Saturday, November 16, 2019

Listrik Padam, Apa Masih Laniut Menulis?


Tadi, listrik dipadamkan di area sini. Lampu mendadak mati. Ruangan gelap. Dan, entah mengapa seketika saja pikiran saya mendarat pada warga Palestina di Jalur Gaza. Tak terbayangkan bagaimana pahitnya dan getirnya derita mereka akibat gempuran tentara Israel yang bertubi-tubi. Bukan hanya listrik yang padam dan bangunan yang luluh lantak, tapi juga nyawa-nyawa yang terpisah dari raga mereka.

Hal di atas adalah gambaran betapa tidak sempurnanya akhlak sebagian manusia yang antipati terhadap sesama. Keji!

Lalu apa hubungannya dengan menulis? Jika listrik padam di sini tadi menjadi pemantik bayangan tentang kondisi umum Jalur Gaza, maka listrik padam juga ibarat kebuntuan ide bagi penulis.

Ya, orang lebih mengenalnya dengan nama writer block. Kondisi mental dalam menulis ini membuat yang bersangkutan kesusahan menuangkan gagasan atau idenya ke dalam wujud tulisan.

Konon, dari sisi psikologis, penyebab utama virus ini ialah ketidakbahagiaan. Rasa ini muncul oleh beberapa faktor kejiwaan. Sebutlah kelelahan, sifat apatis, rasa marah, kegelisahan, kesedihan luar biasa, dan lainnya.

Saat kita kelelahan misalnya, tentu yang diinginkan adalah istirahat termasuk mengistirahatkan jiwa kita, 'kan? Perkara menulis pun menjadi pilihan ke sekian.

Begitu pula ketika sedang ditimpa kesedihan luar biasa seperti meninggalnya ayah kandung kita, menulis menjadi kegiatan yang susah dilakukan.

Lantas apa yang perlu dilakukan? Tampaknya yang paling ideal adalah meninggalkan sejenak aktivitas menulis. Dalam hal ini para penulis bisa melakukan hal-hal lainnya yang menjadi sarana menentramkan jiwa atau segeralah beristirahat. InsyaAllah ide yang baru akan datang untuk dituliskan sebagai kelanjutannya.

Friday, November 15, 2019

Ide Itu Sekaget Aku Bertemu Kamu


Ha ha ha... Jujur, saya tidak bisa menahan tawa membaca judul di atas. Kok bisa-bisanya ide sama dengan kagetnya seseorang bertemu seorang lainnya? He he he.

Ini murni muncul secara tiba-tiba. Maka, saya tulis saja judulnya seperti apa adanya. Ya, ide itu begitu cepat datangnya. Mirip jet tempur F-16. Dan, mungkin lebih cepat lagi geraknya. Melesat cepat!

Jika tak segera dituliskan, ide pun pergi dengan terburu-buru. Itulah sebabnya, ide itu sejatinya  segera disyukuri. Tidak boleh disia-siakan. "Alhamdulillah!" Lalu segeralah digarap!

Lantas apa hubungannya ide dengan perkara "kaget" dan "bertemu kamu" pada judul di atas?

Sebenarnya itu terinspirasi dari perkataan dua orang teman saya. Katanya ia kaget dan yang seorang lagi mengatakan soal ingatan. Dan, yang terakhir tadi saya tambahkan ingatan tentang seseorang, bisa teman atau lainnya.

Walaupun terkesan tidak ada hubungan antara ide dan kaget plus bertemu kamu, tapi kalau dipikirkan akan nyambung juga. Bagaimana ceritanya?

Sebutlah seorang wanita bernama Bunga duduk sendirian di taman sebuah kota. Embusan angin sendalu menerpa wajahnya bertubi-tubi. Rasa nyaman begitu terasa olehnya. Kemudian, mendadak sebuah ide mendarat di otaknya. Begitu cepat. Ya, secara tiba-tiba dan tanpa disangka-sangka. Kejadian itu sama ketika dirinya bertemu dengan kekasihnya tanpa disengaja. Benar, tepatnya dua hari yang lalu. Ia kaget bertemu Kumbang yang dicintainya di rumah pamannya sendiri. Sungguh tak terduga.

Singkatnya, bisa dikatakan antara ide dan kaget sama-sama mendadak, tak terduga, tanpa disangka-sangka, dan berlangsung cepat.

Nah, bagaimana menurut Anda? Apa pun itu, selalulah bersyukur dengan ide-ide (baik) yang datang kepada Anda.


