Sunday, December 30, 2018

MERDEKA, NAK



Perjuangan mengggapai kemerdekaan - Pixabay.com


Cerpen Akhmad Zailani

  
ANGIN malam masih mengalun lembut bersama-sama suara-suara malam. Keheningan menyambar di segenap lingkungan. Sunyi menusuk-nusuk, makin menambah sunyilah perasaan wanita tua itu. Dia membuka jendela. Dibiarkannya angin malam berebutan masuk. Dia ingin bercanda dan bercumbu sepuas-puasnya bersama malam. Langit di luar kontras sekali dengan ruangan kamarnya yang serba putih.
Wanita tua itu membuang pandangannya ke langit. Nampak mata tua yang lelah dan kosong. Suasana malam makin membuat larut lamunan wanita tua itu. Lamunan wanita usia tujuh puluh limaan lebih itu larut bersama angin, melintas bersama bintang-bintang malam, bersama langit yang hitam.
“Bintang Margono…,” suara batin wanita tua yang rambutnya lebih banyak warna putih dibandingkan warna hitam yang menghiasi kepalanya itu kembali berkata-kata sendiri. “Aku merindukanmu saat ini, anakku. Kamu pasti merindukan ibu bukan? Aku ingin memelukmu, Bintang.”
“Kamu memang anak ibu yang gagah. Kamu masih ingat ketika ikut berbaris di belakang peleton-peleton infantri. Kamu dengan senapan kayumu, dan tanpa baju. Kamu juga pernah melempar genteng rumah Mayor Verdomme, bersama dengan anak-anak sepermainanmu. Kamu menganggap batu-batu itu adalah granat. Kamu nakal Bintang dan ibu bangga itu.”
“Saya baru saja menggempur markas Belanda, bu,“ katamu waktu itu. Padahal kamu habis melempari rumah Mayor Verdomme, yang artinya dalam bahasa Indonesia 'terkutuklah kau'.
Kamu memang bandel, Bintang. Dan itulah yang ibu suka. Kamu juga masih ingat dengan rengekkanmu yang selalu ingin ikut ayahmu berjuang. Kamu masih ingat itu, Bintang. “Aku ingin ikut pula mengusir penjajah, yah…,” katamu. Bintang…Bintang usiamu kan saat itu belumlah tujuh tahun!
Kamu memang gagah seperti ayahmu, Bintang. Ayahmu Sersan Margono Jaya Poetra adalah pejuang patriot sejati yang gugur di medan pertempuran. Ah, kenangan itu selalu bermain-main dibenak ibu, Bahri. Kita yang selalu mengungsi dari desa ke desa atau terkadang ke tengah hutan. Kita yang selalu makan apa adanya yang bisa  dimakan buat mengganjal perut untuk hidup demi perjuangan. Ibu rindu dengan kenangan itu Bintang. Ibu rindu dengan pekik-pekik suara merdeka. Dan ibu rindu pada suaramu, Bintang. Suara kecil yang meneriakkan dengan lantang pekik merdeka. Ah, kenangan-kenangan itu begitu manis. Begitu indah untuk dikenang kembali. Kenangan ibu ketika pertama kali bertemu dengan ayahmu pun tak akan pernah bisa ibu lupakan. Kenangan itu telah terbingkai pada hati ibu, Bintang.  Pada pikiran dan ingatan ibu.
Kamu tahu, Bintang? Perkenalan ibu dengan ayahmu di dapur umum. Ibu bertugas memasak dan menyediakan makanan untuk para pejuang. Dan salah satu pejuang itu adalah ayahmu. Ah, mata ayahmu bagaikan elang, Bintang. Dia selalu memperhatikan ibu. Ibu jadi salah tingkah dibuatnya. Ayahmu memang pejuang yang gagah berani, tak takut mati. Tapi dia takut pada perempuan, Bintang. Dia sangat pemalu, tapi ibu sangat memakluminya.
Ah, kurasa kamu tak perlu tahu, Bintang. Kalau ayahmu menyatakan cinta lewat seorang temannya, sebagai penghubung.  Ayahmu bukanlah seorang pengecut. Dia adalah seorang pejuang sejati yang gugur di medan pertempuran. Dan setelah itu ibu  juga menyambut cinta ayahmu. Beberapa bulan kemudian ayahmu melamar ibu, Bintang. Perkawinan kami  dalam suasana perjuangan. Sangat sederhana sekali. Perkawinan ibu dan ayahmu di antara desingan dan dentuman peluru dan bom. Dan dalam suasana itulah kamu lahir, Bintang. Suara-suara peluru dan bom-bom yang dijatuhkan dari pesawat tempur seakan turut menyambut kehadiranmu, anakku. Suara-suara merdeka bersamaan dengan jeritan tangismu. Jeritan tangismu nyaring, Bintang. Mengalahkan suara-suara peluru, suara-suara granat, suara-suara bom. Ayahmu senang sekali. Anak laki-lakinya telah lahir. Ah, kenangan itu terlalu manis dan tak sangup ibu melupakan itu semua.
Bintang… anak laki-laki ibu yang gagah, kamu merindukan ibumu saat ini, bukan? Kamu menyayangi ibumu, bukan? Pertempuran-pertempuran melawan penjajah terus berlangsung di mana-mana. Berjuang untuk kemerdekaan, bintang. Untuk kebebasan yang membelenggu diri kita. Tubuh-tubuh tanpa nyawa telah banyak bergelimpangan. Darah-darah ikut pula mewarnai kemerdekaan. Penjajah harus diusir kan, Bintang? Penjajah dalam bentuk apapun.
Tangisan-tangisan anak-anak yang kehilangan ayahnya sudah biasa terdengar dimana-mana. Nyawa-nyawa terasa begitu tak berharga. Penjajah memang kejam, Bintang. Apakah kamu tahu pertempuran di Surabaya, di Bandung, di Yogyakarta dan di kota-kota lainnya di Indonesia. Kamu masih ingat itu, Bintang. Kamu tahu artinya mayat-mayat itu, Bintang? Kamu tahu artinya tulang-tulang dan darah-darah itu, Bintang? Perang memang kejam, Bintang. Dia bisa menginjak-injak kepala kita. Memborgol tangan dan kaki kita hingga sulit bergerak. Hingga kita tak bisa berbuat apa-apa. Dan perang pula yang menghancurkan harapan-harapan kita. Bintang, anak ibu yang gagah. Ibu ingin mendekap dan mencium kamu saat ini.

***

BINTANG Margono sedang duduk di kursi dalam ruangan ber-AC. Dia menyandarkan kepalanya pada sandaran kursinya yang mewah. Dia menghisap kembali rokoknya. Dan asap kembali mengepul-ngepul. Dia memperbaiki dudukannya, perutnya yang buncit ikut bergerak dan kedua kakinya kini terletak di atas meja di hadapannya.
Kini kepalanya pusing. Baru kali ini dia tak bisa tidur. Biasanya jam-jam begini dia tidak berada lagi di sini, di kantornya. Kepalanya pusing, dia tersangkut masalah dengan seorang cukong kenalannya. Karena katebelece!  Bintang Margono. Kepala dia pusing tujuh keliling, kini. Biasanya, sebagai  seorang pejabat pemerintahan, Bintang Margono sering membuat pusing orang. Tapi kini dia pusing, jabatannya terancam. Jabatan, pangkat dan uang. Hanya itu sekarang yang ada dalam pikirannya. Tidak ibunya.

