Saturday, May 2, 2026

Pembegalan karena Ekonomi, Bukti Indonesia Gelap?

Ilustrasi: Pixabay

Di Kalimantan Selatan sedang heboh dengan kasus pembegalan terhadap seorang ustazah. Begalnya dua orang dan korbannya meninggal dunia. 

Secara ringkas, kedua pelaku sudah berhari-hari mengincar korban yang selalu membawa tas hitam. Mereka mengira tas hitam tersebut berisi uang tunai. Dalam kesehariannya, korban selalu lewat di depan pondok tempat kerja mereka. Selain menjadi ustazah di salah satu pesantren, korban juga menjadi penjaga toko ponsel. Saat kejadian, kedua pelaku yang merupakan petani dan juga pekerja serabutan itu merampas tas, ponsel, dan juga anting korban. Supaya aman, mereka melumpuhkan korban hingga tewas. 

Selain barang-barang ringan yang berhasil mereka rampas, sebenarnya ada sepeda motor korban. Tetapi, agar tetap aman, keduanya tidak membawanya kabur. Dan, setelah berhasil diringkus, keduanya mengaku aksi keji itu mereka lakukan demi mendapatkan uang untuk keluarga di Jawa, termasuk membayar biaya sekolah. 

Dari sini dapat kita ketahui bahwasannya faktor utama tindak kriminal di Sungai Ulin Banjarbaru Utara, Kodya Banjarbaru, Kalimantan Selatan adalah masalah ekonomi keluarga. Artinya, ekonomi sebagian rakyat Indonesia sedang tidak baik-baik saja. Dengan kata lain, Indonesia masih gelap bagi sebagian rakyatnya. 

Pemerintah harus membuka mata lebar-lebar. Jangan malah menolak kondisi yang sebenarnya. Fakta di lapangan seperti ini idealnya segera ditindaklanjuti oleh pemerintah. Misalnya, berikan pinjaman tanpa bunga untuk warga yang terbukti tidak mampu secara ekonomi. Pinjaman bisa untuk modal usaha atau lainnya. 


Presiden Pilih Hari Puisi, Hari Buruh, atau Hari Pendidikan?

Ilustrasi: Pixabay

Kemarin, Presiden Prabowo Subianto merayakan Hari Buruh dengan begitu wah. Acaranya digelar dengan gegap gempita. Ada pidato, joget, dan pembagian sembako untuk para buruh. Bisa dikatakan tanggal 1 Mei ada pesta pora yang wow oleh Presiden Republik Indonesia bersama para buruh. 

Nah, kalau kita mundur beberapa hari sebelumnya, yakni 28 April, tak ada pesta yang serupa hari kemarin. Padahal pada hari itu juga ada hari penting bernama Hari Puisi Nasional. 

Atau, hari ini. Ya, hari ini tanggal 2 Mei yang merupakan Hari Pendidikan Nasional juga sama seperti 28 April. Presiden Prabowo tak merayakan dua hari besar lainnya tersebut. Para penyair dan guru tak mendapatkan perhatian spesial dari sang presiden. Di sini jelas sekali ada perlakuan yang berbeda jika dibandingkan dengan para buruh. Padahal sejatinya, setiap hari besar nasional seharusnya memiliki kedudukan yang sama. 

Pertanyaan, mengapa demikian? Mengapa hanya para buruh yang diistimewakan? Apakah para penyair dan guru tidak penting di negara ini? 

Benarkah Amien Rais Memfitnah Teddy?

Foto: Wikipedia

Tentang fitnah, ada satu hal yang perlu kita camkan, yakni tidak bisa disikapi secara tergesa-gesa. Perlu pendalaman. Mulai dari latar belakang seorang Amien Rais mengatakan bahwa Sekretaris Kabinet Teddy adalah penyuka sesama jenis sampai kepada penyelidikan untuk menemukan kebenarannya. 

Ini perlu waktu yang tidak singkat. Dan, karena panjangnya waktu yang diperlukan tersebut, agaknya kasus ini bisa saja menguap dan hilang. Ya, tinggal cerita yang lambat laun juga sirna. 

Awal dari kasus ini, publik dikejutkan dengan isi konten politikus senior itu di kanal YouTube miliknya. Meskipun saat ini konten tersebut hilang dari sumber aslinya, tapi sudah banyak orang yang menontonnya. 

