Sunday, May 31, 2026

Presiden Perut

Ilustrasi: Pixabay 

"Dengar-dengar pak presiden ngebahas soal lapar. Benar begitu?"

"Halaaaah itu mah emang udah menjadi agenda rutin yang ada dalam setiap pidatonya."

"Maksudmu gimana? Maklum aku nggak pernah dengerin kalau bapak itu lagi pidato."

"Jadi, ngebahas perut udah jadi persembahan rutin yang keluar dari mulut bapak itu."

"Termasuk perut buncitnya?"

"Ha ha ha ha ha!" (Mereka tertawa bersama dengan nyaring dan keras.)

"Yaaa intinya pemerintahan era si bapak itu emang khusus mengenai perut. Mulai perut kosong hingga perut buncit."

"Iya sih. Ga ada program lain. Hanya perkara perut dan perut. Menurutku sih hal tersebut terlalu monoton. Apa ya istilah tepatnya...? Hmm... Pokok kehidupan ini dimaknainya begitu sempit, yakni hanya soal perut."

"Padahal masih banyak yang harus diselesaikan. Kita lihat saja bagaimana susahnya para pelajar di pelosok untuk menuju sekolah mereka. Bahkan, ada sejumlah pelajar yang harus menyeberangi sungai dengan memakai baskom."

"Hadeeeuh! Kalau begini terus, agaknya negara kita tidak akan mengalami kemajuan."

"Boro-boro maju, bertahan aja susah. Contohnya aja nilai mata uang kita yang terus saja melemah. Harga-harga menjadi naik di masyarakat."

"Dan, saat rakyat menjerit, si bapak presiden adem ayem aja. Dia sibuk dengan dirinya sendiri."

"Termasuk ngurusin perut buncitnya."

"Ha ha ha ha ha!" (Sekali lagi mereka tertawa terbahak-bahak.)

***

Pejabat Menutup Mata, Rakyat Tidak Terlihat


Ilustrasi: Pixabay 

"Kita ibarat bulan baru yang tak terlihat oleh para pejabat."

"Lalu mereka sepakat bahwa awal bulan baru masih belum terjadi."

"Ha ha ha. Kalian ini memang sering berkata benar. Mereka mana mau membuka mata untuk melihat kita?"

"Ya. Misalnya saja ketika mata uang kita melemah, eh ada saja pejabat pikun bilang bahwa orang kota tidak menjadikan dolar sebagai bahan makanan."

"Lalu ada juga pejabat lain yang mengatakan lemahnya mata uang kita bagus untuk menarik wisatawan asing."

"Tak pantas para pejabat berkata-kata yang seperti itu. Mereka tidak melihat rakyat tercekik dengan melambungnya harga-harga barang dan jasa akibat kian melemahnya mata uang kita."

"Bagi mereka, kenaikan harga yang demikian hanyalah bahan candaan. Uang mereka banyak. Jadi, kenaikan yang bagaimana pun tak ada dampaknya bagi para pejabat itu."

"Sungguh jahat sekali mereka."

"Benar-benar zalim."

"Seharusnya mereka diusir saja dari negara kita."

"Kalau diusir, paling mereka balik lagi."

"Betul sekali. Seingatku dulu ada seorang pejabat yang melakukan kejahatan kemanusiaan yang kabur ke luar negeri, eh akhirnya dia balik lagi."

"Owh, iya aku juga masih ingat. Dia yang dipecat dengan tidak hormat itu, 'kan?"

"Aku juga masih ingat. Namanya Pascabawang Kubismantao yang melakukan kejahatan luar biasa terhadap rakyat tahun 1900 lalu."

"Jadi, percuma mengusir para pejabat."

"Dan, kita hanya bisa menerima kejahatan demi kejahatan mereka setiap hari."

***


Agenda Tersembunyi Sang Presiden Tahun 2089

Ilustrasi: Pixabay 

"Ada sebuah partai mencurigai.agenda tersembunyi sang presiden saat ini."

"Ya pastilah. Masa sekarang memang masanya saling mencurigai satu sama lain."

"Kalau kagak begitu bukan politikus namanya, melainkan penjual tikus."

"Tapi, lu percaya ga sih ada agenda tersembunyi gitu?"

"Kalau guwa 100% percaya."

"Alasannya?"

"Lu tau sendiri negara kita belum mandiri. Masih disetir negara-negara besar.  Siapa pun presidennnya dari dulu sampe sekarang ya masih sama."

"Terus hubungannya apa ama agenda tersembunyinya?"

"Ada dua sih kemungkinan kuatnya."

"Apa aja?"

"Pertama, presiden saat ini memanfaatkan kekuatan barat untuk menyaingi kekuatan timur di negara kita. Motifnya ya agar dia bisa menang pilpres berikutnya dengan dukungan barat. Makanya apa aja yang diminta negara-negara barat pasti dia iyain. Bahkan, dia pinter tuh diam-diam juga minta dukungan negara besar dari blok timur."

"Ooowh ama om Plamir?"

"Naaaah benar sekali."

"Yang kedua?"

"Kedua, kemungkinan besar dia emang antek barat. Tujuannya jadi presiden ya buat njadiin negara kita bagian dari barat."

"Busyet dah."

"Dan, para pemilik kekuatan timur mulai gundah. Yaaa khawatir aja kalau negara kita jatuh di tangan barat."

"Tapi, timur juga hebat, Bro. Di negara kita aja ada tuh seniornya agen Ministry of State Security atau MSS."

"Jamal Rendy maksud lu?"

"Betul. Jadi, bakal kian seru ya peperangan timur dan barat di negara kita."

"Paastiiiii."

***


Langkah-Langkah Jitu di Balik Menguatnya Ringgit Malaysia

Ilustrasi: Pixabay 

Pertama, memangkas biaya kunjungan kerja ke luar negeri. Ini bertujuan agar dananya dialihkan untuk kesejahteraan rakyat. Malaysia memang sedang menerapkan efisiensi anggaran di seluruh kementerian, kecuali sektor krusial yang meliputi pendidikan, infrastruktur dasar, dan kesehatan. 

Kedua, segala program pelatihan aparatur negara digelar di fasilitas pemerintah. Tidak boleh dilakukan di hotel mewah. 

Intinya dana negara dihemat demi rakyat Malaysia. Dan, ini sudah berhasil. Buktinya Pemerintah Malaysia sukses menghemat dan menyalurkan kembali dana sebesar RM15,5 miliar kepada masyarakat. Kalau dirupiahkan sektra Rp69,57 trilyun. 

