Monday, July 20, 2026

Presiden Boneka yang Memusuhi Rakyat

Ilustrasi: Pixabay 

Konon, pada zaman dulu, di lereng Gunung Banyu ada sebuah negara bernama Pajakiya. Alamnya sungguh memukau hati. Tampak begitu hijau dengan aneka tambang di dalamnya. 

Tak ayal banyak orang asing datang mencari keuntungan di sana. Mulai dari rempah-rempah hingga emas. Mereka yang datang dari luar itu bukan membeli, melainkan mengambil segala kekayaan milik negara tersebut tanpa harus terlebih dahulu menggunakan kekuatan militer. 

Ya, negara itu dipimpin oleh antek asing.  Dengan kata lain, presidennya merupakan anak buah atau orang suruhan dari negara lain yang adidaya. Kok bisa? Tentu saja bisa. Caranya? Dalam pemilihan presiden yang tidak adil, sang antek asing itu dimenangkan oleh negara adidaya tersebut dengan cara penghitungan curang. Alhasil, angka kemenangan selalu ada padanya. 

Setelah menjadi presiden, segala program pemerintah yang dijalankannya merupakan perintah dari sang majikan, yakni presiden negara adidaya itu. Tidak ada yang prorakyat. Semuanya proasing. Uang negara digunakan untuk hal-hal yang tiada bermanfaat bagi  bangsa. Setelah anggaran negara habis, sang presiden boneka diperintahkan untuk berutang. Utang pun kian hari semakin menggunung. Lantas siapa yang wajib membayarnya?

Rakyat lah jawaban dari pertanyaan di atas. Sejak lahir, rakyat di sana sudah dibebani dengan utang yang mencekik. Sedang pendapatan rakyat kian susah diperoleh meski dengan cara yang dikategorikan haram. 

Menyikapi situasi dan kondisi tersebut, rakyat mulai bereaksi. Demonstrasi demi demonstrasi digelar dengan tuntutan yang sama, yakni agar pemerintah benar-benar menjalankan amanat rakyat dan jangan tunduk kepada asing. Akan tetapi, presiden boneka tersebut malah mengejek rakyat dengan kata-kata dan gestur mengolok-olok. Misalnya dia mengatakan "Nyinyir, nyinyir, nyinyir" yang sangat melukai jiwa rakyat di sana saat itu.

Pada kesempatan yang lain, dirinya menjawab kritik dengan playing victim. Dia menyatakan telah diserang. Dirinya adalah korban dalam drama yang dibuatnya sendiri. Aslinya tidak ada yang menyerangnya. Yang ada adalah kritik membangun yang disebunya sebagai serangan. 

Dan, tindakan memusuhi rakyat tersebut terus saja dilakukannya dari waktu ke waktu hingga pada akhirnya dia ditembak mati oleh salah seorang penembak jitu yang misterius. 

Sunday, July 19, 2026

Pemerintah Malas Kerja, Pajak Pasti Diperluas

Ilustrasi: Pixabay 

Syarat utama untuk bisa membuat pajak kian meluas adalah dengan adanya sifat malas dalam jiwa pemerintah. Ketika pemerintah mendapatkan warisan berupa banyak perusahaan milik negara dan juga kekayaan alam yang melimpah, misalnya, maka idealnya pemerintah wajib rajin mengelolanya. Bukan malah sebaliknya. 

Perusahaan-perusahaan yang ada harus digenjot dengan sebaik-baiknya. Kesalahan-kesalahan, mulai dari yang kecil hingga yang besar, tidak boleh diabaikan. Sebutlah contohnya saat terjadi korupsi di salah satu perusahaan tersebut, maka wajib ditindak tegas dengan hukuman nyata, bukan sekadar omon-omon. 

