![]() |
| Ilustrasi: Pixabay |
Baginya penampilan luar harus terlihat "wah" agar ia menjadi sorotan publik internasional. Setidaknya itulah hal pertama yang menjadi upayanya untuk mendapatkan pujian. Ibarat rumah, yang terpenting harus dicat, dikeramik, diberi genteng mewah, dan sebagainya meskipun bagian dalamnya berantakan.
Sekilas ini hal wajar. Penampilan luar memang diusahakan bagus. Akan tetapi, juga sangat berbahaya jika konteksnya sudah level kenegaraan. Sebab, ada rakyat yang dilibatkan di dalamnya. Ketika presiden lebih memilih kondisi yang demikian itu, artinya ia lebih mementingkan dirinya sendiri daripada rakyatnya.
Apa pun akan dilakukannya agar ia terlihat sebagai presiden yang sukses membangun negaranya. Sebutlah misalnya agar pihak dari negara-negara lain memujinya, maka dijalankahlah program memberikan makan gratis kepada sebagian rakyat, penggantian atap rumah rakyat dengan atap baru yang seragam, pendirian rumah-rumah untuk nelayan dan buruh, yang semuanya menghabiskan anggaran belanja negara. Alhasil, terjadi defisit anggaran yang ujung-ujungnya rakyat lah sebagai penanggungnya. Sementara itu yang dibutuhkan rakyat secara umum malah diabaikannya.
Ya, kebutuhan pokok rakyatnya, seperti bantuan pemerintah secara berkelanjutan untuk rakyat yang menjadi korban bencana alam, perbaikan jalan, layanan kesehatan yang prima, penciptaan lapangan kerja sesuai bidang masing-masing, subsidi BBM, dan pendidikan gratis bagi rakyat miskin hingga perguruan tinggi.
Nah, idealnya rakyat lah yang didahulukan daripada dirinya sendiri. Dan, yang parahnya, ia selalu berapi-api mengatakan bahwa semua itu demi rakyat. Padahal segala yang dilakukannya berkebalikan dari yang dikatakannya.














