Tuesday, January 21, 2020

Indonesia Perlu Chaerul Lebih Banyak Lagi


Belajar bisa dari mana dan siapa saja. Karena yang memberikan ilmu itu bukan guru, bukan dosen, bukan makhluk mana pun. Melainkan Allah swt lah yang memberikannya. Bila Dia berkehendak seseorang dapat ilmu melalui air sekalipun, maka dapatlah ia ilmu itu.

Ya, masih ingat, 'kan bagaimana seorang Blaise Pascal yang merupakan filsuf Prancis itu menemukan Hukum Pascal?

Ia mendapatkan bagian penting dari ilmu fisika tersebut bukan saat berguru dari seorang guru besar. Akan tetapi, saat dirinya sedang iseng mengisi air ke dalam sebuah kantung plastik. Kemudian ia membuat banyak lubang di kantung itu. Setelah diperhatikannya, ternyata air yang keluar dari banyak lubang tersebut terpancar dengan sama kuat.

Dari situlah, dirinya menemukan Hukum Pascal yang berbunyi jika kita memberikan gaya berupa tekanan pada “cairan tertutup” itu, maka tekanan di setiap bagian cairan itu juga akan meningkat, sesuai dengan besar tekanan yang kita berikan.

Dengan kata lain, guru, dosen, dan lainnya hanyalah perantara bagi kita mendapatkan ilmu dari-Nya.

Lantas, apa hubungannya dengan judul di atas?

Saya yakin Anda sudah mengetahui adanya seorang bernama Chaerul (sebagian yang lain menuliskan namanya Khaerul) berhasil membuat dan menerbangkan pesawat pada tanggal 15 lalu.

Pesawat buatan pria yang dikenal sebagai seorang montir ini mampu terbang 20 meter dan 2 kali bermanuver.

Dikabarkan pemuda itu tidak lulus sekolah dasar. Meski demikian, dirinya telah membuktikan bahwa ilmu itu bisa didapatkan dari mana saja (selain guru atau dosen formal di ruang kelas).

Hal mendasar yang dapat kita petik selain hal tersebut adalah, kegigihan dalam mencapai segala sesuatu. Gigih dalam usaha dan tentunya dalam doa.

Inilah yang perlu ditanamkan sejak dini. Benar, bukan hanya Chaerul, tetapi juga lebih banyak lagi termasuk saya dan Anda.


Monday, January 20, 2020

Jangan Gunakan Elpiji jika Harganya Naik, tapi Gunakanlah Energi Alternatif Lain


Ada yang sering kelupaan dengan hukum kausalitas terkait judul di atas. Saya membayangkan hal itu mirip lupanya seseorang dari kekasihnya.

Betapa tidak? Sebutlah misalnya dia bahagia karena ditemani kekasihnya, tetapi dirinya kelupaan bahwa rasa bahagia tersebut adalah akibat dari keberadaan orang yang dikasihinya tersebut.

Memang terkesan aneh, tapi ini pula yang saya dengar atau baca belakang ini mengenai naiknya harga bahan bakar (bb). Segelintir orang kelupaan naiknya bb sebenarnya akibat dari dicabutnya subsidi bahan bakar bersangkutan, seperti bensin dan solar.

Pertanyaannya, siapa yang mencabut? Siapa pun orangnya, dialah yang menyebabkan naiknya bahan bakar di Indonesia. Sebab, jika subsidi tersebut tak dicabutnya, harga bb pun tidak akan naik.

Hal di atas hanyalah perkara kausalitas. Lalu, adakah solusi dari pencabutan subsidi dari bahan bakar seperti bensin dan solar itu? Bagaimana pula dengan yang "akan" dicabut, yakni elpiji atau Liquified Petroleum Gas (LPG)?

Mengganti dengan bahan bakar lain? Kalau ini solusinya, dengan apa?

Saya masih ingat waktu kecil sering melihat orang memasak dengan bahan bakar kayu (bbk). Konon, rasa makanan yang dimasak dengan bahan bakar itu lebih enak. Tentu maksudnya lebih enak daripada yang dimasak dengan minyak atau gas. Harga kayu pun murah. Bahkan, bisa didapatkan secara gratis jika rajin mencarinya.

Kelemahan paling mencolok dari bbk ialah kepulan asap yang dihasilkan. Selain aromanya tidak sedap, juga membuat mata berair.

Selain itu, pernah juga saya melihat orang memasak dengan daun kelapa kering. Masalahnya, asapnya lebih parah daripada hasil pembakaran kayu.

Kemudian pernah juga saya melihat orang memasak dengan energi surya. Ini sangat bagus. Tapi, bagaimana jika hujan atau sekadar mendung?

Akhir-akhir ini "booming" pula bahan bakar dari sesuatu yang tak terduga sebelumnya, yakni kotoran sapi. Hasilnya adalah biogas. Sangat menarik. Namun, hingga sekarang sebarannya masih belum menyentuh seluruh manusia Indonesia.

Dan, ada lagi, batu bara. Cara menggunakannya bisa dibakar dalam bentuk briket atau dalam wujud paling baru digagas. Apa itu? DME atau dimethylether yang direncanakan dapat menggantikan LPG.

Awal tahun lalu, dikabarkan bahwa PT Bukit Asam Tbk (PTBA) dan PT Pertamina (Persero) bersama perusahaan asal Amerika Serikat--Air Products and Chemicals, Inc--telah sepakat membentuk perusahaan patungan dengan membangun pabrik gasifikasi batu bara di Peranap, Riau. Jika sesuai rencana awal, maka pabrik inilah yang akan mengubah batu bara menjadi dimethylether atau DME. Meski demikian, hingga kini batang hidungnya juga belum dapat dirasakan masyarakat.

Selebihnya listrik. Teknologi semakin canggih. Orang memasak bisa dengan panas yang dihasilkan dari listrik. Hebat. Lantas apakah listrik tarifnya tidak naik? Atau bagaimana saat terjadi pemadaman bergilir?

Pertanyaan terakhir, seandainya tidak lagi menggunakan elpiji yang mungkin harganya akan naik, energi alternatif apa yang paling ideal kita gunakan?


Sunday, January 19, 2020

Kerajaan Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme versus Keraton Agung Sejagat


Entah ada apa gerangan setelah kejadian-kejadian besar, seperti kasus korupsi Jiwasraya, pencurian ikan di Laut Natuna, dan kasus suap yang melibatkan Komisioner KPU, bermunculan kerajaan-kerajaan baru.

Sebutlah Keraton Agung Sejagat di Purworejo dan Sunda Empire di Bandung. Sementara yang memang sudah ada sebelumnya, tapi baru viral semisal Keraton Djipang di Desa Jipang, Kecamatan Cepu, Blora dan Kesultanan Selaco di Tasikmalaya.

Agaknya, kerajaan-kerajaan yang demikian itu menyaingi Kerajaan Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN) yang sudah ada sejak dulu.

Kerajaan yang mengandung tiga kejahatan ini menyebakan orang hebat sekalipun susah untuk menghancurkannya.

Mulai dari tingkat bawah hingga atas korupsi, semisal di Jiwasraya terus-menerus ada. Begitu pula kolusi. Kerjasama jahat dalam wujud suap antara Komisioner KPU--Wahyu Setiawan--dan kader PDIP--Harun Masiku--hanyakah satu di antara banyaknya kasus kolusi di dunia.

Nepotisme? Apalagi. Ini sudah berurat akar sejak dulu.

Lalu, jika ditanya hebat mana antara
Kerajaan KKN versus Keraton Agung Sejagat, apa jawabannya?

