Monday, September 21, 2020

Ada yang Menarik dari Seri Televisi Backstreet Rookie, Apakah Sule Ikut Beradu Akting di Dalamnya?



Seri televisi Korea Selatan dikenal sebagian warga Indonesia dengan akronim "drakor" yakni drama Korea (Selatan) atau K-drama. Bukan hanya di kalangan muda-mudi yang menggemari jenis tayangan televisi itu. Orang-orang dewasa juga larut dalam jalinan cerita yang memang diakui sarat dengan kualitas tinggi.

Wajar saja seperti itu karena biaya yang mereka keluarkan pun untuk memproduksi seri-seri televisi tersebut tidaklah sedikit. Nah, dari sekian drakor yang sudah tayang, ada satu yang agaknya sedikit berbeda. 

Di mana letak "beda" yang ada? 

Adalah "Backstreet Rookie". Seri televisi Korea Selatan tahun 2020 ini seperti drama lainnya dibintangi aktor dan aktris yang rupawan. Sebutlah pemeran utamanya dibintangi oleh Ji Chang-wook, Kim Yoo-jung, Han Sun-hwa, dan Do Sang-woo.

Secara garis besar drama ini mengisahkan Choi Dae-hyun, seorang pria berusia 29 tahun, yang memiliki wajah tampan, tapi ceroboh. Setelah mengundurkan diri dari tempat kerjanya untuk melindungi kekasihnya, ia memutuskan untuk menjalankan bisnis sebuah toko serba ada. Dalam menjalankan bisnisnya itu ia dibantu keluarga dan teman-temannya, terutama Jung Saet-byul yang telah jatuh hati padanya sejak lama. 

Meski begitu, drama yang diadaptasi dari webtoon tahun 2016–2017 berjudul "Convenience Store Saet-byul" karya Hwalhwasan dan diilustrasikan oleh Geumsagong ini menghadirkan salah seorang tokoh unik. 

Siapakah itu? 

Ia bernama Han Dal-sik yang diperankan Eum Moon-suk. Tokoh ini merupakan teman dekat Choi Dae-hyun (tokoh sentral). Dirinya seorang penulis dan ilustrator webtoon. Tokoh ini unik karena agak berbeda dari orang Korea kebanyakan. Digambarkan, kulitnya sawo matang, berkacmata, dan rambutnya bergagaya dreadlock atau gimbal khas pemusik reggae dari Jamaika. 

Selain itu, karakter yang satu ini sangat mirip dengan pelawak Indonesia, Sule. Ya, baik dari wajah, maupun tingkah lucunya.

Berikut video yang menggambarkan kemiripan Dal-sik dan Sule.



Seperti diketahui Entis Sutisna adalah pelawak, pembawa acara, penyanyi, dan aktor berkebangsaan Indonesia. Sosok ini bisa jadi menjadi inspirasi bagi pelaku seni Korea Selatan dalam proses penyajian tokoh Han Dal-sik.


Saturday, September 19, 2020

Lahan Sempit? Yuk, Bercocok Tanam!



Lahan sempit sering menjadi alasan paling mudah untuk mengatakan, "Sayang sekali lahanku sempit sehingga tidak bisa bercocok tanam." Lalu diiringi wajah sedih atau setidaknya sedikit murung.

Alasan demikian samgatlah masuk akal. Dan memang faktanya bumi sudah banyak kehilangan lahan subur. Penyebabnya bisa karena pertambangan atau sekadar untuk tempat tinggal. 

Ya, rumah-rumah kian hari semakin bertambah sejurus dengan jumlah penduduk yang terus meningkat. Perumahan dengan sistem kredit menjamur hampir di setiap daerah di Indonesia. Dan, yang paling disayangkan adalah, area yang menjadi tempat berdirinya rumah-rumah beragam dengan tipe itu sebagian merupakan lahan subur. 

Akan tetapi, agaknya hal itu masih bisa disiasati dengan berupaya memanfaatkan lahan sesempit mungkin untuk bercocok tanam. Caranya bisa dengan menggunakan poly bag atau pot plastik. Selain itu, yang paling mudah dengan menggunakan cara hidroponik.

Di bawah ini ada video pemanfaatan lahan sempit untuk bercocok tanam.


Dalam video itu terlihat di dalam rumah pun sebenarnya dapat menanam sayuran segar tanpa menggunakan tanah. Cukup sediakan bekas wadah nasi yang terbuat dari styrofoam atau botol bekas, kita sudah bisa menanam sayuran yang diinginkan. 

Terpenting, masih ada sinar matahari dan ketersediaan tempat meskipun sangat sempit. 


