Monday, June 1, 2026

Lawan Kelompok Antitanah Air, seperti Pembeli Mobil Asing

Foto: Pixabay 

Sebagian pihak mengatakan bahwa para pembeli mobil asing dengan jumlah yang sangat banyak bisa dikategorikan antitanah air. Menurut mereka, seharusnya belilah produk lokal. Selain itu, pihak yang memberikan akses negara asing terbang di langit negaranya juga merupakan bagian dari kelompok ini. 

Kedua contoh di atas terjadi dalam dunia fiksi. Ya, keduanya bisa dikatakan merupakan fakta-fakta dalam realitas imajiner. Dan, kita patut bersyukur dalam realitas nyata tidak ada orang yang demikian. 

Akan hancur negara jika ada yang antitanah air. Bayangkan saja, mobil harus buatan asing, ruang udara dikasihkan kepada negara asing, apalagi seandainya kecintaannya terhadap asing semakin besar. Bisa-bisa setiap bulan akan melakukan perjalanan ke luar negeri untuk menikmati yang asing-asing. Alhasil, tanah air hanyalah tempat yang tak bernilai apa-apa di matanya. Parahnya, hal tersebut dapat melahirkan aktivitas yang merusak tanah air semisal penebangan hutan secara brutal.

Untuk itulah, idealnya sejak dini para orang tua menumbuhkembangkan kecintaan tanah air kepada anak-anak. Begitu pula di dunia pendidikan harus melakukan hal yang sama. Dengan begitu, diharapkan tanah air tetap dijaga dan dirawat secara baik dan benar. 


 

Pemerintah Ini Adalah Kebohongan

Ilustrasi: Pixabay 

"Presiden dan wakil presiden suatu negara dipilih oleh pemerintah negara lain sebagai boneka dan wakil boneka mereka."

"Kedengarannya menarik. Siapa penulis buku yang kamu baca itu?"

"Namanya Menjala Ikan Sungai."

"Wow keren sekali namanya."

"Kata-katanya?"

"Keren juga."

"Kalau keren, berarti kamu percaya ada negara dengan presiden dan wakil presiden seperti itu?"

"Pastinya."

"Tapi, ini buku fiksi lho! Emang ada contoh nyatanya?"

"Ada."

"Negara mana?"

"Negara itu ada di Asia Utara sekitar 2.000 tahun lalu. Namanya Batukensia."

"Kalau pemerintah yang memilih mereka dari negara mana?"

"Owh, kalau itu negara di bagian selatan bumi ini. Namanya Tulangan Iwak."

"Kok bisa?"

"Bisa lah. Negara-negara kecil tanpa kekuatan militer dan ekonomi yang besar, mudah diperlakukan demikian oleh negara adidaya."

"Pemilihan keduanya bagaimana?"

"Sudah ditentukan siapa yang bakal menjadi presiden dan wakilnya. Pemilu hanyalah sandiwara."

"Mengenai penghitungan di lapangan?"

"Angka-angka dengan mudah direkayasa mereka. Dan setelah semuanya usai, pemerintahannya pun penuh kebohongan."

"Rakyat terus-menerus dibohongi?"

"Ya. Bilangnya putih, tapi di lapangan hitam. Kalau dikriitik, jawabannya juga berisi kebohongagan."

"Misalnya?"

"Perjalanan dinas presiden ke luar negeri disebut memakai uang pribadi presiden, padahal dari anggaran negara."

"Wah parah banget!"

"Ya begitulah."

"Lalu bagaimana akhir cerita dari negara itu?"

"Bubar."

"Penyebab utamanya?"

"Selain soal kebohongan, itu juga dikarenakan oleh pemerintah yang berupa kebohongan tersebut terlalu besar menaikkan pajak. Rakyat, baik dari kalangan bawah, maupun para pengusaha kelas atas berontak, lalu mendirikan beberapa negara baru di sana."

"Wadduh!"

***


Sunday, May 31, 2026

Presiden Perut

Ilustrasi: Pixabay 

"Dengar-dengar pak presiden ngebahas soal lapar. Benar begitu?"

"Halaaaah itu mah emang udah menjadi agenda rutin yang ada dalam setiap pidatonya."

"Maksudmu gimana? Maklum aku nggak pernah dengerin kalau bapak itu lagi pidato."