Penyaluran dana kepada masyarakat tersebut berupa penyaluran Sumbangan Tunai Rahmah dan Sumbangan Asas Rahmah, suntikan dana tambahan sebesar RM15 miliyar untuk perbaikan puluhan ribu toilet sekolah, dan pembagian voucher buku senillai RM100 bagi seluruh pelajar dan mahasiswa, 

Ketiga, komitmen kuat dalam pemberantasan korupsi di bawah kepemimpinan Anwar Ibrahim yang mendongkrak perekonomian Malaysia. 

Keempat, kebijakan luar negeri Malaysia yang berprinsip independen dan tegas terhadap isu-isu internasional dalam panggung global menjaga kuatnya hubungan dagang dan aliran dana investasi negara-negara besar.

Kelima, berdoa dengan sungguh-sungguh. 

Alhasil, stabilitas politik terjaga dengan baik dan akibatnya kepercayaan investor pun tidak mengalami penyurutan. Ringgit pun menguat. 

Saturday, May 30, 2026

Panggung Geopolitik untuk Keuntungan Negara Lain

Ilustrasi: Pixabay 

"Ada yang bilang presiden kita pandai membangun komunikasi di kancah internasional."

"Betul. Pake banget malah, tapi untuk menguntungkan negara lain."

"Ha ha ha benar katamu. Dia berkunjung di negara A untuk menawarkan diri sebagai pembeli beras, daging, dan susu, misalnya."

"Dirinya juga langsung tunduk dan patuh kepada presiden yang dia kunjungi. Apa pun yang diminta, langsung diiyakannya."

"Ah, kamu tahu aja."

"Ha ha ha. Mana mungkin tidak tahu. Soalnya sudah rahasia umum. Bandara yang sepi itu aja udah dia serahin kepada Presiden Keong Putih."

"Kalau begitu, bisa dikatakan dirinya adalah budak dari presiden-presiden lainnya."

"Dirinya memang budak yang menjadi mainan menyenangkan bagi para pemimpin dunia."

"Waaaaah keren ya mereka. Para pemimpin negara maju itu memang dahsyat. Beda sekali dengan presiden negara dari dunia ketiga seperti Uwa Uwa yang hanya bisa berfoya-foya dan matahin kayu meja."

"Hayyaaaaaaa. Jelas laaaaah beda kelas. Ooooh, kapan ya negara kita menjadi negara maju?"

"Yaaaa, kapan-kapan."

"Ha ha ha ha ha ha ha!"

***

Kamu Yakin Dia Seorang Mualaf?

 

Ilustrasi: Pixabay 


"Tidak."

"Sama."

"Soalnya dia tidak pernah nunjukin keislamannya."

"Bahkan, dirinya terang-terangan membela Zionis Israel."

"Terakhir dia minum air beralkohol di negara yang menjunjung LGBTQ."

"Eh iya, emang benar ya dia itu biseksual?"

"Sepertinya sih gitu."

"Apa mungkin karena hal itu dia cerai ya?"

"Bisa jadi."

"Nggak kebayang betapa hancur perasaan mantan istrinya waktu tahu dia seorang biseksual."

"Pastinya benar-benar luluh lantak. Rata dengan tanah.""

"Menurutku, dia juga seorang yang sangat egois."

"Semuanya hanya untuk kepentingan dirinya."

"Uang pajak dan utang pun dia gunakan dengan sesuka hatinya."

"Benar sekali. Dirinya tak memikirkan resiko buruk terhadap negara yang dipimpinnya."

"Ya, kasihan rakyat di sana."

"Untunglah kita bukan rakyat di negara itu."

"Jika ya, kita pasti udah stres berat."

***

Thursday, May 28, 2026

Presiden yang Menjilati Presiden Lainnya

Ilustrasi: Pixabay 

Jilat-menjilat biasanya identik dengan budaya orang-orang ambisius ekstrem. Aktivitas ini dilakukan kepada orang di atas level mereka. Mulai dari kata-kata sanjungan hingga memberikan apa saja yang diminta orang yang mereka jilat.

Sebutlah misalnya ada seorang presiden yang mengatakan kepada presiden lainnya bahwa dirinya sudah menginstruksikan pihak sekolah di negaranya untuk meningkatkan pelajaran bahasa Belanda. Itu disampaikannya di hadapan Presiden Belanda. Ketika dirinya berkunjung di negara lainnya, ia pun mengatakan hal serupa, tetapi nama bahasanya diganti sesuai negara yang dikunjunginya. 

Ini dilakukannya untuk mendapatkan utang dari negara-negara bersangkutan. Dan, parahnya ketika setelah mendapatkan yang diinginkannya itu, lantas ia berpidato di negaranya dengan mengatakan sudah mendapatkan uang sitaan korupsi. Padahal itu adalah uang dari pinjaman dari negara yang presidennya ia jilat.

Ia berharap dengan hal demikian, ambisinya menjadi pemenang dalam pilpres selanjutnya bisa terwujud. Presiden seperti ini sangat membahayakan negara yang ia pimpin. Bayangkan saja ketika demi mendapatkan utang, ia setuju di negaranya dibangun pangkalan militer untuk negara yang presidennya ia jilat. 

Maka, idealnya sesegara mungkin dirinya dilengserkan dari kursi presiden agar kedaulatan negara yang ia pimpin aman dari bahaya negara lain. 

Meskipun tulisan di atas hanyalah contoh belaka, tapi bisa dijadikan bahan renungan bahwa budaya menjilat hanya dinilai baik bagi para pelakunya, tetapi bukanlah budaya dan merupakan aktivitas yang sangat berbahaya bagi orang-orang lain di sekitar mereka. 

Wednesday, May 27, 2026

Pesta Babi Versus Pesta Sapi 100M

Ilustrasi: Pixabay 

Film "Pesta Babi" yang merupakan sebuah film dokumenter investigasi langsung menjadi buah bibir banyak orang. Antusias warga untuk menonton bareng begitu besar. Ada rasa ingin tahu bagaimana kondisi alam Papua Selatan yang didokumentasikan dalam film tersebut.

Tak ayal, ada yang merasa tidak nyaman. Ya, sejak kemunculan film ini, sebagian orang ada yang terkena "flu burung", "Covid 19", "diabetes", "gerd", hingga "serangan jantung" yang parah. Itulah sebabnya, sebagian orang yang sakit tersebut ada yang berjalan dengan kaki pincang, memakai kursi roda, bahkan ada yang diantar mobil ambulan untuk membubarkan acara seru nonton bareng film tersebut. 

Entahlah mengapa mereka bisa terseramg penyakit mematikan seperti itu. Padahal film dokumenter ini sekadar kumpulan video nyata di lapangan terkait deforestasi tanah Papua. 

Dan, akhir-akhir ini kehebohannya mulai pudar oleh 1098 sapi. Ya, sapi-sapi itu menyerang babi-babi sampai masuk ke dalam hutan yang tersisa. Masyarakat pun saat ini lebih banyak membahas sapi daripada babi. 

