Thursday, May 14, 2026

Mengapa Asing Sebut Prabowo sebagai Perusak?

Ilustrasi: Pixabay 

"Dasar bocah! Sukanya hanya merusak dan merusak!" Benjuto terlihat sangat jengkel kepada anak Mulyono.

Sedang anak tersebut berlari sangat cepat menuju rumah orang tuanya. Dan, selang lima belas menit kemudian ayahnya menghampiri temannya yang masih jengkel itu.

"Nih kuganti gucimu yang pecah oleh anakku."

Benjuto memandang tajam Mulyono.

"Udaaah ga usah memandangku seperti itu! Terima saja uang ini. Terimalah!"

"Anakmu itu memang kelewatan, tapi karena aku masih memandangmu sebagai teman, aku terima."

"Nah, gitu baru asyik."

Beberapa waktu mereka saling membisu. Dedaunan di dekat mereka tampak bergerak-gerak lincah. Debu jalanan juga beterbangan sesuka hati. Sore itu angin memang cukup kencang. Untungnya kedua pria tersebut berambut cepak sehingga tidak mengalami yang namanya rambut berantakan. 

"Oh iya, soal merusak, tadi aku baca The Economist. Salah satu isinya menyebutkan bahwa Presiden Prabowo Subianto sedang merusak ekonomi dan demokrasi di Indonesia."

"Sepertinya media asing itu mengamati sepak terjangnya yang dinilai merusak."

"Ya. Memang terlihat jelas, 'kan? Terutama program makan bergizi gratis yang tidak mendatangkan laba seperser pun. Padahal uang yang digunakan untuk menjalankannya sangatlah besar."

"Di bidang ekonomi sudah banyak pihak menilai program makan-makan itu sungguh membebani keuangan negara kita."

"Sungguh sangat memperihatinkan. Negara berkembang, tapi diperlakukan sebagai negara adidaya. Ibarat motor 125 CC digunakan untuk balapan di kelas 1000 CC."

"Maka, yang ada berupa jalan menuju kehancuran dan kekalahan besar."

"Tapi, bagaimana lagi? Program tersebut harus tetap dijalankan."

"Belum lagi program-program lainnya yang juga sangat boros. Pembelian mobil dari India, pendirian koperasi, hingga pengadaan sepatu siswa, misalnya."

"Jujur, aku penasaran dengan masa depan Indonesia ini."

"Apa pemilu tahun 2029 akan seperti yang diprediksikan banyak orang bahwa semuanya bisa dimainkan?"

"Entahlah? Banyak orang mengatakan bahwa pemilu hanyalah ajang sandiwara. Sekadar formalitas."

"Oh demokrasi, bisa dengan mudah dirusak oleh elit yang ingin menang!"

"Begitulah."

***

Klaim Pejabat: Berhasil, Benarkah?

 

Ilustrasi: Pixabay 

"Kamu masih ingat si Agus ga?"

"Agus yang mana ya? Soalnya nama Agus itu bejibun.Ada Agus Prabojo, Agus Sebentar, Agus Hdup Jomini, dan banyak lagi."

"Itu lho.yang dulu pacaran ama anaknya pak lurah."

"Lurah yang mana dulu? Lurah yang suka ngibul atau yang gemar jalan-jalan?"

"Bukan kedua lurah itu."

"Terus yang mana?"

"Lurah Soehanta."

"Owh iya, aku masih ingat. Ia dulu yang jadi komandan hansip di sana, 'kan?"

"Benar sekali."

"Bagaimana nasibnya.sekarang?"

"Diinya udah sukses. Udah jadi camat."

"Waaah mujur sekali nasibnya. Terakhir yang aku tahu, setelah jadi komandan hansip, dirinya  dipecat dengan tidak hormat akibat kasus kekerasan, lalu sempat kabur sampai di Bogor."

"Begitulah nasib. Tidak bisa ditebak."

"Gitu aja beritanya?"

Titik menggeleng.

"Terus apa lagi?"

"Kudengar ia tak disukai warga di kecamatan yang dipimpinnya."

"Mengapa?"

"Dirinya selalu saja mengklaim semua programnya berhasil. Padahal sebaliknya."

"Contohnya?"

"Soal koperasi yang didirikannya. Ia mengklaim bahwa koperasi itu sukses besar. Padahal nyaris tak ada masyarakat yang mau jadi anggotanya. Contoh lainnya terkait menaikkan gaji hansip 280 persen, tapi kasus pencurian kian merajalela di sana."

"Wadduh! Parah sekali dirinya."

"Ya, benar sekali. Parahnya lagi ia selalu berkoar-koar di banyak kecamatan bahwa hasil kerjanya sukses besar."

"Menurutku ia sakit. Perlu dibawa ke psikiater atau kalau perlu di rumah sakit jiwa."

"Udah banyak yang menyarankan kayak gitu. Tapi masalahnya, dirinya antikritik dan merasa berada di jalan yang benar."

Sonia tampak geleng-geleng. Sedang teman bicaranya tersebut hanya bisa duduk terpaku. Sementara itu angin sendalu berembus pelan menerpa mereka. 