"Jadi, ngebahas perut udah jadi persembahan rutin yang keluar dari mulut bapak itu."

"Termasuk perut buncitnya?"

"Ha ha ha ha ha!" (Mereka tertawa bersama dengan nyaring dan keras.)

"Yaaa intinya pemerintahan era si bapak itu emang khusus mengenai perut. Mulai perut kosong hingga perut buncit."

"Iya sih. Ga ada program lain. Hanya perkara perut dan perut. Menurutku sih hal tersebut terlalu monoton. Apa ya istilah tepatnya...? Hmm... Pokok kehidupan ini dimaknainya begitu sempit, yakni hanya soal perut."

"Padahal masih banyak yang harus diselesaikan. Kita lihat saja bagaimana susahnya para pelajar di pelosok untuk menuju sekolah mereka. Bahkan, ada sejumlah pelajar yang harus menyeberangi sungai dengan memakai baskom."

"Hadeeeuh! Kalau begini terus, agaknya negara kita tidak akan mengalami kemajuan."

"Boro-boro maju, bertahan aja susah. Contohnya aja nilai mata uang kita yang terus saja melemah. Harga-harga menjadi naik di masyarakat."

"Dan, saat rakyat menjerit, si bapak presiden adem ayem aja. Dia sibuk dengan dirinya sendiri."

"Termasuk ngurusin perut buncitnya."

"Ha ha ha ha ha!" (Sekali lagi mereka tertawa terbahak-bahak.)

***

Pejabat Menutup Mata, Rakyat Tidak Terlihat


Ilustrasi: Pixabay 

"Kita ibarat bulan baru yang tak terlihat oleh para pejabat."

"Lalu mereka sepakat bahwa awal bulan baru masih belum terjadi."

"Ha ha ha. Kalian ini memang sering berkata benar. Mereka mana mau membuka mata untuk melihat kita?"

"Ya. Misalnya saja ketika mata uang kita melemah, eh ada saja pejabat pikun bilang bahwa orang kota tidak menjadikan dolar sebagai bahan makanan."

"Lalu ada juga pejabat lain yang mengatakan lemahnya mata uang kita bagus untuk menarik wisatawan asing."

"Tak pantas para pejabat berkata-kata yang seperti itu. Mereka tidak melihat rakyat tercekik dengan melambungnya harga-harga barang dan jasa akibat kian melemahnya mata uang kita."

"Bagi mereka, kenaikan harga yang demikian hanyalah bahan candaan. Uang mereka banyak. Jadi, kenaikan yang bagaimana pun tak ada dampaknya bagi para pejabat itu."

"Sungguh jahat sekali mereka."

"Benar-benar zalim."

"Seharusnya mereka diusir saja dari negara kita."

"Kalau diusir, paling mereka balik lagi."

"Betul sekali. Seingatku dulu ada seorang pejabat yang melakukan kejahatan kemanusiaan yang kabur ke luar negeri, eh akhirnya dia balik lagi."

"Owh, iya aku juga masih ingat. Dia yang dipecat dengan tidak hormat itu, 'kan?"

"Aku juga masih ingat. Namanya Pascabawang Kubismantao yang melakukan kejahatan luar biasa terhadap rakyat tahun 1900 lalu."

"Jadi, percuma mengusir para pejabat."

"Dan, kita hanya bisa menerima kejahatan demi kejahatan mereka setiap hari."

***


Agenda Tersembunyi Sang Presiden Tahun 2089

Ilustrasi: Pixabay 

"Ada sebuah partai mencurigai.agenda tersembunyi sang presiden saat ini."

"Ya pastilah. Masa sekarang memang masanya saling mencurigai satu sama lain."

"Kalau kagak begitu bukan politikus namanya, melainkan penjual tikus."

"Tapi, lu percaya ga sih ada agenda tersembunyi gitu?"

"Kalau guwa 100% percaya."

"Alasannya?"

"Lu tau sendiri negara kita belum mandiri. Masih disetir negara-negara besar.  Siapa pun presidennnya dari dulu sampe sekarang ya masih sama."

"Terus hubungannya apa ama agenda tersembunyinya?"

"Ada dua sih kemungkinan kuatnya."

"Apa aja?"

