Saturday, January 16, 2021

Puisi-Puisi Ariadi Rasidi dalam Jentera Terkasa




KETIKA SEMBAHYANG

Ketika muazin meniup peluit panjang
maka roda pun meninggalkan jejak
menuju mu
hapus segala keluh kesah angkara murka

senyap merambat di kamar pengapmu
dari atas sajadah tua
untaian doa menyapamu
sepanjang perjalanan

lalu lintasan peristiwa mengalun dalam desah
panjang-panjang sekali
melengking-lengking
menguak matahari dari genggaman rembulan

aku hadir Bapak
setelah sekian lama
melupakan mu


CATATAN DI TENGAH KOTA

Ingin kutumpahkan tentang gelisah hati
ketika berseling tanya pada angkasa raya
mengapa udara kelihatan cerah berseri
lalu turun ke kota jadi bencana
sedikit udara bersih bagi umat manusia

kumencari jawab pada semilir angin
pada tiupan warna jelaga dari knalpot dan
cerobong pabrik lalu kuingat gagahnya pegunungan
yang menjulang
mengenang pohon-pohon dan rerimbunan daun

Oi, burung-burung pun menukik membagi warta
dari pohon dan gemerisik daun awal kehadirannya
kian banyak kian sempurnalah angkasa raya
lalu kusadari kotaku pun harus hijau
betapa sehat anak bangsa menghirup semilir anginnya

Temanggung, 1998


Tentang Penyair



Ariadi Rasidi lahir di Purwokerto. Menulis sejak 1985, dimuat di Bahari, Suara Merdeka, Mutiara, Swadesi, dan lain-lain  Antologi puisi yang memuat karyanya antara lain, Menoreh 1,
Menoreh 2, dan Antologi Puisi Kaliprogo

----------------------
Sumber tulisan: Jentera Terkasa (Kumpulan puisi penyair Jawa Tengah) 

Sumber foto penyair: Facebook

Sumber ilustrasi: Pixabay



Thursday, January 14, 2021

Rosyidi Aryadi, Penyair Isen Mulang dari Bumi Seribu Sungai


Judul di atas mungkin sangat kental dengan lokalitas. Benar saja demikian karena menyangkut dua tempat atau wilayah di Pulau Kalimantan. Tempat pertama adalah Kota Palangka Raya yang bersemboyan "Isen Mulang". Semboyan Ibukota Provinsi Kalimantan Tengah ini diambil dari bahasa Sangen yang berarti 'pantang mundur'. 

Sementara yang kedua adalah julukan untuk Provinsi Kalimantan Selatan yang memiliki banyak sungai dengan multifungsi bagi kehidupan penduduknya. Lantas, bagaimana ceritanya sehingga penyair yang satu ini dihubungkan dengan kedua wilayah tersebut?

Berikut hasil wawancara dengan Rosyidi Aryadi. Artikel ini agak panjang, tapi yakinkan diri Anda untuk membacanya sampai tuntas.

Secara singkat, bagaimana alur migrasi aktivitas bersastra Bapak dari Kalimantan Selatan hingga di Ibukota Kalimantan Tengah?

Awalnya di Kota Banjarbaru. Kemudian aktif seutuhnya di Banjarmasin. Waktu sekolah sudah menempel puisi di mading (majalah dinding), lalu ke koran lokal, kemudian ibukota (Jakarta). Sekarang di media sosial dan di Palangka Raya.

Hampir sepuluh tahun saya tinggal di Palangka Raya dan baru aktif akhir 2019, yakni dengan berpuisi kembali. Saya hampir tenggelam, namun dari titik nol akhirnya bisa bangkit dan perlahan dengan pasti di jalan sastra ini. 

Tepatnya Januari 2012, saya mulai menetap di Palangka dan akibat kesibukan yang tak berhubungan dengan sastra, menjadikan keterampilan bersastra saya tumpul dalam rentang waktu hampir sepuluh tahun itu. Ya, terbuang energi dan sia sia. Beruntung ada suntikan para penyair Kalimantan Selatan yang menjadi pemicu lagi buat saya untuk berkarya. Doakan semoga tetap bersastra sampai kapan pun jua.

Apa saja aktivitas perpuisian yang Bapak lakukan sebagai kerja sastra selama di Palangka Raya?

Saya pernah tampil jadi bintang tamu di SMA Muhammadiyah 1 dekat dengan kampus UMP (Universitas Muhammadiyah  Palangka Raya) dalam acara Pentas Seni dan Bincang Sastra ke 17. Saat itu saya tampil bersama dua Narsumber yang dipandu oleh Cak Iful dan Kartika, serta ada Luwis YB Band. 

