Monday, May 11, 2026

JK dan Amien Dukung Anies 2029?

Ilustrasi: Pixabay 

Cukup kuatlah mereka berdua berperang demi Anies? Ini pertanyaan paling akar sebelum tumbuh menjadi tanaman bangsa. 

Menurut sebagian orang, agaknya dua naga itu terlalu lemah jika dihadapkan pada dua kekuatan besar dunia. Pertama, kekuatan rantai bambu. Disebut rantai karena sebenarnya yang pertama ini adalah gabungan dua kekuatan, yakni Cina Pusat (Republik Rakyat Cina) dan Cina rantauan (pengusaha sukses berdarah Cina di Indonesia). 

Masih kata sebagian orang juga, keduanya berpadu dalam menguasai Indonesia. Ya, penguasaan yang dilakukan melalui penempatan "orang mereka" menjadi presiden di negara berjulukan jamrud khatulistiwa ini. Untuk melawan kekuatan yang pertama  sangatlah sulit. Jejak rekam rantai bambu sudah terbukti hebat. Konon, Amerika Serikat saja sudah lebih daripada satu kali mereka kuasai melalui Partai Demokrat di sana. Sebutlah, Bill Clinton, Barack Obama, dan Joe Biden merupakan orang-orang mereka. 

Nah, lalu kekuatan kedua. Kekuatan ini adalah kelompok barat yang juga sangatlah susah dilawan. Melihat fenomena seperti itu, Jusuf Kalla dan Amien Rais pasti kewalahan. Ujung-ujungnya berakhir dengan kekalahan. 

Lantas, bagaimana caranya agar kedua pria sepuh tersebut berhasil memenangkan Anies Rasyid Baswedan dalam Pilpres 2029?

Kata sebagian orang yang lain lagi, mereka harus bersekutu dengan salah satu kekuatan besar itu. Pastinya dengan bersedia mengiyakan seluruh kehendak kekuatan yang mereka pilih sebagai sekutu. 

Yaaah, begitulah kata orang-orang mengenai isu tentang upaya Jusuf Kalla dan Amien Rais berjuang mengusung Anies menjadi Presiden Indonesia. Semuanya hanyalah pendapat. Bisa salah, bisa benar. Anda pun bisa dan boleh berpendapat apa saja terkait dengan hal di atas.


Jurinya Belum Menikmati MBG?

Ilustrasi: Pixabay 
 

"Jon!"

"Ya?"

"Lu udah tahu belom soal lomba cerdas cermat empat pilar MPR di Kalbar?"

"Yang jurinya viral itu, 'kan?"

"Tepat sekali."

"Emang kenapa?' Lu gak setuju dengan keputusan jurinya?"

"Tentu saja. Seharusnya juri haruslah bijak."

"Owh...."

"Lu kok anteng -anteng bae? Ga merasa sebel gitu?"

"Sebel sih sebel, tapi guwa masih sibuk dengan  adonan ini."

"Oh iya. Benar juga. Adonannya belum kalis."

"Selain itu, guwa juga sebenarnya lagi sedih."

"Sedih?"

"Ya."

"Masalahnya apa kok lu sedih?"

"Dagangan."

"Emang dagangan lu kenapa?"

"Lu lihat aja sendiri. Adonan yang guwa buat lebih sedikit daripada bulan lalu."

"Penjualan sepi?"

Joni mengangguk.

Raihan menepuk-nepuk pundak temannya tersebut.

"Jadi, guwa ga sempet komentar apa-apa soal juri di Kalbar itu. Paling hanya satu celetukan yang muncul di otak guwa."

"Apa?"

"Jurinya pasti belum menikmati menu bergizi gratis."

Sontak Raihan tertawa setelah mendengar perkataan temannnya itu.

"Bener, 'kan? Penerima MBG belum merata. Belum dirasaan oleh seluruh rakyat Indonesia termasuk para juri lomba cerdas cermat empat pilar di sana."

"Masuk akal. Coba kalau merata, pasti lomba itu akan aman dan terkendali ya?"

