Thursday, May 21, 2026

Tidak Selamanya Generalisasi oleh Presiden Benar?

Ilustrasi: Pixabay 

Terkadang orang dengan sangat mudah berpikir singkat dan diungkapkan lewat kata-kata. Itu berlaku bagi siapa saja yang malas berlama-lama menggunakan otaknya terhadap objek tertentu. Sebutlah misalnya tentang orang desa. Dikatakan bahwa orang desa suka makan singkong. Perkataan itu didasarkan pada pemikiran secara umum. Padahal belum tentu demikian. Kalau lebih diteliti lagi, tidak semua orang desa suka singkong. Ada saja yang menyukai pisang atau kelapa muda. 

Begitu pula ketika ada seorang presiden yang mengatakan rakyat Indonesia tidak bermimpi menjadi kaya raya, melainkan ingin hidup dengan layak dan berkecukupan. Pertanyaan yang segera muncul terkait pernyataan ini adalah, apakah semua rakyat Indonesia seperti itu? 

Kita lihat saja fakta di dalam realitas nyata, sebagian rakyat Indonesia kaya raya. Bahkan, ada yang berprinsip untuk menjadi kaya, haruslah berani bermimpi. Tanpa mimpi, manusia tak akan menjadi apa-apa. 

Baiklah, sekarang kita lupakan soal singkong dan kaya raya. Sebab, topik pembahasan di sini lebih menitikberatkan pada proses berpikir sang presiden dan siapa saja terkait generalisasi atau penyamarataan seperti dua contoh di atas.

Pertanyaan paling mendasar tentu saja apakah dibenarkan hal yang demikian? Jawabannya boleh iya, boleh tidak. Dibenarkan dengan catatan sudah dicek secara benar terlebih dahulu dengan hasil semuanya sama. Dan, tidak dibolehkan jika generalisasinya asal keluar darii mulut atau asbun (asal bunyi). 

Nah, pada dua contoh di atas sangat jelas hanya asbun. Penyamarataannya terbukti salah. Proses berpikir yang ideal itu tidak boleh tergesa-gesa, tetapi dilakukan secara mendalam dan luas. Terlebih jika dirinya seorang presiden, maka wajib baginya untuk lebih fokus terhadap segala yang menjadi bagian dari tugasnya termasuk saat berpidato di hadapan masyarakat luas. 

Wednesday, May 20, 2026

Demi Indonesia atau Demi Dihormati di Luar Negeri?

 

Foto: Pixabay 

Anggaran belanja negara sudah begitu banyak digunakan untuk beragam program yang dinilai sebagian pihak sebagai pemborosan. Mulai dari program makan bergizi gratis (MBG), gentengisasi, pembelian mobil dinas, hingga perjalanan presiden ke luar negeri.

Dan, program-program itu belum sama sekali menghasilkan laba atau pendapatan negara. Artinya, semua program pemborosan (menurut sebagian pihak) itu murni masih bergantung pada pajak dan utang luar negeri. Bisa dikatakan hanya membakar modal belaka dan menjadi kebanggaan bagi presiden agar dirinya dihormati di luar negeri. 

Nah, sebagian pihak berpendapat, kalau ini diteruskan, kemungkinan besar Indonesia akan bangkrut. Bagaimana tidak? Usaha apa pun jika hanya mengeluarkan modal tanpa laba, pasti akan gulung tikar. Jika pun memaksakannya dengan jalan memperluas pajak, rakyat pasti tidak akan mampu menutupi kerugian negara tersebut. Jangankan membayar pajak, dalam sehari saja belum tentu ada penghasilan yang bisa masuk di kantong sebagian rakyat. Ingat, tidak semua rakyat Indonesia ini kaya. Masih banyak yang berada di bawah garis kemiskinan. 

Itulah sebabnya, banyak kalangan menginginkan program-progtam bermodal raksasa, seperti MBG segera dihentikan demi keberlangsungan hidup Indonesia pada masa-masa mendatang. Harus ada sikap tegas demi eksistensi negara. 

Pertanyaan sederhananya, apakah sang presiden lebih memilih demi Indonesia ataukah akan terus beraktivitas demi dirinya dihormati di luar negeri?

Amrik Bangun Pangkalan Militer di Indonesia?

Foto: Pixabay 


Waduh! Ini sedang ramai diperbincangkan sebagian netizen terkait Presiden Prabowo Subianto yang menyediakan Bandara Kertajati untuk dijadikan pusat pemeliharaan dan perbaikan pesawat Hercules seluruh Asia.