Saat Usia Tua, Habiskanlah untuk Mengejar Dunia

Ilustrasi: Pixabay 


Judul di atas sebenarnya hanyalah sindiran bagi sebagian orang yang menghabiskan sisa-sisa umur saat sudah berusia renta hanya untuk ambisi dunianya. Orang-orang seperti ini memang benar-benar ada. Bisa dikatakan memang fakta dalam realitas yang nyata. Sebutlah misalnya seorang presiden yang meskipun sudah berusia 70-an tahun, tetapi masih saja berambisi ingin menjadi presiden lagi dan lagi. Bahkan, dengan senang hati menggunakan uang rakyat demi hal tersebut 

Dan, jika berpidato, dirinya selalu berapi-api mengatakan bahwa semua program yang dijalankannya demi rakyat. Padahal demi dirinya sendiri. Alhasil, dia pun menyombongkan dirinya sendiri sukses ini dan itu. 

Mengenai kesuksesan yang digembar-gemborkannya tersebut sejatinya hanyalah klaim semu. Sebutlah program bagi-bagi menu makanan yang dia jalankan, labanya tidak ada. Program itu dibiayai dari anggaran belanja negara. Begitu juga pendirian banyak minimarket di berbagai daerah, masih ditopang dengan anggaran dari sumber yang sama. 

Khusus bagian terakhir di atas malah menjual barang-barang dari gudang minimarket lainnya. Ini berkebalikan dari yang dikatakan sang presiden. Sebelumnya dia berkoar-koar akan membeli produk dari para petani, peternak, dan juga produk-produk olahan UMKM lokal. Itu jelas kebohongan luar biasa oleh orang yang berusia tua demi ambisi dunianya. 

Nah, kalau diperhatikan secara saksama, rakyat tidak butuh program-program pemborosan tersebut. Mengapa demikian? Sebab, semuanya bukanlah program prorakyat. 


Tuesday, May 26, 2026

Serius Rakyat Berkurban 1.098 Sapi, Total Rp 100 M?

Ilustrasi: Pixabay 

"Dari yang aku baca, lebih kurangnya sih kayak gini beritanya, sebanyak 1.098 ekor sapi kurban tahun ini dibeli Pemerintah Pusat dengan anggaran pendapatan dan belanja negara lalu akan diserahkan ke berbagai daerah di Indonesia." 

"Ada yang janggal deh. Kok pake APBN ya?"

"Nah makanya itu...!"

"Aneh sih. Dan, sebagaimana yang kita ketahui pendapatan negara didominasi dari uang rakyat yang disebut pajak. Nilainya sebanyak 82%--85%. Sisanya yang 15% dari pendapatan bukan pajak dan hibah. Jadi, rakyat dan orang-orang terkait dengan uang nonpajak lah yang berkurban, bukan pemerintah pusat."

"Benar. Melihat fakta yang demikian, bisa dikatakan yang membeli sapi-sapi itu sebenarnya hampir 100% adalah rakyat. Sisanya ya seperti yang kamu katakan barusan. Pemerintah pusat hanyalah pengguna uang Rp100 miliar tersebut."

"Menurutku kian hari tambah aneh saja yang kita hadapi."

"Yaaaa mau bagaimana lagi? Kita hanyalah rakyat kecil."

"Ya, kamu betul dan suara kita hanyalah angin lalu di negeri ini."

***

Monday, May 25, 2026

Minimarket Koperasi Desa Langsung Dibangun Banyak

 

Ilustrasi: Pixabay 

"Serius kagak ada uji cobanya gitu?"

"Serius lah. Ngapain juga guwa ngebohingin lu?"

"Kagak habis pikir dah. Guwa aja sebelum buka sepuluh cabang usaha es ini perlu mempelajarinya tiga tahun dulu."

"Mending lu tiga tahun. Nah guwa perlu waktu lebih lama, Bro. Sebelum punya 25 cabang usaha ayam tepung Cahaya Langit ini, guwa ngadain riset kecil-kecilan. Lalu guwa buka satu warung. Setelah enam tahun pertama,  guwa mulai berani buka cabang. Tahun-tahun berikutnya pun guwa lalui dan setelah sembilan tahun barulah bisa seperti ini."

"Terus bagaimana dengan pertumbuhan minimarket-minimarket itu? Maklum guwa ga sempet ngikutin kinerja pemerintah."

"Belum membahagiakan, Bro. Mulai dari pemangkasan anggaran hingga ada bangunannya yang udah rusak."

"Ya ampuun. Jadi ladang korupsi berarti?"

"Pastinya. Lu pikir aja sendiri dari anggaran 1,6 miliyar, di lapangan hanya sampai setengahnya aja."

"Busyet dah! Pantesan aja ada yang udah rusak."

"Sebagian juga tutup. Sepi pembeli."

"Wadduh!"

"Parahnya lagi saat presiden meresmikan salah satu minimarket itu, eh bisa-bisanya pengelolaannya menjual harga fiktif."

"Ha?! Fiktif bagaimana maksud lu?"

"Harga gas elpiji dijual cuma 16 rebo doang. Padahal ga semurah itu aslinya."

"Sungguh manipulatif banget!"

"Ya. Kayak main-main gitu. Padahal pake anggaran belanja negara. Uang pajak disia-siakan."

***

Wahai Menteri-Menteri Buatlah Masyarakat Bereaksi!

Ilustrasi: Pixabay 

"Kalau aku perhatikan, tingkah para menteri ada unsur kesengajaan agar masyarakat bereaksi."

"Emosi maksudmu?"

"Benar. Emosi marah di tengah kehidupan yang parah."

"Demi menutupi keparahan negeri memang harus demikian. Masyarakat dibuat sebisanya melupakan isu demi isu agar pemerintah leluasa berbuat semau mereka."

"Aku masih ingat dulu ada menteri tenaga kerja yang manjat pagar lalu loncat indah dan mendarat di halaman dengan gagah."

"Aku juga masih ingat ada menteri mengatakan bahwa kalau harga lombok mahal, tanamlah lombok di pekarangan rumah."

"Ada lagi menteri yang bilang ekonomi tetap aman meski kekuatan nilai dolar Amerika Serikat kian kuat sehingga masyarakat pun menjadi geram."

"Lalu ada juga orang yang mewakil menteri menyebut presiden layak dijuluki bapak haji."

"Akhir-akhir ini ada pula seorang menteri yang bersuara lantang soal gaji besar dan kecil. Katanya, 'Orang yang bergaji 15 juta lebih pintar dan sehat daripada orang yang bergaji 5 juta.' Perkataanya sungguh sangat menggemaskan!"

