Thursday, April 30, 2026

Presiden Tukang Fitnah, Rakyat Jadi Korban

Ilustrasi: Pixabay

Rakyat yang pintar menjadi sasaran presiden tukang fitnah? Itu wajar karena memang bagian upaya mempertahankan kekuasaannya sebagai kepala negara. Rakyat yang dikategorikan pintar di sini ialah kaum intelektual dengan daya kekritisan tingkat tinggi. 

Dengan otak mereka yang unggul, kritik membangun kepada pemerintah lahir satu demi satu. Dan, hal ini sebenarnya normal. Namanya saja presiden pasti tidak selalu benar, 'kan? Selama dirinya masih merupakan manusia, pastilah memiliki kekurangan. Itulah sebabnya, ada saling mengingatkan. Salah satunya dengan kritik tersebut. 

Yang menjadi masalah, "ada presiden" dari Republik Gem Aw (sekitar dua ribu tahun lalu) merasa paling benar, paling jago, paling segalanya. Mungkin dirinya sadar atau tidak sudah merasa seperti Tuhan. Orang lain sepintar apa pun tidak boleh mengkritiknya. Semua rakyat harus mendukungnya secara penuh. 

Padahal, keputusan-keputusannya tidak didasari dengani studi yang mendalam terlebih dahulu. Sebutlah contohnya pendirian usaha dagang baru. Tanpa mempelajari dan "mengujicobakan" terlebih dahulu dalam jumlah kecil, dirinya langsung membangun puluhan ribu unit usaha tersebut. Dalam hal ini ia belum tahu apakah usaha yang dibangunnya memang menguntungkan negara atau malah sebaliknya. 

Contoh lain, dengan tergesa-gesa ia menggenjot penggantian atap rumah, yakni dengan atap baru yang seragam untuk meciptakan keindahan. Sebelum menggenjot program itu, dirinya belum memperhitungkan secara matang dampak buruk dari besarnya biaya yang dikeluarkan. Terlebih, jika dikaitkan dengan kondisi keuangan negaranya yang saat itu sedang defisit anggaran. Ujung-ujungnya rakyat ditekan untuk membayar pajak. 

Sedang kaum intelektual yang kritis terus ia sudutkan dengan fitnah "menyerang pemerintah". Bahkan ia ancam mereka dengan keji. Misalnya, dirinya "mengusir" rakyatnya yang pintar dan kritis itu dengan kata- kata "kabur sana" dari negara tersebut. Apa wewenangnya mengusir seperti itu? Presiden harusnya tunduk kepada rakyat. Dirinya digaji rakyat. Ia bawahan rakyat. Tapi, sok-sokan mengusir para majikannya sendiri. Ini sungguh keji. Benar-benar di luar batas. Rakyat menjadi korban oleh kekejiannya. 

Membaca cerita fiksi di atas, kita patut beruntung bahwa di dunia ini tidak. ada presiden yang demikian. Seandainya ada, gawat! 


Rakyatku Keracunan, Aku Bahagia dan Bangga

Ilustrasi: Pixabay

Dalam sebuah forum internasional, dirinya begitu bangga dengan program susu gratis ibu hamil (SUGIH). Dengan wajah berapi-api dan memukuli meja mimbar podium, dia mengatakan bahwa banyak negara meniru programnya itu. 

Dan, setelah sempat menyinggahi beberapa negara maju, ia pulang ke negaranya. Dirinya tampak puas. Tak berapa lama kemudian, ia kumpulkan para pendukungnya di sebuah forum negara. Di sana dia berpidato. Wajah tuanya terlihat sehat. Kata-katanya segera keluar lancar dan seperti kebiasaannya, kedua tangannya tak pernah absen memukuli meja mimbar podium sambil mengklaim program utamanya, yakni SUGIH berhasil. 

Padahal, selain menelan anggaran belanja negara yang sangat besar, di lapangan banyak ibu-ibu hamil keracunan setelah meminum susu gratis tersebut. Bahkan, yang berujung dengan meninggal dunia pun sudah tak terhitung jumlahnya. 

Tapi, sebaga presiden, dirinya tak pernah berempati terhadap para korban itu. Ia tetap bersikeras bahwa SUGIH yang terbaik. Siapa saja yang mengkritik programnya itu dianggapnya musuh besar negara. Dalam sebuah kesempatan, mulutnya pernah mengeluarkan sebuah kalimat kotor, "Kalau tidak setuju dengan SUGIH, kabur saja, tinggalkan negara ini!"

Sebenarnya bukan hanya masuk kategori kalimat kotor, tetapi juga antikemanusiaan. Sudah jelas para kaum intelektual memberikan masukan agar tidak terjadi lagi kematian akibat keracunan SUGIH, malah dicap musuh negara. Parahnya, dengan bahagianya dirinya terus saja membangga-banggakan program pembunuhan massal tersebut. 

Sungguh dirinya adalah presiden keji yang amoral. Untungnya dirinya hanyakah tokoh fiksi. Seandainya benar-benar nyata, wah sudah dipastikan rakyat di negara yang dipimpinnya akan sengsara. 

Wednesday, April 29, 2026

Penjajah Mengasingkan Pejuang ke Yordania

Foto: Pixabay

Mengapa penjajah gemar mengasingkan pejuang? Salah satu jawabannya adalah karena mereka tidak suka diganggu. Ya, para pejuang selalu saja dianggap pengganggu dan pembuat gaduh oleh penjajah. 

Sebutlah salah satu contohnya Soekarno yang diasingkan di Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur pada tentang waktu antara tahun 1934--1938. Intinya, pihak penjajah menginginkan rakyat jajahan nurut, tunduk, patuh, tidak melawan, dan kalau perlu seperti robot yang dengan mudah mereka kontrol. 

Jika ada rakyat cerdas yang melawan, sudah dipastikan akan menjadi musuh bagi penjajah. Hidupnya tidak aman. Sebab, akan diburu, ditangkap, dan disiksa, lalu diasingkan. Bahkan, bisa saja dihukum mati. 

Khusus kasus terakhir di atas, contohnya Panglima Batur dan Demang Lehman di Kalimantan Selatan yang dihukum mati oleh penjajah Belanda. 

Jika di era kekinian masih ada pemerintah yang gemar mengatakan hal berbau pengasingan ke luar negeri bagi orang-orang cerdas, maka sudah dipastikan pemerintah itu merupakan penjajah. Mungkin dalam hal ini terkesan seperti Israel yang menjajah Bangsa Palestina. 

Nah, tentu saja yang dimaksud orang-orang cerdas di era kekinian ialah kaum intelektual yang melihat kondisi nyata di lapangan dan menyuarakannya berdasarkan keilmuan mereka. Kemudian, suara mereka dinilai mengancam kekuasaan pemerintah yang bersangkutan. 

Orang-orang seperti ini sudah barang tentu dimusuhi pemerintah dan diserukan untuk kabur saja ke luar negeri sebagai bentuk pengasingan. Misalnya, kabur saja ke Yordania atau ke Israel. Selain seruan-seruan tak beradab tersebut, biasanya pemerintah penjajah akan membuat hidup orang-orang cerdas sengsara. Bisa jadi mereka dipenjara, disiksa, atau dibuat cacat permanen agar jera dengan asam sulfat. 


Tuesday, April 28, 2026

Wanita di Tengah, Posisi Kecelakaan Pasti di Belakang?

Ilustrasi: Pixabay

Gerbong belakang ditabrak kereta lain. Itu yang terjadi beberapa waktu lalu. Ya, tragedi kecelakaan kereta di Indonesia tersebut sungguh memilukan. Dan, salah seorang menteri mengusulkan gerbong wanita dipindah di bagian tengah kereta. 