Secara jujur, saya menduga lebih hebat Kerajaan KKN daripada Keraton Agung Sejagat.

Nah, karena itulah, lebih baik pula kita di Negara Kesatuan Republik Indonesia fokuslah pada penghancuran Kerajaan KKN daripada sibuk dengan kerajaan-kerajaan yang baru viral belakangan ini.

Usut tuntas kasus korupsi Jiwasraya dan Asabri! Ungkap secara luas kasus suap yang melibatkan Komisioner KPU Pusat dan kader PDIP! Pertahankan kedaulatan NKRI di Laut Natuna dari ambisi Republik Rakyat China! Dan, hindarkan politik dinasti dan praktik nepotisme lainnya!

Saturday, January 18, 2020

Omnibus Law Cara Terselubung Pemerintah Hilangkan UMR Buruh dan Pekerja?


Pertanyaan itu terkesan begitu menyakitkan jika jawabannya adalah ya. Dan, sebaliknya menjadi angin segar bagi para buruh dan pekerja di Indonesia.

Bagaimana pun juga idealnya pemerintah Indonesia wajib menyejahterakan rakyatnya. Begitu setidaknya dambaan semua orang di negeri ini.

Agaknya demikian pula yang diharapkan konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) yang akan menggeruduk Gedung DPR RI. Penggerudukan itu sendiri dijadwalkan akan dilaksanakan pada Senin (20/1/2020) mendatang.

Tuntutan mereka tentu masih berkaitan dengan kesejahteraan rakyat Indonesia. Dalam hal ini yang dimaksud adalah rakyat yang bekerja sebagai buruh dan pekerja. Ya, mereka menuntut anggota dewan yang terhormat di DPR RI agar tidak mengesahkan Omnibus Law.

Mengapa mereka secara tegas menolak adanya Omnibus Law?

Jawabannya sederhana. Karena, Omnibus Law dinilai para buruh dan pekerja sebagai cara terselubung pemerintah untuk menghilangkan UMR mereka.

Penolakan mereka tidak main-main. Direncanakan sebanyak 30 ribu orang dari Aceh hingga Kalimantan Tengah akan ke DKI Jakarta. Dan, aksi ini sebenarnya juga digelar di sejumlah daerah. Sebut saja Aceh, Batam, Jateng, Riau, Sumut, Kaltim, dan Kalteng.


Friday, January 17, 2020

Demi Konten di Instagram, Seorang Turis Dipenjara


Dunia kekinian kadang memang membuat banyak orang geleng-geleng kepala. Khususnya yang berkaitan dengan foto atau video.

Kian canggihnya teknologi visual, tak selamanya dapat membuat penggunanya bersikap positif. Ini bukan berarti teknologinya yang salah, melainkan sejumlah pemakainya lah yang tidak bijak. Mulai dari selfi yang merusak bunga-bunga yang indah hingga berurusan dengan pihak berwajib.

Yang terakhir tadi dilakukan seorang influencer di Instagram berkebangsaan Amerika Rusia. Ialah Vitaly Zdorovetskiy yang nekat memanjat Piramida Giza di Mesir. Hal ilegal itu ia lakukan demi konten di akun instagramnya yang berpengikut 3 juta tersebut.

Akibat perbuatannya itulah, dirinya dipenjara di Mesir selama lima hari.


Thursday, January 16, 2020

Terkadang Ada Unsur Humor dalam Percakapan di Masyarakat, Pernah Dengarkah?


Suatu hari saya pernah mendengar seorang anak kecil bertanya kepada penjual sayur keliling, "Man, Ada kambil kah?"

Penjual itu langsung menjawab, "Kadada kambil."

Si anak pun pulang. Tak seberapa lama ibunya mendatangi tempat penjual sayur tersebut mangkal.

"Ada niur kah, Man?" tanyanya.

Anehnya, yang tadi jawabannya adalah tidak ada, berubah menjadi ada. Kok bisa? Dan, letak humornya di mana?

Begini, kisah di atas sebenarnya adalah antara orang Jawa dan orang Banjar di Kalimantan Selatan.

Nah, karena si anak menggunakan kata bahasa Jawa "kambil" yang artinya kelapa, maka penjual dari Suku Banjar sama sekali tidak paham. Daripada direpotkan oleh anak kecil, maka tanpa pikir panjang lagi, ia langsung menjawabnya dalam bahasa Banjar "kadada" yang artinya tidak ada.

Setelah ibu si anak mengajukan pertanyaan yang sama dengan bahasa Banjar "niur" atau kelapa, transaksi pun berjalan lancar.

Wah, andai tahu bakal seperti itu kejadiannya, mending langsung ibunya saja yang turun tangan ya? He he he....

Ada lagi kisah antara orang Banjar dan Dayak Bakumpai. Ini juga terkait hal jual beli. Seorang pedagang ubi kayu dari Suku Banjar mencoba peruntungan di daerah orang Dayak Bakumpai. Karena pengaruh cuaca, ubi yang dijualnya berukuran kecil-kecil.

Melihat ukuran yang seperti itu, seorang calon pembeli dari Dayak Bakumpai mengatakan, "Jawawnya kurik-kurik lah?"

Mendengar perkataan tersebut, si penjual langsung bereaksi, "Jangan dikurik-kurik kaina buruk!"

Bagi yang paham dialog mereka, kemungkinan besar akan terbahak-bahak. Setidaknya tertawa ringan.

Pasalnya, kata "kurik-kurik" yang diucapkan orang Dayak Bakumpai di atas artinya kecil-kecil. Tentu saja sangat wajar ia mengatakannya karena ukuran ubinya (jawawnya) memang kecil-kecil.

Sementara si penjual mengira kurik-kurik artinya korek-korek dalam bahasa Banjar. Itulah sebabnya ia melarang mengorek-ngorek ubi yang dijualnya agar tidak busuk.

Sebenarnya masih ada kelucuan-kelucuan lainnya dalam penggunaan bahasa di masyarakat. Selama tidak menyebabkan hal negatif seperti perkelahian atau semacamnya, unsur humor ini menjadi warna tersendiri dalam praktik berbahasa.


Wednesday, January 15, 2020

Bagaimana Menurut Anda dengan Cerpen Denny JA Berikut?


Cerpen di bawah ini terlahir dari viralnya salah kirim pesan Denny JA di aplikasi obrolan WhatsApp yang semestinya ditujukan kepada Luhut Binsar Panjaitan, tapi justru terposting di WA grup bernama Tokoh Nasional.

Denny JA yang merupakan pemilik perusahaan LSI (Lembaga Survei Indonesia) itu diisukan meminta jabatan komisaris pada perusahaan BUMN Inalum kepada Menteri Koordinator bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan melalui pesan di aplikasi tersebut.

Nah, Denny JA pun akhirnya mengklarifikasi isu pesan salah kirim ini dalam bentuk cerpen. Berikut adalah cerpen dimaksud.

KETIKA GOSIP KOMISARIS BUMN PUN DIJADIKAN ISU

(Klarifikasi Denny JA Dalam Bentuk Cerpen)

“Pastilah sebagian masyarakat ini kehilangan isu besar. Gosip pun dijadikan isu. Tanpa cek and rechek lagi, gosip itu diforward kemana- mana. Dan viral pula.”

Itulah responnya yang pertama ketika membaca teks di WA. Dengan senyum, sambil menyerumput kopi, ia baca sekali lagi pesan beruntun di ponselnya.

Diberitakan, WAnya ke salah satu mentri bocor. Ia menawarkan diri menjadi komisaris salah satu BUMN. Entah apa yang salah? Atau apa yang penting dari soal itu hingga dijadikan isu yang viral?