Sebenarnya hal itu terlihat wajar mengingat Indonesia juga memiliki pesawat jenis tersebut. Akan tetapi, kalau kita memperhatikan awal mulanya mengapa demikian, tentu saja banyak yang terkaget-kaget dan bertanya-tanya, kok bisa?

Ya, ini bermula dari tawaran Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Pete Hegseth, untuk menjadikan Indonesia pusat pemeliharaan pesawat angkut militer C-130 Hercules seluruh Asia atas biaya Amerika Serikat.

Sontak, sebagian nitizen langsung berpikir dan khawatir adanya kemungkinan bahwa ini merupakan langkah kedua Amerika Serikat membangun pangkalan militernya di Indonesia. Langkah pertama pernah heboh beberapa waktu lalu, yaitu terkait bebas terbangnya pesawat-pesawat tempur Paman Sam di wilayah udara Indonesia. Dari keduanya terlihat Amerika Serikat sudah terlalu ikut campur dan terkesan menyetir negara kita. 

Kekhawatiran di atas bukan didasarkan oleh rasa takut, akan tetapi lebih kepada menjaga kedaulatan Indonesia. Bagaimana pun juga, wilayah NKRI, baik darat, laut, maupun udara wajib dijaga dan dipertahankan. Ketika ada gejala-gejala awal yang dinilai dapat mengikis kedaulatan negara, maka wajib diatasi dan dinormalkan kembali. Ingat! Kemerdekaan adalah harga mati. Sekali merdeka, tetap merdeka! 


PETANI= Pasukan Elit Terlatih Andalan Negara Indonesia

 

Foto: Pixabay 

Apa yang terpikir ketika Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat mengurus pertanian jagung dan Angkatan Laut mengurus kedelai?

Hal yang sebelumnya tak pernah terlintas di benak kita, tetapi menjadi keseharian nyata mereka yang sangat menyenangkan. Secara otomatis dengan fakta ini jumlah TNI yang siap siaga di bidang militer menjadi berkurang. Itu logika umumnya. 

Maka, harus ada pengisian di ruang kosong tersebut. Siapa? 

Kalau ditanya demikian, idealnya yang mengisinya adalah orang-orang yang digantikan peran mereka oleh TNI. Ya, petani. Ini jawaban paling pantas untuk harga atas jasa para tentara yang bersusah payah menggantikan para petani di sawah. 

Terkait hal itu, para petani bukan secara sukarela lagi, melainkan wajib mengisi kekosongan tersebut. Negara harus hadir dalam melatih para petani memikul senjata dan menggunakannya secara cepat dan tepat. Bukan sekadar keberanian, tetapi juga kesiapsiagaan, kegesitan, dan kecerdasan di lapangan menjadi modal utama mereka. 

Sehingga, ketika negara mendapatkan ancaman dan serangan dari negara lain, para petani yang sudah menjadi Pasukan Elit Terlatih Andalan Negara Indonesia (PETANI) maju gagah berani' di medan tempur.

Tentu saja mereka dibekali kecanggihan di bidang militer, seperti pesawat generasi kelima F-35, drone Bayraktar Kizililma yang mengangkut rudal Gazap berhulu ledak bom termobarik, dan rudal-rudal pencegat. 

Dengan demikian, negara kita akan tetap aman, damai, dan sentosa dari waktu ke waktu.


Solar Murah, Gudang Es, SPBU, atau Rumah Nelayan?

Foto: Pixabay 

Jika Anda adalah seorang nelayan, pilihan akan jatuh di nomor berapakah pada.judul di atas?

Ya, bisa jadi jawaban Anda akan sama dengan nelayan-nelayan lainnya. Atau, bisa juga berbeda. Sebutlah misalnya Anda memilih rumah dengan alasan tertentu, maka ada kemungkinan nelayan lain akan memilih solar yang murah. Dan, belakangan, Indonesia diramaikan dengan sebuah kata, yakni "solar" ketika dikaitkan dengan dunia nelayan.

Ketersediaan solar dengan harga murah pastinya menjadi harapan setiap pencari ikan di laut. Betapa tidak? Logikanya untuk bisa melaut diperlukan solar. Tanpa benda cair itu, para nelayan hanya bisa berada di daratan. Pertanyaan mendasarnya, akan makan apa mereka kalau tak bisa melaut? Menjadi kuli bangunan? Itu pun kalau saat ada rumah yang perlu diperbaiki atau akan dibangun. 