Usulan tersebut menimbulkan tanda tanya lucu. Apakah lokasi kecelakaan bisa diatur? Misalnya, kecelakaan hari ini khusus di gerbong depan. Lalu minggu depan di gerbong belakang. Bulan berikutnya di posisi depan. Apakah seperti itu? Tentu jawabnya tidak. 

Kecelakaan terjadi begitu cepat. Tidak bisa diprediksi. Jangankan diprediksi, diharapkan saja tidak. Kemudian juga apakah posisi bagian yang terdampak kecelakaan akan tetap sama? Selamanya akan menimpa gerbong belakang secara terus-menerus? 

Idealnya, usulan itu bukan berfokus pada posisi, melainkan sistem keselamatan perkeretaapian di Indonesia. Sebagai negara yang telah lama berkecimpung di dunia rel, seharusnya keselamatan sudah menjadi hal utama yang secara kontinyu diperhatikan. Keselamatan penumpang, baik wanita, maupun pria, harus menjadi prioritas. Terlebih jika sudah menyangkut nyawa. Perbedaan jenis kelamin harus ditiadakan. Semua penumpang adalah sama. Yang tidak boleh dilupakan juga adalah, seandainya gerbong wanita di tengah aman, apakah suami dan anak laki-laki mereka yang tewas di gerbong belakang tidak membuat para wanita kehilangan? 

 

Reshuffle Kabinet hanya Akal-akalan

Ilustrasi: Pixabay

Jika ditanya akal-akalan siapa? Tentu jawabnya adalah presiden. Selama pemerintahannya berjalan, sudah terjadi reshuffle kabinet sebanyak tujuh kali. Waw! Angka yang tergolong banyak untuk tindakan presiden dalam mengganti, memindahkan, atau memberhentikan sebagian menteri dalam kabinetnya. Pada setiap pidato kebangsaan, sang presiden selalu saja mengutarakan bahwa hal itu untuk meningkatkan kinerja pemerintahannya. 

Padahal, tidak ada istilah "menteri yang mandiri dalam inovasi dan lainnya" dalam kabinet gemuknya tersebut. Sebab, dirinya lah yang berkehendak dan semua menteri hanyalah pembantu dalam merealisasikan segala kehendaknya tersebut. 

Dengan kata lain, siapa pun menterinya, mereka harus bekerja sesuai kehendak Presiden Kac Am Ata di Republik Salin Raya. Itu. Contohnya ketika sang presiden ingin kas semua tempat ibadah dikelola Kementerian Spritual melalui rekening bersama, maka orang yang menjadi menteri di kementerian ini dengan cepat menyuarakannya kepada semua pengelola tempat ibadah. Dan, masyarakat tahunya si menteri itulah yang menggagasnya. Jika kehendak itu dikritik, sang presiden berlepas tangan dan berkata, "Saya keget karena baru tahu ada rencana seperti itu." 

Pertanyaannya, jika demikian, untuk apa ada reshuffle kabinet? Jawabnya sederhana, yakni. sebagai akal-akalan presiden agar masyarakat mengira bahwa yang tidak kompeten adalah menteri-menterinya. Sedang dirinya teelihat bekerja keras. Salah satunya ialah dengan reshuffle kabinet sehingga sang presiden selalu mendapatkan pujian setinggi langit.


Monday, April 27, 2026

Bagaimana jika Iran Kalah?

Foto: Pixabay

Perang Iran versus Amerika Serikat + Israel belumlah usai. Masing-masing pihak masih dalam kondisi prima. Terlebih pascagencatan senjata beberapa waktu lalu. Dari sudut kacamata sederhana, Iran bisa dikatakan sebagai pihak dengan kekuatan di bawah Amerika Serikat. Apalagi ditambah kekuatan Israel, tentu saja Iran diprediksi akan kalah. 

Ya, cepat atau lambat kekalahan itu akan dialami Iran. Pertanyaannya, bagaimana seandainya Iran sudah kalah? 

Jawaban paling mencolok ialah Timur Tengah akan dikuasai secara mutlak oleh Amerika Serikat dan Israel. Kok? Bukankah di sana masih ada Turkiye dengan kekuatan yang besar? Bahkan, bisa dikatakan Turkiye merupakan kekuatan global yang tidak bisa diremehkan. Betul, faktanya memang demikian. Akan tetapi, negeri di bawah kepemimpinan Presiden Erdogan itu belum bisa sepenuhnya lepas dari jeratan Amerika Serikat dan Israel. 

Lihatlah betapa Turkiye berkehendak memiliki F-35. Pesawat F-16 varian terbaru pun masih dibeli republik yang didirikan Mustafa Kemal Attaturk itu selama KAAN belum 100% mengudara bebas. Dari sisi bisnis pun, Turkiye belum mau melepaskan diri dari Israel, yakni di bidang energi. 

Nah, Itu jika Iran kalah. Lantas bagaimana kalau dilihat lebih dalam lagi? Iran sebenarnya merupakan negara superpower, baik dari sisi militer, maupun sisi-sisi lainnya. Buktinya hingga detik ini Amerika Serikat dan Israel belum mampu menguasai Iran. Dalam rekam jejaknya, Amerika Serikat sebenarnya juga pernah berperang melawan negeri Syi'ah tersebut. Kapan? Itu terjadi ketika Iran melawan Irak. Amerika Serikat berada di pihak Irak, tapi selama delapan tahun peperangan, Iran tetap tak terkalahkan. 

Agaknya, perang melawan Iran jika diteruskan akan berkepanjangan, kecuali pihak Amerika Serikat dan Israel menyudahinya secara damai. Akankah? 


Kipandjikusmin: Ternyata Kian Mendung Ajah!

 

Ilustrasi: Pixabay

"Min! Ngapain loe duduk di situ?"

"Udah tau guwa duduk, masih nanya ajah."

"Nggak gitu juga, maksud guwa ngapain loe duduk di situ?"

"Ya, duduk lah. Emang ngapain lagi?"

"Ya elah, Min. Ribet banget. Okey, guwa cancel ajah pertanyaan barusan."

"Terus loe mo ngapain di sini kalo nggak nanya?"

"Ngadem!"

"Emang di sini lemari es apa? Pake ngadem segala."

"Hayaaaah! Di sini surga tau. Makanya enak buat ngadem."

"Tapi, bentar lagi surga di sini akan segera hilang."

"Hilang? Maksud loe?"

"Pihak perusahaan bakal nambang di sini. Pohon-pohon dan lainnya bakal tak ada lagi. Guwa beserta keluarga wajib ngosongin ni rumah. Paling lama besok. Oh, dunia kian mendung ajah!"

"OMG! Guwa turut prihatin."

"Makasih udah peduli."

"Btw, udah dapat tempat baru?"

Kusmin menggeleng. 

Iblis di depannya terdiam. 

Sedang angin sendalu dari timur sibuk mempermainkan rambut mereka. Ya, begitulah siang itu. Sebuah fenomena kekinian yang kian menuju kehancuran. Area yang sebenarnya subur akan segera ditelan keserakahan manusia-manusia rakus. 

***

Sunday, April 26, 2026

Presiden Cerdas Punya Skala Prioritas

Ilustrasi: Pixabay

Menjalani kehidupan pastilah tidak pukul rata. Pasalnya, dalam realitas nyata terdapat beragam fakta. Seorang presiden yang cerdas harus mampu mendahulukan fakta tertentu, barulah ke fakta-fakta lainnya. 

Sebutlah fakta rumah-rumah warga yang hancur akibat banjir bandang dan tanah longsor, tentu lebih didahulukan penanganannya daripada memberikan makanan gratis kepada karyawan pabrik, misalnya. Begitu pula dengan fakta penting lainnya. Artinya, seorang presiden idealnya mengedepankan skala prioritas. 

