Sunday, October 20, 2019

Rakyat Indonesia Terpapar Makhluk Astral


Suatu hari, seorang teman bertanya, "Mandau terbang itu beneran ada atau ga sih?"

Teman itu sangat penasaran. Maklum, ia orang kota. Wilayah yang jarang ditemui praktik ilmu gaib.

Sengaja dalam artikel sederhana ini disebut ilmu gaib. Yaaa, sekadar membuat kesan yang mistis.

Mungkin bagi sebagian orang ilmu semacam itu mustahil ada. Alasannya sederhana, tidak masuk akal. Unsur gaib yang melekat padanya tidak dapat diindra oleh manusia. Dan, hal itu memang jauh dari materi sebagai objek ilmu pengetahuan normal di sekolah dan perguruan tinggi di Indonesia.

Maka tak heran, jika mengundang para makhluk astral dengan ritual khusus, sungguh menggelikan bagi sebagian orang di negeri ini.

Tapi tunggu dulu! Meski demikian, entah apa yang merasuki banyak orang di Indonesia belakangan ini sehingga giat mengunggah gambar-gambar penampakan makhluk-makhluk halus di media sosial. Sebuah media yang sejatinya lahir di zaman yang serba modern.

Tidak percaya? Coba cek kebenarannya.

Ya, ada Genderuwo, Tuyul, Pocong, Nyi Belorong, bahkan Nyi Roro Kidul yang semuanya adalah makhluk astral dan asli Indonesia. Tidak ada jenis makhluk gaib dari negara lain. 

Ini sungguh mengherankan.

Entah apa yang merasuki jiwa-jiwa itu? (Meminjam sebagian lirik lagu yang sedang hit).

Lalu, apakah memang benar sebagian orang Indonesia telah terpapar makhluk astral?

Atau, apakah hanya sekadar sindiran terkait ada seorang dukun yang telah mengerahkan para makhluk astral tersebut untuk mengamankan jalannya pelantikan Joko Widodo dan Ma'ruf Amin hari ini?

Oh, entahlah? Dan, mungkin Anda telah mengetahui jawabannya.


Friday, October 18, 2019

Memetik Pelajaran dari Sastrawan Negara Datuk A.Samad Said

Saatrawan Negara Datuk A.Samad Said (kanan) dan Sastrawan Idris Boi (kiri) - FB.

Indonesia memiliki tetangga dekat, Malaysia. Sebagian warga Indonesia dan Malaysia hidup damai di pulau yang sama, Kalimantan. Bahkan, ada satu rumah yang terbagi dua, satu bagian masuk wilayah Indonesia, bagian lainnya di wilayah Malaysia.

Orang Iban misalnya, ada yang menjadi warga Indonesia, sebagian lainnya adalah warga Malaysia.

Indonesia dan Malaysia hanya terpisah secara politik. Selebihnya merupakan dua saudara serumpun, yakni Melayu.

Dalam kehidupan bersastra pun antara sastrawan Indonesia dan Malaysia terus menjalin persahabatan dan persaudaraan. Sebut saja dengan diadakannya Dialog Sastra Borneo atau Pertemuan Penyair Nusantara, maka sastrawan Indonesia dan Malaysia, juga dari negara lainnya semakin terjalin akrab.

Nah, salah seorang Sastrawan Negara (SN) Malaysia yang tersohor adalah Datuk A.Samad Said.

Nama aslinya Abdul Samad Muhammad Said. Ia termasuk seorang sastrawan Malaysia yang produktif dalam penulisan kreatif.

Benar, dirinya memiliki keistimewaan yang jarang dimiliki oleh semua sastrawan. Apa keistimewaannya itu? Ia menguasai semua genre sastra. Alhasil, kini A.Samad Said telah
menghasilkan puluhan karya dalam genre novel, puisi, drama, cerpen, dan esei.

Ada prinsip utama yang ia terapkan dalam proses kreatif menulisnya. Sastrawan kelahiran 9 April 1935 di Kampung Belimbing Dalam, Durian Tunggal, Melaka ini berprinsip bahwa untuk melahirkan karya, sastrawan tidak hanya bergantung pada bahan, dan bakat, serta kekuatan pikiran saja.
Akan tetapi, yang penting ialah pembacaan dan pengalaman yang luas.

Sudah banyak penghargaan yang ia terima
Sepanjang karier penulisannya. Antara lain, Anugerah Pejuang Satera (1976), SEA Write Award (1979), Anugerah Sastera Negara (1985), dan Anugerah Sasterawan Nusantara (1999). Ia juga mendapatkan Anugerah Ijazah Kehormat Doktor Pendidikan Kesusasteraan UPSI pada tahun 2003.

Saat usia senjanya, misalnya dalam usia awal 70-an, Datuk A.Samad Said masih juga memenuhi undangan majelis sastra. Ya, sebagai seorang yang sudah pantas disebut kakek, dirinya sanggup mengembara sampai ke kawasan pedalaman Sarawak dan Sabah untuk menunaikan undangan serta turut membantu perkembangan sastra Malaysia.

Adapun karya besar yang dihasilkannya ialah Salina yang telah diterjemahkan ke dalam banyak bahasa, seperti bahasa Inggeris dan bahasa Perancis

Selain itu, ada Di Hadapan Pulau, Sungai Mengalir Lesu, Warkah Eropah, Al-Amin, Rindu Ibu, Hujan Pagi, Lantai T.Pinkie, Benih Semalu, Benih Harapan, Langit Petang, dan lain-lain.

Dari segala yang telah ia perbuat dan hasilkan dalam bidang sastra tersebut, tentu kita dapat memetik pelajaran penting, khususnya guna memacu geliat bersastra dari waktu ke waktu.


Disarikan dari beberapa sumber.

Bangsa Indonesia Perlu Belajar dari Cetbang


Mungkin judul di atas terlalu bombastis. Memangnya siapa cetbang? Mengapa bangsa Indonesia harus belajar darinya?

Cetbang bukanlah manusia. Itu yang pasti. Lantas? Bingung? Buka Kamus Besar Bahasa Indonesia? Tidak usah. Sebab, membukanya, lalu mencari kata cetbang, Anda tidak akan menemukannya dalam kamus itu.

Nah, jika Anda gemar membaca sejarah, khususnya yang berhubungan dengan peradaban nenek moyang bangsa ini, kata itu tidaklah asing. Ya,  keberadaan cetbang merupakan bagian yang sangat penting dalam sejarah tanah air kita

Bahkan, Bangsa Eropa yang datang dan berperang melawan para leluhur orang--orang Jamrud Khatulistiwa ini, terheran-heran. Kalau secara mudahnya, mereka bertanya-tanya, "Kok, di negeri timur yang jauh dari barat ada senjata api sehebat itu?"