"Ha ha ha ha ha!" 

Tawa mereka terdengar berpadu menjadi satu, lalu meledak dan seluruh serpihannya mengisi setiap ruang kosong di area itu. 

Sunday, May 24, 2026

Militer Indonesia Dibidik Parlemen Eropa

Ilustrasi: Pixabay 

Bisa dikatakan militer Indonesia menjadi buah bibir di antero dunia. Termasuk Parlemen Eropa (PE). Salah satu lembaga utama Uni Eropa yang berfungsi sebagai badan pembuat undang-undang ini menyoroti kasus pelanggaran HAM oleh militer Indonesia.

Lebih detail lagi mengenai kasus pembela HAM Andrie Yunus dan pembela lingkungan Muhammad Rosidi. Secara garis besar Parlemen Eropa menginginkan pihak Indonesia benar-benar mengadili para pelaku dan dalang utamanya tanpa campur tangan militer. 

Lantas apakah Pemerintah Indonesia bereaksi terhadap fenomena ini? 

Kalau diperhatikan, sebenarnya inilah momen penting bagi Presiden Prabowo Subianto unjuk gigi. Sebagai seorang presiden, idealnya dapat memenuhi tuntutan Parlemen Eropa tersebut. Bayangkan seandainya Presiden Prabowo berhasil menangkap, mengadili, dan menghukum dalang utamanya, pastilah semua manusia di bumi ini akan salut kepadanya. 

Orang-orang tentu akan menaruh hormat luar biasa kepada Presiden yang terkenal dengan makan bergizi gratis itu. Tetapi, bagaimana jika sebaliknya? Semua manusia di bumi akan meremehkannnya, bahkan tidak akan ada lagi yang mau memandangnya dengan hormat meski sepersekian detik saja.


Saturday, May 23, 2026

Era Soeharto Menuju Ekspor Pesawat Canggih, Era Prabowo Ekspor Bahan Mentah

Ilustrasi: Pixabay 

Ada pihak yang mengatakan bahwa kritik ke Prabowo merupakan usaha menjadikan Indonesia sekarang ke era pak Harto. Lebih detailnya para pengkritik menginginkan Indonesia sebagai bangsa yang ekspor barang atau bahan mentah yang nilai ekonominya tidak sebanding jika sudah menjadi produk baru siap pakai.

Padahal ketika era pak Harto, Indonesia sudah mampu membuat pesawat terbang sendiri. Diketahui N 250 Gatot Kaca laris manis waktu itu. Pesawat buatan B.J. Habibie sudah dipesan 200 unit, tetapi gagal produksi massal karena pihak luar negeri tidak menginginkan Indonesia maju. 

Selain pesawat terbang, pada era Soeharto, Indonesia juga sudah membuat mobil yang dikerjakan bersama Korean Selatan. Mobil tersebut dinamakan Timor. Nasibnya pun sama.  

Di samping keduanya, teknologi canggih lainnya yang diproduksi saat Orde Baru adalah, Sepeda Motor Ekstra Prestasi Bangsa (SMI Expressa). 

Nah, sedangkan pada era sekarang, Prabowo Subianto begitu bangga Indonesia mengekspor bahan mentah semisal beras ke Malaysia. Ya, mentah. Dan, untuk itu sang presiden melibatkan TNI dan Polri di medan pertanian.

Kalau boleh jujur, ini sebenarnya merupakan sebuah kemunduran. Dari yang sudah memproduksi pesawat terbang canggih, menuju ke praktik tradisional. 

Gaji Guru Honorer Kecil, tapi Gaji yang Lain Besar

 

Ilustrasi: Pixabay 

"Sedang ngapain, Mir?"

"Baca berita."

"Soal apa?"

"Gaji guru kecil."

"Honorer?"

"Di sini ga disebutin sih."

"Cuma ditulis guru gitu?"

"Ya."

"Kayaknya itu yang masih honorer deh Soalnya kalo yang udah pegawai negeri sipil udah besar, apalagi ditambah tunjungan sertifikasi dan tunjangan nilainya."

"Sepertinya emang gitu."

"Lalu apa lagi katanya?"

"Di berita ini dikutip kata-kata Presiden Prabowo yang menyebutkan bahwa gaji guru kecil karena kekayaan Indonesia bocor ke luar negeri hingga 343 miliar dolar AS selama 22 tahun dari 2004 sampai dengan 2026. Tapi, ada yang membuatku bingung."

"Pada bagian mananya?"

"Pada kebocoran yang masih terjadi, yakni setelah pak Prabowo jadi presiden, pemerintah menaikkan gaji para hakim dan juga membuat beragam program yang menelan begitu banyak rupiah, tapi gaji guru termasuk yang honorer tidak naik?"

"Iya sih. Itu memang membingungkan. Logikanya kalau memang kebocoran masih terjadi, pemerintah harus menghemat anggaran belanja negara. Idealnya, sama sekali tidak menaikkan gaji pegawai apa pun termasuk para hakim. Juga tidak menjalankan program dengan dana raksasa seperti makan bergizi gratis (MBG)."

"Berarti, pemerintah tebang pilih. Gaji guru tidak naik, sedangkan gaji pegawai lainnya dinaikkan dan ada pemborosan anggaran negara dalam beragam program tersebut."

"Benar sekali katamu."

Beberapa waktu kemudian keduanya tampak mematung di bawah pohon beringin tua dekat jembatan kayu bercat sewarna laut dalam. 

Friday, May 22, 2026

Indonesia Jadi Target? AS Wajib Lawan RRC terlebih Dahulu!

 

Ilustrasi: Pixabay 

Sebagian pihak cemas kalau-kalau Amerika Serikat (AS) menargetkan Indonesia setelah Venezuela dan Iran. Ketika isu itu berembus, tambang emas di Papua sudah menjadi milik negeri Paman Sam sejak lama. Lalu mereka rela menyerahkan  51% saham PT Freeport kepada Indonesia. Artinya, AS tidak perlu mengambil alih wilayah Indonesia seratus persen. Bisa dikatakan wilayah yang belum mereka kuasai saja. Sebutlah satu contohnya Kalimantan. Dan, itu pun harus diperjuangkan dengan melawan negara yang dikabarkan sudah berhasil menguasai sebagian wilayah Indonesia. 

Entah benar atau tidak, kata sebagian pihak, Republik Rakyat Cina (RRC)  lah negara yang dimaksud di atas. Tahun 2017, misalnya, pihak RRC menerjunkan peneliti dari Hong Kong di Kalimantan. Tujuan penelitian itu untuk mengetahui bagaimana sikap masyarakat pribumi Kalimantan terhadap orang-orang Cina. Pertanyaan yang segera muncul waktu itu adalah, mengapa bukan peneliti Jakarta? Padahal konteks penelitian tersebut ialah terkait pemindahan manusia Jakarta ke Ibu Kota Nusantara (IKN). 