Dalam hidupnya sebagai aktivis, tak sekali ia menerima gosip itu. Sebelumnya di era Pilpres 2019, ia dikabarkan menerima uang dari Jokowi sebesar 45 Milyar rupiah untuk memenangkan Jokowi mengalahkan Prabowo.

Waktu itu, Ia santai saja menjawab. “Itu fitnah karena angka 45 Milyar kok kecil sekali. Padahal saya  TIDAK sedang banting harga.”

Sebagai konsultan politik yang ikut memenangkan presiden tiga kali berturut- turut (kini empat kali), apa
Iya  saya dibayar hanya 45 milyar?” Celotehan santai darinya saat itu terasa pas.  Agaknya lebih efektif merespon gosip politik dengan celotehan saja.

Apa daya. Ia tumbuh sebagai aktivis. Berdebat di publik menjadi nafasnya. Berdebat dengan data, angka dan hasil riset memang hobinya. Tapi berceloteh pun oke juga.

Sejak lama,  Ia memang rindu. Ia berharap  ruang publik lebih diisi oleh debat gagasan. Ia ingin para elit heboh oleh inovasi. Ia angankan kembali datang era berpolitik gaya Founding Fathers yang pejuang tapi juga pemikir.

Tapi yang marak dan heboh di ruang publik, acapkali hanya soal skandal tokoh, gosip dan hoax. Apa daya.

Ia teringat teks WA yang Ia terima semalam. Isi WA itu gosip tentang dirinya. Ia digambarkan seolah berkomunikasi dengan seorang menteri untuk jabatan komisaris BUMN.

Ia forward gosip itu ke beberapa, hanya untuk info. Ternyata, itu malah diforward beberapa kali oleh mereka yang senang bergosip ke aneka grup. Tanpa ada check and rechek dan mengelaborasi konteksnya dulu.

Di era media sosial, apapun mudah menjadi isu. Apalagi jika masyarakat yang kehilangan isu besar. Gosip pun menjadi isu. Lebih sensasional lebih asyik. Tak penting benar atau salah.

Ia teringat lirik lagu Michael Jackson: Beat it! beat it! No matter who is wrong or right. Just beat it!

-000-

Apa yang salah dengan seseorang yang ingin berperan ikut memajukan negaranya dengan mengajukan diri menjadi komisaris BUMN? Bukankah itu memang jabatan terbuka yang bisa diisi siapa saja yg kompeten?

Apa yang salah orang yang mengajukan diri menjadi rektor, menjadi menteri, menjadi direktur TV, menjadi bintang sinetron?

Bukankah tak ada pelanggaran hukum di sana? Tak ada skandal di sana? Bukankah semua orang pada dasarnya bagus bagus saja melakukan lobi, meyakinkan aneka pihak? Kok masalah itu saja bisa dijadikan isu dan viral?

-000-

Ia kembali minum itu kopi. Dinyalakannya Smart TV, dan masuk ke Neflix. Kembali ia lanjutkan serial docu drama tentang kisah para genius mengubah peradaban.

Kisah tentang Bill Gates, Pulitzer, Thomas Alfa Edison. Kadang mereka sedikit berkotor tangan, melobi sana dan sini untuk realisasi gagasan.

Perlukah Ia klarifikasi isu soal dirinya mengajukan diri sebagai komisaris BUMN itu? Baiklah, ujarnya. Klatifikasi saja dalam bentuk cerpen.

Dan jadilah cerpen ini.

15 Jan 2020.

Lalu, bagaimana menurut Anda dengan cerpen di atas?

Tuesday, January 14, 2020

Mengenal Syahrian Tanjung Beserta Karya-Karyanya


Syahrian Tanjung merupakan pseudonim dari pria bernama asli Syahrian. Ia dilahirkan di Murung Pudak pada 7 Maret 1970. Kesehariannya aktif sebagai pendidik di SMA Negeri 1 Jorong, Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan. Meski dirinya adalah guru mapel Matematika, namun menyukai sastra dan fotografi.

Puisinya pernah dimuat di Banjarmasin Post, Pelaihari Post, dan dalam antologi puisi Aruh Sastra Kalsel (tahun 2017 dan 2019), serta antologi puisi guru pada gerakan Akbar 1000 Guru Asean Menulis Puisi.

Berikut adalah puisi-puisi karyanya.

HANYA DIRIMU

Ketika kau putuskan menyudahi hubungan kita
Pada riang gerimis,  aku terpana
Dalam dada badai bergemuruh
Memetik rintik pada mataku:
cinta akhirnya meninggalkanku

Aku lari dalam guyuran hujan
Bersama derai air mata tertahan
Adakah yang lebih luka selain diputus cinta?
Akankah kutemukan penjahit luka?
Hujan sementara memelukku tanpa daya
Menemaniku menyusuri lorong sepi Kelam yang panjang

Semula kusangka kau segera jadi kenangan
Namun bertahun-tahun setelah itu
Kau masih dalam perangkap hatiku
Di setiap hujan yang luruh
Rapuh membawa bayanganmu
Membuka lukaku yang terpenjara
Menjerit tanpa suara: hanya dirimu yang kucinta

Jorong, 27 Des 2019


ZIARAH

Ombak pilu bergulung-gulung di kalbu
Saksi atas lakumu pada tanah pusaka
Pada pekik tangis-tangis masa lalu
Pada darah-darah yang mengaliri denyut nadi merdeka

Kelu
Diri telah tersembunyi dalam bilik sepi
Geram meradang tak berdaya
Lirih
Gumam dendang lagu juang

Pedih kupungut jejak-jejakku
Agar tak kau temukan taman ziarah
Untuk ratakan seremonial
Sekedar mengurai kata dusta

Pelaihari, 10 Oktober 2019


KEMBALI

Perempuan berwajah pualam
Mengirim tangisan lewat angin yang berhembus semilir
Lamat bisikan hati menyampaikan isak yang masih bertahan
Menekuri napak tilas kelam jiwa
Memungut serpihan-serpihan mutiara yang tersisa
Meronce menjadi kumpulan cahaya

Jorong, 30 Agustus 2017


SALING BERGANDENGAN

0, hari yang melelahkan bergayut pada kayuh jukung
menyongsong cahaya
Keriap gelombang senantiasa temani
persemaian rezeki di hamparan mata
Hati menghimpun harap: bahagia

Kita dikaruniai perairan yang kaya
tentang cinta
Kita berangkat bersama
Lalu pulang bersama
Saling bergandengan
Saling menguatkan

Larik damai adalah jalur
Akan memandu kita supaya tidak tersesat
Semua yang terjadi hanyalah penguji
Satu tujuan kita: kembali kepada-Nya

Jorong,  2018


SEPERTI MALAM-MALAM SEBELUMNYA

Aku yang terjatuh dan terkapar
Dalam pusara malam penuh tanya
Selalu terulang terlempar
Seperti malam-malam sebelumnya

Pelangi penghias mimpi
Luruh aku dalam genggamannya
Di pusaran tiada bertepi
Menjerit meronta tak berdaya
Sungguh tak berdaya

Di hadapanmu
Aku hadir kembali
Mengusung arak-arakan
Darah dan nanah

Duhai mata pembawa kesejukan
Pandanglah aku
Belaikan duka merajam ini
Bersama bisikan doa

Jangan biarkan
Kutelusuri malam
Bersama hunjaman-hunjaman belati
Seperti malam-malam sebelumnya

Jorong,  April 2011


SENYUMMU

Senyummu...
Laksana keindahan langit di pagi biru
Berderai mengelus kelembutan sukma
Adalah jembatan ke negeri-negeri keagungan
Berayun-ayun dalam mimpi malam purnama

Senyum itu pula
Menghamparkan rindu tanpa tepi
Saat matahari membakar kisi-kisi hati
Saat mandau menyabit mata cinta

Senyummu teruslah menyapa
Tiap kedipan mata
Membentang seluas samudera
Sepanjang perjalanan masa
Sampai waktunya tiba

Jorong,  April 2011

Mengapa Grup Sastra di Medsos Banyak yang Sepi?