Selain di sastra, saya juga punya kawan di komunitas lukis, tari, teater, dan musik. Misalnya, saya punya kawan bernama Luwis YB. Ia pemusik yang sering tampil di Cafe 031 Jalan Yos Sudarso, Palangka Raya. Nah, dalam pertemanan tersebut, muncul rencana puisi saya akan digubah ke musik menjadi musikalisasi puisi. Saat ini masih dalam tahap penjajakan dan pembahasan lebih lanjut.

Di samping itu, saya sudah mendirikan Komunitas Pegiat Literasi Palangka Raya. Kemudian, saya menjadi Ketua/Koordinator HP3N (Himpunan Penulis Pengarang & Penyair Nusantara) Provinsi Kalimantan Tengah, Pusatnya di Batu, Malang, Jawa Timur. 

Sedang dalam media sosial selama di kota ini, saya menjadi anggota grup medsos Habar Kalimantan Tengah. 

Apa yang paling berkesan bagi Bapak selama bersastra?

Pembacaan puisi karya saya oleh penyair-penyair andal. Contohnya, dengan diiringi musik sape'/sampek Dayak Ngaju dan latar tempat Palangka Raya, penyair Fahmi Wahid dan Ali Syamsuddin Arsy dari Kalsel berkolaborasi membacakan puisi karya saya. 

Pernah juga dua puisi saya, yakni Tumbang Keabadian dan Kota Cahaya, dibacakan penyair Kotawaringin Timur, Dyah Nkusuma.

Lalu, sudahkah terhimpun puisi-puisi Bapak sejak di Kalimantan Selatan hingga saat ini?

Banyak arsip dahulu sudah tidak ada lagi. Sebutlah puisi karya saya pada tahun '80-an. Arsip yang ada beberapa puisi saja. Meski demikian, saya masih menelusuri arsip lainnya seperti lewat dokumentasi koran-koran yang pernah memuat puisi saya dulu.

Selama di Palangka Raya, sudah berapa sastrawan Kalimantan Tengah yang menjadi teman/rekan Bapak dalam bersastra?

Ada enam orang, yakni Deddy Setiawan dari Kabupaten Sukamara, Mbak Dyah Nkusuma dan Marselina dari Kabupaten Kotawaringin Timur, Karim dan Almuna dari Kabupaten Murung Raya, serta M Alimulhuda dari Palangka Raya. 

Sebenarnya saya tahu ada lagi sastrawan dari Kabupaten Kapuas, tapi belum kenal.

Sebagai penutup, harapan apa yang menjadi impian Bapak dan idealnya dapat diwujudkan dalam kehidupan sastra di Kalimantan Tengah?

Saya rasa harus ada kegiatan sastra paling tidak seperti di Mingguraya Banjarbaru, Panggung Seni khusus untuk seniman yg ada di Palangka Raya dan Kab/Kota se-Kalimantan Tengah untuk menampilkan kreasinya agar tercipta suasana yang harmonis bagi pegiat seni dan pemerintah daerah.

Demikianlah hasil wawancara dengan Rosyidi Aryadi, penyair Iseng Mulang dari Bumi Seribu Sungai. Semoga bermanfaat. 


Wednesday, January 13, 2021

Sastrawan Kalsel Generasi 1990—1999 (Pewaris Zaman Orde Baru 1990—1998 hingga Awal Reformasi 1998—1999)


Oleh Tajuddin Noor Ganie

 

Fenomena Sastra Pers 

Selama kurun waktu 1990—1999, pelampiasan gairah bersastra di Kalsel didukung oleh 3 buah koran yang membuka rubrik sastra secara berkala, yakni.
1.    SKH Banjarmasin Post, 1970—kini
2.    SKH Media Masyarakat 
3.    SKH Dinamika Berita 

Semua koran terbitan Banjarmasin di atas, tanpa kecuali, secara langsung maupun tidak langsung telah menciptakan situasi yang kondusif bagi lahirnya kelompok sastrawan Kalsel generasi perintis zaman orde lama 1990—1999. Selain itu, sastrawan Kalsel sezaman juga aktif mempublikasikan karya sastranya di berbagai koran/majalah terbitan luar daerah, yakni.
1.   SKH Jawa Pos Surabaya
2.   SKH Surabaya Pos Surabaya
3.   SKH Surya Surabaya
4.   SKM Swadesi Jakarta
5.   SKM Simponi Jakarta
6.   Majalah Ceria Jakarta
7.   Majalah Aneka Jakarta
8.   Majalah Mode Jakarta
9.   Majalah Horison Jakarta
10. Majalah Bahana Bandar Seri Begawan
11. Radio Jerman (Deutzs Welle)
 