Jangan sampai fakta yang sebenarnya tidak mendesak sekali malah didahulukan daripada yang lebih urgen. Jika ini yang terjadi, maka tinggal tunggu negara yang dipimpinnya akan segera bubar. 

Rakyat pasti mengidamkan-idamkan dipimipin seorang presiden yang cerdas. Ya, cerdas dalam hal intelektual, emosional, spritual, sosial, dan cerdas dalam hal-hal lainnya. Kembali ke contoh fakta di atas terkait banjir dan tanah longsor. Untuk terwujudnya sikap mendahulukan penanganan bencana alam, diperlukan kecerdasan-kecerdasan itu. Bagaimana mungkin seorang presiden akan berempati kepada para korban kalau kecerdasan sosialnya sangat rendah? Yang ada, presiden tersebut tidak peduli karena dianggapnya sama sekali tidak menguntungkan dirinya secara personal. Biasanya presiden seperti ini hanya senang dengan orang-orang kaya yang memiliki banyak uang, rupawan, berkuasa, dan memiliki kelebihan-kelebihan lainnya. Dengan demikian, ia berusaha untuk dapat turut serta menikmati berbagai kelebihan itu. Terlebih jika mereka memujinya. 

Nah, bagian terakhir di atas dapat berakibat fatal. Sebab, agar medapatkan pujian, dirinya pasti akan menggunakan uang negara untuk hal-hal yang bombastis. Contohnya memberikan makan gratis kepada karyawan pabrik, mendirikan unit-unit usaha di kota-kota, melakuan banyak kunjungan di negara-negara maju, dan sebagainya. Semuanya menguras anggaran belanja negata yang mempercepat kehancuran dan bubarnya negara yang dipimpinnya. 


Saturday, April 25, 2026

Korupsi Itu Budaya, Tidak Ada Hukumannya

 

Ilustrasi: Pixabay

Tak ada rotan akar pun jadi. Tak bisa korupsi besar-besaran, kecil-kecilan pun pasti. Terpenting bisa korupsi. Sebab, korupsi adalah budaya yang mengakar sejak dulu kala. 

Budaya, selalu baik di mata pelakunya, termasuk korupsi bagi koruptor. Kalau di luar dari komunitas mereka, orang-orang pasti menyebutnya sebagai bencana. Ya, bisa dikatakan ruang budaya korupsi tidaklah mencakup semua orang, meskipun tidak terbatas negara. Budaya ini lintas segalanya di dunia global. Artinya, jika dalam jiwa pelakunya terus membudayakannya, maka korupsi pasti akan terus ada. 

Budaya korupsi tidak memandang gaji dan apa pun juga. Orang-orang yang bergaji tinggi, misalnya, tetap saja melakukan korupsi selama dirinya berbudaya korupsi. Contohnya? Banyak kasus korupsi di Indonesia yang pelakunya merupakan pejabat. 

Dan, yang namanya budaya, tentu saja tidak ada hukumannya. Sesama pelaku budaya ini sudah dipastikan akan saling melindungi. Sebutlah misalnya, hakimnya berbudaya korupsi, para terdakwa korupsi pasti tidak mendapatkan hukuman. Karena mereka hiidup di negara umum, dibuatlah hukuman formalitas. Bisa dua tahun, tiga tahun, bisa juga lebih tinggi lagi, tapi tidak terlalu tinggi. Dalam pelaksanaannya, narapidana kasus korupsi tidak menempati sel, melainkan bebas diam-diam. 

Wow! Begitulah budaya korupsi! 


MBG Bukti Rakyat Indonesia Super Miskin?

Ilustrasi: Pixabay

Orang super miskin tak punya banyak uang. Jangankan beli barang-barang sekunder yang bekas, ngasih makan anak saja tidak mampu. Itulah sebabnya, anak-anak orang super miskin dikasih makan orang-orang berduit atau oleh pemerintah. 

Agaknya gambaran singkat orang-orang super miskin ya seperti itu. Benar, persis di Indonesia. Anak-anak sekolah dikasih menu makan bergizi gratis (MBG). Ya, GRATIS. 

Kata "gratis" membuktikan bahwa seluruh anak sekolah di negeri ini adalah anak orang-orang super miskin. Mereka kelaparan. Mereka tidak mampu membeli makanan. Mereka sekarat. Mereka sangat memperihatinkan. TRAGIS! 

Pertanyaannya, apakah benar demikian? 

Tentu saja tidak. Mereka anak-anak orang mampu. Buktinya, mereka mampu membayar biaya sekolah. Ingat! Sekolah tidak gratis. Sekolah itu berbayar. Bahkan, untuk bisa terus belajar di sekolah, para siswa dipungut sumbangan sana-sini yang memberatkan pihak siswa. 

Lantas, apakah MBG salah? Tidak tepat sasaran? Banyak pihak mengatakan lebih baik dikembalikan seperti dulu, yakni beasiswa kurang mampu. Bagi anak-anak yang memang orang tua mereka berpenghasilan kurang, maka mereka layak mendapatkan uang bantuan. 

Sebagian pihak yang lain berpendapat idealnya pemerintah membantu para orang tua dalam hal pekerjaan. Sehingga, mampu menyekolahkan dan memberikan makanan bergizi yang sesungguhnya. Zaman era Orde Baru, misalnya, pemerintah saat itu membantu masyarakat dalam hal pekerjaan seperti program transmigrasi. 

Intinya, banyak sekali pihak yang menghendaki agar dana MBG dialihkan kepada upaya pemerintah membantu masyarakat termasuk para orang tua siswa agar bisa mandiri secara ekonomi. 


Friday, April 24, 2026

Jemaah Sumbang Barang Ketika Kas Masjid Dikelola Pemerintah

Ilustrasi: Pixabay

Ini kejadian seribu tahun lalu di sebuah negara terkorup sedunia. Saking rakusnya, pemerintah negara tersebut membuatkan rekening tunggal di bank untuk setiap masjid secara keseluruhan. Orang-orang tamak itu tergiur dengan uang infak yang jumlahnya sangat fantastis. 

Mengetahui akal busuk pemerintah tersebut, seluruh jamaah langsung tidak setuju. Alhasil, celengan diganti dengan ruangan besar. Para jemaah ada yang memberikan paku, semen, dan barang lainnya ketika masjid mereka akan ada perbaikan. Bahkan, mereka pula yang menyediakan para pekerjanya.  

Untuk keperluan lain pun, seperti menu berbuka puasa bersama, pihak masjid langsung menerima makanan dan minuman siap saji dari para jemaah. 

Dengan kecerdasan para jemaah di sana, pemerintah Negara Republik Sen La Nah akhirnya gigit jari alias mati kutu. Selang beberapa tahun kemudian, negara berlambangkan piring cokelat itu bangkrut dan tutup permanen. 

Begitulah jadinya jika pemerintahan dipegang oleh orang-orang yang penuh dosa. Mereka tentu tidak akan berhenti berbuat dosa, kecuali tobat tidak lagi menjadi ahli dosa. Dan, idealnya rakyat wajib cerdas agar tidak dikadalin mereka. 

Sekadar informasi, setelah tutup permanen, rakyat bersatu padu membukanya kembali dengan pemerintah yang baru. 

(Cerita di atas hanya fiksi. Jika ada kesamaan kasus, itu hal biasa. Tidak usah diributkan) 

Thursday, April 23, 2026

Pajak, Pajak, Pajak, Jalan-Jalan, dan....

