Sunday, July 12, 2026

Presiden: Negara Suram, Silakan Cari Negara Lain

 

Ilustrasi: Pixabay 

Dan akhirnya sedikit demi sedikit rakyat di Negara Namijersia itu pun merantau di luar negeri. Ada yang berdomisili di Yordania, India, Swiss, Belanda, Afrika Selatan, Turkiye, Amerika Serikat, Jepang, dan negara-negara cerah lainnya.

Bagi mereka, perkataan Presiden Pascaloba Sundulo tersebut sungguh melukai hati terdalam manusia. Betapa tidak? Sejatinya presiden di sana juga sama-sama manusia senegara dengan mereka, tapi sampai hati berkata demikian. Menurut mereka, pria lanjut usia itu sudah keterlaluan. 

Itulah sebabnya, seluruh rakyat di negara tersebut akhirnya meninggalkan negara yang dipimpinnya demi menyembuhkan luka hati mereka.

Alhasil, masalah besar pun datang. Pendapatan negara turun drastis. Pajak rakyat tak ada lagi. Nol besar! Yang ada hanyalah pendapatan nonpajak. Sedang utang negara sudah sangat tinggi. Pemerintah di negara tersebut tak memiliki solusi lagi. 

Akhirnya tanah air di sana pun dijual 100%. Dunia tak mengenal lagi nama Namijersia. Di peta bumi namanya sudah berganti menjadi Republik Nasionalis Demensia. 

***

Saturday, July 11, 2026

Medsos Lebih Dipercaya daripada Pemimpin Hasil Kecurangan

Ilustrasi: Pixabay 

Apa pun yang namanya hasil kecurangan tidak akan bertahan lama dan hasilnya hanyalah keburukan. Bukan sekadar satu kali keburukan, tetapi keburukan yang berulang-ulang. Itulah yang pernah terjadi di Negara Manipulatifanda. Di sana ada seorang pemimpin yang menang dalam pemilihan presiden dengan cara curang.

Kecurangan yang dilakukan bukan hanya isapan jempol. Dalam praktiknya melibatkan negara besar yang menginginkan keuntungan fantastis dari Negara Manipulatifanda tersebut terus mengalir kepada mereka. Salah satunya adalah kekayaan alamnya yang luar biasa. 

Sebelum pemilihan presiden berlangsung, mereka sudah merancang angka kemenangan sebesar 58 persen untuk calon presiden boneka mereka. Hal itu menyebabkan seberapa besar pun suara yang diraup musuh politik yang ada, angka yang masuk tak bisa melebihi 58 persen tersebut. Alhasil, sejak awal hingga penghitungan berakhir, calon presiden boneka terus mendapatkan angka sebesar 58 persen suara rakyat. 

Nah, setelah resmi ditetapkan sebagai presiden, segala program pemerintah yang dijalankannya selalu pro terhadap negara besar yang memenangkannya. Tak ada sama sekali untuk rakyat meski setiap kali berpidato, dirinya selalu mengatakan "demi rakyat".

Dengan fakta yang demikian, rakyat di sana  tidak ada lagi yang percaya kepadanya. Mereka lebih percaya kepada media sosial yang berisi kebenaran. Lama-kelamaan rakyat juga mulai enggan membayar pajak. Awalnya hanya segelintir orang yang berani seperti itu. Setelah beberapa hari berikutnya kian banyak yang berlaku sama. 

Pada dua tahun kepemimpinannya, semua rakyat tak ada lagi yang mau membayar pajak. Hari demi hari pemerintahannya semakin goyah, lalu sebulan kemudian hancur. Dirinya pun lengser teratur. Dan, rakyat menyambut kejatuhannya dengan penuh suka cita. 

Anak-Anak Lapar karena Pendapatan Ayah Mereka NOL, BUKAN lantaran Ketiadaan MBG


Ilustrasi: Pixabay 


Jangankan beli telur, krupuk mentah saja tak terbeli. Betapa tidak? Pekerjaan masih jauh dari genggaman. 

Begitulah yang dialami pak War Nong (bukan nama sebenarnya) yang merupakan seorang tukang bangunan di Negara Lapir. Saat ada pemborong memerlukan jasanya dalam membangun rumah, misalnya, uang bisa ia dapatkan seminggu sekali. Akan tetapi, jika tak ada panggilan kerja, baik dari pemborong, maupun orang yang rumahnya mengalami kerusakan, secara otomatis pendapatannya nol besar.