Nah, omon-omon inilah yang terjadi di Negara Kumba. Ya, sudah menjadi bersifat umum bahwasanya para koruptor dihukum ringan di sana. Bahkan, setelah masuk sel, mereka bisa jalan-jalan di luar penjara. Ada yang di luar negeri, ada juga yang sekadar jalan kaki untuk makan menu favorit dekat rumah.

Alhasil, korupsi merajalela. Banyak perusahaan mengalami kebangkrutan dan terpaksa ditutup. Terjadilah pemutusan hubungan kerja besar-besaran. Kehidupan rakyat di negara tersebut pun kian terperosok dalam area kesakitan hidup. 

Hal itu diperparah dengan pajak yang kian menggila agar uang negara tetap ada. Sementara kemalasan pemerintah dalam bekerja telah menimbulkan pula tindakan penghamburan uang negara untuk kepentingan pribadi. Misalnya presidennya yang bernama Rokos Silinting, sering sekali mengunjungi negara-negara adidaya Alasannya karena hal itu merupakan resiko banyak memiliki negara sahabat. Padahal, sejatinya demi mendapatkan dukungan menuju kursi presiden periode kedua yang diincarnya. 

Selain itu, demi ambisinya tersebut, ia juga menghamburkan uang negara di bidang-bidang lain seperti pemberian makan bergizi gratis dan pendirian koperasi di banyak tempat. 

Dan, rakyat lah yang membiayai semuanya.  Secara terus-menerus, pajak menjadi satu-satunya cara pemerintah di sana mendapatkan uang. Pemerintah yang malas bekerja di negara itu tak tahu malu meluaskan pajak sehingga jenis pajaknya menjadi beraneka ragam dan berlapis. Sebagai contohnya pajak bumi dan bangunan disertai pajak sumur di pekarangan rumah. 

Sungguh hal demikian itu menjadi fakta yang sangat memperihatinkan. Rakyat benar-benar dijajah oleh pemerintah mereka sendiri. 

Saturday, July 18, 2026

Suruh Tanam Padi Sendiri? Tak Ada Empati dan Membuka Fakta Tersembunyi

 

Ilustrasi: Pixabay 

Dua ratus tahun yang lalu di Negara Batuisi terjadi anomali dalam hal pangan. Presiden di sana yang bernama Wopra Ansu membahas soal harga beras. Rakyat di negara tersebut secara apa adanya menyebut bahwa harga beras kala itu tergolong mahal. Padahal sang presiden dengan bangga menyatakan Batuisi sedang swasembada pangan.

Menurut masyarakat, kata "swasembada" hanyalah kebohongan belaka. Pasalnya, jika memang benar demikian, pastilah harga beras murah karena jumlahnya berlimpah. 

Nah, lantaran Presiden Wopra Ansu seorang pemarah yang antikritik dan ingin menutupi kebohongannya soal swasembada pangan itu, ia pun langsung mengatakan "Yang bilang beras mahal, suruh tanam padi sendiri."

Tak pelak, rakyat langsung tersentak dengan perkataan sang presiden tersebut. Betapa tidak? Perkataannya sungguh tidak beradab. Benar-benar tidak ada unsur empati terhadap rakyat. Sama sekali tak pantas diucapkan oleh manusia mana pun.

Dan, dengan adanya kalimat kasar yang keluar langsung dari mulutnya, muncullah fakta tersembunyi bahwa isi pidatonya yang selama bertahun-tahun berbunyi, "demi rakyat", "untuk rakyat", adalah bentuk kemunafikan dirinya saja. Aslinya tidak ada empati kepada rakyat.

Friday, July 17, 2026

Mau Jadi Presiden? Teruslah Berutang dan Bodohkan Rakyatmu!

Ilustrasi: Pixabay 

"Bagaimana caranya agar terus berutang, Tuan?"

"Gampang."

"Caranya?"

