Friday, July 17, 2026

Mau Jadi Presiden? Teruslah Berutang dan Bodohkan Rakyatmu!

Ilustrasi: Pixabay 

"Bagaimana caranya agar terus berutang, Tuan?"

"Gampang."

"Caranya?"

"Buatlah Megaproyek, seperti pembangunan jalan tol, bandara internasional, ibukota negara baru, dan bangunan-bangunan lainnya secara massal. Semua itu akan membuat pengeluaran negaramu membengkak karena menguras anggaran belanja yang ada. Dan, pastikan semuanya tanpa keuntungan agar negara yang kamu pimpin berutang dan berutang terus kepada kami."

"Lalu bagaimana caranya agar rakyat menjadi bodoh?"

"Mudah. Buatlah program pembodohan semisal kasih makan para siswa secara gratis. Ya, ngasih mereka makan secara cuma-cuma itu selain bisa menghabiskan ratusan triliun uang negara tanpa ada keuntungan, juga akan membuat mereka malas belajar. Pikirkan saja sendiri, kalau bisa gratis untuk apa lagi para siswa harus belajar untuk bisa bekerja kelak? Tujuan mereka belajar agar bisa bekerja pada masa depan, 'kan?"

"Benar, Tuan. Gratis memang membuat orang menjadi malas. Malas belajar salah satunya."

"Baguslah kamu sudah paham. Sekarang bersiaplah berkampanye politik. Buatlah dirimu seakan-akan dipilih rakyat. Kamu tenang saja, kami yang akan mengatur angka kemenanganmu. Dengan kata lain, meski di pemilu nyata tidak ada yang memilihmu sekalipun, kamu lah pemenangnya. Kamulah yang akan menjadi Presiden Negara Republik Gelasia"

"Baik, Tuan. Saya janji semua perkataan Tuan akan saya laksanakan."

"Anak pintar. Tapi ingat! Kalau kamu sudah menjadi presiden dan lalu mengingkari janjimu,  jabatanmu sebagai presiden langsung kami cabut!"

Beberapa bulan kemudian, politikus senior bernama Ya Pik Un itu resmi menjadi presiden di sana. Sesuai janjinya kepada para elit global waktu itu, maka hari demi hari negara tersebut kian suram. Para pengamat dari berbagai bidang sama satu suara: Republik Gelasia bakal tamat. 

***

Thursday, July 16, 2026

0,0026% dari 3 Milyar= 78K Selama 6 Bulan?

 

Ilustrasi: Pixabay 

"Ha ha ha ha! Itu laba usaha atau uang jajan?"

"Uang jajan! Ha ha ha ha!"

"Serius?!"

"Ah, itu... Uang jajan versi Negara Republik Moncong Bedil."

"Maksudnya?"

"Yaaaa itu hanyalah istilah aja. Aslinya sih laba, tapi cuma seupil."

"Emang waktu pendirian usahanya nggak ada studi dulu?"

"Nggak ada. Langsung didirikan dalam jumlah sangat banyak dengan bangunan megah.

"What?! Itu gila."

"Begitulah."

"Lalu, marketing dan pemasarannya bagaimana?"

"Ha ha ha. bagaimana ada keduanya? Bangunannya aja di tempat super sepi dan jauh dari penduduk, semisal di ketinggian seribu lebih mdpl."

"Astaganagaaaa!"

"Presidennya yang bernama Gi Siang Lam itu emang suka terburu-buru. Gemar tergesa-gesa. Dia itu tidak menyukai perhitungan yang matang. Mungkin karena dirinya lemah di bidang matematika."

"Benar juga. Dia itu yang menjumlahkan 10+7=22, 'kan?"

"Betul sekali. Orangnya emang nggak suka ribet. Maunya instan. Padahal yang dipakai uang rakyat. Kasihan orang-orang yang menjadi rakyat di sana. Mereka diperas olehnya dengan beragam pajak. Bahkan, pajak berlapis"

"Udah tua banget juga sih dia. Seharusnya dirinya duduk-duduk manis aja di rumah."

"Ya. Usia segitu emang wajib istirahat. Tapi bagaimana lagi? Ambisinya menjadi presiden terhebat di dunia masih menggebu-gebu. Makanya dengan fakta usia tuanya dan ambisinya itu, dia memakai cara instan. Misalnya membangun ribuan koperasi di desa tanpa perencanaan matang, menjalankan proyek makan siang di sekolah yang membangkrutkan negaranya sendiri, dan lain sebagainya yang bombastis."