Benar, secara lebih detail yang akan dipindahkan yaitu para PNS dan ASN Jakarta, bukan orang-orang RRC. Sejak saat itulah sebagian pihak khawatir akan adanya eksodus manusia Cina ke IKN dengan dalih investasi plus penggunaan tenaga kerja mereka.

Pertanyaan logisnya, mampukan AS mengusir kekuatan RRC dari Indonesia?

Kalau kita flashback ke beberapa puluh tahun lalu, AS juga harus berjuang melawan Belanda untuk bisaa menguasai wilayah emas Papua. Kala itu mereka berhasil. Lantas, apakah kali ini mereka juga akan berhasil menguasai Indonesia secara keseluruhan?

Jika Presiden Kita Warga Negara Asing Pasti Keren

 

Ilustrasi: Pixabay 

"Kalau udah tuwir, sama aja bo-ong."

"Eh tunggu dulu. Andy Lau masih keren lho meski udah kepala enam."

"Nanggung amet lu. Kenapa ga sekalian Lee Min-ho atau Siwon aja?"

"Bener. Selain muda, kegantengan mereka benar-benar bikin hati meleleh."

"Tua muda boleh lah asal ngga gendut."

"Eh cowok gendut itu bikin hepi tauuu. Gimana ya njelasinnya? Pokoknya keren abis deh kayak Kim Jong-un dengan perut buncitnya yang aduhai."

Seketika tawa gadis-gadis itu pecah tanpa batas.

"Bye the way,  mungkin ga sih suatu waktu kelak presiden kita warga negara asing yang keren?"

"Kata guwa, mungkin banget. Liat aja sekarang, warga negara Australia, Luke Thomas Mahony, ditunjuk sebagai Direktur Untuk PT Danatara Sumberdaya Indonesia. So, lambat laun presiden kita bisa aja WNA."

"Betul banget kata lu. Guwa setuju seribu persen. Coba kalian pikir, Indonesia kurang apa coba? Para ahli banyak, tapi yang jadi dirut malah orang asing dengan segala alasan. Nah, kelak pun ada kemungkinan besar kita bakal memiliki presiden kek gitu juga. Semoga aja ganteng dan ngangenin."

"Terus dia bakal bawa anak, ponakan, dan para keluarganya yang lain dengan kegantengan super duper mantap untuk dijadiin pejabat di negara kita."

"Duuuuuh udah ga sabar deh punya presiden dan para pejabat WNA.yang bikin semangat hidup guwa menggebu-gebu."

"Kapan ya?"

"Besok!" 

Dan, sekali lagi tawa mereka pecah tumpah ruah di sana.

***




Presiden Bernurani Pasti Menolak Zionisme

Ilustrasi: Pixabay 

Ya, meski seorang penganut Yahudi sekalipun, pastilah presiden tersebut menolak gerakan politik zionis. Sebab, Zionisme sama sekali tidak bernurani dan juga tidak mewakili orang Yahudi. Gerakan politik ini banyak dipengaruhi imperialisme Eropa. Itulah sebabnya, bisa dikatakan orang-orang zionis merupakan para penjajah perebut tanah bangsa lain secara permanen dan sangat kejam.

Nah pertanyaannya, bagaimana kalau ada seorang presiden yang dikenal sebagai seorang muslim, tetapi mendukung Zionisme? 

Mungkin banyak orang berpikir mustahil seperti itu. Namun, faktanya ada. Bahkan, presiden tersebut menjamin keamanan Israel (negara zionis). 

Atau, mungkinkah diam-diam dirinya seorang Yahudi yang sekaligus juga bagian dari Zionisme seperti Presiden Benyamin Netanyahu? 

Kemungkinan apa pun bisa jadi benar adanya. Yang pasti, dirinya tak bernurani. Bagaimana bernuranii? Jelas-jelas Israel menjajah Palestina dengan sangat kejam malah dia dukung. 

Ini jauh berbeda dengan Presiden Korea Selatan yang begitu mendukung penuh penangkapan Presiden Israel, Benyamin Netanyahu. 

Sebagai seorang presiden, Lee Jae-myung tak habis pikir, bagaimana bisa Israel menyita, menangkap, dan menahan kapal negara ketiga yang membawa relawan termasuk warga Korea Selatan yang bermaksud mengirimkan bantuan kemanusiaan kepada rakyat Palestina. 

Sekadar informasi tambahan, tentara Israel menangkap para relawan armada bantuan kemanusiaan Global Sumud Flotilla yang di dalamnya juga ada warga negara Korea Selatan dan Indonesia saat mereka menuju Gaza antara tanggal 18--20 Mei 2026. 

Thursday, May 21, 2026

Agen Asing sebagai Musuh Semu Ciptaan Pemerintah

 

Ilustrasi: Pixabay 

"Kamu agen asing ya?"

"Kok kamu nuduh aku kek gitu sih?"

"Yaaaa soalnya kamu vokal banget ngritik pemerintah."

"Aneh kamu. Masa sih gara-gara aku ngritiik pemerintah langsung dikira agen asing?"

"Siapa tahu aja."

"Emang kamu dapat pemikiran kek gitu dari mana?"

"Dari pemilik akun-akun di medsos."

"Apa kata mereka?"

"Agen asing berseliweran mengkritik pemerintah. Misalnya pecinta lingkungan hidup dan pembela hak asasi manusia."

"Kamu udah cek pemilik akun-akun itu sebenarnya siapa?"

Pardio menggeleng sambil menatap sepasang mata pacarnya itu.

"Gini-gini, aku jelasin. Pertama, aku ngritiik pemerintah karena mereka mengenai pajak untuk buku-buku fiksi. Kamu, 'kan tahu aku seorang novelis. Wajar kalau aku ngritik. Soalnya, dengan pajak seperti itu, harga buku karyaku di toko buku jadi naik dan imbasnya penjualannya lesu."

"Terus yang kedua?"

"Kedua karena pemerintah antikritik. Nah, soal agen asing itu sebenarnya ya wujud dari sikap pemerintah yang maunya sesuka hati tersebut. Mereka tidak mau rakyat kritis. Itulah sebabnya, mereka memfitnah para aktivis di semua sektor dengan istilah agen asing.."

"Tujuannya?"

"Sangat jelas, yakni supaya masyarakat membenci dan menghindari semua perkataan dari para pengkritik pemerintah. Dalam hal ini diharapkan masyarakat luas langsung berpikir bahwa kritik yang ditujukan ke pemerintah dibangun atas dasar kepentingan politik semata."

Kali ini pria berambut cepak itu terdiam.