Fenomena Sastra Buku

Antologi Puisi Pribadi
1.   Bulan di Atas Rawa, Dewi Yuliani, 1990. Banjarmasin
2.   Surat Merah Jambu Bagi Desmon George, Dewi Yuliani, 1990. Banjarmasin
3.   Puisi Perjuangan, 1990, Banjarmasin
4.   Tek Nong, Eddy Wahyuddin, SP, 1990. Banjarmasin
5.   Sel, Jamal T. Suryanata, 1990. Banjarmasin
6.   Ketika Bulan Jatuh, Eddy Wahyuddin SP. 1991. Banjarmasin
7.   Kemana Harus Melangkah, Ismail Wahid, 1991, Barabai
8.   Di Bawah Langit Beku, YS Agus Suseno, 1991. Banjarmasin
9.   Catatan Perjalanan, Abdussyukur MH, 1992. Banjarmasin
10. Gerhana Separuh Bayang, Eddy Wahyuddin SP, 1992. Banjarmasin
11. Tafsir Rindu, Ali Syamsuddin Arsy, 1992. Banjarmasin
12. Epigram Rindu, Eddy Wahyuddin SP, 1992. Banjarmasin : HIPSI Kalsel
13. Krematorium Kota, Suryani Giri, 1992, Kandangan
14. Sajak Sepanjang Trotoar, Jamal T. Suryanata, 1992. Banjarmasin
15. Topeng Kota Pendaki, Jamal T. Suryanata, 1992. Banjarmasin
16. Ampas, Eddy Wahyuddin, SP, 1993. Banjarmasin
17. Clurit Dusun, Eza Thabry Husano,  1993. Banjarbaru
18. Catatan Bawah Tanah, M. Fadjroel Rachman, 1993. Jakarta
19. Dalam Penantian Panjang, Abdussyukur MH, 1994. Banjarmasin
20. Kisi Kisi Hidup, Andi Amrullah, 1994, Banjarmasin
21. Angin Tutus, Eddy Wahyuddin, SP. Banjarmasin
22. Senja, Hamami Adaby, 1994, Marabahan
23. Bunga Rampai di Lembah Sebatung, Agits Kursani, KA. 1995. Kotabaru
24. Catatan Bawah Tanah, M. Fadjroel Rachman, 1994. Jakarta
25. Potret, Misbach Munir Achdi, 1994. Barabai.
26. Catatan Perjalanan, Misbach Munir Achdi. Barabai. 1994
27. Ulat Daun, Eddy Wahyuddin, SP. 1995. Banjarmasin
28. Perjalanan Senja, Ismail Wahid, 1995. Barabai
29. Kebun di Belakang Rumah, Maman S. Tawie. 1995. Banjarmasin
30. Aerobik Tidur, Eza Thabry Husano,  1996. Jakarta
31. Sepi, S. Surya, 1996. Banjarmasin
32. Doa Kepompong, Suryani Giri, 1996,  Kandangan
33. Kembara, Hardiansyah Asmail, 1997. Kandangan
34. Sajak Sajak Burung Negeriku, S. Surya, 1997. Banjarmasin
35. Nyanyian Seribu Sungai, S. Surya, 1998, Banjarmasin
36. Desah Tiga Kota, Zainal Arifin, 1998, Kandangan
37. Banua Kita, Ismail Wahid, 1999, Barabai
38. Locus, Suryani Giri, 1999. Kandangan 
 
Antologi Puisi Bersama
1.   Harkat Kemanusiaan, 1990, Banjarmasin
2.   Puisi Perjuangan, 1990, Banjarmasin
3.   Puisi Keprihatinan Sosial, Ajamuddin Tifani dkk, 1990. Banjarmasin
4.   Tamu Malam, 1992. Banjarmasin : HIMSI Kalsel Banjarmasin
5.   Festival Puisi Kalimantan, Tajuddin Noor Ganie (Editor), 1992. Banjarmasin:         Penerbit HIPSI Kalsel.
6.   Bosnia dan Flores, 1993. Banjarmasin
7.   Tembang Sungai Lirik, 1993, Marabahan
8.   Bunga Api, 1994. Banjarbaru : Kanwil Deppen Kalsel
9.   Rimbun Tulang, 1994, Marabahan
10. Ritus Kata Ritus Warna, Adjim Arijadi dkk,  1994. Bandung
11. Jendela Tanah Air, 1995. Banjarmasin : HIMSI Kalsel
12. Tadarus Puisi, 1995. Banjarmasin
13. Bahalap, 1995, Marabahan
14. Potret Diri, 1995. Tanjung : Dewan Kesenian Tabalong
15. Antologi Puisi Islami Al Banjari, 1996, Banjarmasin
16. Rumah Hutan Pinus, 1996. Banjarbaru : Kilang Sastra Batu Karaha 
17. Kesaksian, 1996. Kotabaru
18. Pelabuhan, 1996. Marabahan
19. Duri Duri Tataba, 1996. Tanjung : Dewan Kesenian Tabalong
20. Gerbang Pemukiman, 1997. Banjarbaru : Kilang Sastra Batu Karaha 
21. Rumah Sungai, 1997. Marabahan
22. Bentang Bianglala, 1998. Banjarbaru : Kilang Sastra Batu Karaha
23. Kesaksian, 1998. Banjarmasin
24. Gardu, 1998. Marabahan
25. Jembatan Asap, 1998. Marabahan
26. Semata Sayang Semata Wayang, 1998. Tanjung : Dewan Kesenian Tabalong
 
