Tuesday, June 30, 2026

Presiden yang Ahli Menjilat

Ilustrasi: Pixabay 

Di mana pun dirinya berkunjung, lawan bicaranya selalu dipuja-pujanya. Hal demikian tentu tidak luput dari tujuannya untuk mendapatkan keuntungan. Saat mengadakan lawatan di negara A, misalnya, ia mengaku menjadi penggemar berat dari tokoh pendiri negara tersebut. Ketika berada di negara B, dirinya menenggak minuman favorit presiden dan orang-orang di sana. 

Atau, kala menghadiri acara tertentu di sebuah institusi negara, presiden yang satu ini memuji keberhasilan mereka. Ya, intinya ia selalu menjilat siapa saja agar dapat memperoleh keuntungan untuk dirinya. Nah, keuntungan tersebut termasuk pula berupa dukungan menuju kursi presiden periode selanjutnya. 

Khusus bagian terakhir di atas bisa dikatakan masuk kategori mencuri start kampanye pemilihan presiden dengan menggunakan anggaran negara. Ini sebuah kecurangan terselebung yang idealnya dihentikan. 

Jika dicermati, daripada melakukan hal yang tidak bermartabat seperti itu, lebih baik dirinya fokus membangun negaranya. Masih banyak pekerjaan demi pekerjaan yang harus ia selesaikan. Sebutlah misalnya lapangan pekerjaan yang layak, bahan bakar murah, pendidikan dan kesehatan gratis, hingga keamanan yang dapat dirasakan seluruh rakyat. Kalau semua itu sudah dapat diselesaikannya dengan baik dan benar, kursi presiden periode selanjutnya pun tentu akan ia duduki dengan hati bahagia. 


Monday, June 29, 2026

Penerima Bunga Bahagia, Rakyat Sengsara

Ilustrasi: Pixabay 

Konon di sebuah wilayah padang rumput ada negara bernama Republik Lelucon (RL). Pemimpinnya seorang mantan preman yang gemar memalak banyak orang. Saat dirinya menjabat sebagai presiden boneka dari negara lain, yakni Republik Rakyat Matahar (RRM)i, ia pun terus saja memalak banyak orang yang disebut rakyat. 

Meskipun sudah banyak mendapatkan uang setoran hasil memalak (pajak), dirinya masih diperintahkan Presiden RRM untuk menyerahkan bunga bank milik mereka. Benar, sebagai pendapatan tetap, pihak RRM mewajibkan pemerintah RL selalu menggunakan uang mereka. Kadang-kadang dalam bentuk utang, ada kalanya dalam bentuk investasi proyek infrastruktur. 

Ya, meskipun disebut investasi, tetapi pihak Negara RL diminta menyerahkan bunga dari total uang investasi proyek tersebut. Kedengarannya sangat aneh. Dan, mau tak mau bunga pun harus diserahkan. Bahkan, Negara RRM mendapatkan tanah beserta bangunan untuk cabang bank investasi proyek ini di Negara RL. Wow sekali, 'kan?

Sementara Presiden RL terlihat selalu santai. Mungkin banyak orang heran mengapa dirinya bisa santai meskipun di bawah tekanan RRM. Jawabannya mudah. Sebab, yang menanggung segala tekanan ekonomi tersebut ialah rakyat. Sebesar pun uang yang harus diserahkan ke pihak RRM, rakyat lah yang membayarnya dengan pajak.

Itulah sebabnya, rakyat di sana sering bertanya, "Kapankah kita merdeka?" 

Mengundang Rektor, Membungkam Kampus

 

Ilustrasi: Pixabay 

Agaknya ini cara jitu yang sejurus dengan perlakuan Presiden Vladimir Putin terhadap umat Islam Rusia. Konon, presiden penyuka olahraga judo itu melihat umat Islam di negaranya tidaklah sedikit. Ia sadar betul akan potensi yang membahayakan keutuhan Rusia jika dirinya tidak bijak terhadap para muslim di sana. Itulah sebabnya, dirinya merangkul seluruh umat Islam Rusia bersatu padu membangun negeri. Dan, ia berhasil. Bahkan, bisa dikatakan umat Islam di sana menjadi benteng utama terhadap paham-paham yang dianggap Putin dapat melahirkan radikallisme berbahaya. 

Hal ini pulalah yang sedang dilakukan salah seorang presiden dalam menghadapi demonstrasi. Ya, lebih tepatnya demonstrasi besar di negara yang dipimpinnya. Presiden ini sadar bahwa penggerak utama unjuk rasa adalah pihak kampus. Benar, para mahasiswa dan juga sebagian dosen mereka. 

Nah, untuk mengatasi demonstrasi di negaranya, maka sumber pergerakan tersebut haruslah "diselesaikan" terlebih dahulu. Salah satu caranya adalah mengundang para rektor dan memperlakukan mereka dengan sangat baik. Yang semula sang presiden tak mau dikritik orang-orang pintar, kini dengan kata-kata manisnya ia berjanji akan menampung segala masukan dari para rektor. 

Selain itu, dirinya juga menegaskan bahwa kampus adalah tempat bertukar ide-ide, gagasan-gagasan, juga yang lainnya demi perkembangan ilmu dan teknologi. Ini sangat jelas presiden tersebut sedang menggunakan wajah lain. Wajah yang berbeda dengan wajah aslinya yang sombong, radikal, dan juga antisosial. 

Tujuan utama penggunaan wajah lain itu tidak lain dan tidak bukan supaya kampus hanya mengurusi dan sibuk dengan keilmuan semata. Sehingga, tidak lagi berunjuk rasa menentang dirinya. 

Nah, dalam hal tersebut sebenarnya dirinya tidak paham akan satu hal penting, yakni sejatinya kampus tidak sekadar melahirkan orang -orang cerdas dalam intelektual saja. Para sarjana dilahirkan dengan beragam kecerdasan. Pihak kampus menggembleng para mahasiswa untuk memiliki kecerdasan intelektual, emosional, spritual, sosial, budaya, dan seluruh kecerdasan di setiap sendi kehidupan yang ada. Salah satunya demonstrasi.

Tanpa simpati dan empati, mana mungkin para mahasiswa mau berpanas-panasan dan berhujan-hujanan menggelar unjuk rasa demi kesejahteraan rakyat? Seandainya para mahasiswa antisosial, sudah dipastikan tidak ada yang namanya demonstrasi.

Sunday, June 28, 2026

Katanya MBG Soal Lapar, Kok hanya Makan Siang?

 

Ilustrasi: Pixabay 

Lalu bagaimana dengan sarapan pagi dan makan sore? Atau, bila perut benar-benar lapar saat malam hari, harus makan apa jika menu yang ada sebatas makan siang saja? 

Pemenuhan gizi pastilah bukan hanya makan siang atau sekali makan dalam 24 Jam. Bayangkan bagaimana bisa gizi terpenuhi kalau dalam sehari semalam hanya makan satu kali, yakni saat siang hari saja. TIDAK MUNGKIN TERPENUHI. 

Terkadang saya heran bertubi-tubi ketika ada yang bangga dengan makan siang gratis di Republik Wahana ini. 