Pihak pemerintah sendiri, dalam hal ini melalui Komdigi, sudah menyiapkan langkah hukumnya. Gerakan pemerintah benar-benar cepat. Sebagian publik pun menanti yang akan terjadi selanjutnya terkait benar tidaknya perkataan Amien Rais tersebut 



Friday, May 1, 2026

Presiden Adalah Pekeja Bayaran

 

Ilustrasi: Pixabay

Idealnya presiden, raja, atau sultan wajib memenuhi segala perintah rakyat yang menggaji dirinya setiap bulan. Mulai dari keamanan hingga kebutuhan bahan rumah tangga. 

Ya, ketika rakyat butuh ini, buruh itu, presiden dengan sigap memenuhi semuanya. Bisa dikatakan menjadi presiden harus siap melayani rakyat 24 jam penuh. 

Tentu saja dalam melaksanakan pekerjaannya, presiden membutuhkan para menteri dan para pekerja bawahan di setiap kementerian yang ada. Mereka yang membantunya juga digaji rakyat. 

Jika seorang presiden melakukan kesalahan, ia pun akan mendapatkan hukuman yang setimpal. Bahkan, bisa saja berupa pemecatan. Dan, presiden baru akan dilantik setelah dipilih rakyat. 

Meski pada hakikatnya seperti itu, namun pada kenyataannya malah sebaliknya. Pada umumnya presiden di banyak negara menempatkan dirinya sebagai penguasa kejam. Rakyat diperas dengan pajak. Kalau ada rakyat yang menentangnya, sudah dipastikan akan dihukum berat. 

Itulah sebabnya, berlaku hukum kausalitas. Tindakan presiden, raja, atau sultan yang kejam menjadi sebab adanya pemberontakan oleh rakyat. Ada yang berhasil menumbangkan sang presiden. Lalu membangun sistem pemerintahan yang dicita-citakan. Sebutlah Dinasti Yuan yang ditumbangkan rakyat di bawah kepemimpinan Zhu Yuanzhang hingga berdirinya Dinasti. Ming. Atau yang terbaru di Suriah.  Presiden Bashar al-Assad berhasil digulingkan pada 8 Desember 2024 dan digantikan dengan pemerintahan yang baru. 


Thursday, April 30, 2026

Presiden Tukang Fitnah, Rakyat Jadi Korban

Ilustrasi: Pixabay

Rakyat yang pintar menjadi sasaran presiden tukang fitnah? Itu wajar karena memang bagian upaya mempertahankan kekuasaannya sebagai kepala negara. Rakyat yang dikategorikan pintar di sini ialah kaum intelektual dengan daya kekritisan tingkat tinggi. 

Dengan otak mereka yang unggul, kritik membangun kepada pemerintah lahir satu demi satu. Dan, hal ini sebenarnya normal. Namanya saja presiden pasti tidak selalu benar, 'kan? Selama dirinya masih merupakan manusia, pastilah memiliki kekurangan. Itulah sebabnya, ada saling mengingatkan. Salah satunya dengan kritik tersebut. 

Yang menjadi masalah, "ada presiden" dari Republik Gem Aw (sekitar dua ribu tahun lalu) merasa paling benar, paling jago, paling segalanya. Mungkin dirinya sadar atau tidak sudah merasa seperti Tuhan. Orang lain sepintar apa pun tidak boleh mengkritiknya. Semua rakyat harus mendukungnya secara penuh. 

Padahal, keputusan-keputusannya tidak didasari dengani studi yang mendalam terlebih dahulu. Sebutlah contohnya pendirian usaha dagang baru. Tanpa mempelajari dan "mengujicobakan" terlebih dahulu dalam jumlah kecil, dirinya langsung membangun puluhan ribu unit usaha tersebut. Dalam hal ini ia belum tahu apakah usaha yang dibangunnya memang menguntungkan negara atau malah sebaliknya. 

Contoh lain, dengan tergesa-gesa ia menggenjot penggantian atap rumah, yakni dengan atap baru yang seragam untuk meciptakan keindahan. Sebelum menggenjot program itu, dirinya belum memperhitungkan secara matang dampak buruk dari besarnya biaya yang dikeluarkan. Terlebih, jika dikaitkan dengan kondisi keuangan negaranya yang saat itu sedang defisit anggaran. Ujung-ujungnya rakyat ditekan untuk membayar pajak. 

Sedang kaum intelektual yang kritis terus ia sudutkan dengan fitnah "menyerang pemerintah". Bahkan ia ancam mereka dengan keji. Misalnya, dirinya "mengusir" rakyatnya yang pintar dan kritis itu dengan kata- kata "kabur sana" dari negara tersebut. Apa wewenangnya mengusir seperti itu? Presiden harusnya tunduk kepada rakyat. Dirinya digaji rakyat. Ia bawahan rakyat. Tapi, sok-sokan mengusir para majikannya sendiri. Ini sungguh keji. Benar-benar di luar batas. Rakyat menjadi korban oleh kekejiannya. 