Antologi Cerpen Pribadi
1. Sang Itik dan Sang Warik, Harun Al Rasyid, 1991 
2. Dongeng Dongeng Musim Libur, Iwan Yusi, 1992
3. Lidah, Yefigrata S Grafutin, antologi cerpen, Jakarta, 1994
 
Antologi Cerpen Bersama
1. Cerita Rakyat Kalimantan Selatan 2, Djarani EM, Burhanuddin Soebely dan Iwan Yusie, 1997. Jakarta : Grasindo
2. Nyanyian Alam Pedalaman, Hadian Noor dan Tajuddin Noor Ganie, 1999.  Yogyakarta : Pustaka Pelajar. Berkaitan dengan penerbitan antologi cerpen bersama ini, Hadian Noor dan Tajuddin Noor Ganie merupakan sastrawan Kalsel pertama yang berhasil menerbitkan antologi cerpen bercorak modern di luar daerah. 

Roman/Novel
1. Ketapel, Djarani EM, 1994. Yogyakarta: Adicita Karya Nusa
2. Anak Anak Balai, Iwan Yusi, 1994
3. Misteri Padang Galam, Iwan Yusi, 1995. Yogyakarta: Adicita Karya Nusa
4. Mungkur Kambing, Iwan Yusi. 1995. Yogyakarta: Mitra Gama Widya
5. Untuk Sebuah Pengabdian, Jamal T. Suryanata, 1995. Jakarta: Balai Pustaka
6. Bawanang, Hardiansyah Asmail, 1996. Kandangan
7. Kabut Murungkayu, Iwan Yusi. 1996. Yogyakarta: Mitra Gama Widya
8. Anak Anak Balai, Iwan Yusi. 1997. Yogyakarta: Mitra Gama Widya
9. Legenda Batu Bua, Zainal Arifin, 1998. Kandangan
 
Antologi Esai Sastra
1. Benih Dakwah di Ladang Puisi, Bachtar Suryani, 1990. Banjarmasin
2. Mendulang Tauhid di Arafahnya Andi Amrullah, Bachtar Suryani, 1990,  Banjarmasin
3. Dengus Sastra di Kalimantan Selatan. Ian Emti, 1992. Banjarmasin: HIPSI Kalsel
4. Tarian Puisi. Ian Emti, 1992. Banjarmasin: HIPSI Kalsel.
 
Elite Sastrawan 
Berdasarkan bahan-bahan yang berhasil dikumpulkan oleh tim Puskajimastra Kalsel Banjarmasin diketahui bahwa jumlah elite sastrawan Kalsel generasi penerus zaman orde baru 1990—1999 ada sebanyak 86 orang, yakni.