***
ANGIN malam yang membawa dingin merangkul wanita tua itu. Tapi dia tak perduli. Matanya yang kosong terus menatap kelangit, seolah-olah  Bintang Margono, anaknya berada di sana. Memang, saat itu lamunannya sedang bermain-main di sana.
“Bintang, anak ibu yang gagah…,” suaranya kini benar-benar keluar dari mulutnya.
“Ibu rindu akan semangatmu yang dulu. Ibu rindu pekik merdeka-mu dulu,” mata wanita yang lelah itu teru menatap ke langit. Hanya di langit ada cahaya. Malam yang pekat semakin pekat. Angin malam dan suara malam masih mencumbui dan bercanda dengannya.
“Apa kabarmu, Bintang?” suara wanita tua itu lagi. “Ibu rindu kamu. Ibu ingin memelukmu. O, ya Bintang. Bagaimana dengan cita-citamu, kamu ingin menjadi pembela yang lemah, kamu ingin membantu orang kecil? Bagaimana, Bintang? Apakah cita-citamu kini sudah berhasil?” suara wanita tua itu. Menggumam dia. Karena kerinduan seorang ibu?  “Bintang, anak ibu yang perkasa, kamu ingat ibumu bukan? Ibu yang melahirkan kamu. Ibu yang mencintai kamu. Oh, Bintang di mana pun kini kamu berada semoga kamu ingat ibu.”
Wanita tua itu masih di situ, di depan jendela yang menganga. Tak ingin sedikit pun dia beranjak dari situ. Tak ada tanda-tanda untuk beranjak.  Padahal angin malam bukanlah sahabat yang baik.

***
BINTANG Margono kembali menyulut rokoknya. Padahal di situ jelas-jelas ada tulisan, Dilarang Merokok. Tapi dia tak perduli, karena dia pimpinan kantor itu. Sehabis mengembuskan asap rokoknya, Bintang Margono tersenyum sendiri. Lalu dia mengangkat telepon. Mengapa harus pusing-pusing semuanya bisa diatur, pikirnya. Dia masih punya taring dan cakar. Dia masih menggunakan itu, mengapa harus pusing, pikirnya. Bukankah masih banyak kenalan-kenalannya. Sehabis menelepon, Bintang Margono kembali meletakkan horn telepon. Dia ingin pulang. Dia ingin tidur bersama istrinya. Yang cantik malam ini. Dia tidak ingin ke rumah Marsa Wulandari, sekretarisnya yang aduhai itu. Biarlah besok saja. Dia ingin mulai besok semuanya berjalan normal kembali. Menyulap uang kantor dan bercinta dengan Marsa Wulandari.
Sementara itu tak jauh dari rumahnya yang mewah ada lapangan tenis di samping rumah. Ada kolam renang di belakang rumah. Juga rumah-rumah yang lain. Di tambah dengan tiga mobil dan isi rumah yang wah! Sekitar tiga ratus meter dari rumahnya, seorang wanita tua masih melamun sendiri di depan jendela yang masih menganga. Terkadang dia tersenyum-senyum sendiri atau sebentar-sebentar dia menangis sendiri. Hampir tiap malam (kalau tidak ada suster rumah sakit jiwa itu) dia melamun di depan jendela itu. Di benaknya dia ingin (berharap) suatu saat sang anak, Bintang Margono, segera menjemputnya.
“Lho kok Ibu Pertiwi belum tidur?” seorang suster cukup manis mengagetkan dan membuyarkan lamunan wanita tua itu. “Ibu Pertiwi!” suster itu Nampak  marah, tapi hanya sebentar, lalu katanya, “Sersan Mayor Ibu Pertiwi Margono!” suster itu menegakkan badannya dengan sikap siap.
Dan wanita tua itu lalu berbalik dengan sikap siap pula.
“Sersan diharap tidur!” suara suster itu tegas.
“Siap! Merdeka!” wanita tua itu lalu pergi. “Merdeka!”  

***


H. Akhmad Zailani. Kelahiran Samarinda (Kaltim), 24 Pebruari.  Alumnus Fakultas Pertanian Universitas Mulawarman Samarinda ini pernah bekerja di sejumlah koran harian lokal dan nasional. Di sela-sela kegiatannya,  membuat sejumlah buku. Di antaranya, Wajah Parlemen Samarinda, Melawan Banjir di Kota Air, Bintang di Tengah Ladang (booklet), H Achmad Amins Membenahi Samarinda. Bersama wartawan  daerah dan koresponden media nasional, tulisannya dimuat di buku berjudul Gubernur Datang? Bawa Uang Nggak?. Sejumlah cerpennya juga dimuat di berbagai Koran, termasuk di Koran Harian Utusan Borneo, Sabah Malaysia.. Puisinya terhimpun dalam antologi puisi SINAR SIDDIQ yang diterbitkan sempena Mahrajan Persuratan dan Kesenian Islam Nusantara 2012 di Membakut Sabah pada 811 Februari 2012.
Lelaki yang mulai menulis sejak SD ini pernah menjuarai lomba di bidang kepenulisannya. Di antaranya (tahun 1990-an) Juara 1 Lomba Menulis Resensi Buku yang diselenggarakan Perpustakaan Kaltim, Juara 1 Lomba Penulisan Cerpen Daerah Kalimantan Timur yang diselenggarakan Dharma Wanita Kaltim, Juara 2 karya tulis populer yang diselenggarakan VICO Balikpapan, Juara II karya tulis BKKBN Kabupaten Kutai dan Juara II Lomba Penulisan Puisi Lingkungan Hidup yang diselenggarakan AMPI  Kaltim. Selain itu, cerpen Akhmad Zailani juga terhimpun dalam antologi cerpen jurnalis Kaltim, PARA LELAKI dan Kalimantan Timur dalam Cerpen Indonesia (editor Korrie Layun Rampan).
Pengalaman organisasi; Koordinator Divisi Komunikasi Publik DPC Partai Demokrat Kota Samarinda periode 20112015, Salah satu inisiator pembentukan DPW Partai Amanat Nasional (PAN) Kaltim – (tahun 1999), Badan Komunikasi Pemuda Masjid Indonesia (1993), Asosisiasi Kontraktor Seluruh Indonesia (AKSI) Kaltim – (2000 2002), Aliansi Jurnalis Indonesia (AJI) –  mengikuti Work Shop AJI di Jakarta (19992001), Direktur Lembaga Informasi Kerakyatan (LINK) – (2001sekarang), Ketua Umum FORKKOT (Forum Kepedulian Kota) Kalimantan Timur (2009sekarang), Wakil Ketua Bidang Komunikasi dan Informasi Ormas Nasional Demokrat (Nasdem) Samarinda – (2011 2015), Wakil Ketua DPD Partai Amanat Nasional Indonesia Kota Samarinda (2011 2015), Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) dengan penerbit Sultan Kaltim Utama (anggota Ikapi)  – (2010—2012),
Sejak kelas VI SD menulis puisi dan cerita anak-anak di Majalah Kuncung dan Bobo. Saat SMP kelas 3 hingga kuliah, beberapa cerpennya pernah dimuat di  Majalah Kawanku, majalah HAI, Aneka dan Anita Cemerlang, Koran manutung, Kaltim Post dan Koran Suara Kaltim (alm).
Tahun 1996 —1997 bekerja sebagai koresponden Majalah FAKTA Surabaya. Tahun 1997—2001 – wartawan Suara Kaltim. Tahun 2000—2001 – wartawan tabloid-harian Harian Kutai Baru. Tahun 2001—2005 – redaktur Koran harian Poskota Kaltim.Tahun 2003 – redaktur pelaksana Koran harian Kaltim Times. Tahun 2004- redaktur pelaksana Koran Harian Matahari Kaltim,Tahun 2001—2007 – pemimpin umum/pemimpin redaksi tabloid Pemkot Samarinda “ Habar Samarinda”  Tahun 2005—2006 – pemimpin umum/pemimpin redaksi majalah Metro.  Tahun 2005 – pemimpin umum/pemimpin redaksi tabloid Qolbu,Tahun 2006- pemimpin umum/pemimpin redaksi majalah Qalam. Tahun 2006 — 2007 – pemimpin umum/pemimpin redaksi majalah Suara Rakyat, antara tahun 2004 — 2008 menjadi pemimpin umum/pemimpin redaksi Tabloid Suara Hati, Tabloid Rakyat (Kaltim) Merdeka, Tabloid Info (media sosialisasi Dispenda Samarinda), media center Amins-Jaang periode 2000—2005 dan media center Amins-Jaang 2005—2010, direktur  media center Jaang-Nusyirwan periode 2010—2015, konsultan media pasangan Calon Bupati Kabupaten Nunukan  H Gusti Aseng-Asmah Gani 2000-2005 Pilkada Nunukan, konsultan media Cabub Naswin Datu Norbeck 2000—2005 Pilkada Berau. Hj Asmah Gani sekarang terpilih sebagai Wakil Bupati Nunukan periode 2011—2015 bersama Bupati M Basri.
Menulis puisi, cerpen dan cerita bersambung. Di antara cerita bersambung dimuat di Koran Harian Suara Kaltim, yaitu  Ah (1999),  Opera Pak Karto (1999) dan cerita silat politik Dinasti Su Hat Su (cerita tentang keadaan politik tahun 1998). Salah satu tulisannya, Mengungkap Bisnis Sampingan TNI-Polri, termasuk tulisan terbaik menurut penilaian National Democratic Institute (NDI) – tahun 1999.



