Monday, June 29, 2026

Penerima Bunga Bahagia, Rakyat Sengsara

Ilustrasi: Pixabay 

Konon di sebuah wilayah padang rumput ada negara bernama Republik Lelucon (RL). Pemimpinnya seorang mantan preman yang gemar memalak banyak orang. Saat dirinya menjabat sebagai presiden boneka dari negara lain, yakni Republik Rakyat Matahar (RRM)i, ia pun terus saja memalak banyak orang yang disebut rakyat. 

Meskipun sudah banyak mendapatkan uang setoran hasil memalak (pajak), dirinya masih diperintahkan Presiden RRM untuk menyerahkan bunga bank milik mereka. Benar, sebagai pendapatan tetap, pihak RRM mewajibkan pemerintah RL selalu menggunakan uang mereka. Kadang-kadang dalam bentuk utang, ada kalanya dalam bentuk investasi proyek infrastruktur. 

Ya, meskipun disebut investasi, tetapi pihak Negara RL diminta menyerahkan bunga dari total uang investasi proyek tersebut. Kedengarannya sangat aneh. Dan, mau tak mau bunga pun harus diserahkan. Bahkan, Negara RRM mendapatkan tanah beserta bangunan untuk cabang bank investasi proyek ini di Negara RL. Wow sekali, 'kan?

Sementara Presiden RL terlihat selalu santai. Mungkin banyak orang heran mengapa dirinya bisa santai meskipun di bawah tekanan RRM. Jawabannya mudah. Sebab, yang menanggung segala tekanan ekonomi tersebut ialah rakyat. Sebesar pun uang yang harus diserahkan ke pihak RRM, rakyat lah yang membayarnya dengan pajak.

Itulah sebabnya, rakyat di sana sering bertanya, "Kapankah kita merdeka?" 

Mengundang Rektor, Membungkam Kampus

 

Ilustrasi: Pixabay 

Agaknya ini cara jitu yang sejurus dengan perlakuan Presiden Vladimir Putin terhadap umat Islam Rusia. Konon, presiden penyuka olahraga judo itu melihat umat Islam di negaranya tidaklah sedikit. Ia sadar betul akan potensi yang membahayakan keutuhan Rusia jika dirinya tidak bijak terhadap para muslim di sana. Itulah sebabnya, dirinya merangkul seluruh umat Islam Rusia bersatu padu membangun negeri. Dan, ia berhasil. Bahkan, bisa dikatakan umat Islam di sana menjadi benteng utama terhadap paham-paham yang dianggap Putin dapat melahirkan radikallisme berbahaya. 

Hal ini pulalah yang sedang dilakukan salah seorang presiden dalam menghadapi demonstrasi. Ya, lebih tepatnya demonstrasi besar di negara yang dipimpinnya. Presiden ini sadar bahwa penggerak utama unjuk rasa adalah pihak kampus. Benar, para mahasiswa dan juga sebagian dosen mereka. 

Nah, untuk mengatasi demonstrasi di negaranya, maka sumber pergerakan tersebut haruslah "diselesaikan" terlebih dahulu. Salah satu caranya adalah mengundang para rektor dan memperlakukan mereka dengan sangat baik. Yang semula sang presiden tak mau dikritik orang-orang pintar, kini dengan kata-kata manisnya ia berjanji akan menampung segala masukan dari para rektor. 

Selain itu, dirinya juga menegaskan bahwa kampus adalah tempat bertukar ide-ide, gagasan-gagasan, juga yang lainnya demi perkembangan ilmu dan teknologi. Ini sangat jelas presiden tersebut sedang menggunakan wajah lain. Wajah yang berbeda dengan wajah aslinya yang sombong, radikal, dan juga antisosial. 

Tujuan utama penggunaan wajah lain itu tidak lain dan tidak bukan supaya kampus hanya mengurusi dan sibuk dengan keilmuan semata. Sehingga, tidak lagi berunjuk rasa menentang dirinya. 

Nah, dalam hal tersebut sebenarnya dirinya tidak paham akan satu hal penting, yakni sejatinya kampus tidak sekadar melahirkan orang -orang cerdas dalam intelektual saja. Para sarjana dilahirkan dengan beragam kecerdasan. Pihak kampus menggembleng para mahasiswa untuk memiliki kecerdasan intelektual, emosional, spritual, sosial, budaya, dan seluruh kecerdasan di setiap sendi kehidupan yang ada. Salah satunya demonstrasi.

Tanpa simpati dan empati, mana mungkin para mahasiswa mau berpanas-panasan dan berhujan-hujanan menggelar unjuk rasa demi kesejahteraan rakyat? Seandainya para mahasiswa antisosial, sudah dipastikan tidak ada yang namanya demonstrasi.

Sunday, June 28, 2026

Katanya MBG Soal Lapar, Kok hanya Makan Siang?