1.    Aan Maulana Bandara

2.    Abdus Syukur MH

3.    Abi Dasufa

4.    Agna Dinnah Lantria

5.    Ahmad Syamsuri Barak

6.    Aliansyah Jumbawuya

7.    Aliman Syahrani

8.    Alin M. Solichin

9.    Alipir Budiman

10.    Aria Patrajaya

11.    Arief Rahman

12.    Asna Sepriawati

13.    Asdin Vamaton

14.    Asiaman Z

15.    Bachruddin Sastra

16.    Badruddin Noor

17.    Bajau Malela

18.    Bambang Rukmana

19.    Bihman Rio Pratama

20.    Birhasani Ismail

21.    Dewi Yuliani

22.    Elang W. Kusuma

23.    Eman Hermansyah Sastrapraja

24.    Erhan Effendi

25.    Fajar Gemilang

26.    Fitriyadi

27.    Fitriansyah

28.    G. Syswanto

29.    Ganis Adiatmo

30.    Hadian Noor

31.    Hairoman Hairan

32.    Helwatin Najwa

33.    Husin Nafarin

34.    Ifna Junaidi

35.    Imelda Fitriyani

36.    Ilmanuddin

37.    Irhamna

38.    Jamal T. Suryanata

39.    Jauhari Effendi

40.    Junaidi NA

41.    Kamila

42.    Lieta Dewi Novianti

43.    Lilis Martadiana

44.    Lismaya Ratu Hasanah

45.    M. Fadjroel Rachman

46.    M. Hasbi Salim

47.    M. Junaidi

48.    M. Suriani Siddik

49.    Mila

50.    Mira W. Rahman

51.    Misbach Munir Achdi

52.    Muhammad (Anjir)

53.    Muhammad (Kotabaru)

54.    Muhammad Idi Anshari

55.    Muhammad Noor

56.    Muhammad Rusmadi

57.    Muniriadi

58.    Nenden Riananda Siska

59.    Nonon Djazouly

60.    Norhikmah

61.    Nurul Karlina Hidayati

62.    Obar Sobari

63.    Oejiono

64.    Rahmatiah

65.    Rosmayati

66.    Rudi Ante

67.    Rudi Setyawan

68.    Rusman

69.    Sadik Ikhsan

70.    Sandi Firly

71.    Seroja Murni

72.    Shah Kalana

73.    Siti Zuraida

74.    Suriansyah

75.    Surya Ahdiat

76.    Suryani Giri

77.    Syachri TS

78.    Syahrani AR

79.    Taufiqurrahman

80.    Tantular

81.    Udien Adiezt

82.    Uniek Mulyaning Sari

83.    Wahyudi

84.    Zainal Abidin

85.    Zainul Mullah

86.    Zulfaisal Putra

 

Tuesday, January 12, 2021

Puisi-Puisi Suyadi San


ADAKAH YANG BISA MENGHENTIKAN HUJAN

adakah yang bisa menghentikan hujan
ketika aku terdampar di kesunyian hatimu
anak-anak baru merayapi rumahnya,
sementara aku masih saja bermenung-menung
di atas tuts-tuts peradaban
adakah yang bisa menghentikan hujan,
sementara hatimu tak sedalam nyanyian pagi
mencumbu mimpi-mimpi malam tadi
adakah yang bisa menghentikan hujan
ketika para elite berjibaku menyelamatkan diri sendiri

: ah, adakah yang bisa menghentikan hujan,
sementara aku hanya bisa memintal puisi

adakah yang bisa menghentikan hujan
selain diri-Mu; adakah yang bisa mengajuk diriku ke dalam
ayat-ayat-Mu selain diri-Mu; adakah yang bisa membiaskan awan
selain diri-Mu; segalanya selain diri-Mu, cuma

saat ini, hujan menjadi buah bibir,
ia kian menjadi perdebatan
bahkan mengacak-acak keheningan,
di atas sepi yang tebaring lelah
adakah yang bi sa menenteramkan hati
selain diri-Mu

Percut Sei Tuan, 14 november 2009


KEROPOS BUMIMU MENGHENTAK
PERMADANIKU

adakah setitik embun buat penawar duka
bukan hunjaman gerimis apalagi tikaman hujan
sebab, benturan keropos bumimu telah menghentakkan permadaniku

amplas, 3 oktober 2009


NEGERI PEDATI

apa yang terjadi di negeri ini
ketika semua mulut mengangai
suara pedal pedati
ah, tiktak jam di kamar usang
membuatku lelah menanti jalan panjang
permainan tak harmoni ini

amplas, 3 november 2009


Tentang Penyair



SUYADI SAN banyak menulis puisi, cerpen, esai, dan naskah dramanya dan menjadi editor untuk sejumlah buku, al: Kopi 1.550 mdpl (kp, Aceh Culture Centre-Ruang Sastra The Gayo Institute, 2016). 

Sedangkan buku tunggalnya, Sajak Burung Luka (kc, manuscrip, 1991), Yang Tersobek (kc, manuscrip, 1993), Kado Ulang Tahun 19 (kp, manuscrip, 1994), Telaah Drama: Konsep Teori dan Kajian (bt, GENERASI dan Mimbar Umum, 2004), Stilistika: Sebuah Pengenalan Awal (bt, GENERASI, 2005), Kejurnalistikan: Mengenal Seluk Beluk Jurnalistik (bt, GENERASI, 2008), Studi Teater: Sebuah Pengenalan Dasar (bt, Generasi, 2010), Drama: Konsep Teori dan Kajian (bt, PartamaMitra Lestari, 2013), Menguak Tabir Bahasa Jurnalistik (br, Mitra, 2016), Masuk Kantong Pribadi: Kumpulan Naskah Drama Antikorupsi (bd, Mitra, 2016).

-----------------------------------------

Sumber tulisan: buku Puisi-Puisi MUNSI: Puisi-puisi karya penyair MUNSI I -- 2016
Sumber foto: Facebook
Sumber ilustrasi: Pixabay


Monday, January 11, 2021

Sastrawan Kalsel Generasi Penerus Zaman Orde Baru 1980-1989

 

 

Oleh Tajuddin Noor Ganie 

Fenomena Sastra Pers 

Selama kurun waktu 1980—1989, pelampiasan gairah bersastra di Kalsel didukung oleh 3 buah koran yang membuka rubrik sastra secara berkala, yakni.