Bagaimana Nasib Negara-Negara yang Berutang kepada Cina jika Eksodus Manufaktur dari Negeri Tirai Bambu ke Negara Lain Terus Berlanjut?



Sebuah fakta bahwa Cina tumbuh menjadi "pabrik dunia" selama 40 tahun terakhir. Semula Republik Rakyat Cina di bawah Mao Zedong sangat menutup diri dari negara-negara kapitalis. Akan tetapi, sejak Deng Xiaoping berkuasa, keadaan berubah.

Mantan Presiden Deng Xiaoping yang memerintahkan reformasi ekonomi pada akhir tahun 1970-an dan memperkenalkan konsep pasar bebas ke Cina untuk pertama kalinya membuat perekonomian negeri itu akhirnya maju pesat.

Bagaimana tidak? Dengan peraturan negara yang dilonggarkan dan akses ke tenaga kerja terbesar, menjadikan Cina tempat yang tepat untuk melakukan outsourcing (alih daya) manufaktur. 

Maka, jadilah Cina salah satu pusat bisnis paling menguntungkan di dunia. Negara-negara lain untung dari berbisnis, Cina meraup untung dari pajak dan biaya administrasi, juga terbukanya peluang mendirikan perusahaan-perusahaan sendiri. 

Akan tetapi, dalam bulan-bulan terakhir, manufaktur Cina mulai surut oleh kumpulan masalah yang seakan menjadi satu. Tarif tinggi, COVID-19, ketegangan geopolitik menyebabkan eksodus massal dari manufaktur Cina ke negara-negara lain. Semua itu memicu dimulainya jatuhnya dominasi manufaktur negara tirai bambu tersebut.

Ketika manufaktur Cina mulai merosot, negara-negara Asia Tenggara di dekatnya mulai dengan cepat bersiap untuk mengambil alih beberapa bisnis Cina.

Vietnam, misalnya, melakukan upaya besar-besaran untuk meraih produksi pakaian sehari-hari. Merek pakaian olahraga populer seperti Nike dan Adidas dengan cepat telah mengalokasikan kembali sebagian besar pangkalan manufaktur dan alas kaki ke Vietnam, dari Cina.

Selain itu, perang perdagangan global dengan AS juga memberikan pukulan fatal bagi manufaktur Cina. 

Hal terkahir di atas menyebabkan penurunan volume ekspor ke AS dan ke negara lain yang menghadapi tekanan Amerika untuk mengurangi ketergantungan global pada manufaktur Cina.

Dalam sebuah laporan oleh Forbes, analisis menyebutkan bahwa ekspor Cina secara global diperkirakan turun $ 25 miliar sejak tarif pertama kali diterapkan.

Dan, di tengah ketidakpastian geopolitik, Covid-19 telah mendorong manufaktur Cina ke ambang penutupan. 

Lantas, ketika Cina mengalami kesulitan dalam perekonomian, bagaimana nasib negara-negara yang berutang kepada negeri komunis terbesar di Asia ini? Terutama yang terkait dengan Belt and Road Initiative yang digulirkan pada tahun 2013 lalu.

Para akademisi Universitas Harvard pernah merilis laporan pada tahun 2018 yang menyebutkan Cina memberlakukan tingkat utang yang tinggi untuk negara-negara Asia Pasifik dengan tujuan memperoleh aset strategis atau pengaruh politik dari negara-negara pengutang.

Apakah, dengan kondisi yang kian sulit, Cina akan tetap kaya karena memperoleh aset strategis atau pengaruh politik dari negara-negara pengutang?

Jika demikian, negara-negara dimaksud yang akan mengalami kesusahan atau menanggung beban kebangkrutan Cina. Sementara negeri tirai bambu tetap bersinar di pentas global. 

Atau? Bagaimana?


Hebat! Ribuan Orang Berkumpul di Ibukota Thailand Melawan Pemerintah, Ada yang Memakai Jimat Penangkal Peluru



Dilaporkan Reuters, ribuan pengunjuk rasa di Ibukota Thailand berdemonstrasi menentang pemerintah mantan pemimpin kudeta dan Perdana Menteri Prayuth Chan-ocha pada hari Sabtu (hari ini), menuntut reformasi pada monarki yang kuat.

"Ganyang feodalisme, panjang umur rakyat!" adalah salah satu nyanyian.

Media itu menyebutkan bahwa protes telah meningkat sejak pertengahan Juli untuk menyerukan pencabutan pemerintahan, konstitusi baru, dan pemilihan umum. Mereka juga telah melanggar "tabu" lama dengan mengkritik monarki Raja Maha Vajiralongkorn.

Polisi mengatakan sedikitnya 5.000 orang telah berkumpul di kampus Universitas Thammasat, yang telah lama dipandang sebagai sarang oposisi terhadap militer dan pembentukan kerajaan, dan tempat pembantaian pengunjuk rasa pada tahun 1976.