 

Ilustrasi: Pixabay 

Lalu bagaimana dengan sarapan pagi dan makan sore? Atau, bila perut benar-benar lapar saat malam hari, harus makan apa jika menu yang ada sebatas makan siang saja? 

Pemenuhan gizi pastilah bukan hanya makan siang atau sekali makan dalam 24 Jam. Bayangkan bagaimana bisa gizi terpenuhi kalau dalam sehari semalam hanya makan satu kali, yakni saat siang hari saja. TIDAK MUNGKIN TERPENUHI. 

Terkadang saya heran bertubi-tubi ketika ada yang bangga dengan makan siang gratis di Republik Wahana ini. 

Begitulah keheranan Prof. Banyu Grobak, Lc, MA, Ph.D. terhadap cara pemenuhan gizi di negaranya. Meski demikian, menurutnya masih ada yang lebih mengherankan lagi, yakni soal dananya. Dia menyadari bahwa negaranya sangatlah miskin dengan utang kepada asing sudah nyaris sepuluh ribu trilyun Dauna. Tetapi, dengan kenyataan pahit tersebut, presiden di sana masih saja memaksakan kehendaknya untuk program makan sehari semalam itu.

"Jelas sekali program tak bermutu ini sangatlah mengganggu kehidupan sehari-hari. Untuk tetap menjalankannya, anggaran di sektor lain semisal kesehatan dipangkas. Rakyat pun kian sengsara. Ini apa tidak aneh?" suara Prof. Banyu terdengar seperti sedang menangis.

Selain ekonom tersebut, banyak pihak juga berpikiran sama bahwa program makan siang yang dinamakan MBG ini bukanlah solusi tepat untuk pemenuhan gizi manusia di negara yang kaya akan tanaman liarnya itu.

Mereka juga mengusulkan agar Presiden Pranikah Sudah segera menciptakan lapangan pekerjaan yang layak kepada rakyat. Tujuannya supaya setiap rumah tangga memiliki uang yang cukup untuk memenuhi gizi keluarga setiap hari.


Saya Presiden yang Bekerja untuk Rakyat

Ilustrasi: Pixabay 

Apa pun aktivitas saya sebagai presiden haruslah prorakyat. Itu semboyan yang sudah melekat dalam jiwa saya. Sejak hari pertama, saya langsung bergerak menunaikan janji-janji politik selama kampanye. Ya, terkait semua sendi kehidupan di negara kita.

Di dunia pendidikan, misalnya, saya naikkan gaji para guru honorer, terutama di daerah-daerah tertinggal, terdepan, dan terluar. Mereka juga saya bangunkan rumah dinas layak huni. Akses menuju sekolah yang bermasalah sudah diperbaiki secara bertahap. Mulai dari perluasan dan penebalan jalan, pembangunan jembatan penyeberangan, bahkan penyediaan perahu bermotor untuk membawa para siswa dan guru pulang pergi ke sekolah.

Buku-buku pelajaran dan penunjang pelajaran juga sudah saya sediakan. Dalam hal ini termasuk pengadaan komputer yang sudah direalisasikan dengan baik dan benar. Dan, yang tak kalah pentingnya, penggratisan biaya sekolah bagi anak-anak kurang mampu sudah saya wujudkan. 

Mengenai gizi? Bukan sekadar gizi, kesehatan para siswa dan guru pun saya perhatikan dengan mendatangkan tim kesehatan di setiap sekolah. 

Lalu di bidang-bidang lain juga sama. Bahan bakar minyak dan gas selalu tercukupi di setiap daerah dengan harga murah. Sebab, subsidi saya tambahkan di bidang migas. Sehingga, tidak ada lagi istilah langka dan mahal. Sebutlah pertalite harganya hanya seratus Rupanya. Sebelumnya tembus di angka 10 ribu Rupanya. Gas isi tiga kilogram kini harganya hanya lima ratus Rupanya. 

Swasembada pangan? Lihat saja sendiri. Dengan adanya program tani cerdas yang saya canangkan, padi melimpah ruah. Lahan pertanian yang sudah ada saya tingkatkan. Mulai dari penyediaan bibit padi unggul, pupuk organik super, hingga irigasi yang optimal. Hasilnya sungguh luar biasa. 

Dari semua yang sudah saya lakukan, kepercayaan para investor terus menguat. Industri-industri besar berjalan lancar. Tidak ada pemutusan hubungan kerja. Mata uang Rupanya juga kian perkasa. 

Nah, kalau ditanya puas? Jawabannya tentu saja ya. Akan tetapi, itu tidak membuat saya sombong dan terlena. Setiap hari saya selalu berusaha memajukan negara kita dengan meningkatkan kesejahteraan rakyat secara keseluruhan.


