Tuesday, July 21, 2026

MBG Dialihkan ke Pemenuhan Pakan Ternak

Ilustrasi: Pixabay 

Melihat fenomena yang muncul selama Program Makan Bergizi Gratis atau disingkat MBG berjalan, yang salah satunya adalah kemubaziran, evaluasi sangat perlu dilakukan.

Ya, banyak makanan terbuang sia-sia yang disebabkan beberapa hal. Yang paling mencolok karena makanan sudah basi dan yang kedua tidak sesuai dengan selera siswa.

Alhasil, yang terbuang itu dijadikan pakan ternak, seperti bebek dan entok. Nah, sebagian pihak berpendapat sebaiknya Program MBG ini dialihkan saja menjadi Program Pakan Ternak  (PT).  Selain lebih murah, juga membantu para peternak di Indonesia dalam menjalankan usaha mereka. Harapan besarnya, tak ada lagi impor daging dan telur, misalnya. 

Dikatakan lebih murah lantaran bahan-bahan tidak perlu yang mahal. Terpenting gizi ternak dapat dipenuhi dengan baik. Tentu saja, selain bebek dan entok, Program PT ini juga berlaku pada semua jenis hewan ternak. 

Jika sudah demikian, telur, daging, dan juga susu yang dihasilkan akan berkualitas tinggi. 

Kabut Asap di Posisi Puncak Skala Prioritas

Ilustrasi: Chatgpt 

Ada warna hitam membumbung di angkasa. Di bawahnya warna merah menyala dengan panas yang luar biasa. Di bawahnya lagi ada bara api setebal lebih kurang dua meter yang sangat susah dipadamkan. Perlu air yang banyak untuk menuntaskan semuanya.

Tapi, air dari mana? Sungai-sungai di sekitarnya mengering. Curah hujan sangat rendah. Taburan garam di awan pun hanya menurunkan air hujan dalam hitungan menit.

Itulah sebabnya, perlu air kiriman. Helikopter dan pesawat pemadam kebakaran, seperti Viking Air CL-515 yang memiliki tangki berkapasitas 7.000 liter air dan bisa diisi ulang dalam waktu 14 detik harus segera dikerahkan.


Lahan gambut yang sudah menjadi arena bara api harus secepatnya dipadamkan. Pemadamannya sudah menduduki peringkat teratas dalam skala prioritas di negara ini. Dan, jika tidak sesegera mungkin dilakukan, maka akan semakin banyak memakan korban. 

Mencerdaskan Bangsa Ditendang? Pemerintah Adalah Peternak Rakyat?

Ilustrasi: Chatgpt 

Benarkah demikian? 

Anggaran untuk Perpustakaan Nasional (Perpusnas) dipotong hingga 48%. Tahun 2025 masih Rp72I miliar. Pada tahun ini menjadi Rp377,9 miliar. Alhasil, Perpusnas tidak bisa menyalurkan buku-buku cetak ke daerah-daerah yang belum memiliki akses internet. 

Paragraf di atas adalah kisah nyata. Fakta dalam realitas yang ada di Indonesia. Bukan rekayasa. Kenyataan pahit itu disampaikan langsung oleh Kepala Perpustakaan Nasional, Prof. E. Aminudin Aziz, M.A., PhD. 


Apa yang terbayang? 

Ah, tidak usah dibayangkan! Sudah jelas bahwa orang-orang di sana tidak mendapatkan buku-buku terbaru. Sebab, satu-satunya cara agar mereka dapat membaca sudah dilenyapkan. 

Lantas bagaimana bisa mereka, khusus anak-anak, bisa cerdas tanpa bahan bacaan? 

Susah. Itu jawaban paling singkat, tetapi penjabarannya mungkin bisa bermil-mil. 

Lalu, hasil pemotongan anggaran menuju Indonesia emas tersebut di salurkan ke mana?

Agaknya semua orang sudah tahu. Pemerintah sangat memerlukan banyak uang demi Makan Bergizi Gratis dan Koperasi Desa Merah Putih. 

Menurut sebagian pihak, melihat fenomena langka ini sungguh menyedihkan. Betapa tidak? Pada bagian mencerdaskan bangsa,. pemerintah kurang perhatian, tetapi pada sesi memberikan makanan kepada yang tidak kelaparan malah dinomorsatukan. 

Monday, July 20, 2026

Presiden Boneka yang Memusuhi Rakyat

Ilustrasi: Pixabay 

Konon, pada zaman dulu, di lereng Gunung Banyu ada sebuah negara bernama Pajakiya. Alamnya sungguh memukau hati. Tampak begitu hijau dengan aneka tambang di dalamnya. 