Wednesday, December 26, 2018

Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 *



Nurel Javissyarqi **

Bangsa Indonesia merupakan salah satu bangsa terbesar di dunia, dalam dirinya terhimpun bersuku-suku, berbangsa-bangsa pun pelbagai bahasa (bahasa daerah) yang menghidupi cakrawala penalaran-kalbunya, demikian pula adat istiadat serta budayanya beragam melimpah dengan wewarna alam keindahan hayatnya. Namun barangkali, kita masih patut bersyukur atas datangnya gelombang penjajahan tempo dulu, (dari kata namun itu, senada esai saya yang bertitel “Indonesia Merangkak Menuju Matahari, di buku Trilogi Kesadaran, hal 6, PUstaka puJAngga, 2005) lantaran olehnya, kita dipersatukan di bawah arak-arakan awan nasib yang sama; takdir ketertindasan, perbudakan, pembuangan. Tapi alangkah sayang, meski pintu gerbang kemerdekaan telah terbuka, tidak lantas bisa lepas merdeka dari bekas tuan-tuan kita hingga sekarang, dikarena masih suka menggembol perasaan minder terlalu atau kepercayaan diri yang belum tegak berdiri kokoh di bumi pertiwi.

Adalah sangat baik sekaligus cantik, berbijak menimba pengetahuan dari berbagai belahan penjuru dunia, tapi setelah memperolehnya kerap kali lupa nilai-nilai luhur, mutiara kearifan agung yang mendenyut-nafaskan kebangsaan sejak jaman lama, sebagaimana prasasti-prasasti kuno yang diketemukan kemudian hari di bentangan peradaban Nusantara. Dan walau betapa mulianya nyanyian siur melambai riang anak-anak bumi putra, masih selalu diragukan kedudukannya, dengan berpaling terus menyerukan nada-nada suara asing mereka di telinga. Bukan hanya di situ, sejarah berdirinya kampus-kampus pertama di Indonesia, tidak dijadikan model rujukan demi perbaikan karakter generasi selanjutnya, malahan mengambil cara-cara yang dibuat bekas tuan-tuan kita, padahal sudah sampai pada titik menyadari yang dimaui mereka, namun tetap perasaan inferior menyudutkan diri ke ambang kematian semu, menjadi kembang bayang istilah Jawanya.

Akhir tahun ini menjelang 2019, Negara Kesatuan Republik Indonesia akan menggelar Pilihan Presiden beserta wakilnya, namun apa yang dihidangkan lima tahun sekali itu kepada rakyat jelata, menunjukkan semakin rapuhnya tali goni persaudaraan, persatuan; golongan-golongan itu par tai gurem pula besar, tidak lebih saling unjuk gigi demi memperebutkan kekuasaan, atau hampir semuanya dipastikan fanatik buta terhadap gerombolannya. Di saat itu bekas tuan-tuan kita sedang tertawa terbahak-bahak melihat mulut-mulut tersebut begitu lincah menyuarakan himne; humanisme, pruralisme, hak asasi manusia, dsb, hingga jauh melupakan bulir-bulir perolehan mulia dari nenek moyang, lantaran dianggapnya telah usang; tepo seliro, ewuh pakewuh, tenggang rasa, kasih sesama, bhineka tunggal ika, dst.

Menjelang hura-hura pesta pora PilPres, saya tidak menyebut pesta rakyat, apalagi menulisnya dengan huruf tebal, sebab di hadapan kami (putra-putri Indonesia), peristiwa itu sekadar menyuarakan nafsu kelompok, kepentingan sempit, pendek, sementara, seolah hukum rimba yang dijalankan. Padahal musibah bencana berkali-kali menegur lelangkah kita, dan keinsafan menjelma panggung tontonan, sandiwara, bahasa lain pencitraan. Kita seakan tidak mengenal tuhan lagi, karena sudah menuhankan kekuasaan, dan menjelma berhala-berlaha di layar televisi, pada puncaknya kekhilafan ucap dan perilaku ditampakkan para petinggi, yang otaknya sudah dicuci oleh bekas tuan-tuan. Lalu di atas pengetahuan yang telah terperoleh dari negeri bekas tuan-tuan kita (imperialis), sudah pandai berdialektika, bersilat lidah bermuka dua demi memenangkan pertarungan keserakahan, sambil terus melupakan hati tulus sebening embun di daun pagi.

Barangkali kita tengah memasuki jaman pancaroba penuh fitnah, lupa sanak-saudara kecuali yang sepaham hasrat-hasrat rendah, dan sejauh mata memandang bolehlah dipastikan lebih menderita terjajah sekarang, karena kian tumbuh suburnya bebentuk penghianatan; wabah koruptor merajalela tidak ditumpas dengan hukuman jerah, sehingga bertambah membiak mental-mental pecundang beranak-pinak. Tidak sampai di situ, kesengsaraan sebab mengkonsumsi gaya-gaya mereka, hingga muncullah kata-kata teroris, dan di antara kita sampai di ambang putus asa menjadi kambing hitam sesama, lalu oleh kesibukan saling sikut berebut kuasa, luputlah sudah tidak menjadikan perhatian atas temuan-temuan adi luhung dari anak-anak bumi putra. Mungkin di garis ini nilai-nilai ketimuran mulai memudar, jiwa-jiwa kesatria tergerus menghilang, yang tampak tinggallah dagelan rendah.