Selain nelayan, konsumen ikan juga akan kesusahan mendapatkan ikan segar yang murah saat para nelayan tidak melaut.

Jadi, solar sangatlah dibutuhkan dalam dunia ikan laut. 

Nah, jika kita runut alur kehidupan nelayan sehari-hari, secara mudah dapat kita pahami dengan adanya solar murah, mereka dapat mencari ikan di laut. Setelah di daratan, ikan hasil tangkapan mereka laku dan uangnya untuk kebutuhan sehari-hari, baik sandang, pangan, maupun papan.

Artinya, solar menjadi kebutuhan utama untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan lainnya dalam kehidupan para nelayan. Oleh karenanya, sangat ideal bagi pemerintah selalu bisa menyediakan solar murah khusus untuk para nelayan. Penyediaan solar murah tidak harus dengan pendirian SPBU di setiap desa nelayan. Cukup dengan distribusi yang lancar, solar akan dapat dengan mudah didapatkan dan digunakan para nelayan untuk mencari ikan di laut.


Tuesday, May 19, 2026

Negara yang Kalah Melawan Mafia Pangan

Ilustrasi: Pixabay 

"Song!"

"Ya?"

"kamu pernah dengar ga kalau ada sebuah negara yang kalah melawan mafia pangan?"

Beberapa waktu Wang tampak menunggu temannya yang cantik itu menjawab pertanyaannya tersebut. 

"Pernah ga?"

Song menggeleng. 

"Serius tidak pernah?"

"Serius. Setahuku setiap negara memiliki kekuatan militer, baik di darat, laut, maupun udara. Jadi, mana mungkin ada mafia pangan yang bisa mengalahkan sebuah negara?"

"Yang kamu katakan memang masuk akal. Tetapi, ada lho sebuah negara yang benar-benar dikalahkan mafia pangan."

"Ah, serius kamu?"

Wang mengangguk.

"Negara mana yang seperti itu?"

"Di Asia juga. Dalam pemberitaan yang aku baca tadi pagi, menteri pertaniannya mengatakan bahwa tata kelola minyak goreng di negara itu sulit dikendalikan akibat ulah mafia pangan sehingga harga minyak goreng domestik tetap kerap mengalami kenaikan."

"Wah parah banget itu. Seharusnya mafia pangan bisa ditaklukkan sehingga tidak bisa lagi berulah di sana."

"Benar katamu. Jujur saja, aku kasihan kepada rakyat di sana. Mereka harus membeli minyak goreng dengan harga tinggi."

*** 

WNI Ditahan di Negara yang Dijamin Presiden RI Keamanannya

Ilustrasi: Pixabay 

Kata Presiden Prabowo Subianto, '"Saya juga terang-terangan mengatakan perdamaian hanya bisa datang kalau semua orang mengakui, menghormati, dan menjamin keamanannya Israel." 

Perkataan di atas sebenarnya merupakan dukungan penuh kepada negara Israel yang jelas-jelas merupakan negara penjajah. Ya, fakta di lapangan menunjukkan bahwa yang membuat tidak ada perdamaian di Timur Tengah adalah Israel. Jadi, sejatinya untuk menciptakan perdamaian di sana hanya dapat dilakukan dengan menghancurkan Israel. Bukan malah mengakui, menghormati, dan menjamin keamanan negara penjajah. Dan, dengan mendukung Israel, berarti mendukung pula penjajahan di muka bumi. Ini sama halnya ketika Indonesia belum merdeka dan dukungan penuh mengalir kepada negara penjajah, baik Belanda, maupun Jepang. 

Terkait hal di atas, agaknya tidak mungkin jika Presiden Prabowo Subianto langsung menemui Benyamin Netanyahu untuk membebaskan sembilan warga WNI yang ditahan Israel. 

Kesembilan warga negara Indonesia tersebut tergabung dalam misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla yang menuju Gaza, Palestina. Mereka terdiri atas lima aktivis dan empat jurnalis. 

Meski demikian, Kemenlu RI sedang berkoordinasi dengan KBRI Ankara, KBRI Roma, Kairo, KBRI Amman, dan KJRI Istanbul, serta melakukan pendekatan kepada otoritas setempat untuk memastikan akses transit pemulangan kesembilan WNI jika sudah dibebaskan Israel tanpa hambatan keimigrasian.