Konon, dunia sastra juga bersentuhan dengan masyarakat umum. Para pembaca atau penikmatnya banyak dari luar kaum sastrawan. Itulah sebabnya, jangan heran jika ada novel yang dibaca berjuta-juta orang. Angka sebanyak itu mustahil kalau hanya dari kalangan sastrawan.

Lalu, bagaimana dengan grup-grup sastra di media sosial?

Beberapa hari yang lalu seorang teman "ngedumel" soal sepinya grup sastra yang ia dan teman-temannya motori. Maklum ia seperti itu. Sebab, di grup tersebut jumlah anggotanya ada 7 ribu lebih, tapi tiap "pikiran" yang dipublikasikan hanya ditanggapi secuil. Tidak lebih daripada 100 orang.

Waw! Ada apa ini? Apakah ada kaitannya dengan masyarakat umum seperti halnya bacaan novel di atas?

Kalau boleh saya bandingkan dengan grup lain, semisal Komunitas Bisa Menulis, satu postingan saja bisa mencapai ribuan tanggapan.

Pertanyaannya, apa penyebabnya hingga bisa demikian? Apakah karena grupnya beda? Orang-orang di dalamnya memiliki karakter yang berseberangan? Atau karena hal lainnya?

Sebenarnya, di grup yang saya sebutkan dengan jumlah penanggap ribuan tersebut, tidak terus-menerus seperti itu. Adakalanya jumlah penanggap lebih sedikit. Bahkan, ada yang hanya 6 orang.

Agaknya, asas umum karya tulis juga berlaku dalam hal ini. Apa?

Apa pun genrenya, setiap karya tulis tentu terdapat tema, diksi, kohesi, koherensi, dan sebagainya dari pembuka hingga penutup. Nah, tiap-tiap hasil tulisan yang dipublikasikan di grup, akan mendapatkan tanggapan dari orang-orang yang merasa terwakili dengan tema tertentu, misalnya. Atau bisa juga karena mendapatkan pencerahan, motivasi, atau sebatas kesesuaian dengan selera pribadi dari tulisan yang ia baca secara keseluruhan.

Jadi, jangan heran kalau sebuah tulisan hanya mendapatkan tanggapan yang jumlahnya sedikit. Mungkin saja kurang sesuai dengan yang diharapkan anggota grup tersebut.

Lantas, setelah grup ramai, bagaimana? Idealnya dilestarikan. Hindari rasa malas dalam mengelola grup di media sosial.

Begitulah kiranya.


Monday, January 13, 2020

Saya Kurang Paham Mengapa Soal Banjir kok Anies Baswedan yang Disalahkan? Boleh Jadi Itu Salah Kita


Musim hujan selalu dinanti-nanti semua orang saat kemarau sedang melanda. Terlebih seperti saya dan teman-teman di area terdampak kabut asap. Ya, kabut akibat pembakaran hutan dan lahan di Kalimantan setiap tahunnya.

Kami tak ubahnya pencinta yang merindukan datangnya sang pujaan hati. Ialah hujan. Wujud kasih sayang, kebaikan, dan anugerah dari Allah swt kepada kita semua. Termasuk rerumputan, yang tumbuh begitu subur selama musim penghujan.

Itulah sebabnya, saat kemarau melanda berbulan-bulan lamanya, orang-orang sama berdoa meminta diturunkan hujan? Tapi, yang menjadi pertanyaan klasik, mengapa saat turun hujan, masih banyak orang yang mengeluh?

Saya sebut pertanyaan klasik karena sejak dulu hal itu kerap diungkapkan. Terutama jika sudah menyangkut banjir.

Mungkin karena enggan menyalahkan Tuhan, maka yang awalnya hanya berupa keluhan, banyak orang  tak segan lagi saling menyalahkan.

Termasuk belakang ini, banyak orang menyalahkan sosok Anies Baswedan yang sedang menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta. Sebenarnya sosok tersebut hanyalah contoh dari kasus menyalahkan orang lain atas tragedi banjir pascahujan.

Pertanyaan selanjutnya, apakah Anies atau seorang manusia lainnya mampu mendatangkan banjir? Hercules dalam mitos Yunani kuno pun tak pernah mampu mendatangkan air yang berkubik-kubik jumlahnya itu.

Bukankah banjir tidak termasuk perkara gampang? Ada kausalitas yang di dalamnya terdapat proses panjang hingga terjadinya banjir. Artinya, hujan pertama di bumi tidak akan langsung melahirkan banjir. Harus terlebih dahulu ada penggundulan hutan sehingga air tak bisa diserap di sana. Kemudian, harus ada pula bangunan-bangunan di atas tanah yang membuat air menggenang lama. Selebihnya, semisal harus ada aktivitas membuang sampah secara rutin di sepanjang aliran sungai.

Dari kesemuanya itu, tentu tidak bisa dilakukan seorang diri. Ada banyak tangan yang melakukan kerusakan di muka bumi. Boleh jadi, entah disengaja atau tidak, tangan kita juga turut melakukannya.

Lantas, dengan realitas empiris yang demikian, akankah perkara banjir ditimpakan hanya pada satu orang? Sebutlah contohnya Anies Baswedan?

Saya pikir, benar perkataan Ebiet G. Ade, "Tengoklah ke dalam sebelum bicara... Bahwa kita mesti banyak berbenah... Mari hanya runduk sujud pada-Nya."

Sudahkah?

Sunday, January 12, 2020

Yuk Ikutan dalam Pringsewu Memanggil Melalui Puisi!


Dalam rangka menyemarakkan Hari Ulang Tahun ke-11 Kabupaten Pringsewu, Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata Pringsewu bekerja sama dengan _Pringsewu Community_ mengundang segenap penyair Indonesia untuk berpartisipasi dalam penerbitan buku antologi puisi bersama.

Adapun ketentuannya sebagai berikut:

1. Penulis adalah warga Indonesia yang berdomisili di wilayah Indonesia. 

2. Tema Puisi : "Pringsewu Kita". Tentang Pringsewu, bisa Anda baca di bagian bawah ketentuan ini.

3. Puisi diketik dalam format _Word_, jenis huruf _Times New Roman_ ukuran 12, dan panjang naskah bebas. Biodata dibubuhkan di bawah puisi dengan panjang maksimal 15 (lima belas) baris ketikan.

4. Masing-masing penyair diperkenankan mengirim maksimal 5 (lima) puisi terbaik untuk dikurasi oleh Tim Kurator, yaitu Suchairi Sibarani dan Suyadi San.

5. Naskah puisi dikirim ke pos-el : puisihutpringsewu2020@gmail.com. Naskah diterima paling lambat tanggal 14 Februari 2020 pukul 00.00 WIB.

6. Penerbitan buku ini tidak bersifat komersial. Penyair akan menerima kompensasi satu buku sebagai nomor bukti dan diserahkan saat peluncuran buku.