Di bawah hujan ringan, pengunjuk rasa tumpah ke Sanam Luang, ruang publik di seberang Grand Palace tempat upacara negara secara tradisional diadakan.

"Hari ini rakyat akan menuntut kembali kekuasaan mereka," kata Arnon Nampa, seorang pengacara hak asasi manusia yang muncul sebagai tokoh utama dalam gerakan protes, di Twitter.

Tanggal 19 September adalah peringatan kudeta terhadap perdana menteri populis saat itu Thaksin Shinawatra pada tahun 2006. Di antara para pengunjuk rasa adalah banyak pengikut baju merahnya, veteran bentrokan satu dekade lalu dengan kemeja kuning prokemapanan.

“Saya di sini untuk memperjuangkan masa depan anak dan cucu saya. Saya berharap saat saya mati, mereka akan bebas,” kata Tasawan Suebthai, 68 tahun, mengenakan baju merah dengan jimat di lehernya untuk menangkal peluru.

Mengutip sumber yang sama, sejauh ini protes berlangsung damai. Yang terbesar hingga saat ini menarik lebih daripada 10.000 orang bulan lalu, tetapi penyelenggara berharap lebih banyak kali ini.


Thursday, September 17, 2020

Sebuah Usaha dari Pendiri Black Lives Matter Disponsori oleh Sebuah Organisasi yang Bekerja dengan Pemerintah Komunis Cina



Sejak protes masif atas kematian pria keturunan Afrika-Amerika, George Floyd, pada 25 Mei 2020 lalu, gerakan Black Lives Matter semakin populer. 

Black Lives Matter (BLM) atau Nyawa Orang Kulit Hitam Itu Berarti adalah sebuah gerakan aktivis mancanegara, yang dimulai dari komunitas Afrika Amerika, yang aktif dalam menentang kekerasan maupun rasisme sistemik terhadap orang kulit hitam. 

BLM rutin menyelenggarakan demonstrasi memprotes kematian orang kulit hitam di tangan polisi, dan isu-isu terkait seperti profiling berdasarkan ras, kebrutalan polisi, dan bias rasial dalam sistem peradilan pidana di Amerika Serikat.

Dilaporkan The Federalist, The Black Futures Labyang merupakan sebuah usaha dari pendiri Black Lives Matter, yakni Alicia Garza, disponsori oleh Chinese Progressive Association (CPA), sebuah organisasi yang bekerja dengan pemerintah komunis China untuk mendorong agendanya di Amerika Serikat, menurut sebuah investigasi oleh Heritage Mike Gonzalez dari Yayasan.

Gonzalez menemukan bahwa halaman donasi Black Futures Lab secara eksplisit menyatakan bahwa mereka adalah "proyek yang disponsori secara fiskal dari Asosiasi Progresif China".

Gonzalez menjelaskan sejarah CPA di Amerika Serikat, mendokumentasikan kegiatan-kegiatan yang disponsori kelompok tersebut atas nama Pemerintah Cina, termasuk satu contoh di mana bendera Republik Rakyat Cina dikibarkan di atas Balai Kota Boston untuk menghormati pengambilalihan Cina oleh Partai Komunis Cina. CPA secara rutin dipuji atas pekerjaannya di AS oleh corong resmi Cina, China Daily .

Gonzalez juga menuliskan, “Jadi jelas, CPA bekerja dengan pemerintah komunis Cina, mendorong agendanya di sini di Amerika Serikat, dan secara teratur dipuji oleh corong milik negara Cina. Juga jelas, dari, perspektif ini, mengapa CPA akan mensponsori perusahaan baru oleh Garza: Mereka mendukung keinginan yang sama untuk komunisme dunia.” 

Media itu juga menyebutkan bahwa Garza, pendiri Black Futures Lab, juga merupakan pendiri organisasi global Black Lives Matter Marxis yang terbuka dan banyak organisasi domestik, seperti Movement For Black Lives, yang terkait dengannya. 

Organisasi BLM mensponsori dan mengusulkan kebijakan publik Marxis seperti kepemilikan sumber daya, bank, dan bisnis yang disosialisasikan, pajak penghasilan yang sangat tidak setara, menempatkan semua orang pada kesejahteraan melalui "pendapatan minimum", dan pekerjaan pemerintah. 

Pada 2015, salah satu pendiri Black Lives Matter, Patrisse Cullors, mengatakan bahwa dia dan rekan penyelenggara adalah "Marxis terlatih".