"Buatlah Megaproyek, seperti pembangunan jalan tol, bandara internasional, ibukota negara baru, dan bangunan-bangunan lainnya secara massal. Semua itu akan membuat pengeluaran negaramu membengkak karena menguras anggaran belanja yang ada. Dan, pastikan semuanya tanpa keuntungan agar negara yang kamu pimpin berutang dan berutang terus kepada kami."

"Lalu bagaimana caranya agar rakyat menjadi bodoh?"

"Mudah. Buatlah program pembodohan semisal kasih makan para siswa secara gratis. Ya, ngasih mereka makan secara cuma-cuma itu selain bisa menghabiskan ratusan triliun uang negara tanpa ada keuntungan, juga akan membuat mereka malas belajar. Pikirkan saja sendiri, kalau bisa gratis untuk apa lagi para siswa harus belajar untuk bisa bekerja kelak? Tujuan mereka belajar agar bisa bekerja pada masa depan, 'kan?"

"Benar, Tuan. Gratis memang membuat orang menjadi malas. Malas belajar salah satunya."

"Baguslah kamu sudah paham. Sekarang bersiaplah berkampanye politik. Buatlah dirimu seakan-akan dipilih rakyat. Kamu tenang saja, kami yang akan mengatur angka kemenanganmu. Dengan kata lain, meski di pemilu nyata tidak ada yang memilihmu sekalipun, kamu lah pemenangnya. Kamulah yang akan menjadi Presiden Negara Republik Gelasia"

"Baik, Tuan. Saya janji semua perkataan Tuan akan saya laksanakan."

"Anak pintar. Tapi ingat! Kalau kamu sudah menjadi presiden dan lalu mengingkari janjimu,  jabatanmu sebagai presiden langsung kami cabut!"

Beberapa bulan kemudian, politikus senior bernama Ya Pik Un itu resmi menjadi presiden di sana. Sesuai janjinya kepada para elit global waktu itu, maka hari demi hari negara tersebut kian suram. Para pengamat dari berbagai bidang sama satu suara: Republik Gelasia bakal tamat. 

***

Thursday, July 16, 2026

0,0026% dari 3 Milyar= 78K Selama 6 Bulan?

 

Ilustrasi: Pixabay 

"Ha ha ha ha! Itu laba usaha atau uang jajan?"

"Uang jajan! Ha ha ha ha!"

"Serius?!"

"Ah, itu... Uang jajan versi Negara Republik Moncong Bedil."

"Maksudnya?"

"Yaaaa itu hanyalah istilah aja. Aslinya sih laba, tapi cuma seupil."

"Emang waktu pendirian usahanya nggak ada studi dulu?"

"Nggak ada. Langsung didirikan dalam jumlah sangat banyak dengan bangunan megah.

"What?! Itu gila."

"Begitulah."

"Lalu, marketing dan pemasarannya bagaimana?"

"Ha ha ha. bagaimana ada keduanya? Bangunannya aja di tempat super sepi dan jauh dari penduduk, semisal di ketinggian seribu lebih mdpl."

"Astaganagaaaa!"

"Presidennya yang bernama Gi Siang Lam itu emang suka terburu-buru. Gemar tergesa-gesa. Dia itu tidak menyukai perhitungan yang matang. Mungkin karena dirinya lemah di bidang matematika."

"Benar juga. Dia itu yang menjumlahkan 10+7=22, 'kan?"

"Betul sekali. Orangnya emang nggak suka ribet. Maunya instan. Padahal yang dipakai uang rakyat. Kasihan orang-orang yang menjadi rakyat di sana. Mereka diperas olehnya dengan beragam pajak. Bahkan, pajak berlapis"

"Udah tua banget juga sih dia. Seharusnya dirinya duduk-duduk manis aja di rumah."

"Ya. Usia segitu emang wajib istirahat. Tapi bagaimana lagi? Ambisinya menjadi presiden terhebat di dunia masih menggebu-gebu. Makanya dengan fakta usia tuanya dan ambisinya itu, dia memakai cara instan. Misalnya membangun ribuan koperasi di desa tanpa perencanaan matang, menjalankan proyek makan siang di sekolah yang membangkrutkan negaranya sendiri, dan lain sebagainya yang bombastis."