Benar, cetbang adalah senjata sejenis meriam. Meriam kuno. Senjata api ini diproduksi dan digunakan pada era Kerajaan Majapahit dan kerajaan-kerajaan di Nusantara setelahnya. Bisa dikatakan, nenek moyang kita sudah mahir dalam pembuatan dan penggunaan senjata api.
Meriam cetbang Majapahit yang tersimpan di The Metropolitan Museum of Art di New York, Amerika Serikat. Perhatikan lambang Surya Majapahit. - Wikipedia

Cetbang sebenarnya  juga merupakan meriam yang unik. Selain bahannya dari perunggu (tahan karat), juga dibuat ruang dan tabung peluru di bagian belakangnya sehingga dikenal sebagai meriam terbuka. Ini yang membuat cetbang berbeda jika dibandingkan dengan meriam Eropa dan Timur Tengah.

Begitu waw, 'kan nenek moyang kita? Mereka luar biasa dan setara dengan bangsa-bangsa di Eropa!

Lalu bagaimana keturunan mereka sekarang? Ya, kita. Siapa lagi? Apakah masih lantang menyuarakan bambu runcing? Bangga dengan produk impor? Bahkan, lebih senang melakukan aktivitas impor daripada mendukung pembuatan dan penggunaan produk-produk dalam negeri?

Agaknya itu hanyalah sebagian saja. Tentu masih ada anak negeri ini yang menghendaki adanya kemandirian dalam segala sendi kehidupan.

Pertanyaannya, apakah pemerintah Indonesia sudah mendukung penuh kemandirian di dalam negeri sendiri?

Sebentar lagi ada pelantikan presiden dan wakilnya di negara kita. Dan, adakah harapan selama lima tahun hingga 2024 ada kemandirian di Indonesia yang dapat diwujudkan?

Tampaknya ada benarnya kata banyak orang, "Waktulah yang akan menjawabnya."

Thursday, October 17, 2019

Memahami Keinginan Suku Dayak Minta Hak Tanah Lima Hektare Per KK


Bicara Dayak, mungkin pikiran Anda akan melayang ke suku-suku asli Pulau Formosa atau Taiwan. Sebut saja Suku Amis dan Athayal yang mendiami pulau itu sebelum kedatangan Suku Han dari daratan China (Republik Rakyat China).

Tak mengherankan jika hal itu terjadi pada diri Anda. Sebab, secara linguistik dan genetik, orang-orang Dayak memang dekat dengan suku-suku di Formosa, yakni bagian dari rumpun Austronesia. Dalam kaitannya dengan keindonesiaan, orang Dayak dikenal pula sebagai Proto Melayu.

Secara garis besar orang-orang pribumi awal di Kalimantan, terdiri atas enam rumpun, yaitu Klemantan, Iban, Apau Kayan, Murut, Punan, dan Ot Danum. Dari rumpun-rumpun itulah terbentuk sub-sub Dayak semisal Kenyah, Bahau, Kayan yang berasal dari Rumpun Apau Kayan.

Selebihnya, ada pribumi lain yang dikenal sebagai Deutro Melayu. Mereka ini kebanyakan mendiami wilayah pesisir Kalimantan. Sebut saja Suku Banjar di pesisir Kalimantan bagian selatan.

Khusus wilayah Dayak yang bisa dikatakan terfokus di pedalaman Kalimantan, kian hari kian menyempit. Terlebih sejak semakin maraknya penggunaan lahan untuk kepentingan perkebunan sawit di Kalimantan pada 2014 lalu masyarakat Dayak tidak lagi memiliki tanah dan hutan adat yang dilindungi hukum untuk digarap sebagai sumber mata pencaharian.

Melihat kondisi memprihatinkan yang dialami orang-orang Dayak, maka wajar jika pribumi awal Kalimantan ini meminta kepada pemerintah untuk memenuhi hak mereka memperoleh tanah tersertifikasi sebelum Ibu Kota Negara baru dipindahkan ke Kalimantan Timur.

Bahkan, Wakil Bendahara Umum Majelis Adat Dayak Nasional, Dagut H. Djunas, juga mengatakan bahwa minimal, pemerintah memberikan hak tanah kepada masyarakat Dayak seluas lima hektare per kepala keluarga dan 10 hektare hutan adat per desa.

Hal itu dapat dipahami agar hak-hak masyarakat Dayak sebagai suku asli yang menghuni wilayah Kalimantan terpenuhi dan mampu sejahtera.

Wednesday, October 16, 2019

Menafsirkan Foto Kombinasi Wajah Prabowo-Jokowi


Pernah tahu seorang seniman yang memiliki nickname di sosmed @gesichtermix semisal di Facebook dan Instagram? 

Jika pernah, mungkin Anda tidak terlalu terkejut dengan beredarnya foto kombinasi wajah Prabowo Subianto dan Joko Widodo di media sosial. Sebab, seniman itu sudah sering mengombinasikan wajah-wajah tokoh dunia. Sebut saja Donald Trump dan Hillary Clinton.  Dua tokoh yang dikenal berseberangan dalam dunia politik Amerika Serikat.

Nah, lalu apa makna di balik kombinasi wajah dua tokoh politik Indonesia yang sempat bertarung dalam Pilpres 2019 lalu itu?

Mendapatkan makna dari sebuah foto tentu bukan urusan gampang. Karena, membutuhkan interpretasi yang tidak bisa main-main, apalagi ini berkaitan dengan urusan Bangsa Indonesia ke depan.

Banyak penafsiran yang muncul. Bisa jadi foto itu sebagai simbol persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia yang beberapa tahun belakangan tepecah menjadi dua kubu yang berbeda. Kubu Prabowo yang dikenal kaum kampreters dan kubu Jokowi atau cebongers.

Mungkin juga sebagai pengandaian bahwa Prabowo akan memberikan warna yang signifikan terhadap pemerintahan Jokowi berikutnya. Dengan kata lain pengaruh Ketua Umum Gerindra itu sangat besar selama Jokowi memimpin Indonesia lima tahun ke depan.

Anda pun mungkin memiliki penafsiran sendiri terhadap foto kombinasi tersebut. Intinya, beragam penafsiran akan terlahir dan terjawab kebenarannya secara perlahan hingga 2024 mendatang. Selamat menafsirkan dengan akal sehat Anda!

Ketika Negeri Sakura Berduka


Ini bukan soal kunai yang heboh belakangan ini. Bukan pula tentang para kunoichi yang mahir mendekati target dengan kefiminiman mereka.

Adalah Hagibis. Topan yang telah menggoreskan luka dan penderitaan bagi masyarakat Jepang. Bukan hanya kerugian materi, tetapi juga korban jiwa.

