diam-diam. 

Wow! Begitulah budaya korupsi! 


MBG Bukti Rakyat Indonesia Super Miskin?

Ilustrasi: Pixabay

Orang super miskin tak punya banyak uang. Jangankan beli barang-barang sekunder yang bekas, ngasih makan anak saja tidak mampu. Itulah sebabnya, anak-anak orang super miskin dikasih makan orang-orang berduit atau oleh pemerintah. 

Agaknya gambaran singkat orang-orang super miskin ya seperti itu. Benar, persis di Indonesia. Anak-anak sekolah dikasih menu makan bergizi gratis (MBG). Ya, GRATIS. 

Kata "gratis" membuktikan bahwa seluruh anak sekolah di negeri ini adalah anak orang-orang super miskin. Mereka kelaparan. Mereka tidak mampu membeli makanan. Mereka sekarat. Mereka sangat memperihatinkan. TRAGIS! 

Pertanyaannya, apakah benar demikian? 

Tentu saja tidak. Mereka anak-anak orang mampu. Buktinya, mereka mampu membayar biaya sekolah. Ingat! Sekolah tidak gratis. Sekolah itu berbayar. Bahkan, untuk bisa terus belajar di sekolah, para siswa dipungut sumbangan sana-sini yang memberatkan pihak siswa. 

Lantas, apakah MBG salah? Tidak tepat sasaran? Banyak pihak mengatakan lebih baik dikembalikan seperti dulu, yakni beasiswa kurang mampu. Bagi anak-anak yang memang orang tua mereka berpenghasilan kurang, maka mereka layak mendapatkan uang bantuan. 

Sebagian pihak yang lain berpendapat idealnya pemerintah membantu para orang tua dalam hal pekerjaan. Sehingga, mampu menyekolahkan dan memberikan makanan bergizi yang sesungguhnya. Zaman era Orde Baru, misalnya, pemerintah saat itu membantu masyarakat dalam hal pekerjaan seperti program transmigrasi. 

Intinya, banyak sekali pihak yang menghendaki agar dana MBG dialihkan kepada upaya pemerintah membantu masyarakat termasuk para orang tua siswa agar bisa mandiri secara ekonomi. 


Friday, April 24, 2026

Jemaah Sumbang Barang Ketika Kas Masjid Dikelola Pemerintah

Ilustrasi: Pixabay

Ini kejadian seribu tahun lalu di sebuah negara terkorup sedunia. Saking rakusnya, pemerintah negara tersebut membuatkan rekening tunggal di bank untuk setiap masjid secara keseluruhan. Orang-orang tamak itu tergiur dengan uang infak yang jumlahnya sangat fantastis. 

Mengetahui akal busuk pemerintah tersebut, seluruh jamaah langsung tidak setuju. Alhasil, celengan diganti dengan ruangan besar. Para jemaah ada yang memberikan paku, semen, dan barang lainnya ketika masjid mereka akan ada perbaikan. Bahkan, mereka pula yang menyediakan para pekerjanya.  

Untuk keperluan lain pun, seperti menu berbuka puasa bersama, pihak masjid langsung menerima makanan dan minuman siap saji dari para jemaah. 

Dengan kecerdasan para jemaah di sana, pemerintah Negara Republik Sen La Nah akhirnya gigit jari alias mati kutu. Selang beberapa tahun kemudian, negara berlambangkan piring cokelat itu bangkrut dan tutup permanen. 

Begitulah jadinya jika pemerintahan dipegang oleh orang-orang yang penuh dosa. Mereka tentu tidak akan berhenti berbuat dosa, kecuali tobat tidak lagi menjadi ahli dosa. Dan, idealnya rakyat wajib cerdas agar tidak dikadalin mereka. 

Sekadar informasi, setelah tutup permanen, rakyat bersatu padu membukanya kembali dengan pemerintah yang baru. 

(Cerita di atas hanya fiksi. Jika ada kesamaan kasus, itu hal biasa. Tidak usah diributkan) 

Thursday, April 23, 2026

Pajak, Pajak, Pajak, Jalan-Jalan, dan....

Sumber Foto: Pixabay

Di sebuah negeri, tepatnya di sebelah Gunung Pohinta, hiduplah seorang raja. Namanya Sau Kuarah Ansi. Dirinya naik tahta sejak usia muda. Ya, sepeninggal ayahnya yang tewas saat hendak mengusir sekawanan gajah di lereng gunung, dirinya dinobatkan sebagai raja di sana. 

Kerajaan yang sebenarnya kaya raya akan sumber alamnya itu sudah lama bernasib sial. Karena kalah perang melawan kerajaan lain, maka kerajaan yang bernama Kang Mendung itu terpaksa miskin. Benar, terpaksa. Bagaimana tidak? Di sana kaya emas, nikel, ikan, dan sebagainya, tapi dikuasai kerajaan asing. 

Sumber daya alamnya yang melimpah ruah menjadi tak berarti karena keadaan tersebut. Untuk mencukupi kehidupan di sana, pajak yang beragam dikenakan kepada seluruh rakyat. Mulai pajak penghasilan, pajak bumi dan bangunan, pajak hadiah, pajak pembelian, pajak penjualan, hingga pajak warisan. 

Selain itu, utang luar negeri menjadi santapan umum di kerajaan ini. Sedangkan berbagai usaha milik istana kurang dioptimalkan. Usaha -usaha yang meliputi pabrik semen, maskapai penerbangan, pariwisata, dan banyak lagi selalu merugi. 

Nah, yang anehnya, sang raja tidak peduli dengan kondisi perekonomian yang kian terpuruk di sana. Meski defisit anggaran, Raja Sau Kuarah Ansi hidup dengan boros. Misalnya, dirinya sangat senang melakukan lawatan demi lawatan di kerajaan-kerajaan lain. Tentu saja hal itui menelan biaya yang tidak sedikit dan yang menanggungnya adalah rakyat melalui pajak. 

Rakyatnya pun semakin tidak senang kepadanya. Sebagian kaum terpelajar terus mendorong adanya upaya mengganti dirinya dengan pangeran yang lain. 

Untuk mengamankan posisinya sebagai raja, maka ia melakukan pembungkaman terhadap para pengamat pemerintahannya. Kebebasan berpendapat dan lainnya yang dianggap dapat membahayakan kian dibatasi. 

Alhasil, suasana kehidupan, termasuk di lapisan bawah semakin tidak nyaman. Mereka seakan hidup dalam penjara yang sangat besar. Dan, harapan demi harapan dari hari ke hari terasa kian jauh untuk dapat digapai. 

Dengan kenyataan pahit seperti itulah, rakyat bersatu untuk bangkit. Bukan lagi sekadar kata-kata, melainkan sudah di level aksi nyata di lapangan. Siang malam mereka terus beraksi hingga pada suatu hari sang raja berhasil mereka lengserkan dari singgasananya.