7. Peluncuran buku akan berlangsung tanggal 3 April 2020 dalam rangkaian puncak HUT ke-12 Pringsewu. Yang tidak bisa menjeput sendiri, buku akan dikirim ke alamat masing-masing, ongkos kirim akan ditanggung panitia.


Tentang Pringsewu

Pringsewu adalah salah satu kabupaten di Provinsi Lampung, Indonesia. Kabupaten ini disahkan menjadi kabupaten dalam Rapat Paripurna DPR tanggal 29 Oktober 2008, sebagai pemekaran dari Kabupaten Tanggamus. Kabupaten ini Terletak 37 kilometer sebelah barat Bandar Lampung, ibu kota Provinsi Lampung.

Sejarah Pringsewu diawali dengan berdirinya sebuah perkampungan (tiuh) bernama Margakaya pada tahun 1738 Masehi, yang dihuni masyarakat asli suku Lampung-Pubian yang berada di tepi aliran sungai Way Tebu (4 km dari pusat Kota Pringsewu ke arah Selatan saat ini). Kemudian 187 tahun berikutnya, pada tahun 1925, sekelompok masyarakat dari Pulau Jawa, melalui program kolonisasi oleh pemerintah Hindia Belanda, juga membuka areal permukiman baru dengan membabat hutan bambu yang cukup lebat di sekitar tiuh Margakaya tersebut. Karena begitu banyaknya pohon bambu di hutan yang mereka buka tersebut, oleh masyarakat desa yang baru dibuka tersebut dinamakan Pringsewu, yang berasal dari bahasa Jawa yang artinya Bambu Seribu.

Narahubung: 08127949910, 083199032954.

Sumber: Suyadi San


#saveTIM, Petisi Tolak Komersialisasi Taman Ismail Marzuki, Bagaimana Kelanjutannya?



Di antara riuh gaduh tentang Natuna dan investasi. Atau keributan Iran dan Amrik. Protes seniman menggelora terkait pembangunan hotel dan pengelolaan TIM oleh Jakpro.

Ya, TIM. Taman Ismail Marzuki. Sebuah cagar alam budaya untuk ruang seniman. Itulah sebabnya, ketika ada pihak yang mengusiknya, seniman pun bergerak. Begitulah yang terjadi hingga detik ini.

Bukan hanya penolakan di lapangan, semisal yang digelar Forum Seniman Peduli Taman Ismail Marzuki, seniman  juga membuat petisi di change.org.

Dalam petisi tersebut tertera keterangan singkat bahwa para seniman yang tergabung dalam Forum Seniman Peduli TIM menyatakan penolakan hal-hal berikut.

1. Menolak kebijakan Gubernur DKI Anies Baswedan melakukan komersialisasi membangun hotel didalam lingkungan TIM
2. Menolak JAKPRO mengelola TIM
3. Cabut Pergub nomer 63 tahun 2019

Pada intinya kaum seniman menghendaki kembalinya Muruah TIM yang diwariskan bang Ali Sadikin hingga sekarang.

Petisi ini pun sudah ditandatangani sebanyak 433 orang. 

Nah, bagaimana selanjutnya?

Semoga pihak DKI Jakarta menanggapi penolakan tersebut, baik yang dilakukan seniman di lapangan, maupun melalui petisi di atas. Tanggapan yang diharapkan tentu tidak sekadar kata-kata, tetapi juga gerak nyata yang positif seperti yang dilakukan Gubernur Anies Baswedan dalam penanganan banjir di Jakarta.

Friday, January 10, 2020

Sudah Tua kok Masih Doyan Uang "Haram" Ya?


Kena OTT KPK!

Wah! Kedengarannya begitu hebat karena kena operasi tangkap tangan. Kemudian, yang bersangkutan juga dipinjami rompi warna oranye. Maka, yang bersangkutan terlihat keren sekali. Dan, tidak semua orang di Indonesia bisa kena OTT ini. Biasanya hanya pejabat atau orang penting yang mendapatkan anugerah seperti itu. Hebat, 'kan? Sungguh luar biasa.

Belakangan seorang Komisioner KPU Pusat menjadi buah bibir di masyarakat luas. Apa pasal? Pria langsing yang bernama Wahyu Setiawan tersebut diamankan lantaran diduga menerima uang suap setelah berjanji untuk menetapkan caleg PDI-P, Harun Masiku, sebagai anggota DPR RI terpilih melalui mekanisme PAW.

Apa itu PAW?

PAW adalah singkatan dari pergantian antarwaktu. 

Kok melalui PAW?

Sebab, Harun Masiku menggantikan caleg terpilih yang meninggal dunia, Nazarudin Kiemas.

Nah, berdasarkan OTT tersebut, KPK menyebutkan bahwa Wahyu Setiawan telah menerima uang suap sebesar Rp600 juta dari Harun Masiku. Sedang total uang yang dijanjikan dalam suap-menyuap tersebut sebanyak Rp900 juta. Ya, benar masih ada sisa yang belum dibayarkan Masiku kepada Wahyu sebesar Rp300 juta.

Kata Ketua KPU--Arief Budiman--bahwa sebelum peristiwa menggemparkan itu terjadi, pihak PDIP (Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan) telah mengirimkan tiga surat PAW terhadap Harun Masiku ke lembaga yang ia pimpin.

Itulah sebabnya, Tim penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mendatangi kantor DPP PDIP,  namun ditolak masuk ke dalamnya. Pihak PDIP menolak penggeledahan usai OTT terhadap Komisioner KPU tersebut terjadi.

Contoh di atas sebenarnya hanyalah satu kasus yang di dalamnya terkandung suap-menyuap. Masih banyak kasus serupa. Belum lagi kasus-kasus lain yang juga ada unsur penggunaan uang dengan cara salah semisal korupsi. Selebihnya seperti perampokan, penipuan, dan sebagainya.

Pertanyaannya, dari semua itu, apakah uang yang didapatkan halal? Uang hasil suap? Uang hasil korupsi? Dan uang-uang lainnya yang didapatkan dengan cara yang salah? Jawabannya pasti sudah Anda ketahui.

Parahnya, pelaku suap-menyuap seperti kasus Komisioner KPU Pusat di atas bukanlah anak muda. Melainkan sudah tua. Begitu pula pada kasus-kasus korupsi, kebanyakan pelakunya juga demikian. Pertanyaan selanjutnya, mengapa orang-orang yang sudah tua malah masih doyan uang haram?

Bukankah orang-orang dengan usia seperti itu idealnya mampu menjadi contoh teladan dalam hidup? Jika mereka beragama, alangkah baiknya lagi jika lebih mempersiapkan bekal untuk kehidupan selanjutnya di alam lain?

Toh, saat usia sudah di atas 40 tahun tubuh pun tak bisa lagi menerima makanan-makanan atau minuman-minuman yang berlebihan? "Seandainya" juga (semoga tidak) untuk urusan lawan jenis di luar sana, misalnya, apakah tubuh tua masih memungkinkan pelaku menuntaskannya secara maksimal? Untuk anak dan cucu? Ini apalagi. Tegakah memberikan nafkah dari uang hasil korupsi dan perbuatan haram lainnya kepada darah daging sendiri?

Jadi, apa gunanya uang "haram" yang berlimpah tersebut?

Agaknya, kecintaan terhadap dunia terkhusus uanglah yang telah membutakan jiwa para pelakunya. Jiwa-jiwa yang demikian memudahkan setan membisikkan ide-ide jahat kepada mereka.

Alhasil, segala cara pun dilakukan demi dunia meski usia sudah tidak muda lagi atau yang lebih dikenal dengan istilah "tua".