"Udah paham, 'kan sekarang?"

"Ya. Kesimpulannya pemerintah sengaja membangun musuh semu dengan nama agen asing untuk melanggengkan kekuasaan mereka dan agar bisa bertindak sebebas-bebasnya."

Park Ji-won terlihat tersenyum.

Keduanya lalu sama menikmati ramyeon yang baru saja tersaji di sebuah meja rumah makan sore itu.

***

Tidak Selamanya Generalisasi oleh Presiden Benar?

Ilustrasi: Pixabay 

Terkadang orang dengan sangat mudah berpikir singkat dan diungkapkan lewat kata-kata. Itu berlaku bagi siapa saja yang malas berlama-lama menggunakan otaknya terhadap objek tertentu. Sebutlah misalnya tentang orang desa. Dikatakan bahwa orang desa suka makan singkong. Perkataan itu didasarkan pada pemikiran secara umum. Padahal belum tentu demikian. Kalau lebih diteliti lagi, tidak semua orang desa suka singkong. Ada saja yang menyukai pisang atau kelapa muda. 

Begitu pula ketika ada seorang presiden yang mengatakan rakyat Indonesia tidak bermimpi menjadi kaya raya, melainkan ingin hidup dengan layak dan berkecukupan. Pertanyaan yang segera muncul terkait pernyataan ini adalah, apakah semua rakyat Indonesia seperti itu? 

Kita lihat saja fakta di dalam realitas nyata, sebagian rakyat Indonesia kaya raya. Bahkan, ada yang berprinsip untuk menjadi kaya, haruslah berani bermimpi. Tanpa mimpi, manusia tak akan menjadi apa-apa. 

Baiklah, sekarang kita lupakan soal singkong dan kaya raya. Sebab, topik pembahasan di sini lebih menitikberatkan pada proses berpikir sang presiden dan siapa saja terkait generalisasi atau penyamarataan seperti dua contoh di atas.

Pertanyaan paling mendasar tentu saja apakah dibenarkan hal yang demikian? Jawabannya boleh iya, boleh tidak. Dibenarkan dengan catatan sudah dicek secara benar terlebih dahulu dengan hasil semuanya sama. Dan, tidak dibolehkan jika generalisasinya asal keluar darii mulut atau asbun (asal bunyi). 

Nah, pada dua contoh di atas sangat jelas hanya asbun. Penyamarataannya terbukti salah. Proses berpikir yang ideal itu tidak boleh tergesa-gesa, tetapi dilakukan secara mendalam dan luas. Terlebih jika dirinya seorang presiden, maka wajib baginya untuk lebih fokus terhadap segala yang menjadi bagian dari tugasnya termasuk saat berpidato di hadapan masyarakat luas. 

Wednesday, May 20, 2026

Demi Indonesia atau Demi Dihormati di Luar Negeri?

 

Foto: Pixabay 

Anggaran belanja negara sudah begitu banyak digunakan untuk beragam program yang dinilai sebagian pihak sebagai pemborosan. Mulai dari program makan bergizi gratis (MBG), gentengisasi, pembelian mobil dinas, hingga perjalanan presiden ke luar negeri.

Dan, program-program itu belum sama sekali menghasilkan laba atau pendapatan negara. Artinya, semua program pemborosan (menurut sebagian pihak) itu murni masih bergantung pada pajak dan utang luar negeri. Bisa dikatakan hanya membakar modal belaka dan menjadi kebanggaan bagi presiden agar dirinya dihormati di luar negeri. 

Nah, sebagian pihak berpendapat, kalau ini diteruskan, kemungkinan besar Indonesia akan bangkrut. Bagaimana tidak? Usaha apa pun jika hanya mengeluarkan modal tanpa laba, pasti akan gulung tikar. Jika pun memaksakannya dengan jalan memperluas pajak, rakyat pasti tidak akan mampu menutupi kerugian negara tersebut. Jangankan membayar pajak, dalam sehari saja belum tentu ada penghasilan yang bisa masuk di kantong sebagian rakyat. Ingat, tidak semua rakyat Indonesia ini kaya. Masih banyak yang berada di bawah garis kemiskinan. 

Itulah sebabnya, banyak kalangan menginginkan program-progtam bermodal raksasa, seperti MBG segera dihentikan demi keberlangsungan hidup Indonesia pada masa-masa mendatang. Harus ada sikap tegas demi eksistensi negara. 

Pertanyaan sederhananya, apakah sang presiden lebih memilih demi Indonesia ataukah akan terus beraktivitas demi dirinya dihormati di luar negeri?

Amrik Bangun Pangkalan Militer di Indonesia?

Foto: Pixabay 


Waduh! Ini sedang ramai diperbincangkan sebagian netizen terkait Presiden Prabowo Subianto yang menyediakan Bandara Kertajati untuk dijadikan pusat pemeliharaan dan perbaikan pesawat Hercules seluruh Asia.

Sebenarnya hal itu terlihat wajar mengingat Indonesia juga memiliki pesawat jenis tersebut. Akan tetapi, kalau kita memperhatikan awal mulanya mengapa demikian, tentu saja banyak yang terkaget-kaget dan bertanya-tanya, kok bisa?

Ya, ini bermula dari tawaran Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Pete Hegseth, untuk menjadikan Indonesia pusat pemeliharaan pesawat angkut militer C-130 Hercules seluruh Asia atas biaya Amerika Serikat.

Sontak, sebagian nitizen langsung berpikir dan khawatir adanya kemungkinan bahwa ini merupakan langkah kedua Amerika Serikat membangun pangkalan militernya di Indonesia. Langkah pertama pernah heboh beberapa waktu lalu, yaitu terkait bebas terbangnya pesawat-pesawat tempur Paman Sam di wilayah udara Indonesia. Dari keduanya terlihat Amerika Serikat sudah terlalu ikut campur dan terkesan menyetir negara kita. 

Kekhawatiran di atas bukan didasarkan oleh rasa takut, akan tetapi lebih kepada menjaga kedaulatan Indonesia. Bagaimana pun juga, wilayah NKRI, baik darat, laut, maupun udara wajib dijaga dan dipertahankan. Ketika ada gejala-gejala awal yang dinilai dapat mengikis kedaulatan negara, maka wajib diatasi dan dinormalkan kembali. Ingat! Kemerdekaan adalah harga mati. Sekali merdeka, tetap merdeka! 


PETANI= Pasukan Elit Terlatih Andalan Negara Indonesia

 

Foto: Pixabay 

Apa yang terpikir ketika Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat mengurus pertanian jagung dan Angkatan Laut mengurus kedelai?