Begitulah keheranan Prof. Banyu Grobak, Lc, MA, Ph.D. terhadap cara pemenuhan gizi di negaranya. Meski demikian, menurutnya masih ada yang lebih mengherankan lagi, yakni soal dananya. Dia menyadari bahwa negaranya sangatlah miskin dengan utang kepada asing sudah nyaris sepuluh ribu trilyun Dauna. Tetapi, dengan kenyataan pahit tersebut, presiden di sana masih saja memaksakan kehendaknya untuk program makan sehari semalam itu.

"Jelas sekali program tak bermutu ini sangatlah mengganggu kehidupan sehari-hari. Untuk tetap menjalankannya, anggaran di sektor lain semisal kesehatan dipangkas. Rakyat pun kian sengsara. Ini apa tidak aneh?" suara Prof. Banyu terdengar seperti sedang menangis.

Selain ekonom tersebut, banyak pihak juga berpikiran sama bahwa program makan siang yang dinamakan MBG ini bukanlah solusi tepat untuk pemenuhan gizi manusia di negara yang kaya akan tanaman liarnya itu.

Mereka juga mengusulkan agar Presiden Pranikah Sudah segera menciptakan lapangan pekerjaan yang layak kepada rakyat. Tujuannya supaya setiap rumah tangga memiliki uang yang cukup untuk memenuhi gizi keluarga setiap hari.


Saya Presiden yang Bekerja untuk Rakyat

Ilustrasi: Pixabay 

Apa pun aktivitas saya sebagai presiden haruslah prorakyat. Itu semboyan yang sudah melekat dalam jiwa saya. Sejak hari pertama, saya langsung bergerak menunaikan janji-janji politik selama kampanye. Ya, terkait semua sendi kehidupan di negara kita.

Di dunia pendidikan, misalnya, saya naikkan gaji para guru honorer, terutama di daerah-daerah tertinggal, terdepan, dan terluar. Mereka juga saya bangunkan rumah dinas layak huni. Akses menuju sekolah yang bermasalah sudah diperbaiki secara bertahap. Mulai dari perluasan dan penebalan jalan, pembangunan jembatan penyeberangan, bahkan penyediaan perahu bermotor untuk membawa para siswa dan guru pulang pergi ke sekolah.

Buku-buku pelajaran dan penunjang pelajaran juga sudah saya sediakan. Dalam hal ini termasuk pengadaan komputer yang sudah direalisasikan dengan baik dan benar. Dan, yang tak kalah pentingnya, penggratisan biaya sekolah bagi anak-anak kurang mampu sudah saya wujudkan. 

Mengenai gizi? Bukan sekadar gizi, kesehatan para siswa dan guru pun saya perhatikan dengan mendatangkan tim kesehatan di setiap sekolah. 

Lalu di bidang-bidang lain juga sama. Bahan bakar minyak dan gas selalu tercukupi di setiap daerah dengan harga murah. Sebab, subsidi saya tambahkan di bidang migas. Sehingga, tidak ada lagi istilah langka dan mahal. Sebutlah pertalite harganya hanya seratus Rupanya. Sebelumnya tembus di angka 10 ribu Rupanya. Gas isi tiga kilogram kini harganya hanya lima ratus Rupanya. 

Swasembada pangan? Lihat saja sendiri. Dengan adanya program tani cerdas yang saya canangkan, padi melimpah ruah. Lahan pertanian yang sudah ada saya tingkatkan. Mulai dari penyediaan bibit padi unggul, pupuk organik super, hingga irigasi yang optimal. Hasilnya sungguh luar biasa. 

Dari semua yang sudah saya lakukan, kepercayaan para investor terus menguat. Industri-industri besar berjalan lancar. Tidak ada pemutusan hubungan kerja. Mata uang Rupanya juga kian perkasa. 

Nah, kalau ditanya puas? Jawabannya tentu saja ya. Akan tetapi, itu tidak membuat saya sombong dan terlena. Setiap hari saya selalu berusaha memajukan negara kita dengan meningkatkan kesejahteraan rakyat secara keseluruhan.


Saturday, June 27, 2026

Yang Disembunyikan Presiden

Ilustrasi: Pixabay 

Segala yang disembunyikan agaknya lebih banyak hal negatifnya daripada terbuka seluas-luasnya untuk dikonsumsi publik. Pertanyaan mendasar yang muncul adalah, mengapa disembunyikan? Bukankah jalannya roda pemerintahan haruslah transparan? Rakyat sebagai pemegang kedaulatan negara tidak boleh sampai tidak tahu agenda presiden sang bawahan rakyat. 

Akan tetapi, yang lebih sering terjadi, ternyata ada ketertutupan di balik pintu agar rakyat tidak tahu. Ini sebenarnya sudah tidak pantas dan tidak boleh dilakukan oleh presiden. Mau bagaimana pun keterbukaan idealnya diutamakan. Kita ini satu keluarga besar. Terasa sangat janggal jika dalam sebuah keluarga ada yang disembunyikan. Dengan ketertutupan ini, rakyat sudah dianggap musuh besar pemerintah. Bukan lagi bagian keluarga yang harmonis.

Berbeda kalau itu terkait masalah pribadi yang memang harus ditutupi sebagai aib. 

Selama hal tersebut bukanlah aib, untuk apa disembunyikan? Terutama jika sudah menyangkut kepentingan orang banyak, maka transparansi wajib ada. Sebutlah contohnya soal dunia pendidikan. Tak ada istilahnya "diskusi tertutup" antara presiden dan para praktisi pendidikan hingga tega mengusir para jurnalis dari dalam ruang acara.


Friday, June 26, 2026

Wujud Kedaulatan Rakyat Sebatas Pemilihan?

 

Ilustrasi: Pixabay 

Terdengar sangat tidak familiar kalau kedaulatan rakyat hanya sebatas pemilihan pemimpin negara. Ya, maksudnya hanya memiliki satu hak, yakni hak memilih pemimpin di alam demokrasi. 

Ini menjadi kelucuan tersendiri dalam memandang kedemokrasian. Betapa tidak? Bagaimana mungkin kedaulatan rakyat begitu sangat minim ruang geraknya? Lantas kalau pemilu yang diikuti tersebut banyak mengandung kecurangan, apakah rakyat tidak memiliki hak mengkritisinya?

Nah, soal kritik juga tidak sebatas dalam pemilu saja. Siapa pun pemenangnya, baik curang atau tidak, kritik idealnya diterima dan bukan dianggap kegaduhan.

Jadi, siapa saja yang memandang kedaulatan rakyat hanya sebatas hak memilih dalam pemilu, jelas sekali orang tersebut antikritik dan sombong. Kalau dia seorang presiden, maka dia sudah dapat dipastikan tidak mau mendengarkan kritik rakyat. Bicaranya mungkin menggebu-gebu tentang rakyat, tapi sebenarnya itu hanyalah omong kosong besar. Rakyat hanyalah sapi perahan untuknya. Bahkan, rakyat yang pintar semisal pengamat ekonomi, dilabelinya sebagai biang kegaduhan. Demonstrasi juga akan dianggap makar yang merongrong kekuasaannya. 