Organisasi Garza yang didanai oleh Asosiasi Progresif China, Black Futures Lab, tampaknya merupakan kelompok lobi yang mengadvokasi "kebijakan tingkat lokal, negara bagian, dan federal yang membuat komunitas Kulit Hitam lebih kuat," dan tujuan yang mungkin sejalan dengan ideologi Marxis Garza .

Mengutip sumber yang sama, pentingnya peran Black Lives Matter dalam meningkatkan perselisihan rasial di Amerika beberapa tahun terakhir tidak dapat diremehkan. Seperti yang ditulis Ben Weingarten di The Federalist, BLM "secara kolektif berakar dan mengabdi pada Marxisme, kebencian terhadap Yahudi, kekerasan, rasisme, perselisihan sosial, dan perusakan nilai-nilai dan prinsip-prinsip dasar kami." Tentu saja, Cina akan melihat nilai dalam mendanai organisasi semacam itu.

Sumber foto: The Federalist


Setujukah Anda dengan Integrasi Sains dan Teknologi dengan Nilai-Nilai Islam?



Diakui bahwa saat ini sains dan teknologi seakan-akan hanya diproduksi barat. Sebutlah di bidang penerbangan dan informasi. Barat menjadi pemegang kunci utamanya. Sementara umat Islam, dicirikan sebagai umat yang tertinggal dalam urusan duniawi. Padahal, dulu Islam memegang kendali penuh atas sains dan teknologi di segala aspek kehidupan. Alhasil, muslimlah yang menguasai dunia. 

Menyoroti kemunduran tersebut, pengamat politik Islam dan demokrasi, Muhammad Najib, dalam artikelnya yang dimuat RMOL, Jumat (17/9/2020) menawarkan kembali cara pandang beragama seperti dulu. 

Di awal artikelnya, ia mengutip sejumlah ayat Alquran yang menunjukkan bahwa Islam sangat menjunjung tinggi akal dan fikiran manusia, yakni Surah Ali Imran: 190 dan Surah Al Ghasyiyah: 17--20. 

Dalam hal itu ia yakin bahwa penggunaan akal dan pikiran memiliki posisi sangat penting dalam implementasi ajaran Islam. Hal inilah menurutnya yang menyebabkan pentingnya ilmu bagi umat Islam. 

Islam pada hakikatnya tidak membeda-bedakan antara ilmu dunia dan akhirat, bagi umat Islam semua ilmu bersumber dari Allah swt. Cara pandang beragama seperti inilah yang mengantarkan kemajuan dan kejayaan umat Islam di era Abbasiyah, yang mencapai puncak kejayaannya saat dipimpin oleh Khalifah Harun Al Rasyid, dan dilanjutkan putranya Al Makmun pada abad akhir abad ke-8 M. 

Menjadi lebih menarik adalah, ia mengajukan sebuah pertanyaan, mengapa umat Islam mengalami kejumudan, yang mengakibatkannya kemudian disalip oleh Barat yang dulu menjadi muridnya.

Menjawab pertanyaan tersebut, Najib menyebutkan sebuah tesis bahwa saat dalam masa kejayaannya, para petinggi Islam bergelimang harta dan hidup dalam kemewahan bendawi. Dalam situasi seperti ini muncul keprihatinan dan kekhawatiran sejumlah ulama, kalau-kalau umat Islam dan para pemimpinnya semakin jauh dari urusan akhirat. Salah satu ulama yang sangat menonjol bernama Imam Ghazali. 

Dikatakan para ulama ini kemudian mengembangkan sufisme dan mistisisme yang lebih menawarkan kebahagiaan batin dibanding materi, memilih hidup bersahaja dibanding bergelimang harta, dan mengejar akhirat dibanding dunia.

Dengan kata lain, hasil dari kemajuan Islam dengan sains dan teknologi membuat para petinggi negeri Islam kala itu hidup bergelimang harta dan dikhawatirkan dapat melalaikan diri dari urusan akhirat. 

Nah, tesis semacam ini memang dalam kenyataannya memunculkan antitesis berupa penyalahgunaan kekayaan dan wewenang elit politik masa itu. Banyak ulama yang sangat cemas dengan kondisi tersebut. Dan, lewat artikelnya, Najib menawarkan kembali sintetis baru yang lain daripada yang dicetuskan ulama sufi pada masa keemasan dunia Islam. 

Apakah itu?

Sebenarnya baru di sini maksudnya kebaruan setelah sufisme dan mistisme berkembang pesat di masyarakat Islam. 

Pembaruan itu sangat terasa dengan adanya gerakan tajdid di bidang politik yang dimulai oleh Syaikh Jamaluddin Al Afghani dan muridnya Syaikh Muhammad Abduh, kemudian dilanjutkan dengan tajdid di bidang pendidikan modern oleh Syaikh Rasyid Ridha. 