Melihat kondisi yang demikian itu, pemerintah setempat bertindak cepat. Tidak tanggung-tanggung, Jepang segera siapkan Rp92 M untuk membantu para korban bencana Topan Hagibis

Apa yang bisa kita tangkap dari sikap positif pemerintah di sana?

Selama ini orang-orang Jepang memang terkenal dengan tanggung jawab yang tinggi. Sejak dini mereka memang diajarkan bagaimana harus bersikap yang seharusnya terhadap siapa dan apa saja.

Nah khusus dalam hal bernegara, para elit politik Jepang sangat tegas dalam tanggung jawab. Perhatikan saja, sudah berapa pejabat Jepang yang berani mengundurkan diri sebagai tanggung jawab moral mereka kepada publik.

Dan ketika negeri mereka berduka seperti saat ini, Pemerintah Jepang pun langsung bertanggung jawab untuk rakyat yang mereka pimpin. Salah satunya segera menyiapkan dana besar agar beban yang ditanggung rakyat menjadi berkurang.

Tuesday, October 15, 2019

Abidah El Khalieqy Bawa Oleh-Oleh Puisi dari Kalimantan Timur, Mau Baca?

Abidah El Khalieqy (kanan) mengenakan mahkota Dayak Kenyah di Desa Budaya Dayak, Pampang, Samarinda.

Di dunia sastra tanah air, siapa yang belum tahu Abidah El Khalieqy? Sosok cantik dan ramah ini begitu terkenal dengan novel-novel karyanya, terutama "Perempuan Berkalung Sorban". Novel itu sukses mencuri perhatian banyak pembaca dan penonton (versi filmnya).

Nah, belakangan ini ia diundang oleh pihak Kantor Bahasa Provinsi Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara. Unit Pelaksana Teknis dari Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan itu mengundangnya sebagai narasumber utama dalam rangka gebyar literasi 2019  di Hotel Swiss Bell International, Balikpapan, 16 dan 17 Oktober 2019.

Selagi masih di Samarinda (belum menuju Balikpapan), ia juga diminta Jaring Penulis Kaltim (JPK) untuk berbagi pengalaman dalam proses kreatif menulis. Komunitas menulis yang digawangi sastrawan nasional, Amien Wangsitala, itu memang sering mengadakan kegiatan literasi di Samarinda dan sekitarnya.
Abidah El Khalieqy (nomor tiga dari kanan).


Sebagaimana lazimnya penulis, tentu saja novelis yang merupakan istri dari sastrawan nasional, Hamdy Salad, ini pun melakukan pembacaan atas alam. Ya, mulai dari menyusuri Sungai Mahakam yang eksotis, Islami Center yang megah, hingga menikmati budaya khas Dayak Kenyah (Rumpun Apau Kayan) di Desa Budaya Dayak, Pampang, Samarinda, Kaltim.
Dari kanan: Misri, Abidah El Khalieqy, Fitriana, dan Nurul menyusuri Sungai Mahakam.


Dari hasil pembacaan alam itulah, ia menuliskan sebuah puisi berlatar Kalimantan Timur nan menawan. Berikut adalah puisi karya Abidah El Khalieqy.

Berjalanlah di Muka Bumi dan Lihatlah...
Eksotisme senja di atas Sungai Mahakam
Di antara semilir angin
Sunset dan naiknya purnama
Gema adzan sayup sayup dari pucuk menara
Panorama indah masjid masjid di pinggir sungai
Wisatawan berselfi ria
Yang lain mengabadikan kerlap lampu
Bak manik manik cahaya menghiasi lembah
Atau jajaran gunung hitam
Gunung timah yang diam diam berlayar
Menjauh dari tempat tinggal
Entah sedang menjemput harta karun
Di nun jauh negeri para haus dan kaya
Sementara musik dan senandung para biduan
Tetap saja renyah tak peduli
Bumi karun tempatnya berpijak
Bergunung gunung sedang dibajak
Dunia o dunia.


Rangkaian Acara FESTIVAL SASTRA INTERNASIONAL GUNUNG BINTAN 2019


Festival sastra ini berlangsung di Tanjungpinang, Kepulauan Riau.

Nah, berikut adalah rangkaian acaranya.

28 OKTOBER 2019
Bertempat di Gedung Daerah,
Tanjungpinang

Pembukaan Festival Sastra Internasional Gunung Bintang (FSIGB) 2019

Anugerah JEMBIA EMAS 2019

Peluncuran Buku Antologi Puisi "JAZIRAH 2 dan 3"

Parade Baca Puisi


29 OKTOBER 2019
Bertempat di Hotel BBR
Tanjungpinang

Seminar Sastra
"Pantun sebagai
Akar Puisi Modern
Nusantara"

Pesta Puisi dan
Pesta Asam Pedas
Ikan Sembilang


30 OKTOBER 2019
Bertempat di Pulau Penyengat
dan Tanjungpinang

Ziarah Budaya ke Pulau Penyengat

Pesta Durian di Kedai Kopi Sekanak


31 OKTOBER 2019
Bertempat di Lagoi, Bintan
dan Dompak Tanjungpinang

Ziarah Wisata dan Berkunjung ke Pusat
Pelestarian Ikan Duyung

Malam Penutupan dan Parade Baca Puisi


Sunday, October 13, 2019

Wahai Rakyat Indonesia, Inilah Puncak Perayaan HARI PUISI INDONESIA 2019!



Puisi. Kata ini sudah diperkenalkan kepada rakyat Indonesia sejak usia dini. Dari tahun ke tahun puisi tetap eksis di jagat khatulistiwa. Ada beragam acara puisi. Salah satunya adalah perayaan hari puisi Indonesia.

Tahun ini, seperti terlansir di akun media sosial Asrizal Nur, acaranya akan digelar pada 18--20 Oktober 2019 di Graha Bakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta

Nah, adapun rangkaian kegiatan acaranya seperti di bawah ini.

