Friday, January 24, 2020

Ternyata Banyak Kaum Hawa Jatuh Hati kepada Kaum Adam yang Berambut Gondrong


Sudah satu tahun lebih Hamid mengamalkan perkataan guru spiritualnya. Ia ingat betul gurunya mengatakan bahwa banyak kaum Hawa jatuh hati kepada kaum Adam yang berambut gondrong

Sejak saat itu rambutnya yang bergelombang sengaja ia biarkan gondrong. Maka, setiap dua hari sekali dirinya membeli sampo merek tertentu di warung bu Midah. Tujuannya agar rambut gondrongnya terlihat indah meski saat kering oleh paparan sinar matahari.

Awalnya, ia begitu semangat mengamalkannya. Tetapi, kemarin hatinya mulai goyah. Penyebabnya sederhana. Hingga detik ini belum ada seorang wanita pun jatuh hati kepadanya.

Hari berganti hari. Dan, pertanyaan terkait perkataan guru spiritualnya kian sering muncul di kepalanya, terutama saat malam hari. Terlebih setelah beberapa teman dekatnya menanyakan hal yang sama kepadanya.

Dengan mengumpulkan kepingan-kepingan keberanian, ia memajukan langkahnya untuk menemui sang guru berwibawa tersebut.

Di hadapan guru yang sangat dihormatinya itu, ia menyampaikan keraguan hatinya. Tanpa disangka-sangka, gurunya tersenyum-senyum setelah  mendengar perkataan Hamid tadi.

Tak mau Hamid semakin bingung, pria yang biasa dipanggil Guru Hijau ini dengan tenang menerangkan maksud dari berambut gondrong itu.

Kini, Hamid paham mengapa yang ia impikan belum terwujud. Ternyata, berambut gondrong mengandung dua makna yang cukup sulit diamalkannya.

Pertama, rambut gondrong bermakna pemikiran yang matang. Kematangan dalam berpikir tidak dapat dicapai dengan waktu yang singkat. Perlu jam demi jam, bahkan hari demi hari. Segala sesuatu akan indah jika didasari dari hasil pemikiran yang penuh pertimbangan. Saat itulah kebijaksanaan muncul pada diri seorang pria yang bersangkutan.

Kedua, rambut tidak sekadar lekat pada kepala manusia. Helai-helainya yang halus melambangkan kekembutan hati. Lembut itu baik. Mulia. Dan idealnya, kemuliaan hati tidak hanya sekejap. Hari ini baik, besok jelek. Tidak demikian. Akan tetapi, kemuliaan hati yang ideal adalah berlaku setiap hari sepanjang kehidupan manusia. Singkatnya, makna yang kedua ini adalah berhati mulia sepanjang waktu.

Dengan begitu, kemungkinan  besar akan ada banyak wanita jatuh hati kepada pria yang berambut gondrong seperti itu.

Thursday, January 23, 2020

"Matamu Cemerlang/Rambutmu Panjang/Hidungmu Lebar"


Malam ini saya menikmati tawa lepas saat memirsa sebuah sinetron di salah satu saluran televisi swasta nasional. Ada sebuah puisi pendek yang dibacakan berulang-ulang oleh beberapa tokohnya.

Awalnya, salah seorang tokoh bernama Udin meminta temannya yang pengamen membuatkan lagu untuknya. Lagu tersebut akan ia nyanyikan di hadapan wanita yang disukainya. Entah mengapa, lagu yang telah dibuat temannya itu, olehnya berubah menjadi puisi. Setidaknya mereka menyebutnya "puisi".

Nah, judul di atas adalah tiga larik puisi itu. Itukah sebabnya, saya apit dengan tanda kutip ganda. Dan, yang membuat saya tertawa bukan lantaran lagu tersebut menjadi puisi. Melainkan pada larik ketiganya, "Hidungmu lebar"

Seketika saja larik itu memunculkan bayangan sebuah hidung yang lebar di kepala saya. Lebih jelasnya, hidung lebar seorang perempuan. Lebar. Hidung yang lebar. Saya pun tertawa.

Kita tinggalkan soal tawa tadi. Sebab, entah disadari penulisnya atau tidak, ada hal yang sebenarnya bermakna "dalam" terkait larik-larik puisi di sinetron tersebut. Apa?

Secara keseluruhan, setiap lariknya menggambarkan keadaan fisik wanita yang menjadi pujaan hati bang Udin. Mulai dari matanya, rambutnya, dan hidungnya. Benar, secara fisik.

Saya, Anda, dan mereka pun memiliki kekhasan fisik seperti itu.

Lantas, di mana letak makna dalamnya?

Jujur saja, puisi ini menyentil batin saya. Lho, kok bisa?

