![]() |
| Ilustrasi: Pixabay |
Berhentilah kau menggunakan kata "rakyat" dalam konteks "...harus bela rakyat!" atau "...demi rakyat!" bahkan yang lebih panjang, "Saya rela mati demi rakyat!"
Mengapa harus berhenti? Sebab, fakta dalam realitas yang nyata tidak ada yang namanya untuk rakyat. Hutan dibabat, katanya untuk swasembada pangan, tapi harga beras tidak turun, malah naik. Petani pun tak menjadi kaya. Tengkulak masih dibiarkan merajalela. Ya, pemerintah tidak membeli gabah langsung dari para petani. Coba kalau untuk rakyat, pastilah pupuk gratis, petani mendapatkan pendampingan oleh para penyuluh, tidak ada sewa lahan pertanian, bibit unggul disediakan gratis, sistem pertanian dibuat secanggih mungkin, dan hasil panen langsung dibeli di persawahan dengan harga yang pantas. Tidak ada lagi namanya tengkulak yang membeli gabah dengan harga murah. Sehingga, rakyat yang menjadi petani sejahtera, yang menjadi pedagang bahagia, dan tentunya Masya luas bisa menikmati nasi dengan harga murah.
Di bidang-bidang lain pun demikian. Kasus lakalantas, misalnya, korban tidak mendapatkan layanan BPJS, anak-anak ke sekolah masih ada yang harus berenang, orang-orang di desa terpencil harus berjuang di jalan tak layak pakai, angka pengangguran masih tinggi, dan masih banyak lagi kesusahan lainnya.
Jadi, untuk apa kau berkoar-koar dalam pidato "untuk rakyat", "demi rakyat", "bela rakyat.", jika tak ada program-program pemerintahanmu.yang prorakyat.














