Monday, May 18, 2026

Koperasi Pemerintah Versus Warung Tetangga

 

Ilustrasi: Pixabay 

Warung tetangga tentu saja dimaknai sebagai warung sederhana yang berisi beragam barang kebutuhan sehari-hari yang dijual kepada masyarakat luas. Kepemilikannya bisa perorangan, bisa juga lebih daripada satu orang. Selain menjual barang-barang produksi pabrik besar, barang-barang produksi rumahan juga dijual di warung tersebut. 

Contoh produk rumahan yang dimaksud di atas seperti, kacang goreng, aneka krupuk, kue donut, dan camilan lainnya yang dikemas dalam plastik sederhana. Terkadang di warung tetangga juga dijual aneka sayuran hasil kebun warga setempat.

Keberadaan warung tetangga menjadi salah satu motor penggerak roda perekonomian rakyat. Selama ini yang menjadi pesaing warung tetangga adalah ritel-ritel modern semisal Indomaret. Dengan luas bangunan yang melebihi warung tetangga, ritel modern ini dapat menampung barang lebih banyak. Mereka memiliki Indomarco, yakni perusahaan pengelola jaringan ritel Indomaret.

Rantai distribusi ritel modern yang demikian jelas sangat memperlancar usaha mereka. 

Nah, akhir-akhir ini pemerintah mendirikan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP). Salah satu unit usahanya berupa toko besar mirip Indomaret dan Alfamart. Toko KDMP tersebut digadang-gadang dapat membantu masyarakat produsen menjual produk mereka. Namun, ternyata di lapangan ada KDMP yang tertangkap tangan melakukan aktivitas yang berkebalikan. Ya, mereka memasok barang langsung dari perusahaan pengelola jaringan ritel Indomaret.

Temuan itu sungguh sangat mengecewakan. Betapa tidak? Yang semula KDMP diharapkan dapat membantu produsen lokal, ternyata malah membantu pabrik-pabrik besar. Ini namanya sama saja dengan ritel modern. Dengan kata lain, toko milik KDMP merupakan pesaing warung tetangga. 

Sekarang, masyarakat tinggal pilih, mau belanja di warung tetangga atau ritel modern KDMP. Pilihan ada pada Anda.


Menyapa Rakyat Versus Prorakyat

Ilustrasi: Pixabay 

Belakangan heboh di jagat Indonesia bahwa Presiden Prabowo Subianto menginginkan mobil kepresidenan berbahan kaca. Dalam hal ini PT Pindad yang mendapatkan tugas untuk membuatnya. 

Jika ditanya tujuannya untuk apa, jawabannya adalah agar memudahkannya menyapa rakyat saat sedang mengadakan kunjungan di daerah. Ia ingin ada kursi untuknya duduk, tapi diidesain agar seolah-olah dirinya sedang berdiri menyapa rakyat.

Pertanyaan berikutnya, seurgen itukah menyapa rakyat dengan gaya yang demikian? Padahal cukup dengan membuka kaca jendela lalu melambaikan tangan ke arah rakyat atau berhenti untuk menjabat tangan rakyat dengan hangat.

Dan, sebenarnya ada yang lebih penting dan sangat dinantikan rakyat Indonesia daripada sekadar menyapa, yakni seluruh kebijakan pemerintah prorakyat. Ya, mulai dari kebijakan pemerintah yang berkerja untuk menurunkan harga sembako, memperbesar subsidi di semua sektor kehidupan khususnya subsidi BBM, pendidikan gratis di sekolah umum (bukan sekolah rakyat) sampai perguruan tinggi, perbaikan sarana dan prasarana yang rusak, pengurangan pajak, pelestarian hutan untuk kelangsungan hidup rakyat pedalaman dan perkotaan, hingga penciptaan lapangan pekerjaan secara luas, 

Artinya, segala yang dilakukan presiden haruslah sampai di akar permasalahan yang masih melanda negeri ini. Bukan sebatas pada kulit luar saja. Sebab, rakyat sejahtera adalah yang utama. 


Sunday, May 17, 2026

Pemerintah Resmikan Baskom dan Seutas Tali Menuju Sekolah?

Ilustrasi: Pixabay 

Baskom dan seutas tali menjadi dua benda yang digunakan sebagian siswa di Indonesia untuk menuju sekolah. Ya, lebih tepatnya saat menyeberangi sungai sebagian siswa ada yang menggunakan baskom dan sebagian lagi menggunakan seutas tali.

Pertama, baskom dijadikan pengganti perahu. Anak-anak sekolah secara terpaksa duduk di dalam baskom. Lalu dengan tangan kosong, mereka mengayuhnya. Ini tentu butuh keseriusan dan keseimbangan agar baskom tidak terbalik.

