Sunday, December 15, 2019

Ma, Dia Itu Siapa? Sepupumu



Terlepas dari sebutan "Ma" di atas, pernahkah Anda ditanya semacam itu?

Saya punya cerita singkat tentang hal tersebut. Ya, mengenali keluarga sendiri.

Pagi hari, entah kapan saya lupa, seorang anak remaja putri bertandang ke rumah pria paruh baya yang merupakan sepupu ayahnya. Niatnya untuk mengatarkan sesuatu. Sesampainya di sana, ia ditanya pria itu, "Kamu siapa, Nak?"

Ia pun menjawab apa adanya. Setelah pulang, remaja putri ini menceritakan pertanyaan sepupu ayahnya tadi. Selang beberapa waktu, diadakanlah arisan keluarga dengan tujuan agar adanya saling mengenal dalam keluarga besar mereka.

Ada lagi cara lain dengan tujuan yang sama, seperti membuat silsilah keluarga, lalu ditempelkan di dinding rumah masing-masing. Tentu saja silsilah tersebut disertai dengan foto sesuai nama orang yang bersangkutan.

Cara-cara di atas dan yang lainnya di luar sana, sangatlah ideal dilakukan. Hal ini mengingat hubungan keluarga sangatlah penting.

Kadang, kehidupan kita memang lebih banyak berhubungan dengan orang-orang di luar keluarga. Bahkan, ikatan emosional sering lebih terasa kuat dengan tetangga dan teman akrab daripada keluarga sendiri. Meskipun demikian, keluarga tetaplah keluarga, janganlah dilupakan.

Ada nenek, kakek, paman, tante, dan lainnya. Maka, saling kenal-mengenallah.

Saturday, December 14, 2019

Selembar Daun yang Membelai Helai-Helai Halus Alisnya


Hampir setiap malam rembulan menjatuhkan cahaya peraknya di wajah sang bumi. Begitu pula dengan hujan, jatuh di tanah-tanah, rerumputan, batu-batu, dan air yang berkumpul dalam lautan, danau, sungai, sumur, atau sekadar kubangan.

Ketika angin kencang datang, tak sedikit dedaunan yang jatuh, lalu mengering di bawah mentari. Agaknya, dari sinilah muncul kalimat-kalimat indah tentang daun. Sebutlah contohnya judul di atas.

Ya, diksi-diksi yang membentuknya tak lepas dari benda yang berfungsi sebagai alat bernapas dan mengolah zat makanan bagi tanaman tersebut.

Daun. Benar, daun. Lantas, apakah sebatas itu saja? Menghasilkan kalimat-kalimat indah dalam kehidupan manusia?

Tentu saja tidak. Manusia dapat memperoleh makna yang dalam dari selembar daun meski sudah kering sekalipun. Bahkan, yang sudah terinjak-injak oleh ribuan alas kaki.

Bagaimana bisa?

Untuk sampai pada pemahaman tentangnya, maka pertanyaan awalnya begini, "Apakah manusia bisa menciptakan daun?"

Manusia kekinian dengan teknologi canggih sudah membuktikan bisa berada di ketinggian (penerbangan) atau kedalaman (misalnya teknologi kapal selam). Malah, konon ada manusia yang sampai di bulan.

Nah, sebagian manusia sering meremehkan hal-hal sebaliknya. Misalnya saja selembar daun kering di permukaan tanah. Sebagian orang dengan mudah mengatakan, "Apa hebatnya selembar daun itu? Sudah jatuh, kering pula."

Tapi, pernahkah kita berpikir dengan pertanyaan awal di atas? Setahu saya, meskipun hanya daun kering, manusia secerdas apa pun belum sanggup menciptakannya. Itu baru daun, apalagi rantingnya, cabangnya, dan batangnya. Ini adalah bukti keterbatasan manusia. Hanya di situ makna dalamnya?

Belum. Kemudian apa?

Kalau manusia belum mampu, lalu siapa yang menciptakan daun? Jawabnya hanya Allah swt yang mampu. Dengan kata lain, selembar daun merupakan satu tanda dari kebesaran-Nya. Dan, itulah makna yang dalam tersebut.