"Ya. Harus merata. Tidak boleh tidak. Contoh nyatanya saat ini. Guwa lapar, tapi belum bisa menikmati MBG."

"Ha ha ha ha! Bagaimana kalau kita makan nasi Padang?'

"Lu yang neraktir?"

Raihan mengangguk. Dan tanpa buang waktu, mereka segera beranjak dari tempat itu.


Mempertahankan Swasembada Pangan

Foto: Pixabay

Awal 2026 dikatakan bahwa Indonesia sudah swasembada pangan. Hal itu ditandai dengan tidak adanya impor beras karena stoknya cukup dari produksi domestik. 

Pertanyaan mendasarnya, apakah fakta swasembada pangan akan berlangsung terus-menerus? 

Dalam sejarah pangan di dunia, tentu saja swasembada tidaklah bersifat tetap. Adakalanya swasembada, adakalanya tidak. Ketika sawah mengalami kekeringan ekstrem, misalnya, panen akan terbatas.

Lantas, apa yang harus dilakukan untuk bisa bertahan? Agaknya ini sangat sulit. Pengaruh cuaca ekstrem tidak bisa diatasi dengan mudah. Dengan kata lain, swasembada pangan tidak bisa dipertahankan. Hal itu pun masih bisa dimaklumi. Dan, untuk mencukupi kebutuhan pangan pada rentang waktu sulit tersebut, mau tak mau harus mengimpor beras.

Nah, jika semuanya sudah mendukung, barulah diupayakan agar bisa kembali swasembada pangan.


Saturday, May 9, 2026

Bencana Tampilan "Luar" Sang Presiden Gila Pujian

Ilustrasi: Pixabay

Baginya penampilan luar harus terlihat "wah" agar ia menjadi sorotan publik internasional. Setidaknya itulah hal pertama yang menjadi upayanya untuk mendapatkan pujian. Ibarat rumah, yang terpenting harus dicat, dikeramik, diberi genteng mewah, dan sebagainya meskipun bagian dalamnya berantakan. 

Sekilas ini hal wajar. Penampilan luar memang diusahakan bagus. Akan tetapi, juga sangat berbahaya jika konteksnya sudah level kenegaraan. Sebab, ada rakyat yang dilibatkan di dalamnya. Ketika presiden lebih memilih kondisi yang demikian itu, artinya ia lebih mementingkan dirinya sendiri daripada rakyatnya. 

Apa pun akan dilakukannya agar ia terlihat sebagai presiden yang sukses membangun negaranya. Sebutlah misalnya agar pihak dari negara-negara lain memujinya, maka dijalankahlah program memberikan makan gratis kepada sebagian rakyat, penggantian atap rumah rakyat dengan atap baru yang seragam, pendirian rumah-rumah untuk nelayan dan buruh, yang semuanya menghabiskan anggaran belanja negara. Alhasil, terjadi defisit anggaran yang ujung-ujungnya rakyat lah sebagai penanggungnya. Sementara itu yang dibutuhkan rakyat secara umum malah diabaikannya. 

Ya, kebutuhan pokok rakyatnya, seperti bantuan pemerintah secara berkelanjutan untuk rakyat yang menjadi korban bencana alam, perbaikan jalan, layanan kesehatan yang prima, penciptaan lapangan kerja sesuai bidang masing-masing, subsidi BBM, dan pendidikan gratis bagi rakyat miskin hingga perguruan tinggi. 

Nah, idealnya rakyat lah yang didahulukan daripada dirinya sendiri. Dan, yang parahnya, ia selalu berapi-api mengatakan bahwa semua itu demi rakyat. Padahal segala yang dilakukannya berkebalikan dari yang dikatakannya. 


Friday, May 8, 2026

Bukan Anggaran Negara Halal Dicuri?

Ilustrasi: Pixabay

Konon, selama bukan keuangan negara, maka halal dicuri oleh siapa pun. Sebab, pencurian itu tidak tergolong tindak pidana korupsi. Contohnya dana zakat, infak, dan sedekah. 