Sudah banyak kita memakan prodak-prodak turunan nalar mereka; demokrasi, sosialisme, marxisme, liberalisme, nasionalisme, dlsb, yang sesuai iklim tropis di bentangan zamrud khatulistiwa, bolehlah ditiup lembut angin segarnya, dan bayu keindahan pemikiran tersebut sudah disaring sebaik-baiknya oleh para tokoh perjuangan, Bung Hatta dan M. Yamin contohnya, namun kita seolah tidak ingin menjadi bangsa yang besar, lantaran tidak menghargai pengorbanan para pahlawan, ataukah sudah terserang racun kemalasan, lantas sekadar mengambil apa yang mudah dari jangkauan, yakni kekinian yang lepas dari akar pengabdian tulus kepada leluhur. Jangankan menghormati moyang, kasih sayang bagi anak-anak pun sebatas pandangan, atau kurangnya perhatian lebih, tepatnya tidak memiliki rasa pengorbanan demi kejayaan akan datang, semuanya dikeruk habis demi hawa nafsu sepintas nyawa di badan.

Menumpuknya hutang yang seakan tidak terbayar sampai tujuh turunan, merupakan strategi para bekas tuan-tuan kita di dalam menancapkan kuku-kuku tajam penjajahan, dengan gampangnya tergiur iming-iming kemudahan, gula-gula luaran dalam menjalani hidup disaat memenuhi kebutuhan, namun nyatanya seolah dikejar-kejar setan, karena sudah terlanjur larut ingin memenuhi desakan kebutuhan jasmani sampai luput menguri-uri ruhani. Bagaimana bisa beribadah khusyuk, mencari ilmu bersikap tawadhuk, jika impian sebatas materi, sebesar ketakutannya sendiri, sehingga tidak lagi sanggup memaknai indahnya daun-daun berdzikir, bunga-bunga menebarkan sholawat, karena batang-batangnya menderita oleh paku-paku yang menancapkan wajah-wajah para calon perusak bangsa. Yang tersisa dalam diri hanyalah keluguan semu, karena paras kelicikan sudah sedemikian rupa pura-pura begitu pintar mengadali sesama.

Sejarah juang demi perjuangan untuk memperjuangkan kemerdekaan tempo dulu di samping taktik strategi yang dikembangkannya, tidak menjadikan perhatian serius senantiasa giat mendalam-maknai bagi laluan berikutnya, sehingga kelicikan ado domba yang dilancarkan bekas tuan-tuan kita kian merusak kerukunan memecah belah, oleh di antara kita dengan bangga menjadi duta-duta wacana mereka, tubuh-tubuh sudah dicap besi panas pendidikan tinggi dengan gagahnya mengangkangi hasil-hasil ikhtiar para pejuang sendiri, misalkan tidak diperkenankannya mengambil rujukan dari tahun-tahun lawas, padahal seyogyanya masih patut menyinauhi jaman keemasan; bangunan percandian tegak berdiri, gunungan pesawahan menghampar luas dengan pola pengairan nan menyejukkan, kerajaan-kerajaan dari Sabang sampai Merauke sudi berdaulat ke dalam negeri tercinta Indonesia demi menekan timbulkan bibi-bibit pemberontakan, sehingga tidak terbelah bangsa-bangsa yang telah dipersatukan dalam himpunan besar bangsa Indonesia untuk merdeka sendiri-sendiri, dan atau gambaran perpecahan terjadi sebab ketidakmampuan mengolah hargai capaian luhur leluhur, di sisi nafsu seraka terhadap kekuasaan yang dipercayakan kepada para wakil kita yang nyata nalarnya sebatas umur jagung, yakni para petinggi yang selalu disibukkan merebut-langgengkan kekuasaan semata, lebih buruk lagi jika itu semacam arisan. Maka alangkah eloknya kita kembali menyuntuki ujaran salah satu santri Gebang Tinatar, Tegalsari, Ponorogo, muridnya Kyai Ageng Hasan Besari, HOS Cokroaminoto; Setinggi-tinggi ilmu, semurni-murni tauhid, sepintar-pintar siasat!

Maka semoga dengan kegiatan Andong Buku #3 kali ini lewat tajuk Sumilir, kesadaran terhadap pentingnya pendidikan (khazanah ilmu pengetahuan) seperti angin yang sumilir, laksana air jernih mengalir menyebarnya alam dunia perbukuan ke pelosok-pelosok negeri; menggalakkan terjemahan karya, berdiskudi atas karya-karya sendiri di setiap kesempatan, merenung dalam di pojok-pojok kesendirian dikala keluar-masukkan nafas-nafas bacaan sebagaimana kewajiban menyuntuki keilmuan hingga akhir hayat. Ini menjadikan pegangan serius sebagai tongkat estafet demi mengejar ketertinggalan dari bangsa-bangsa lain, dikarena “Buku bukan sekadar menyapa, tapi juga sarana berdialog dengan dunia” ***. Di sini janganlah menunjukkan satu-dua jari, tetapi mari kepalkan jemari tangan, agar jantung tetap berdegup kencang dengan tujuan besar memukul bekas tuan-tuan kita untuk masa kejayaan mendatang, Merdeka!

*) Orasi budaya dalam acara Andong Buku #3, tanggal 28—30 Desember 2018 di Bentara Budaya Yogyakarta, Jln. Suroto 2 Kotabaru, Gondokusuman, Yogyakarta. Catatan ini Insyaallah dibaca dalam Grand Opening, pukul 19:45 WIB sampai selesai.

**) Pengelana kelahiran Indonesia, Lamongan. Buku terbarunya: Edisi Revolusi dalam Kritik Sastra, Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia, Buku Pertama: Esai-esai Pelopor Pemberontakan Sejarah Kesusastraan Indonesia, Penerbit PUstaka puJAngga (PuJa), bekerjasama dengan Arti Bumi Intaran Yogyakarta, dan Sekolah Literasi Gratis STKIP PGRI Ponorogo, Cetakan I; Desember 2017, II; April 2018.

