![]() |
| Ilustrasi: Pixabay |
Dua ratus tahun yang lalu di Negara Batuisi terjadi anomali dalam hal pangan. Presiden di sana yang bernama Wopra Ansu membahas soal harga beras. Rakyat di negara tersebut secara apa adanya menyebut bahwa harga beras kala itu tergolong mahal. Padahal sang presiden dengan bangga menyatakan Batuisi sedang swasembada pangan.
Menurut masyarakat, kata "swasembada" hanyalah kebohongan belaka. Pasalnya, jika memang benar demikian, pastilah harga beras murah karena jumlahnya berlimpah.
Nah, lantaran Presiden Wopra Ansu seorang pemarah yang antikritik dan ingin menutupi kebohongannya soal swasembada pangan itu, ia pun langsung mengatakan "Yang bilang beras mahal, suruh tanam padi sendiri."
Tak pelak, rakyat langsung tersentak dengan perkataan sang presiden tersebut. Betapa tidak? Perkataannya sungguh tidak beradab. Benar-benar tidak ada unsur empati terhadap rakyat. Sama sekali tak pantas diucapkan oleh manusia mana pun.
Dan, dengan adanya kalimat kasar yang keluar langsung dari mulutnya, muncullah fakta tersembunyi bahwa isi pidatonya yang selama bertahun-tahun berbunyi, "demi rakyat", "untuk rakyat", adalah bentuk kemunafikan dirinya saja. Aslinya tidak ada empati kepada rakyat.









0 comments:
Post a Comment