Tentu saja hak tersebut sangat berbahaya bagi keberlangsungan hidup di negara yang dipimpinnya.  

Thursday, June 25, 2026

Banyak Negara Minta Beras? Kasihkan kepada Rakyat!

Ilustrasi: Pixabay 

"Ndasmu!!! Enak aja rakyat dikasih beras dan jagung! Beli, beli, beli! Hari gini masih dikasih gratis! Nggak!!!"

"Serius amet? Santai aja kaleee ngomongnya. Nggak usah bawa-bawa emosi kayak gitu ah. Apalagi pake 'ndasmu' segala."

"Ah, ini hanya menirukan gaya bicara Pak Presiden Pascabawang Sebatang ajah. Beliau biasanya suka emosi gitu, 'kan kalo pas lagi ngomong?"

"Ya juga sih, ha ha ha ha. Pada kenyataannya selama ini emang nggak pernah pemerintah ngasih pangan kepada seluruh rakyat secara gratis tanpa kecuali."

"Benar sekali, tanpa kecuali. Artinya seluruh rakyat, baik yang di bawah garis kemiskinan, maupun yang kaya raya, semuanya merasakan kenikmatan bersama. Sebab, semua rakyat adalah pemberi pajak. Tanpa pajak, negara kita pasti sudah lama tiada di muka bumi."

"Maka, dengan melimpahmya hasil pertanian, sudah saatnya pemerintah membagikannya secara gratis kepada kita semua. Kalau untuk negara lain, itu setelah rakyat di negara ini bahagia."

"Tepat sekali katamu. Untuk apa mengutamakan negara-negara lain kalau rakyat sendiri di dalam negeri belum sejahtera."

"Terlebih jika pemberian kepada negara-negara lain tersebut sekadar untuk gaya-gayaan dan mendapatkan pujian dari para pemimpin negara lain, itu namanya super egois."

"Dan, sungguh tidak pantas seseorang yang super egois menjadi presiden di belahan bumi mana pun."

***

Wednesday, June 24, 2026

Pidato yang Melemahkan Nilai Tukar Mata Uang

Ilustrasi: Pixabay 

"Kiamat maju enam hari lagi nh."

"Pak Presiden pidato lagi?"

"Betul."

"Kapan?"

"Kemarin siang."

"Kok aku baru tahu ya?"

"Ah! Kamu emang manusia kudet."

"Terus selain kiamat maju enam hari, apa lagi dampak buruk pidato presiden?"

"Nilai mata uang kita anjlok lagi."

"Busyeeeeet! Emang ngomong apaan sih kok bisa gitu efeknya?"

"Beliau ngomong bahwasanya tidak ada yang lebih krusial daripada makan. Kalau tidak makan, pasti mati!""

"Mbelenggedeng! Kok bisa-bisanya beliau ngomong kayak gitu. Itu sama aja artinya pemerintah tidak mengutamakan perbaikan ekonomi. Seharusnya, beliau ngomongnya bakal membuka lapangan kerja agar rakyat bisa dapat uang untuk makan sehingga tidak mati."

"Itu kalau kamu presidennya. Lhah ini beliau, mau apa lagi?"

"Kalau gini terus, aku pikir negara kita akan hancur dan tinggal sejarah. Terbayang, orang-orang masa depan akan tahu bahwa Negara Republik Jadualuza pernah ada dengan jumlah penduduk terbesar ketiga di bumi."

"Tiba-tiba aku jadi teringat negara-negara besar yang sudah tiada, seperti dinasti -dinasti di Cina, Majapahit, Turki Utsmaniyah, dan lainnya."

"Ya, negara-negara besar pun bisa hancur dan tinggal kenangan. Apalagi negara kita yang hingga detik ini masih berstatus sebagai negara berkembang."

***

Yang Presiden Aku, HANYA SEMENTARA KOK

Ilustrasi: Pixabay 

Tidak ada yang abadi di dunia ini. Kecantikan?  Ketampanan? Jabatan? Semua pasti sirna. 

Itulah sebabnya, gunakan semua yang dititipkan kepada kita dengan sebaik mungkin. Jabatan presiden, misalnya, siapa pun orangnya haruslah selalu bekerja sesuai cita-cita negara yang dipimpinnya. Contohnya menyejahterakan rakyat, maka setiap gerak langkahnya WAJIB benar-benar prorakyat.

Sebutlah perkara lapar, pemerintah wajib mempermudah rakyat dalam mendapatkan pekerjaan. Mulai dari menyiapkan rakyat sebagai sumber daya manusia yang unggul hingga menciptakan lapangan pekerjaan.

Dengan pekerjaan yang layak, rakyat akan mendapatkan uang sehingga mampu membeli makanan untuk dirinya sendiri dan keluarganya, baik pagi, siang, maupun sore hari. Khusus dalam hal makan siang untuk anak-anak yang bersekolah, orang tua bisa membuatkan bekal makanan atau uang jajan yang cukup kepada mereka. 

Selain contoh di atas, tentu saja masih banyak lagi yang idealnya dikerjakan presiden untuk menyejahterakan rakyatnya. Intinya, dia bekerja untuk rakyat selama jabatan presiden masih di tangannya. 

Saya Tahu Siapa yang Mendanai Demo

Ilustrasi: Pixabay 

"Ha ha ha ha ya iyalah tahu. Dia sendiri orangnya yang mendanai demo-demo itu."

"Demo-demo nggak mutu. Bayarannya juga nggak berkelas banget."

"Hanya dikasih 100 rebo, susu, roti, ama wajan."

"Katanya kaya, tapi pelit."

"Kalau nggak pelit, mana mungkin dia kaya."

"Saat kaya bisanya nyusahin rakyat saja."

"Padahal usianya dah tua."

"Tua banget malah."

"Tapi, dia doyanmya ama pria-pria muda yang ganteng."

"Hadeeeuh jeruk ketemu jeruk."

"Dia jeruk jenis apaan ya?"

"Jeruk keprok kayaknya."

"Padahal ada pepatah mengatakan, 'Semakin tua, jeruk kian berkhasiat.'. Nah, kalau dia malah sebaliknya."

"Udah gitu, dia bilang nggak mikirin jeritan rakyatnya lagi. Dosa apa ya kita punya presiden kayak dia."

"Ini ujian. Suatu waktu kelak, seluruh rakyat Negara Kerak Langit termasuk kita berdua pasti akan terlepas dari penjajahan yang dia lakukan."

***

Tuesday, June 23, 2026

Dia Udah Jadi Presiden atau Masih Capres?

Ilustrasi: Pixabay 

"Katanya kekayaan kita keluar, pengusaha  bohong, dan tidak bisa ngasih gaji bagus kepada pegawai negeri karena uangnya ga ada."

"Berarti dia hanya menonton keburukan-keburukan itu."

"Dengan kata lain, dia belum jadi presiden atau bukan presiden."

"Wah berarti bener kata sebagian pihak bahwa presiden kita itu ya yang sekarang tinggalnya di Kota Jembarin Ajah."