Waw Amrik dan Jepang Akan Tanamkan Investasi di Natuna, Bagaimana Ceritanya?


Setelah beberapa waktu banyak kalangan terseret arus klaim China atas Laut Natuna, kini dikabarkan Amerika Serikat dan Jepang akan menanamkan investasi mereka di Pulau Natuna.

Demikianlah yang dikatakan Luhut Binsar Panjaitan selaku Menteri koordinator Kemaritiman dan investasi. Tampaknya bagi sebagian orang, ini merupakan kejutan. Pada saat perbincangan tentang memanasnya situasi antara Republik Rakyat China (RRC) dan Indonesia di Laut Natuna masih hangat, berita investasi tersebut muncul secara tiba-tiba.

Nah, khusus untuk Jepang, negeri sakura itu rencananya juga akan berinvestasi di bidang perikanan budidaya, perikanan tangkap, dan pariwisata di Natuna yang kaya gas ini.

Sementara Amerika Serikat "joint" di dalamnya bersama negeri matahari terbit tersebut. Agaknya, kedua negara akan menjadi saingan berat bagi RRC yang terkenal dengan investasinya di sini. Ya, di sebuah negeri hijau nan indah.

Jika kita perhatikan, Indonesia merupakan ladang subur untuk investasi negara-negara lain. Pertanyaannya, sampai kapan keadaan ini akan terus terjadi? Selagi negara kita asyik dan menikmatinya, bisa jadi ke depan hal itulah yang menjadi agenda terpenting dan diharapkan.

Lalu, bagaimana ceritanya tentang kemandirian Indonesia, termasuk dalam hal modal pembangunan?


Reynhard dan Syaaf, Berbeda meski dari Pohon yang Sama


Pernahkah Anda memperhatikan sebuah pohon yang berbuah lebat? Ambillah contohnya mangga. Buah-buahnya tak semuanya sama. Dari sebatang mangga tentu ada buah yang besar dan manis, ada pula yang kecil dan tidak sehat.

Begitu pula dalam sebuah keluarga, masyarakat, bahkan negara dengan tatanan terbaik sekalipun pasti tidak semua orang-orangnya sama. Ada yang mengharumkan negara, misalnya. Ada juga yang sebaliknya.

Nah, akhir-akhir ini santer diberitakan seorang pemuda asal Indonesia yang meresahkan di negeri orang. Ya, Reynhard Sinaga. Anak seorang konglomerat menjadi sangat terkenal di Inggris karena ulahnya yang menghebohkan.

Sedikitnya 190 pria menjadi korbannya hingga akhirnya ia dihukum penjara seumur hidup. Indonesia pun tercoreng karena perbuatannya itu. Jika diibaratkan buah, maka dirinya yang berbuat demikian merupakan buah yang tidak diharapkan semua orang.

Sebaliknya, ada lagi seorang pemuda Indonesia lainnya menjadi pahlawan di negeri yang sama. Ya, negara yang ada di bawah kepemimpinan Ratu Elizabeth II tersebut. Adalah Habibie Syaaf. Dirinya baru saja dipuji dan disebut pahlawan di Inggris. Waw! Luar biasa, 'kan?

Suami dari artis cantik Anggia Yulia Angely atau yang lebih dikenal dengan nama Angie Virgin itu telah berhasil menyelamatkan seorang pria yang terjatuh di Sungai Thames.

Peristiwanya sendiri terjadi pada Selasa (7/1/2020). Pria berusia 38 tahun yang merupakan salah seorang polisi Inggris ini menemukan tubuh pria malang itu hampir tenggelam sepenuhnya. Untunglah ia bersama rekan polisinya berhasil menyelamatkan pria tersebut. Dan, Syaaf ibarat buah segar, manis, dan ideal.

Lantas, apa yang dapat kita tarik dari dua peristiwa di atas? 

Hal paling menonjol ialah, tidak semua orang dari sebuah tempat, seperti satu negara, memiliki karakter dan akhlak yang sama. Lebih tegasnya, setiap orang memiliki karakter dan akhlak yang berbeda-beda meskipun dari suku, bangsa, dan negara yang sama.

Itulah sebabnya, siapa pun tidak bisa menyimpulkan bahwa seluruh masyarakat negara A, misalnya, baik hanya karena sebagian orang-orang "di" dan "dari" sana baik. Begitu pula sebaliknya.


Thursday, January 9, 2020

Bagaimana Aku Bisa Beradab Sebelum Mendapatkan Ilmunya?


Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, adab diartikan sebagai akhlak.

Akan tetapi, akhlak itu sendiri secara garis besar terbagi dua, ada akhlak yang baik dan juga buruk. Sementara dalam kehidupan sehari-hari kata "adab" mengarah kepada hal yang baik-baik saja.

Bisa dikatakan orang beradab adalah orang yang menerapkan akhlak yang baik atau mulia. Sebutlah menghormati orang tua dan menolong orang lain yang sedang kesusahan.

Dengan demikian, agaknya pengertian dalam kamus di atas sifatnya masih sangat umum. Itulah sebabnya, perlu ditarik permaknaan--secara bahasa--yang lebih khusus bahwa adab ialah menerapkan akhlak yang baik atau mulia. Secara nyata, meliputi perkataan dan perbuatan yang bersumber dari hati terpuji.

Pertanyaannya, bagaimana seseorang bisa mengetahui perkataan dan perbuatannya baik atau malah sebaliknya?

Misalnya ada seorang batita yang tidak sengaja lepas dari pengawasan orang tuanya begitu saja masuk ke rumah tetangganya tanpa permisi. Kira-kira apakah ia tahu bahwa perbuatannya itu tidak baik? Tampaknya ia belum mengetahuinya.

Lalu bagaimana ia dapat mengetahuinya?

Tentu saja pendidikan dari orang tuanyalah yang membuatnya tahu mana baik dan buruk. Dari sini, dapatlah kita pahami bahwa sesungguhnya sebelum seseorang itu beradab, terlebih dahulu ia harus mendapatkan ilmu akhlak. Atau katakanlah dengan ilmu tersebut seseorang akan mengetahui mana akhlak baik yang ia diterapkan dan mana akhlak buruk harus ia jauhi.

Konon, ilmu apa pun, termasuk yang berkaitan dengan akhlak ini diibaratkan sebagai bibit unggul. Jika bibit tidak ditanam, maka tidak dapat pula berakar dan tumbuh menjadi tanaman.

Begitu pulah ilmu akhlak harus diterapkan sehingga menjadilah kita sebagai manusia yang beradab dalam hidup dan kehidupan ini.

Pertanyaan berikutnya, sudahkah ilmu akhlak diutamakan dalam dunia pendidikan kita?

Silakan direnungkan.


Wednesday, January 8, 2020

Terima Kasih, Para Pedagang, Kalian Menerangi Perjalanan Banyak Orang!


Agaknya sangat memperihatinkan realitas yang sering saya jumpai di area yang jauh dari perkotaan. O iya, ini bukan soal ikan-ikan di Laut Natuna yang dicuri nelayan Republik Rakyat China (RRC). Bukan pula tentang impor ikan dari RRC ke Indonesia.

Akan tetapi, saya sedang mengingat lampu-lampu di sebagian jalan antarkota. Ya, tentunya yang pernah saya lalui. Dari kejauhan terlihat tiang-tiang listrik berjejer dengan bola-bola lampu yang mati.

Untunglah cahaya para pedagang kecil di pinggir jalan menerangi jalan  tersebut. Alhasil, para pengguna jalan, khususnya sepeda angin tanpa lampu depan, sangat terbantu oleh cahaya para pedagang itu.

