![]() |
| Ilustrasi: Pixabay |
"Baik, Bos. Janji politik ini pasti akan saya laksanakan."
"Segera buktikan!"
Pria itu pun dengan penuh hormat mohon diri dan bergegas memerintahkan semua menteri -menterinya untuk menghabiskan anggaran belanja negara yang dia pimpin.
Maka, hari demi hari kian banyak program aneh bermunculan. Mulai dari pembentukan satuan tugas, penciptaan wakil menteri, hingga pengadaan sepatu siswa dengan harga tidak wajar. Alhasil, negara yang dipimpinnya defisit anggaran belanja dan nilai mata uangnya kian lemah terhadap dolar Amerika Serikat.
"Ha ha ha orang itu begitu gigih menghancurkan negaranya sendiri demi kepentingan dirinya."
"Benar, Bos. Dia manusia rakus yang tak tahu malu."
"Selama masih ada orang seperti dirinya, bisnisku ini akan selalu membahagiakan. Bunga demi bunga pinjaman akan terus masuk. Dan, sebentar lagi dia pasti akan berutang lagi. Ha ha ha ha!"
Sementara rakyat di negara tersebut sudah mulai turun di jalan-jalan menyuarakan kritik dan tuntutan. Ya, termasuk menuntut presiden yang gemar pamer, hobi bertualang, dan gila pujian itu mundur dari kursi jabatannya. Gerakan di dunia maya pun tak kalah besar seperti adanya tanda pagar "Negara Mendung" yang membanjiri media-media sosial.
Bukannya berempati, simpati pun tidak ada dari si presiden. Dirinya malah memilih melakukan lawatan ke banyak negara. Dan, setiap pulang dari jalan-jalan itu, dia selalu berpidato. Tidak jarang disertai marah-marah, termasuk dalam menyikapi tanda pagar di media sosial dengan mengatakan, "Setiap kali saya jalan-jalan tidak pernah mendung apalagi hujan. Buktinya pakaian dan tubuh saya kering dan dan saya bahagia."
Tak ayal, berbagai komentar dari banyak kalangan kian deras di negara tersebut. Perdebatan antara pengamat dan orang-orang bayaran juga ramai dalam acara debat publik yang disiarkan beberapa televisi di sana. Salah satunya terkait utang negara yang kian membengkak, nyaris mendekati angka sepuluh ribu trilyun.
Lantas apa yang dilakukan si presiden itu terkait tanggapan masyarakat terhadap dirinya? Seperti biasanya, dia selalu menangkis semuanya dengan klaim-klaim keberhasilan semu.
"Kalau seperti ini terus sangat berbahaya bagi negara kita, Bung!"
"Tapi, apa yang bisa kita lakukan? Orang ini antikritik dan arogan. Terlalu kritis, kita yang akan jadi korban."
"Hanya ada satu jalan, yakni menggulingkannya dari kursi presiden."
"Tidak mudah. Dirinya bukanlah sosok kaleng-kaleng. Semua instansi pemerintah sudah dia kuasai. Terlebih pihak asing yang memberinya utang pasti akan memberangus kekuatan rakyat."
Lalu seorang yang lainnya lagi turut bicara, "Benar juga. Kali ini berbeda dengan situasi beberapa puluh tahun lalu. Waktu itu kekuatan asing beserta oknum besar dalam negeri bermain untuk menjatuhkan si tangan besi. Itulah sebabnya, penggulingan berhasil. Nah sekarang, adalah sebaliknya."
Beberapa waktu kemudian tak ada lagi pembicaan. Mendung yang menggantung di langit turun menjelma hujan. Ketiganya segera berlarian mencari tempat untuk berteduh.
***














