Sunday, December 15, 2019

Ma, Dia Itu Siapa? Sepupumu



Terlepas dari sebutan "Ma" di atas, pernahkah Anda ditanya semacam itu?

Saya punya cerita singkat tentang hal tersebut. Ya, mengenali keluarga sendiri.

Pagi hari, entah kapan saya lupa, seorang anak remaja putri bertandang ke rumah pria paruh baya yang merupakan sepupu ayahnya. Niatnya untuk mengatarkan sesuatu. Sesampainya di sana, ia ditanya pria itu, "Kamu siapa, Nak?"

Ia pun menjawab apa adanya. Setelah pulang, remaja putri ini menceritakan pertanyaan sepupu ayahnya tadi. Selang beberapa waktu, diadakanlah arisan keluarga dengan tujuan agar adanya saling mengenal dalam keluarga besar mereka.

Ada lagi cara lain dengan tujuan yang sama, seperti membuat silsilah keluarga, lalu ditempelkan di dinding rumah masing-masing. Tentu saja silsilah tersebut disertai dengan foto sesuai nama orang yang bersangkutan.

Cara-cara di atas dan yang lainnya di luar sana, sangatlah ideal dilakukan. Hal ini mengingat hubungan keluarga sangatlah penting.

Kadang, kehidupan kita memang lebih banyak berhubungan dengan orang-orang di luar keluarga. Bahkan, ikatan emosional sering lebih terasa kuat dengan tetangga dan teman akrab daripada keluarga sendiri. Meskipun demikian, keluarga tetaplah keluarga, janganlah dilupakan.

Ada nenek, kakek, paman, tante, dan lainnya. Maka, saling kenal-mengenallah.

Saturday, December 14, 2019

Selembar Daun yang Membelai Helai-Helai Halus Alisnya


Hampir setiap malam rembulan menjatuhkan cahaya peraknya di wajah sang bumi. Begitu pula dengan hujan, jatuh di tanah-tanah, rerumputan, batu-batu, dan air yang berkumpul dalam lautan, danau, sungai, sumur, atau sekadar kubangan.

Ketika angin kencang datang, tak sedikit dedaunan yang jatuh, lalu mengering di bawah mentari. Agaknya, dari sinilah muncul kalimat-kalimat indah tentang daun. Sebutlah contohnya judul di atas.

Ya, diksi-diksi yang membentuknya tak lepas dari benda yang berfungsi sebagai alat bernapas dan mengolah zat makanan bagi tanaman tersebut.

Daun. Benar, daun. Lantas, apakah sebatas itu saja? Menghasilkan kalimat-kalimat indah dalam kehidupan manusia?

Tentu saja tidak. Manusia dapat memperoleh makna yang dalam dari selembar daun meski sudah kering sekalipun. Bahkan, yang sudah terinjak-injak oleh ribuan alas kaki.

Bagaimana bisa?

Untuk sampai pada pemahaman tentangnya, maka pertanyaan awalnya begini, "Apakah manusia bisa menciptakan daun?"

Manusia kekinian dengan teknologi canggih sudah membuktikan bisa berada di ketinggian (penerbangan) atau kedalaman (misalnya teknologi kapal selam). Malah, konon ada manusia yang sampai di bulan.

Nah, sebagian manusia sering meremehkan hal-hal sebaliknya. Misalnya saja selembar daun kering di permukaan tanah. Sebagian orang dengan mudah mengatakan, "Apa hebatnya selembar daun itu? Sudah jatuh, kering pula."

Tapi, pernahkah kita berpikir dengan pertanyaan awal di atas? Setahu saya, meskipun hanya daun kering, manusia secerdas apa pun belum sanggup menciptakannya. Itu baru daun, apalagi rantingnya, cabangnya, dan batangnya. Ini adalah bukti keterbatasan manusia. Hanya di situ makna dalamnya?

Belum. Kemudian apa?

Kalau manusia belum mampu, lalu siapa yang menciptakan daun? Jawabnya hanya Allah swt yang mampu. Dengan kata lain, selembar daun merupakan satu tanda dari kebesaran-Nya. Dan, itulah makna yang dalam tersebut.

Oh sampai lupa. Ini malam Minggu. Dalam sebuah lagu, ada lirik-liriknya berbunyi, "Malam Minggu malam yang panjang. Malam yang asyik buat pacaran."

Entah, apa pun aktivitas Anda, semoga malam Minggu ini sungguh mengasyikkan.

Friday, December 13, 2019

Hujan, Senja, dan Secangkir Kopi


Entah mengapa banyak orang mengatakan bahwasanya hujan, senja, dan secangkir kopi erat hubungannya dengan sastra.

Padahal, saat hujan, enaknya ya menikmati menu yang hangat-hangat. Sebutlah tempe mendoan didampingi secangkir kopi atau teh yang uapnya masih menari-nari di udara. Dan, lebih berasa spesial lagi jika hal itu berlangsung saat senja selepas bekerja.