Kalau sudah demikian, tak ada pula yang bisa ia beli untuk kebutuhan primernya dan  keluarganya. Inilah penyebab utama anak-anak kelaparan dan mengalami gizi buruk. 

Lantas apa yang idealnya dilakukan pemerintah di sana untuk mengatasi gizi anak seperti ilustrasi di atas?

Tentu saja cabut akar permasalahannya. Ciptakan lapangan pekerjaan untuk para orang tua agar mereka memperoleh pendapatan sehingga bisa memenuhi gizi anak-anak di rumah dan di luar rumah. 

Ya, di rumah anak-anak mendapatkan menu makanan bergizi sebelum dan sepulang sekolah. Sedang di sekolah anak-anak bisa membeli menu makanan bergizi di kantin atau menikmati bekal makanan bergizi dari para orang tua mereka saat jam istirahat tiba.

Hal itu tentulah jauh lebih baik daripada sekadar memberikan siswa minuman bergambar gelas (MBG).

Ha Ha Ha, Ada yang Iri dengan Negara Mereka?

Ilustrasi: Pixabay 

"Ah, ini lucu sekali. Mana ada negara lain yang iri dengan negara mereka?"

"Rakyat di sana saja masih banyak yang susah.  Apalagi utang negara mereka banyak. Kekayaan alamnya juga dikuasai asing."

"Kocak emang presiden di negara itu."

"Kalau diperhatikan, Presiden Jamu Gendong memang beda. Maunya semua wow saat dirinya menjabat sebagai presiden. Intinya dia ingin mendapatkan pujian sebagai presiden terbaik sepanjang sejarah di negara tersebut. Dan, itu bagian dari kampanye dirinya untuk pemilihan presiden berikutnya."

"Yaaa susah kalau sudah begitu. Kalau ditanya susahnya apa? Ya susahnya uang negara pasti dihabiskan olehnya untuk membuat segala hal yang menjadikannya terlihat hebat. Misalnya program minum segar gratis (MSG) agar dirinya terlihat hebat bisa memberikan minuman kepada rakyatnya. Atau, program minimarket negeri (MN) agar dirinya terlihat luar biasa bisa membangun jutaan minimarket dalam waktu singkat."

"Kalau dibiarkan terus seperti itu, Negara Akar pasti hancur. Utang negara mereka akan menggapai awan, rakyat di sana pasti kian sengsara akibat pajak semakin besar, dan parahnya lagi tekanan negara asing yang memberikan utang akan semakin meningkat."

"Benar katamu. istilahnya tinggal menunggu waktu kehancurannya saja."

"Rakyat dan para tokoh di sana haru segera ambil tindakan nyata."

"Pertanyaannya, apa mereka berani melawan Presiden Jamu Gendong?"

***

Friday, July 10, 2026

Dia Ingin Mengalahkan Para Mantan Presiden di Negara Itu

 

Ilustrasi: Pixabay 

Padahal dia hanyalah seorang pecatan tentara pada masa lalu. Para petinggi di Negara Republik Wahamiang tersebut sudah mencium gelagat buruknya sejak lama. Tepatnya jauh sebelum dirinya hendak melakukan kudeta tahun 2890 silam.

Ambisinya memang sangat menggebu-gebu sejak muda. Dan, ketika mertuanya yang baru saja lengser dari kursi presiden, ia mengumpulkan banyak tentara dari berbagai daerah menuju ibukota. Untungnya niat jahatnya tersebut berhasil digagalkan. Seandainya saja terwujud, maka kudeta berdarah pasti tak terhindarkan di negara.yang berjuluk Emas Hitam itu. 

Parahnya lagi, kalau saja kudeta tersebut berhasil, tentu saja semua sendi kehidupan akan diisi oleh para tentara. Mulai dari kementerian, pelatihan sipil, hingga ruang kelas para siswa. Singkat kata, para tentara akan mendominasi seluruh ruang kehidupan di sana.

Setelah gagal melakukan kudeta, tahun-tahun berikutnya ia isi dengan usaha menjadi presiden dengan cara sipil. Perjalanan politiknya banyak rintangan. Ya, kalah dan kalah lagi dalam pemilihan presiden. 

Nah, atas bantuan para elit global lah, akhirnya ia berhasil menjadi presiden dengan cara curang. 