Begini. Jika kita ambil secara umum, maka gambaran seseorang terbagi atas dua hal. Fisik atau jasmani dan batin atau rohani. Fisik jelas meliputi materi jasad kita semisal mata, rambut, dan hidung sebagaimana dalam puisi di atas. Sementara rohani mencakup hati dan pikiran setiap manusia.

Lalu, bagaimana gambaran batin kita?

Itulah makna "dalam" yang saya maksudkan di atas. Dengan kata lain, sudahkah kita memperhatikan batin masing-masing termasuk perkataan dan perbuatan yang telah dilahirkan (daei batin) selama ini?

Pernahkah kita korupsi, misalnya? Melukai? Atau malah sebaliknya?

Jadi, saya ingin menyampaikan satu hal dalam hal ini bahwa di balik unsur humor pun terpendam makna yang dalam.

Wednesday, January 22, 2020

Drakor Lebih Berkualitas dan Bersahabat dengan Alam Demokrasi sedangkan Tayangan China Daratan di Luar Daftar Tontonan Saya


Masih ingat Vagabond? Drama Korea Selatan bergenre politik, mata-mata, laga, dan thriller ini begitu luar biasa.

Saya sebut luar biasa karena drakor tersebut berani menyuarakan keganjilan-keganjilan yang dalangnya adalah presiden di negara itu. Rakyat berhadapan-hadapan dengan pemerintah. Demi kekuasaan, rakyat ditembaki tanpa mengenal perikemanusiaan.

Dan, di negara demokrasilah rakyat masih memiliki kesempatan seperti dalam drakor tersebut. Sedangkan di dunia komunis, rakyat sama sekali dibungkam.

Lalu bagaimana dengan tayangan dari negara lain?

Dulu, Hong Kong bisa dibilang kiblat perfilman di Asia selain India dengan Bollywoodnya. Nama-nama semisal Bruce Lee, Jacky Chan, Jet Lee, Stephen Chow, Rosamund Kwan, dan banyak lagi kerap menghiasi layar lebar dan layar kaca, termasuk di Indonesia.

Gelombang dunia hiburan Hong Kong perlahan surut. Sempat, Taiwan dengan serial drama genre romantis, khususnya yang dibintangi boy band F4 (Flower Four) semisal "Meteor Garden" digilai banyak penonton. Jerry Yan, Vanness Wu, Ken Chu, dan Vic Chou benar-benar menyihir jutaan mata, terutama remaja putri awal tahun 2000-an lalu.

Meski demikian, cahaya mereka pun perlahan meredup. Sementara arus dari Korea Selatan terus kuat. Mulai dari dunia tarik suara, akting, hingga penyebaran bintang-bintang top mereka eksis di negara lain. Sebutlah Lee Minho yang menjadi iklan salah satu produk Indonesia.

Korea Selatan sungguh telah menjadi magnet banyak orang termasuk Amerika dan Eropa. Dari dunia hiburan, alam dan kehidupan masyarakat mereka pun ikut digandrungi dunia luar. Ya, wisata alam, pakaian tradisional, menu-menu makanan, teknologi, dan kebudayaan lainnya dari Korea Selatan telah mendunia.

Lantas, bagaimana dengan Jepang dan China  daratan yang dekat dengan negeri Ginseng itu?

Jepang sejak dulu maju dalam banyak aspek kehidupan. Memang belakangan ini di dunia hiburan, negeri para samurai tersebut kurang seramai Korea Selatan, namun tidak kalah dalam kualitas. Bahkan, anime Jepang masih unggul daripada produk-produk serupa di Asia.

Kini, China daratan. Pertanyaan terakhir, apakah tayangan dari China daratan sama dengan Jepang atau yang sudah saya sebutkan sebelumnya tadi? Jawabannya pastilah tidak. Mengapa? Sebab, dari segi kualitas tayangan mereka belum sebanding dengan yang lainnya.

Itulah sebabnya, saya tidak pernah memasukkan tayangan China daratan dalam daftar tontonan yang sifatnya menghibur dan bermanfaat. Saya lebih memilih tayangan dari Korea Selatan, Jepang, Amerika, dan sebagian kecil dari Indonesia.


Tuesday, January 21, 2020

Indonesia Perlu Chaerul Lebih Banyak Lagi


Belajar bisa dari mana dan siapa saja. Karena yang memberikan ilmu itu bukan guru, bukan dosen, bukan makhluk mana pun. Melainkan Allah swt lah yang memberikannya. Bila Dia berkehendak seseorang dapat ilmu melalui air sekalipun, maka dapatlah ia ilmu itu.

Ya, masih ingat, 'kan bagaimana seorang Blaise Pascal yang merupakan filsuf Prancis itu menemukan Hukum Pascal?