Jumat, 18 Oktober 2019
Pukul 13.00 WIB
Seminar Nasional
Puisi di antara Tradisi dan Inovasi
Tempat PDS HB. Jassin

Sabtu, 19 Oktober 2019
Pukul 13.00--17.00 WIB
PESTA PUISI RAKYAT
Bersama Penyair dan Deklamator se-Indonesia, Peluncuran Antologi Puisi Penyair Perempuan Indonesia,
Musikalisasi puisi, dll

Pukul 19.30--23.00 WIB
PARADE PUISI
Bersama Penyair, Pejabat, dan Tokoh

Minggu, 20 Oktober 2019
Pukul 20.00 23.00 WIB
Malam Anugerah Hari Puisi Indonesia

Pidato Kebudayaan
Oleh Prof. Dr. Suminto A. Sayuti

Pembacaan Puisi:
Sutardji Calzoum Bachri, Sapardi Djoko Damono, Anis Baswedan (Gubernur DKI Jakarta), Isdianto MM (Plt. Gubernur Kepulauan Riau), Dr. Mehrdad Rakhshande (Atase Kebudayaan Iran untuk Indonesia), John Byron Estrada (Perwakilan Kedubes Colombia untuk Indonesia), Dheni Kurnia (Pemenang Sayembara Buku Antologi Puisi HPI 2018)

Peluncuran Prangko dan Penandatanganan Sampul Prangko
Lelang Prangko
Dana disumbangkan untuk Keluarga Raja Ali Haji dan Keluarga Chairil Anwar

Penayangan Profil Video Singkat Balai Pustaka dan Penandatanganan Kesepakatan Kerjasama antara Yayasan Hari Puisi dengan Balai Pustaka

Pengumuman Pemenang
Sayembara Buku Antologi Puisi HPI 2019 Oleh Abdul Hadi WM (Dewan Juri)
Penyerahan Hadiah
Oleh : Rida K Liamsi
(Ketua Pembina Yayasan Hari Puisi)
Minggu, 20 Oktober 2019
Pukul 22.00 WIB

Prabowo Kejar Kekuasaan Semata dan Khianati Mandat pemilihnya, Benarkah?


Isu kedekatan antara Prabowo Subianto dan Joko Widodo menimbulkan beragam reaksi. Khususnya, dari orang-orang yang pernah menjadi pendukungnya.

Prabowo telah dinyatakan kalah telak dari Joko Widodo dalam Pilpres 2019 lalu. Realitasnya, ia tak berkutik di hadapan lawannya itu.

Beberapa waktu pascakekalahannya,  banyak kalangan menduga Ketua Partai Gerindra ini akan tetap memilih sebagai oposisi.

Akan tetapi, tampaknya dugaan itu dari hari ke hari terus digerus oleh sikapnya yang kian hangat dan mesra di sisi Sang Pemenang, yakni Joko Widodo.

Para pendukungnya pun sedikit demi sedikit mulai meragukan sosok yang pernah menjadi orang nomor satu di Komando Pasukan Khusus (Kopassus) tersebut. Bahkan, pengamat politik sekaligus pakar filsafat, Rocky Gerung, mengikrarkan diri menjadi oposisi terhadap Prabowo Subianto.

Padahal mantan orang penting di Partai Sri (partai itu sekarang sudah tidak ada), merupakan sosok paling getol mendukung Prabowo.

Pertanyaannya, apakah memang benar jenderal bintang tiga ini sejatinya hanya mengejar kekuasaan semata hingga rela mengkhianati mandat para pendukungnya sendiri?

Kemudian, meskipun seandainya benar, lalu apakah Prabowo akan bangga dan senang-senang saja memegang kekuasaan, tetapi diikat tali kendali oleh Presiden Joko Widodo?

Entahlah?

Presiden Diminta Jalankan Konstitusi, Salah Satunya Pelayanan Kesehatan


Apa kabar BPJS Kesehatan?

Isu penusukan Wiranto sedikit banyak mengingatkan bangsa Indonesia akan pentingnya pelayanan kesehatan. Khusunya dalam hal ini adalah perihal Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan yang sedang mengalami defisit biaya.

Sehubungan hal terakhir itu, seperti terlansir Kompas, Minggu (13/10/2019), Ombudsman RI meminta pemerintah menutup defisit biaya BPJS Kesehatan dengan menggunakan sumber pembiayaan pemerintah, salah satunya dari cukai rokok.

Hal tersebut disampaikan anggota Ombudsman RI--Ahmad Alamsyah Saragih--usai diskusi bertajuk BPJS Salah Kelola, Pelayanan Publik Disandera di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, Minggu (13/10/2019).

Ia juga menyampaikan, "Itu semua di bawah Presiden. Kenapa Presiden tidak boleh abai, karena Presiden diminta menjalankan konstitusi, yang salah satunya adalah pelayanan kesehatan. Jadi jangan dianggap masalah sepele."

Saturday, October 12, 2019

Benarkah jika Gerindra Gabung, Sama Halnya Membiarkan Roda Pemerintahan Salah Arah?


Prabowo-Jokowi kian mesra. Ungkapan itu makin terdengar luas dalam perpolitikan Indonesia.

Dan, melihat pergerakan keduanya, tak menutup kemungkinan Paryai Gerindra akan bergabungn ke dalam koalisi pemerintah.

Pertanyaan yang muncul, apakah hal tersebut akan cenderung berdampak negatif, terutama bagi legislatif?

Pertanyaan itu cukup beralasan. Karena, seandainya itu benar-benar terjadi, maka kekuatan fraksi oposisi akan makin lemah. Lalu?

Mungkinkah hal yang demikian akan berdampak pula bagi kebijakan yang dikeluarkan pemerintah?

Mengutip RMOL, Sabtu (12/10/2019), Direktur Arus Survei Indonesia--Ali Rif'an--menuturkan, "Sekarang saja dengan disokong 5 partai yang lolos parliamentary threshold, Jokowi sudah punya dukungan sekitar 60% kursi di DPR. Sebuah jumlah yang cukup untuk memuluskan sejumlah program dan kebijakan pemerintah."

Ia menambahkan bahwa peran oposisi sebagai check and balances sangat penting untuk mengontrol jalannya pemerintahan yang baik.

Masih dari sumber yang sama, dirinya menerangkan, "Menghilangkan prinsip-prinsip koreksi dan keseimbangan sama halnya membiarkan roda pemerintahan tergelincir dan salah arah."

Saya akan Mencopot Kepala BIN


Demikianlah yang disampaikan pengamat politik, Rocky Gerung.
dalam program Sarita (Sarinya Berita) yang dipandu presenter Rahma Sarita di Realita TV, Sabtu (12/10/2019).

Seperti terlansir RMOL, Sabtu (12/10/2019), mantan pengajar filsafat di Universitas Indonesia itu menegaskan, "Kalau saya jadi presiden, sebagai kepala negara maka saya akan mencopot Kepala BIN. Bukannya justru melontarkan pernyataan yang seolah-olah membelah masyarakat, bahwa ada kelompok radikal dan semua jadi saling tuding."

Lantas, dalam rangka apa sosok fenomenal yang akrab dengan lontaran kata "dungu" ini menegaskan hal itu?

Ia berbicara demikian sebagai tanggapan atas isu penusukan Wiranto yang terjadi di Banten beberapa waktu lalu.