"Memang begitu, 'kan? Pasalnya, jika dia sudah benar-benar udah jadi presiden, maka dirinya pasti sudah menghentikan keluarnya kekayaan negara kita, menangkap pengusaha yang bohong, dan mengalihkan uang dari program aneh seperti minum teh gratis, kepada para pegawai negeri."

"Pantesan selama ini dia ga kerja. Aktivitas yang dilakukannya hanya jalan-jalan dan pidato. Kedua aktivitas itu pasti atas perintah presiden yang sesungguhnya, yakni Bapak Presiden Sundul Ngombe."

"Menurutku, negara kita sudah beralih nama. Yang semula Republik Langit Biru, sekarang menjadi Republik Bohongin Rakyat."

"Bener banget katamu. Kalau begitu, sudah saatnya rakyat bangkit untuk mengembalikan muruah bangsa kita."

"Aku setuju soal itu. Tapi, kita sudah lama tidak bergerak, agaknya kata "bangkit" terlalu jauh untuk terwujud."

***

Koperasi Pinokio Berjatuhan

 

Ilustrasi: Pixabay 

"Ciyeeeee pink ungu. Ha ha ha"

"Ciye ciyeeeee wekawekaweka."

"Eh, bagus lho warnanya. Ada pink-nya,.ada ungunya. Serasi banget deh."

"Iya, bagus emang. Terlihat damai. Terasa nyaman. Tapi, kesannya kayak perpaduan pasangan sejenis ga sih?"

"Eemmm, ga juga. Yaaaa tepatnya terkesan romantis aja sih menurut aku."

"Sayangnya udah beberapa yang berjatuhan."

"Bener. Gimana ga berjatuhan, bikinnya asal-asalan gitu."

"Aku selalu ketawa saat melihat ada Koperasi Pink Ungu dibangun di tempat sepi. Di tengah hutan apa ya? Pokoknya sepi gitu."

"Siapa yang mau beli coba?"

"Eh iya, itu sebenarnya koperasi atau toko kelontongan sih? Kok yang terlihat cuma toko gitu."

"Namanya sih koperasi, tapi wujudnya minimarket yang menjual barang-barang dari gudang minimarket lain."

"Jadi dari gudang minimarket lain? Seriusan?"

"Iya. Aku lihat sendiri mereka ngangkut barang-barang dagangan dari sana."

"Berarti yang dikatakan mereka nyerap produk lokal di desa itu bohong belaka?"

"Yes. Benar sekali."

"Ternyata mereka Pinokio semua. Mengapa ga dinamakan Koperasi Pinokio aja ya?"

"Ha ha ha ha ha. Benar-benar. Tepat itu."

"Bahkan saat ada kunjungan bos besarnya, ada pihak Koperasi Pinokio yang menjual gas dengan harga palsu."

"Ya, aku juga lihat itu. Harga sebenarnya 40 ribu, dikatakan kepada bos besarnya hanya 16 ribu."

"Waduuuuh! Parah banget."

***

Monday, June 22, 2026

Demonstran Dibiayai Asung untuk Mendukung Pemerintah Zalim

 

Ilustrasi: Pixabay 

"Kok asung?"

"Itu sekadar istilah untuk menyebut asing yang berkomplot dengan pejabat pribumi."

"Wah mantap sekali."

"Mantap apanya? Asung ngasih uang ke pejabat pribumi untuk membayar sebagian rakyat berdemo mendukung program jahat pemerintah kok kamu sebut mantap?"

"Waduh! Begitu rupanya. Aku kira asung kerja sama untuk membuat mobil atau lainnya. Ternyata sangat tidak mantap."

"Mana ada asung mau memajukan negara kita dengan kerja sama membuat mobil?"

"Okey. Tapi, kamu tahu kabar ini dari mana?"

"Intelijen negara tetangga. Sebagian dari mereka adalah temanku."

"Dibayar berapa setiap demonstran tersebut?"

"Seratus ribu plus wajan dan konsumsi."

"Murah sekali"

"Ya. Mereka mau ikut menghancurkan negara hanya dengan bayaran minim."

"Pemerintah oh pemerintah... Antek asung yang sejati. Dan, soal demo bayaran itu, menurutku aneh. Benar, mereka  betul-betul aneh. Padahal demonstrasi bayaran pasti tidak akan bermanfaat. Akan segera terbongkar sebagai demonstrasi palsu. Mendingan uangnya untuk aku buka usaha rumah makan."

"Makan Banyak Berbayar maksudmu?"

"Betul."

***

Meningkatkan Gizi Manusia di Negara Kita

Ilustrasi: Pixabay 

"Terkadang aku pusing sendiri ketika mendengar banyak pihak membicarakan program makan bergizi gratis."

"Kalau tak mau pusing, ya jangan didengar! Biarkan saja mereka sibuk membicarakan soal program tersebut."

"Bagaimana tidak didengar? Hampir di setiap sendi kehidupan ada perkara makan yang sebenarnya dibayar dengan pajak rakyat itu."

"Ah, kata-katamu membuatku sedih. Ya, soal pajak selalu membuatku tidak bahagia."

"Iya sih. Aku juga sebenarnya sedih. Pernah aku berpikir, mengapa uang pajak tidak digunakan saja untuk membuka usaha rumah makan, hotel, pabrik infus, dan lainnya agar pendapatan negara meningkat. Sehingga, pajak bisa ditekan atau bahkan dihapuskan."

"Masuk akal. Selain mendapatkan laba untuk negara, usaha-usaha seperti itu pasti menyerap tenaga kerja."

"Kalau rakyat Indonesia sudah bekerja layak, maka dapur akan berasap dan gizi pun meningkat. Bukan hanya gizi untuk anak-anak sekolah, tetapi juga untuk para orang tua mereka."

"Pertanyaannya, akankah semua usaha itu terwujud?

***

Sunday, June 21, 2026

Program Minum Dihentikan, Dananya Dialihkan ke Demonstrasi

 

Ilustrasi: Pixabay 

"Demonstrasi besar-besaran yang mendukung program minum teh kian besar gelombangnya."

"Yang kudengar dananya dari program minum teh yang dihentikan sementara."

"Kamu dengar dari mana?"

"Beberapa wartawan dua hari lalu."

"Mereka dapat kabar dari mana?"

"Langsung dari para konglomerat pendukung presiden."

"Kok bisa?"

"Bisa apa?"

"Itu. Mereka bisa dapat kabar dari lingkaran orang-orang besar."

"Mereka dibantu para hacker kelas dunia. Jadi, ceritanya ponsel pintar para konglomerat tersebut mereka retas dan hasilnya semua aktivitas yang dilakukan di perangkat canggih itu dapat diketahui secara gratis."

"Wah benar-benar hebat."

"Ya iyalah. Zaman sekarang kecanggihan benar-benar berkuasa. Tahun 2222 gitu lho."

"Sehari saja pengeluaran program minum teh menelan biaya 1,7 trilyun. Jadi, dana segede itu untuk membayar para demonstran dan juga semua yang diperlukan di lapangan."