Thursday, November 14, 2019

Sastra dan Fisik Indah yang Rupawan


Tadi, ada sebuah status di salah satu media sosial yang dibuat seorang teman. Ia dikenal sebagai sastrawan Indonesia. Untuk menjaga privasi, saya sengaja tidak menyebutkan namanya. Ya, sebutlah namanya Kumbang.

Apa bunyi statusnya? Jika pihak medosnya menanyakan, "Apa yang Anda pikirkan?", maka sang Kumbang ini menjawabnya sedikit jengkel. Kok begitu?

Sebenarnya kejengkelan diriya tersebut bercampur dengan candaan. Ia jengkel karena kalau dirinya mempublikasikan puisi di medsos, tidak ada yang berkomentar atau mengkritisinya. Akan tetapi, saat ia membuat status yang menyangkut perkara fisik dalam pembahasan "dewasa" malah banyak sekali yang berkomentar.

Kalau kita mau memperhatikan media sosial, memang hal-hal demikian sering terjadi. Khusus perkara fisik, terutama yang indah dan rupawan kerap menjadi buah bibir masyarakat di dunia maya. Sebutlah artis. Ada berapa banyak yang menanggapi, termasuk yang berkomentar? Tak hanya puluhan, tapi ratusan ribu.

Kembali ke status sang Kumbang, setidaknya ada yang patut kita perhatikan. Apakah itu? Minimal satu hal, yakni kemenarikan sastra di mata masyarakat luas.

Saya sebut luas karena konteks yang dipersoalkan sang Kumbang memang sifatnya umum. Siapa pun asal berteman di akun medsosnya dapat membaca status itu. Dengan kata lain, bukan hanya dikonsumsi sesama sastrawan. 

Nah, dalam hal ini, suka tidak suka kita harus memahami bahwa masyarakat termasuk sastrawan menyukai segala hal yang menarik. Itu realitasnya.  Kemenarikan inilah yang sangat perlu menjadi perhatian utama jika ingin karya sastra diminati banyak orang. Dan, ini pulalah syarat yang "tidak tertulis" guna dapat membumikan sastra di masyarakat.

Pertanyaannya, sudahkah sastra itu menarik secara luas? Bahkan, lebih menarik daripada fisik yang indah lagi rupawan?

Wednesday, November 13, 2019

Menjadi Sastrawan Idealnya Peka dan Berwawasan Luas?


Akhir tahun ini direncanakan akan ada sebuah acara sastra di salah satu wilayah Indonesia. Sengaja saya tidak menyebutkan nama acaranya.

Lalu seorang teman mengatakan bahwa dirinya kemungkinan besar tidak dapat mengikutinya. Alasannya berat. Ada kegiatan lain di tempat yang berbeda.

Dalam hal ini ada dua acara yang sama-sama penting. Tapi, bukan itu yang terpikirkan oleh saya. Ada sebuah pertanyaan yang pernah saya dengar terkait perkara acara sastra. Apakah itu?

Tentunya bukan soal dana atau semacamnya. Ini tentang kepekaan dan wawasan yang luas, terutama yang berkaitan dengan kehidupan  sesungguhnya di lapangan.

Benar, apakah selama ini selain mengikuti acara sastra, semua penulis yang dalam konteks ini disebut sastrawan sudah berangkat guna mendekati kehidupan langsung tersebut? Ya, mengamati langsung bagaimana kehidupan orang-orang kecil di kolong jembatan, misalnya.

Ah, agaknya ke mana pun tempat tujuannya, terpenting adalah terus mengasah kepekaan dan menambah wawasan masing-masing.


Tuesday, November 12, 2019

Serahkan kepada Ahlinya, Taufiq Ismail Itu Dokter Hewan kok Jadi Sastrawan?


Saya yakin banyak orang pernah menemui kalimat, "Serahkan kepada Ahlinya!" Dengan kata lain, jika diserahkan kepada yang sebaliknya, maka bersiaplah menghadapi kehancuran.

Seorang guru bahasa Indonesia, misalnya, diserahi tugas membedah tubuh pasien di rumah sakit. Kira-kira apa yang akan terjadi pada tubuh si sakit yang dibedah secara asal tersebut?

Atau, seorang psikiater diserahi tugas merancang sebuah rumah makan, kemungkinan besar hasilnya tidak akan sesuai dengan harapan.

Lalu, berlaku pada semua urusankah teori itu?

Pada kenyataannya banyak orang yang bukan berlatar belakang pendidikan keahlian tertentu, tapi ia mampu melakukan pekerjaan secara baik dan benar di bidang tersebut. Sebut saja sastrawan besar Taufiq Ismail. Ia adalah seorang dokter hewan. Meski begitu, dirinya mampu menuliskan puisi-puisi yang berkualitas tinggi.