Lalu, di mana letak sastranya?

Agaknya tidak ada. Menulis sastra saat hujan? Yang ada malah kedinginan. Membaca sastra saat senja? Cahaya matahari pada saat itu kurang cocok untuk membaca. Mendengarkan pembacaan sastra sambil minum kopi? Sepertinya akan lebih seru kalau menikmati kopi ditemani suara biduan dangdut yang sangat aduhai.

Meski begitu, ketiganya jika dikaitkan dengan peristiwa tertentu biasanya akan menjadi luar biasa. Kok? Bagaimana bisa?

Misalnya, duduk berdua dengan pujaan hati saat hujan pada senja hari. Ya, berdua saja. Apalagi, ada secangkir kopi yang disruput bersama hingga terlahir suasana hangat nan romantis.

Peristiwa luar biasa yang terkait dengan ketiga hal itulah yang sulit dilupakan. Ada rindu di secangkir kopi. Ada harapan saat senja. Bahkan, ada kehangatan yang setia dalam dekapan hujan.

Nah, jika sudah demikian, konon, akan terlahirlah puisi-puisi indah, cerpen-cerpen mendebarkan, dan novel-novel yang menggugah jiwa.

Waw! Tidak atau belum percaya? Lekaslah membuktikannya.

Thursday, December 12, 2019

Penyair Rela Nulis Puisi meski Tak Dibayar


Percayakah dengan judul di atas?

Di dunia modern saat ini mana ada orang yang mau bekerja tanpa dibayar? Setiap tetes keringat haruslah dihargai dengan nilai yang sepadan.

Menulis memang terkesan tidak melelahkan. Orang menulis tidak perlu mengangkat batu, kayu, atau pekerjaan fisik lainnya. Akan tetapi, jangan lupa bahwa kita sedang hidup di dunia materi. Syarat utama hidup di dunia seperti ini adalah adanya fisik atau jasad yang sehat.

Meskipun berpikir merupakan aktivitas psikis, namun tetap saja kita memerlukan bagian jasad (materi), yakni otak. Tanpa otak, apakah kita bisa menghasilkan kata-kata? Jangankan kata-kata, satu huruf saja tidaklah mungkin.

Artinya, menulis merupakan aktivitas yang juga melibatkan kerja fisik. Itulah sebabnya, menulis bukan perkara ringan dan sederhana. Kerja dalam kepenulisan tidaklah mudah, terutama jika sudah menyangkut penghasilan.

Terlebih saat ini. Penjualan buku, misalnya, begitu sulit. Bahkan, kebanyakan novel susah "ludes" di toko buku. Belum lagi perkara perpajakan yang "menyesakkan" pihak penulis dan penerbit.

Jika pun ada karya seperti puisi dan cerpen dimuat di koran nasional, itu tidak terjadi setiap hari. Alhasil, pendapatan penulis bersangkutan dari pemuatan tersebut belum dapat dikatakan memadai untuk keberlangsungan hidupnya.

Nah, di tengah susahnya penghasilan di atas, ternyata masih banyak penyair yang rela menulis meskipun tanpa dibayar. Lihatlah buku-buku antologi puisi, baik tunggal, maupun bersama.

Tidak sedikit, lho, penyair yang puisi mereka dimuat dalam buku antologi puisi ternyata tidak mendapatkan honorarium sepeser pun. Bahkan, para penyair rela membeli buku-buku yang memuat karya mereka tersebut.

Ini karena para penyair sadar bahwa untuk menerbitkan buku puisi tidaklah gratis. Perlu modal besar, baik tenaga, pikiran, waktu, maupun uang.

Angin segar akan sedikit berembus ke arah penyair jika ada pihak yang berkenan membiayai penerbitan buku antologi puisi mereka. Biasanya, jika sudah begitu, para penyair akan mendapatkan buku secara gratis.

Sekarang sudah tahu, 'kan bagaimana besarnya pengorbanan para penyair Indonesia dalam bersastra?


Wednesday, December 11, 2019

Daging Ikan Laut Pasti Rasanya sangat Asin


Telur bebek jika dilumuri adonan batu bata halus dan garam, lalu didiamkan selama empat belas hari, rasanya menjadi asin. Ya, tidak amis lagi.

Atau, jika seseorang terlalu lama terpapar asap saat membakar sate, misalnya, tubuhnya pun berbau asap.

Terkadang dalam hidup ini, sesuatu akan mudah mendapatkan efek dari hal di sekitarnya. Terlebih jika hal itu mengenai sesuatu tersebut seperti dua contoh di atas. Garam mengenai isi telur dan tubuh dikenai asap.

Saya sengaja menggunakan kata "terkadang" dalam kalimat pertama pada paragraf di atas. Mengapa? Sebab, tidak semuanya demikian.