"Benar sekali."

"Weddeeeew! Pantesan demonya besar-besaran."

***

Friday, June 19, 2026

Desa Ini Sepi, Investor Kabur!

Ilustrasi: Pixabay 

"Kata kakekku, saat ini, perekenomian di sini persis seperti 75 tahun lalu."

"Kita sudah kembali di masa lalu. Masa saat desa berupa kesunyian ekonomi."

"Masih terbayang di otakku, dua tahun lalu sebelum Lurah Praprapra Susanto naik tahta, ekonomi di desa ini bergerak lincah."

"Yah bagaimana tidak sepi, investor pada kabur. Lihatlah kolam ikan di sana sudah tidak beroperasi, pabrik kacang telur dan kripik singkong sudah tutup, tempat wisata kita juga berhenti total."

"Sayang sekali, Lurah Praprapra selalu saja mengambil keputusan dengan tergesa-gesa."

"Beliau sangat asal-asalan tanpa berpikir panjang terlebih dahulu."

"Ya, benar. Dengan kata lain, bersifat cepat. Bertindak secara tiba-tiba menurut gerak hati."

"Itu sangat parah. Logika tidak beliau gunakan. Hanya menggunakan perasaan semata."

"Memang sudah sangat tampak beliau tidak menggunakan logika. Buktinya beliau tidak mau berhitung dengan cermat. Seperti kita ketahui bersama, secara asal-asalan beliau menyamakan 1+1 sama dengan sembilan belas. Itu bukti nyata bahwa beliau tidak menggunakan logika berpikir."

"Sudah begitu, beliau tidak mau dikritik."

"Aku pernah dengar langsung saat di balai desa. Beliau marah dan berkata, 'Saya tidak bodoh! Jangan kritik saya!' Dan, para anak buah beliau langsung diam."

"Alhasil, semua itu menghasilkan produk kebijakan yang serampangan."

"Lalu kepercayaan para investor terkikis dan akhirnya habis." 

"Mereka pun meninggalkan desa ini."

"Sedangkan Lurah Praprapra asyik mengadakan lawatan di desa-desa lainnya bersama mas Jura."

***


Thursday, June 18, 2026

Ngumpulin Orang dari Berbagai Daerah DEMI Kursi Presiden

Ilustrasi: Pixabay 

Pagi masih dingin. Embun membentuk bola-bola bening mungil yang tampak berkilauan di ujung-ujung daun. Benar-benar eksotis. Sedang Jua Min dan San Kang asyik berbincang tak jauh dari keindahan panorama itu.

"Ini mengingatkanku pada peristiwa yang sudah kita lewati nyaris tiga puluh tahun lalu."

"Waktu yang panjang. Peristiwa yang mana?"

"Pengumpulan tentara dari berbagai daerah untuk berkumpul di Daerah Khusus Ibukota Chang Man."

"Owh yang itu. Tahun 2099 memang mencekam. Aku masih ingat betul bagaimana orang tersebut begitu berambisi menjadi presiden. Mulai dari menikahi putri presiden, menggulingkan mertuanya dengan sangat kejam, hingga menjalankan rencana kudeta."

"Tapi, semuanya gagal dan barulah setelah hampir tiga puluh tahun kemudian ia berhasil menjadi presiden dengan cara curang."

"Lantas, sebenarnya apa yang membuatmu teringat tahun 2099 itu?"

"Sebelum ke sini aku menonton berita di televisi bahwa nelayan, petani, pedagang, tokoh masyarakat, pelaku UMKM, buruh, dan juga mahasiswa dari berbagai daerah datang di ibukota negara."

"Apa yang mereka lakukan?"

"Menggelar aksi damai mendukung kebijakan kerakyatan Presiden Pung Sumbung."

"Hayyaaaa! Ini memang benar-benar mengingatkan kita pada tahun 2099 lalu. Demi kursi presiden, dirinya memobilisasi massa. Jika yang lalu adalah tentara, sekarang dari kalangan sipil."

***

 

Jak, Tunggu!

Ilustrasi: Pixabay 

"Kok sekarang lu panggil guwa 'Jak'? Panggilan apaan tu?"

"Lu, 'kan sekarang pejabat?"

"Lha apa hubungannya pejabat ama panggilan baru guwa?"

"Pejabat, 'kan makan uang pajak?"

"Ah! Lu kalo ngomong emang sering bener."

"Ha ha ha ha ha."

"Terus lu ngapain manggil guwa?"

"Ini guwa mo ngomong santuy aja ama lu."

"Soal apaan?"

"Proposal dana."

"Ah elu! Sama aja berarti kita bedua."

"Sama apaan?"

"Tu soal dana! Dana dari mana coba?"

"Eh iya ya, dari pajak."

"Ha ha ha ha."

"Ok. Kalo ini bener kata lu."

"Emang, dananya buat apaan, Jak?"

"Gini, Jak, di kampung guwa lagi ada rencana ngebangun tempat bersantai."

"Widiiih gaya kampung lu."

"Iya lah. Kampung guwa gitu. Nah, lu mo ga ngebantuin soal ini?"

"Ngebantuin biar dapet dananya?"

"Yes bener banget."

"Oke-oke aja, tapi ga seratus persen."

"Maksud lu?"

"Yaaaa guwa kudu dapet bagian lah."

"Seberapa persen?"

"Ga banyak-banyak amet. Cuma 35 persen aja."

"Busyet gede banget!?"

"Ya emang kudu segitu." 

"Yaaaa kalo emang ga bisa ditawar, ga apa-apalah. Toh uang pajak juga."

"Nah gitu baru temen guwa. Besok lu bawa proposalnya. Sisanya biar guwa yang urus."

"Ok."

***

Demonstran Tandingan? Piala Dunia Ya?

Ilustrasi: Pixabay 

Ini benar-benar seperti gelaran akbar sepak bola piala dunia. Kesebelasan-kesebelasan besar saling sikat memperebutkan piala rutin empat tahun sekali.

Anehnya, kesebelasan yang didukung pemerintah selalu kalah. Padahal mereka mendapatkan dukungan dana yang luar biasa. Bahkan, mereka tidak mendapatkan "gangguan" dari aparat keamanan. Waaaah! Kok bisa? 

Agaknya hal itu dikarenakan kurangnya pendidikan dan pengajaran dari pemerintah kepada mereka. Maklum, massa kesebelasan karbitan memang selalu demikian. Sedang para demonstran sejati.yang tidak dibayar adalah para pahlawan yang terlatih di medan pertempuran.

Dan kalau dipikir-pikir, menyediakan massa demonstran atau kesebelasan karbitan sangatlah merugikan dari sisi keuangan negara yang didapatkan dari pajak rakyat. Uang dari keringat rakyat mereka hambur-hamburkan untuk hal yang sungguh tidak bermanfaat. Ya, tidak bermanfaat bagi mereka (kalah di pertempuran) dan tidak bermanfaat bagi rakyat.

