![]() |
| Ilustrasi: Pixabay |
Pagi masih dingin. Embun membentuk bola-bola bening mungil yang tampak berkilauan di ujung-ujung daun. Benar-benar eksotis. Sedang Jua Min dan San Kang asyik berbincang tak jauh dari keindahan panorama itu.
"Ini mengingatkanku pada peristiwa yang sudah kita lewati nyaris tiga puluh tahun lalu."
"Waktu yang panjang. Peristiwa yang mana?"
"Pengumpulan tentara dari berbagai daerah untuk berkumpul di Daerah Khusus Ibukota Chang Man."
"Owh yang itu. Tahun 2099 memang mencekam. Aku masih ingat betul bagaimana orang tersebut begitu berambisi menjadi presiden. Mulai dari menikahi putri presiden, menggulingkan mertuanya dengan sangat kejam, hingga menjalankan rencana kudeta."
"Tapi, semuanya gagal dan barulah setelah hampir tiga puluh tahun kemudian ia berhasil menjadi presiden dengan cara curang."
"Lantas, sebenarnya apa yang membuatmu teringat tahun 2099 itu?"
"Sebelum ke sini aku menonton berita di televisi bahwa nelayan, petani, pedagang, tokoh masyarakat, pelaku UMKM, buruh, dan juga mahasiswa dari berbagai daerah datang di ibukota negara."
"Apa yang mereka lakukan?"
"Menggelar aksi damai mendukung kebijakan kerakyatan Presiden Pung Sumbung."
"Hayyaaaa! Ini memang benar-benar mengingatkan kita pada tahun 2099 lalu. Demi kursi presiden, dirinya memobilisasi massa. Jika yang lalu adalah tentara, sekarang dari kalangan sipil."
***