Adakalanya apa yang menjadi kelaziman tidak berlaku pada hal-hal tertentu. Bahkan, yang kita lihat sekalipun belum tentu begitu adanya.

Sebutlah ikan di lautan. Setiap hari mereka hidupnya di air yang asin. Namanya saja laut  tentu ada kandungan garam di dalam airnya, 'kan? Jika tidak, maka namanya air tawar.

Tapi, apa? Apakah daging ikan rasanya asin? Kalau kita melihat kenyataannya, bukan hanya asin, daging dan seluruh tubuh ikan pastilah rasanya sangat asin.

Meskipun demikian, namun daging ikan laut rasanya amis, bukan asin.

Lalu, apa pelajaran dari realitas ikan laut ini?

Agaknya, hal pertama yang paling menonjol adalah jangan langsung menyimpulkan segala sesuatu dengan terburu-buru. Sebagai contoh, orang yang berpenampilan sederhana jangan langsung disimpulkan orang rendahan. Konon, Sunan Kalijaga pernah menyamar sebagai tukang rumput. Padahal beliau orang terpandang dalam masyarakat Jawa waktu itu.

Sebaliknya pun begitu. Orang yang berpakaian rapi, wangi, dan elit pun belum tentu seperti penampilannya. Perhatikan saja koruptor di Indonesia yang berpenampilan super keren dan sangat waw.

Selanjutnya, tidak mudah terpengaruh oleh situasi dan kondisi di sekitar kita. Tak selamanya kita berada di tempat baik dengan orang-orang yang baik pula. Kadang-kadang kita bisa berada di tempat yang buruk. Sebutlah banyak pemakai narkoba di sekitar rumah kita. Maka, jadilah seperti ikan, yakni tidak terpengaruh dunia sekitar "yang buruk bagi kita" itu.

Kasus bunuh diri pun banyak disebabkan oleh permasalahan hidup. Idealnya, sebagai manusia tidak mudah terpengaruh situasi dan kondisi seburuk apa pun. Masih ada Allah swt yang Maha Penolong sebagai tempat memohon bagi manusia atas segala permasalahan hidup ini.

Tampaknya masih banyak pelajaran lainnya dari hal di atas sebagai bagian pembacaan alam semesta oleh kita. Dan, terlalu panjang jika dituliskan dalam artikel yang singkat ini. Akhirnya, selamat memaknai hidup dan kehidupan dengan penuh kebijaksanaan.


Tuesday, December 10, 2019

Meminjam Tidak Sama dengan Memetik Sekuntum Bunga


Ada seorang pemilik tangga kayu yang begitu kesal. Betapa tidak? Awalnya tangga miliknya itu dipinjam oleh seseorang. Sehari, dua hari, hingga satu bulan tangga tersebut tak kunjung dikembalikan kepadanya.

Nah, suatu hari yang lain, dirinya sedang memerlukan tangga untuk sebuah keperluan yang sangat penting. Parahnya, saat ia mendatangi rumah si peminjam tadi, ternyata tangga miliknya sudah tidak ada di sana. Waw!

Ya, si peminjam telah meminjamkannya ke orang lain. Lalu, ia ditemani si peminjam pertama mendatangi peminjam kedua. Dan, orang yang didatangi ini pun telah meminjamkannya kepada orang yang lainnya lagi. Luar biasa!

Mengetahui hal tersebut, darahnya seketika langsung naik ke ubun-ubun. Ia sangat kesal saat itu. Suaranya meninggi. Wajahnya pun merah padam.

Cerita di atas benar-benar pernah terjadi. Di dunia ini, memang banyak orang kesusahan mendapatkan kembali sesuatu yang ia pinjamkan, baik uang, maupun barang kepada orang lain, entah saudaranya, atau sekadar kenalannya di dunia maya.

Tak jarang, orang yang meminjamkan malah seolah-olah menjadi pengemis agar haknya bisa kembali. Bahkan, ada yang berujung kematian karena dibunuh oleh si peminjam yang begitu kejam dan sadis.

Padahal, meminjam tidaklah sama dengan memetik sekuntum bunga. Memetik, berarti melepaskan bunga dari tangkai tanamannya.

Si pemetik tidak mengembalikan atau menyambung kembali antara bunga dan tangkainya. Kalau sudah dipetik, ya cukup dinikmati keindahan atau keharumannya. Jika sudah layu, bisa dijadikan bahan pembuatan pupuk organik.

Sementara peminjam wajib mengembalikan yang ia pinjam kepada pemiliknya. Sebutlah uang, ya harus dikembalikan sesuai jumlah yang dipinjam.

Begitu pula dengan barang seperti tangga kayu pada cerita di atas, harus dikembalikan dan  peminjam tidak mempunyai hak meminjamkannya kepada orang lain.