Benarkah demikian? 

Belakangan ini ramai di media sosial tentang hal itu, yakni Majelis Hakim Tipikor pada Pengadilan Negeri Makassar menjatuhkan vonis bebas terhadap para terdakwa kasus dugaan korupsi pengelolaan dana zakat, infak, dan sedekah (ZIS) Badan Amil Zakat Nasional Kabupaten Enrekang tahun 20211--2024.

Dikabarkan bahwa unsur-unsur tindak pidana korupsi tidak terpenuhi, khususnya terkait dengan status dana ZIS yang bukan merupakan keuangan negara. Kalau memang demikian adanya, ini sangat berbahaya. Orang-orang di area basah itu akan berlomba-lomba dalam memperebutkan dana umat. Siapa kuat, dialah pemegang uang terbanyak sebagai hasil curian tersebut. 

Mereka akan bebas menikmatinya bersama keluarga tercinta. Ya, makan-makan, berwisata ke luar negeri, beli rumah mewah, dan lain sebagainya. Sementara itu, umat hanya bisa gigit jari. 

Presiden RI Naik CN250 ke Filipina, Mobil Timor dan SMI Ekspressa Jadi Sorotan

Foto: Wikipedia

"Hebat!"

"Apanya yang hebat, Min?"

"Ini aku baca berita. Presiden RI naik CN250 ke Filipina."

"Kapan?"

"Awal April 2026 ini. Pasti para pemimpin negara lain takjub dengan kemandirian Industri penerbangan kita."

"Mereka pasti pada melongo melihat pesawat buatan era Presiden Soeharto tersebut."

Mereka berdua lalu membayangkan keterpukauan orang-orang asing terhadap karya anak bangsa Indonesia itu. 

"O iya, ada lagi ga selain pesawat yang dipertontonkan di sana?"

"Tunggu! Aku baca kelanjutannya."

Beberapa waktu suasan hening. 

"Mobil Timor dan sepeda motor SMI Ekspressa juga menjadi data tarik tersendiri dalam KTT ke-48 ASEAN."

"Wah mantap!"

"Kali ini Indonesia benar-benar naik daun di mata dunia."

(Obrolan fiksi santai si Min dan si Kang) 


Thursday, May 7, 2026

MBG, Pemborosan Pelanggeng Kursi Presiden

Ilustrasi: Pixabay

Suasana di warung kopi milik bu Yem ramai sekali. Bapak-bapak beragam usia begitu menikmati aroma dan kenikmatan seduhan kopi asli. Kebanyakan dari mereka memilih untuk tidak mencampuri kopi dengan gula. Alasannya sederhana, agar benar-benar murni. Rasa asam kopi terasa luar biasa di lidah mereka. 

"Coba ngopi gini bisa gratis ya? Alangkah indahnya."

"Ah itu mau kita. Tapi, belum bisa."

"Ha ha ha ha ha."

Suara tawa pecah membahana. Sedang bu Yem tampak senyum-senyum melihat mereka. 

"Kira-kira program minum bergizi gratis bakal ada ga ya?"

"Makan bergizi gratis, bukan minum bergizi gratis."

"Iya, tau. Itu programnya Prabowo yang sudah ada. Maksud guwa program baru, minum bergizi gratis. Ya, singkatnya ngopi gratis."

"Benar juga kata bang Edi. Bagus banget tu kalau bakalan ada. Kita bisa ngopi sepuasnya."

"Duitnya? Emang ada?"

"Pasti ada lah. Denger-denger siapa saja yang jadi presiden di negara ini wajib boros agar ngutang terus ke luar negeri. Jadi, duitnya pasti ada. Ngutang lagi ngutang lagi. Kalau kagak ngutang, pasti bakal dilengserkan."

"Serius? Gimana nih Pak RT? Emang bener kayak yang dibilang Nurdin barusan?"