Maka, dalam artikelnya ia menyerukan saatnya umat Islam untuk kembali menekuni sains dan teknologi agar perhatian kita seimbang antara urusan dunia dan akhirat, atau antara urusan material dan spiritual. 

Dirinya mencontohkan tahun 1970-an seorang cendekiawan muslim bernama Syed M. Naguib Al Attas mendengungkan istilah Islamisasi Ilmu. Ia kemudian mendirikan International Institute of Islamic Thought Civilization (ISTAC) di Kuala Lumpur, Malaysia. 

Tahun 1981, di Virginia, Amerika, didirikan International Institute of Islamic Thought  (IIIT) yang dipelopori oleh para imigran cendekiawan yang berasal dari berbagai negara Muslim yang belajar di Amerika dan Kanada.

Lantas bagaimana dengan di Indonesia?

Sebenarnya, Syaikh Rasyid Ridha merupakan salah seorang guru Kiai Haji Ahmad Dahlan. Sang pendiri Muhammadiyah itu telah banyak melakukan pembaruan di bidang pendidikan dan sosial di tanah air ini. Kini, Muhammadiyah telah memiliki banyak sekolah, perguruan tinggi, rumah sakit, dan amal usaha lainnya yang memadukan sains dan teknologi di dalamnya.

Pemikiran Ahmad Dahlan tentang pendidikan Islam dapat dikatakan sebagai awal kebangkitan pendidikan Islam di Indonesia. Tentu saja, Muhammadiyah hanyalah satu contoh nyata yang telah ada. 

Diharapkan integrasi sains dan teknologi dengan nilai-nilai Islam kian berkembang dan terwujud dalam segala bidang kehidupan di Indonesia. 

Lalu, setujukah Anda dengan hal tersebut di atas?


Tuesday, September 15, 2020

Ahok Titipan Siapa di Pertamina?



Pertanyaan ini muncul dan sedang ramai setelah Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok membongkar sederet borok Pertamina melalui video berdurasi 6 menit yang diunggah akun Youtube POIN.

Apa yang dibongkar Komisaris Utama PT Pertamina itu?

Salah satunya adalah  tentang direksi yang hobi lobi menteri. Komisaris pun katanya "rata-rata" titipan kementerian.

Lantas, apakah dirinya sendiri juga titipan seperti yang ia maksudkan mengingat sosok Ahok awalnya adalah orang luar Pertamina? Bahkan, ia merupakan mantan narapidana yang tidak memiliki dasar keilmuan dan pengalaman di bidang perminyakan yang dijalankan perusahaan berpelat merah itu. 

Nah, kalau titipan, maka Ahok titipan siapa di Pertamina?

Sekadar informasi, penunjukan direksi dan komisaris di BUMN melalui tim penilai akhir yang diketuai presiden sendiri. Artinya, itu bukan perkara main-main, melainkan sangat serius karena sudah sampai taraf orang nomor satu di negeri ini.

Dan, dengan pembongkaran aib Pertamina oleh Ahok, sebenarnya ia telah menuding Erick Thohir bisa dilobi oleh para calon direksi dan komisaris. 

Akankah pula Erick berani membalas Ahok?


Monday, September 14, 2020

Pesawat Selam, Adakah?

 


Dunia penerbangan semakin canggih. Begitulah kira-kira kalimat yang paling tepat. Lihatlah pesawat perang F-35, misalnya, jauh sekali perbedaannya dengan pesawat-pesawat yang digunakan dalam perang dunia II. 

Pesawat kekinian mampu terbang dengan sangat lincah. Akan tetapi, adakah pesawat yang mampu menyelam di lautan?

Dulu, pada masa perang dunia II, Jepang sudah mampu membawa pesawat di dalam laut. Meskipun demikian, pesawat-pesawat apung tersebut dibawa pihak Angkatan Laut Kekaisaran Jepang dengan kapal selam induk yang bernama I-400 atau I-yonmarumaru Sensuikan. Kapal induk ini mampu membawa tiga pesawat apung sekaligus. 

Lalu, kembali ke pertanyaan awal tadi, apa jawabannya? 

Ada sebuah video yang memperlihatkan sebuah pesawat helikopter terbang di atas air dan seperti sedang mencoba melakukan penyelaman. 


Dalam video di atas, belum dapat dipastikan apakah memang helikopter buatan Cina itu merupakan helikopter selam atau jenis yang bagaimana. Namun, ada satu hal yang dapat ditarik dari video tersebut, yakni sebuah inspirasi.