Ia mendapatkan bagian penting dari ilmu fisika tersebut bukan saat berguru dari seorang guru besar. Akan tetapi, saat dirinya sedang iseng mengisi air ke dalam sebuah kantung plastik. Kemudian ia membuat banyak lubang di kantung itu. Setelah diperhatikannya, ternyata air yang keluar dari banyak lubang tersebut terpancar dengan sama kuat.

Dari situlah, dirinya menemukan Hukum Pascal yang berbunyi jika kita memberikan gaya berupa tekanan pada “cairan tertutup” itu, maka tekanan di setiap bagian cairan itu juga akan meningkat, sesuai dengan besar tekanan yang kita berikan.

Dengan kata lain, guru, dosen, dan lainnya hanyalah perantara bagi kita mendapatkan ilmu dari-Nya.

Lantas, apa hubungannya dengan judul di atas?

Saya yakin Anda sudah mengetahui adanya seorang bernama Chaerul (sebagian yang lain menuliskan namanya Khaerul) berhasil membuat dan menerbangkan pesawat pada tanggal 15 lalu.

Pesawat buatan pria yang dikenal sebagai seorang montir ini mampu terbang 20 meter dan 2 kali bermanuver.

Dikabarkan pemuda itu tidak lulus sekolah dasar. Meski demikian, dirinya telah membuktikan bahwa ilmu itu bisa didapatkan dari mana saja (selain guru atau dosen formal di ruang kelas).

Hal mendasar yang dapat kita petik selain hal tersebut adalah, kegigihan dalam mencapai segala sesuatu. Gigih dalam usaha dan tentunya dalam doa.

Inilah yang perlu ditanamkan sejak dini. Benar, bukan hanya Chaerul, tetapi juga lebih banyak lagi termasuk saya dan Anda.


Monday, January 20, 2020

Jangan Gunakan Elpiji jika Harganya Naik, tapi Gunakanlah Energi Alternatif Lain


Ada yang sering kelupaan dengan hukum kausalitas terkait judul di atas. Saya membayangkan hal itu mirip lupanya seseorang dari kekasihnya.

Betapa tidak? Sebutlah misalnya dia bahagia karena ditemani kekasihnya, tetapi dirinya kelupaan bahwa rasa bahagia tersebut adalah akibat dari keberadaan orang yang dikasihinya tersebut.

Memang terkesan aneh, tapi ini pula yang saya dengar atau baca belakang ini mengenai naiknya harga bahan bakar (bb). Segelintir orang kelupaan naiknya bb sebenarnya akibat dari dicabutnya subsidi bahan bakar bersangkutan, seperti bensin dan solar.

Pertanyaannya, siapa yang mencabut? Siapa pun orangnya, dialah yang menyebabkan naiknya bahan bakar di Indonesia. Sebab, jika subsidi tersebut tak dicabutnya, harga bb pun tidak akan naik.

Hal di atas hanyalah perkara kausalitas. Lalu, adakah solusi dari pencabutan subsidi dari bahan bakar seperti bensin dan solar itu? Bagaimana pula dengan yang "akan" dicabut, yakni elpiji atau Liquified Petroleum Gas (LPG)?

Mengganti dengan bahan bakar lain? Kalau ini solusinya, dengan apa?

Saya masih ingat waktu kecil sering melihat orang memasak dengan bahan bakar kayu (bbk). Konon, rasa makanan yang dimasak dengan bahan bakar itu lebih enak. Tentu maksudnya lebih enak daripada yang dimasak dengan minyak atau gas. Harga kayu pun murah. Bahkan, bisa didapatkan secara gratis jika rajin mencarinya.

Kelemahan paling mencolok dari bbk ialah kepulan asap yang dihasilkan. Selain aromanya tidak sedap, juga membuat mata berair.

Selain itu, pernah juga saya melihat orang memasak dengan daun kelapa kering. Masalahnya, asapnya lebih parah daripada hasil pembakaran kayu.

Kemudian pernah juga saya melihat orang memasak dengan energi surya. Ini sangat bagus. Tapi, bagaimana jika hujan atau sekadar mendung?

Akhir-akhir ini "booming" pula bahan bakar dari sesuatu yang tak terduga sebelumnya, yakni kotoran sapi. Hasilnya adalah biogas. Sangat menarik. Namun, hingga sekarang sebarannya masih belum menyentuh seluruh manusia Indonesia.

Dan, ada lagi, batu bara. Cara menggunakannya bisa dibakar dalam bentuk briket atau dalam wujud paling baru digagas. Apa itu? DME atau dimethylether yang direncanakan dapat menggantikan LPG.