1.    SKH Banjarmasin Post, 1970—kini
2.    SKH Media Masyarakat, 1970—1989
3.    SKH Dinamika Berita, 1986—1989 

Semua koran terbitan Banjarmasin di atas, tanpa kecuali, secara langsung maupun tidak langsung telah menciptakan situasi yang kondusif bagi lahirnya kelompok sastrawan Kalsel generasi penerus zaman orde baru 1980--1989. 

Dari 3 koran di atas, SKH Banjarmasin Post layak dicatat secara khusus. Sejak tahun 1978, koran ini setiap kali terbit membuka rubrik Dahaga (hampir setiap hari). Setiap kali terbit rubrik ini memuat puisi antara 5—10 judul. Kebijakan ini berlangsung cukup lama, yakni sampai tahun 1986. Setelah sempat ditutup selama beberapa tahun, rubrik ini kembali dibuka pada tahun 2008. 

Cuma kali ini tidak dibuka setiap hari seperti dulu, rubrik Dahaga sekarang ini hanya dibuka pada setiap hari Minggu saja. Jumlah puisi yang dimuatnya setiap kali terbit antara 1—5 judul.   Selain itu, sastrawan Kalsel sezaman juga aktif mempublikasikan karya sastranya di berbagai koran/majalah terbitan Jakarta, yakni.

1.   SKH Berita Buana
2.   Majalah Amanah
3.   Majalah Topik
4.   Majalah Kartini
5.   Majalah Sarinah
6.   Majalah Nona
7.   Majalah Putri
8.   Majalah Idola
9.   Majalah Anita
10. SKH Sinar Pagi
11. SKH Pelita
12. SKH Suara Karya
13. SKH Merdeka
14. SKH Terbit
15. SKH Suara Pembaruan
16. Majalah Mode
17. Majalah Sastra Horison 

Fenomena Sastra Buku

Antologi Puisi Pribadi
1.  Tembus Kabut, Agits Kursani, KA, 1980. Kotabaru
2.  Kelahiran, Effendi, 1980. Banjarmasin
3.  Nyala, Maseri Matali, 1980. Kandangan
4.  Sajak Sajak, M. Rifani Djamhari, 1980. Banjarbaru
5.  Panas Matahari, Maman S. Tawie, 1980. Banjarmasin
6.  Jala yang Ditebar, Ahmad Fahrawi, 1981. Martapura
7.  Sajak Jambon Buat Dik Ami, M. Rifani Djamhari, 1981. Banjarbaru
8.  Jam, Maman S. Tawie dan Radius Ardanias Hadariah, 1981. Banjarmasin :         Cenderawasih Study Club
9.  Sajak Sajak Dahaga, Maman S. Tawie, 1981 Banjarmasin
10. Jaka Lelana, Radius Ardanias Hadariah, 1981 Banjarmasin
11. Titian, MS Sailillah, 1981. Pelaihari
12. Saat Saat yang Perih, MS Sailillah, 1982. Banjarmasin
13. Nyanyian Rindu Bagi Tanah Kelahiranku, Rizhanuddin Rangga, 1982.                            Banjarmasin
14. Patilarahan, Burhanuddin Soebely, 1982. Banjarmasin
15. Aku Ingin Mencari Kata Dalam Sajak, Ahmad Fahrawi, 1982. Banjarmasin
16. Saat Malam, A. Kusairi, 1982. Banjarmasin
17. Ulang Tahun, Eko Suryadi WS, 1982. Banjarmasin
18. Generasiku, Kony Fahran, 1982. Banjarmasin
19. Luka, M. Rifani Djamhari, 1982. Banjarmasin
20. Dinding Kaca, Maman S. Tawie, 1982. Banjarmasin
21. Aku Ingin Jadi Penyair Yang, Micky Hidayat, 1982. Banjarmasin
22. Tanah yang Terbatas, Miziansyah J, 1982. Banjarmasin
23. Belibis Rindu, Radius Ardanias Hadariah, 1982. Banjarmasin
24. Balada Hari Hari, Rietna Imran, 1982. Banjarmasin
25. Larut Malam di Kotaku, Sri Supeni, 1982. Banjarmasin
26. Bulu Tangan, Tajuddin Noor Ganie, 1982 Banjarmasin
27. Anggur, Tarman Effendi Tarsyad, 1982. Banjarmasin
28. Sebelum Tidur Berangkat, Eko Suryadi WS, 1983. Kotabaru
29. Keluar Malam, Bachtar Suryani. 1983. Banjarmasin
30. Arafah, Andi Amrullah, 1984, Banjarmasin
31. Desah, Hamami Adaby, 1984, Marabahan
32. Perang Teluk, Hamami Adaby, 1984, Marabahan
33. Suara, Hamami Adaby, 1984, Marabahan
34. Kuala, 1984. Marabahan
35. Surat dari Langit,  Eza Thabry Husano, 1985. Banjarmasin
36. Tonil, Maman S. Tawie, 1985. Banjarmasin
37. Dialog, Rosydi Aryadi Saleh, 1985. Banjarmasin
38. Yul, Andi Amrullah, 1985, Banjarmasin
39. Hari Sudah Senja, Darmansyah Zauhidhie, 1986. Banjarmasin
40. Asa, Ali Syamsuddin Arsy, 1986. Banjarmasin
41. Surat Cinta, Rudi Karno, 1986. Banjarmasin
42. Tambangan, Samsuni Sarman, 1986, Banjarmasin
43. Silsilah Hulu Sungai, Suryani Giri, 1986. Kandangan
44. Iqra, Hamami Adaby, 1987. Marabahan
45. Seribu Ranting Satu Daun, Ali Syamsuddin Arsy, 1987. Banjarmasin
46. Darah Impian, antologi puisi Razi Abkar, 1987. Banjarmasin
47. Malam Seribu Bulan, Abdussyukur MH, 1998. Banjarmasin
48. Roda, Abdussyukur MH, 1988. Banjarmasin
49. Tafsir Rindu, Ali Syamsuddin Arsy. 1989. Banjarmasin
50. Dalam Perjalanan, Bachtar Suryani, 1989. Banjarmasin
51. Perarakan Senja, Bachtar Suryani, 1989. Banjarmasin
52. Sajak di Atas Kanvas, Ian Emti, 1989,  Banjarmasin 