"Pertama, presiden saat ini memanfaatkan kekuatan barat untuk menyaingi kekuatan timur di negara kita. Motifnya ya agar dia bisa menang pilpres berikutnya dengan dukungan barat. Makanya apa aja yang diminta negara-negara barat pasti dia iyain. Bahkan, dia pinter tuh diam-diam juga minta dukungan negara besar dari blok timur."

"Ooowh ama om Plamir?"

"Naaaah benar sekali."

"Yang kedua?"

"Kedua, kemungkinan besar dia emang antek barat. Tujuannya jadi presiden ya buat njadiin negara kita bagian dari barat."

"Busyet dah."

"Dan, para pemilik kekuatan timur mulai gundah. Yaaa khawatir aja kalau negara kita jatuh di tangan barat."

"Tapi, timur juga hebat, Bro. Di negara kita aja ada tuh seniornya agen Ministry of State Security atau MSS."

"Jamal Rendy maksud lu?"

"Betul. Jadi, bakal kian seru ya peperangan timur dan barat di negara kita."

"Paastiiiii."

***


Langkah-Langkah Jitu di Balik Menguatnya Ringgit Malaysia

Ilustrasi: Pixabay 

Pertama, memangkas biaya kunjungan kerja ke luar negeri. Ini bertujuan agar dananya dialihkan untuk kesejahteraan rakyat. Malaysia memang sedang menerapkan efisiensi anggaran di seluruh kementerian, kecuali sektor krusial yang meliputi pendidikan, infrastruktur dasar, dan kesehatan. 

Kedua, segala program pelatihan aparatur negara digelar di fasilitas pemerintah. Tidak boleh dilakukan di hotel mewah. 

Intinya dana negara dihemat demi rakyat Malaysia. Dan, ini sudah berhasil. Buktinya Pemerintah Malaysia sukses menghemat dan menyalurkan kembali dana sebesar RM15,5 miliar kepada masyarakat. Kalau dirupiahkan sektra Rp69,57 trilyun. 

Penyaluran dana kepada masyarakat tersebut berupa penyaluran Sumbangan Tunai Rahmah dan Sumbangan Asas Rahmah, suntikan dana tambahan sebesar RM15 miliyar untuk perbaikan puluhan ribu toilet sekolah, dan pembagian voucher buku senillai RM100 bagi seluruh pelajar dan mahasiswa, 

Ketiga, komitmen kuat dalam pemberantasan korupsi di bawah kepemimpinan Anwar Ibrahim yang mendongkrak perekonomian Malaysia. 

Keempat, kebijakan luar negeri Malaysia yang berprinsip independen dan tegas terhadap isu-isu internasional dalam panggung global menjaga kuatnya hubungan dagang dan aliran dana investasi negara-negara besar.

Kelima, berdoa dengan sungguh-sungguh. 

Alhasil, stabilitas politik terjaga dengan baik dan akibatnya kepercayaan investor pun tidak mengalami penyurutan. Ringgit pun menguat. 

Saturday, May 30, 2026

Panggung Geopolitik untuk Keuntungan Negara Lain

Ilustrasi: Pixabay 

"Ada yang bilang presiden kita pandai membangun komunikasi di kancah internasional."

"Betul. Pake banget malah, tapi untuk menguntungkan negara lain."

"Ha ha ha benar katamu. Dia berkunjung di negara A untuk menawarkan diri sebagai pembeli beras, daging, dan susu, misalnya."

"Dirinya juga langsung tunduk dan patuh kepada presiden yang dia kunjungi. Apa pun yang diminta, langsung diiyakannya."

"Ah, kamu tahu aja."

"Ha ha ha. Mana mungkin tidak tahu. Soalnya sudah rahasia umum. Bandara yang sepi itu aja udah dia serahin kepada Presiden Keong Putih."

"Kalau begitu, bisa dikatakan dirinya adalah budak dari presiden-presiden lainnya."

"Dirinya memang budak yang menjadi mainan menyenangkan bagi para pemimpin dunia."

"Waaaaah keren ya mereka. Para pemimpin negara maju itu memang dahsyat. Beda sekali dengan presiden negara dari dunia ketiga seperti Uwa Uwa yang hanya bisa berfoya-foya dan matahin kayu meja."

"Hayyaaaaaaa. Jelas laaaaah beda kelas. Ooooh, kapan ya negara kita menjadi negara maju?"

"Yaaaa, kapan-kapan."

"Ha ha ha ha ha ha ha!"

***