Dalam hal ini kita benar-benar dihadapkan pada teori dan realitas. Pertanyaannya, manakah yang benar dari keduanya?

Konon, kata orang bijak, "Untuk menjawabnya, kita perlu memperhatikan yang terjadi di lapangan secara cermat." Kita ambil contoh saja tentang keahlian Taufiq Ismail dalam berpuisi di atas.

Meskipun ia seorang dokter hewan yang jauh hubungannya dari perpuisian, namun kecintaannya terhadap dunia sastra telah ditularkan sejak di lingkungan keluarganya yang gemar membaca dan juga sebagai jurnalis.

Dari sanalah Taufiq mulai menulis di berbagai media. Ia pun menjadi wartawan.  Bahkan, dirinya merupakan salah seorang pendiri Majalah (sastra) Horison pada tahun 1966.

Artinya apa? Taufiq Ismail sebenarnya seorang praktisi sastra yang kompeten. Dan, itu ia dapatkan setelah bergelut di dunia kesastraan dalam waktu yang lama. Bisa dikatakan bahwa ia memiliki keahlian bersastra dari pengalaman langsung. 

Maka, ia mampu bersastra karena dirinya ahli dalam bidang itu.

Dengan demikian, teori pada judul di atas itu benar dan telah dibuktikan di lapangan.

Begitukah? Bagaimana menurut Anda?


Monday, November 11, 2019

Mungkinkah bagi Penyair Lebih Baik Sakit Hati daripada Sakit Gigi?


Konon, sakit hati dapat melahirkan perasaan sedih, kecewa, bahkan marah yang luar biasa. Suasana yang emosional itu terkadang menimbulkan masalah serius dalam kehidupan. Ya, tanpa pengendalian jiwa secara sehat, maka tak ada pula kontrol pribadi. Alhasil, timbullah sikap negatif yang merugikan semisal pembunuhan, baik pada diri sendiri, maupun orang lain.

Kasus gantung diri setelah putus cinta, misalnya, adalah contoh nyata hal di atas. Meskipun pada kenyataannya ada yang seperti itu, bukan berarti bahwa semua orang bersikap demikian jika sedang sakit hati.

Di tangan penyair, sakit hati bisa menjadi energi tersendiri dalam melahirkan karya-karya berkualitas. Setelah diramu sedemikian rupa, tak jarang para penikmatnya (baca: pembaca/penyimak puisi), dapat tersentuh hatinya. Bahkan, efeknya bisa lebih daripada itu.

Contoh, puisi yang lahir dari tangan penyair yang sakit hati karena terjadi pembakaran hutan dan lahan dapat mengunggah jiwa penikmatnya.

Ya, dengan diksi yang tepat dalam melukiskan kondisi pepohonan, semak-semak, dan  hewan yang terbakar, juga adanya korban berjatuhan terpapar kabut asap, mereka yang membaca atau mendengarkannya pun tergugah jiwanya. Yang tadinya tak mau ambil pusing, menjadi bersimpati dan berempati terhadap kondisi alam dan sesamanya.

Lalu, bagaimana dengan sakit gigi? Saya yakin siapa pun tidak ada yang menginginkannya. Sebab, sakit gigi begitu menyengsarakan penderitanya.

Nah, sampai di sini tampaknya Anda sudah mendapatkan jawaban atas pertanyaan pada judul di atas. Benar begitu, 'kan? Semoga memang benar-benar sudah mendapatkannya.


Sunday, November 10, 2019

Arah Gerakan Literasi Nasional ke Mana, Membaca atau Menulis?


Tahun 2017 saya iseng mengikuti sayembara menulis buku bahan bacaan anak nasional. Sayembara itu bagian dari Gerakan Literasi Nasional (GLN) yang diadakan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (sekarang Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan), Kemendikbud RI.

Yang namanya iseng, saya pun membuat buku tersebut tanpa beban. Mulai mencari dan memahami bahan-bahan bacaan pendukung, menulis naskah buku, membuat ilustrasi, mendesain sampul buku, mencetak, menjilid, hingga mengirimkannya kepada panitia.

Keisengan itu sebenarnya lebih disebabkan oleh adanya waktu luang setelah saya menyelesaikan satu naskah buku horor. Dan, alhamdulillah ternyata merupakan iseng-iseng berhadiah.

