Tuesday, June 16, 2026

Mengapa Presiden Tidak Prorakyat?

 

Ilustrasi: Pixabay 

Sebenarnya kata "presiden" sekadar istilah yang mewakili makna pemimpin negara. Seperti yang kita tahu, ada yang namanya sultan, raja, dan lainnya. Tapi, dalam hal ini cukuplah satu istilah yang kita pakai. Ya, presiden sebagai jabatan yang diincar para ambisius di bidang politik.

Dalam perjalanan sejarah perpolitikan, bisa dikatakan banyak presiden yang tidak prorakyat. Nah, dari sana muncullah sebuah pertanyaan mendasar, mengapa demikian?

Jika pertanyaan itu muncul, maka agaknya yang pertama lahir dalam pikiran banyak orang sebagai reaksinya adalah, karena presiden memikirkan ego yang belum bisa ia kendalikan. Lihatlah hingga sekarang masih saja ada aktivitas kenegaraan yang memakai istilah presiden. Sebutlah misalnya, kurban presiden, bantuan presiden, yang kesemuanya untuk mendapatkan pujian sang presiden. Padahal masih menggunakan uang rakyat.

Atau, contoh lainnya berupa program-program yang dibuat berdasarkan keinginan presiden dan bukan berangkat dari situasi dan kondisi rakyat. 

Nah, bagian terakhir di atas sebenarnya bisa juga atas perintah para pemodal. Benar, dalam negara yang katanya berasaskan demokrasi, pada kenyataannya malah berasaskan kepentingan para pemodal, yakni para pengusaha yang memodali calon presiden hingga menjadi presiden. Ini tentu menjadi sebab munculnya segala program presiden. Artinya, program-program yang dijalankan hanya untuk kepentingan orang-orang kaya raya tersebut. 

Masih sejurus dengan paragraf yang baru saja kita tinggalkan, selain para pemodal, kepentingan dapat saja datang dari asing. Maksudnya dari para pemimpin atau satu pemimpin negara adikuasa. Dalam bahasa yang lebih mudah dipahami, untuk mewujudkan ambisinya sebagai presiden, seorang politikus meminta dukungan dari luar negaranya. Dan setelah dirinya menjadi presiden, maka ia pun tunduk dan patuh kepada para presiden atau satu saja presiden dari negara adikuasa itu. 

Oleh karenanya, jangan heran kebanyakan presiden tidak prorakyat. 

Sunday, June 14, 2026

Pujian di Luar Batas kepada Presiden

Ilustrasi: Pixabay 

Haruskah itu dilakukan? Jika demi jabatan, tentu wajib dilakukan. Sebab, seandainya tidak, bagi para pejabat, jabatan mereka bisa melayang. 

Nah, bagi yang belum menjadi pejabat, hal itu sangat bagus untuk mendapatkan jabatan. Minimal kepala satuan tugas.

Pujian tersebut bisa berupa kalimat yang berbunyi, "Presiden kita sangatlah cerdas. IQ beliau lebih tinggi daripada kecerdasan  intelektual Albert Einstein." Atau, "Program  presiden didukung 43 juta murid. Beliau mencontohkannya dalam sehari membaca sebanyak 50 buku nonstop."

Apa pun tanggapan masyarakat, selalu menjadi urusan belakangan bagi ahli memuji jenis ini. Terpenting adalah, presiden yang bersangkutan mengetahui pujian itu. 

Pertanyaannya, mengapa mereka yang gila jabatan bisa seperti itu? Jawabannya mudah, yakni karena presiden yang mereka puji termasuk kategori orang yang gila pujian. Maka, dengan pujian di luar batas tersebut, presiden akan sangat kegirangan dan langsung memberikan jabatan bagi pemuji yang belum menerima jabatan. Dan, seperti tersebut di atas, para pejabat akan terus memangku jabatan mereka dalam waktu yang panjang.


Saturday, June 13, 2026

Pidato Presiden Adalah Keaslian Dirinya

 

Ilustrasi: Pixabay 

Benarkah demikian? Agaknya ini merupakan pertanyaan yang membuat publik berambisi menjawabnya. Ya, selama ini deretan pidato sang presiden yang diluncurkan dengan bantuan pengeras suara memang membuat banyak orang geram. 