Dirinya menambahkan bahwa insiden Wiranto menjadi kritikan pedas bagi BIN dalam menjalankan tugasnya. Dengan itu Rocky menilai sidah sepantasnya Budi Gunawan dicopot.

Pray for Japan, Topan Hagibis Terjang Jepang. Apa saja Akibatnya?


Alam bersuara bak pujangga melahirkan kata-kata. Akibat yang ditimbulkannya pun tak bisa dianggap remeh.

Topan Hagibis yang telah menerjang Jepang mengakibatkan satu orang tewas.

Meski hanya satu, pihak pemerintah dan masyarakat Jepang tidak lantas berhenti sampai di situ.

Terlebih, badai itu juga membawa curah tinggi ke sejumlah wilayah termasuk Tokyo.

Japan Meteorological Agency (JMA) atau Badan Meteorologi Jepang bahkan mengeluarkan peringatan bencana per Sabtu ini (12/10) menyusul tingginya curah hujan yang turut dibawa badai tersebut.

Seperti AFP, yang dikutip CNN Indonesia, Sabtu (12/10/2019), perwakilan JMA, Yasushi Kajiwara, mengatakan, "Hujan lebat yang belum pernah terjadi sebelumnya telah terlihat di sejumlah kota dan desa, di mana JMA telah mengeluarkan peringatan. Kami memprediksi banjir dan tanah longsor akan terjadi akibat curah hujan yang sangat tinggi."

Berdasarkan catatan JMA, ada 13.500 warga Jepang sudah melakukan evakuasi dan berada di tempat penampungan.

Selain itu, JMA juga telah memperkirakan curah hujan tinggi bakal melanda Tokyo hingga esok hari (13/10).

Dari bidang ekonomi, dua pabrik mobil Toyota dan Honda diketahui telah menutup sementara pabrik mereka.

Sementara di bidang olahraga, imbauan topan juga menyebabkan terganggunya dua pertandingan Piala Dunia Rugby yang dijadwalkan pada akhir pekan ini, serta latihan Grand Prix Formula One (F1) di Suzuka pada Jumat besok.

Thursday, October 10, 2019

Benarkah Isu Penusukan Wiranto Tumbangkan Isu Arteria di Internet?


Belakangan ini begitu heboh soal seteru antara Arteria Dahlan dan Emil Salim saat di acara Mata Najwa.

Isu ini begitu menyita perhatian publik. Pro dan kontra datang silih berganti menanggapi perseteruan tersebut.

Ya, ada yang berpendapat agar Arteria meminta maaf kepada Profesor Emil. Ada juga yang sebaliknya.

Namun, kegaduhan itu segera tumbang oleh isu penusukan Menteri Koordinator  Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menkopolhukam)--Wiranto--di Pandeglang, Banten.

Isu Wiranto ini menghebohkan jagat maya sejak kemarin, Kamis (11/10/2019).

Seperti terlansir CNN Indonesia, Jumat (11/10/2019), dilibasnya isu Arteria ini tidak hanya terjadi di media sosial, tapi juga terjadi di media online. Menurut hitungan Drone Emprit, total percakapan Arteria mencapai 199.089. Sementara percakapan Wiranto sebanyak 214.227.

Jangan karena Pemerintah Gagal, Peserta BPJS Kesehatan Dihukum!


Sistem jaminan sosial termasuk dalam hal kesehatan masyarakat, tentulah ditopang pula dengan sistem  kelembagaan sosial-ekonomi yang jelas dan terintegrasi dengan kebijakan sosial.

Terkait dengan sistem penopang dan kebijakan sosial tersebut, Ombudsman mengimbau pemerintah untuk melakukan evaluasi terhadap Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan. Hal ini terutama yang berkaitan dengam skema jaminan sosial bagi lapis peserta bukan penerima upah.

Seperti terlansir CNN Indonesia, Kamis (10/10/2019), Anggota Ombudsman--Alamsyah Saragih--menegaskan, "Jangan jadikan (masyarakat) kambing hitam atas kegagalan sistemik ini. Bagaimanapun mereka memiliki hak yang sama dengan peserta yang lebih beruntung karena memiliki kesempatan kerja di sektor formal maupun warga yang mendapatkan subsidi."

Masih dari sumber yang sama, ia juga
mengingatkan agar Dirut BPJS berhati-hati, "Jangan karena Pemerintah gagal membangun kelembagaan sosial-ekonomi untuk mendukung kepastian pembiayaan jaminan kesehatan, kemudian rakyat dihukum dengan mencabut hak-hak konstitusional lainnya. Pelayanan publik itu hak konstitusional warga."

Wednesday, October 9, 2019

Tak Tutup Kemungkinan Ribuan Mahasiswa akan Demonstrasi pada Pelantikan Jokowi


Gelombang aksi mahasiswa di Indonesia belumlah usai meski sudah ada yang gugur di medan juang.

Seperti terlansir RMOL, Kamis (10/10/2019), ribuan mahasiswa dari lintas kampus akan kembali melakukan aksi unjuk rasa di depan gedung DPR RI, Senayan, Jakarta pada Jumat, 18 Oktober mendatang.

Masih dari sumber yang sama, para mahasiswa masih akan membawa tuntutan aksi yang sama seperti sebelumnya, salah satunya mendesak Presiden Joko Widodo (Jokowi) agar menerbitkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang Undang (Perppu) untuk membatalkan UU 30/2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (KPK) yang dianggap bermasalah.

Sementara itu, Wakil Presiden Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) UIN Syarief Hidayatullah Jakarta, Rizki Ari Bowo menjelaskan alasan rencana aksinya masih harus menunggu tanggal    18 Oktober tersebut.

Katanya hal itu karena mahasiswa masih menunggu itikad baik dari Jokowi untuk menerbitkan Perppu sebelum dirinya dilantik pada 20 Oktober mendatang.

Nah, jika presiden Jokowi tak juga menerbitkan Perppu pada saat mahasiswa aksi (18/10), ribuan mahasiswa pun tak menutup kemungkinan akan menggelar aksi demonstrasi pada pelantikan presiden Jokowi.


Pimpinan UGM Telah Berubah bak Rezim Politik yang Antiperbedaan


Pupus sudah harapan bakal diselenggarakannya kuliah umum Ustaz Abdul Somad bertajuk Integrasi Islam dengan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Iptek) di Masjid Kampus UGM, Sabtu (12/10/2019) besok lusa.

Acara yang rencananya mulai pukul 12.45 WIB hingga selesai itu batal karena pimpinan (baca: kumpulan pemimpin) universitas terbaik di Yogyakarta ini meminta agar rencana tersebut dibatalkan.

Seperti terlansir Hidayatullah, Kamis (10/10/2019) Pimpinan UGM telah mengonfirmasi pembatalan kuliah umum UAS di Masjid Kampus UGM (Universitas Gajah Mada).