Sumber Foto: Pixabay

Di sebuah negeri, tepatnya di sebelah Gunung Pohinta, hiduplah seorang raja. Namanya Sau Kuarah Ansi. Dirinya naik tahta sejak usia muda. Ya, sepeninggal ayahnya yang tewas saat hendak mengusir sekawanan gajah di lereng gunung, dirinya dinobatkan sebagai raja di sana. 

Kerajaan yang sebenarnya kaya raya akan sumber alamnya itu sudah lama bernasib sial. Karena kalah perang melawan kerajaan lain, maka kerajaan yang bernama Kang Mendung itu terpaksa miskin. Benar, terpaksa. Bagaimana tidak? Di sana kaya emas, nikel, ikan, dan sebagainya, tapi dikuasai kerajaan asing. 

Sumber daya alamnya yang melimpah ruah menjadi tak berarti karena keadaan tersebut. Untuk mencukupi kehidupan di sana, pajak yang beragam dikenakan kepada seluruh rakyat. Mulai pajak penghasilan, pajak bumi dan bangunan, pajak hadiah, pajak pembelian, pajak penjualan, hingga pajak warisan. 

Selain itu, utang luar negeri menjadi santapan umum di kerajaan ini. Sedangkan berbagai usaha milik istana kurang dioptimalkan. Usaha -usaha yang meliputi pabrik semen, maskapai penerbangan, pariwisata, dan banyak lagi selalu merugi. 

Nah, yang anehnya, sang raja tidak peduli dengan kondisi perekonomian yang kian terpuruk di sana. Meski defisit anggaran, Raja Sau Kuarah Ansi hidup dengan boros. Misalnya, dirinya sangat senang melakukan lawatan demi lawatan di kerajaan-kerajaan lain. Tentu saja hal itui menelan biaya yang tidak sedikit dan yang menanggungnya adalah rakyat melalui pajak. 

Rakyatnya pun semakin tidak senang kepadanya. Sebagian kaum terpelajar terus mendorong adanya upaya mengganti dirinya dengan pangeran yang lain. 

Untuk mengamankan posisinya sebagai raja, maka ia melakukan pembungkaman terhadap para pengamat pemerintahannya. Kebebasan berpendapat dan lainnya yang dianggap dapat membahayakan kian dibatasi. 

Alhasil, suasana kehidupan, termasuk di lapisan bawah semakin tidak nyaman. Mereka seakan hidup dalam penjara yang sangat besar. Dan, harapan demi harapan dari hari ke hari terasa kian jauh untuk dapat digapai. 

Dengan kenyataan pahit seperti itulah, rakyat bersatu untuk bangkit. Bukan lagi sekadar kata-kata, melainkan sudah di level aksi nyata di lapangan. Siang malam mereka terus beraksi hingga pada suatu hari sang raja berhasil mereka lengserkan dari singgasananya. 


Indonesia Niru, Ditolak Malaysia dan Singapura

Ilustrasi: Pixabay

Hidup itu kalau bisa jangan suka niru. Berkreasilah meski sedikit. Dan, jika pun terpaksa niru, ya kreasikan agar tidak sama mutlak dengan yang ditiru. 

Agaknya benar saja kata-kata di atas. Hal tersebut berlaku dalam tataran terendah hingga tertinggi. Dalam dunia internasional, saat ini santer kata "tarif". Kata itu booming setelah Iran berencana memungut tarif di Selat Hormuz. 

Nah, pengenaan tarif inilah yang akan ditiru Indonesia di Selat Malaka. Akan tetapi, secara tegas Malaysia dan Singapura menolaknya. Pihak Malaysia melalui menteri luar (menlu) negerinya, Mohamad bin Hasan, mengatakan bahwa Selat Malaka adalah tanggung jawab bersama empat negara pantai. Tidak bisa dilakukan secara sepihak olah satu negara saja. Semua keputusan diambil bersama. 

Sejurus dengan Malaysia, Menlu Singapura--Vivian Balakrishnan--menyatakan bahwa prinsip kebebasan navigasi adalah hal mutlak. Itulah sebabnya, mereka tidak akan mendukung upaya pembatasan atau pungutan di Selat Malaka. 

Dengan demikian, langkah Indonesia untuk mendapatkan cuan dari Selat Malaka pun gagal. Semoga Pemerintah Indonesia mendapatkan ide lain guna meningkatkan pendapat negara. Sehingga, pajak rakyat dapat diperkecil agar kemakmuran yang berkeadilan sosial bisa diwujudkan. 

Indonesia akan Diserang?

Ilustrasi: Pixabay

Setiap pagi udara sejuk tetap betah di desa-desa. Para penduduk terlihat asyik menikmati seduhan kopi dan camilan sederhana. Di kota, banyak penjual kue dan nasi bungkus  pinggir jalan raya. 

Semua aktivitas itu tampak berjalan normal. Tidak ada desas-desus akan ada serangan. Ya, Indonesia aman dari ancaman militer. Tidak ada negara mana pun yang berencana menggempur bumi nusantara. 

Indonesia lebih cenderung diserang secara ekonomi yang berdampak pada kemiskinan. Bahkan, negara sedang mengalami defisit anggara. Pengeluaran belanja negara lebih besar daripada angka pendapatan yang diterima. Sehingga, utang demi utang kepada luar negeri kian bertambah. 

Itulah sebabnya, Pemerintah Indonesia idealnya lebih fokus pada upaya meningkatkan pendapatan negara, khususnya di luar pajak. Jika hanya bertumpu pada pajak, pastinya mustahil akan lebih baik karena pendapatan sebagian rakyat juga sedang tidak baik-baik saja. Sebutlah contohnya pekerja bangunan yang kian susah mendapatkan jatah kerja dari para pemborong. 

Di samping itu, pengeluaran negara harus dikurangi. Program makan bergizi gratis, misalnya, kalau bisa dihentikan. Program ini bukan hanya memakan anggaran di bagian dapur, tetapi juga pengadaan kendaraan bermotor, laptop, tablet, bahkan kaos kaki. 

Begitu pula perjalanan dinas presiden ke luar negeri juga perlu dikurangi demi menghemat pengeluaran anggaran negara. 

Nah, pertanyaan sederhananya, apakah hal mudah seperti di atas bisa diwujudkan?


Wednesday, April 22, 2026

Rakyat Sedih Presiden Prabowo Larut ke Budaya Modern Korea Selatan?

Foto: Pixabay

Rakyat mana yang sedih? Bagi K-Popers, ini sebuah berkah. Benar-benar kebahagiaan luar biasa. Pasalnya, Presiden Prabowo Subianto berkeinginan untuk meningkatkan jumlah gelaran konser K-Pop di Indonesia. Ya, akhirnya ada Presiden Indonesia yang ke asing-asingan. Sungguh kemajuan berpikir yang jauh ke depan. Sebab, jika tidak demikian, Indonesia susah majunya. Asing wajib ditiru dan diidolakan. 

Informasi terkait konser ini disampaikan oleh Menteri Luar Negeri, Sugiono, dalam konfrensi pers di Kompleks Istana, Jakarta, Rabu (22/4/2026). 

Tentu saja keinginan Prabowo ini merupakan bentuk kerja sama setelah lawatannya di Negeri Ginseng beberapa waktu lalu. 

Korea Selatan memang aktif dalam hallyu atau Korean wave di banyak negara, termasuk Indonesia. Dalam kaitannya dengan hal tersebut, Korea Selatan tidak hanya ingin artis-artis mereka konser, tetapi juga bisa aktif di negara-negara lain. Sebutlah menjadi bintang iklan produk lokal negara target. 

Di Indonesia sendiri, artis Korea Selatan yang sudah berhasil menjadi bintang iklan, seperti Siwon dari Boyband Super Junior. Sementara yang berhasil menggandeng artis ndonesia adalah Eru. Penyanyi Korea Selatan yang bernama lahir Jo Sung Hyun ini pernah menjadi teman duet pelawak Sule. 