Hal yang sebelumnya tak pernah terlintas di benak kita, tetapi menjadi keseharian nyata mereka yang sangat menyenangkan. Secara otomatis dengan fakta ini jumlah TNI yang siap siaga di bidang militer menjadi berkurang. Itu logika umumnya. 

Maka, harus ada pengisian di ruang kosong tersebut. Siapa? 

Kalau ditanya demikian, idealnya yang mengisinya adalah orang-orang yang digantikan peran mereka oleh TNI. Ya, petani. Ini jawaban paling pantas untuk harga atas jasa para tentara yang bersusah payah menggantikan para petani di sawah. 

Terkait hal itu, para petani bukan secara sukarela lagi, melainkan wajib mengisi kekosongan tersebut. Negara harus hadir dalam melatih para petani memikul senjata dan menggunakannya secara cepat dan tepat. Bukan sekadar keberanian, tetapi juga kesiapsiagaan, kegesitan, dan kecerdasan di lapangan menjadi modal utama mereka. 

Sehingga, ketika negara mendapatkan ancaman dan serangan dari negara lain, para petani yang sudah menjadi Pasukan Elit Terlatih Andalan Negara Indonesia (PETANI) maju gagah berani' di medan tempur.

Tentu saja mereka dibekali kecanggihan di bidang militer, seperti pesawat generasi kelima F-35, drone Bayraktar Kizililma yang mengangkut rudal Gazap berhulu ledak bom termobarik, dan rudal-rudal pencegat. 

Dengan demikian, negara kita akan tetap aman, damai, dan sentosa dari waktu ke waktu.


Solar Murah, Gudang Es, SPBU, atau Rumah Nelayan?

Foto: Pixabay 

Jika Anda adalah seorang nelayan, pilihan akan jatuh di nomor berapakah pada.judul di atas?

Ya, bisa jadi jawaban Anda akan sama dengan nelayan-nelayan lainnya. Atau, bisa juga berbeda. Sebutlah misalnya Anda memilih rumah dengan alasan tertentu, maka ada kemungkinan nelayan lain akan memilih solar yang murah. Dan, belakangan, Indonesia diramaikan dengan sebuah kata, yakni "solar" ketika dikaitkan dengan dunia nelayan.

Ketersediaan solar dengan harga murah pastinya menjadi harapan setiap pencari ikan di laut. Betapa tidak? Logikanya untuk bisa melaut diperlukan solar. Tanpa benda cair itu, para nelayan hanya bisa berada di daratan. Pertanyaan mendasarnya, akan makan apa mereka kalau tak bisa melaut? Menjadi kuli bangunan? Itu pun kalau saat ada rumah yang perlu diperbaiki atau akan dibangun. 

Selain nelayan, konsumen ikan juga akan kesusahan mendapatkan ikan segar yang murah saat para nelayan tidak melaut.

Jadi, solar sangatlah dibutuhkan dalam dunia ikan laut. 

Nah, jika kita runut alur kehidupan nelayan sehari-hari, secara mudah dapat kita pahami dengan adanya solar murah, mereka dapat mencari ikan di laut. Setelah di daratan, ikan hasil tangkapan mereka laku dan uangnya untuk kebutuhan sehari-hari, baik sandang, pangan, maupun papan.

Artinya, solar menjadi kebutuhan utama untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan lainnya dalam kehidupan para nelayan. Oleh karenanya, sangat ideal bagi pemerintah selalu bisa menyediakan solar murah khusus untuk para nelayan. Penyediaan solar murah tidak harus dengan pendirian SPBU di setiap desa nelayan. Cukup dengan distribusi yang lancar, solar akan dapat dengan mudah didapatkan dan digunakan para nelayan untuk mencari ikan di laut.


Tuesday, May 19, 2026

Negara yang Kalah Melawan Mafia Pangan

Ilustrasi: Pixabay 

"Song!"

"Ya?"

"kamu pernah dengar ga kalau ada sebuah negara yang kalah melawan mafia pangan?"

Beberapa waktu Wang tampak menunggu temannya yang cantik itu menjawab pertanyaannya tersebut. 

"Pernah ga?"

Song menggeleng. 

"Serius tidak pernah?"

"Serius. Setahuku setiap negara memiliki kekuatan militer, baik di darat, laut, maupun udara. Jadi, mana mungkin ada mafia pangan yang bisa mengalahkan sebuah negara?"

"Yang kamu katakan memang masuk akal. Tetapi, ada lho sebuah negara yang benar-benar dikalahkan mafia pangan."

"Ah, serius kamu?"

Wang mengangguk.

"Negara mana yang seperti itu?"

"Di Asia juga. Dalam pemberitaan yang aku baca tadi pagi, menteri pertaniannya mengatakan bahwa tata kelola minyak goreng di negara itu sulit dikendalikan akibat ulah mafia pangan sehingga harga minyak goreng domestik tetap kerap mengalami kenaikan."

"Wah parah banget itu. Seharusnya mafia pangan bisa ditaklukkan sehingga tidak bisa lagi berulah di sana."

"Benar katamu. Jujur saja, aku kasihan kepada rakyat di sana. Mereka harus membeli minyak goreng dengan harga tinggi."

*** 

WNI Ditahan di Negara yang Dijamin Presiden RI Keamanannya

Ilustrasi: Pixabay 

Kata Presiden Prabowo Subianto, '"Saya juga terang-terangan mengatakan perdamaian hanya bisa datang kalau semua orang mengakui, menghormati, dan menjamin keamanannya Israel." 

Perkataan di atas sebenarnya merupakan dukungan penuh kepada negara Israel yang jelas-jelas merupakan negara penjajah. Ya, fakta di lapangan menunjukkan bahwa yang membuat tidak ada perdamaian di Timur Tengah adalah Israel. Jadi, sejatinya untuk menciptakan perdamaian di sana hanya dapat dilakukan dengan menghancurkan Israel. Bukan malah mengakui, menghormati, dan menjamin keamanan negara penjajah. Dan, dengan mendukung Israel, berarti mendukung pula penjajahan di muka bumi. Ini sama halnya ketika Indonesia belum merdeka dan dukungan penuh mengalir kepada negara penjajah, baik Belanda, maupun Jepang. 

Terkait hal di atas, agaknya tidak mungkin jika Presiden Prabowo Subianto langsung menemui Benyamin Netanyahu untuk membebaskan sembilan warga WNI yang ditahan Israel. 

Kesembilan warga negara Indonesia tersebut tergabung dalam misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla yang menuju Gaza, Palestina. Mereka terdiri atas lima aktivis dan empat jurnalis. 

Meski demikian, Kemenlu RI sedang berkoordinasi dengan KBRI Ankara, KBRI Roma, Kairo, KBRI Amman, dan KJRI Istanbul, serta melakukan pendekatan kepada otoritas setempat untuk memastikan akses transit pemulangan kesembilan WNI jika sudah dibebaskan Israel tanpa hambatan keimigrasian. 