Awal tahun lalu, dikabarkan bahwa PT Bukit Asam Tbk (PTBA) dan PT Pertamina (Persero) bersama perusahaan asal Amerika Serikat--Air Products and Chemicals, Inc--telah sepakat membentuk perusahaan patungan dengan membangun pabrik gasifikasi batu bara di Peranap, Riau. Jika sesuai rencana awal, maka pabrik inilah yang akan mengubah batu bara menjadi dimethylether atau DME. Meski demikian, hingga kini batang hidungnya juga belum dapat dirasakan masyarakat.

Selebihnya listrik. Teknologi semakin canggih. Orang memasak bisa dengan panas yang dihasilkan dari listrik. Hebat. Lantas apakah listrik tarifnya tidak naik? Atau bagaimana saat terjadi pemadaman bergilir?

Pertanyaan terakhir, seandainya tidak lagi menggunakan elpiji yang mungkin harganya akan naik, energi alternatif apa yang paling ideal kita gunakan?


Sunday, January 19, 2020

Kerajaan Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme versus Keraton Agung Sejagat


Entah ada apa gerangan setelah kejadian-kejadian besar, seperti kasus korupsi Jiwasraya, pencurian ikan di Laut Natuna, dan kasus suap yang melibatkan Komisioner KPU, bermunculan kerajaan-kerajaan baru.

Sebutlah Keraton Agung Sejagat di Purworejo dan Sunda Empire di Bandung. Sementara yang memang sudah ada sebelumnya, tapi baru viral semisal Keraton Djipang di Desa Jipang, Kecamatan Cepu, Blora dan Kesultanan Selaco di Tasikmalaya.

Agaknya, kerajaan-kerajaan yang demikian itu menyaingi Kerajaan Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN) yang sudah ada sejak dulu.

Kerajaan yang mengandung tiga kejahatan ini menyebakan orang hebat sekalipun susah untuk menghancurkannya.

Mulai dari tingkat bawah hingga atas korupsi, semisal di Jiwasraya terus-menerus ada. Begitu pula kolusi. Kerjasama jahat dalam wujud suap antara Komisioner KPU--Wahyu Setiawan--dan kader PDIP--Harun Masiku--hanyakah satu di antara banyaknya kasus kolusi di dunia.

Nepotisme? Apalagi. Ini sudah berurat akar sejak dulu.

Lalu, jika ditanya hebat mana antara
Kerajaan KKN versus Keraton Agung Sejagat, apa jawabannya?

Secara jujur, saya menduga lebih hebat Kerajaan KKN daripada Keraton Agung Sejagat.

Nah, karena itulah, lebih baik pula kita di Negara Kesatuan Republik Indonesia fokuslah pada penghancuran Kerajaan KKN daripada sibuk dengan kerajaan-kerajaan yang baru viral belakangan ini.

Usut tuntas kasus korupsi Jiwasraya dan Asabri! Ungkap secara luas kasus suap yang melibatkan Komisioner KPU Pusat dan kader PDIP! Pertahankan kedaulatan NKRI di Laut Natuna dari ambisi Republik Rakyat China! Dan, hindarkan politik dinasti dan praktik nepotisme lainnya!

Saturday, January 18, 2020

Omnibus Law Cara Terselubung Pemerintah Hilangkan UMR Buruh dan Pekerja?


Pertanyaan itu terkesan begitu menyakitkan jika jawabannya adalah ya. Dan, sebaliknya menjadi angin segar bagi para buruh dan pekerja di Indonesia.

Bagaimana pun juga idealnya pemerintah Indonesia wajib menyejahterakan rakyatnya. Begitu setidaknya dambaan semua orang di negeri ini.

Agaknya demikian pula yang diharapkan konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) yang akan menggeruduk Gedung DPR RI. Penggerudukan itu sendiri dijadwalkan akan dilaksanakan pada Senin (20/1/2020) mendatang.

Tuntutan mereka tentu masih berkaitan dengan kesejahteraan rakyat Indonesia. Dalam hal ini yang dimaksud adalah rakyat yang bekerja sebagai buruh dan pekerja. Ya, mereka menuntut anggota dewan yang terhormat di DPR RI agar tidak mengesahkan Omnibus Law.

Mengapa mereka secara tegas menolak adanya Omnibus Law?

Jawabannya sederhana. Karena, Omnibus Law dinilai para buruh dan pekerja sebagai cara terselubung pemerintah untuk menghilangkan UMR mereka.

Penolakan mereka tidak main-main. Direncanakan sebanyak 30 ribu orang dari Aceh hingga Kalimantan Tengah akan ke DKI Jakarta. Dan, aksi ini sebenarnya juga digelar di sejumlah daerah. Sebut saja Aceh, Batam, Jateng, Riau, Sumut, Kaltim, dan Kalteng.