Lantas bagaimana dengan sebagian rakyat Indonesia yang berjuang melestarikan budaya lokal? 


Pemimpin Haram Takut Diwartakan

Ilustrasi: Pixabay

Penakut lawannya adalah pemberani. Menjadi pemimpin, artinya ia berani dan siap kehilangan segalanya demi orang-orang yang dipimpinnya. 

Sebagaimana kita ketahui, ada beragam jenis pemimpin. Misalnya dari segi tingkatannya di pemerintahan. Ada yang dinamakan presiden, gubernur, bupati, camat, lurah, ketua rukun warga, dan ketua rukun tetangga. 

Semuanya wajib berani, termasuk dalam hal pemberitaan, baik tentang kelebihannya, maupun sebaliknya. Nah, tidak jarang pemimpin menjadi penakut saat dirinya akan diwartakan terkait kelemahan atau kekurangannya selama duduk di singgasana kekuasaan.

Pemimpin yang bersangkutan akan melakukan berbagai cara agar wartawan atau jurnalis tidak melakukannya. Sebutlah contohnya tindakan intimidasi, represif, juga perampasan alat rekam dan penghapusan data liputan 

Padahal di alam demokrasi kebebasan pers merupakan hal yang wajar dan tidak boleh diganggu dengan alasan takut diwartakan.

Sebagai pemimpin, idealnya harus sudah siap menerima segala resiko atas yang sudah diperbuatnya selama memimpin. Dan, janganlah sedikit pun takut setelah melakukan kesalahan. Hadapi dan pertanggungjawabkan! 


Tuesday, April 21, 2026

Indonesia Belum Surplus Pangan? Untungkan Asing?

Foto: Wikipedia 

Konon, Pemerintah Indonesia melalui Kamar Dagang dan Industri (Kadin) ingin bekerja sama dengan sejumlah perusahaan Asing, dari Republik Rakyat Cina. 

Hal itu guna menggarap hilirisasi industri unggas. Tujuannya tentu saja untuk pemenuhan kebutuhan pasokan ayam dan telur dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG). Ya, ini soal MBG lagi. Tapi, titik beratnya fokus pada bahan makanan yang akan diolah. 

Menurut Ketua Umum Kadin, Anindya Bakrie, kerja sama tersebut memiliki urgensi demi mendukung keberlanjutan MBG. 

Pertanyaannya, mengapa bukan pengusaha ternak unggas Indonesia yang diajak kerja sama? 

Padahal fakta bahwa Indonesia sedang memerlukan tambahan daging dan telur ayam, sebenarnya merupakan angin segar bagi tumbuh kembangnya sektor peternakan di negeri ini. Pemerintah seharusnya menggenjot produksi lokal, bukannya malah menguntungkan orang-orang Asing. Toh kalau para pengusaha lokal untung besar, pajak pun kian besar. 

Artinya, membantu perekonomian rakyat melalui upaya meningkatkan usaha dalam negeri sejatinya juga menambah pendapatan negara kita. 


Penyusup "BIKIN" Rusuh Demonstrasi

Ilustrasi: Pixabay

Sudah bukan rahasia pribadi lagi bahwa penyusup menciptakan kerusuhan saat demonstrasi sedang berjalan. Atau, saat massa demontrasi sudah meninggalkan arena aksi di jalan, para penyusup datang dan memulai kerusuhan. 

Orang-orang ini sejatinya dibayar atau diperintahkan komandan mereka. Umumnya para masa bayaran tersebut mengenakan helm dan bisa juga penutup kepala agar tidak dikenali. 

Apa yang mereka lakukan? Menyerang aparat. Ya, mulai dari tindakan sederhana, seperti mendorong, melemparikan batu, menyiramkan air, sampai adu jotos melawan aparat yang berjaga di kawasan demontrasi. 

Tujuannya apa? Tentu merusak citra para demonstran asli di mata dunia. Kalau dibahasakan secara verbal, dalang dari pengadaan penyusup itu berkata, "INI LHO KELAKUAN DEMOMSTRAN YANG BRUTAL!" 

Selain itu, dengan adanya penyusup yang menciptakan kerusuhan, maka para demonstran asli bisa ditangkap dan demonstrasi akan dibubarkan. 

Bagi para demonstran yang sudah hapal strategi jahat ini, sudah dipastikan tidak akan terpancing. Mereka tetap tenang atau menghindarkan diri dari kerusuhan. 


Demo di Daerah untuk Tutupi Isu Nasional?

Ilustrasi: Pixabay

Entah ada unsur kesengajaan dari pihak tertentu atau memang murni kehendak rakyat menggelar demonstrasi di daerah. Yang jelas dengan adanya aktivitas massa seperti itu sangat berkontribusi besar dalam menutupi isu berskala nasional. 

Unsur kesengajaan di atas maksudnya ada kemungkinan pejabat daerah didorong atau diperintahkan untuk membuat kehebohan. Kalau perlu kegaduhan. Salah satunya dengan melakukan hal-hal yang tidak disenangi rakyat. Cepat lambat, massa di daerah akan terpancing untuk bereaksi. Mulai dari perbincangan di warung kopi hingga demontrasi turun di jalan. 

Mengenai reaksi massa, memang ada yang benar-benar murni yang lahir dari kekecewaan, kemarahan, lalu diungkapkan lewat demontrasi. Tuntutan demi tuntutan mereka sampaikan dengan apa adanya. 

Dan, tidak bisa dipungkir juga bahwa memang ada massa bayaran yang melakukan demontrasi. Mereka sebenarnya tidak tahu-menahu soal inti masalah yang disuarakan. Orang-orang ini tahunya akan mendapatkan bayaran dan wajib mengikuti segala perintah komandan lapangan. Biasanya aksi turun di jalan yang mereka ikuti berupa demontrasi tandingan. 

Terlepas dari murni atau tidak, semakin besar demontrasi yang digelar, akan semakin teralihkan pula isu nasional. Perhatian masyarakat, khususnya yang menjadi peserta aksi di jalan, tentu lebih tersedot ke tuntutan yang disuarakan di daerah. Sementara berbagai isu nasional menjadi kurang diperhatikan. 


Monday, April 20, 2026

Kaltim Rasa Negara? Republik Kalimantan Timur?

Ilustrasi: Pixabay

Wah! Sedemikian dahsyatnya Kalimantan Timur saat ini. Provinsi yang dikenal dengan tambang minyaknya telah berasa seperti negara. Ya, masih "seperti". Artinya belum menjadi sebuah negara. Tetapi, mengapa bisa menjadi "rasa negara" meski tetap sebagai provinsi? 

Itu pertanyaan yang menggoda. Awalnya biasa-biasa saja. Namun, setelah Rudy Mas'ud sudah menjadi Gubernur Kaltim, letupan demi letupan mulai terdengar, terutama di media sosial. Dan, hari ini, Selasa (21/4/2026) akan ada aksi turun ke jalan oleh banyak orang di Samarinda. 

Massa datang untuk menyuarakan protes kepada sang gubernur yang dinilai tidak prorakyat. Menurut masyarakat Kaltim, Gubernur Mas'ud lebih mengutamakan kepentingan elit saja. 

Sebutlah contohnya soal pengadaan mobil dinas seharga Rp8, 5 miliar yang akhirnya dibatalkan karena heboh di media sosial. Tak berhenti sampai di situ, pak gubernur membuat heboh kembali dengan anggaran renovasi rumah dinas yang menyentuh angka Rp25 miliar. 