Sejalan dengan akal manusia yang kian canggih, agaknya hal demikian dapat menjadi inspirasi untuk membuat pesawat selam yang bermanfaat bagi manusia. Sebutlah untuk pertahanan wilayah laut negara dari serangan luar. Selebihnya, mungkin akan ada banyak manfaat yang muncul kemudian.


Kampanye Pencegahan COVID-19 via Film Pendek

 


Belakangan, ramai di media sosial adanya rencana pihak pemerintah menerjunkan preman untuk menertibkan masyarakat dalam protokol kesehatan selama pandemi. Rencana ini menunjukkan bahwa sebagian masyarakat Indonesia terlalu susah diajak aktif mencegah penyebaran COVID-19, terutama memakai masker dan menjaga jarak saat keluar rumah.

Di barat, kampanye protokol kesehatan gencar dilakukan termasuk melalui film pendek. Sebutlah contohnya Mr. Bean. Pertanyaanha, mengapa film?

Apakah melalui film kampanye tersebut dapat lebih efektif?

Seni termasuk film sebenarnya juga bertujuan meningkatkan tanggung jawab moral masyarakat. Itu disebabkan adanya sentuhan terhadap jiwa yang diberikan melalui film. Ajakan lembut yang menyentuh dalam dialog, monolog, atau perbuatan tokoh-tokohnya selama film berlangsung, membawa jiwa penonton tersadar tanpa merasa disuruh apalagi digurui.

Di bawah ini juga ada film pendek untuk mengampanyekan pencegahan virus COVID-19.

 


Dalam film berjudul "Ketika Oyen Menjadi Ayah" berkisah tentang seekor kucing jantan yang berusaha keras menjaga putrinya untuk tetap tinggal di rumah meski ada banyak godaan di luar ruang. Pesan yang hendak disampaikan dalam film itu adalah, tetap di rumah untuk memutuskan rantai penyebaran COVID-19. Keluar rumah jika memang sangat darurat seperti dalam hal pemenuhan kebutuhan pokok. 


Sunday, September 13, 2020

Ruang Arsitektur Terfragmentasi dalam Seni Miniatur Ottoman



Siapa yang tidak mengenal Ottoman. Agaknya semua orang di dunia ini setidaknya pernah mendengar atau membaca nama itu. Pernah mengalami masa keemasan, Ottoman atau di dunia Islam dikenal dengan Kekhalifahan Turki Utsmani, telah berubah menjadi Republik Turki. 

Meski demikian, mereka tetaplah Bangsa Turki yang merdeka dan tak melupakan jati diri dan sejarah Turki. 

Dilaporkan Daily Sabah, Minggu (13/9/2020) Museum Pera Istanbul telah menyiapkan serangkaian program online, sebagai bagian dari pameran "Miniatur 2.0, Miniatur dalam Seni Kontemporer", yang berfokus pada pendekatan kontemporer terhadap lukisan miniatur.

Acara dilanjutkan dengan workshop seni gambar miniatur menggunakan cat air dan ceramah tentang dimensi arsitektural miniatur Ottoman. Ceramah yang akan dibawakan oleh arsitek dan perancang visual Mete Kutlu, akan diadakan pada 16 September antara pukul 19.00--21.00.

Sedangkan lokakarya yang akan dibawakan oleh seniman visual Amerika, Gabrielle Reeves, akan diselenggarakan pada 30 September di jam yang sama. Event online yang diadakan melalui Zoom ini menghadirkan tampilan baru pada miniatur seni dengan teknik berbeda seperti cat air dan model.

Dalam pembicaraan online-nya, Kutlu akan membahas persamaan antara dinamika spasial perspektif Ottoman, yang menolak persepsi dunia modern dan arsitektur era digital.

Membandingkan "perspektif Ottoman" dengan "perspektif Renaisans," asal dari pandangan dunia modern, pembicara akan memeriksa desain kota Ottoman melalui penggambaran kota-kota Hungaria yang berbeda, di mana dua peradaban yang berbeda saling berhadapan.

Mengutip media itu, menyusul pembicaraan bertajuk "Ruang Arsitektur Terfragmentasi dalam Seni Miniatur Ottoman: Interaksi Antar Budaya dan Hubungan yang Melampaui Waktu," peserta akan dikirimi gambar origami dan manual produksi dalam format digital, di mana mereka dapat membuat miniatur model sendiri.

Sumber foto: Daily Sabah


Saturday, September 12, 2020

Hoax atau Fakta Ada yang Mengggembosi Pemerintahan Jokowi?

 


Bicara politik dalam artian kekuasaan semata, agaknya menjadi sebuah hal yang paling memuakkan di dunia. Betapa tidak? Semua dikaitkan dengan kepentingan untuk pribadi dan sebagian untuk golongan elit politik mereka saja. Sementara untuk rakyat masih menjadi harapan banyak orang. 