Antologi Puisi Bersama
1.   Bah Tis Gaung Kami, Abdul Karim, Abdul Kasim, Nellawati Agen, Rietna                 Imran, dan Syarbaini, 1983. Banjarmasin
2.   Siklus Lima Penyair Kalsel, Ahmad Fahrawi, Maman S. Tawie, Micky Hidayat,         Tajuddin Noor Ganie, dan Tarman Effendie Tarsyad, 1983. Banjarmasin
3.   Tenunan Hari Esok, Alexander Leme Tengkedatu, 1983. Banjarmasin
4.   Banjarmasin Kota Kita, Tajuddin Noor Ganie (Editor), 1984. Banjarmasin
5.   Forum Penyair Muda Banjarmasin, 1985, Banjarmasin
6.   Langkah Dibagi Langkah Terus Kedepan, 1985, Banjarbaru
7.   Bingkisan, MS Sailillah (Editor), 1981. Pelaihari : HIMSI Tanah Laut
8.   Dawat, Eza Thabry Husano dan 1982, Hamamy Adaby, 1982. Banjarbaru :             Sanggar Amandito
9.   Dahaga B.Post 1981, Tajuddin Noor Ganie (Editor), 1982. Banjarmasin
10. Palangsaran, Burhanuddin Soebely (Editor), 1982. Kandangan : Posko La   Bastary
11. Dengarlah Bicara Kami, 1984. Banjarmasin : HIMSI Banjarmasin
12. Terminal, 1984. Banjarmasin
13. Kuala, 1984. Marabahan
14. Tujuh Penyair Marabahan, 1984. Marabahan
15. Berilah Aku Puisi,  Sabri Hermantedo, 1984, Banjarmasin
16. Jejak Cermin Suatu Senja, A. Rasyidi Umar, Syukrani Maswan, dan Rustam Effendi, 1989. Banjarmasin : HISKI Kalsel
17. Kelahiran Sang Cahaya, 1985. Banjarmasin : Teater Pena
18. Mengenang Darmansyah Zauhidhie, 1985, Banjarmasin
19. Antologi Puisi Banjarmasin, 1986, Banjarmasin
20. Banjarmasin dalam Puisi, 1987.  Banjarmasin
21. Senja Kuning,  1988, Marabahan
22. Empat Penyair Batola, 1988. Marabahan
23. Kemilau Kuning, 1988. Marabahan
24. Menatap Cermin, 1988, Marabahan
25. Antologi Puisi Pilihan RRI, 1989, Banjarmasin
26. Mutiara ’89, 1989. Banjarmasin 

Antologi Cerpen Pribadi
1. Taktik, Yefigrata S Grafutin, antologi cerpen, 1986, Jakarta 