Agaknya sudah saatnya para politikus sadar bahwa ini adalah dunia. Semua akan berakhir seiring habisnya jatah kehidupan masing-masing di alam yang fana ini Jadi, ayolah bekerja untuk rakyat. Benar, untuk rakyat. Untuk rakyat!


Wednesday, June 17, 2026

Menuju Tiananmen, Prabowo Batal ke Rusia

 

Ilustrasi: Pixabay 

Aaaaah, emang benar begitu? Tiananmen itu ada di Republik Rakyat Cina. Jauh dari Indonesia. Dalam peta, daerahnya terlihat ada di Utara atau bagian atas Jamrud Khatulistiwa. Menuju ke sana, sungguh melelahkan. Terlebih kalau harus berjalan kaki. 

Meskipun demikian, akhir-akhir ini arah reaksi massa di Indonesia menuju ke sana. Benarkah? 

Ringkasnya, pada tahun 1989 terjadi demonstrasi besar-besaran di Tiananmen. Walaupun disangkal-sangkal, kenyataannya tindakan aparat Cina Daratan itu benar-benar keras. Konon, banyak sekali demonstran yang meregang nyawa. Alhasil, rezim komunis era Deng Xiaoping tetap aman. Pemerintah di sana terus berjaya.

Nah, kalau demikian, untuk apa demonstrasi di Indonesia ditakuti pemerintah? Eh, bener ya ditakuti? Ga kales! 

Atau, sebenarnya malah mirip Gerakan Demokrasi Juni yang terjadi tahun 1987 di Korea Selatan? Gelombang massa nasional ini sukses membuat rezim militer Chun Doo-hwan  mengadakan pemilu demokratis dan mengakhiri kekuasaan tangan besi di Negeri Ginseng itu.

Lalu bagaimana sejatinya yang sedang terjadi di negara kita? Apa pun model gerakan demonstrasi yang ada, idealnya tak perlu disikapi berlebihan, termasuk yang kata banyak pihak, menyebabkan Presiden Prabowo "batal" ke Rusia. Caranya cukup dengarkan, pahami, dan lakukan sesuai tuntutan para demonstran. Mudah, 'kan? 

Tuesday, June 16, 2026

Demo Santun untuk Meninabobokan Presiden

 

Ilustrasi: Pixabay 

Pagi-pagi sekali seorang menteri berujar kepada calon demonstran, "Santunlah saat berdemonstrasi seperti angin sepoi-sepoi yang menjatuhkan sang kera jantan."

Perkataannya pun segera diamini banyak pihak. Dalam sejarahnya, kera memang pernah jatuh oleh angin sepoi-sepoi. Ya, sang kera hebat yang diembusi angin tersebut mulai mengantuk. Tak lama setelahnya ia pun tertidur dan akhirnya terjatuh dari atas singgasananya. 

Hal itu pula yang sebenarnya diembuskan oleh para menteri dan lainnya kepada sang presiden. Istilah lain dari santun di kalangan mereka adalah, Asal Bapak Senang atau disingkat ABS. Dan, para demonstran ikut-ikutan bersuara santun pula saat berunjuk rasa di depan istana presiden.

Salah seorang perwakilan mereka bersuara merdu dan santun, "Wahai Bapak Presiden yang ganteng, dengarkanlah nyanyian kami. Bahan bakar minyak yang dingin, merangkak naik dari aspal menuju trotoar, median jalan, dan juga jembatan ke jembatan. Kenaikannya sungguh mengiris dada kami. Bagaimana tidak? Lembar-lembar uang kami menjadi kian menipis. Sementara harga-harga kebutuhan sehari-hari juga ikutan naik dari anak tangga satu ke anak tangga berikutnya. Oooooh Bapak Presiden kami yang gagah, dengarkanlah, dengarkanlah, dengarkanlah jeritan kami."

Orator lainnya tak kalah santunnya, "Pernahkah Bapak Presiden yang berkulit bersih dan bersuara merdu memikirkan hasil program-program yang sudah dijalankan selama ini? Roda-rodanya banyak yang bengkok. Jalannya bergoyang-goyang. Sebutlah program menikmati nasi hangat, lauk gurih, dan sayuran segar, banyak sekali menelan anggaran negara. Termasuk anggaran untuk kemakmuran rakyat dipotong untuk program itu. Kami yang kecil dan lemah ini meminta kepada Bapak Presiden yang perkasa dengan otot besar untuk segera menghentikan jalannya program tersebut."

Pada demonstrasi pertama ini, sang presiden mulai bereaksi di balik gedung istana berupa kata-kata sederhana, "Akan saya perhatikan." Melihat fenomena yang demikian, para mahasiswa dan juga pihak-pihak lain yang sebelumnya tak turun ke jalan, akhirnya tersentuh dan berniat ikut berdemonstrasi. 

Jumlah para demonstran pada demonstrasi yang kedua meningkatkan drastis. Kata-kata indah yang santun menelusup ke celah-celah  dinding-dinding istana negara. Suara santun mereka membuat sang presiden terenyuh dan menangis tersedu-sedu.

"Baiklah, baiklah, baiklah, saya akan menyuntikkan subsidi bahan bakar minyak dan juga menghentikan program nasi hangat, lauk gurih, dan sayuran segar."

Para demonstran langsung menyambut kata-kata sang presiden dengan penuh haru. 


Mengapa Presiden Tidak Prorakyat?

 

Ilustrasi: Pixabay 

Sebenarnya kata "presiden" sekadar istilah yang mewakili makna pemimpin negara. Seperti yang kita tahu, ada yang namanya sultan, raja, dan lainnya. Tapi, dalam hal ini cukuplah satu istilah yang kita pakai. Ya, presiden sebagai jabatan yang diincar para ambisius di bidang politik.

Dalam perjalanan sejarah perpolitikan, bisa dikatakan banyak presiden yang tidak prorakyat. Nah, dari sana muncullah sebuah pertanyaan mendasar, mengapa demikian?

Jika pertanyaan itu muncul, maka agaknya yang pertama lahir dalam pikiran banyak orang sebagai reaksinya adalah, karena presiden memikirkan ego yang belum bisa ia kendalikan. Lihatlah hingga sekarang masih saja ada aktivitas kenegaraan yang memakai istilah presiden. Sebutlah misalnya, kurban presiden, bantuan presiden, yang kesemuanya untuk mendapatkan pujian sang presiden. Padahal masih menggunakan uang rakyat.

Atau, contoh lainnya berupa program-program yang dibuat berdasarkan keinginan presiden dan bukan berangkat dari situasi dan kondisi rakyat. 

Nah, bagian terakhir di atas sebenarnya bisa juga atas perintah para pemodal. Benar, dalam negara yang katanya berasaskan demokrasi, pada kenyataannya malah berasaskan kepentingan para pemodal, yakni para pengusaha yang memodali calon presiden hingga menjadi presiden. Ini tentu menjadi sebab munculnya segala program presiden. Artinya, program-program yang dijalankan hanya untuk kepentingan orang-orang kaya raya tersebut. 