"Gimana ya ngomongnya? Emang pernah sih ada yang bilang kayak gitu juga. Tujuannya agar pendapatan dari bunga utang terus mengalir ke pihak asing. Makanya, apa-apa dibeli. Mobil lah, sepatu lah, kaos kaki lah, segalanya dibeli biar anggaran habis dan ngutang lagi."

"Bisa dijamin kebenarannya ga, Pak RT?"

"Ya kagak tau. 'Kan itu kata orang lain juga. Ha ha ha ha ha ha."

Begitulah obrolan bapak-bapak di sana. Benar atau tidaknya, bukan masalah. Yang penting ada bahan untuk ngobrol dan tertawa gratis bareng-bareng. (Hanya fiksi). 


Tuesday, May 5, 2026

Legislatif dan Eksekutif yang Pemalas dan Gemar Hura-Hura

 

Ilustrasi: Pixabay

Tiga puluh ribu tahun lalu pernah berdiri sebuah negara di tanah tandus. Udara kering sering menjadi santapan orang-orang di sana. Hal ini tidak hanya membuat mereka kerap merasakan tidak enak di dada, tetapi juga menyebabkan pikiran mereka kacau. Ya, betapa tidak? Mereka sangat susah bercocok tanam. 

Untuk bisa mendapatkan penghasilan, masyarakat di sana menggunakan sistem hidroponik Dengan cairan bernutrisi, meski tanpa tanah sekali pun, mereka tetap bisa panen dan mendapat uang secukupnya. 

Meski begitu, masalah tidak berhenti sampai di situ. Pemerintah dan parlemen di negara tersebut sangat boros. Orang-orang politik biadab itu hidup berfoya-foya. 

Mereka menghambur-hamburkan anggaran belanja negara seenak hati. Dan, ketika utang negara meningkat, mereka menaikkan pajak rakyat. 

Padahal, perusahaan-perusahaan milik negara sudah ada di sana. Namun, keuntungannya mereka korupsi. Agar tidak ketahuan, maka dikatakanlah semua perusahaan itu rugi dan rugi. 

Alhasil, rakyat tercekik. Pajak ada di mana-mana. Saat rakyat panen, uang mereka dikenai pajak. Ketika rakyat belanja, harga barang menjadi tinggi karena kena pajak. Semua sektor kehidupan dikenai pajak. 

Suatu ketika rakyat di sana sudah tidak kuat menahan diri. Dengan segala upaya, mereka bahu-membahu merebut kemerdekaan dari tangan para elit politik yang pemalas dan suka hura-Hura itu. Setelah berupaya selama tiga pekan, akhirnya mereka berhasil. 

Tak mau menunggu lama, rakyat di negara tersebut membangun pemerintahan baru. (Cerpen fiksi) 

Monday, May 4, 2026

Bahasa Mandarin Memasangsa Bahasa Daerah? Cegah!

Foto: Pixabay

Sejak beberapa tahun lalu,. Pemerintah Indonesia menekankan penguasaan bahasa Mandarin oleh masyarakat Indonesia. Alasannya satu, yakni ekonomi. Hal ini dapat dipahami betapa banyaknya perusahaan milik orang berbangsa Han, baik dari Taiwan, maupun Cina Komunis. 

Dengan menguasai bahasa tersebut, diharapkan masyarakat Indonesia bisa bekerja di perusahaan-rusahaan itu. Ya, ini fenomena yang terjadi saat ini. Kita tidak bisa memungkirinya. 

Meski begitu, pemerintah juga wajib ikut serta dalam upaya menjaga eksistensi bahasa daerah sebagai wujud pemertahanan budaya di Indonesia. Terutama sekali, adalah bahasa-bajasa daerah yang hampir dan mendekati kepunahan. 

Menguasai bahasa asing memang perlu, tetapi jangan sampai bangsa Indonesia tercerabut dari akar budayanya sendiri. Dengan perkataan yang lebih khusus, hindari bahasa asing memangsa bahasa-bahasa daerah yang ada di negara ini. 