Membaca cerita fiksi di atas, kita patut beruntung bahwa di dunia ini tidak. ada presiden yang demikian. Seandainya ada, gawat! 


Rakyatku Keracunan, Aku Bahagia dan Bangga

Ilustrasi: Pixabay

Dalam sebuah forum internasional, dirinya begitu bangga dengan program susu gratis ibu hamil (SUGIH). Dengan wajah berapi-api dan memukuli meja mimbar podium, dia mengatakan bahwa banyak negara meniru programnya itu. 

Dan, setelah sempat menyinggahi beberapa negara maju, ia pulang ke negaranya. Dirinya tampak puas. Tak berapa lama kemudian, ia kumpulkan para pendukungnya di sebuah forum negara. Di sana dia berpidato. Wajah tuanya terlihat sehat. Kata-katanya segera keluar lancar dan seperti kebiasaannya, kedua tangannya tak pernah absen memukuli meja mimbar podium sambil mengklaim program utamanya, yakni SUGIH berhasil. 

Padahal, selain menelan anggaran belanja negara yang sangat besar, di lapangan banyak ibu-ibu hamil keracunan setelah meminum susu gratis tersebut. Bahkan, yang berujung dengan meninggal dunia pun sudah tak terhitung jumlahnya. 

Tapi, sebaga presiden, dirinya tak pernah berempati terhadap para korban itu. Ia tetap bersikeras bahwa SUGIH yang terbaik. Siapa saja yang mengkritik programnya itu dianggapnya musuh besar negara. Dalam sebuah kesempatan, mulutnya pernah mengeluarkan sebuah kalimat kotor, "Kalau tidak setuju dengan SUGIH, kabur saja, tinggalkan negara ini!"

Sebenarnya bukan hanya masuk kategori kalimat kotor, tetapi juga antikemanusiaan. Sudah jelas para kaum intelektual memberikan masukan agar tidak terjadi lagi kematian akibat keracunan SUGIH, malah dicap musuh negara. Parahnya, dengan bahagianya dirinya terus saja membangga-banggakan program pembunuhan massal tersebut. 

Sungguh dirinya adalah presiden keji yang amoral. Untungnya dirinya hanyakah tokoh fiksi. Seandainya benar-benar nyata, wah sudah dipastikan rakyat di negara yang dipimpinnya akan sengsara. 

Wednesday, April 29, 2026

Penjajah Mengasingkan Pejuang ke Yordania

Foto: Pixabay

Mengapa penjajah gemar mengasingkan pejuang? Salah satu jawabannya adalah karena mereka tidak suka diganggu. Ya, para pejuang selalu saja dianggap pengganggu dan pembuat gaduh oleh penjajah. 

Sebutlah salah satu contohnya Soekarno yang diasingkan di Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur pada tentang waktu antara tahun 1934--1938. Intinya, pihak penjajah menginginkan rakyat jajahan nurut, tunduk, patuh, tidak melawan, dan kalau perlu seperti robot yang dengan mudah mereka kontrol. 

Jika ada rakyat cerdas yang melawan, sudah dipastikan akan menjadi musuh bagi penjajah. Hidupnya tidak aman. Sebab, akan diburu, ditangkap, dan disiksa, lalu diasingkan. Bahkan, bisa saja dihukum mati. 

Khusus kasus terakhir di atas, contohnya Panglima Batur dan Demang Lehman di Kalimantan Selatan yang dihukum mati oleh penjajah Belanda. 

Jika di era kekinian masih ada pemerintah yang gemar mengatakan hal berbau pengasingan ke luar negeri bagi orang-orang cerdas, maka sudah dipastikan pemerintah itu merupakan penjajah. Mungkin dalam hal ini terkesan seperti Israel yang menjajah Bangsa Palestina. 

Nah, tentu saja yang dimaksud orang-orang cerdas di era kekinian ialah kaum intelektual yang melihat kondisi nyata di lapangan dan menyuarakannya berdasarkan keilmuan mereka. Kemudian, suara mereka dinilai mengancam kekuasaan pemerintah yang bersangkutan. 

Orang-orang seperti ini sudah barang tentu dimusuhi pemerintah dan diserukan untuk kabur saja ke luar negeri sebagai bentuk pengasingan. Misalnya, kabur saja ke Yordania atau ke Israel. Selain seruan-seruan tak beradab tersebut, biasanya pemerintah penjajah akan membuat hidup orang-orang cerdas sengsara. Bisa jadi mereka dipenjara, disiksa, atau dibuat cacat permanen agar jera dengan asam sulfat.