Kedua, sebagian siswa menit seutas tali di atas sungai sebagai alat penyeberangan. Ini sangat membutuhkan kekuatan fisik dan keberanian tingkat tinggi.

Nah, pertanyaannya, apakah Pemerintah Indonesia seharusnya segera meresmikan baskom dan seutas tali sebagai benda penyeberangan untuk  sampai di sekolah? 

Idealnya adalah ya. Mengapa? Jawabannya mudah karena fakta di lapangan memanglah demikian. Para siswa tersebut tidak menyeberangi sungai dengan jembatan beton atau kayu, melainkan dengan kedua benda itu meskipun sangatlah berbahaya. 


Swasembada Pangan Jaminan Rakyat Tidak Lapar?

Foto: Pixabay 

Apakah dengan swasembada pangan membuat beras dan makanan lainnya menjadi gratis? 

Agaknya itu jauh dari harapan. Ketika pemerintah berkoar-koar bahwa Indonesia swasembada pangan, makanan tetaplah berbayar.

Lalu jika tidak gratis, apakah harga makanan di pasaran turun? Jawabannya malah naik.

Lantas, apa benar kita swasembada pangan?

Konon, ketika terjadi swasembada pangan, maka setidaknya dampak positif yang sampai di masyarakat adalah harga makanan seperti beras pasti turun.

Dengan kondisi di lapangan yang bertentangan dengan klaim pemerintah soal swasembada pangan tersebut, mungkinkah rakyat akan terbebas dari kelaparan? 

Jawabannya pastilah tidak. Sebagai contoh, para pekerja harian, sebutlah tukang bangunan, saat mereka tidak mendapatkan pekerjaan membuat atau memperbaiki rumah, tentu tidak memiliki uang untuk membeli beras. Selanjutnya, mereka lapar. Dan, pertanyaan yang paling sederhana, apa wujud tanggungjawab presiden saat mereka lapar? 


Saturday, May 16, 2026

Rupiah Ambruk, Orang Desa Dirugikan

Ilustrasi: Pixabay 

"Semoga saja harga kedelai tak naik lagi."

"Aku tak tahu lagi, Wi, kalau harapan itu sirna mengingat rupiah terus melemah terhadap dolar Amerika Serikat."

"Kalau memang begitu, terpaksa harga tempe dan tahu kita naikkan."

"Tapi, kemungkinannya usaha kita semakin sepi. Harga yang lebih tinggi tak seimbang dengan daya beli masyarakat yang turun."

"Lalu kita harus bagaimana lagi? Dengan harga kedelai impor yang naik drastis, susah untuk terus mempertahankan harga produk kita."

Wowo terdiam. Sementara Wiwi tak melanjutkan kata-katanya.

Suasana benar-benar hening. Keduanya terpaku sambil memikirkan nasib mereka dan para karyawan di pabrik tersebut.

Ya, sebagai orang desa yang bergelut di bidang kuliner, yakni sebagai pembuat tahu dan tempe, kenaikan harga kedelai sangat mereka rasakan. 

Begitulah contoh dari dampak lemahnya rupiah yang sudah menebus di angka Rp17.600 per dolar Amerika Serikat. Bahan baku seperti kedelai, misalnya, menjadi lebih mahal. 

Belum lagi mengenai biaya impor energi yang juga naik karena transaksi minyak mentah dan bahan bakar minyak menggunakan dolar AS, kian mencekik masyarakat desa. Dalam hal ini bisa kita pahami bahwa biaya angkut barang dari kota ke desa yang menggunakan BBM pasti menambah mahalnya harga semua barang tersebut. 

Jika hal itu sudah terjadi, tentunya akan berbenturan dengan daya beli masyarakat. Pada akhirnya barang menumpuk di toko dan di gudang. Secara otomatis perekonomian menjadi lesu. 

Kembali ke contoh di atas, pintu pemutusan hubungan kerja sangat terbuka lebar. Bahkan, pabriknya pun bisa ikut ditutup. 

Friday, May 15, 2026

Tugas Kamu Lemahkan Mata Uang dan Tingkatkan Utang Negaramu

Ilustrasi: Pixabay 

"Baik, Bos. Janji politik ini pasti akan saya laksanakan."

"Segera buktikan!"

Pria itu pun dengan penuh hormat mohon diri dan bergegas memerintahkan semua menteri -menterinya untuk menghabiskan anggaran belanja negara yang dia pimpin.

Maka, hari demi hari kian banyak program aneh bermunculan. Mulai dari pembentukan satuan tugas, penciptaan wakil menteri, hingga pengadaan sepatu siswa dengan harga tidak wajar. Alhasil, negara yang dipimpinnya defisit anggaran belanja dan nilai mata uangnya kian lemah terhadap dolar Amerika Serikat. 

"Ha ha ha orang itu begitu gigih menghancurkan negaranya sendiri demi kepentingan dirinya."