Sunday, May 3, 2026

Amien Rais, Pejuang yang Tak Kenal Usia

Ilustrasi: Pixabay

Bagi sebagian orang, sosok Amien Rais adalah sengkuni yang licik dan haus kekuasaan. Sebagian yang lain, menilai tokoh reformasi itu merupakan pejuang yang tak kenal usia. Ya, usianya sudah 82 tahun lebih dan masih mau memikirkan keindonesiaan. 

Pro dan kontra terhadap seseorang sebenarnya tak ada yang perlu dipermasalahkan. Setiap orang punya pendapat masing-masing. Si A berpendapat begini, silakan. Si B begitu juga silakan. Kebebasan berpendapat dijamin undang-undang. Itulah sebabnya, pak Amien tidak pernah mempermasalahkan adanya orang-orang yang mengatainya sebagai sengkuni. 

Begitu pula ketika seorang Amien Rais ini berpendapat bahwa sosok tertentu adalah penyuka sesama jenis, itu juga hal yang lumrah. Kalau semisal tidak benar, idealnya ditanggapi dengan bukti dari ahli sebagai sanggahan. Artinya, perihal berpendapat haruslah disikapi secara damai dan tidak cocok dibawa ke ranah hukum. 

Bahkan terkait hal terakhir di atas, sebagian orang berpendapat bahwa "penyelesaian" dengan memidanakan seseorang yang berpendapat bisa dikategorikan terlalu ekstrem dan sebaiknya dihindari. 

Saturday, May 2, 2026

Pembegalan karena Ekonomi, Bukti Indonesia Gelap?

Ilustrasi: Pixabay

Di Kalimantan Selatan sedang heboh dengan kasus pembegalan terhadap seorang ustazah. Begalnya dua orang dan korbannya meninggal dunia. 

Secara ringkas, kedua pelaku sudah berhari-hari mengincar korban yang selalu membawa tas hitam. Mereka mengira tas hitam tersebut berisi uang tunai. Dalam kesehariannya, korban selalu lewat di depan pondok tempat kerja mereka. Selain menjadi ustazah di salah satu pesantren, korban juga menjadi penjaga toko ponsel. Saat kejadian, kedua pelaku yang merupakan petani dan juga pekerja serabutan itu merampas tas, ponsel, dan juga anting korban. Supaya aman, mereka melumpuhkan korban hingga tewas. 

Selain barang-barang ringan yang berhasil mereka rampas, sebenarnya ada sepeda motor korban. Tetapi, agar tetap aman, keduanya tidak membawanya kabur. Dan, setelah berhasil diringkus, keduanya mengaku aksi keji itu mereka lakukan demi mendapatkan uang untuk keluarga di Jawa, termasuk membayar biaya sekolah. 

Dari sini dapat kita ketahui bahwasannya faktor utama tindak kriminal di Sungai Ulin Banjarbaru Utara, Kodya Banjarbaru, Kalimantan Selatan adalah masalah ekonomi keluarga. Artinya, ekonomi sebagian rakyat Indonesia sedang tidak baik-baik saja. Dengan kata lain, Indonesia masih gelap bagi sebagian rakyatnya. 

Pemerintah harus membuka mata lebar-lebar. Jangan malah menolak kondisi yang sebenarnya. Fakta di lapangan seperti ini idealnya segera ditindaklanjuti oleh pemerintah. Misalnya, berikan pinjaman tanpa bunga untuk warga yang terbukti tidak mampu secara ekonomi. Pinjaman bisa untuk modal usaha atau lainnya. 


Presiden Pilih Hari Puisi, Hari Buruh, atau Hari Pendidikan?

Ilustrasi: Pixabay

Kemarin, Presiden Prabowo Subianto merayakan Hari Buruh dengan begitu wah. Acaranya digelar dengan gegap gempita. Ada pidato, joget, dan pembagian sembako untuk para buruh. Bisa dikatakan tanggal 1 Mei ada pesta pora yang wow oleh Presiden Republik Indonesia bersama para buruh. 