Pertanyaannya, mengapa bisa demikian?

Apakah lampu-lampu jalan di sana sedang ngambek? Tiang-tiangnya sedang bermeditasi?  Atau, karena hal lainnya?

Tampaknya karena hal lainnya itulah yang menyebabkan penerangan jalan umum di sana bermasalah.

Jujur saja, saya sendiri agak kecewa dengan kepahitan prasarana tersebut. Padahal jalan merupakan prasarana yang sangat diperlukan masyarakat.

Lantas, sampai kapan seperti itu? Hiks


Tuesday, January 7, 2020

Kita Wajib Bersyukur hanya Jatuh Hati pada Wanita


Lebih kurang begitulah kalimat yang meluncur dari mulut salah seorang teman kepada saya.

Sore itu kami memang sedang asyik duduk-duduk santai di lantai dua sebuah gedung pemerintah. Sambil menikmati udara Jakarta yang bersahabat, saya dan teman ini memperbincangkan perihal wanita.

Ya, mulai dari wajah hingga karakter yang perlu pria ketahui. Termasuk pembacaan lahir untuk mengetahui batin wanita yang bersangkutan. Di sela-sela pembicaraan yang menyenangkan itulah ia mengatakan seperti pada judul di atas.

Benar, pria normal yang hanya jatuh hati pada wanita adalah hal wajar. Berawal dari rasa tersebut, lahirlah cinta, dan sayang.

Pria mana pun yang masih demikian, wajib bersyukur. Sebab, sadar atau tidak, itu berarti terhindar dari homoseksual dan biseksual.

Sangat berbahaya seandainya pria jatuh hati kepada sesama pria. Bahkan, dapat merugikan banyak orang.

Sebutlah kasus pemerkosaan pria di Inggris yang pelakunya adalah pria Indonesia. Ini bukan hanya merugikan dirinya, tetapi juga mencoreng nama baik keluarga, bangsa, dan juga negara.

Monday, January 6, 2020

Natuna Memanas, Jangan Kaulupakan Saudara Sedarahmu!


Akhir-akhir ini Laut Natuna sedang menjadi buah bibir banyak kalangan. Hal itu wajar mengingat sudah menyangkut kedaulatan NKRI. Secara perairan ini diakui oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa masuk dalam Zona Ekonomi Ekslusif Indonesia.

Jadi, persoalan Laut Natuna bukan hanya urusan pihak militer Indonesia sebagai garda terdepan pertahanan Indonesia. Akan tetapi, menjadi urusan seluruh bangsa Indonesia.

Itulah sebabnya, tak mengherankan Aliansi Nelayan Indonesia, misalnya, siap mengerahkan lebih kurang 500 kapal besar nelayan membantu TNI AL berpatroli mengamankan Laut Natuna.

Meskipun demikian, tentu saja hal tersebut bukan satu-satunya fokus bangsa kita. Masih ada kasus Asuransi Jiwasraya, banjir di beberapa daerah seperti Bogor, dan juga tentang kemanusiaan seperti sikap Republik Rakyat China (RRC) terhadap orang-orang Uighur.

Bahkan, khusus yang terakhir tadi, sebagian pengamat berpendapat bahwa RRC sengaja menciptakan konflik dengan Indonesia di Laut Natuna sebagai pengalihan isu Uighur. Tanpa menyimpulkan benar atau tidaknya, pendapat ini memang masuk akal mengingat mata dunia sedang tertuju pada penahanan orang-orang Uighur oleh Pemerintah RRC.

Negeri tirai bambu itu didesak dunia untuk segera memberikan kebebasan yang layak atas orang-orang Uighur di Xinjiang atau Turkistan Timur. Dan, sebenarnya setiap manusia, termasuk orang Indonesia dan Uighur itu adalah bersaudara sedarah yang sebagian besar tidak saling kenal karena panjangnya silsilah keluarga manusia sejak Nabi Adam as hingga sekarang.

Ini pula sebenarnya yang ingin saya sampaikan bahwa (Laut) Natuna memang sedang panas, tapi jangan lupakan penderitaan saudara sedarah kita seperti korban Jiwasraya, banjir, dan juga orang-orang Uighur di Xinjiang.


Sunday, January 5, 2020

Membayangkan Indonesia Versus RRC dan AS Versus Iran dalam FIFA World Cup 2022


Saya masih teringat beberapa dialog oleh sebagian tokoh dalam film animasi "Upin dan Ipin". Salah satunya terkait pertandingan sepak bola dalam piala dunia FIFA.

Dikatakan dalam dialog itu Malaysia belum pernah masuk dalam kejuaraan internasional empat tahunan tersebut. Setelah mendengar dialog mereka, seketika saya teringat Indonesia.

Ya, negara berjuluk Jamrud Khatulistiwa ini memang memiliki nasib yang sama dengan Malaysia dalam hal keikutsertaannya di World Cup.

Nah, terkait dunia internasional, akhir-akhir ini Indonesia dan Republik Rakyat China (RRC) dihadapkan pada persoalan batas negara. Perairan Natuna menjadi tempat terhangat antara dua negara.

Sementara di lain pihak, Amerika Serikat dan Iran pun mengalami situasi yang sama menegangkan. Hal ini disebabkan oleh serangan rudal Amerika serikat yang menewaskan Komandan Pasukan Quds Korps Garda Revolusi Islam Iran, Mayjen Qassem Soleimani.

Saya sangat prihatin atas peristiwa yang melibatkan antarnegara ini, baik Indonesia dan RRC, maupun Amerika Serikat dan Iran.

Alangkah indahnya jika semua negara dalam situasi damai dalam persahabatan. Saling menghormati dan menghargai. Dan, saya membayangkan Indonesia versus RRC dan AS versus Iran berlangsung seru, tetapi dalam FIFA World Cup 2022 mendatang.

Akankah?


Saturday, January 4, 2020

Benarkah Persoalan Jiwasraya Sudah Tidak Viral di Medsos?


Di media sosial suatu peristiwa bisa menjadi sangat viral. Netizen begitu penuh semangat memviralkannya. Ini sudah sering terjadi.

Situasinya jauh berbeda saat masyarakat Indonesia belum banyak yang mengenal internet. Sebutlah tahun 1990-an akhir dan 2000-an awal. Pada masa itu internet lebih banyak dikenal dan digunakan di dunia kampus dan sekolah. Ketika itu kata "viral" saja malah belum "booming".

Tapi sekarang? Waw! Detik ini Anda berlaku aneh di jalan, kemungkinan besar besok sudah tersebar di mana-mana. Maka, selamat Anda viral!

Demikian pula terkait persoalan yang membelit Jiwasraya. Bahkan, beritanya sampai dipublikasikan oleh media berpengaruh di Korea Selatan. Begitu luar biasa viralnya.

Akan tetapi, tunggu dulu!

Seperti yang sudah-sudah, yang viral bisa saja tenggelam oleh peristiwa lainnya. Nah, lalu bagaimana dengan persoalan Jiwasraya? Masih viralkah? Atau malah sebaliknya?

Agaknya, mengenai hal ini perlu diperhatikan peristiwa-peristiwa setelahnya. Adakah? Jawabnya tentu saja ada. Apa saja?

Ya, ada banjir, pembulian terhadap Anies Baswedan oleh haters, hingga Perairan Natuna.

Dan, tampaknya peristiwa-peristiwa setelahnya itu sedikit banyak menggeser viralnya persoalan Jiwasraya di medsos. Ini memang tidak bisa dihindarkan.