Hal terakhir di atas sering ditanggapi dengan kata-kata yang tidak pernah dilontarkan kepada presiden sebelumnya. Sebutlah misalnya, "Jangan kasih dia mic!" dan "Presiden pidato, kiamat kian dekat satu jam." Kalimat-kalimat tersebut sebenarnya bukan sekadar asal keluar atau asal bunyi, tetapi menjadi tanda bahwa masyarakat kebanyakan tidak menyukai gaya dan isi pidato presiden. 

Menurut masyarakat luas--dilihat dari komentar di media sosial--perkataan demi perkataan presiden memang tidak sinkron dengan fakta di lapangan dan terkesan jauh dari kata empati terhadap rakyat. 

Nah, disadari sang presiden atau tidak, sebenarnya pidatonya ialah cerminan dari keaslian dirinya yang dapat ditangkap oleh banyak orang. Ini bukan sekadar pola pikir dan wawasannya, tetapi keseluruhan dirinya. Sebutlah contohnya ketika presiden mengatakan A, tetapi di lapangan B. Ini bukti bahwasanya ia seorang pembohong. Publik pun akhirnya menilai masih pantaskah dirinya tetap menjadi presiden atau tidak. 

Itulah sebabnya, jangan heran jika banyak orang menginginkan sang presiden mundur dari kursi jabatannya. 

Friday, June 12, 2026

Upaya Keselamatan di Kawasan Wisata

Foto: Pixabay 

Ada yang bilang tidak ada yang disalahkan dalam setiap tragedi di tempat wisata. Akan tetapi, hukum kausalitasnya berbunyi, "Tragedi itu terjadi karena tidak adanya peralatan keselamatan dan tim penyelamat' di sana."

Ini tentu menjadi perhatian bersama, termasuk juga para calon pengunjung. Ya, jika di kawasan wisatanya tidak dilengkapi unit keselamatan, lebih baik batalkan atau pastikan untuk sebisanya ekstra berhati--hati. Sebab, jika terjadi kecelakaan semisal Anda terjatuh dari ketinggian, tidak ada bantuan yang datang dengan segera. Anda akan mendapatkan bantuan setelah Tim SAR tiba. Dan, durasinya dari awal Anda terjatuh hingga mereka datang di tempat kejadian bisa mencapai satu jam. Rentang waktu selama itu sangat tidak ideal bagi keselamatan Anda. Bisa-bisa mereka datang saat nyawa Anda sudah melayang.

Itulah sebabnya, di setiap destinasi wisata idealnya dilengkapi peralatan keselamatan dan tim penyelamat. Sebab, jika masih mengandalkan BASARNAS, misalnya, itu pasti memakan waktu yang tidak lah singkat mengingat jarak tempuh dan lainnya. Sementara korban harus segera mendapatkan pertolongan.

Dalam hal ini pemerintah wajib mengadakan pengawasan ketat terhadap adanya kepastian upaya keselamatan tersebut di atas oleh pemilik dan pengelola setiap destinasi wisata yang ada. 

Adakah Pejabat yang Peduli terhadap Para Korban?

Ilustrasi: Pixabay 

Konon, kepedulian terhadap sesama makhluk terkait erat dengan kecerdasan sosial. Ketika seseorang memiliki kecerdasan sosial.yang tinggi, apa pun akan dilakukannya untuk menolong sesama, baik yang hidup, maupun yang berupa benda mati. 

Ya, meski benda mati sekalipun tetap dipedulikannya, semisal bebatuan di sekitar sungai. Dan, kepedulian jenis ini sebenarnya juga berdampak pada kehidupan makhluk termasuk manusia. Bayangkanlah ketika bebatuan di sekitar sungai sudah tidak ada, maka tidak ada lagi yang menahan gerusan air sehingga terjadi longsor dan banjir. 

Sebaliknya, siapa saja yang tidak memiliki kecerdasan sosial, maka tidak ada pula yang namanya kepedulian. Nah, dari waktu ke waktu tentu ada saja korban demi korban berjatuhan. Mulai korban yang mengalami luka sederhana hingga yang parah. Terakhir yang masih hangat dibicarakan banyak orang adalah, seorang wanita yang menjadi korban tenggelam di Bulukumba. 