Adapun UGM sendiri beralasan bahwa pembatalan ini dilakukan karena dianggap tidak selaras jati diri UGM.

Tentu saja banyak tanggapan datang dari berbagai pihak terkait pembatalan sepihak itu.

Salah satunya dari mantan Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah, Dahnil Anzar Simanjuntak. Ia mengungkapkan, “Saya sesalkan sikap UGM tersebut. Kampus telah kehilangan identitasnya sebagai “University” dimana, kampus adalah rumahnya diversity (perbedaan, keberagaman) pandangan lahir. Tempat dimana pikiran diadu. Pimpinan UGM telah berubah bak rezim politik yang anti perbedaan."

Mengapa Ninoy Karundeng Ada di Kerumunan Massa?


Hal itulah yang menurut Ketua Umum DPP PA 212, Ustaz Slamet Maarif,  dipertanyakan pertama kali oleh pihak kepolisian.

Benar saja. Siapa pun pasti akan merasa heran dengan kehadiran buzzer Jokowi, Ninoy Karundeng, di tengah-tengah bentrokan antara massa aksi unjuk rasa dengan aparat kepolisian.

Seperti terlansir RMOL, Rabu (9/10/2019), ia mengatakan, "Mestinya yang disidik pertama, yang diperiksa pertama kali, diungkap pertama kali, kenapa Ninoy ada ditempat itu?, kenapa Ninoy ada di kerumunan massa?"

Dan, hal itu terasa sangat masuk akal mengingat status Ninoy merupakan salah seorang relawan Jokowi.

Dalam hal ini, Ustaz Slamet juga mengungkapkan, "Padahal disitu tuh sudah jelas tempat berlindungnya, tempat berlarinya tempat berkumpulnya kawan-kawan, adik-adik mahasiswa dan pelajar yang sedang berbeda pandangan dengan pemerintah. Sementara Ninoy sama-sama kita ketahui salah satu diduga buzzernya dari tim sebelah."

Tuesday, October 8, 2019

BPJS Itu Haram Jadi Rakyat Bisa Milih Ikut atau Tidak, Jangan Dipaksa-paksa, Apalagi Diancam-ancam


Demikianlah yang disampaikan Pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, Anton Tabah.

Seperti terlansir RMOL, Rabu (9/10/2019), ia menegaskan, "Mewajibkan setiap orang masuk jadi anggota BPJS Kesehatan adalah pelanggaran HAM. Apalagi menurut MUI, BPJS itu haram karena kental dengan unsur ribanya. Jadi rakyat bisa milih. Ikut BPJS atau tidak. Jangan dipaksa-paksa, apalagi diancam-ancam."

Hal itu sebagai tanggapan atas kisruhnya BPJS yang seakan-akan tak ada ujungnya. Ya, mulai dari rencana menaikkan iuran hingga dua kali lipat,  kini para peserta yang tak bayar pun mulai mendapat ancaman.

Dan, ancamannya sangat mengerikan dan menyeramkan. Betapa tidak? Bagi masyarakat yang diketahui menunggak iuran BPJS, merrka tak bisa lagi memperpanjang SIM, STNK, membuat SKCK, Paspor, sertifikat tanah, hingga bertransaksi di bank.

Anton juga memberikan alternatif kepada pemerintah sebagai solusi kisruh BPJS yang sangat memberatkan masyarakat kecil itu. Menurutnya, pemerintah tidak perlu sampai mengeluarkan ancaman. Cukup dengan tidak memberikan layanan kesehatan saja kepada mereka yang tidak membayar iuran BPJS.

Spontan Ustaz Bernard Selamatkan dan Lindungi "Penyusup" Ninoy dari Amukan Massa


Kasus Ninoy Karundeng seakan kobaran api yang menari-nari melahap ruang-ruang sunyi. Begitu bergeliat.

Dan, Anggota tim hukum FPI, Azis Yanuar, mempertanyakan tindakan polisi menjadikan Sekretaris Jenderal Persaudaraan Alumni (Sekjen PA) 212 Bernard Abdul Jabbar sebagai tersangka dugaan penganiayaan Ninoy Karundeng.

Azis, seperti terlansir CNN Indonesia, Selasa (8/10/2019) juga mengonfirmasikan, "Spontan ustaz Bernard menyelamatkan dan melindungi 'penyusup' Ninoy dari amukan massa, bahkan menasehati jangan keluar dulu karena bahaya di luar massa masih marah."

Ia juga mengatakan bahwa keberadaan Bernard di lokasi itu setelah mendengar banyak korban mahasiswa dan pelajar yang dibawa ke Masjid Al-Falah. Kala itu, Bernard bersama istrinya tengah mencari keberadaan anaknya yang diketahui juga ikut aksi demo di kawasan Senayan.

Masih dari sumber yang sama, Azis berujar, "Ustaz Bernard dan istrinya menuju masjid Al-Falah karena di mobil ada P3K seperti perban, betadine, oksigen, dan lain-lain."

Monday, October 7, 2019

Polisi Datangi dan Yakinkan Buzzer Jokowi Buat Laporan, Sekjen PA 212 Jadi Tersangka Ke-12?


"Tiba-tiba polisi sudah ada di depan rumah saya ketika video itu viral. Polisi meyakinkan bahwa saya harus melaporkan peristiwa itu."

Demikianlah yang diungkapkan salah seorang buzzer pendukung Jokowi, Ninoy Karundeng, seperti terlansir RMOL, Selasa (8/10/2019).

Ninoy juga mengaku kaget soal viralnya video dirinya di medsos. Kekagetannya itu lantaran ponselnya hilang sehingga dirinya ketinggalan informasi terkini.

Pascapolisi mendatangi dan meyakinkannya soal peristiwa yang ia alami, dirinya pun melaporkannya ke Polda Metro Jaya. Dalam laporannya, ia mengaku diculik dan dianiaya sekelompok orang.

Alhasil, sejumlah orang sudah ditetapkan sebagai tersangka oleh pihak kepolisian. Dan, Sekretaris Jenderal Persaudaraan Alumni (PA) 212, Bernard Abdul Jabbar, ditetapkan sebagai tersangka ke-12.

Dikutip dari sumber yang sama, Kombes Pol Argo Yuwono mengatakan, "Ya betul Bernard Abdul Jabbar telah ditetapkan sebagai tersangka."

Setelah Hilang hingga Meninggal, Kini Jenazah Golfrid Selesai Diautopsi, Bagaimana Hasilnya?


Mungkin sebelumnya belum banyak orang yang tahu siapa Golfrid Siregar.