Disebut-sebut juga sebelumnya bahwa massa hendak menggulingkan Gubernur Kaltim tersebut. Di sinilah sebuah provinsi, tetapi rasa negara. Sang gubernur seakan-akan adalah seorang presiden yang akan digulingkan melalui aksi turun ke jalan. Itulah sebabnya, menjelang aksi besar hari ini, Rudy Mas'ud melakukan persiapan dengan membentengi istananya dengan kawat berduri. 

Di sampai itu, dari pihak kepolisian juga menyiagakan sekitar 1.700 personel gabungan beserta kendaraan taktis untuk menjaga keamanan di lokasi-lokasi utama. 


Sunday, April 19, 2026

Amerika Serikat Adalah Perompak Jahat

Ilustrasi: Pixabay

Dikabarkan oleh Iran bahwa Amerika Serikat melakukan perompakan kapal kargo mereka. Peristiwa tersebut terjadi di Laut Oman saat gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran masih berlaku. 

Negeri di bawah kaki Presiden Trump itu mengerahkan marinir di atas kapal kargo tersebut, lalu menembaki dan melumpuhkan sistem navigasinya. 

Apa yang terjadi di sana sungguh tidak mencerminkan peradaban modern saat ini. Amerika Serikat telah menunjukkan bahwa mereka merupakan orang-orang jahat di dunia kekinian. Dan, pantas saja banyak negara Eropa yang mulai menjauhi negeri jahat itu. 

Bukan hanya Eropa, Arab Saudi pun perlahan juga melakukannya. Kerajaan penjaga dua tempat suci umat Islam tersebut kian merapat ke Pakistan, Turkiye, dan Mesir. 

Dalam otak yang jernih dan pikiran sehat, tentu khalayak ramai sepakat dengan langkah mereka. Pertanyaannya, masih adakah pemimpin negara yang senang berkomplot dan mengiyakan segala perintah Paman Sam? 



Saturday, April 18, 2026

Eksekutif Mengarahkan Legislatif? Tidak Beres!

Ilustrasi: Pixabay

Rasanya sangat aneh jika eksekutif atau dikenal sebagai pemerintah yang dikepalai seorang presiden memberikan pengarahan kepada legislatif. Dalam negara demokrasi, ada pembagian kekuasaan yang disebut dengan trias politica, yakni yudikatif, legislatif, dan eksekutif. Ketiganya sejajar. Tidak ada yang boleh melampaui kekuasaan di atas yang lainnya. 

Nah, kata "sejajar" ini tentu sudah menjadi patokan mutlak yang harus ditaati. Jika ada presiden, misalnya, memberikan pengarahan kepada Dewan Perwakilan Rakyat (termasuk DPRD) itu berarti kedudukan eksekutif ada di atas legislatif. 

Hal demikian sudah jelas sebuah kesalahan. Berbeda ceritanya jika presiden memberikan pengarahan kepada para menteri di kabinetnya. Seperti kita ketahui bersama bahwa Presiden dan menteri kedudukannya tidak sejajar dalam lembaga eksekutif. Dengan kata lain  presiden lebih tinggi daripada para menteri. Pengarahan jenis ini sangatlah dibolehkan. 

Selain persoalan kedudukan tersebut di atas, eksekutif dan legislatif merupakan dua lembaga yang berbeda. Tidak layak presiden mencampuri urusan lembaga lain. 

Dari kasus ini, ada kekhawatiran. Ketika presiden melampaui kekuasaannya, dirinya menempatkan posisinya sebagai orang nomor satu di atas yang lainnya. Lembaga apa saja harus tunduk kepadanya. Dia bebas melakukan apa pun tanpa ada yang bisa menghalangi kehendaknya. Legislatif dan yudikatif hanya menjadi simbol belaka. Jelas, sangat berbahaya. 

Lantas, siapa yang bisa membatasi kelebihan kekuasaan presiden jenis ini? 


Presiden Tidak Transparan? Kepercayaan Publik Lenyap!

Ilustrasi: Pixabay

"Maaf, di sini ada wartawan ga?" 

Begitu kira-kira ringkasnya pertanyaan sang presiden tatkala ia hendak menuju ke inti pidatonya. 

Entah apa yang disembunyikannya di sana? Publik dibuat bertanya-tanya. Ada kecurigaan berhamburan di masyarakat. Kepercayaan publik pun menjadi kosong. Dan, ini sebuah catatan buruk. 

Padahal di setiap negara yang menganut paham demokrasi, harus ada keterbukaan. Bagaimana rakyat bisa mempercayai sang presiden jika ia tidak transparan dalam gerak langkah pemerintahannya? 

Idealnya, seburuk apa pun harus disampaikan. Rakyat berhak tahu karena semua yang menjadi aktivitas pemerintah pastilah berdampak pada semua orang di negara itu. Bisa dikatakan seharusnya tidak ada rahasia antara rakyat dan pemerintah. 

Nah, beda cerita kalau memang sang presiden tidak ingin membuat rakyat marah, maka seharusnya segera dibatalkan rencana "buruk" tersebut dan alhasil tidak ada yang disampaikan. Contohnya, presiden berencana akan bertolak ke Jepang, Belanda, Arab Saudi, dan banyak lagi negara sasaran yang sebenarnya tidaklah terlalu perlu. Maka, batalkan perjalanan ke luar negeri itu agar rakyat tidak marah. Perlu diingat bahwa rakyat bukanlah musuh pemerintah. Bahkan, pemerintah digaji oleh rakyat melalui pajak. Sehingga, transparansi haruslah dinomorsatukan pemerintah. Jika tidak? Kepercayaan publik kepadanya akan lenyap! 


Friday, April 17, 2026

Netizen Tak Percaya Soal Dendam Pribadi Prajurit

Ilustrasi: Pixabay

Eit! Tunggu dulu! Ini dendam apaan? Kok netizen tak percaya? 

Jadi gini. Pada era tahun tertentu, ada kasus penyiraman air keras ke wajah salah seorang aktivis HAM. PELAKUNYA ada empat orang. Keempatnya merupakan prajurit aktif di salah satu negara antah-berantah. 

Setelah ditangkap dan diinterogasi, ternyata motif penyiraman itu karena dendam pribadi. Tok! Clear? BELUM! Mengapa? 

Sebab, dalam kehidupan sehari-hari, korban dan pelaku tidak saling kenal. Di sinilah letak masalahnya. Ya, bagaimana mungkin muncul dendam pribadi di dalam jiwa para prajurit tersebut kepada korban sedangkan mereka tidak saling mengenal? 

Netizen benar-benar tidak bisa mempercayainya. Alasannya sungguh tak masuk akal. Kesannya sangat dibiat-buat tanpa  pemikiran yang matang. Seharusnya kalau ingin membuat alasan haruslah dibuat secanggih mungkin agar netizen percaya. 

Nah, dari sana pulalah muncul keyakinan netizen bahwa semua sudah direncanakan, tetapi tergesa-gesa. Ya, mulai dari strategi penyiraman, penetapan empat pelaku, hingga motif yang tak masuk akal. 

Kalau diperhatikan, penetapan empat pelaku itu sebenarnya tidak masuk di dalam rencana awal, melainkan rencana B. Sebelum penetapan keempatnya, dua bentuk tubuh hidup pelaku berhasil ditangkap layar CCTV. Wujud keduanya gagah. Jelas sekali merupakan sosok prajurit. Setelah tangkapan layar itu heboh, segeralah keempatnya ditetapkan sebagai tersangka. Dan, itu sangat tergesa-gesa agar publik tidak semakin heboh lagi. Lalu, agar dalangnya lepas, dibuatlah motif yang mengada-ada (jauh dari motif sebenarnya). Alhasil, netizen tak percaya. 

Menganai motif sebenarnya, netizen menduga itu terkait erat dengan yang disuarakan korban. Dalangnya pasti orang yang dikritik. Untuk membungkam korban, maka dilakukanlah penyiraman tersebut. 