Tak ayal banyak orang asing datang mencari keuntungan di sana. Mulai dari rempah-rempah hingga emas. Mereka yang datang dari luar itu bukan membeli, melainkan mengambil segala kekayaan milik negara tersebut tanpa harus terlebih dahulu menggunakan kekuatan militer. 

Ya, negara itu dipimpin oleh antek asing.  Dengan kata lain, presidennya merupakan anak buah atau orang suruhan dari negara lain yang adidaya. Kok bisa? Tentu saja bisa. Caranya? Dalam pemilihan presiden yang tidak adil, sang antek asing itu dimenangkan oleh negara adidaya tersebut dengan cara penghitungan curang. Alhasil, angka kemenangan selalu ada padanya. 

Setelah menjadi presiden, segala program pemerintah yang dijalankannya merupakan perintah dari sang majikan, yakni presiden negara adidaya itu. Tidak ada yang prorakyat. Semuanya proasing. Uang negara digunakan untuk hal-hal yang tiada bermanfaat bagi  bangsa. Setelah anggaran negara habis, sang presiden boneka diperintahkan untuk berutang. Utang pun kian hari semakin menggunung. Lantas siapa yang wajib membayarnya?

Rakyat lah jawaban dari pertanyaan di atas. Sejak lahir, rakyat di sana sudah dibebani dengan utang yang mencekik. Sedang pendapatan rakyat kian susah diperoleh meski dengan cara yang dikategorikan haram. 

Menyikapi situasi dan kondisi tersebut, rakyat mulai bereaksi. Demonstrasi demi demonstrasi digelar dengan tuntutan yang sama, yakni agar pemerintah benar-benar menjalankan amanat rakyat dan jangan tunduk kepada asing. Akan tetapi, presiden boneka tersebut malah mengejek rakyat dengan kata-kata dan gestur mengolok-olok. Misalnya dia mengatakan "Nyinyir, nyinyir, nyinyir" yang sangat melukai jiwa rakyat di sana saat itu.

Pada kesempatan yang lain, dirinya menjawab kritik dengan playing victim. Dia menyatakan telah diserang. Dirinya adalah korban dalam drama yang dibuatnya sendiri. Aslinya tidak ada yang menyerangnya. Yang ada adalah kritik membangun yang disebunya sebagai serangan. 

Dan, tindakan memusuhi rakyat tersebut terus saja dilakukannya dari waktu ke waktu hingga pada akhirnya dia ditembak mati oleh salah seorang penembak jitu yang misterius. 

Sunday, July 19, 2026

Pemerintah Malas Kerja, Pajak Pasti Diperluas

Ilustrasi: Pixabay 

Syarat utama untuk bisa membuat pajak kian meluas adalah dengan adanya sifat malas dalam jiwa pemerintah. Ketika pemerintah mendapatkan warisan berupa banyak perusahaan milik negara dan juga kekayaan alam yang melimpah, misalnya, maka idealnya pemerintah wajib rajin mengelolanya. Bukan malah sebaliknya. 

Perusahaan-perusahaan yang ada harus digenjot dengan sebaik-baiknya. Kesalahan-kesalahan, mulai dari yang kecil hingga yang besar, tidak boleh diabaikan. Sebutlah contohnya saat terjadi korupsi di salah satu perusahaan tersebut, maka wajib ditindak tegas dengan hukuman nyata, bukan sekadar omon-omon. 

Nah, omon-omon inilah yang terjadi di Negara Kumba. Ya, sudah menjadi bersifat umum bahwasanya para koruptor dihukum ringan di sana. Bahkan, setelah masuk sel, mereka bisa jalan-jalan di luar penjara. Ada yang di luar negeri, ada juga yang sekadar jalan kaki untuk makan menu favorit dekat rumah.

Alhasil, korupsi merajalela. Banyak perusahaan mengalami kebangkrutan dan terpaksa ditutup. Terjadilah pemutusan hubungan kerja besar-besaran. Kehidupan rakyat di negara tersebut pun kian terperosok dalam area kesakitan hidup. 

Hal itu diperparah dengan pajak yang kian menggila agar uang negara tetap ada. Sementara kemalasan pemerintah dalam bekerja telah menimbulkan pula tindakan penghamburan uang negara untuk kepentingan pribadi. Misalnya presidennya yang bernama Rokos Silinting, sering sekali mengunjungi negara-negara adidaya Alasannya karena hal itu merupakan resiko banyak memiliki negara sahabat. Padahal, sejatinya demi mendapatkan dukungan menuju kursi presiden periode kedua yang diincarnya. 