Meski demikian, tentu saja kita berharap hal tersebut tidak menghambat proses penyelesaian atas persoalan yang membelit Jiwasraya.


Friday, January 3, 2020

Air Kekinian, dari Banjir hingga Perairan Natuna


Air. Sejak dulu hingga sekarang sifatnya tetaplah sama. Zat cair selalu mengalir ke tempat yang lebih rendah, menyesuaikan dengan tempatnya, dan terpenting sifatnya positif bagi makhluk hidup termasuk manusia.

Bahkan, dari sifat-sifatnya itu, melahirkan pelajaran bagi kita. Sebutlah dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitar.

Meskipun air berdampak positif seperti tersebut di atas, karena ulah sebagian manusia, air bisa menjadi tersangka atas bencana alam. Banjir, misalnya.

Padahal, air tak bersalah. Sebagian manusialah yang menyebabkan air menjadi banjir. Menggunduli hutan dan membuang sampah di sungai adalah perbuatan sebagian manusia yang dapat menyebabkan air tak bisa berlaku normal. Akibatnya, air mengaliri tempat-tempat yang tak lazim seperti perumahan warga.

Contoh lainnya ialah batas negara di lautan. Akibat kurangnya pembicaraan dan kesepakatan dalam jalur diplomasi, perbatasan di wilayah air ini bisa menyebabkan hubungan antarnegara yang terkait menjadi kurang harmonis.

Terakhir dan terhangat mengenai hal itu dapat kita perhatikan hubungan antara Republik Rakyat China (RRC) dan Indonesia atas Perairan Natuna.

Seperti yang kita ketahui bahwa RRC mengklaim kawasan nelayan dan coaster guard negaranya di Perairan Natuna itu merupakan wilayah mereka. Secara tegas "Negeri Tirai Bambu" tersebut menyatakan batas wilayahnya di perairan ini adalah sembilan garis putus-putus atau 9 Dash Line yang dibuat sejak 1947 silam.

Sementara Indonesia masih bersikukuh bahwa 9 Dash Line ini menabrak teritori Perairan Natuna yang jelas termasuk wilayah Indonesia.

Kita berharap melalui jalur diplomasi, sengketa batas negara di wilayah air tersebut dapat diatasi secara damai. Jika tidak, mungkin saja akan terjadi perang senjata antara RRC dan Indonesia.

Nah, kembali ke sifat air, zat cair tetaplah akan cair meski sudah dibekukan sekalipun. Dan, air akan terus bermanfaat bagi makhluk hidup selama manusia mampu menjaga keseimbangan alam dari waktu ke waktu. Ya, dulu, kini, dan akan datang.


Thursday, January 2, 2020

Sastra dan Banjir


Sastra digerakkan oleh batin yang lengkap. Bukan sekadar kerja otak, tapi seluruh jiwa manusia yang dikenal dengan sebutan sastrawan. Itulah sebabnya, mata panah sastra tak sekadar mengenai wilayah kiri otak, tetapi juga di pangkal perasaan batin penikmatnya.

Maka, tak perlu heran ketika Anda melihat seseorang berlinang air mata saat membaca karya sastra. Mengenai perihal ini, tentu sifatnya umum. Saya pernah mendengar cerita dari seorang teman yang dikenal sebagai sastrawan tentang menangisinya seorang preman setelah membaca sebuah novel.

"Di Bawah Lindungan Kakbah" karya Buya Hamka membuat pria menakutkan itu terisak-isak.

Baik, itu soal efek sastra terhadap penikmatnya. Saya katakan penikmat karena hanya orang yang berhasil menikmati sastralah "yang" memiliki kesempatan mendapatkan efek tersebut. Jika sebaliknya, biasanya susah menamatkan pembacaannya (atau menyimaknya). Dengan kata lain berhenti membaca atau menyimak di tengah jalan.

Nah, efek itulah yang saya maksudkan pada judul di atas. Benar, sekilas memang antara sastra dan banjir tidak memiliki hubungan apa pun.

Sastra memang tidak bisa seperti bahan bangunan yang langsung dapat digunakan membuat gedung, misalnya. Akan tetapi, sastra mempunyai efek positif atau katakanlah manfaat terhadap masyarakat penikmatnya.

Salah satunya berkenaan dengan alam. Sastrawan sudah sering menghadirkan karya sastra yang bernapaskan pelestarian alam sebagai hunian manusia. Sebutlah sungai dan hutan. Seperti yang kita ketahui bahwa keduanya sangat dekat dengan banjir.

Ya, jika hutan rusak karena pembabatan luar biasa, bagaimana saat hujan tiba? Lalu kalau sungai "diamatikan" apa yang terjadi? Besar kemungkinannya adalah terjadi banjir yang besar.

Dalam hal ini, agaknya perlu dipertanyakan mengapa seakan suara sastrawan tentang alam melalui karya sastra kurang berefek? Apakah karena sastra belum membumi sehingga pesan yang disampaikan pun belum menyentuh jiwa seluruh masyarakat Indonesia?

Kemudian, apa yang perlu dilakukan? Tentu perlu ada upaya yang tepat, baik dari kalangan sastrawan sendiri, maupun pemerintah.

Semoga ke depan, akan terwujud.


Wednesday, January 1, 2020

Banjir adalah Kenangan yang Melahirkan Impian


Malam itu, sehabis membaca sebuah buku, mata saya terasa berat sekali. Tanpa pikir panjang, saya rebahan di atas tikar. Ya, tikar di atas lantai kamar saya.

Mungkin Anda heran mengapa saya tidak tidur di ranjang. Alasannya sederhana, saat itu, untuk sementara waktu ranjang saya menjadi tempat meletakkan buku-buku bacaan yang lumayan jumlahnya. 

Entah berapa lama saya bertahan dengan kantuk yang luar biasa tersebut. Tiba-tiba saja ada air di rambut saya. Lalu tangan saya juga terasa basah. Kaki, dan lainnya pun sama. Benar, sebagian tubuh saya sudah terendam air. Kamar saya kebanjiran.

Saya keluar kamar dan ternyata air telah menggenangi seluruh ruangan di dalam rumah. Paginya saya baru tahu bahwa satu kelurahan mengalami kebanjiran.

Itu adalah pengalaman saya pribadi saat masih remaja dulu. Sungguh kenangan yang masih kuat dalam ingatan saya. Tentunya, waktu berikutnya ada impian, yakni tidur bebas banjir.

Maka, untuk mewujudkan hal itu, ayah saya membuat semacam penahan banjir di dekat pintu depan rumah.

Begitulah kenangan dan impian. Dan banjir benar-benar kenangan yang melahirkan impian. Saya yakin, semua orang tak ada yang mau kebanjiran. Itulah sebabnya, jika terjadi banjir, banyak orang sibuk berupaya mengatasinya. Salah satunya dengan membuat sumur resapan agar air segera diserap tanah dan banjir pun reda.

Akan tetapi, pastinya akan lebih ideal lagi jika kata "mengatasi" diganti dengan "mencegah". Suka tidak suka, banjir juga karena ulah tangan manusia. Sebutlah karena adanya penebangan hutan dan pembuangan sampah di sungai.

Nah, untuk mencegah banjir, selamatkan hutan dan sungai dari tangan-tangan jahat sebagian manusia.

Meskipun demikian, jika memang sudah terjadi banjir, idealnya ya terus berusaha dan berdoa dengan rasa takut dan penuh harap kepada Allah swt.

Terakhir, semoga daerah-daerah yang saat ini sedang mengalami banjir, semisal DKI Jakarta dan sekitarnya segera dapat mengatasinya.