"Weleh-weleh. Ternyata ada juga ya orang seperti itu di dunia ini.... Sungguh dirinya adalah petaka."

***

Wednesday, July 15, 2026

Presiden Egois Omon-Omon Adalah Seorang Psikopat Sejati

Ilustrasi: Pixabay 

"Aku pikir presiden kita lah yang terbaik di kawasan agraris ini."

"Presiden kita selalu memberikan perhatian pada permasalahan bangsa."

"Mulai dari perbaikan jalan-jalan yang rusak, penyambungan jalur air yang terputus, pembemqhqn sekolah-sekolah dengan kondisi memperihatinkan, peningkatan gaji para tenaga honorer dengan gaji kecil, mengatasi kasus pengangguran, melakukan perbaikan tata kelola perekenomian negara, hingga meningkatkan keamanan masyarakat."

"Dari awal beliau benar-benar bekerja untuk rakyat. Ini jauh sekali berbeda dengan presiden di Negara Republik Layu."

"Kudengar Presiden Embe Prasu Genong di negara itu begitu egois. Semua program yang dijalankannya berfokus pada keuntungan pribadinya semata."

"Padahal usianya sudah sangat tua. Tapi, masih sangat doyan duit. Ya, duit dan duit saja di kepalanya."

"Dan, yang paling membuat banyak orang geram adalah, beliau selalu saja melancarkan aksinya dengan mengatasnamakan rakyat."

"Sementara rakyat di sana selalu beliau tekan dengan pajak, ancaman politik, bahkan pembungkaman nyata dengan kejahatan kemanusiaan."

"Sepertinya beliau itu seorang psikopat sejati. Beliau begitu menikmati kesengsaraan rakyatnya."

"Benar katamu. Status Pelanggar HAM berat masih beliau banggakan hingga sekarang."

*** 

Monday, July 13, 2026

Negara Bangkrut, Pajak Jadi Andalan

Ilustrasi: Pixabay 

Pajak rakyat kian merajalela. Bukan hanya pendapatan luring, yang daring pun disedot pemerintah. Alhasil, harga barang semakin melonjak. 

Dulu, hanya barang-barang yang kena cukai harganya menggunung. Sebutlah harga mobil impor. Kini, semua harga melesat bagai roket.

Negara Jahila memang benar-benar sudah bangkrut. Bahkan mereka tidak bisa lagi mendapatkan utangan dengan jumlah besar. Pihak luar sudah tidak percaya lagi kepada pemerintah negara tersebut. Betapa tidak? Anggaran negara di sana mereka bakar sesuka hati dalam program-program di luar nalar. Sebutlah dua contohnya, yakni makan buah gratis (MBG) dan usaha kota (UK). Keduanya benar-benar membakar anggaran negara tersebut habis-habisan. 

Padahal sejak awal para pengamat ekonomi sudah memberikan peringatan keras terhadap hal itu, tapi presiden di sana sangatlah sombong dan arogan. Dia tidak mau mendengarkan masukan dari orang-orang pintar. Dirinya merasa yang paling benar. Tapi kenyataannya sungguh memperihatinkan.

Dengan kebangkrutan tersebut, hanya pajaklah tumpuan di sana. Pajak diperluas. Yang semula tidak dikenai pajak, sekarang kena pajak. Rakyat di Negara Jahila sungguh mendapatkan beban hidup luar biasa. Sudah begitu, mereka diancam presiden dan menteri di sana untuk segera angkat kaki dari negara tersebut jika tak setuju dengan pemerintah. 

Bisa dibayangkan kalau mereka benar-benar angkat kaki dari sana. Siapa yang membayar pajak? Sudah dipastikan negara itu langsung knock-out. Tak bisa bangkit lagi. 

Jangan Nyinyir! Duduk saja dan Lihat Baik-Baik!

Ilustrasi: Pixabay 

"Kalau kamu tidak suka denganku, jangan bisanya nyinyir! Kamu duduk saja dan lihat baik-baik!"

"Bagaimana bisa aku hanya duduk dan lihat baik-baik kalau cara mengemudimu ugal-ugalan gini!"

"Diam! Kamu tidak usah nyinyir!"

"Aku tidak bisa diam selama cara mengemudimu tidak baik!"

"Tidak baik bagaimana? Aku mantan pembalap. Aku tahu cara mengemudi yang benar."