Ya, naskah saya dinyatakan lolos seleksi oleh dewan juri. Dari Kalimantan hanya ada dua yang lolos, yakni naskah saya dan satu lagi naskah penulis dari Kalimantan Timur.  Demi perbaikan naskah, saya pun bolak-balik Jakarta-Kalimantan Selatan. Lelah, tapi mengasyikkan.

Setelah berlalu beberapa waktu saya berpikir sejenak mengenai hal itu. Bukan perkara persaingan dan bukan pula soal beratnya sayembara dalam wujud buku cetak. Ini perihal arah gerakan literasi nasional yang memang terus digalakkan semenjak Anies Baswedan menjabat Kemendikbud dulu.

Jika diperhatikan, beberapa pihak menyebutkan bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang malas membaca. Hal terakhir ini konon berdasarkan penelitian di lapangan yang tingkat validitasnya sangat tinggi.

Seandainya kata "malas" itu dijadikan landasan  untuk menjadikan masyarakat Indonesia rajin membaca dengan sayembara di atas, bagaimana menjelaskannya? Jelas-jelas itu adalah sayembara menulis dan bukannya membaca. Maka, tentunya minat dan keterampilan menulislah arah tujuannya.

Jujur saja, sebenarnya saya tidak setuju 100% tentang kata "malas" ini. Sebab, lihat saja betapa hebohnya masyarakat Indonesia membaca dan menulis pesan pendek di ponsel, misalnya. Atau, masih banyak umat Islam yang rajin membaca Alquran setiap harinya.

Bahkan, pada masa menjelang Pilpres 2019 lalu masyarakat Indonesia sangat antusias membaca artikel-artikel berkenaan dengan isu politik saat itu. Hingga kini pun artikel bertema politik masih digandrungi masyarakat Indonesia.

Nah, kembali ke GLN yang salah satu kegiatannya adalah sayembara menulis buku bahan bacaan anak tadi, ingatan saya pun mendarat pada empat jenis keterampilan berbahasa. Apa sajakah itu? Pertama ialah menyimak, berbicara, membaca, lalu menulis.

Artinya apa? Untuk dapat menulis, seseorang wajib membaca. Pastinya adalah bahan-bahan bacaan pendukung untuk dapat menuliskan ide di otak kita.

Dengan adanya sayembara tersebut di atas, mau tak mau para pesertanya harus membaca terlebih dulu bacaan lainnya. Setelah buku dinyatakan lolos dan selesai direvisi, hasilnya pun dapat menjadi bahan bacaan bagi masyarakat Indonesia.

Tampaknya demikianlah yang menjadi arah GLN yang digagas oleh Anies Baswedan kala itu.

Begitukah?


Saturday, November 9, 2019

Pelatihan Menulis dan Pendirian Gedung Megah


Waw! Judul di atas agaknya benar-benar tidak nyambung sama sekali ya? Lha, kalau tidak nyambung kok di kasih waw?

Saya jadi teringat sebuah kalimat, "Bagus sekali tulisanmu ini, Nak, mirip cakar ayam!"

Tapi, benarkah demikian? Sebuah sindiran belakakah?

Tunggu! Jangan-jangan memang ada hubungan antara pelatihan menulis dan pendirian gedung megah. Adakah? Yaaaa mungkin jika dikaitkan-kaitkan akan nyambung juga. Atau, bisa jadi malah menjadi kusut seperti benang layang-layang putus dan terlilit banyak kaki yang melangkah?

Begini Saudara sekalian, sebelum tahu jawabannya, ada baiknya perhatian dulu cerita saya di bawah ini.

Suatu ketika, entah tanggal berapa saya lupa. Yang jelas pada waktu itu saya menjadi salah seorang narasumber dalam penulisan bahan bacaan anak.

Sepanjang jalan menuju hotel tempat acara, saya teringat iklan kursus kilat bisa menyetir mobil. Disebut kilat karena dalam iklannya tertulis satu hari sudah bisa nyetir. Wah keren!

Setibanya di tempat acara, tentunya saya berada dalam sebuah gedung yang megah: hotel berbintang empat. Maka, terbayanglah dalam otak saya tentang para pekerja yang begitu gigih mendirikan gedung tersebut secara cepat dan tepat.

Benar, setelah adanya input, jadilah output berupa gedung megah yang saya pijak kala itu.

Lalu, saya, peserta, dan panitia sedang melakukan apa?

Tentunya, setelah tiba dan beramah-tamah, digelarlah acara pelatihan menulis. Dan hasilnya?  Apakah peserta bisa menulis?

Jawabnya sama dengan kursus menyetir tadi. Meskipun pelatihannya tiga hari, satu hari pelatihan saja hasilnya bisa. Lantas apakah cukup sampai di situ?

