Suasana di warung kopi milik bu Yem ramai sekali. Bapak-bapak beragam usia begitu menikmati aroma dan kenikmatan seduhan kopi asli. Kebanyakan dari mereka memilih untuk tidak mencampuri kopi dengan gula. Alasannya sederhana, agar benar-benar murni. Rasa asam kopi terasa luar biasa di lidah mereka.
"Coba ngopi gini bisa gratis ya? Alangkah indahnya."
"Ah itu mau kita. Tapi, belum bisa."
"Ha ha ha ha ha."
Suara tawa pecah membahana. Sedang bu Yem tampak senyum-senyum melihat mereka.
"Kira-kira program minum bergizi gratis bakal ada ga ya?"
"Makan bergizi gratis, bukan minum bergizi gratis."
"Iya, tau. Itu programnya Prabowo yang sudah ada. Maksud guwa program baru, minum bergizi gratis. Ya, singkatnya ngopi gratis."
"Benar juga kata bang Edi. Bagus banget tu kalau bakalan ada. Kita bisa ngopi sepuasnya."
"Duitnya? Emang ada?"
"Pasti ada lah. Denger-denger siapa saja yang jadi presiden di negara ini wajib boros agar ngutang terus ke luar negeri. Jadi, duitnya pasti ada. Ngutang lagi ngutang lagi. Kalau kagak ngutang, pasti bakal dilengserkan."
"Serius? Gimana nih Pak RT? Emang bener kayak yang dibilang Nurdin barusan?"
"Gimana ya ngomongnya? Emang pernah sih ada yang bilang kayak gitu juga. Tujuannya agar pendapatan dari bunga utang terus mengalir ke pihak asing. Makanya, apa-apa dibeli. Mobil lah, sepatu lah, kaos kaki lah, segalanya dibeli biar anggaran habis dan ngutang lagi."
"Bisa dijamin kebenarannya ga, Pak RT?"
"Ya kagak tau. 'Kan itu kata orang lain juga. Ha ha ha ha ha ha."
Begitulah obrolan bapak-bapak di sana. Benar atau tidaknya, bukan masalah. Yang penting ada bahan untuk ngobrol dan tertawa gratis bareng-bareng. (Hanya fiksi).