Pertanyaannya, adakakah kepedulian para pejabat terhadap para korban tersebut?

Jika ditanya demikian, mungkin ada,.tapi ada berapakah yang peduli? Sebutlah korban tenggelamya remaja di Bulukumba tersebut, ada berapa banyak pejabat yang peduli terhadapnya? Siapa sajakah mereka? Adakah presiden kita peduli?


Para Demonstran Didukung Penuh Aparat Berwajib

Foto: Pixabay 

Nah ini baru namanya aparat berwajib yang super keren. Betapa tidak? Mereka, baik dari pihak kepolisian, maupun tentara, bahu-membahu mendukung rakyat melalui para mahasiswa dan masyarakat saat berunjuk rasa di depan pagar bangunan istana negara dan kantor perwakilan rakyat. Karena kedua bangunan itu bersebelahan, demonstrasinya pun terpusat di satu titik. 

Para aparat berwajib itu sadar betul bahwa kekuasaan tertinggi di tangan rakyat. Bahkan, mereka tidak malu mengakui rakyat lah yang memberikan penghidupan di negara ini. Ya, dengan pajak. Tanpa adanya pajak, tak ada pula yang namanya eksistensi negara meski sudah merdeka sekalipun.

Nah, adapun tuntutan mahasiswa dan masyarakat tersebut ialah turunkan harga bahan bakar minyak dan hentikan program-program pemborosan anggaran pengeluaran negara. 

Selama demonstrasi berlangsung, mahasiswa dan masyarakat kompak menyuarakan kedua tuntutan itu. Sedang presiden dan juga ketua perwakilan rakyat berkenan menemui para demonstran. Mereka berdua mendengarkan dan menampung segala tuntutan yang ada.

Ini jauh berbeda sekali dengan Negara Kondolan yang semua aparat berwajibnya lebih memilih perintah presiden di sana. Itulah sebabnya, setiap kali ada demonstrasi di negara tersebut, pasti terjadi bentrokan hebat antara para demonstran versus aparat berwajib. Parahnya lagi, pernah ada komandan militernya yang memerintahkan kepada para bawahannya untuk menghabisi para demonstran. Alhasil, waktu itu ada yang tewas dan ada pula yang hilang.


Thursday, June 11, 2026

Halo, Sahabat! (Sambungan Telepon Antarpemimpin Negara Maju saja) Presiden Rendahan Silakan Datang!

 

Ilustrasi: Pixabay 

Punya banyak sahabat tak harus saling berkunjung jika memakan anggaran pengeluaran yang.besar. Cukup dengan sambungan telepon, maka komunikasi dua arah pun terwujud.

Ya, sering diwartakan bahwa tak jarang antarpemimpin negara pun semisal Presiden Erdogan dan Presiden Putin berkomunikasi lewat sambungan telepon. Bahkan, Presiden Republik Turkiye itu tak segan berbicara dengan Presiden Trump lewat sambungan telepon juga untuk membahas hal penting.

Ini tentunya merupakan pemanfaatan teknologi dan penghematan keuangan negara masing-masing. Kalau seandainya mereka ingin bertatap muka pun bisa dengan menggunakan zoom. Jadi, tidak perlu harus bertemu langsung. 

Perihal sahabat antarpemimpin negara ini memang agak rumit juga. Harus ada kesetaraan kekuatan politik dan ekonomi. Jika pemimpin negara lemah, biasanya, meski sudah sering bertemu dengan presiden negara maju, tetap.saja tidak dianggap sahabat, melainkan bawahan.

Karena dianggap bawahan, tentu saja hubungan yang ada bukanlah hubungan antaraahabat, melainkan hubungan antara majikan dan anak buah. 

Presiden lemah (rendahan) harus tunduk dan patuh kepada presiden negara kuat (maju). Jika presiden kuat memanggil presiden lemah, maka si lemah ini harus datang. Tidak boleh tidak datang. Alhasil, pengeluaran negara yang dipimpin presiden lemah pun membengkak.

Nah, untuk mengatasi hal tersebut di atas, idealnya presiden rendahan memfokuskan diri pada peningkatan kemajuan negara yang dipimpinnya. Setelah maju, barulah mencoba menjalin persahabatan dengan para pemimpin negara maju (kuat).