***) Motto PuJa (PUstaka puJAngga).


Sumber: http://pustakapujangga.com/2018/12/orasi-budaya-akhir-tahun-2018/



Monday, December 24, 2018

LEGENDA AWI TADUNG DAN ULAR BUNTUNG



Oleh Tajuddin Noor Ganie

Pada zaman dahulu kala di kaki Pegunungan Maratus, tepatnya di Desa Haratai, hiduplah seorang pemuda bernama Awi Tadung (22 tahun) yang bertugas sebagai petugas pemelihara keamanan lingkungan.
Awi Tadung orangnya sakti mandraguna sehingga tidak ada orang jahat yang berani mengganggu keamanan lingkungan di Desa Haratai. Penjahat yang nekat berbuat jahat di wilayah yang menjadi tanggung-jawabnya itu akan dihajar tanpa ampun oleh Awi Tadung.  
Nama asli Awi Tadung adalah Awirusan. Nama atau lebih tepatnya gelar Awi Tadung diberikan orang kepadanya karena Awirusan memiliki seekor ular yang selalu melilit di pergelangan tangan kirinya. Ular dimaksud warnanya hitam legam dan merupakan jenis ular berbisa yang terkenal paling ganas. Di kalangan warga setempat, ular jenis ini disebut dengan nama tadung mura (ular kobra jenis naja). Tapi yang lebih unik lagi ular yang melilit di tangan kiri Awi Tadung ini bukanlah ular biasa, tapi adalah ular buntung (ular yang tidak mempunyai ekor).
Ular buntung ini sangat setia kepada Awi Tadung. Konon, ular buntung dimaksud akan langsung bereaksi keras jika mendengar Awi Tadung bertengkar dengan orang lain. Setiap kali mendengar Awi Tadung bertengkar dengan orang lain, maka hampir bisa dipastikan lawan bertengkar Awi Tadung itu akan tewas secara mengenaskan.
Tubuh korbannya akan berwarna hitam legam dan  dipenuhi  dengan bekas gigitan ular berbisa. Memang, setiap kali bertengkar dengan orang lain, Awi Tadung selalu memerintahkan ular buntungnya untuk membinasakan musuhnya itu. Tugas mematuk musuh Awi Tadung itu dikerjakan oleh ular buntung pada malam hari, yakni ketika yang bersangkutan tertidur lelap di rumahnya.
Suatu hal yang mengerikan, pembunuhan atas musuh Awi Tadung dimaksud tidak hanya dilakukan oleh ular buntung itu sendiri, tetapi dilakukannya bersama-sama dengan puluhan ekor ular lainnya. Terkesan dengan keganasan ular buntung peliharaan Awi Tadung dalam membunuh musuh-musuhnya itulah, maka Pan Mapaun selaku Damang atau kepala adat di desa Haratai menugaskan Awi Tadung dan ular buntung sebagai petugas pemelihara keamanan lingkungan di Desa Haratai. Tugas tersebut dijalankan dengan baik oleh ular buntung dan kawan-kawannya sesama ular yang tinggal di Hutan Rumbia di dekat rumah Awi Tadung.
Sudah tidak terbilang lagi berapa jumlah orang jahat yang tewas dipatuk ular berbisa ketika mencoba menyusup memasuki Desa Haratai. Awi Tadung dan ular buntung sesungguhnya bersaudara kembar. Keduanya sama-sama dilahirkan oleh Umbu Kitai, seorang wanita warga kampung setempat. Ayah Awi Tadung adalah seorang petani yang banyak memiliki tanah persawahan dan perkebunan di Haratai. Namanya Abah Kitai.
Ketika Awi Tadung dan ular buntung dilahirkan, bidan kampung yang menolong persalinannya langsung pingsan begitu melihat Umbu Kitai melahirkan seorang anak manusia dan seekor ular hitam. Abah Kitai dan Umbu Kitai juga sempat terpana beberapa saat karenanya.
“Sabarlah, Bu. Mungkin sudah takdir kita berdua mempunyai anak seekor ular. Sebaiknya kita ambil hikmahnya saja, Bu,” ujar Abah Kita mencoba menyabarkan perasaan istrinya.
Ringkas cerita, Abah Kitai dan Umbu Kitai kemudian memberi nama Awirusan untuk anaknya yang berwujud manusia dan Awirusin untuk anaknya yang berwujud ular hitam. Tapi, di kemudian hari orang lebih mengenal Awirusan sebagai Awi Tadung dan Awirusin sebagai  ular buntung. Hari demi hari berlalu, Awi Tadung dan kembarannya ular hitam tumbuh dewasa secara bersama-sama di rumah yang sama pula.
Sesuai dengan kodrat dan wujudnya masing-masing, maka bila Awi Tadung tidur di tilam, maka ular hitam kembarannya lebih suka tidur di dalam pedaringan beras. Kebiasaan ular hitam yang demikian itu sering membuat Umbu Kitai jengkel. Setiap kali Umbu Kitai mengambil beras di pedaringan, tangannya selalu dipatuk oleh anaknya ular hitam. Saking kagetnya, tidak jarang Umbu Kitai yang latah itu terpekik berlama-lama karena ulah nakal anaknya sendiri. Ular hitam anaknya itu agaknya suka sekali bercanda dengan ibunya dengan cara seperti itu. Tidak hanya Umbu Kitai yang jengkel dengan ulah ular hitam yang demikian itu. Abah Kitai juga demikian. Hingga pada suatu pagi, Umbu Kitai kembali mengambil beras untuk ditanak, ketika itulah tangannya kembali dipatuk ular hitam. Umbu Kitai terpekik. Entah bagaimana, Abah Kitai yang mendengar pekikan kaget istrinya itu, langsung meradang  saking marahnya.
Tanpa pikir panjang lagi orang tua itu dengan refleks meraih mandau (sejenis parang) dan cras langsung menetakkannya ke arah ular hitam. Untunglah, ular hitam tidak tewas terkena tetakan mandau itu, karena tetakan itu cuma mengenai ekornya. Sejak kejadian itu ular hitam tidak lagi tinggal di rumah bersama-sama dengan ayah, ibu dan saudara kembarnya. Ia tinggal di Hutan Rumbia tak jauh dari rumahnya.
Ternyata, di tempat tinggalnya yang baru ini ular hitam berhasil menempatkan dirinya sebagai pimpinan komunitas ular. Namun, beberapa tahun kemudian ia datang berkunjung ke rumah orang tuanya, ketika itulah Abah Kitai dan Umbu Kitai mengetahui jika ular hitam anaknya itu sudah  tidak memiliki ekor lagi akibat terkena tetakan mandau ayahnya sendiri. Abah Kitai sempat meneteskan air mata karena menyesali perbuatannya puluhan tahun yang silam. Tapi apa hendak dikata semuanya itu telah terjadi dan tak mungkin diperbaiki lagi. Sejak itulah ular hitam itu dikenal sebagai ular buntung. Sejak itu pula, ular buntung tidak lagi tinggal di Hutan Rumbia tapi kembali tinggal di rumah orang tuanya.
Setiap hari ia selalu berada di sekitar Awirusan saudara kembarnya yang berwujud manusia. Awirusan sendiri sangat sayang dengan Awirusin, ke mana-mana selalu dibawanya dengan cara dililitkannya di tangan kirinya.

Berminat membaca kisah-kisah lainnya dalam buku Awi Tadung dan Ular Buntung? Silakan pesan sekarang.  






Friday, December 21, 2018

Puisi-Puisi Rusdi Fauzi





Rohingnya  Terluka: “Air Mata Dunia”                    

Amarah Myanmar membara Rohingya terluka
kenapa harus ada duka, siksa dan angkara murka
di Tanah yang katanya penuh welas asih sesama
hati manusia-manusia tertuba ganas bagai serigala

Hanya karena adanya beda kepercayaan dan keyakinan
mereka dibantai dengan mengatasnamakan kesucian
mereka disiksa bagai gerombolan anjing-anjing kudisan
sungguh kekejaman yang dipoles dengan beribu alasan

Tua, muda,anak-anak telah dianiaya dengan bengisnya
bagai satwa haram yang tiada diperkenankan di negeri itu
mereka dibantai bagai hama-hama yang tiada berguna
mereka dihina laksana kotoran najis sampah negaranya

Hingga mereka terkatung-katung antara hidup dan mati
dengan bekal seadanya mencoba menyelamatkan dirinya
meninggalkan tanah, rumah dan harta bendanya di sana
meninggalkan jenazah-jenazah hasil siksa angkara murka

Dalam tempat pengasingan mereka menunggu belas kasih
menanti  tali kasih orang-orang yang punya hati nurani
menanti usapan ramah dunia pada nasib malang mereka
menanti tangan saudara sekeyakinan dan kepercayaannya.

