Wednesday, June 24, 2026

Yang Presiden Aku, HANYA SEMENTARA KOK

Ilustrasi: Pixabay 

Tidak ada yang abadi di dunia ini. Kecantikan?  Ketampanan? Jabatan? Semua pasti sirna. 

Itulah sebabnya, gunakan semua yang dititipkan kepada kita dengan sebaik mungkin. Jabatan presiden, misalnya, siapa pun orangnya haruslah selalu bekerja sesuai cita-cita negara yang dipimpinnya. Contohnya menyejahterakan rakyat, maka setiap gerak langkahnya WAJIB benar-benar prorakyat.

Sebutlah perkara lapar, pemerintah wajib mempermudah rakyat dalam mendapatkan pekerjaan. Mulai dari menyiapkan rakyat sebagai sumber daya manusia yang unggul hingga menciptakan lapangan pekerjaan.

Dengan pekerjaan yang layak, rakyat akan mendapatkan uang sehingga mampu membeli makanan untuk dirinya sendiri dan keluarganya, baik pagi, siang, maupun sore hari. Khusus dalam hal makan siang untuk anak-anak yang bersekolah, orang tua bisa membuatkan bekal makanan atau uang jajan yang cukup kepada mereka. 

Selain contoh di atas, tentu saja masih banyak lagi yang idealnya dikerjakan presiden untuk menyejahterakan rakyatnya. Intinya, dia bekerja untuk rakyat selama jabatan presiden masih di tangannya. 

Saya Tahu Siapa yang Mendanai Demo

Ilustrasi: Pixabay 

"Ha ha ha ha ya iyalah tahu. Dia sendiri orangnya yang mendanai demo-demo itu."

"Demo-demo nggak mutu. Bayarannya juga nggak berkelas banget."

"Hanya dikasih 100 rebo, susu, roti, ama wajan."

"Katanya kaya, tapi pelit."

"Kalau nggak pelit, mana mungkin dia kaya."

"Saat kaya bisanya nyusahin rakyat saja."

"Padahal usianya dah tua."

"Tua banget malah."

"Tapi, dia doyanmya ama pria-pria muda yang ganteng."

"Hadeeeuh jeruk ketemu jeruk."

"Dia jeruk jenis apaan ya?"

"Jeruk keprok kayaknya."

"Padahal ada pepatah mengatakan, 'Semakin tua, jeruk kian berkhasiat.'. Nah, kalau dia malah sebaliknya."

"Udah gitu, dia bilang nggak mikirin jeritan rakyatnya lagi. Dosa apa ya kita punya presiden kayak dia."

"Ini ujian. Suatu waktu kelak, seluruh rakyat Negara Kerak Langit termasuk kita berdua pasti akan terlepas dari penjajahan yang dia lakukan."

***

Tuesday, June 23, 2026

Dia Udah Jadi Presiden atau Masih Capres?

Ilustrasi: Pixabay 

"Katanya kekayaan kita keluar, pengusaha  bohong, dan tidak bisa ngasih gaji bagus kepada pegawai negeri karena uangnya ga ada."

"Berarti dia hanya menonton keburukan-keburukan itu."

"Dengan kata lain, dia belum jadi presiden atau bukan presiden."

"Wah berarti bener kata sebagian pihak bahwa presiden kita itu ya yang sekarang tinggalnya di Kota Jembarin Ajah."

"Memang begitu, 'kan? Pasalnya, jika dia sudah benar-benar udah jadi presiden, maka dirinya pasti sudah menghentikan keluarnya kekayaan negara kita, menangkap pengusaha yang bohong, dan mengalihkan uang dari program aneh seperti minum teh gratis, kepada para pegawai negeri."

"Pantesan selama ini dia ga kerja. Aktivitas yang dilakukannya hanya jalan-jalan dan pidato. Kedua aktivitas itu pasti atas perintah presiden yang sesungguhnya, yakni Bapak Presiden Sundul Ngombe."

"Menurutku, negara kita sudah beralih nama. Yang semula Republik Langit Biru, sekarang menjadi Republik Bohongin Rakyat."

"Bener banget katamu. Kalau begitu, sudah saatnya rakyat bangkit untuk mengembalikan muruah bangsa kita."

"Aku setuju soal itu. Tapi, kita sudah lama tidak bergerak, agaknya kata "bangkit" terlalu jauh untuk terwujud."

***

Koperasi Pinokio Berjatuhan

 

Ilustrasi: Pixabay 

"Ciyeeeee pink ungu. Ha ha ha"

"Ciye ciyeeeee wekawekaweka."

"Eh, bagus lho warnanya. Ada pink-nya,.ada ungunya. Serasi banget deh."

"Iya, bagus emang. Terlihat damai. Terasa nyaman. Tapi, kesannya kayak perpaduan pasangan sejenis ga sih?"

"Eemmm, ga juga. Yaaaa tepatnya terkesan romantis aja sih menurut aku."

"Sayangnya udah beberapa yang berjatuhan."

"Bener. Gimana ga berjatuhan, bikinnya asal-asalan gitu."

"Aku selalu ketawa saat melihat ada Koperasi Pink Ungu dibangun di tempat sepi. Di tengah hutan apa ya? Pokoknya sepi gitu."

"Siapa yang mau beli coba?"