Antologi Esai Sastra Pribadi
1. Bias Puisi dalam Al Qur’an, 1987. Banjarmasin
1. Sesatkah Penyair?, Bachtar Suryani, 1989. Banjarmasin
2. Diskusi Imajiner Tentang Sajak di Atas Tempurung. Ian Emti, 1989. Banjarmasin : HIPSI Kalsel
3. Pengalaman Menulis Cerpen. Omong Santai Bersama Ian Emti 30 Juli 1989 di Museum Banjarbaru. Ian Emti, 1989. Banjarmasin : HIPSI Kalsel
 
Sejarah Sastra
1. Elite Penyair Kalsel 1979—1985, Tajuddin Noor Ganie, (Editor), 1986. Banjarmasin :  Puskajimastra Kalsel
 
Roman/Novel
1. Kangkung Kembang Danau Bangkau, Djarani EM, 1985. Yogyakarta : Mitra Gama Widya 
2. Si Cupak Lawan Si Gantang,  Jaka Mustika, 1986, Marabahan 

Elite Sastrawan 

Berdasarkan bahan-bahan yang berhasil dikumpulkan oleh Tim Puskajimastra Kalsel Banjarmasin diketahui bahwa elite sastrawan Kalsel generasi penerus zaman orde baru 1980—1989 ada sebanyak 109 orang, yakni.

1.    A. Kusairi

2.    A. Nasib S

3.    A. Nurdjani HB

4.    A. Yuliansyah Kasturi

5.    Abdul Karim

6.    Abdul Kasim

7.    Abidin Noor

8.    Ahmad Albar BS

9.    Ahmad Fahrawi

10.     Ahmad Surkati AR

11.     Ahmad Syam’ani

12.     Akhmad Tajuddin

13.     Alexander Leme Tengkedatu

14.     Ali Asman

15.     Ali Syamsuddin Arsy

16.     Andi Jamaluddin AR.AK.

17.     Anhar Rozi

18.     Ardiansyah Annoor

19.     Arief Pujiono

20.     Arief Rachman

21.     Ariffin Noor Hasby

22.     Arlian Desmon

23.     Arpani

24.     Asiah Samad

25.     Aspian Noor

26.     Astuti Dardi

27.     Bayhaqi Hasyim

28.     Burhanoor

29.     Cuandi Balad

30.     Dewa Pahuluan

31.     Eddy Wahyuddin SP

32.     Eko Suryadi WS

33.     Embeka

34.     Fahmi Wahid

35.     Fakhruddin

36.     Fani Sastra

37.     Fatimah Roch HT

38.     Gazali Rahman

39.     Ghazali

40.     Hamsy Hamzah

41.     Hardiansyah Asmail

42.     Hayani Zain

43.     Hermansyah Kawie

44.     HF Raban

45.     Husin Nafarin

46.     Ismail Wahid

47.     Iwan Yusi

48.     Jarkasi

49.     Katharina Panji

50.     Khairani Zain

51.     Kony Fahran

52.     Lan Fang

53.     Lasmy KF

54.     M. Fitran Salam

55.     M. Haderani Thalib

56.     M. Rifani Djamhari

57.     M. Supiani Inderapura

58.     M Yusransyah

59.     Maman S. Tawie

60.     Manie Abimanyu

61.     Mansyah Hanac

62.     Mas Al Kalani Muchtar

63.     Mas Hazairin

64.     Masduri

65.     Maskuni Maharawi

66.     Mastawiyah

67.     Micky Hidayat

68.     Miziansyah J

69.     Muhammad Radi

70.     Mukhlis

71.     Murjani Hasan

72.     Nanny S

73.     Nikmatullah Kamsi

74.     Nellawati Agen

75.     Noor Aini Cahya Khairni

76.     Noor Ifansyah

77.     Noor Sjahdi 

78.     Osman Doank

79.     Qinimain Zain

80.     Rachman Harjaib

81.     Radius Ardanias Hadariah

82.     Rakhmi Handayani

83.     Razi Abkar

84.     Rietna Imran

85.     Rosydi Aryadi Saleh

86.     Rudi Karno

87.     Rusmulyani

88.     Sabhan

89.     Samsuni Sarman

90.     Setia Budi

91.     Soeparto JS

92.     Sri Supeni

93.     Sudarni

94.     Sugian Noor AMSAM

95.     Supian Noor

96.     Suriansyah Marto Hadi

97.     Syajidan

98.     Syamsuddin J

99.     Syarbaini

100.    Syfwandi

101.    Tajuddin Noor Ganie

102.    Tarman Effendi Tarsyad

103.    Yefigrata S Grafutin

104.    YS Agus Suseno

105.    Yudhi Krisna

106.    Yuyun HR

107.    Zain Zailani

108.    Zainal Arifin

109.    Zulkipli Chalid

110.    Zulkipli Musaba