Masih sejurus dengan paragraf yang baru saja kita tinggalkan, selain para pemodal, kepentingan dapat saja datang dari asing. Maksudnya dari para pemimpin atau satu pemimpin negara adikuasa. Dalam bahasa yang lebih mudah dipahami, untuk mewujudkan ambisinya sebagai presiden, seorang politikus meminta dukungan dari luar negaranya. Dan setelah dirinya menjadi presiden, maka ia pun tunduk dan patuh kepada para presiden atau satu saja presiden dari negara adikuasa itu. 

Oleh karenanya, jangan heran kebanyakan presiden tidak prorakyat. 

Sunday, June 14, 2026

Pujian di Luar Batas kepada Presiden

Ilustrasi: Pixabay 

Haruskah itu dilakukan? Jika demi jabatan, tentu wajib dilakukan. Sebab, seandainya tidak, bagi para pejabat, jabatan mereka bisa melayang. 

Nah, bagi yang belum menjadi pejabat, hal itu sangat bagus untuk mendapatkan jabatan. Minimal kepala satuan tugas.

Pujian tersebut bisa berupa kalimat yang berbunyi, "Presiden kita sangatlah cerdas. IQ beliau lebih tinggi daripada kecerdasan  intelektual Albert Einstein." Atau, "Program  presiden didukung 43 juta murid. Beliau mencontohkannya dalam sehari membaca sebanyak 50 buku nonstop."

Apa pun tanggapan masyarakat, selalu menjadi urusan belakangan bagi ahli memuji jenis ini. Terpenting adalah, presiden yang bersangkutan mengetahui pujian itu. 

Pertanyaannya, mengapa mereka yang gila jabatan bisa seperti itu? Jawabannya mudah, yakni karena presiden yang mereka puji termasuk kategori orang yang gila pujian. Maka, dengan pujian di luar batas tersebut, presiden akan sangat kegirangan dan langsung memberikan jabatan bagi pemuji yang belum menerima jabatan. Dan, seperti tersebut di atas, para pejabat akan terus memangku jabatan mereka dalam waktu yang panjang.


Saturday, June 13, 2026

Pidato Presiden Adalah Keaslian Dirinya

 

Ilustrasi: Pixabay 

Benarkah demikian? Agaknya ini merupakan pertanyaan yang membuat publik berambisi menjawabnya. Ya, selama ini deretan pidato sang presiden yang diluncurkan dengan bantuan pengeras suara memang membuat banyak orang geram. 

Hal terakhir di atas sering ditanggapi dengan kata-kata yang tidak pernah dilontarkan kepada presiden sebelumnya. Sebutlah misalnya, "Jangan kasih dia mic!" dan "Presiden pidato, kiamat kian dekat satu jam." Kalimat-kalimat tersebut sebenarnya bukan sekadar asal keluar atau asal bunyi, tetapi menjadi tanda bahwa masyarakat kebanyakan tidak menyukai gaya dan isi pidato presiden. 

Menurut masyarakat luas--dilihat dari komentar di media sosial--perkataan demi perkataan presiden memang tidak sinkron dengan fakta di lapangan dan terkesan jauh dari kata empati terhadap rakyat. 

Nah, disadari sang presiden atau tidak, sebenarnya pidatonya ialah cerminan dari keaslian dirinya yang dapat ditangkap oleh banyak orang. Ini bukan sekadar pola pikir dan wawasannya, tetapi keseluruhan dirinya. Sebutlah contohnya ketika presiden mengatakan A, tetapi di lapangan B. Ini bukti bahwasanya ia seorang pembohong. Publik pun akhirnya menilai masih pantaskah dirinya tetap menjadi presiden atau tidak. 

Itulah sebabnya, jangan heran jika banyak orang menginginkan sang presiden mundur dari kursi jabatannya. 

Friday, June 12, 2026

Upaya Keselamatan di Kawasan Wisata

Foto: Pixabay 

Ada yang bilang tidak ada yang disalahkan dalam setiap tragedi di tempat wisata. Akan tetapi, hukum kausalitasnya berbunyi, "Tragedi itu terjadi karena tidak adanya peralatan keselamatan dan tim penyelamat' di sana."

Ini tentu menjadi perhatian bersama, termasuk juga para calon pengunjung. Ya, jika di kawasan wisatanya tidak dilengkapi unit keselamatan, lebih baik batalkan atau pastikan untuk sebisanya ekstra berhati--hati. Sebab, jika terjadi kecelakaan semisal Anda terjatuh dari ketinggian, tidak ada bantuan yang datang dengan segera. Anda akan mendapatkan bantuan setelah Tim SAR tiba. Dan, durasinya dari awal Anda terjatuh hingga mereka datang di tempat kejadian bisa mencapai satu jam. Rentang waktu selama itu sangat tidak ideal bagi keselamatan Anda. Bisa-bisa mereka datang saat nyawa Anda sudah melayang.

Itulah sebabnya, di setiap destinasi wisata idealnya dilengkapi peralatan keselamatan dan tim penyelamat. Sebab, jika masih mengandalkan BASARNAS, misalnya, itu pasti memakan waktu yang tidak lah singkat mengingat jarak tempuh dan lainnya. Sementara korban harus segera mendapatkan pertolongan.

Dalam hal ini pemerintah wajib mengadakan pengawasan ketat terhadap adanya kepastian upaya keselamatan tersebut di atas oleh pemilik dan pengelola setiap destinasi wisata yang ada. 

Adakah Pejabat yang Peduli terhadap Para Korban?

Ilustrasi: Pixabay 

Konon, kepedulian terhadap sesama makhluk terkait erat dengan kecerdasan sosial. Ketika seseorang memiliki kecerdasan sosial.yang tinggi, apa pun akan dilakukannya untuk menolong sesama, baik yang hidup, maupun yang berupa benda mati. 

Ya, meski benda mati sekalipun tetap dipedulikannya, semisal bebatuan di sekitar sungai. Dan, kepedulian jenis ini sebenarnya juga berdampak pada kehidupan makhluk termasuk manusia. Bayangkanlah ketika bebatuan di sekitar sungai sudah tidak ada, maka tidak ada lagi yang menahan gerusan air sehingga terjadi longsor dan banjir. 

Sebaliknya, siapa saja yang tidak memiliki kecerdasan sosial, maka tidak ada pula yang namanya kepedulian. Nah, dari waktu ke waktu tentu ada saja korban demi korban berjatuhan. Mulai korban yang mengalami luka sederhana hingga yang parah. Terakhir yang masih hangat dibicarakan banyak orang adalah, seorang wanita yang menjadi korban tenggelam di Bulukumba. 

Pertanyaannya, adakakah kepedulian para pejabat terhadap para korban tersebut?

Jika ditanya demikian, mungkin ada,.tapi ada berapakah yang peduli? Sebutlah korban tenggelamya remaja di Bulukumba tersebut, ada berapa banyak pejabat yang peduli terhadapnya? Siapa sajakah mereka? Adakah presiden kita peduli?