***


Wednesday, May 13, 2026

BBM Aku Kok Cepet Habis Ya? Efek Ga Naik Harga Apa Ya?

Ilustrasi: Pixabay 

"Ah, paling perasaan lu aja kali?!"

"Ciyusan. Guwa pake ni motor sejauh 100 kilometer, biasanya cuma butuh dua liter pertalite. Nah kemarin itu, baru aja 50 kilometer, eh udah habis dua liter."

"Busyet dah! Berarti lu ngisi satu liter, tapi isi pertalite yang murni cuma setengahnya doank?"

Rita mengangguk.

"Weddew! Gile bener!"

"Guwa yakin ini akal-akalan biar rakyat ga demo."

"Bener kata lu. Kalau harganya dinaikkan, besar kemungkinannya rakyat pada demo. Jadi, biar aman, kandungannya aja yang dikurangin, tapi harga tetap normal."

"Capek banget dah hidup kayak gini."

"Ya, semoga aja perang Iran versus Amrik segera kelar."

"Moga aja demikian."

"Kalau ga, kite-kite yang bakal susah ampe kakek nenek!"

***


 

Kesetiaan Syarat Menjadi Pemimpin Hebat

Ilustrasi: Pixabay 

Pernah suatu waktu ada seorang sastrawan menjual buku-buku karyanya dalam sebuah acara sastra tingkat provinsi. Sebutlah namanya Sapu Jagat. Saat itu dia menjadi salah seorang pembicara di sana. Karena kondisi inilah, ia terpaksa tidak bisa menjaga lapak dagangannya tersebut.

Untuk bisa terus berdagang, dirinya mengajak salah seorang sastrawan lain menjaga dan melayani pembeli. Kita sebut saja temannya itu si Udang. Awalnya ia sangat senang karena ada temannya yang mau diajak kerja sama. Namun, apa yang terjadi? 

Ketika dirinya selesai mempresentasikan makalahnya, ia terkejut. Lapak dagangannya tidak ada yang jaga. Temannya raib ditelan bumi. Usut punya usut, ternyata ada sastrawan lainnya yang meracuni pikiran temannya tersebut agar tidak mau menjaga lapaknya. Ya, kata-kata racun itu lebih kurang seperti ini, "Anda ini seorang sastrawan yang hebat. Karya-karya Anda sudah melanglang buana. Mau-maunya Anda bekerja begini. Sudah, tinggalkan saja! Tidak pantas Anda menjaga lapak buku kecil ini."

Tentu saja hatinya sedih setelah tahu kronologi kejadiannya. Padahal kurang baik apa dirinya memperlakukan sastrawan penjaga lapak dan sastrawan penebar racun tersebut. Bahkan, si penebar racun itu sering numpang tidur dan makan di rumahnya.

Cerita di atas memang benar-benar nyata. Bukan fiksi. Dari sini kita bisa melihat betapa pentingnya kesetiaan dalam berteman. Seorang teman idealnya tetap setia membuat temannya selalu bahagia. Hal ini juga berlaku pula bagi seorang pemimpin. Sebab, pemimpin itu sejatinya adalah teman bagi orang-orang yang dipimpinnya. Ada hubungan pertemanan yang baik antarkedua pihak. Dalam konteks kenegaraan, misalnya, presiden dan rakyat harus ada hubungan harmonis agar tercipta negara yang maju.

Presiden harus sering-sering mengunjungi dan mendengarkan segala yang dikatakan rakyatnya, apa pun jenisnya. Kalau berupa kritik, ya diterima dan ditindaklanjuti. Jika berupa permintaan semisal perbaikan jalan rusak, ya segera diperbaiki.

Begitu idealnya sehingga tidak ada jurang pemisah antara pemimpin dan yang dipimpin. Kedua pihak saling berteman dan setia. Bukan malah sebaliknya, rakyat dan pemimpin menjadi dua kubu yang saling berseberangan.


B.J. Habibie Lebih Unggul daripada Prabowo Subianto

Foto: Wikipedia 

Terkait nilai tukar rupiah, bisa dikatakan hingga saat ini B.J. Habibie lebih unggul daripada Prabowo Subianto ketika sama-sama berstatus Presiden Indonesia. Betapa tidak? Pakar pembuat pesawat itu berhasil memperkuat rupiah dari Rp16.800 menjadi Rp6.550 per dollar Amerika Serikat.

Itu prestasi luar biasa sepanjang sejarah Indonesia. Dan, jika dibandingkan dengan masa sekarang, jauh sekali perbedaannya.

Kala itu, Presiden B.J. Habibie sibuk bekerja demi Indonesia khususnya rakyat di dalamnya. Pengganti Presiden Soeharto tersebut berani mengambil langkah penting berupa restrukturisasi perbankan. Sebutlah misalnya menggabungkan empat bank berplat merah menjadi satu bank, yakni Mandiri. Ini berfungsi memperkuat sistem keuangan nasional. Bank Indonesia juga dibuat terbebas dari intervensi politik dengan membuatnya independen dengan Undang -Undang Nomor 23 Tahun 1999.