Golfrid yang merupakan aktivis Hak Asasi Manusia (HAM) dan juga advokat Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) ini sempat hilang sejak Rabu (2/10/2019).

Kemudian seorang tukang becak menemukannya pingsan di fly over Simpang Pos Jalan Jamin Ginting Padang Bulan, pada Kamis (3/10) sekitar pukul 01.00 dini hari.

Tukang becak itu pun membawanya ke RS Mitra Sejati dan diarahkan  ke RSUP Haji Adam Malik untuk segara ditangani. Di rumah sakit inilah ia menghembuskan nafas terakhirnya.

Kematiannya menyisakan tanda tanya besar. Walhi Sumut menilai banyak kejanggalan dari peristiwa yang menimpa almarhum Golfrid.

Maka, Jenazah Golfrid Siregar pun diautopsi.

Kini, autopsi sudah selesai dilakukan. Lantas, bagaimana hasilnya?

Seperti terlansir Antara News, Selasa (8/10/2019), salah seorang petugas autopsi mengatakan, "Kalau soal hasil, saya tidak bisa kasih penjelasan. Mungkin besok dokter akan menjelaskannya, karena dokternya juga sudah pulang."


Apa Alasan Muhammadiyah Imbau Pemerintah Tak Larang Minyak Goreng Curah? Lalu Apa Solusinya?


Bicara minyak goreng curah, seakan sedang berhadapan langsung dengan masyarakat Indonesia secara luas. Betapa tidak? 

Suka tidak suka. Mau tidak mau. Kenyataannya hampir 50 % dari kebutuhan minyak goreng dalam negeri dikonsumsi dalam bentuk curah yang diproduksi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Menanggapi hal ini, seperti terlansir Hidayatullah, Senin (7/10/2019), Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Dr Anwar Abbas mengimbau pemerintah agar tidak melarang peredaran minyak goreng curah.

Apa alasannya?

Anwar menilai pelarangan tersebut bisa merugikan pengusaha skala kecil.

Masih dari sumber yang sama, ia pun menjelaskan bahwa kebijakan tersebut jelas-jelas akan sangat menguntungkan usaha-usaha besar yang ada. “Dan sebaliknya tidak mustahil akan menjadi bencana dan malapetaka bagi pengusaha dan rakyat kecil."

Lalu apa solusinya?

Menurut Anwar, pemerintah harus bisa menginventarisasi secara cermat produsen-produsen minyak curah yang jumlahnya sangat banyak tersebut. Lalu mereka diberi bimbingan dan pelatihan agar kualitas produksi mereka dapat meningkat dan bisa memenuhi standar yang ditetapkan pemerintah.

Sunday, October 6, 2019

Korea Selatan Cantik saat Musim Gugur, Bagaimana dengan Indonesia?


Sudah bukan rahasia lagi bahwa sebagian orang mengunjungi Korea Selatan, khususnya Seoul pada saat musim gugur. Ya, antara akhir bulan Oktober hingga awal Desember.

Seperti terlansir Antara News, Minggu (6/10/2019), Direktur Korea Tourism Organization (KTO) Jakarta, Andrew Joong-hoon Kim kepada ANTARA mengatakan, saat musim gugur di Korea Selatan begitu cantik dan merekomendasikan orang-orang berkunjung pada saat itu.

Masih dari sumber yang sama, salah seorang staf Seoul Tourism Organization (STO)--Kim Min-ji--mengungkapkan, musim gugur begitu cocok untuk menjelajah Seoul sambil memandangi pepohonan yang daunnya menguning dan memerah.

Ia pun turut merekomendasikan untuk mengunjungi Namsan Seoul Tower agar bisa menikmati pemandangan kota. Dirinya menyarankan naik ke puncak menara itu setelah pukul 18.00 atau setelah matahari terbenam.

Begitu pula dengan pemandangan kota di malam hari dapat disaksikan dari Lotteworld Tower Seoul Sky Observatory. Untuk diketahui, bangunan ini merupakan yang tertinggi ke empat di dunia, yakni memiliki ketinggian 500 meter dan terdiri dari 123 lantai.

Waw! Keren, 'kan? Lalu, bagaimana dengan Indonesia?

Saturday, October 5, 2019

Pemerhati Politik: Kampus Komunis, Maksudnya Apa Ya?


KOMUNISME. Kata itu begitu terkenal seantero dunia. Betapa tidak? Ideologi tersebut hingga saat ini terus eksis meski beberapa pihak sempat meragukannya. Sebut saja Kim Il Sung yang berhaluan sosialis itu tidak menggunakan paham komunis, melainkan paham juche di Korea Utara.

Dan, sudah menjadi rahasia umum ciri khas negara yang menganut komunisme dikenal menerapkan sistem kehidupan otoriter terhadap rakyatnya, termasuk mahasiswa. Tragedi pembantaian mahasiswa di lapangan Tiananmen, Republik Rakyat China, merupakan salah satu bukti nyatanya.

Terkait hal di atas dan demonstrasi mahasiswa di Indonesia belakangan ini,  pemerhati politik--M. Rizal Fadillah--seperti terlansir RMOL, Sabtu (5/10/2019), mengatakan, andai kampus kampus melarang mahasiswa unjuk rasa dan bagi yang melanggar larangan ini terancam drop out, maka kampus telah menerapkan sistem kehidupan otoriter khas negara komunis. Tidak salah jika kita menyebutnya sebagai kampus komunis

Ia menegaskan bahwa Indonesia bukan negara komunis. Itulah sebabnya, menurutnya tak boleh ada kebijakan yang berbau komunis dan tak boleh ada pula kampus komunis.

Sebagaimana kita ketahui sebenarnya
Unjuk rasa di Indonesia telah dijamin Konstitusi Pasal 28 UUD 1945 dan UU No 9 tahun 1998 tentang Kemerdekaan Menyatakan Pendapat di Muka Umum.

Friday, October 4, 2019

Ada Aktor di Balik Puluhan Buzzer Isu Papua Barat, Tujuannya Apa?


Facebook menginformasikan lewat situs resminya, Jumat (4/10/2019), bahwa ada 69 akun Facebook, 42 halaman Facebook, dan 34 akun Instagram yang terlibat dalam "perilaku tidak autentik yang terkoordinasi".  Akun-akun ini mempunyai konten soal isu dalam negeri Indonesia terkait dengan isu Papua Barat.

Dan, Facebook dan Instagram telah menghapus puluhan akun tersebut.

Seperti terlansir detikcom yang dikutip CNBC Indonesia, Sabtu (5/10/2019), Head of Cybersecurity Policy Facebook, Nathaniel Gleicher, mengatakan,
"Orang-orang di balik jaringan ini menggunakan akun palsu untuk mengatur Facebook page, menyebarluaskan konten mereka, dan mengarahkan orang ke situs di luar platform."