Lantas apa yang dilakukannya sebagai presiden curang? Sebagai mantan tentara, cara-cara militer ia terapkan di banyak sendi kehidupan. Dirinya juga sering melakukan lawatan di negara-negara besar untuk mencari dukungan politik. Pidato demi pidato sering ia tampilkan dengan membangga-banggakan dirinya yang menurutnya lebih hebat daripada para mantan presiden sebelumnya.

Poin terakhir di atas itulah yang sangat merugikan bangsa dan negara itu. Segala cara dilakukannya untuk bisa terlihat sangat hebat. Mulai dari memberikan siswa makanan gratis yang menelan biaya sangat besar, pendirian koperasi di desa-desa yang juga menguras anggaran negara, merusak hutan demi bisa menanam padi agar swasembada pangan, membangun gedung-gedung sekolah rakyat yang pastinya membebani kas negara, dan banyak lagi demi dirinya bisa tampil wah. 

Lalu bagaimana tanggapan rakyat di sana? Pastinya mereka yang masih berakal sehat, tidak setuju dengan segala aktivitas buruknya tersebut. Demonstrasi demi demonstrasi digelar sebagai reaksi jujur mereka. Namun, sebagai seorang yang tidak memiliki empati terhadap sesama manusia, dirinya yang dikenal sebagai Bapak Gila Pujian itu tak mau ambil pusing. Baginya jeritan rakyat adalah lolongan anjing malam. Bahkan, dalam sebuah pidatonya, presiden yang bernama lengkap Pascawow Subotol tersebut mengatakan "emang gue pikirin" yang artinya ia tak memikirkan suara kesakitan rakyat di sana. 

Thursday, July 9, 2026

Intelijen Surat Dinas Kementerian Bertindak Cepat

Ilustrasi: Pixabay 

Di Republik Korupsia sedang heboh adanya kebocoran surat dinas di Kementerian Pekerjaan Khusus (PK). Surat yang tersebar luas itu merupakan dokumen administrasi untuk memenuhi persetujuan pengurusan visa.  Terkait hal itu, pihak intelijen surat dinas kementerian (ISDK) di sana menganggap perlu penyebarluasannya ke publik. Pasalnya, di dalam surat tersebut tercantum nama pihak keluarga sang mentari yang bakal turut serta melakukan perjalanan ke Amerika Serikat. 

"Itu (surat tersebut) sangat mencurigakan. Ada nama keluarga sang menteri di dalamnya. Jadi, publik sebagai pembayar pajak tentu harus tahu, 'kan siapa saja yang akan ke Amerika Serikat bulan depan? Jangan sampai uang pajak digunakan untuk aktivitas yang sia-sia!" tegas Kepala ISDK kepada awak media.

Sementara itu Menteri Pekerjaan Khusus, Dodol Hariroyo, M.Si, hingga berita ini diturunkan belum memberikan klarifikasi apa pun. 

Ya, semoga saja pemerintah di negara yang dikenal dengan julukan Gudang Koruptor tersebut dapat mengatasi aktivitas-aktivitas yang berpotensi menguras anggaran pengeluaran.dan belanja negara mereka.

Si Omon-Omon SELALU Bombastis, Rakyat Melongo

Ilustrasi: Pixabay 

Kalau bicara, dirinya selalu saja menyuarakan yang muluk-muluk, tapi kosong. Ya, kata-katanya hanyalah omong kosong belaka. Ia dijuluki oleh sebagian besar rakyatnya sebagai si Omon-Omon pengingkar janji.

Benar, ia adalah seorang presiden di Republik Gemoyan. Saat kampanye politik menjelang pemilihan presiden, dirinya banyak berjanji. Sebutlah contohnya kesehatan gratis, pendidikan gratis, dan bahan bakar minyak murah. Tapi nyatanya, setelah menjadi presiden, dirinya termasuk pemimpin negara pembohong kepada rakyat di negara yang dipimpinnya. 

Sejatinya ia lebih fokus pada kesejahteraan dirinya dan para penjilat di sekitarnya. Program-program yang ia jalankan selalu saja tidak berpihak kepada rakyat. 

Alih-alih bertindak untuk kemakmuran rakyat seperti omongan besarnya, setiap hari dirinya kian menyiksa rakyatnya sendiri. Hal itu begitu terasa dengan perluasan pajak. Para penjual daring dan pelaku UMKM, misalnya, sangat merasakan pemalakan olehnya yang dikenal dengan pajak.

Singkat kata, jargon terselebungnya dalam memimpin negara adalah, PAJAK, PAJAK, PAJAK di balik omon-omon mulut besarnya.