Sebutlah soal penerapan PSBB total oleh Pemprov DKI Jakarta. Banyak kalangan yang berseberangan kepentingan politik dengan Gubernur Anies Baswedan mengkritik kebijakan tersebut secara membabi buta. Bahkan, politikus aktif, Arief Poyuono, menaruh curiga bahwa PSBB Anies ini untuk menggulingkan Joko Widodo dari kursi presiden. 

Dalam hal di atas, alangkah idealnya kita lihat saja dulu perkembangannya. Mengatakan bahwa PSBB sebuah langkah menghancurkan ekonomi Indonesia merupakan sebuah kesimpulan yang ditarik dari kekosongan belaka. Sebab, belum ada bukti-bukti konkrit yang menjadi indikator PSBB menghancurkan ekonomi Indonesia. Bagaimana ada buktinya, pembatasan sosial berskala besar (PSBB) tersebut saja akan efektif diberlakukan mulai 14 September 2020. Artinya belum terjadi saat ini. Seharusnya, kesimpulan seperti itu ada setelah PSBB selesai diterapkan.

Jika mau kembali ke awal, pertanyaan sederhananya adalah, apa penyebab perekonomian Indonesia kini mengalami kondisi yang buruk? Tentu jawabannya berupa kebijakan pusat yang tidak segera menutup pintu masuknya virus Cina itu. Andai saja Indonesia meniru langkah Taiwan atau Vietnam, kemungkinan besar kondisi perekonomian Indonesia tidak seperti saat ini.

Lalu, menyoal adanya menteri yang ingin menggembosi Pemerintahan Jokowi, ini masih menjadi tanda tanya besar. Memang, sudah lama berembus isu taktik kuda Troya yang diniatkan untuk mengambil alih kekuasaan dari dalam Pemerintahan RI yang dipimpin mantan Walikota Solo itu. 

Nah, kalau pun ada, siapa tersangka paling kuat? Kita tahu orang yang menjadi pesaing berat Jokowi dalam dua pilpres (2014 dan 2019) hanyalah Prabowo Subianto. Saat ini, mantan Danjen Kopassus itu menjadi menteri dalam kabinet di Pemerintahan Jokowi. Lantas, apakah Prabowo Subianto orangnya? Tentu saja, sekali lagi ini menjadi tanda tanya besar.

Yang tak kalah serunya, ada prasangka buruk segelintir orang terhadap demo-demo anti-RUU Haluan Ideologi Pancasila. Mereka menuding itu juga untuk menggulingkan Jokowi dari kursi Presiden RI. Padahal demonstrasi anti rancangan undang-undang itu murni menjaga kemurnian Pancasila. 

Dan, tampaknya yang paling ideal dipertanyakan saat ini ialah, bagaimana dan apa saja yang akan diterapkan Pemerintahan Joko Widodo dalam menanggulangi krisis akibat COVID-19. Ini yang seharusnya menjadi prioritas di Indonesia.

Jadi, lupakan dulu perihal kepentingan politik termasuk tentang upaya menggembosi Pemerintahan Jokowi dari dalam. Utamakan dulu rakyat, bangsa, dan negara Indonesia! Letakkan ketiganya di atas kepentingan pribadi dan golongan!


Friday, September 11, 2020

Tujuh Film Taiwan Telah Dipilih untuk Festival Film Pendek Asia Tenggara, Apa Sajakah? Yuk, Intip!

 


Berita dari dunia hiburan agaknya sedikit melegakan di tengah pandemi COVID-19 yang masih berlangsung. Ketika orang-orang diminta untuk tetap tinggal di rumah, film-film favorit dapat menjadi hiburan tersendiri. 

Kali ini, bukan dari dunia hiburan Korea Selatan, melainkan Taiwan. Setelah merajalela dalam dunia perfilman era '90-an, kini Taiwan pun masih eksis dalam menggarap film-film berkualitas tinggi. 

Dilaporkan Taiwan News, Jumat (11/9/2020) Tujuh film Taiwan telah dipilih untuk Festival Film Pendek Asia Tenggara (SeaShorts) keempat tahun.

Masih dari sumber yang sama, dikatakan lima dari tujuh film unggulan, yakni "Nine Shots", "Fire at Forest", "Tea Land", "Lovely Sunday", dan "Arnie"  menggambarkan perjuangan pekerja migran di Taiwan. 

Sedang "The Calling" dan "Be Shit or Not To Be"  menceritakan kisah pemuda Taiwan yang terbelah antara mimpi dan kenyataan dan bagaimana mereka mengatasi kegagalan.

Ketujuh film itu adalah pemenang Golden Harvest Awards dan Festival Film Kaohsiung, menurut CNA seperti terlansir Taiwan News.