Agaknya, perbedaan keduanya sudah jelas sekarang. Malam pun kian meninggi. Kini, saatnya menikmati hidup dalam lelapnya tidur yang nyenyak. Selamat beristirahat!


Monday, December 9, 2019

Aduklah Gula dalam Air Tehmu hingga Larut Merata


Terkadang, ada segelas air teh yang gulanya sengaja tidak diaduk. Dibiarkan  menjadi timbunan di dasar gelas begitu saja. Konon, makna filosofisnya sama dengan peribahasa, "Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian."

Ya, air teh yang pertama diminum terasa pahit dan akhirnya manis. Seperti hidup bersakit-sakit dulu, bersenang-senang kemudian.

Tapi, jika tidak diaduk, bagian akhirnya akan sangat manis. Sedang bagian atasnya pahit. Ini malah bermakna ketidakadilan. Ada bagian air teh dalam gelas itu yang mendapatkan banyak gula dan ada yang mendapatkan jatah manis yang sangat sedikit.

Membayangkannya saja, membuat saya teringat salah satu sila dalam Pancasila. Dan, entah apa sila itu sudah diwujudkan atau belum. Nyatanya, masih banyak orang berkata, "Masih sering terjadi ketidakadilan di negeri ini."

Maka, biasakanlah untuk bersikap adil. Dan, agaknya mengaduk gula dalam air teh hingga larut merata bisa menjadi sarana pembelajaran bagi kita semua.

Membahas teh, eh saya malah ingin menikmati seduhan secangkir air teh yang mengandung keadilan.

Anda?

Sunday, December 8, 2019

Bu, Pisang Ayah kok Tak Bisa Berbuah Dua Kali?


Pisang. Buahnya berdaging dan dapat kita makan.

Begitulah kira-kira deskripsi singkat tentang tanaman jenis musa ini. Ada aneka ragamnya. Talas, raja, ambon, kepok, dan lainnya. Semuanya enak. Terlebih, sangat lezat jika dihidangkan sesuai selera masing-masing.

Nah, tahukah Anda, kadangkala seorang anak, bisa laki-laki atau perempuan bertanya-tanya tentang pisang. Terkhusus soal buahnya. Wajar seperti itu, namanya juga anak-anak. Haus akan pengetahuan akan segala hal yang dilihatnya. Termasuk pisang.

Ya, faktanya ketika mangga berbuah setiap tahunnya atau kelapa hijau yang terus berbuah subur, pisang sekali berbuah dan siap panen, batangnya malah langsung ditebang.

Maka, pertanyaan anak-anak tentang tanaman ini lebih kurang ya seperti tertera pada judul di atas.

Lazimnya, pisah memang berbuah hanya satu kali. Jika ada pisang yang berbuah di batang, biasanya karena sebelum berbuah, batangnya dilukai dengan ukuran lumayan besar. Bisa juga oleh sebab yang lain. Itu pun tetap berbuah satu kali.

Dan, agaknya seandainya ada pisang yang berbuah dua kali, itu di luar kelaziman itu.

Lalu, adakah makna yang terpendam sebagai pelajaran dari realitas pisang ini?

Perjalanan hidup kita adalah jawabannya. Kok? Ya. Perhatikan saja alur kehidupan manusia di dunia. Kebanyakan, setelah lahir, manusia tumbuh menjadi anak-anak, lalu remaja, kemudian dewasa, dan tua.

Setiap manusia memiliki waktu hidup dan dijalani masing-masing. Bisa panjang, sedang, bahkan pendek. Jika waktu itu habis, manusia tak bisa kembali ke waktu yang telah dilalui. Misalnya ketika manusia sudah ada di usia 50 tahun, maka tak bisa kembali ke usia 20 tahun atau 3 tahun.

Artinya, hidup manusia di dunia hanya satu kali seperti pisang yang tak bisa berbuah dua kali, apalagi lebih.

Itulah sebabnya, idealnya, gunakanlah masa muda sebelum datang masa tua, fungsikan kesehatan sebelum esok menderita sakit, pakailah kekayaan atau rezeki yang ada sebelum habis terkikis tak bersisa, manfaatkan waktu luang sebelum nanti datang masa sibuk, dan yang terpenting jangan sia-siakan hidup kita ini sebelum ajal menjemput.

Saturday, December 7, 2019

Yuk, Mengenal Presiden Penyair Indonesia!

Sutardji Calzoum Bachri - Youtube

Bukan hanya di dunia politik kita mengenal istilah presiden. Di dunia sastra pun demikian adanya. Ialah presiden penyair Indonesia.

Bagi kaum sastrawan, istilah itu sudah tidak asing lagi. Tetapi, bagi masyarakat umum, agaknya masih belum familier dengan penyebutan presiden penyair tersebut.