Untuk diketahui, mereka mengunggah konten dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris tentang Papua Barat. Ada yang mengunggah konten mendukung kemerdekaan Papua Barat, ada juga yang mengkritiknya.

Pertanyaannya, apa tujuannya mengerahkan para buzzer itu? Apakah untuk pengalihan isu? Demi kemerdekaan Papua? Atau yang lainnya? Terpenting, kita harus terus waspada!

Thursday, October 3, 2019

Lebih daripada 500 Orang Suku Pedalaman di Sulteng Telah Bersyadahat, Benarkah?


Jika membahas suku pedalaman, mungkin yang terbayang adalah para penganut kepercayaan animisme dan dinamisme. Ya, ada ritual bakar kemenyan dan pemberian sesaji di sekitar pohon besar atau ritual lainnya.

Nah, meski demikian, percayakah Anda jika lebih daripada 500 orang suku pedalaman di Sulteng telah bersyadahat?

Seperti terlansir Hidayatullah, Jumat (4/10/2019), Yayasan Muallaf Center Aya Sofya Indonesia dan Gerakan Islam Untuk Semua (GIUS) telah membangun dua mushalla. Hingga saat ini, total warga Suku Laoje yang telah bersyadahat sebanyak lebih dari 500 orang.

Untuk diketahui, Suku Laoje mendiami daerah pedalaman di Kecamatan Tinombo, Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah (Sulteng).

Ini sungguh berita yang menggambarkan bagi dunia Islam. Tentu saja jumlah sebanyak itu diperoleh secara bertahap. Yang terbaru, ada lebih daripada 160 orang warga Suku Laoje mengikrarkan dua kalimat syahadat secara massal di depan peserta Reuni Akbar Muallaf II di Kecamatan Sidoan, Parigi Moutong.

Masih dari sumber yang sama, Direktur Yayasan Dakwah Muallaf Indonesia, Ustadz Insan LS Mokoginta, mengatakan, kegiatan syahadat massal itu sudah kelima kalinya digelar. Menurutnya, syahadat massal seperti ini jarang terjadi di Indonesia, bahkan di dunia.

Dirinya juga mengajak kepada ormas-ormas Islam, para dai, kiai, ulama, ustadz, dan berbagai kalangan masyarakat agar menjaga dakwah di wilayah itu.

Wiranto Dituntut Minta Maaf di Media Nasional Selama 7 Hari?


Masih ingat dengan sosok Wiranto?

Agaknya pertanyaan itu begitu basa-basi. Betapa tidak? Wiranto sangat terkenal di tingkat nasional maupun internasional, terutama di Negara Timor Leste dan Perserikatan Bangsa- Bangsa.

Nah, konon Wiranto kali ini membuat banyak orang tersakiti, setidaknya tersinggung berat. Kok bisa? Bagaimana ceritanya?

Begini, mantan orang penting di  militer era Orde Baru ini menyebut pengungsi Maluku sebagai beban negara. Kata "beban" tersebut tentu saja memicu reaksi dari masyarakat luas. Padahal sudah menjadi rahasia publik bahwa pembiayaan Negara Indonesia juga bersumber dari pajak (uang rakyat).

Mengutip Era Muslim, Kamis (3/10/2019), Ketua Karteker DPD KNPI Maluku, Abdussalam Hehanussa, mengecam keras ucapan Menko Polhukam, Wiranto, tersebut.

Katanya, “Selaku tokoh dan pejabat negara, sangat tidak pantas pak Wiranto mencibir rakyat yang sedang ada dalam kesusahan. Atas dasar itu, selaku pimpinan pemuda KNPI Maluku, kami menuntut Pak Wiranto untuk mengklarifikasi ucapannya dan memohon maaf di media nasional selama 7 hari. Tuntutan kami ini agar segera dilaksanakan, karena kami tidak akan segan-segan melakukan perlawanan yang lebih besar."

Dirinya juga berpendapat bahwa kekhawatiran masyarakat hingga harus menyelamatkan diri ke lokasi-lokasi yang lebih tinggi tidak lepas dari ketidakprofesionalan BMKG dalam tugas dan fungsinya mengawasi soal info-info bencana yang berdampak bias.

Ia melanjutkan, “Akibatnya masyarakat lebih banyak mendapatkan info-info liar. Jadi jangan salahkan jika mereka harus mengungsi berhari-hari di tempat yang dianggap lebih aman."

Tuesday, October 1, 2019

Politisi PDIP Sebut Gedung DPR Rumah Rakyat, Apa Kata Iwan Fals?


Iwan Fals terkenal sebagai musisi yang gemar mengkritik pemerintahan Soeharto. Suaranya lantang "menggebuk" era Orde Baru.

Lalu bagaimana dengan sikapnya terhadap kondisi kekinian?

DPR. Ya, belakangan tiga huruf kapital itu begitu terkenal seantero negeri ini. Sebut saja para mahasiswa pemberani berdemo di depan pagar gedung dewan perwakilan tersebut.

Termasuk pula viralnya perkataan pemimpin baru DPR, yakni Puan Maharani.

Seperti diketahui publik, pada pidato perdananya sebagai Ketua DPR, Puan yang politisi PDIP ini menegaskan bahwa Gedung DPR adalah rumah rakyat.

Mengutip RMOL, Rabu (2/10/2019), melalui akun Twitternya, Iwan Fals menyinggung pernyataan Puan itu, "Nah, besok-besok kalau ada yang demo lagi boleh masuk dong, jangan cuma di gerbang, kan ganggu orang jalan, panas lagi."


Penggantian Ideologi Pancasila dengan Komunis Itu Nyata


Demikianlah yang disampaikan Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan saat Upacara Hari Kesaktian Pancasila di Lapangan Silang Monas Selatan, Jakarta Pusat, Selasa (1/10/2019).

Adapun tema yang diangkat dalam upacara tersebut adalah “Pancasila sebagai Dasar Penguatan Karakter Bangsa Menuju Indonesia yang Maju dan Bahagia”.

Seperti terlansir RMOL, Selasa (1/1/2019), Dalam pesannya, Anies mengingatkan bahwa peringatan Hari Kesaktian Pancasila merupakan momentum untuk mengingat bahwa ancaman komunis adalah nyata.

Itulah sebabnya, ia meminta masyarakat DKI untuk selalu waspada dan memperhatikan tanda-tanda kemungkinan adanya usaha-usaha penggantian seperti itu.

Dirinya pun menjelaskan, "Cara yang paling mendasar untuk menjaga Pancasila adalah justru dengan menghadirkan sila itu. Sila yang paling dihadirkan adalah sila Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia."