![]() |
| Foto: Pixabay |
Konon, hanya Singapura lah satu-satunya negara maju di Asia Tenggara. Negeri kecil itu bersinar bak bintang. Sementara negara-negara lainnya, terutama Indonesia--khususnya pulau-pulau terluar, seperti Pulau Nipah dan. Pulau Belakang Padang di Batam--ibarat bulan yang mendapatkan cahayanya.
Ini menjadi fakta dalam realitas tak terbantahkan. Indonesia sendiri sebenarnya sudah sangat lama berusaha untuk menjadi negara yang maju pula. Akan tetapi, langkah ke arah sana sering diganjal. Sebutlah di bidang industri penerbangan dan otomotif yang terpaksa tutup di akhir era Orde Baru.
Inovasi-inovasi anak negeri yang muncul setelahnya pun tak semanis harapan rakyat Indonesia. Negara-negara lain lah yang malah menyambutnya. Alhasil, negeri Jamrud Khatulistiwa tetaplah berstatus sebagai negara berkembang.
Pertanyaannya, apakah pemerintah yang terbaru di Negara Kesatuan Republik Indonesia ini masih mengupayakannya?
Belakangan, ada tiga kata, yakni makan bergizi gratis (MBG) yang menjadi program andalan Presiden Prabowo Subianto. Ini tentu terkait dengan janji kampanyenya pada pilpres 2024 lalu. Kalau kita boleh berpikir liar, maka apa pun yang akan terjadi, MBG harus tetap jalan. Sebab, jika MBG dihentikan, itu artinya Prabowo Subianto mengingkari janji politiknya. Apa dampaknya? Tentu saja sosoknya akan cacat di mata rakyat Indonesia sehingga citranya hancur dan sulit mendapatkan suara rakyat pada pilpres 2029 mendatang.
Nah, terlepas dari janji politik di atas, sebenarnya apa saja yang sudah ditimbulkan dari program itu?
Yang paling mencolok, selama ini MBG membuat pro dan kontra di masyarakat. Banyak rakyat terutama sebagian orang tua siswa yang mengeluh dengan adanya MBG. Pasalnya, selain pemotongan anggaran di sektor-sektor lain hingga menyebabkan PHK dan kerugian-kerugulina lainnya, MBG juga membuat sebagian siswa keracunan.
Hal terakhir di atas ada yang berujung pada kematian. Selebihnya, MBG tentu merupakan pemborosan anggaran belanja negara. Bukan hanya soal biaya makan, tetap juga pengadaan mobil, sepeda motor listrik, bahkan sampai pembelian kaos kaki yang mahal.
Melihat dampak-dampak buruk MBG, apakah ada secuil harapan bahwa program ini akan menjadikan Indonesia sebagai negara maju?