Jawabnya kali ini adalah tidak. Mengapa? Sebab, menulis itu sejatinya sebuah keterampilan berbahasa setelah seseorang mahir menyimak, berbicara, dan membaca. Lazimnya keterampilan, ia dilahirkan dari proses panjang. Dengan kata lain, terlebih dulu ada pembiasaan hingga terbiasa dan akhirnya menjadi kebiasaan.

Nah, kata "bisa" dalam konteks ini dapat dikatakan sebagai output. Dengan demikian, pelatihan menulis tak ubahnya mendirikan gedung yang megah. Sudah terjawab, 'kan?

Dan, sebuah gedung yang baik idealnya dapat berfungsi dengan maksimal. Salah satunya digunakan sebagai tempat pelatihan menulis seperti dalam cerita saya di atas. Inilah yang disebut outcome. Begitu pula dengan pelatihan menulis. Pembiasaan yang berupa menulis dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam hal ini mengirimkannya ke media, sebenarnya merupakan outcome dari pelatihan menulis itu sendiri. Alhasil, menjadilah penulis yang terampil.

Pertanyaannya sekarang, apakah pelatihan menulis dapat menjadi jaminan pesertanya terampil dalam menulis? Sedang berada pada taraf outcome? Ataukah baru sebatas output saja?


Friday, November 8, 2019

Kepada Sastrawan: Mohon Maaf kalau Isinya Kekecilan


Pernah suatu ketika saya mendengar kalimat itu dari ketua panitia sebuah acara sastra di instansi pemerintah. Ya, lebih kurangnya begitu. Mungkin bahasa lainnya, "Jangan lihat isinya!"

Kalimat tersebut seakan menunjukkan bahwa dana untuk sastrawan memang kecil adanya. Tapi di sini bukan tempatnya berkeluh kesah. Mungkin akan indah kedengarannya jika berbunyi lebih baik membayar kecil daripada tidak memakai jasa sastrawan sama sekali.

Konon, memakai jasa sastrawan bisa dikatakan menghormati dan menghargai keberadaan sastrawan itu sendiri.

Sebaliknya, tentu sangat menyakitkan. Terlebih lagi jika yang dipakai adalah jasa sastrawan dari luar daerah bersangkutan. Sementara di daerah tersebut menyimpan sejumlah sastrawan top nasional dan mancanegara. 

Mengenai perkara bayaran, toh itu sudah dituliskan dalam kitab ilahi sebelum alam dan isinya diciptakan. Dan, uang bukanlah tolok ukur kekayaan dan kehormatan manusia, 'kan?

Nah, dalam hal ini, tentunya akan lebih tepat bila penggunaan jasa tersebut sesuai genre sastra yang digelutinya. Sebut saja misalnya penulis buku bahan bacaan anak ya dijadikan juri buku jenis itu. Bukannya malah penyair (pensyair) yang menjadi jurinya. Parahnya lagi jika yang jadi juri orangnya itu-itu saja tiap tahunnya. Semoga yang terakhir ini tidak terjadi.

Pada intinya saya hanya hendak mengatakan bahwa kalimat yang saya dengar tersebut di atas sebenarnya bukan masalah. Walaupun memang ada harapan penghargaan terhadap sastrawan akan lebih besar lagi.

Bagaimana menurut Anda?

Thursday, November 7, 2019

Beragam Seni Digabungkan?


Suatu waktu saya pernah ngobrol santai dengan seseorang tentang men
Penggabungan seni-seni yang jenisnya berbeda.

Maksud berbeda di sini secara mudah dapat disebutkan langsung seperti, seni sastra, seni rupa, dan seni pahat. Tentunya masih banyak lagi jenis seni lainnya.

Nah, teman ngobrol saya itu merupakan seorang pelaku seni fotografi dan sastra khususnya puisi.

Pertanyaan awalnya, apakah seni-seni yang beragam tersebut dapat digabungkan?

Anggaplah pertanyaan di atas sebagai pemantik agar kita sama-sama memikirkannya.

Kembali ke obrolan waktu itu, pembicaraan kami pun saya arahkan pada sebuah pameran waw yang telah di sebuah kota. Mengapa saya katakan waw? Sebenarnya pamerannya tidak begitu besar. Tapi, jarang diadakan.

Ya, kalau biasanya pameran seni di sebuah galeri hanya satu jenis seni yang dipajang, maka ini berbeda. Benar, dalam pameran itu ada dua seni yang dipajang. Apa yang dua itu? Foto dan puisi.

