![]() |
| Ilustrasi Chatgpt |
Sejak beberapa hari lalu hingga sekarang begitu banyak berseliweran video yang memperlihatkan aktivitas manusia menangkap monyet-monyet liar. Para makhluk berekor panjang ini memasuki dan menempati area permukiman di Tembilahan. Konon, sudah 18 warga menjadi korban penyerangan mereka.
Kalau diperhatikan, apanya yang salah? Ada apa sebenarnya sehingga hal itu bisa terjadi?
Hemat kata, ini tak lepas dari yang namanya hak. Ya, hak para monyet di dunia ini. Mereka berhak hidup nyaman dengan makanan yang disediakan di alam lepas. Lebih tepatnya di habitat mereka sendiri. Jika terjadi kerusakan lingkungan di sana, tentu akan terjadi masalah.
Dengan perkataan yang lebih mudah dipahami, ketersediaan makanan dan minuman serta tempat tinggal mereka sedang mengalam gangguan. Itulah sebabnya, para monyet pasti mencari area yang menyediakan hak mereka. Area itu bisa berupa hutan lain atau bisa juga permukiman manusia.
Setelah menemukan area yang ideal, mereka akan tinggal di sana. Dengan kata lain, area itu "mereka duduki". Siapa pun yang tinggal di area baru mereka tersebut, para monyet ini pasti akan menyerangnya. Benar, baik manusia, maupun hewan, seperti kucing dan sebagainya yang ada di sana mereka usir.
Lantas bagaimana agar mereka tidak terus-menerus menjadi penjajah di area baru itu?
Orang bijak berkata, "Kembalikan hak para monyet, maka hidup kalian akan aman dan nyaman." Artinya, kembalikan hutan yang menjadi habitat mereka. Kalau sudah rusak, segeralah diperbaiki.
Pertanyaan selanjutnya, sementara hutan yang rusak belum selesai direboisasi, di mana mereka ditempatkan?
Tentu saja proses reboisasi memakan waktu yang panjang. Dan, para monyet juga tidak bisa didiamkan tinggal di permukiman warga selama itu. Maka, jawaban yang agaknya ideal adalah di area yang menyediakan fasilitas yang layak untuk kehidupan mereka. Bisa berupa hutan alami, bisa juga hasil rekayasa. Terpenting mereka bisa hidup aman dan nyaman.