"Benar, Bos. Dia manusia rakus yang tak tahu malu."

"Selama masih ada orang seperti dirinya, bisnisku ini akan selalu membahagiakan. Bunga demi bunga pinjaman akan terus masuk. Dan, sebentar lagi dia pasti akan berutang lagi. Ha ha ha ha!"

Sementara rakyat di negara tersebut sudah mulai turun di jalan-jalan menyuarakan kritik dan tuntutan. Ya, termasuk menuntut presiden yang gemar pamer, hobi bertualang, dan gila pujian itu mundur dari kursi jabatannya. Gerakan di dunia maya pun tak kalah besar seperti adanya tanda pagar "Negara Mendung" yang membanjiri media-media sosial. 

Bukannya berempati, simpati pun tidak ada dari si presiden. Dirinya malah memilih melakukan lawatan ke banyak negara. Dan, setiap pulang dari jalan-jalan itu, dia selalu berpidato. Tidak jarang disertai marah-marah, termasuk dalam menyikapi tanda pagar di media sosial dengan mengatakan, "Setiap kali saya jalan-jalan tidak pernah mendung apalagi hujan. Buktinya pakaian dan tubuh saya kering dan dan saya bahagia."

Tak ayal, berbagai komentar dari banyak kalangan kian deras di negara tersebut. Perdebatan antara pengamat dan orang-orang bayaran juga ramai dalam acara debat publik yang disiarkan beberapa televisi di sana. Salah satunya terkait utang negara yang kian membengkak, nyaris mendekati angka sepuluh ribu trilyun. 

Lantas apa yang dilakukan si presiden itu terkait tanggapan masyarakat terhadap dirinya? Seperti biasanya, dia selalu menangkis semuanya dengan klaim-klaim keberhasilan semu. 

"Kalau seperti ini terus sangat berbahaya bagi negara kita, Bung!"

"Tapi, apa yang bisa kita lakukan? Orang ini antikritik dan arogan. Terlalu kritis, kita yang akan jadi korban."

"Hanya ada satu jalan, yakni menggulingkannya dari kursi presiden."

"Tidak mudah. Dirinya bukanlah sosok kaleng-kaleng. Semua instansi pemerintah sudah dia kuasai. Terlebih pihak asing yang memberinya utang pasti akan memberangus kekuatan rakyat."

Lalu seorang yang lainnya lagi turut bicara, "Benar juga. Kali ini berbeda dengan situasi beberapa puluh tahun lalu. Waktu itu kekuatan asing beserta oknum besar dalam negeri bermain untuk menjatuhkan si tangan besi. Itulah sebabnya, penggulingan berhasil. Nah sekarang, adalah sebaliknya."

Beberapa waktu kemudian tak ada lagi pembicaan. Mendung yang menggantung di langit turun menjelma hujan. Ketiganya segera berlarian mencari tempat untuk berteduh. 

***


Koruptor hanya Orang Suruhan

Ilustrasi Bos Besar: Pixabay 

Jadi, para koruptor jangan langsung dihukum, tetapi cari dulu bukti keterlibatan sang penyuruhnya. Mungkin perlu waktu lama untuk menemukannya. Bahkan, bisa jadi aktivitas itu seperti seorang gadis yang mencari kalung emas kesayangannya di lautan. Meski begitu, kebenaran idealnya wajib diungkap seterang-terangnya.

Ya, apa pun resikonya, para penegak hukum tidak boleh bekerja hanya sampai di titik bawahan, melainkan sampai di kursi atasan yang menyuruhnya korupsi. Selama ini kasus korupsi tidak ditelurusi secara menyeluruh. Setelah koruptor ditangkap, disidang, dan dipenjara, kasus dianggap selesai. Sementara itu sang penyuruh korupsi bebas menikmati uang hasil kerja bawahannya tersebut.

Perlu diingat juga bahwa sang penyuruh itu pun bisa jadi juga orang suruhan. Ada bos besar di belakang tirai yang tak tersentuh sama sekali, namun terus memberikan perintah mengeruk uang negara sebesar-besarnya dengan cara korupsi. Dan konon, bos besar ini adalah orang asing.

Nah, orang asing yang dimaksud ada kemungkinan merupakan presiden negara lain yang lebih besar. Tentu saja, uang hasil korupsi dari negara target akan digunakan demi kemajuan negaranya. Itulah sebabnya, jangan heran jika ada negara yang perekonomian dalam negerinya juga bermasalah, tapi mampu membuat produk-produk berbiaya fantastis. Sebutlah pesawat-pesawat tempur generasi keenam, misalnya 

Eh, ngomong -ngomong masih perlu diteruskankah artikel ini? Ah, sudahlah. Toh ini juga sebatas perkataan sebagian pihak di warung kopi pada waktu santai. Benar tidaknya masih sangat perlu dibuktikan.