Jadi, foto dan puisi yang bertema sama di gabungkan dalam sebuah galeri seni.

Sebenarnya entah kita sadari atau tidak, dalam beberapa buku semisal antologi puisi, dimuat puisi-puisi disertai ilustrasi masing-masingnya. Buku-buku bahan bacaan anak juga demikian. Artinya, seni sastra dan rupa digabungkan dalam satu buku.

Lalu, bagaimana dengan seni-seni lainnya?


Wednesday, November 6, 2019

Para Penulis yang Menerbitkan dan Menjual Buku Karyanya Sendiri


Mungkin bagi Anda hal yang tersaji dalam judul di atas pasti mustahil. Jika demikian yang terpikirkan, itu wajar.

Saya yakin tidak hanya Anda yang berpikiran seperti itu. Mengapa? Jawabnya mudah. Sebab, yang lazimnya terpampang di berita-berita ialah sosok-sosok penulis kondang. Yakni para penulis yang diburu banyak penerbit.

Ya, penerbit-penerbit mayor dengan semangat menerbitkan naskah buku karya penulis kondang. Harapannya satu: buku laris manis di pasaran.

Hal itu sangat masuk akal mengingat masyarakat lebih suka membaca karya-karya penulis yang bernama besar.

Nah, tapi akan lain ceritanya jika naskah buku lahir dari penulis yang belum kondang atau naskahnya susah dijual.

Hal terakhir ini sudah tidak asing bagi saya. Tak perlu alasan panjang soal ketidakasingan itu. Jujur saja, saya punya banyak teman di kalangan penulis yang kerap dikenal sebagai sastrawan dan "calon sastrawan". Benar, dari yang pemula hingga senior. Mulai yang biasa-biasa saja sampai yang terkenal.

Dan, meski sudah terkenal sekalipun, ada saja sastrawan yang masih menerbitkan dan menjual buku karya mereka secara indie.

Maksud indie dalam hal ini adalah penerbitan naskah buku yang biayanya ditanggung oleh penulis bersangkutan.

Lalu bagaimana dengan penjualannya? Memang ada penerbit indie yang membantu penjualannya. Akan tetapi, lebih banyak yang dijual sendiri oleh penulisnya.

Pertanyaannya, kok bisa?

Entah ini sudah menjadi rahasia umum atau belum. Yang jelas, kebanyakan naskah sastra lebih serius. Sebut saja isinya mengangkat persoalan korupsi dan kemiskinan.

Dalam kacamata bisnis, naskah sastra yang demikian susah dijual, terlebih puisi serius. Penerbit mayor yang membiayai seluruh penerbitan buku tentu tak mau mengambil resiko dagang seperti itu.

Agar buku bisa terbit, maka sastrawan rela mengeluarkan uang pribadinya. Kemudian, untuk memutar roda penerbitan selanjutnya, penjualan kecil-kecilan pun dilakukan. Misalnya buku-buku indie ini dijual  saat ada acara sastra.

Saya punya sebuah cerita terkait penjualan dalam contoh di atas. Ada seorang penyair (pensyair) tenar yang menjual buku puisinya dalam acara sastra. Jadi, saat ia diundang sebagai narasumber, dirinya sekaligus mempromosikan buku-buku puisinya. Ia mengaku bisa mendapatkan uang dua juta rupiah setiap kali ada acara sastra.

Waw! Keren, 'kan?


Tuesday, November 5, 2019

Ketika Bahasa Dikaitkan dengan Segala Hal


Dulu, sering artikel yang saya tulis perihal kebahasaan dimuat di media massa cetak. Pernah saking semangatnya, saya menulis lima artikel dalam satu hari. Dan, apa yang kemudian terjadi? Dari lima ini, yang dimuat di koran hanya satu artikel.

Dalam artikel-artikel yang saya tulis kala itu berisi tentang kaitan bahasa dan hal-hal lainnya. Sebut saja pancasila, gizi rakyat, sumpah pemuda, bahkan jalan beraspal. Kadangkala saya tertawa sendiri jika ingat usaha kait-mengait tersebut.

Tapi, pada dasarnya bahasa memang terhubung dalam segala hal, baik bahasa verbal, maupun nonverbal.

Itu bisa dimengerti karena bahasa memang tak bisa dilepaskan dari kehidupan ini. Bisa Anda bayangkan bagaimana seandainya di dunia ini tidak ada bahasa, termasuk bahasa tubuh sekalipun?