Nah, kalau kita mundur beberapa hari sebelumnya, yakni 28 April, tak ada pesta yang serupa hari kemarin. Padahal pada hari itu juga ada hari penting bernama Hari Puisi Nasional. 

Atau, hari ini. Ya, hari ini tanggal 2 Mei yang merupakan Hari Pendidikan Nasional juga sama seperti 28 April. Presiden Prabowo tak merayakan dua hari besar lainnya tersebut. Para penyair dan guru tak mendapatkan perhatian spesial dari sang presiden. Di sini jelas sekali ada perlakuan yang berbeda jika dibandingkan dengan para buruh. Padahal sejatinya, setiap hari besar nasional seharusnya memiliki kedudukan yang sama. 

Pertanyaan, mengapa demikian? Mengapa hanya para buruh yang diistimewakan? Apakah para penyair dan guru tidak penting di negara ini? 

Benarkah Amien Rais Memfitnah Teddy?

Foto: Wikipedia

Tentang fitnah, ada satu hal yang perlu kita camkan, yakni tidak bisa disikapi secara tergesa-gesa. Perlu pendalaman. Mulai dari latar belakang seorang Amien Rais mengatakan bahwa Sekretaris Kabinet Teddy adalah penyuka sesama jenis sampai kepada penyelidikan untuk menemukan kebenarannya. 

Ini perlu waktu yang tidak singkat. Dan, karena panjangnya waktu yang diperlukan tersebut, agaknya kasus ini bisa saja menguap dan hilang. Ya, tinggal cerita yang lambat laun juga sirna. 

Awal dari kasus ini, publik dikejutkan dengan isi konten politikus senior itu di kanal YouTube miliknya. Meskipun saat ini konten tersebut hilang dari sumber aslinya, tapi sudah banyak orang yang menontonnya. 

Pihak pemerintah sendiri, dalam hal ini melalui Komdigi, sudah menyiapkan langkah hukumnya. Gerakan pemerintah benar-benar cepat. Sebagian publik pun menanti yang akan terjadi selanjutnya terkait benar tidaknya perkataan Amien Rais tersebut 



Friday, May 1, 2026

Presiden Adalah Pekeja Bayaran

 

Ilustrasi: Pixabay

Idealnya presiden, raja, atau sultan wajib memenuhi segala perintah rakyat yang menggaji dirinya setiap bulan. Mulai dari keamanan hingga kebutuhan bahan rumah tangga. 

Ya, ketika rakyat butuh ini, buruh itu, presiden dengan sigap memenuhi semuanya. Bisa dikatakan menjadi presiden harus siap melayani rakyat 24 jam penuh. 

Tentu saja dalam melaksanakan pekerjaannya, presiden membutuhkan para menteri dan para pekerja bawahan di setiap kementerian yang ada. Mereka yang membantunya juga digaji rakyat. 

Jika seorang presiden melakukan kesalahan, ia pun akan mendapatkan hukuman yang setimpal. Bahkan, bisa saja berupa pemecatan. Dan, presiden baru akan dilantik setelah dipilih rakyat. 

Meski pada hakikatnya seperti itu, namun pada kenyataannya malah sebaliknya. Pada umumnya presiden di banyak negara menempatkan dirinya sebagai penguasa kejam. Rakyat diperas dengan pajak. Kalau ada rakyat yang menentangnya, sudah dipastikan akan dihukum berat. 

Itulah sebabnya, berlaku hukum kausalitas. Tindakan presiden, raja, atau sultan yang kejam menjadi sebab adanya pemberontakan oleh rakyat. Ada yang berhasil menumbangkan sang presiden. Lalu membangun sistem pemerintahan yang dicita-citakan. Sebutlah Dinasti Yuan yang ditumbangkan rakyat di bawah kepemimpinan Zhu Yuanzhang hingga berdirinya Dinasti. Ming. Atau yang terbaru di Suriah.  Presiden Bashar al-Assad berhasil digulingkan pada 8 Desember 2024 dan digantikan dengan pemerintahan yang baru.