Saturday, June 27, 2026

Yang Disembunyikan Presiden

Ilustrasi: Pixabay 

Segala yang disembunyikan agaknya lebih banyak hal negatifnya daripada terbuka seluas-luasnya untuk dikonsumsi publik. Pertanyaan mendasar yang muncul adalah, mengapa disembunyikan? Bukankah jalannya roda pemerintahan haruslah transparan? Rakyat sebagai pemegang kedaulatan negara tidak boleh sampai tidak tahu agenda presiden sang bawahan rakyat. 

Akan tetapi, yang lebih sering terjadi, ternyata ada ketertutupan di balik pintu agar rakyat tidak tahu. Ini sebenarnya sudah tidak pantas dan tidak boleh dilakukan oleh presiden. Mau bagaimana pun keterbukaan idealnya diutamakan. Kita ini satu keluarga besar. Terasa sangat janggal jika dalam sebuah keluarga ada yang disembunyikan. Dengan ketertutupan ini, rakyat sudah dianggap musuh besar pemerintah. Bukan lagi bagian keluarga yang harmonis.

Berbeda kalau itu terkait masalah pribadi yang memang harus ditutupi sebagai aib. 

Selama hal tersebut bukanlah aib, untuk apa disembunyikan? Terutama jika sudah menyangkut kepentingan orang banyak, maka transparansi wajib ada. Sebutlah contohnya soal dunia pendidikan. Tak ada istilahnya "diskusi tertutup" antara presiden dan para praktisi pendidikan hingga tega mengusir para jurnalis dari dalam ruang acara.


Friday, June 26, 2026

Wujud Kedaulatan Rakyat Sebatas Pemilihan?

 

Ilustrasi: Pixabay 

Terdengar sangat tidak familiar kalau kedaulatan rakyat hanya sebatas pemilihan pemimpin negara. Ya, maksudnya hanya memiliki satu hak, yakni hak memilih pemimpin di alam demokrasi. 

Ini menjadi kelucuan tersendiri dalam memandang kedemokrasian. Betapa tidak? Bagaimana mungkin kedaulatan rakyat begitu sangat minim ruang geraknya? Lantas kalau pemilu yang diikuti tersebut banyak mengandung kecurangan, apakah rakyat tidak memiliki hak mengkritisinya?

Nah, soal kritik juga tidak sebatas dalam pemilu saja. Siapa pun pemenangnya, baik curang atau tidak, kritik idealnya diterima dan bukan dianggap kegaduhan.

Jadi, siapa saja yang memandang kedaulatan rakyat hanya sebatas hak memilih dalam pemilu, jelas sekali orang tersebut antikritik dan sombong. Kalau dia seorang presiden, maka dia sudah dapat dipastikan tidak mau mendengarkan kritik rakyat. Bicaranya mungkin menggebu-gebu tentang rakyat, tapi sebenarnya itu hanyalah omong kosong besar. Rakyat hanyalah sapi perahan untuknya. Bahkan, rakyat yang pintar semisal pengamat ekonomi, dilabelinya sebagai biang kegaduhan. Demonstrasi juga akan dianggap makar yang merongrong kekuasaannya. 

Tentu saja hak tersebut sangat berbahaya bagi keberlangsungan hidup di negara yang dipimpinnya.  

Thursday, June 25, 2026

Banyak Negara Minta Beras? Kasihkan kepada Rakyat!

Ilustrasi: Pixabay 

"Ndasmu!!! Enak aja rakyat dikasih beras dan jagung! Beli, beli, beli! Hari gini masih dikasih gratis! Nggak!!!"

"Serius amet? Santai aja kaleee ngomongnya. Nggak usah bawa-bawa emosi kayak gitu ah. Apalagi pake 'ndasmu' segala."

"Ah, ini hanya menirukan gaya bicara Pak Presiden Pascabawang Sebatang ajah. Beliau biasanya suka emosi gitu, 'kan kalo pas lagi ngomong?"

"Ya juga sih, ha ha ha ha. Pada kenyataannya selama ini emang nggak pernah pemerintah ngasih pangan kepada seluruh rakyat secara gratis tanpa kecuali."

"Benar sekali, tanpa kecuali. Artinya seluruh rakyat, baik yang di bawah garis kemiskinan, maupun yang kaya raya, semuanya merasakan kenikmatan bersama. Sebab, semua rakyat adalah pemberi pajak. Tanpa pajak, negara kita pasti sudah lama tiada di muka bumi."

"Maka, dengan melimpahmya hasil pertanian, sudah saatnya pemerintah membagikannya secara gratis kepada kita semua. Kalau untuk negara lain, itu setelah rakyat di negara ini bahagia."

"Tepat sekali katamu. Untuk apa mengutamakan negara-negara lain kalau rakyat sendiri di dalam negeri belum sejahtera."

"Terlebih jika pemberian kepada negara-negara lain tersebut sekadar untuk gaya-gayaan dan mendapatkan pujian dari para pemimpin negara lain, itu namanya super egois."

"Dan, sungguh tidak pantas seseorang yang super egois menjadi presiden di belahan bumi mana pun."

***