Tidak mengherankan memang jika benar seperti itu. Adalah hal yang wajar mengingat pengenalan dunia sastra secara utuh belum terjadi di dunia pendidikan kita. Hanya beberapa nama sastrawan yang sering disebut dalam buku teks pelajaran bahasa Indonesia di sekolah, misalnya Taufiq Ismail dan Chairil Anwar. Selebihnya, entah kapan?

Kembali ke istilah di atas, satu orang yang menduduki "jabatan" Presiden Penyair Indonesia bernama Sutardji Calzoum Bachri (SCB). Sebenarnya ini hanyalah julukan kepadanya. Artinya, jauh berbeda daripada presiden politik.

Nah, SCB sendiri merupakan salah seorang pelopor penyair angkatan 1970-an, lho.

Pria ini dilahirkan pada 24 Juni 1941 di Rengat, Indragiri Hulu, Riau. Nah, pada tahun 1974 dan bertepatan dengan musim panas ia diundang mengikuti International Poetry Reading di Rotterdam, Belanda.

Tepat bulan Oktober 1974--April 1975 dirinya mengikuti International Writing Program di Universitas Lowa, Lowa City, USA.

Presiden penyair Indonesia ini juga pernah diundang ke Pertemuan Internasional Para Penyair di Baghdad, Irak. Diundang pula oleh Dato Anwar Ibrahim--saat menjabat Menteri Keuangan Malaysia--untuk membacakan puisi di Departemen Keuangan Malaysia.

Selain itu, pada tahun 1997 Tardji (panggilan akrab SCB) memenuhi undangan untuk membacakan puisi di Festival Puisi Internasional Medellin, Columbia.

Adapun puisi-puisinya dimuat dalam berbagai media, baik media cetak semisal Majalah Horison (majalah sastra paling top di kalangan sastrawan saat itu), maupun buku.

Dalam media buku, puisi-puisinya dimuat dalam berbagai antologi, yakni tunggal dan bersama. Khusus yang bersama, sebut saja Arjuna in Meditation (Calcutta, India, 1976), Writing from the World (USA), Westerly Review (Australia), Dichters in Rotterdam (Rotterdamse Kunststichting, 1975), Ik Wil nog dulzendjaar leven, negen moderne Indonesische dichter (1979), dan Journal of Southeast Asian Literature 36 dan 37 (1997).

Sementara antologi puisi tunggalnya ialah O, Amuk (1972) yang mendapatkan Hadiah Puisi Dewan Kesenian Jakarta pada tahun 1976/1977, Kapak (1979), Atau Ngit Cari Agar (2008), Kucing (1973), Aku Datang Padamu, Perjalanan Kubur David Copperfield, dan Realities Tanah Air.

Nah, pada tahun 1981, antologi puisinya O, Amuk, dan Kapak digabung dan diterbitkan dengan judul buku O, Amuk, Kapak.

Jika ditanya penghargaan yang pernah ia terima, antara lain adalah, Anugerah Seni Dewan Kesenian Jakarta (1977), Sea Write Award dari Kerajaan Thailand (1979), Anugerah Seni Pemerintah RI (1993), Penghargaan Sastra Chairil Anwar (1998), Sastrawan Perdana oleh Pemda Riau (2008), dan Bakrie Award (2008).

Di usianya yang sudah lebih daripada 78 tahun ini, ia masih aktif dalam bersastra. Orang-orang pun masih setia menyebutnya Presiden Penyair Indonesia.


Dari berbagai sumber.

Friday, December 6, 2019

Jasmerah Kebudayaan Islam


Jasmerah atau jangan sekali-kali meninggalkan sejarah lekat sekali dengan Sang Proklamator kemerdekaan republik ini.

Semboyan itu seakan penyemangat dalam menyongsong masa depan yang makmur sentosa. Begitulah setidaknya yang menjadi cita-cita para pejuang waktu dulu.

Bicara dulu, tentu terbentang rentetan sejarah panjang yang kait-mengait. Dan, membahas perjuangan merebut kemerdekaan Indonesia tak lepas dari jasa umat Islam. Sebab, suka tidak suka, mau tidak mau, umat Islam berkontribusi sangat besar dalam mengusir penjajah masa lalu.

Nah, terkait umat Islam, pastinya terhubung langsung dengan sejarah kebudayaan Islam itu sendiri.

Kalau memperbincangkan kebudayaan Islam sebenarnya kita sedang bergumul dengan segala yang dihasilkan oleh kekuatan akal manusia yang beragama Islam. Ya, dengan kata lain, pergerakannya berada di lingkup muamalah.

Itulah sebabnya, di dalam kebudayaan Islam tercakup bidang sosial, ekonomi, ilmu pengetahuan, politik, hukum dan lainnya yang berkaitan dengan hubungan antarmanusia. Sifatnya pun selalu mengalami perkembangan, ada perubahan-perubahan menuju kemajuan.

Dalam hal ini, para ahli sejarah telah membagi sejarah kebudayaan Islam dalam beberapa periode. Berikut adalah periodisasi tersebut.