Yang tak kalah pentingnya, Presiden Habibie waktu itu menstabilkan harga kebutuhan pokok dengan tidak menarik subsidi BBM dan listrik. Sehingga, rakyat tidak semakin sengsara. 

Nah, kalau sekarang lebih kepada menu makan bergizi gratis, pengadaan mobil impor, pembuatan genteng, kunjungan ke luar negeri, pendirian koperasi desa, menambah utang negara, dan aktivitas-aktivitas lain yang sifatnya memperbesar penggunaan anggaran belanja negara. 

Itulah sebabnya, banyak pihak juga berpendapat seharusnya Prabowo Subianto meniru langkah strategis B.J. Habibie yang bekerja sepenuhnya untuk Indonesia. 


Keracunan MBG Belum Dikalahkan Juri di Kalbar

Ilustrasi: Pixabay 

Kata sebagian orang, kasus keracunan akibat makan bergizi gratis (MBG) masih unggul daripada kasus juri dan pewara lomba cerdas cermat di Kalimantan Barat. Ya, meskipun sudah diledakkan dengan bahan peledak tingkat tinggi, tetap saja kalah jauh dari yang namanya racun.

Benar, racun lebih kuat daya rusaknya sampai ke hati terdalam. Betapa sedihnya para orang tua yang anak-anak mereka meninggal dunia akibat keracunan MBG. Kehilangan orang-orang terkasih benar-benar menyayat jiwa. Dan, kasus ini bisa dikatakan berkepanjangan. Dari satu sekolah ke sekolah lainnya. MBG yang telah menjadi racun sangat meresahkan publik. 

Di bawahnya, ada kasus berupa MBG basi. Lalu ada MBG berulat. Di bawahnya lagi, MBG kurang memenuhi unsur gizi. Bahkan, ada yang berupa sebiji buah kelapa muda dan siswa disuruh memilih sendiri untuk dibawa pulang. 

Ketidakberhasilan MBG sebenarnya menjadi catatan paling menggelisahkan dalam sejarah politik dunia internasional. Program lanjutan dari Jokowi ke Prabowo tersebut masih jauh dari predikat baik. Perlu perbaikan luar biasa di banyak sisi guna mewujudkan Indonesia emas pada masa datang.

Kalau diperhatikan, MBG akan dikatakan berhasil setelah kepemimpinan Prabowo Subianto berakhir. Mungkin sekitar tahun 2040.  

Menurut sebagian orang yang lain lagi, periode kedua Prabowo Subianto yang didukung Barat, yakni 2029--2034 masih sekadar klaim keberhasilan MBG secara sepihak (pihak presiden). 

Lantas, bagaimana menurut Anda? 

Monday, May 11, 2026

JK dan Amien Dukung Anies 2029?

Ilustrasi: Pixabay 

Cukup kuatlah mereka berdua berperang demi Anies? Ini pertanyaan paling akar sebelum tumbuh menjadi tanaman bangsa. 

Menurut sebagian orang, agaknya dua naga itu terlalu lemah jika dihadapkan pada dua kekuatan besar dunia. Pertama, kekuatan rantai bambu. Disebut rantai karena sebenarnya yang pertama ini adalah gabungan dua kekuatan, yakni Cina Pusat (Republik Rakyat Cina) dan Cina rantauan (pengusaha sukses berdarah Cina di Indonesia). 

Masih kata sebagian orang juga, keduanya berpadu dalam menguasai Indonesia. Ya, penguasaan yang dilakukan melalui penempatan "orang mereka" menjadi presiden di negara berjulukan jamrud khatulistiwa ini. Untuk melawan kekuatan yang pertama  sangatlah sulit. Jejak rekam rantai bambu sudah terbukti hebat. Konon, Amerika Serikat saja sudah lebih daripada satu kali mereka kuasai melalui Partai Demokrat di sana. Sebutlah, Bill Clinton, Barack Obama, dan Joe Biden merupakan orang-orang mereka. 

Nah, lalu kekuatan kedua. Kekuatan ini adalah kelompok barat yang juga sangatlah susah dilawan. Melihat fenomena seperti itu, Jusuf Kalla dan Amien Rais pasti kewalahan. Ujung-ujungnya berakhir dengan kekalahan. 

Lantas, bagaimana caranya agar kedua pria sepuh tersebut berhasil memenangkan Anies Rasyid Baswedan dalam Pilpres 2029?

Kata sebagian orang yang lain lagi, mereka harus bersekutu dengan salah satu kekuatan besar itu. Pastinya dengan bersedia mengiyakan seluruh kehendak kekuatan yang mereka pilih sebagai sekutu. 

Yaaah, begitulah kata orang-orang mengenai isu tentang upaya Jusuf Kalla dan Amien Rais berjuang mengusung Anies menjadi Presiden Indonesia. Semuanya hanyalah pendapat. Bisa salah, bisa benar. Anda pun bisa dan boleh berpendapat apa saja terkait dengan hal di atas.