"Eh iya, itu sebenarnya koperasi atau toko kelontongan sih? Kok yang terlihat cuma toko gitu."

"Namanya sih koperasi, tapi wujudnya minimarket yang menjual barang-barang dari gudang minimarket lain."

"Jadi dari gudang minimarket lain? Seriusan?"

"Iya. Aku lihat sendiri mereka ngangkut barang-barang dagangan dari sana."

"Berarti yang dikatakan mereka nyerap produk lokal di desa itu bohong belaka?"

"Yes. Benar sekali."

"Ternyata mereka Pinokio semua. Mengapa ga dinamakan Koperasi Pinokio aja ya?"

"Ha ha ha ha ha. Benar-benar. Tepat itu."

"Bahkan saat ada kunjungan bos besarnya, ada pihak Koperasi Pinokio yang menjual gas dengan harga palsu."

"Ya, aku juga lihat itu. Harga sebenarnya 40 ribu, dikatakan kepada bos besarnya hanya 16 ribu."

"Waduuuuh! Parah banget."

***

Monday, June 22, 2026

Demonstran Dibiayai Asung untuk Mendukung Pemerintah Zalim

 

Ilustrasi: Pixabay 

"Kok asung?"

"Itu sekadar istilah untuk menyebut asing yang berkomplot dengan pejabat pribumi."

"Wah mantap sekali."

"Mantap apanya? Asung ngasih uang ke pejabat pribumi untuk membayar sebagian rakyat berdemo mendukung program jahat pemerintah kok kamu sebut mantap?"

"Waduh! Begitu rupanya. Aku kira asung kerja sama untuk membuat mobil atau lainnya. Ternyata sangat tidak mantap."

"Mana ada asung mau memajukan negara kita dengan kerja sama membuat mobil?"

"Okey. Tapi, kamu tahu kabar ini dari mana?"

"Intelijen negara tetangga. Sebagian dari mereka adalah temanku."

"Dibayar berapa setiap demonstran tersebut?"

"Seratus ribu plus wajan dan konsumsi."

"Murah sekali"

"Ya. Mereka mau ikut menghancurkan negara hanya dengan bayaran minim."

"Pemerintah oh pemerintah... Antek asung yang sejati. Dan, soal demo bayaran itu, menurutku aneh. Benar, mereka  betul-betul aneh. Padahal demonstrasi bayaran pasti tidak akan bermanfaat. Akan segera terbongkar sebagai demonstrasi palsu. Mendingan uangnya untuk aku buka usaha rumah makan."

"Makan Banyak Berbayar maksudmu?"

"Betul."

***

Meningkatkan Gizi Manusia di Negara Kita

Ilustrasi: Pixabay 

"Terkadang aku pusing sendiri ketika mendengar banyak pihak membicarakan program makan bergizi gratis."

"Kalau tak mau pusing, ya jangan didengar! Biarkan saja mereka sibuk membicarakan soal program tersebut."

"Bagaimana tidak didengar? Hampir di setiap sendi kehidupan ada perkara makan yang sebenarnya dibayar dengan pajak rakyat itu."

"Ah, kata-katamu membuatku sedih. Ya, soal pajak selalu membuatku tidak bahagia."

"Iya sih. Aku juga sebenarnya sedih. Pernah aku berpikir, mengapa uang pajak tidak digunakan saja untuk membuka usaha rumah makan, hotel, pabrik infus, dan lainnya agar pendapatan negara meningkat. Sehingga, pajak bisa ditekan atau bahkan dihapuskan."

"Masuk akal. Selain mendapatkan laba untuk negara, usaha-usaha seperti itu pasti menyerap tenaga kerja."

"Kalau rakyat Indonesia sudah bekerja layak, maka dapur akan berasap dan gizi pun meningkat. Bukan hanya gizi untuk anak-anak sekolah, tetapi juga untuk para orang tua mereka."

"Pertanyaannya, akankah semua usaha itu terwujud?

***

Sunday, June 21, 2026

Program Minum Dihentikan, Dananya Dialihkan ke Demonstrasi

 

Ilustrasi: Pixabay 

"Demonstrasi besar-besaran yang mendukung program minum teh kian besar gelombangnya."

"Yang kudengar dananya dari program minum teh yang dihentikan sementara."

"Kamu dengar dari mana?"

"Beberapa wartawan dua hari lalu."

"Mereka dapat kabar dari mana?"

"Langsung dari para konglomerat pendukung presiden."

"Kok bisa?"

"Bisa apa?"

"Itu. Mereka bisa dapat kabar dari lingkaran orang-orang besar."

"Mereka dibantu para hacker kelas dunia. Jadi, ceritanya ponsel pintar para konglomerat tersebut mereka retas dan hasilnya semua aktivitas yang dilakukan di perangkat canggih itu dapat diketahui secara gratis."

"Wah benar-benar hebat."

"Ya iyalah. Zaman sekarang kecanggihan benar-benar berkuasa. Tahun 2222 gitu lho."

"Sehari saja pengeluaran program minum teh menelan biaya 1,7 trilyun. Jadi, dana segede itu untuk membayar para demonstran dan juga semua yang diperlukan di lapangan."

"Benar sekali."

"Weddeeeew! Pantesan demonya besar-besaran."

***