1. Zaman ideal. Zaman ini meletakkan dasar-dasar pertama kebudayaan Islam. Masanya sepanjang 40 tahun. Termasuk di dalamnya adalah masa Nabi Muhammad saw, yakni sejak hijrah ke Madinah hingga beliau wafat (selama 10 tahun). Kemudian diteruskan ke masa Khulafaur Rasyidin selama 30 tahun.

2. Zaman perkembangan. Masa berkembangnya kebudayaan Islam mencakup tiga benua, yakni Asia, Afrika, dan Eropa. Adapun masa ini terjadi pada masa Amawiyah yang pusatnya di Damaskus selama 90 tahun.

3. Zaman keemasan Islam. Masa ini kebudayaan Islam mencapai puncaknya. Ada dua masa di dalamnya, yakni masa Abbasiyah I yang pusatnya di Baghdad selama seratus tahun dengan para khalifahnya yang berkuasa penuh, berpikir maju, dan pencinta Ilmu. Masa kedua adalah Abbasiyah II.  Masa kedua ini setiap ibukota provinsi berlomba memajukan lapangan kebudayaan, khususnya ilmu pengetahuan dalam rangka menyaingi Baghdad.

4. Zaman perluasan wilayah.

5. Zaman kemunduran. Masa ini dimulai dengan kegemilangan Otsmaniyah, Syafawi, dan Mughal. Lalu diakhiri dengan penjajahan hampir seluruh dunia Islam oleh Eropa Barat.

Lantas, apa yang dapat kita pelajari dari kebudayaan Islam ini?

Kalau kita perhatikan, Islam dengan segala kebudayaannya terus melesat dan berhasil mencapai masa keemasannya. Saat jaya itulah lahir persatuan yang kuat dari berbagai bangsa di bawah naungan Islam. Ilmu pengetahuan pun berkembang dengan pesatnya. Sebutlah ada nama besar Al-Fazari sebagai astronom Islam yang pertama kali menyusun astrolobe atau alat untuk mengukur tinggi bintang.

Kemudian berangsur mengalami kemunduran yang diawali dengan persaingan antarprovinsi. Dan,  lama-kelamaan kalah dan terjajah.

Hal menarik di sini ialah bahwa kemajuan didapat melalui persatuan umat Islam yang kukuh. Sebaliknya, dengan tercerai-berai, maka hancurlah bangunan yang semula kukuh tersebut.

Pertanyaannya, apakah umat Islam mampu bersatu kembali untuk kejayaan Islam dengan budayanya yang tinggi (peradaban Islam)  seperti dulu, bahkan lebih maju lagi? Jawabnya adalah akan. Sementara tahun pastinya kita belumlah tahu.


Thursday, December 5, 2019

Vagabond, Pemerintah yang Membunuh Rakyat


Judulnya tidak menyeramkan, 'kan? Pemerintah membunuh rakyat. Begitulah yang dikisahkan dalam drama Korea Selatan (drakorsel/drakor) berjudul Vagabond.

Drama ini telah selesai tayang pada 23 November 2019 lalu. Dengan didukung akting yang keren dari para pemerannya, seperti Lee Seung Gi dan Bae Suzy, 16 episodenya yang mulai tayang 20 September itu sukses besar.

Ya, skenarionya yang ditulis Jang Young Cheol dan Jung Kyung Soon benar-benar hidup dalam drakor ini.

Mulai dari pembuka yang menarik, penonton dibawa menanjak dengan tragedi kecelakaan sebuah pesawat hingga menewaskan lebih daripada 200 warga sipil.

Pesawat komersial yang nahas itu berangkat dari Korea Selatan menuju Maroko. Keluarga korban pun begitu meluapkan emosi mereka. Dan, seorang di antaranya, yakni paman salah satu korban melihat pria yang terekam dalam kamera keponakannya di pesawat (sebelum berangkat) ternyata masih hidup di Maroko.

Sejak itulah sang paman yang bernama Cha Dal Gun (Lee Seung Gi) yakin bahwa pesawat itu jatuh karena ulah teroris. Ia pun bertekad membongkar kejahatan tersebut.

Dalam usahanya ini, dirinya dibantu seorang anggota National Intellegence Servicenya Korea (Badan Intelejen Nasional Korea Selatan) bernama Go Hae Ri (Bae Suzy).

Perjuangan mereka sangat berat. Nyawa adalah taruhannya. Sebab, yang mereka hadapi bukan orang-orang sembarangan. Ada konspirasi gelap yang melibatkan pihak-pihak berpengaruh, termasuk Presiden Korea Selatan sendiri.

Itulah sebabnya, semua perangkat negara dikerahkan untuk membunuh siapa saja yang berusaha mengungkap kejahatan di balik jatuhnya pesawat tersebut.