Barabai, 22/05/2015



Kenangan Duka di Bukit Benawa                     

Ilalang kecil menangis di padang gersang
rembulan pucat meradang di setiap pandang
langit mendung di sepanjang jalanan berbatu
menemani tapak langkah yang telah terbuang

Di bukit nan penuh kesunyian kupijakkan kaki
di atas tanah merah yang basah sehabis gerimis
kutatap ranah-ranah hijau memukau tak bertuan
sedari dahulu selalu begitu-begitu saja adanya

Saat kucoba meneriakkan namamu berulang-ulang
karena bukankah kita telah janji bertemu di sini
berbincang tentang pucuk-pucuk tunas hijau merona
hingga kita tak sampai hati untuk segera memetiknya

Aku masih setia dan masih menunggumu di sini
bersama burung yang tak henti bernyanyi-nyanyi
bersama rintik hujan yang masih menyisakan duka
kumasih sendiri merenung bagai batu-batu gunung

Karena aku telah lelah menunggu kedatanganmu di sini
kuayun langkahku menuruni jalan setapak berbatu-batu
melintasi rumahmu janur kuning telah menghias indah
sebagai penanda janji-janji setiamu telah tergadai dusta.

Barabai, 22-05-2015



Di Ujung Embusan Napas Terakhir                              

Langit membiaskan warna kelam
hentakkan napas tersendat pilu
di ujung senyuman yang  terakhir
tiada sempat mengurai amanat
senyum di bibir mata terpejam
tangis membayang wajah kelam

Elmaut datang tanpa berbilang
tiada guna jeritan dan air mata
desah napas semakin memberat
terlihat wajah-wajah kesedihan
terpejam mata seakan terlena
wajah berseri seakan bermimpi

Gerimis sedih mengantar duka
menghujam rasa belasungkawa
menikam pedih dalam jiwa lara
kelopak mata merinai tangisan
jasad terbujur kaku sepi sendiri
berselimut selembar kain kafan

Berbekal amalan dan keyakinan
yang menerangi di dalam pusara
diam damai menunggu sengkala
makam kembali sunyi dan hampa
senja merinai gerimis membasah
pelawat kembali bersama doa-doa.

Barabai, 09-02-2015



Sungai Batu Benawa                                    

Di keruh permukaanmu namun nampak tenang
berhias batu-batu dan lanting penambang pasir
dan deretan joran pancing pemburu ikan-ikan
menanti sentuhan selera ikan penghuni sungai

Kecipak joran penanjak nyanyikan lagu syahdu
tembang sungai Benawa yang merdu mendayu
iringi getaran dawai pucuk bambu merayu kalbu
hamparkan kesejukan dan keindahan dalam rindu

Di sela batu-batu air mengalir menjelma lukisan
simpan legenda yang penuh kedukaan dan air mata
tentang cinta kasih yang berakhir dengan kutukan
berabad sudah hingga kini masih mengalir ceritanya

Basah tubuh-tubuh penambang pasir Sungai Benawa
dan banyaknya pelancong bertamasya ria di sana
gambarkan geliat tubuh Batu Benawa masihlah ada
menghias benua dengan legenda dan pesona indahnya

Sungai Benawa sungai nan penuh beribu kenangan
dari dahulu hingga hari, minggu, bulan, tahun berganti
seakan tak hampa dengan segala decak kekaguman
menyimpan misteri keindahan dan legenda masa lalu.

Barabai,13-05-2015



Keindahan di Ujung Benua                         

Kicau burung terdengar merdu
penanda hari datang silih berganti
Indahnya alam memesona rasa
seakan dunia menjadi kekal abadi

Terhanyut dibuai semua keindahan
dengan rasa bahagia penuh rahasia
menyatu dalam damai ujung harapan
rasa melayang-layang di khayangan      ,

Duhai semua keindahan yang ada
hadirlah nyata di setiap waktu
menghiasi sudut-sudut jiwa raga
dengan tarian warna penuh pesona

Desiran angin yang membelai damba
dan pepohonan yang menari riang
berpadu indah bunga-bunga berseri
laksana taman firdaus di dunia fana

Keindahan yang maha sempurna
selalu membuat hati kagum terpana
namun kita harus merawat alamnya
agar semua keindahan abadi selamanya.

Barabai, 26-03-2015



Burung-Burung Kerinduan


Tarian aksara cinta bersenandung lagu rindu
terpetik dawai-dawai melodi hati mendayu
pelepas belenggu kerinduan dalam penantian
pada letih haru biru perjalanan kasih sayang

Wahai angin bawalah angan dan lagu rinduku
untuk seseorang yang menungguku di sana
karena aku merindukan senyum manisnya
hingga kuingin selalu berada di sisinya

Duhai burung pembawa warta cinta
temani aku bernyanyi dan menari
biar sempurna hari-hari bahagia
dalam irama hati dan jiwa pencinta

Burung-burung bernyanyi riang
jangan engkau sembunyikan kicaumu
menarilah dalam keindahan rasa
sampai tiba cinta abadi di dalam hati.

Barabai,15-01-2015



Munajat Kerinduan                            

Kubuka jendela berbingkai kaca
menatap megahnya angkasa raya
mengawang awan putih merona
sungguh terpesona aku dibuatnya

Terpancar terang fatamorgana langit
semburat cahaya indah bulan purnama
menambah syahdunya ujung malamku
saat hatiku merindukan kehadiranmu

Bulan tersenyum menyentuh jiwa
rindu tergantung dalam angan-angan
menggamit seluruh rasa yang tersisa
karena akulah si perindu di ujung sepi.

Barabai, 01-01-2014



Munajat Diri         

Kusendiri di jalan sepi tak ingat jalan pulang
senja terlalu cepat menua di kejar kelam
bersama ilalang tengah padang membisu
yang terhanyut dalam kesepian hari berlalu

Langkah terayun pilu tak searah mata angin
tak lagi bersitatap ke kutub harapan jiwa
hingga beribu makna bertebaran di langit malam
terpendar dan terserak di bibir-bibir  peradaban

Kumulai kembali membaca lembar penuh risalah diri
yang mulai tergerus dan bimbang dalam keheningan
seakan merebak wewangian sorgawi di ujung mimpi
dan mencoba bersuci pada setiap langkah ukhrawi

Kusendiri melangkahi sepi yang tiada berbatas
merangkai harapan yang membuai sisi kalbu
sayup bagai khayalan semata membuai damba
kuterawang pelangi ragu yang menjelma debu

Sendiri di jalan ini mencoba menata langkah diri
seakan semua keinginan mati dalam hati nurani
kuhanya mencoba mengarungi cerita duniawi
sampai waktunya berpulang ke negeri yang abadi.

Barabai, 06-01-2015




Rusdi Fauzi dikenal sebagai salah seorang sastrawan dari Kalimantan Selatan. Ia kelahiran Barabai pada  tanggal 11 Agustus 1971. Selain menulis, ia juga aktif sebagai pelatih tari tradisional dan penyanyi lagu-lagu Banjar. Rusdi Fauzi hingga kini tercatat sebagai pengurus dan anggota berbagai sanggar seni dan budaya Kabupaten Hulu Sungai Tengah di antaranya sanggar Tari MELATI (1980), sanggar Musik MERATUS (1991), Sanggar Sastra LALAYA (2013) dan tercatat sebagai pendiri cikal bakal Lapak Seni Dan Sastra Dwi Warna Kabupaten Hulu Sungai Tengah.