Nah, dalam sastra, bahasa juga sangat diperlukan. Ya, sebagai media. Dengan begitu, bahasa juga menjadi semakin eksis melalui sastra. Bisa di katakan hubungan bahasa dan sastra berupa simbiosis mutualisme atau saling menguntungkan.

Jadi, tanpa mengaitkannya dengan hal-hal lainnya pun, bahasa sudah terhubung dalam hidup dan kehidupan ini secara menyeluruh.

Lalu, apa yang terasa dalam jiwa ketika bahasa dikaitkan dengan segala hal?

Monday, November 4, 2019

Apakah Sastra Kurang Menarik?


Suatu hari saya pernah memutarkan sebuah video kepada salah seorang anak sekolah dasar. Yaaaa usia anak itu sekitar tujuh tahunan lah.

Sementara video tersebut berisi salah satu tarian Dayak Kenyah. Apa respon si anak?

Jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesiaa, lebih kurang ia mengatakan, "Tidak menarik."

Saya bertanya-tanya, apa yang menarik baginya? Kemudian, iseng saya putarkan tarian modern di hadapannya. Waw! Ia begitu tertarik menontonnya.

Lalu bagaimana dengan sastra? Pernah pula saya ngobrol-ngobrol santai soal hal terakhir ini. Tentunya dengan orang yang bukan sastrawan. Tujuannya agar diketahui apa pendapat masyarakat umum terhadap sastra.

Rata-rata mereka berpendapat bahwa sastra adalah karya serius. Susah dipahami. Kurang bisa dinikmati.

Kalaupun mereka membaca novel misalnya, ya yang isinya ringan. Orang lazim menyebutnya karya populer.

Lantas, apakah memang benar sastra kurang menarik?


Sunday, November 3, 2019

Penulis Online Lebih Keren?


Pernahkah Anda mendengar atau membaca seputar judul di atas?

Jujur, saya belum pernah membahasnya dengan siapa pun. Mungkin Anda pernah.

Zaman terus mengalami perkembangan saat menyusuri bentangan waktu. Teknologi kian maju. Dulu, pada masa lampau, tulisan terpampang di media-media selain kertas. Sebut saja kulit pohon. Setelah kertas tersedia, mulailah huruf-huruf nangkring di atasnya. Pena menjadi alat tulis populer kala itu.

Maka tak mengherankan kata "pena" masih eksis hingga sekarang. Hal itu dapat dipahami karena media kertas dan pena merajai dunia tulis-baca dalam rentang waktu yang panjang.

Lalu mulailah muncul alat tulis modern. Mesin tik. Ya, mulai yang manual hingga elektronik. Lambat laun mesin berbunyi "tik" itu juga ditinggalkan, kecuali saat listrik padam. Komputer mengalahkannya.

Awalnya, terkenal dengan versi desktop atau komputer duduk. Ukurannya yang besar membuat orang melahirkan komputer versi yang lebih kecil, notebook. Alasannya agar mudah di bawa dari satu tempat ke tempat lainnya (mobile).

Belakangan, komputer jinjing itu pun mendapatkan saingan baru, tablet dan smartphone.

Nah, di era kekinian yang terhubung internet inilah, tulisan cetak perlahan mulai kehilangan penggemarnya. Hitung saja berapa media massa cetak yang gulung tikar. Penerbit buku cetak juga banyak yang menyusul mati.

Di era digital ini, tulisan memang sangat mudah dipublikasikan secara online atau daring (dalam jaringan). Sekali lagi, sangat mudah. Benar, tak perlu masuk dapur redaksi terlebih dahulu, tulisan sudah dapat dibaca banyak orang.

Perhatikan saja media-media sosial dan web. Dan tak bisa dipungkiri bahwa sebagian penulis online memiliki banyak penggemar di dunia maya. Jumlahnya ada yang jutaan. Bahkan, penulis buku cetak kondang pun ada yang kalah dalam hal jumlah penggemar di dunia yang serba virtual itu.

Pertanyaannya, apakah benar penulis online lebih keren daripada penulis di media cetak?

Untuk menjawabnya, tak lepas dari kualitas. Maksudnya, tulisan yang baik tentu yang menggembirakan dan bermanfaat. Siapa pun penulisnya, asalkan mampu menghadirkan tulisan seperti itu sangatlah keren.

Mengenai jumlah penggemar, tentu bukanlah tolok ukur di dunia kepenulisan. Artinya, di dunia cetak sekalipun buku-buku best seller misalnya, belum tentu lebih berkualitas daripada yang laku dalam jumlah sedikit.

Ah rasanya, saya perlu minum kopi dulu nih sebagai pengingat bahwa saat ini masih hidup di dunia nyata.