Bahkan, sebagian anggota intelejen negara yang melindungi saksi dan keluarga korban pun menjadi target pembunuhan mereka atas nama negara. Dan siapa saja yang tidak mau menaati perintah presiden dianggap pengkhianat negara.

Lalu, pelajaran apa yang dapat kita petik dari drakor menegangkan ini? Hal yang paling mencolok ialah pemerintah dan rakyat. Bagaimana pemerintah bersikap terhadap rakyatnya jelas menjadi sorotan utamanya.

Sebagai pemerintah yang memegang amanah dan digaji dari pajak rakyat, tentu sudah berkewajiban mensejahterakan rakyatnya. Bukan seperti yang dikisahkan dalam drama Vagabond ini.

Mungkin, Anda pun dapat memetik hal lain jika sudah menontonnya hingga selesai.


Wednesday, December 4, 2019

Rugilah Manusia jika Tidak seperti Nasi Goreng


Ada cerita lama yang masih saya ingat. Suatu waktu, seorang teman berkisah tentang lezatnya nasi goreng. Bukan hanya kepada saya kisah itu ia tuturkan. Kami saat itu ada sekitar lima orang.

Kisahnya langsung ditanggapi teman kami yang lain dengan sebuah pertanyaan, "Mengapa ya, kalau aku buat nasi goreng, hasilnya keras?"

Saya dan yang lainnya pun balik bertanya tentang cara memasaknya. Dan, jawaban darinya membuat kami tertawa terbahak-bahak. Betapa tidak? Ternyata yang ia goreng bukan nasi, melainkan beras.

Itu adalah kisah masa lalu. Masa remaja kami. Meskipun sudah lama, nasi goreng tetaplah "hangat" hingga sekarang.

Benar, yang biasanya terbuat dari nasi sisa yang masih ada pada pagi hari, menjadi hangat dan lezat setelah digoreng. Tentunya digoreng bersama racikan bumbu yang pas takarannya.

Nah, dari lezatnya nasi goreng, pernahkah terpikir bahwa unsur-unsur di dalamnya bersatu dalam keserasian dan kepaduan yang kukuh?

Ada nasi, bawang putih, garam, minyak, dan lainnya. Bahkan, dalam kandungan nasi terdapat unsur air. Bayangkan, air dan minyak saja bisa bersatu atau bergabung dalam hangatnya nasi goreng. Ini luar biasa, 'kan?

Bagitu pula manusia. Pastinya saya, Anda, dan manusia lainnya tidak bisa hidup sendiri terus-menerus. Ada kalanya kita bersosial untuk memenuhi kebutuhan masing-masing. Dengan kata lain, ada ketergantungan antara manusia satu dan lainnya. Dalam hal ini berlaku rasa ingin bertemu, terutama yang sudah lama terpisah jarak bermil-mil jauhnya.

Itulah sebabnya, menjadi seperti nasi goreng sebenarnya adalah perwujudan manusia sebagai makhluk sosial yang ideal, baik dalam beragama, bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Ada rasa simpati dan empati yang kuat dan besar di dalamnya.

Lalu, bagaimana jika sebaliknya?


Tuesday, December 3, 2019

Teroris dan Radikal dalam "Pelem Aktion"


Begitulah yang saya ingat sewaktu kecil. Kata "film" dan "action" dilafalkan /pelem aktion/ dengan sangat lugunya.

Benar, sewaktu saya kecil sering nonton film laga, terutama produk luar negeri. Bukan hanya betapa indahnya adegan beladiri yang ditampilkan, tetapi juga kelicikan tokoh-tokoh antagonisnya.

Dalam kisah penyanderaan, misalnya, betapa tidak kesatrianya para teroris itu. Padahal mereka berbadan dan berotot besar. Bahkan, semuanya bertato tanda kejantanan dengan dilengkapi senjata api canggih.

Begitu pula dengan kelicikan para penganut radikalisme dalam upaya merebut pemerintahan yang sah. Mereka menggunakan segala cara termasuk pembunuhan besar-besaran untuk mencapai tujuan semu.

Dan, dari semua film laga yang saya tonton itu para teroris dan penganut radikalisme tidak ada yang berjanggut. Perempuannya juga tidak bercadar. Di jidat mereka juga tidak ada tanda hitam sebagai tanda bekas sujud. Selain itu, mereka tidak ada yang bercelana cingkrang.

Nah yang paling penting, mereka juga sama sekali tidak menggunakan atribut keagamaan mana pun. Yang tampak pada mereka adalah kejahatan dan kelicikan luar biasa.

Mungkin banyak orang mengatakan, "Itu, 'kan dalam film?"

Ya, itu ada dalam film. Akan tetapi, jangan lupa bahwa film atau naskah-naskah cerita sebenarnya merupakan pengejawantahan kembali kehidupan nyata.