Oh sampai lupa. Ini malam Minggu. Dalam sebuah lagu, ada lirik-liriknya berbunyi, "Malam Minggu malam yang panjang. Malam yang asyik buat pacaran."

Entah, apa pun aktivitas Anda, semoga malam Minggu ini sungguh mengasyikkan.

Friday, December 13, 2019

Hujan, Senja, dan Secangkir Kopi


Entah mengapa banyak orang mengatakan bahwasanya hujan, senja, dan secangkir kopi erat hubungannya dengan sastra.

Padahal, saat hujan, enaknya ya menikmati menu yang hangat-hangat. Sebutlah tempe mendoan didampingi secangkir kopi atau teh yang uapnya masih menari-nari di udara. Dan, lebih berasa spesial lagi jika hal itu berlangsung saat senja selepas bekerja.

Lalu, di mana letak sastranya?

Agaknya tidak ada. Menulis sastra saat hujan? Yang ada malah kedinginan. Membaca sastra saat senja? Cahaya matahari pada saat itu kurang cocok untuk membaca. Mendengarkan pembacaan sastra sambil minum kopi? Sepertinya akan lebih seru kalau menikmati kopi ditemani suara biduan dangdut yang sangat aduhai.

Meski begitu, ketiganya jika dikaitkan dengan peristiwa tertentu biasanya akan menjadi luar biasa. Kok? Bagaimana bisa?

Misalnya, duduk berdua dengan pujaan hati saat hujan pada senja hari. Ya, berdua saja. Apalagi, ada secangkir kopi yang disruput bersama hingga terlahir suasana hangat nan romantis.

Peristiwa luar biasa yang terkait dengan ketiga hal itulah yang sulit dilupakan. Ada rindu di secangkir kopi. Ada harapan saat senja. Bahkan, ada kehangatan yang setia dalam dekapan hujan.

Nah, jika sudah demikian, konon, akan terlahirlah puisi-puisi indah, cerpen-cerpen mendebarkan, dan novel-novel yang menggugah jiwa.

Waw! Tidak atau belum percaya? Lekaslah membuktikannya.

Thursday, December 12, 2019

Penyair Rela Nulis Puisi meski Tak Dibayar


Percayakah dengan judul di atas?

Di dunia modern saat ini mana ada orang yang mau bekerja tanpa dibayar? Setiap tetes keringat haruslah dihargai dengan nilai yang sepadan.

Menulis memang terkesan tidak melelahkan. Orang menulis tidak perlu mengangkat batu, kayu, atau pekerjaan fisik lainnya. Akan tetapi, jangan lupa bahwa kita sedang hidup di dunia materi. Syarat utama hidup di dunia seperti ini adalah adanya fisik atau jasad yang sehat.

Meskipun berpikir merupakan aktivitas psikis, namun tetap saja kita memerlukan bagian jasad (materi), yakni otak. Tanpa otak, apakah kita bisa menghasilkan kata-kata? Jangankan kata-kata, satu huruf saja tidaklah mungkin.

Artinya, menulis merupakan aktivitas yang juga melibatkan kerja fisik. Itulah sebabnya, menulis bukan perkara ringan dan sederhana. Kerja dalam kepenulisan tidaklah mudah, terutama jika sudah menyangkut penghasilan.

Terlebih saat ini. Penjualan buku, misalnya, begitu sulit. Bahkan, kebanyakan novel susah "ludes" di toko buku. Belum lagi perkara perpajakan yang "menyesakkan" pihak penulis dan penerbit.

Jika pun ada karya seperti puisi dan cerpen dimuat di koran nasional, itu tidak terjadi setiap hari. Alhasil, pendapatan penulis bersangkutan dari pemuatan tersebut belum dapat dikatakan memadai untuk keberlangsungan hidupnya.

Nah, di tengah susahnya penghasilan di atas, ternyata masih banyak penyair yang rela menulis meskipun tanpa dibayar. Lihatlah buku-buku antologi puisi, baik tunggal, maupun bersama.