Soal kebenarannya? Hingga sekarang belum terungkap. 


Series Cina bikin Orang Gemar Lapor Polisi?

Kaisar Hongwu (sumber: Wikipedia) 

Seperti yang kita ketahui, series ditayangkan dalam jumlah episode yang umumnya banyak. Hal itu tentu membuat banyak orang kecanduan untuk menontonnya. Saking tidak sabarnya, pada masa sekarang, orang-orang lebih memilih mengunduh semua episode agar bisa dipercepat waktu tontonnya. Ya, dari total durasi yang sesungguhnya, bisa ditonton bagian-bagian seru atau menyentuhnya saja. Bagian yang dianggap basa-basi akan dilewatkan. 

Nah, dalam series Cina, khususnya yang berlatar zaman kerajaan, ada intrik-intrik untuk menjatuhkan pihak lawan. Biasanya, berupa penyebaran kabar bohong atau tuduhan palsu dalam persekongkolan jahat. Sebutlah contohnya series tentang seputar kehidupan Kaisar Hongwu. 

Kaisar ini bernama lengkap Zhu Yuanzhang. Dalam series yang dibuat, isinya menceritakan kehidupan awal hingga kematiannya.  Dikisahkan, untuk sesuap nasi saja, Zhu kecil harus mengumpulkan beras orang lain yang jatuh di tanah. Lalu dirinya tumbuh dewasa menjadi pengurus kuda perang pasukan yang melawan kekuasaan Dinasti Yuan. Tak lama kemudian ia menjadi prajurit di sana. Singkat cerita, setelah berhasil menjadi pemimpin pasukan, dirinya berhasil menggulingkan dinasti orang Mongol tersebut dan mendirikan Dinasti Ming. 

Ada konflik yang kuat selama dirinya menjadi kaisar. Para pejabat bermain intrik untuk menjatuhkan lawan-lawan politiknya. Pihak yang satu memfitnah pihak lainnya. Mereka melaporkannya ke pihak berwajib atas tuduhan palsu. Tidak jarang, hal itu berakhir pada penjara atau hukuman lainnya. 

Pada masa modern, di dunia politik sering terdapat aktivitas lapor-melaporkan pihak lawan ke polisi. Kegiatan ini terutama sekali dilakukan oleh pihak yang berkuasa untuk membungkam pihak oposisi atau juga pejabat yang jujur. 

Pertanyaannya, apakah aktivitas lapor-melaporkan ini terinspirasi dari series Cina? 

Mungkin saja. Kisah-kisah sejarah Cina, baik yang diangkat dari kisah nyata seperti seputar kehidupan Kaisar Hongwu di atas, maupun yang fiksi, mengandung beragam pelajaran. Salah satunya adalah, cara menjatuhkan lawan. Dan, ini yang dicontoh oleh makhluk-makhluk politik sekarang. 

Tapi, bisa juga tidak. 


Thursday, April 16, 2026

Presiden Itu Sopir, Wajib Nurut Kata Rakyat

Ilustrasi: Pixabay

"Pir, nanti berhenti di depan Gedung DPR RI!"

"Beres, Bos."

Setelah lima menit kemudian, sebuah angkot berhenti sesuai kata-kata pria bersarung merah bermotif kotak-kotak kecil itu. 

Begitulah adanya gambaran yang sebenarnya antara rakyat dan presiden. Dari rakyat, untuk rakyat. Bukan malah sebaliknya, dari rakyat untuk presiden dan para pejabat lainnya. Terlebih, dewasa ini dunia perpolitikan mengarah pada kekuasaan obsolut. Ya, sekilas mirip pemerintahan yang menganut paham Juche. 

Di alam demokrasi tentu saja saran dan kritik dari rakyat menjadi penting sebagai masukan bagi pemerintah. Ada pengawasan dan kontrol agar presiden sebagai juru kemudi tidak salah arah atau tersesat. Sebutlah saat sang sopir terlalu kencang membawa mobil yang dikemudikannya, maka wajar jika ada yang nyeletuk, "Jangan ugal-ugalan, Pir!" Nah, sebagai sopir yang baik, kecepatan pun perlahan dikurangi. 

Beda jika sopirnya antimasukan, kecepatan akan terus dipertahankan, kemungkinan juga akan semakin ugal-ugalan. Alhasil, mobil beserta sopir dan orang-orang yang dibawanya masuk jurang. Kalau sudah demikian, siapa yang rugi? 


Wednesday, April 15, 2026

Apakah Makan Bergizi Jaminan Indonesia Emas?

Ilustrasi: Pixabay

Di Turki sedang heboh kasus penembakan oleh dua generasi belia yang mengerikan. Peristiwanya berurutan. Pertama oleh mantan siswa berusia 19 tahun yang diidentifikasi sebagai OK (Ömer Ket’in). Dia menyerang di bekas sekolahnya, yakni Sekolah Menengah Kejuruan dan Teknik Ahmed Koyuncu di Provinsi Sanliurfa. Sehari setelahnya, Rabu (15/4/2026) seorang siswa bernama İsa Aras Mersinli yang masih berusia 14 tahun juga melakukan penyerangan mematikan. Dirinya melakukan serangan di SMP Ayser Çalık, Kahramanmaras, tempat dirinya menimba ilmu. 

Yang mengejutkan, keduanya bukan anak miskin yang kurang gizi. İsa, contohnya, merupakan anak dari keluarga mampu. Ibunya seorang guru dan ayahnya seorang Komisaris Polisi Kelas 1 dan Kepala Inspektur Polisi. 

Memperhatikan dua kasus ini, teringatlah pada siswa-siswi di Indonesia. Mereka mendapatkan menu bergizi gratis yang konon, itu untuk menyongsong Indonesia emas. 

Pertanyaannya, apakah hanya gizi yang menjadi satu-satunya syarat untuk mencapai itu? 

Jawabnya tentu saja tidak. Banyak syaratnya. Mulai dari pendidikan dalam keluarga, sarana dan prasarana belajar-mengajar yang berkualitas, guru-guru yang profesional,  pemenuhan gizi, hingga kebahagiaan para siswa dalam menjalani hidup dan kehidupan. 

Nah, dalam rangka mewujudkan visi Indonesia emas, semua syarat tersebut wajib dipenuhi. Khusus masalah gizi, sebenarnya ini kewajiban orang tua. Ayahnya lah yang wajib memberikan nafkah yang di dalamnya termasuk pemenuhan gizi anak. Jadi, bukan negara yang memberikan MBG (Menu Bergizi Gratis). Di sinilah pemerintah hadir sebagai pihak yang membantu para orang tua dalam hal pekerjaan. 

Pemerintah harus memastikan bahwa setiap pekerjaan di Indonesia mendapatkan gaji yang layak. Bahkan, pemerintah wajib membantu dalam hal penciptaan lapangan kerja, terutama dalam permodalan. 

Pertanyaan selanjutnya, mampukah Bangsa Indonesia saat ini memenuhi semua syarat di atas? 


Hak Ruang Udara Indonesia untuk AS BIKIN ASEAN Waspada?

Foto: Pixabay

Ketika Amerika Serikat berhak atas ruang udara Indonesia, tentu menciptakan iklim baru di kawasan ASEAN. Betapa tidak? Yang semula tidak ada pesawat-pesawat tempur Paman Sam bebas terbang di langit Jamrud Khatulistiwa, menjadi ada. 

Kewaspadaan semacam itu sangatlah wajar mengingat keamanan negara-negara di dekat Indonesia bisa saja terancam, terutama Malaysia yang terang-terangan menentang Israel. Amerika Serikat dapat dengan mudah memantau Harimau Malaya dari langit Garuda. Ya, baik di perbatasan Indonesia dan Malaysia bagian timur, maupun Malaysia bagian barat. 

