Wednesday, March 18, 2026

Pilihan Anda Adalah Trump dan Bangsa Israel

Ilustrasi: Pixabay

Ada yang mengatakan bahwa apa pun yang diminta Trump, maka Prabowo Subianto pasti mengiyakannya. Presiden Amerika Serikat tersebut adalah idola, bahkan majikan yang berkuasa di atas Presiden Indonesia saat ini. Tapi, benarkah demikian? Kemungkinannya tidak. 

Sementara di sisi yang sejurus, konon katanya Prabowo Subianto mengakui penjajah Israel sebagai bangsa yang berdaulat. Yakni, bangsa yang memiliki negara dan harus dijamin keamanannya. 

Seluruh isi paragraf kedua di atas itu pun merupakan perkataan orang saat ngobrol di warung kopi. 

Apa saja yang dikatakan orang, tentu harus dicek kebenarannya. Tetapi, terlepas dari perkara benar atau salah, kita harus jujur dengan diri sendiri berkenaan dengan orang-orang Zionis itu. Ya, faktanya mereka adalah penjajah yang mendapatkan angin segar dari Kerajaan Inggris atau Britania Raya, yakni pada awal pendirian negara Israel di tanah Palestina. Kala itu dengan mudahnya, orang-orang Arab Palestina mengamini apa saja yang diperintahkan Inggris termasuk memberikan izin tinggal kepada orang-orang zionis di tanah mereka yang sudah lepas dari kekuasaan Turki Utsmaniyyah. 

Perlahan, tapi pasti akhirnya Negara Israel berdiri dengan kekuatan besar, yaitu dengan dukungan pihak barat dan Amerika Serikat. Sedang orang-orang Arab Palestina hanyalah korban penipuan Inggris. Mereka ditipu dengan iming-iming kemerdekaan. 

Dengan kata lain, atas bantuan Inggris, mereka sempat memiliki negara berdaulat setelah merdeka dari Kesultanan Turki, tapi.... 

Kemerdekaan itu hanyalah tipuan Inggris untuk bisa memasukkan orang-orang Zionis tanpa halangan dari Sultan Turki yang masih berkuasa. 

Nah, dengan fakta pahit demikian, apakah layak jika penjajah yang terus membantai orang-orang Palestina mendapatkan jaminan keamanan? Jawabannya pastilah tidak. 

Pihak penjajah idealnya diusir dari tanah yang mereka jajah, bukan malah mendapatkan jaminan seperti itu. Dan, Trump merupakan manusia lanjut usia dengan ambisi jahat menguasai dunia. Oleh sebab itu, Indonesia tidak boleh tunduk kepada Amerika Serikat dan Israel. Indonesia wajib mandiri dan terus memperjuangkan kemerdekaan Palestina dengan cara yang baik dan benar. 



Tuesday, March 17, 2026

Horeeee Selama Libur Lebaran Tak Ada MBG!

Ilustrasi: Pixabay

Konon, makan bergizi gratis (MBG) dihentikan saat libur lebaran. Kok bisa? Ini salah besar! Mengapa? Karena mustahil selama libur lebaran anak-anak tidak makan. Mereka pasti makan! Kalau tidak makan, mana mungkin bisa hidup! 

Jadi, penghentian MBG adalah pembunuhan besar-besaran. Membuat anak-anak kelaparan adalah dosa besar. Akan tetapi benarkah demikian? 

Berdasarkan fakta di lapangan, meskipun anak-anak tidak mengonsumsi menu makan bergizi gratis, mereka akan tetap hidup selama masih ada rezeki umur. Jika begitu, untuk apa ada MBG Toh, tanpa MBG pun anak-anak masih bisa melanjutkan kehidupan di dunia. 

Ini artinya, MBG tidak perlu dilanjutkan. Apalagi dengan tidak adanya MBG, anggaran negara bisa dihemat ratusan trilyun rupiah. Penghematan tentu sangatlah diperlukan selama Indonesia belum menjadi negara maju. 

Istilahnya, hemat pangkal kaya. Dan, kekayaan negara bisa untuk kesejahteraan seluruh rakyat di negara ini. Merdeka! 

Monday, March 16, 2026

Melawan, Berarti Siap Dilawan

Ilustrasi: Pixabay


Air keras yang disiramkan ke dan sampai di tubuh aktivis Kontras, Andrie Yunus, menjadi sorotan Perserikatan Bangsa-Bangsa. Ini merupakan citra buruk dan akan lebih buruk lagi jika Pemerintah Indonesia tidak serius menyelidikinya. 

Prabowo Subianto memiliki pekerjaan baru selain persoalan MBG dan Iran. Sebagai Presiden Indonesia, dirinya wajib berhasil mengungkap siapa dalang di balik kejahatan kemanusiaan tersebut. 

Sebenarnya mudah saja cara mengungkapnya. Perhatikan saja siapa yang menjadi lawan Andrie. Dirinya bisa dikatakan melawan pihak "tertentu" sebelum dia disiram air keras. Nah, dalang penyiraman itu pastinya adalah pihak yang dia kritisi. Dari sana jelas sangat mudah menangani kasus ini. Singkatnya, aktivis Kontras itu melawan pihak "tertentu" dan dirinya dilawan oleh pihak tersebut. 

Pertanyaannya, beranikah Prabowo Subianto melakukan pengungkapan yang sangat mudah ini? 


Sunday, March 15, 2026

Samakah Kata TERTIBKAN dan BERESKAN?

 

Ilustrasi: Pixabay

Jika ada seorang kepala negara mengatakan "tertibkan" dalam konteks pembungkaman terhadap para aktivis, bisa berarti sama dengan kata "bereskan". Ini sinyal berbahaya. Mengapa? Sebab, dua kata itu berarti tindakan ganas yang brutal. Hasilnya bisa kematian atau cacat tubuh permanen (kalau bisa selamat). 

Biasanya pemimpin seperti itu kurang menggunakan akal sehat. Kecerdasan emosional dan sosialnya pun sangat rendah. Sedikit-sediikit marah, sedikit-sedikit ingin membunuh. Idealnya, orang yang demikian tidak memiliki kelayakan untuk memimpin sebuah negara. 

Akan tetapi, tentu saja melengserkannya memerlukan tetesan bahkan tumpahan darah. Itulah sebabnya, saat proses pemilihan pemimpin negara, rakyat wajib mengetahui karakter para kandidat calon presiden mereka yang akan "memimpin" pada masa mendatang. 

Memilih pemimpin bukan perkara menerima amplop serangan fajar, melainkan penentuan nasib hari esok. Ya, meskipun kita tidak bisa melepaskan diri dari takdir, ini merupakan bagian dari usaha yang diwajibkan bagi setiap manusia di dunia. 

Nah, pertanyaannya, bagaimana jika pemimpin arogan yang terpilih? Maka, berhati-hatilah. Salah langkah, bukan hanya soal cacat fisik permanen, tetapi juga nyawa Anda taruhannya. 


Saturday, March 14, 2026

Kami Sakit Tifus, Pak. Kalian Sehat! Titik!

 

Ilustrasi: Pixabay

Begitulah analogi sederhana untuk sebuah negara dengan perekonomian yang tidak baik-baik saja, tetapi dipaksa sang presiden baik-baik saja. 

Aneh? Ya, tentu saja aneh! Ini agaknya mengikuti dunia iklan. Sebutlah orang kena flu, lalu baru saja minum obat langsung sembuh. Singkatnya adalah sebuah kebohongan yang dipaksakan terhadap publik. Dan, jelas sekali mengikuti pepatah menyesatkan, yakni kebohongan yang diulang-ulang akan menjadi kebenaran di otak banyak orang. 

Lantas, apakah hal demikian masih berada di jalan kebenaran birokrasi? Pastinya tidak. Langkah-langkah tersebut memang sengaja dibuat dalam rangka menciptakan hiper realitas yang ujungnya menenggelamkan kebenaran dan mengeksiskan imitasi yang pastinya berupa kesalahan atau berkebalikan dari kebenaran. 

Pertanyaan lainnya, mungkinkah teori kebohongan yang dipaksakan ini masih bisa diterapkan? Mungkin, jika itu dilakukan pada zaman masyarakat masih banyak yang belum melek, akan sangat lancar. Akan tetapi, dunia saat ini sudah berbeda. Masyarakat tidak lagi mudah dibohongi. Orang-orang telah berpikir dan mampu membedakan mana yang benar, mana yang tiruan atau palsu. 

Jadi, lebih baik pemerintah di negara mana pun berhenti menipu rakyat. Sebab, di era keterbukaan dengan luasnya jangkauan masyarakat melalui media informasi, kebenaran terpampang nyata. 

Kebiasaan menutupi kebobrokan dengan cara hitam dan otoriter seperti itu oleh pemerintah hanyalah wujud dari kediktatoran jahat. 


Sunday, March 8, 2026

Konversi ke Listrik, Pembangkitnya Tenaga Angin?

Ilustrasi: Pixabay

Jika masih menggunakan batubara sebagai sumber pembangkit tenaga listriknya, itu percuma. Toh ujung-ujungnya tidak ramah lingkungan, melainkan menyenangkan di kantong pengusaha. Ah, kebijakan macam apa ini? 

Idealnya, pemerintah selalu prorakyat. Sebutlah kompor, misalnya. Untuk apa menggunakan kompor listrik kalau rakyat lebih senang menggunakan kompor minyak atau gas? Sebagai pemimpin, entah itu presiden ataupun raja, terpenting adalah menunaikan amanah rakyat sebagai investor negara. Ya, rakyat sebenarnya berinvestasi dengan pajak demi keberlangsungan kehidupan negara. 

Terlebih lagi konversi itu menjadi bencana jika pembangkit tenaga listriknya masih menggunakan batubara. Sebab, akan kian banyaklah penggunaan listrik di negara kita. Dan, secara otomatis semakin rusak pulalah alam akibat penambangan batubara. Ini tidak baik. 

Berbeda ceritanya seumpama pembangkit listriknya menggunakan tenaga angin, air, atau surya. Nah, ketiganya ramah lingkungan. Sayangnya, Indonesia masih menggunakan pembangkit listrik tenaga uap yang berbahan batu bara sebagai pembangkit listrik utama. 

Jadi, untuk apa konversi ke listrik? 


Thursday, March 5, 2026

Cita-Citaku Memiliki Dapur MBG

 

Ilustrasi: Pixabay

Jika setiap hari menjual 3.000 porsi dengan keuntungan per porsinya setengah dari harga jual, maka keuntungan pun sangatlah fantastis. Itulah sebabnya, memiliki dapur MBG menjadi cita-cita baru yang sangat didambakan. 

Dapur MBG atau yang popular dengan singkatan SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi) dapat dimiliki oleh orang-orang berduit banyak. Ya, sebutlah mereka elit. Di Sulawesi Selatan, misalnya, gadis berusia 20 tahun sudah memiliki 41 SPPG. Konon, pendapatan per bulannya mencapai 6,5 milyar rupiah. Wow! 

Ini benar-benar ladang bisnis di bidang kuliner. Apakah Anda berminat?