Tidak sedikit, lho, penyair yang puisi mereka dimuat dalam buku antologi puisi ternyata tidak mendapatkan honorarium sepeser pun. Bahkan, para penyair rela membeli buku-buku yang memuat karya mereka tersebut.

Ini karena para penyair sadar bahwa untuk menerbitkan buku puisi tidaklah gratis. Perlu modal besar, baik tenaga, pikiran, waktu, maupun uang.

Angin segar akan sedikit berembus ke arah penyair jika ada pihak yang berkenan membiayai penerbitan buku antologi puisi mereka. Biasanya, jika sudah begitu, para penyair akan mendapatkan buku secara gratis.

Sekarang sudah tahu, 'kan bagaimana besarnya pengorbanan para penyair Indonesia dalam bersastra?


Wednesday, December 11, 2019

Daging Ikan Laut Pasti Rasanya sangat Asin


Telur bebek jika dilumuri adonan batu bata halus dan garam, lalu didiamkan selama empat belas hari, rasanya menjadi asin. Ya, tidak amis lagi.

Atau, jika seseorang terlalu lama terpapar asap saat membakar sate, misalnya, tubuhnya pun berbau asap.

Terkadang dalam hidup ini, sesuatu akan mudah mendapatkan efek dari hal di sekitarnya. Terlebih jika hal itu mengenai sesuatu tersebut seperti dua contoh di atas. Garam mengenai isi telur dan tubuh dikenai asap.

Saya sengaja menggunakan kata "terkadang" dalam kalimat pertama pada paragraf di atas. Mengapa? Sebab, tidak semuanya demikian.

Adakalanya apa yang menjadi kelaziman tidak berlaku pada hal-hal tertentu. Bahkan, yang kita lihat sekalipun belum tentu begitu adanya.

Sebutlah ikan di lautan. Setiap hari mereka hidupnya di air yang asin. Namanya saja laut  tentu ada kandungan garam di dalam airnya, 'kan? Jika tidak, maka namanya air tawar.

Tapi, apa? Apakah daging ikan rasanya asin? Kalau kita melihat kenyataannya, bukan hanya asin, daging dan seluruh tubuh ikan pastilah rasanya sangat asin.

Meskipun demikian, namun daging ikan laut rasanya amis, bukan asin.

Lalu, apa pelajaran dari realitas ikan laut ini?

Agaknya, hal pertama yang paling menonjol adalah jangan langsung menyimpulkan segala sesuatu dengan terburu-buru. Sebagai contoh, orang yang berpenampilan sederhana jangan langsung disimpulkan orang rendahan. Konon, Sunan Kalijaga pernah menyamar sebagai tukang rumput. Padahal beliau orang terpandang dalam masyarakat Jawa waktu itu.

Sebaliknya pun begitu. Orang yang berpakaian rapi, wangi, dan elit pun belum tentu seperti penampilannya. Perhatikan saja koruptor di Indonesia yang berpenampilan super keren dan sangat waw.

Selanjutnya, tidak mudah terpengaruh oleh situasi dan kondisi di sekitar kita. Tak selamanya kita berada di tempat baik dengan orang-orang yang baik pula. Kadang-kadang kita bisa berada di tempat yang buruk. Sebutlah banyak pemakai narkoba di sekitar rumah kita. Maka, jadilah seperti ikan, yakni tidak terpengaruh dunia sekitar "yang buruk bagi kita" itu.

Kasus bunuh diri pun banyak disebabkan oleh permasalahan hidup. Idealnya, sebagai manusia tidak mudah terpengaruh situasi dan kondisi seburuk apa pun. Masih ada Allah swt yang Maha Penolong sebagai tempat memohon bagi manusia atas segala permasalahan hidup ini.

Tampaknya masih banyak pelajaran lainnya dari hal di atas sebagai bagian pembacaan alam semesta oleh kita. Dan, terlalu panjang jika dituliskan dalam artikel yang singkat ini. Akhirnya, selamat memaknai hidup dan kehidupan dengan penuh kebijaksanaan.