Saturday, November 2, 2019

Memandang Viralnya Menteri Agama di Indonesia


Menteri agama di Indonesia sedang viral. Agaknya demikianlah yang terjadi di lapangan.

Benar, Menag Fachrul Razi memang tengah menjadi sorotan publik, khususnya umat Islam. Ya, meskipun bukan Menteri Agama Islam, tapi dirinya sangat populer di kalangan muslim di Indonesia.

Lihatlah di media sosial, misalnya, namanya begitu "meledak". Ada apa sebenarnya?

Sosok tegap yang identik dengan pengena pakaian loreng ini dianggap oleh banyak kalangan telah meresahkan umat Islam. Kok?

Di awal-awal masa jabatannya, ia telah mengangkat isu-isu sederhana, tapi dikaitkan dengan radikalisme.

Isu-isu itu seperti, soal cadar, celana cingkrang, kurikulum sejarah perang nabi dan khalifah, ayat dan hadits yang dinilai radikal oleh sejumlah orang, perkara HRS dalam kaitannya dengan  khilafah, tentang ceramah UAS, terkait doa di masjid dengan bahasa Indonesia, dan restu FPI.

Disebut sederhana karena selama ini beberapa isu tersebut tidak mengancam kerukunan, baik di kalangan umat Islam sendiri, maupun antarumat beragama di Indonesia.

Nah, yang menjadi pertanyaan awalnya adalah, mengapa arah pergerakan Menag hanya ke Islam? Padahal dengan tegas ia menyebut bahwa dirinya bukan menteri agama Islam.

Lalu, setelah membidik Islam, mengapa yang disasar malah isu-isu sederhana dan dikait-kaitkan dengan perkara radikal? Sementara, selama ini umat Islam di Indonesia hidup dengan damai.

Sejumlah pihak pun menilainya sebagai pembuat gaduh publik Islam di Indonesia. Tampaknya penilaian itu masuk akal mengingat dampak yang ia ditimbulkan memang demikian adanya.

Sedang permasalahan lain semisal solusi mengenai daftar tunggu haji yang kian panjang belum tersentuh.

Lantas, akankah langkah Menag ke depan dapat lebih mendalam, luas, dan menyeluruh dalam kaitannya dengan kehidupan beragama (bukan hanya Islam) di Indonesia ini?


Friday, November 1, 2019

Ternyata Cadar dan Celana Cingkrang Jauh dari Radikal


Kata radikal dalam judul di atas tentu khusus berkaitan dalam bidang politik, yakni yang bermakna amat keras menuntut perubahan.

Mengapa hanya dikhususkan pada hal itu? Jawabnya sangat sederhana. Karena, akhir-akhir ini kata "radikal" begitu viral dalam kaitannya dengan pemerintahan Indonesia kekinian.

Sementara makna lainnya adalah, secara mendasar; maju dalam berpikir dan bertindak; dan gugus atom yang dapat masuk ke dalam berbagai reaksi sebagai satu satuan, yang bereaksi seakan-akan satu unsur saja.

Terkait makna amat keras itulah, cadar dan celana cingkrang jauh dari kata radikal.

Selama ini mereka yang memakai  cadar (wanita) dan celana cingkrang (di atas mata kaki pria) biasa atau lazim disebut jemaah atau orang-orang Salafi (meski ada pula selain mereka yang memakai dua pakaian itu).

Salafi di sini tentu bukanlah nama lain dari salafiyah secara umum. Sebab, di Indonesia yang berpaham salaf bukan hanya Salafi. Masih ada orang-orang yang juga dikategorikan berpaham salaf, misalnya di Persis, Al-Irsyad Al-Islamiyah, dan Muhammadiyah.

Nah, kita tidak usah berpikir terlalu jauh tentang cadar dan celana cingkrang itu. Dalam hidup ini kita perhatikan saja dunia sekitar. Amati dengan cermat apakah orang-orang tersebut bersikap amat keras menuntut perubahan?

Orang-orang Salafi, misalnya, bahkan terkesan begitu mendukung pemerintah Indonesia. Masih ingat, 'kan dengan perkataan Syaikh Yazid bin Abdul Qodir Jawas dalam menanggapi aksi 212 lalu? Kata-katanya sangat jauh dari menuntut perubahan.

Atau lihatlah, apakah mereka pernah ingin mendirikan negara Islam? Jawabnya tentu saja tidak. Lalu, mengapa cadar dan celana cingkrang harus dikaitkan dengan kata radikal?

Untuk menjawabnya perlu perenungan yang sangat dalam, luas, dan menyeluruh.