Para Demonstran Didukung Penuh Aparat Berwajib

Foto: Pixabay 

Nah ini baru namanya aparat berwajib yang super keren. Betapa tidak? Mereka, baik dari pihak kepolisian, maupun tentara, bahu-membahu mendukung rakyat melalui para mahasiswa dan masyarakat saat berunjuk rasa di depan pagar bangunan istana negara dan kantor perwakilan rakyat. Karena kedua bangunan itu bersebelahan, demonstrasinya pun terpusat di satu titik. 

Para aparat berwajib itu sadar betul bahwa kekuasaan tertinggi di tangan rakyat. Bahkan, mereka tidak malu mengakui rakyat lah yang memberikan penghidupan di negara ini. Ya, dengan pajak. Tanpa adanya pajak, tak ada pula yang namanya eksistensi negara meski sudah merdeka sekalipun.

Nah, adapun tuntutan mahasiswa dan masyarakat tersebut ialah turunkan harga bahan bakar minyak dan hentikan program-program pemborosan anggaran pengeluaran negara. 

Selama demonstrasi berlangsung, mahasiswa dan masyarakat kompak menyuarakan kedua tuntutan itu. Sedang presiden dan juga ketua perwakilan rakyat berkenan menemui para demonstran. Mereka berdua mendengarkan dan menampung segala tuntutan yang ada.

Ini jauh berbeda sekali dengan Negara Kondolan yang semua aparat berwajibnya lebih memilih perintah presiden di sana. Itulah sebabnya, setiap kali ada demonstrasi di negara tersebut, pasti terjadi bentrokan hebat antara para demonstran versus aparat berwajib. Parahnya lagi, pernah ada komandan militernya yang memerintahkan kepada para bawahannya untuk menghabisi para demonstran. Alhasil, waktu itu ada yang tewas dan ada pula yang hilang.


Thursday, June 11, 2026

Halo, Sahabat! (Sambungan Telepon Antarpemimpin Negara Maju saja) Presiden Rendahan Silakan Datang!

 

Ilustrasi: Pixabay 

Punya banyak sahabat tak harus saling berkunjung jika memakan anggaran pengeluaran yang.besar. Cukup dengan sambungan telepon, maka komunikasi dua arah pun terwujud.

Ya, sering diwartakan bahwa tak jarang antarpemimpin negara pun semisal Presiden Erdogan dan Presiden Putin berkomunikasi lewat sambungan telepon. Bahkan, Presiden Republik Turkiye itu tak segan berbicara dengan Presiden Trump lewat sambungan telepon juga untuk membahas hal penting.

Ini tentunya merupakan pemanfaatan teknologi dan penghematan keuangan negara masing-masing. Kalau seandainya mereka ingin bertatap muka pun bisa dengan menggunakan zoom. Jadi, tidak perlu harus bertemu langsung. 

Perihal sahabat antarpemimpin negara ini memang agak rumit juga. Harus ada kesetaraan kekuatan politik dan ekonomi. Jika pemimpin negara lemah, biasanya, meski sudah sering bertemu dengan presiden negara maju, tetap.saja tidak dianggap sahabat, melainkan bawahan.

Karena dianggap bawahan, tentu saja hubungan yang ada bukanlah hubungan antaraahabat, melainkan hubungan antara majikan dan anak buah. 

Presiden lemah (rendahan) harus tunduk dan patuh kepada presiden negara kuat (maju). Jika presiden kuat memanggil presiden lemah, maka si lemah ini harus datang. Tidak boleh tidak datang. Alhasil, pengeluaran negara yang dipimpin presiden lemah pun membengkak.

Nah, untuk mengatasi hal tersebut di atas, idealnya presiden rendahan memfokuskan diri pada peningkatan kemajuan negara yang dipimpinnya. Setelah maju, barulah mencoba menjalin persahabatan dengan para pemimpin negara maju (kuat).

Wednesday, June 10, 2026

Memecat Dirinya Adalah Pilihan Tepat Waktu itu

Ilustrasi: Pixabay 

"Kamu denger ga kemarin bapak itu bilang kalau dirinya pengen jadi presiden sejak tahun 1990-an?"

"Iya. Katanya sejak tahun tersebut pemerintahan negara kita salah arah. Itulah sebabnya, beliau ingin jadi presiden."

"Bener banget. Aku jadi ingat perkataan beliau saat diwawancarai media asing pada pertengahan tahun '90an."

"Oh yang beliau bilang bahwa mertuanya sudah tua itu, 'kan?"

"Yes bener banget. Aku ingat betul beliau juga bilang ke wartawan tersebut mertuanya tidak pernah ikut pelatihan militer di luar negeri. Dengan kata lain kurang wawasan yang luas."

"Iya, aku juga masih ingat kok. Bahkan, katanya harus segera diganti."

"Dari kedua perkataan bapak itu pada masa yang berbeda tersebut ternyata membuatku paham bahwasanya beliau sudah mengincar jabatan sang mertua sejak lama."

"Aku yakin ketika mertuanya lengser.yang kemudian digantikan wakilnya, adalah angin segar bagi bapak itu. Rencana beliau pun terus bergulir dengan mengumpulkan tentara dari setiap daerah di ibukota untuk melakukan kudeta militer."

"Dan sebelum terwujud, rencana licik beliau dapat dibaca oleh orang lain. Dari orang lain itulah, presiden pengganti sang mertua langsung melepaskan jabatan beliau agar tidak bisa lagi memerintahkan para tentara untuk melakukan kudeta."

"Tak lama kemudian, beliau juga dipecat secara tidak hormat."

"Sebegitu ngerinya ya dunia perpolitikan di negara kita?"

"Ya. Meskipun demikian, aku masih berharap Negara Republik Surga Segar Raya ini tetap bertahan selama mungkin."

***


Tak Perlu Menunggu 2045

Ilustrasi: Pixabay 

"Terkadang manusia terlalu senang berangan-angan."

"Padahal panjang angan-angan tidak terlalu baik juga. Lebih baik, misalnya, gunakanlah waktu luang sebelum datang waktu sempit dan gunakanlah waktu sehat sebelum sakit."

"Ya, lebih baik kita nikmati saja prosesnya dengan bekerja sungguh-sungguh sejak sekarang atau sebelumnya. Tidak perlu menunggu waktu yang akan datang."

"Eh, ini membahas apa sebenarnya kok kita malah ngomongin angan-angan?"

"Itu, soal pidato presiden negara tetangga kita. Kata beliau, negara mereka akan menjadi negara maju keempat di dunia pada tahun 2045."

"Owh itu. Iya, aku juga dengar presiden mereka berpidato demikian. Nomor satu Cina, lalu Amerika Serikat, kemudian India, setelah itu baru negara mereka."

"Beliau terkesan begitu sombong. Padahal belum tentu akan terwujud."

"Yang jelas hal itu bukanlah kuasa manusia. Sebab, segala sesuatu hanya terjadi atas kehendak dan kuasa-Nya."

"Jujur, aku sampai terkejut lho mendengarkan perkataan beliau tersebut. Mengapa seberani itu, pikirku."

"Beliau sudah berlaku bak Tuhan."

"Semoga kita dihindarkan dari sifat sombong seperti itu."

"Mengapa tiba -tiba aku teringat Mustafa Kemal Ataturk ya?

***