Tuesday, December 10, 2019

Meminjam Tidak Sama dengan Memetik Sekuntum Bunga


Ada seorang pemilik tangga kayu yang begitu kesal. Betapa tidak? Awalnya tangga miliknya itu dipinjam oleh seseorang. Sehari, dua hari, hingga satu bulan tangga tersebut tak kunjung dikembalikan kepadanya.

Nah, suatu hari yang lain, dirinya sedang memerlukan tangga untuk sebuah keperluan yang sangat penting. Parahnya, saat ia mendatangi rumah si peminjam tadi, ternyata tangga miliknya sudah tidak ada di sana. Waw!

Ya, si peminjam telah meminjamkannya ke orang lain. Lalu, ia ditemani si peminjam pertama mendatangi peminjam kedua. Dan, orang yang didatangi ini pun telah meminjamkannya kepada orang yang lainnya lagi. Luar biasa!

Mengetahui hal tersebut, darahnya seketika langsung naik ke ubun-ubun. Ia sangat kesal saat itu. Suaranya meninggi. Wajahnya pun merah padam.

Cerita di atas benar-benar pernah terjadi. Di dunia ini, memang banyak orang kesusahan mendapatkan kembali sesuatu yang ia pinjamkan, baik uang, maupun barang kepada orang lain, entah saudaranya, atau sekadar kenalannya di dunia maya.

Tak jarang, orang yang meminjamkan malah seolah-olah menjadi pengemis agar haknya bisa kembali. Bahkan, ada yang berujung kematian karena dibunuh oleh si peminjam yang begitu kejam dan sadis.

Padahal, meminjam tidaklah sama dengan memetik sekuntum bunga. Memetik, berarti melepaskan bunga dari tangkai tanamannya.

Si pemetik tidak mengembalikan atau menyambung kembali antara bunga dan tangkainya. Kalau sudah dipetik, ya cukup dinikmati keindahan atau keharumannya. Jika sudah layu, bisa dijadikan bahan pembuatan pupuk organik.

Sementara peminjam wajib mengembalikan yang ia pinjam kepada pemiliknya. Sebutlah uang, ya harus dikembalikan sesuai jumlah yang dipinjam.

Begitu pula dengan barang seperti tangga kayu pada cerita di atas, harus dikembalikan dan  peminjam tidak mempunyai hak meminjamkannya kepada orang lain.

Agaknya, perbedaan keduanya sudah jelas sekarang. Malam pun kian meninggi. Kini, saatnya menikmati hidup dalam lelapnya tidur yang nyenyak. Selamat beristirahat!


Monday, December 9, 2019

Aduklah Gula dalam Air Tehmu hingga Larut Merata


Terkadang, ada segelas air teh yang gulanya sengaja tidak diaduk. Dibiarkan  menjadi timbunan di dasar gelas begitu saja. Konon, makna filosofisnya sama dengan peribahasa, "Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian."

Ya, air teh yang pertama diminum terasa pahit dan akhirnya manis. Seperti hidup bersakit-sakit dulu, bersenang-senang kemudian.

Tapi, jika tidak diaduk, bagian akhirnya akan sangat manis. Sedang bagian atasnya pahit. Ini malah bermakna ketidakadilan. Ada bagian air teh dalam gelas itu yang mendapatkan banyak gula dan ada yang mendapatkan jatah manis yang sangat sedikit.

Membayangkannya saja, membuat saya teringat salah satu sila dalam Pancasila. Dan, entah apa sila itu sudah diwujudkan atau belum. Nyatanya, masih banyak orang berkata, "Masih sering terjadi ketidakadilan di negeri ini."

Maka, biasakanlah untuk bersikap adil. Dan, agaknya mengaduk gula dalam air teh hingga larut merata bisa menjadi sarana pembelajaran bagi kita semua.

Membahas teh, eh saya malah ingin menikmati seduhan secangkir air teh yang mengandung keadilan.

Anda?