"Weleh-weleh. Ternyata ada juga ya orang seperti itu di dunia ini.... Sungguh dirinya adalah petaka."

***

Wednesday, July 15, 2026

Presiden Egois Omon-Omon Adalah Seorang Psikopat Sejati

Ilustrasi: Pixabay 

"Aku pikir presiden kita lah yang terbaik di kawasan agraris ini."

"Presiden kita selalu memberikan perhatian pada permasalahan bangsa."

"Mulai dari perbaikan jalan-jalan yang rusak, penyambungan jalur air yang terputus, pembemqhqn sekolah-sekolah dengan kondisi memperihatinkan, peningkatan gaji para tenaga honorer dengan gaji kecil, mengatasi kasus pengangguran, melakukan perbaikan tata kelola perekenomian negara, hingga meningkatkan keamanan masyarakat."

"Dari awal beliau benar-benar bekerja untuk rakyat. Ini jauh sekali berbeda dengan presiden di Negara Republik Layu."

"Kudengar Presiden Embe Prasu Genong di negara itu begitu egois. Semua program yang dijalankannya berfokus pada keuntungan pribadinya semata."

"Padahal usianya sudah sangat tua. Tapi, masih sangat doyan duit. Ya, duit dan duit saja di kepalanya."

"Dan, yang paling membuat banyak orang geram adalah, beliau selalu saja melancarkan aksinya dengan mengatasnamakan rakyat."

"Sementara rakyat di sana selalu beliau tekan dengan pajak, ancaman politik, bahkan pembungkaman nyata dengan kejahatan kemanusiaan."

"Sepertinya beliau itu seorang psikopat sejati. Beliau begitu menikmati kesengsaraan rakyatnya."

"Benar katamu. Status Pelanggar HAM berat masih beliau banggakan hingga sekarang."

*** 

Monday, July 13, 2026

Negara Bangkrut, Pajak Jadi Andalan

Ilustrasi: Pixabay 

Pajak rakyat kian merajalela. Bukan hanya pendapatan luring, yang daring pun disedot pemerintah. Alhasil, harga barang semakin melonjak. 

Dulu, hanya barang-barang yang kena cukai harganya menggunung. Sebutlah harga mobil impor. Kini, semua harga melesat bagai roket.

Negara Jahila memang benar-benar sudah bangkrut. Bahkan mereka tidak bisa lagi mendapatkan utangan dengan jumlah besar. Pihak luar sudah tidak percaya lagi kepada pemerintah negara tersebut. Betapa tidak? Anggaran negara di sana mereka bakar sesuka hati dalam program-program di luar nalar. Sebutlah dua contohnya, yakni makan buah gratis (MBG) dan usaha kota (UK). Keduanya benar-benar membakar anggaran negara tersebut habis-habisan. 

Padahal sejak awal para pengamat ekonomi sudah memberikan peringatan keras terhadap hal itu, tapi presiden di sana sangatlah sombong dan arogan. Dia tidak mau mendengarkan masukan dari orang-orang pintar. Dirinya merasa yang paling benar. Tapi kenyataannya sungguh memperihatinkan.

Dengan kebangkrutan tersebut, hanya pajaklah tumpuan di sana. Pajak diperluas. Yang semula tidak dikenai pajak, sekarang kena pajak. Rakyat di Negara Jahila sungguh mendapatkan beban hidup luar biasa. Sudah begitu, mereka diancam presiden dan menteri di sana untuk segera angkat kaki dari negara tersebut jika tak setuju dengan pemerintah. 

Bisa dibayangkan kalau mereka benar-benar angkat kaki dari sana. Siapa yang membayar pajak? Sudah dipastikan negara itu langsung knock-out. Tak bisa bangkit lagi.