Monday, May 18, 2026

Koperasi Pemerintah Versus Warung Tetangga

 

Ilustrasi: Pixabay 

Warung tetangga tentu saja dimaknai sebagai warung sederhana yang berisi beragam barang kebutuhan sehari-hari yang dijual kepada masyarakat luas. Kepemilikannya bisa perorangan, bisa juga lebih daripada satu orang. Selain menjual barang-barang produksi pabrik besar, barang-barang produksi rumahan juga dijual di warung tersebut. 

Contoh produk rumahan yang dimaksud di atas seperti, kacang goreng, aneka krupuk, kue donut, dan camilan lainnya yang dikemas dalam plastik sederhana. Terkadang di warung tetangga juga dijual aneka sayuran hasil kebun warga setempat.

Keberadaan warung tetangga menjadi salah satu motor penggerak roda perekonomian rakyat. Selama ini yang menjadi pesaing warung tetangga adalah ritel-ritel modern semisal Indomaret. Dengan luas bangunan yang melebihi warung tetangga, ritel modern ini dapat menampung barang lebih banyak. Mereka memiliki Indomarco, yakni perusahaan pengelola jaringan ritel Indomaret.

Rantai distribusi ritel modern yang demikian jelas sangat memperlancar usaha mereka. 

Nah, akhir-akhir ini pemerintah mendirikan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP). Salah satu unit usahanya berupa toko besar mirip Indomaret dan Alfamart. Toko KDMP tersebut digadang-gadang dapat membantu masyarakat produsen menjual produk mereka. Namun, ternyata di lapangan ada KDMP yang tertangkap tangan melakukan aktivitas yang berkebalikan. Ya, mereka memasok barang langsung dari perusahaan pengelola jaringan ritel Indomaret.

Temuan itu sungguh sangat mengecewakan. Betapa tidak? Yang semula KDMP diharapkan dapat membantu produsen lokal, ternyata malah membantu pabrik-pabrik besar. Ini namanya sama saja dengan ritel modern. Dengan kata lain, toko milik KDMP merupakan pesaing warung tetangga. 

Sekarang, masyarakat tinggal pilih, mau belanja di warung tetangga atau ritel modern KDMP. Pilihan ada pada Anda.


Menyapa Rakyat Versus Prorakyat

Ilustrasi: Pixabay 

Belakangan heboh di jagat Indonesia bahwa Presiden Prabowo Subianto menginginkan mobil kepresidenan berbahan kaca. Dalam hal ini PT Pindad yang mendapatkan tugas untuk membuatnya. 

Jika ditanya tujuannya untuk apa, jawabannya adalah agar memudahkannya menyapa rakyat saat sedang mengadakan kunjungan di daerah. Ia ingin ada kursi untuknya duduk, tapi diidesain agar seolah-olah dirinya sedang berdiri menyapa rakyat.

Pertanyaan berikutnya, seurgen itukah menyapa rakyat dengan gaya yang demikian? Padahal cukup dengan membuka kaca jendela lalu melambaikan tangan ke arah rakyat atau berhenti untuk menjabat tangan rakyat dengan hangat.

Dan, sebenarnya ada yang lebih penting dan sangat dinantikan rakyat Indonesia daripada sekadar menyapa, yakni seluruh kebijakan pemerintah prorakyat. Ya, mulai dari kebijakan pemerintah yang berkerja untuk menurunkan harga sembako, memperbesar subsidi di semua sektor kehidupan khususnya subsidi BBM, pendidikan gratis di sekolah umum (bukan sekolah rakyat) sampai perguruan tinggi, perbaikan sarana dan prasarana yang rusak, pengurangan pajak, pelestarian hutan untuk kelangsungan hidup rakyat pedalaman dan perkotaan, hingga penciptaan lapangan pekerjaan secara luas, 

Artinya, segala yang dilakukan presiden haruslah sampai di akar permasalahan yang masih melanda negeri ini. Bukan sebatas pada kulit luar saja. Sebab, rakyat sejahtera adalah yang utama. 


Sunday, May 17, 2026

Pemerintah Resmikan Baskom dan Seutas Tali Menuju Sekolah?

Ilustrasi: Pixabay 

Baskom dan seutas tali menjadi dua benda yang digunakan sebagian siswa di Indonesia untuk menuju sekolah. Ya, lebih tepatnya saat menyeberangi sungai sebagian siswa ada yang menggunakan baskom dan sebagian lagi menggunakan seutas tali.

Pertama, baskom dijadikan pengganti perahu. Anak-anak sekolah secara terpaksa duduk di dalam baskom. Lalu dengan tangan kosong, mereka mengayuhnya. Ini tentu butuh keseriusan dan keseimbangan agar baskom tidak terbalik.

Kedua, sebagian siswa menit seutas tali di atas sungai sebagai alat penyeberangan. Ini sangat membutuhkan kekuatan fisik dan keberanian tingkat tinggi.

Nah, pertanyaannya, apakah Pemerintah Indonesia seharusnya segera meresmikan baskom dan seutas tali sebagai benda penyeberangan untuk  sampai di sekolah? 

Idealnya adalah ya. Mengapa? Jawabannya mudah karena fakta di lapangan memanglah demikian. Para siswa tersebut tidak menyeberangi sungai dengan jembatan beton atau kayu, melainkan dengan kedua benda itu meskipun sangatlah berbahaya. 


Swasembada Pangan Jaminan Rakyat Tidak Lapar?

Foto: Pixabay 

Apakah dengan swasembada pangan membuat beras dan makanan lainnya menjadi gratis? 

Agaknya itu jauh dari harapan. Ketika pemerintah berkoar-koar bahwa Indonesia swasembada pangan, makanan tetaplah berbayar.

Lalu jika tidak gratis, apakah harga makanan di pasaran turun? Jawabannya malah naik.

Lantas, apa benar kita swasembada pangan?

Konon, ketika terjadi swasembada pangan, maka setidaknya dampak positif yang sampai di masyarakat adalah harga makanan seperti beras pasti turun.

Dengan kondisi di lapangan yang bertentangan dengan klaim pemerintah soal swasembada pangan tersebut, mungkinkah rakyat akan terbebas dari kelaparan? 

Jawabannya pastilah tidak. Sebagai contoh, para pekerja harian, sebutlah tukang bangunan, saat mereka tidak mendapatkan pekerjaan membuat atau memperbaiki rumah, tentu tidak memiliki uang untuk membeli beras. Selanjutnya, mereka lapar. Dan, pertanyaan yang paling sederhana, apa wujud tanggungjawab presiden saat mereka lapar?