Karya-karyanya pernah di muat dalam Antologi Puisi ASKS X di Banjarbaru dan Antologi Puisi ASKS XI di Tapin/Rantau, Suara 5 Negara (Kumpulan Puisi Penyair Lima Negara), Nyanyian Kacincirak (Antologi 6 Penyair Hulu Sungai Tengah/2015). Rusdi Fauzi mempersiapkan buku antologi Haiku pribadinya yang berjudul Aksara Yang Terlarung Di Sungai Mimpi.

Sumber foto: www.fixabay.com (gratis)

Wednesday, December 19, 2018

Yusuf Zulaikha, Novel Terbaru Abidah El Khalieqy


Zulaikha sedang bahagia. Tapi karena pria lain yang bukan suaminya. Dia berusaha menamai rasa ini dengan ‘persahabatan yang nyaman’. Meski hatinya tahu ini cinta yang baru.

Yusuf sudah berusaha, sekuat tenaga menolak pesona Zulaikha. Dia tahu perasaannya ini salah. Namun, seberapa jauh dia bisa mencegah hatinya?

Ini tentang cinta yang terlambat. Kisah yang terulang dan bangkit dari masa lalu nun jauh di negeri padang pasir. Ini tentang dua insan yang harus rela saling melepas atas nama cinta kepada Sang Pencipta.



Demikianlah gambaran umum novel karya Abidah yang merupakan salah seorang sastrawan terkemuka Indonesia ini.

Dalam akun media sosialnya, dia bersyukur, “Alhamdulillah, setelah dua tahun me'rahimi'-nya, setelah perjalanan melelahkan dan pendakian 'wahnan 'ala wahnin' (duka di atas derita), akhirnya lahir sudah buku yang dinanti-nanti, Yusuf Zulaikha. Kado wangi bagi anak zaman yang tandus akan ruh cinta.”

Novel ini masih dalam masa PO spesial di beberapa toko daring, yakni bukubuku.com, bukukita.com, bukuku.id, mizanstore, bukubukularis, tukugan, dan serbaserbi.    