"Benar, katamu? Ugal-ugalan kayak gini kamu sebut benar? Benar dari Hong Kong?"

"Makanya itu kamu cukup duduk dan lihat baik-baik cara mengemudi sang mantan pembalap!'

"Tidak! Aku tidak bisa diam! Ini berbahaya bagi kita dan membahayakan juga bagi para pengguna jalan di sekitar kita! Ubah cara mengemudimu! Ini bukan arena balapan! Ini jalan raya! Jalan umum!"

"Simpan kata-katamu! Aku tidak memerlukannya! Aku sudah benar! Cara mengemudiku sangat bagus."

Dan, tak lama kemudian sebuah kecelakaan maut terjadi. Dua orang kekasih dalam mobil itu tewas seketika.

***

Sunday, July 12, 2026

Presiden: Negara Suram, Silakan Cari Negara Lain

 

Ilustrasi: Pixabay 

Dan akhirnya sedikit demi sedikit rakyat di Negara Namijersia itu pun merantau di luar negeri. Ada yang berdomisili di Yordania, India, Swiss, Belanda, Afrika Selatan, Turkiye, Amerika Serikat, Jepang, dan negara-negara cerah lainnya.

Bagi mereka, perkataan Presiden Pascaloba Sundulo tersebut sungguh melukai hati terdalam manusia. Betapa tidak? Sejatinya presiden di sana juga sama-sama manusia senegara dengan mereka, tapi sampai hati berkata demikian. Menurut mereka, pria lanjut usia itu sudah keterlaluan. 

Itulah sebabnya, seluruh rakyat di negara tersebut akhirnya meninggalkan negara yang dipimpinnya demi menyembuhkan luka hati mereka.

Alhasil, masalah besar pun datang. Pendapatan negara turun drastis. Pajak rakyat tak ada lagi. Nol besar! Yang ada hanyalah pendapatan nonpajak. Sedang utang negara sudah sangat tinggi. Pemerintah di negara tersebut tak memiliki solusi lagi. 

Akhirnya tanah air di sana pun dijual 100%. Dunia tak mengenal lagi nama Namijersia. Di peta bumi namanya sudah berganti menjadi Republik Nasionalis Demensia. 

***

Saturday, July 11, 2026

Medsos Lebih Dipercaya daripada Pemimpin Hasil Kecurangan

Ilustrasi: Pixabay 

Apa pun yang namanya hasil kecurangan tidak akan bertahan lama dan hasilnya hanyalah keburukan. Bukan sekadar satu kali keburukan, tetapi keburukan yang berulang-ulang. Itulah yang pernah terjadi di Negara Manipulatifanda. Di sana ada seorang pemimpin yang menang dalam pemilihan presiden dengan cara curang.

Kecurangan yang dilakukan bukan hanya isapan jempol. Dalam praktiknya melibatkan negara besar yang menginginkan keuntungan fantastis dari Negara Manipulatifanda tersebut terus mengalir kepada mereka. Salah satunya adalah kekayaan alamnya yang luar biasa. 

Sebelum pemilihan presiden berlangsung, mereka sudah merancang angka kemenangan sebesar 58 persen untuk calon presiden boneka mereka. Hal itu menyebabkan seberapa besar pun suara yang diraup musuh politik yang ada, angka yang masuk tak bisa melebihi 58 persen tersebut. Alhasil, sejak awal hingga penghitungan berakhir, calon presiden boneka terus mendapatkan angka sebesar 58 persen suara rakyat. 

Nah, setelah resmi ditetapkan sebagai presiden, segala program pemerintah yang dijalankannya selalu pro terhadap negara besar yang memenangkannya. Tak ada sama sekali untuk rakyat meski setiap kali berpidato, dirinya selalu mengatakan "demi rakyat".

Dengan fakta yang demikian, rakyat di sana  tidak ada lagi yang percaya kepadanya. Mereka lebih percaya kepada media sosial yang berisi kebenaran. Lama-kelamaan rakyat juga mulai enggan membayar pajak. Awalnya hanya segelintir orang yang berani seperti itu. Setelah beberapa hari berikutnya kian banyak yang berlaku sama. 

Pada dua tahun kepemimpinannya, semua rakyat tak ada lagi yang mau membayar pajak. Hari demi hari pemerintahannya semakin goyah, lalu sebulan kemudian hancur. Dirinya pun lengser teratur. Dan, rakyat menyambut kejatuhannya dengan penuh suka cita.