Dan, kalau boleh jujur, pihak Indonesia idealnya juga harus waspada. Ruang udara sejatinya adalah bagian dari kedaulatan setiap negara. Nah, saat ruang tersebut menjadi bebas untuk negara lain, ini sungguh sangat mengkhawatirkan. 

Kembali ke pembahasan ASEAN, kita berharap hubungan baik antara Indonesia dan negara-negara lainnya di kawasan ini tidak terganggu dengan hal itu. Bagaimana pun juga, selain kerja sama yang sudah tumbuh dan berkembang, negara-negara di Asia Tenggara tidak bisa lepas dari kedekatan budaya bahkan hubungan kekerabatan sejak dulu. Di Indonesia dan Malaysia, misalnya, ada orang-orang dari rumpun Apau Kayan. Bedanya hanya pada penamaan suku saja di masing-masing negara. 

Tuesday, April 14, 2026

Presiden atau Traveller?

Ilustrasi: Pixabay

Dikisahkan, ada seorang presiden yang gemar sekali mengadakan perjalanan di banyak negara. Dia menyebutnya demi energi. Demi rakyat. Padahal tidak ada hasilnya sama sekali bagi rakyat, bangsa, dan negara yang dipimpinnya. 

Sementara perjalanannya itu memakan biaya yang tentu saja tidaklah sedikit. Ya, menelan anggaran belanja negara yang jumlahnya banyak. Dan, dia tidak peduli terhadap situasi, juga kondisi perekonomian negaranya saat sedang terpuruk. Misalnya ketika sedang defisit anggaran, dirinya tetap saja melakuan kunjungan di negara-negara yang dia inginkan. 

Itulah sebabnya, orang-orang bingung tentang statusnya, apakah sebagai seorang presiden ataukah traveller

Dugaan demi dugaan pun bermunculan. Ada yang menduga sang presiden memang gemar bertamasya. Sebagai wisatawan, dia begitu bahagia saat menikmati perjalanan itu dan juga keindahan negara yang dikunjunginya. Benar, dirinya selalu mengunjungi negara-negara maju yang amazing

Dugaan lainnya, sang presiden ingin terlihat gagah. Caranya dengan bertemu dan berfoto bersama presiden-presiden negara maju tersebut. Harapannya agar masyarakat di negaranya terpesona dan takjub kepadanya. 

Sebagian yang lain menduga perjalanan tersebut diniatkan sang presiden sebagai pencitraan untuk pilpres yang akan diikutinya beberapa tahun kemudian. Pada bagian inilah mulai berkembang pembicaraan-pembicaan di warung kopi, serambi masjid hingga ruang-ruang perkantoran. 

Tema politik perlahan terhirup oleh masyarakat luas. Orang-orang merasa hanya dimanfaatkan sang presiden demi kekuasaannya. Anggaran belanja negara yang sebagian besar bersumber dari pajak rakyat digunakannya untuk kepentingan politik semata. 

Kian lama, rakyat sudah benar-benar muak terhadap perilakunya. Terlebih kala dirinya berupaya untuk menertibkan para pengamat yang mencoba meluruskan jalan politiknya, termasuk soal perjalanan kenagaraan tersebut. 

Bahkan, dari fakta-fakta di lapangan, banyak yang memprediksi sang presiden akan jatuh di tengah jalan. Dia tak akan bisa mempertahankan kedudukannya. 

Lantas, bagaimana kisah selanjutnya? Silakan ikuti terus gerak langkah sang presiden dalam realitas yang apa adanya. 


Monday, April 13, 2026

Jusuf Kalla Sang Pengalih Isu?

 

Foto: Wikipedia

Mantan presiden yang sekarang nyaris berusia 84 tahun itu mulai muncul kembali setelah beberpa waktu absen dari panggung besar Indonesia. Meskipun sudah tak muda lagi, suaranya bergemuruh. Membuat seantero Nusantara menoleh dan sebagian menyoroti sosoknya. 

Sejak perang Iran versus Amerika Serikat + Israel, tokoh yang satu ini mencuri perhatian publik. Ya, awalnya bicara soal perang. Kemudian, dirinya menyoal pula ijazah Jokowi, menyarankan harga bahan bakar minyak dinaikkan, juga menolak WFH setiap hari jumat bagi pegawai pemerintah. Dan, terakhir pria yang akrab disapa daeng ini dilaporkan karena isi ceramahnya saat di UGM beberapa waktu lalu. 

Nah, dari bagian terakhir di atas, terlihat juga adanya kemungkinan permainan tim. Agaknya memang ada semacam sindikat yang penuh perencanaan untuk mengalihkan isu utama, seperti keterlibatan Indonesia di Board of Peace, keracunan akibat makan bergizi gratis, koperasi merah putih, program gentengisasi, efesiensi, Indonesia mengalami defisit anggaran, hingga seterusnya selama bisa dialihkan. 

Dalam upaya pengalihan isu utama itulah diperlukan tokoh besar sekelas Jusuf Kalla dengan didukung orang-orang pilihan lainnya. 

Dalam hal ini, terlepas benar atau tidaknya pak JK sebagai pengalih isu, terpenting rakyat perlu membuka mata. Melihat isu-isu yang sebenarnya perlu mendapatkan perhatian sebagai pengawasan terhadap pemerintah. Jika malah tersedot oleh sosok semisal pria bernama lengkap Muhammad Jusuf Kalla itu, pemerintah bisa seenaknya beraktivitas yang tidak prorakyat. 



Apakah Kita Memiliki Negara?

 

Ilustrasi: Pixabay

Seorang perempuan berdasi kupu-kupu kuning dengan motif macam tutul sedang asyik berbincang bersama kakek bertopi biru muda. Mereka sesekali tertawa, terkadang juga memainkan kedua tangan seakan sedang menari ketika bibir mereka bergerak lincah. 

"Apakah kita memiliki negara? 

"Tampaknya sudah tidak!"

Lalu tawa mereka pecah di bawah langit yang kian mendung. 

Belakangan baru diketahui ternyata mereka membicarakan perihal langit Indonesia. Ya, keduanya mendapatkan kabar bahwa pesawat tempur Amerika Serikat bebas mondar-mandir di kawasan udara NKRI. Presiden Prabowo Subianto tanpa seizin rakyat dengan mudahnya menandatangani perjanjian yang membolehkan Amerika Serikat melintas tanpa batas di langit Jamrud Khatulistiwa. 

Wah ini benar-benar "kebangetan" sekali. Kita tahu bahwa wilayah udara merupakan salah satu yang harus dijaga. Itu bagian dari kedaulatan setiap negara. Jika negara lain bebas berlalu lalang di atas sana, sama saja wilayah tersebut tidak ada pemiliknya. Dengan kata lain, tidak ada negara yang namanya Indonesia. 

Seharusnya sebagai seorang presiden, harus mati-matian menjaga wilayah udara ini. Bukan malah menyerahkannya kepada asing. Berteman dengan presiden lain semisal Donald Trump sah-sah saja, tetapi harus ada batasnya. 

Contohlah anak-anak kecil. Mereka boleh bermain asalkan tidak sebebas-bebasnya. Intinya, siapa pun orangnya, seberapa pun usianya, jika terlalu bebas, pastilah mendatangkan keburukan. 

Lantas, apa yang harus dilakukan? Entahlah? Kalau sudah ada perjanjian demikian, agaknya susah dibatalkan. Apalagi pasti ada timbal-balik yang diterima oleh si pemberi izin. Jadi, ah susah. Eh, sudah ah. Didemo juga bakalan tutup hidung.