Kebiasaan manusia seperti cara berpakaian, jenis makanan, dan lainnya dalam kehidupan sehari-hari tidak diganti dengan yang lain saat ada dalam film. Artinya, ada latar sosial, budaya, selain latar tempat dan waktu yang dipertontonkan kepada publik lewat film.

Lalu, bagaimana dengan sekarang?


Monday, December 2, 2019

Reuni 212, Apa yang Bisa Dituliskan? Lalu Maknanya?


Apa yang bisa dituliskan dari acara itu? Agaknya, pertanyaan tersebut selalu mengintai saya jika dihadapkan pada acara yang begitu viral di media sosial tersebut.

Ya, Reuni 212. Lebih tepatnya yang ketiga kalinya. Acaranya sendiri diadakan berturut-turut setiap tahun dan berangkat dari Aksi Damai 212 pada 2016 lalu.

Meskipun tidak heboh di televisi, reuni ini memang sangat ramai di jagat media sosial hingga kini. Di medsos, misalnya, saya melihat foto-foto peserta reuni ini memutihkan jalan-jalan sekitar Monas.

Sebelum itu, ada juga foto-foto yang memperlihatkan mereka sholat Tahajud dan Shubuh berjamaah. Ada jug zikir kebangsaan dan doa bersama yang dilangitkan.

Beberapa waktu saya berpikir. Apa makna reuni aksi damai mereka itu? Jika diambil kata "memutihkan" bisa jadi berarti buih di lautan. Konon, di akhir zaman umat Islam dikabarkan memang banyak jumlahnya, tapi seperti buih di lautan yang jika diterpa badai akan berberaian tak keruan.

Tapi, apa benar seperti itu realitasnya?

Saya pun berpikir ulang. Lalu teringatlah di otak kiri saya tentang kisah Kiai Haji Ahmad Dahlan terkait pendirian Muhammadiyah. Ada satu ayat dalam Alquran yang sebenarnya menjadi faktor pendorong beliau mendirikan organisasi besar tersebut. Benar, Surah Ali ‘Imran Ayat 104.

Terjemahan ayat itu adalah, "Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung."

Tampaknya, bagian terakhir di atas tadi lah yang paling ideal menjadi makna aksi damai 212 dan reuni-reuninya tersebut.

Itulah sebabnya mengapa aksi ini berada di luar lingkaran politik, yakni ditandai dengan tetap diadakan walaupun saat ini tidak sedang dalam masa kampanye politik apa pun.

Bahkan, sejak pertama, aksi diadakan untuk menegakkan keadilan atas kasus penistaan agama Islam oleh Ahok. Ini jelas bukan unsur politik, melainkan murni menyuruh kepada yang Ma'ruf dan mencegah dari yang munkar.

Dan, dari makna itu pulalah saya paham mengapa tidak semua orang turun ke jalan sebagai peserta aksi damai 212. Seandainya semuanya, maka tentu tidak ada yang diserukan, 'kan? Dengan kata lain, ada segolongan penyeru dan ada lagi pihak yang diseru ke arah kebenaran dan terhindar dari keburukan.

Wah, tak terasa sudah lumayan panjang juga saya menulis artikel ini rupanya. Hmm, rasa-rasanya sudah ingin sekali menikmati seduhan kopi yang nikmat, tapi saya baru nelan obat. Daripada berefek buruk, ya sudah, met istirahat saja.

Sunday, December 1, 2019

Mas, Toilet di Mana?


Pagi tadi, saya duduk di dekat sebuah musala. Seorang pria terlihat celingak-celinguk di sekitarnya. Tak lama kemudian ia bertanya kepada saya, "Mas, toilet di mana?"

Tanpa pikir panjang, saya menunjuk ke arah sebuah pintu yang tertutup rapat. Benar, kamar berukuran kecil di baliknya memang sebuah toilet atau jamban.

Pria muda itu pun bergegas menuju ke sana, membuka pintunya, masuk dengan perlahan, lalu menutupnya kembali dari dalam.

Mungkin peristiwa tersebut adalah hal yang biasa saja. Wajar terjadi. Tapi, terpikirkah oleh Anda mengapa pemuda itu sempat bertanya tentang keberadaan toilet kepada saya? Padahal sebenarnya ia telah melewatinya.

Di sinilah pentingnya bahasa. Ya, meski hanya sebuah kata sekalipun.

Bayangkan jika di permukaan pintu kamar kecil tadi ditulis satu kata saja, misalnya "Toilet" tentu siapa pun, kecuali yang buta huruf latin, tidak perlu bertanya, "Toilet di mana?"

Lalu, mengapa tidak ada sama sekali tulisan petunjuk terkait dengan fungsi kamar kecil itu?

Nah, khusus pertanyaan terakhir tadi, belum diketahui secara pasti. Apakah karena pengurusnya lupa? Mereka masih bingung ditulis menggunakan cat atau yang lainnya? Entahlah? Agaknya, apa pun alasannya semoga segera mereka atasi dengan baik.