Selain itu, demi ambisinya tersebut, ia juga menghamburkan uang negara di bidang-bidang lain seperti pemberian makan bergizi gratis dan pendirian koperasi di banyak tempat. 

Dan, rakyat lah yang membiayai semuanya.  Secara terus-menerus, pajak menjadi satu-satunya cara pemerintah di sana mendapatkan uang. Pemerintah yang malas bekerja di negara itu tak tahu malu meluaskan pajak sehingga jenis pajaknya menjadi beraneka ragam dan berlapis. Sebagai contohnya pajak bumi dan bangunan disertai pajak sumur di pekarangan rumah. 

Sungguh hal demikian itu menjadi fakta yang sangat memperihatinkan. Rakyat benar-benar dijajah oleh pemerintah mereka sendiri. 

Saturday, July 18, 2026

Suruh Tanam Padi Sendiri? Tak Ada Empati dan Membuka Fakta Tersembunyi

 

Ilustrasi: Pixabay 

Dua ratus tahun yang lalu di Negara Batuisi terjadi anomali dalam hal pangan. Presiden di sana yang bernama Wopra Ansu membahas soal harga beras. Rakyat di negara tersebut secara apa adanya menyebut bahwa harga beras kala itu tergolong mahal. Padahal sang presiden dengan bangga menyatakan Batuisi sedang swasembada pangan.

Menurut masyarakat, kata "swasembada" hanyalah kebohongan belaka. Pasalnya, jika memang benar demikian, pastilah harga beras murah karena jumlahnya berlimpah. 

Nah, lantaran Presiden Wopra Ansu seorang pemarah yang antikritik dan ingin menutupi kebohongannya soal swasembada pangan itu, ia pun langsung mengatakan "Yang bilang beras mahal, suruh tanam padi sendiri."

Tak pelak, rakyat langsung tersentak dengan perkataan sang presiden tersebut. Betapa tidak? Perkataannya sungguh tidak beradab. Benar-benar tidak ada unsur empati terhadap rakyat. Sama sekali tak pantas diucapkan oleh manusia mana pun.

Dan, dengan adanya kalimat kasar yang keluar langsung dari mulutnya, muncullah fakta tersembunyi bahwa isi pidatonya yang selama bertahun-tahun berbunyi, "demi rakyat", "untuk rakyat", adalah bentuk kemunafikan dirinya saja. Aslinya tidak ada empati kepada rakyat.

Friday, July 17, 2026

Mau Jadi Presiden? Teruslah Berutang dan Bodohkan Rakyatmu!

Ilustrasi: Pixabay 

"Bagaimana caranya agar terus berutang, Tuan?"

"Gampang."

"Caranya?"

"Buatlah Megaproyek, seperti pembangunan jalan tol, bandara internasional, ibukota negara baru, dan bangunan-bangunan lainnya secara massal. Semua itu akan membuat pengeluaran negaramu membengkak karena menguras anggaran belanja yang ada. Dan, pastikan semuanya tanpa keuntungan agar negara yang kamu pimpin berutang dan berutang terus kepada kami."

"Lalu bagaimana caranya agar rakyat menjadi bodoh?"

"Mudah. Buatlah program pembodohan semisal kasih makan para siswa secara gratis. Ya, ngasih mereka makan secara cuma-cuma itu selain bisa menghabiskan ratusan triliun uang negara tanpa ada keuntungan, juga akan membuat mereka malas belajar. Pikirkan saja sendiri, kalau bisa gratis untuk apa lagi para siswa harus belajar untuk bisa bekerja kelak? Tujuan mereka belajar agar bisa bekerja pada masa depan, 'kan?"

"Benar, Tuan. Gratis memang membuat orang menjadi malas. Malas belajar salah satunya."

"Baguslah kamu sudah paham. Sekarang bersiaplah berkampanye politik. Buatlah dirimu seakan-akan dipilih rakyat. Kamu tenang saja, kami yang akan mengatur angka kemenanganmu. Dengan kata lain, meski di pemilu nyata tidak ada yang memilihmu sekalipun, kamu lah pemenangnya. Kamulah yang akan menjadi Presiden Negara Republik Gelasia"

"Baik, Tuan. Saya janji semua perkataan Tuan akan saya laksanakan."

"Anak pintar. Tapi ingat! Kalau kamu sudah menjadi presiden dan lalu mengingkari janjimu,  jabatanmu sebagai presiden langsung kami cabut!"

Beberapa bulan kemudian, politikus senior bernama Ya Pik Un itu resmi menjadi presiden di sana. Sesuai janjinya kepada para elit global waktu itu, maka hari demi hari negara tersebut kian suram. Para pengamat dari berbagai bidang sama satu suara: Republik Gelasia bakal tamat. 

***