Tuesday, December 18, 2018

SELAT BOSPHORUS, Sebuah Cerpen Ewin Adhia


Tahun 1998 adalah tahun yang sulit. Sering hanya acar tomat yang menemani nasi di piringku. Atau terasi yang kubikin penyedap rasa nasi gorengku. Usia terasiku berusia  setahun lebih. Tersisa di kotak bekal karena aku tak pernah suka. Saat krismon melanda, terasi dan minyak panas adalah sahabat nasi. Bawang bombai pernah ikut  sobatan  saat seseorang menyelipkan puluhan pound di saku celanaku sepulang shalat subuh di Masjid Rab’ah.
Aku lebih sering bikin cacapan asam untuk menemani nasi. Sejak ikan asin terhitung barang impor yang mewah, cacapan asam itu langsung kucampur nasi. Akan tetapi, kemiskinan  tidak sedikitpun membuat sedih.
Tahun itu juga aku mengenal keluarga Oslo dan keluarga Batur, dua keluarga Turki yang membuat kemiskinan tidak terasa. Batur sering datang membawa beras beserta makaroni, ayam, telur, suguk, burger, sayuran dan apa saja yang disukai mahasiswa Indonesia. Batur tak hanya membawa berkah bagiku tapi juga teman-teman seapartemenku. Adapun keluarga Oslo adalah tempatku merasakan kehangatan keluarga—malas-malasan di sofa sambil membaca, main monopoli, nonton TV, makan siang atau malam dalam menu Turki rumahan, atau sekedar bercanda tawa dengan kedua gadis Oslo.
Suasana rumahan yang menyenangkan itu terus berlanjut walaupun salah satu gadis Oslo kembali ke Negaranya.
Keadaan mulai rumit saat Anas Oslo memintaku ke Istanbul untuk diajarinya berdagang—lebih tepatnya menyelundupkan dagangan Anas dari Istanbul ke Kairo.
Dagangan itu sangatlah indah, tipis dan ringan—lebih kecil dari korek api bila dilipat. Seransel dagangan itu akan bernilai ratusan dolar yang akan menjadi ribuan dolar bila dijual di Kairo.
Aku selalu tinggal beberapa hari di Istanbul atau Bursa menemaninya belanja. Kadang bertiga Janan, kadang hanya berdua Anas atau berdua Janan. Kemudian aku dan Anas kembali terbang ke Kairo, membagikan jilbab-jilbab sutra itu di toko-toko Abbasiyyah, Heliopolis, Mohandessen sampai Alexandria, dan Mansoura. Kemudian aku serius belajar sampai saatnya memunguti tagihan lalu terbang lagi ke Istanbul.
Cerita ini terjadi pada kedatanganku ke tiga. Aku berdiri di atas Bosphorus membelakangi Haigha Sophia dan Mesjid Biru, memandangi Kiz Kulesi dari pelatarannya. Maiden Tower, Arcla, Little Castle, Menara perawan dalam bahasaku sendiri. Menurutku nama itu sangat mewakili keindahan dan kesunyian tempat ini—dulu aku mengira tempat ini hanyalah gazebo cantik yang dibangun di atas karang di tengah Bosphorus.
Sehabis sembahyang Magrib di Masjid Ortakoy aku ditawari ke sini oleh pemilik kapal yang sembahyang Magrib bersamaku.
Ternyata tempat ini adalah bangunan abad pertengahan dari batu yang seperempatnya dibikin tiga tingkat, membuatnya terlihat bagai menara. Dan aku menelpon Janan agar menyusulku ke sini.
Buyrun efendim. Onluk Dakika.” Dia menjawab dengan suara agak paraunya yang seksi dan penuh—Seperti bila kau minum vegeta. Kalimat itu secara harfiah berarti “Baiklah tuanku, 10 menit lagi.” Tapi saat itu terdengar dari mulut Janan, aku mengira diriku adalah Sulaiman Alqanuni karena dia hampir selalu mengucapkan “efendim” dengan sedikit anggukan dan tatapan menyerah, dan caranya mengucapkan Ü mengharuskanku membuang muka karena pernah membuat insomnia. 
Aku memutar tubuh membelakangi Kiz Kulesi. Matahari tenggelam sepenuhnya di laut Marmara. Yang tersisa darinya hanya langit kemerahan di atas Haigha Sophia. Lampu-lampu sorot membuatnya terkesan agung. Masjid biru di sebelahnya tampak cemerlang, gagah dan rupawan.
Kupandangi lautan yang gelap. Lampu-lampu di sekitar Bosphorus tampak menari di dalamnya. Sekilas yang mengalir di selat itu bukanlah air tetapi minyak, karena tarian lampu-lampu bergerak lambat.
Kapal-kapal kecil yang singgah dan pergi, tak satupun terlepas dari perhatianku. Sebenarnya aku menyesal menelpon Janan. Terus terang aku merasa salah tiap  hanya berdua dengannya. Kondisi seperti ini hanya terjadi bila kau sangat  sadar akan berbuat dosa namun sukarela larut di dalamnya. Mungkin dosa itu hanyalah tatapan tetapi dosa adalah dosa. Bila jantungku diukur dengan seismometer dan degup jantungku saat memandangnya sama banyak dengan dosaku, entah berapa meter kertas yang keluar dari alat pencatat getaran itu. Dan aku menyerah dalam zona persahabatan yang makin kacau ini.
Kumasukkan tangan ke saku jaket. Adidas. Berwarna biru dengan 2 strip putih di bagian lengan. Sebuah perahu lain mendekat, kuperiksa hpku, itu Janan. Dia sangat presisi dalam urusan waktu. Mungkin semua orang Turki begitu. Mungkin semua bangsa kecuali Banjar yang terbawa-bawa kebiasaan Indonesia.
Itu dia! Aku menjerit di dalam hati. Janan melambai ceria. Bila tidak dipegangi ibu-ibu di sebelahku, mungkin aku sudah tercebur dalam Bosphorus saking senangnya—saat itu sepatuku sudah keluar setengah dari pelataran Kiz kulesi.
“Andunisi!” Jeritnya setelah perahunya merapat sempurna, dia melompat dengan tangan terpentang. Tidak seperti keluarga Batur yang syari’, gadis-gadis Oslo sangatlah liberal. Seperti biasa aku menyambutnya serba salah untuk kemudian menyentuhkan pipiku pada pipinya.
 “Dalam rangka apa mengundangku ke sini?” Tanyanya dengan senyuman lebar, tempat ini hilang indahnya demi senyuman itu.
“Aku…,” seperti biasa aku gagap bila bersamanya. Sebenarnya karena aku baru tahu ini restoran tapi…, apa salahnya makan bersama?
“Kamu ingin melamarku?” Dia menyelaku tanpa merasa bersalah. Seolah itu bukan sesuatu yang mengubah garis hidup seorang pemuda dan parahnya aku tak pernah berfikir sejauh itu. Umurku baru 21 dan dia 18-an.
, “…aku punya versiku sendiri tentang Kiz Kulesi yang ingin kuceritakan padamu.” Akhirnya aku berkesempatan meneruskan kalimatku tadi.
“Ceritakan!” Katanya cepat.
“Mungkin sambil duduk.”
“Andunisi!” Dia berseru gembira lalu memeluk lenganku. Janan kemudian berjalan riang seperti gadis bertudung merah yang belum tahu neneknya sudah dimakan serigala.
Kami melangkah menuju restoran dan aku kesulitan berjalan karena dia menyandari bahuku sambil melangkah. Setelah melewati pintu restoran, kami terpaku melihat meja-meja di sana terisi penuh. Pelayan menyilakan kami naik ke lantai dua dan menunjukkan meja pesananku. Meja-meja di lantai dua lebih personal, menjanjikan kami sedikit privasi.
Suara langkah kami teredam karpet tebal. Lantai dari kayu ini adalah konstruksi tambahan di samping ruangan yang terlihat seperti menara.
“Ceritakan versimu!” Katanya setelah duduk.
Aku terdiam. Aku selalu butuh waktu mengagumi bibirnya yang seperti pulau di tengah lautan—pulau kecil yang dilihat dari kejauhan dan lautan tenang seperti yang mengitari Angsana, Derawan dan Raja Ampat. “Begini,” kataku setelah berhasil mendamaikan jantungku, “waktu Benua Atlantis belum tenggelam—,” Janan menyelaku dengan mengangkat lima jarinya, “Ini tentang Kiz kulesi, kan?” 
Aku mengangguk, Janan tidak menurunkan tangan, hanya mengerutkan kening, menatapku tajam hingga menembus mata dan menyelidiki isi otakku.
“Terlalu jau… terlalu ngga nyambung.” Dia menggeleng setelah berpikir beberapa menit.
“Biar kuteruskan….” Protesku.
“…biar aku yang meneruskan.” Katanya. “Arcla didirikan pada abad lebih baru. Waktu itu yang tersisa dari Atlantis hanyalah sebuah pulau,” Janan seperti berfikir keras, “…Borneo, pulau itu namanya Borneo. Rajanya sangat berambisi meluaskan kekuasaan sampai Aegea, Mediterania dan Marmara.” Aku mengangkat alis, Janan terus bicara, “dia pemalu tapi kejam. Sparta dibumihanguskan dalam tiga hari, Troya—Priam dicincangnya, Hector tumpas lebih dulu dengan satu lemparan lembing dan Athena rata dengan tanah.”
“Siapa nama raja itu?” Tanyaku antara penasaran dan ingin tertawa melihatnya mengada-ada penuh semangat.
“Namanya tidak penting. Raja itu menaklukkan Anatolia dan merampas putri tercantiknya, nama putri itu…,”
“Jeanett.” Aku menyela, “bentuk singular dari Janan dalam bahasa Arab.” kutekankan penamaan itu dengan pandangan mengintimidasi.
“Jeanet.” Janan menyerah dan tertawa kecil, “gadis yang kecantikannya membuat surga menjadi murung.”  
“Dan Jeanet membuatku lapar karena ceritanya.” Timpalku.
Janan tertawa, memanggil pelayan lalu berceloteh dalam bahasa Turki dengannya. Pelayan minta diri, kami kembali berdebat tentang akhir cerita itu dan berakhir dengan….
“Kenapa Jeanet harus mati dipatuk ular?”  Bibir Janan melipat menyesali penutup karangannya sendiri.
“Kalau begitu, dengarkan versiku.” Jawabku,  aku memeras otak mencari sambungan ceritanya. “Raja tanpa nama itu mengurung Jeanet di menara ini hanya sementara menyelesaikan istana baginya di Borneo.”
“Raja itu bukannya tanpa nama tapi jelek. Terdengar seperti kimia terlarang di telingaku.” Sahutnya, “Kamu tahu, Anatolia yang kalah meminta bantuan dari Sardinia untuk menyerang balik Borneo.”
“Dan cintanya pada Putri Anatolia membuat Borneo tumpas.” Aku berkata pasrah.
“Raja itu pengecut dan peragu.” Timpal Janan.
“Lengkap. Pendiam, pengecut dan peragu. Sama sekali bukan raja.”
“Bukan Raja, mungkin hanya pecinta.”
Kami terdiam, aku berdiri meninggalkan meja, berhenti pada jendela yang menghadap Eropa, memandang kosong pada lampu-lampu Kabatas. Janan memandang hampa ke arah Sacak lewat jendela yang menghadap Asia.
Yemek hazir. Madam, efendimiz.” Pelayan memecah kebisuan, di tangannya ada sebuah bokor penuh bola-bola berduri yang membuat kami kembali duduk. Janan tersenyum-senyum menatapku dan aku mengimbanginya.
Di samping bokor itu ada semangkuk sup sangat kental dan sepiring kecil udang rebus.
“Apa…,” aku ingin bertanya tapi digagalkan Janan dengan tatapannya. Dia melindungi tangannya dengan serbet lalu hati-hati memungut sebutir bola berduri, membuka bagian atas yang rupanya sudah dipotong lalu mengisinya dengan sup kental.
“Yang ini lentera Aristoteles.” Katanya, sesuatu berpindah dari sendok di tangannya ke mulutku, gurih yang ganjil, pedas dan berkrim. “Yang ini caviar landak laut.”
Janan tertawa-tawa melihat ekspresiku mencicipi menu pilihannya. Dia sendiri memasukkan beberapa potong udang dalam cangkang yang berisi krim itu lalu memakannya.
Kejadian itu berulang, dia mengambil landak laut baru, membuka, memasukkan jeroannya ke mulutku setelah menambahkan sup dan udang rebus ke mulutnya.


Bagi yang berminat menikmati cerita-cerita lainnya dari penulis ini, silakan baca langsung buku  Dari Warung Jablai ke Selat Bosphorus (klik judul)