Mengutip media tersebut, SeaShorts Film Festival 2020, yang telah dipindahkan secara online karena krisis virus corona, akan berlangsung dari 12--20 September dan mencakup 52 naratif pendek dari Taiwan, Malaysia, Singapura, Kamboja, Laos, Vietnam, Myanmar, Thailand, Indonesia, Jepang , dan Filipina. Forum direksi juga akan diadakan secara online (daring) Minggu (13 September).

Sumber foto: Taiwan News


Thursday, September 10, 2020

Sebuah Benda seperti Pesawat Ditemukan Terdampar di Pantai Taketomi-cho, Prefektur Okinawa


Dilaporkan Asahi, sebuah benda seperti pesawat ditemukan terdampar di pantai Taketomi-cho, Prefektur Okinawa pada tanggal 8 September 2020.

Sementara militer AS, yang telah ditanya tentang benda itu oleh Biro Pertahanan Okinawa, menjawab pada tanggal 9 bahwa benda tersebut bukan milik militer AS. Benda seperti pesawat ini memiliki huruf dan angka kanji untuk bagian kanan dan kirinya.

Sedang panjangnya sekitar 5 atau 6 meter dan diberi label "MQM-107E." Menurut beranda Museum Angkatan Udara AS, notasi ini adalah pesawat target tak berawak yang sebelumnya digunakan oleh militer AS untuk pelatihan. Namun, konfirmasi dari kota tersebut menyebutkan bahwa tidak ada ciri lain yang menunjukkan hubungan dengan militer AS.

Sebaliknya, ada kata "kanan" dan "kiri" dalam huruf kanji, dan penanggung jawab kota tersebut berkata,  "Saya tidak tahu apa yang ditemukan" (penanggung jawab) dan akan berkoordinasi dengan pihak prefektur. 


Sumber foto: Asahi


Wednesday, September 9, 2020

Apa Alasan AS Mencabut Visa untuk Lebih daripada 1.000 Orang China? Sebuah Langkah Preventif?



Dilaporkan AFP, Kamis (10/9/2020) Amerika Serikat telah mencabut visa lebih daripada 1.000 pelajar dan peneliti China di bawah perintah Presiden Donald Trump.

Hal itu tentu dengan alasan yang masuk akal. Sebagai sebuah negara, Amerika Serikat melakukan segala tindakan preventif untuk menghindarkan diri dari perbuatan buruk negara lain. Cina menjadi salah satu negara yang sangat mengancam dunia. Ya, bukan hanya terhadap AS, tetapi juga negara-negara lainnya. Terutama, dalam bentuk spionase dan pencurian kekayaan intelektual dari negara lain untuk kemajuan negeri tirai bambu itu.

Trump, dalam proklamasi 29 Mei ketika ketegangan meningkat dengan Beijing di berbagai bidang, menyatakan bahwa beberapa warga negara Cina secara resmi di Amerika Serikat untuk belajar telah mencuri kekayaan intelektual dan membantu memodernisasi militer Cina.

Departemen Luar Negeri AS, menawarkan angka pertamanya tentang efek perintah Trump, mengatakan bahwa lebih daripada 1.000 visa telah dicabut sejak mulai menerapkan proklamasi pada 1 Juni.

Tetapi, departemen itu menolak memberikan rincian visa siapa yang telah dicabut, dengan alasan undang-undang privasi.

Masih dari sumber yang sama, hampir 370.000 siswa dari Cina terdaftar di universitas AS pada 2018-19, paling banyak di negara mana pun. Dan, jumlah kasus spionase yang melibatkan Cina telah melonjak dalam beberapa tahun terakhir sebagai bagian dari upaya bersama oleh Beijing.


Tuesday, September 8, 2020

Masya Allah! Universitas Turki Kembangkan Alat Tes Virus yang Menunjukkan Hasilnya hanya dalam 8 Menit



Dilaporkan Daily Sabah, universitas di Turki barat laut telah mengembangkan tes virus korona yang menghasilkan hasil hanya dalam delapan menit.

Mustafa Kemal Sezgintürk, seorang dosen di Departemen Bioteknologi Universitas Çanakkale Onsekiz Mart, mengatakan bahwa kit tes baru dapat memberikan hasil yang lebih cepat dan lebih dapat diandalkan daripada tes serupa di seluruh dunia.

Rektor Universitas Sedat Murat mengatakan bagian terpenting dari proyek ini adalah bahwa tes tersebut adalah yang pertama dari jenisnya tidak hanya di Turki tetapi juga di seluruh dunia.

"Hanya ada tes antibodi di dunia. Tingkat akurasinya bervariasi pada 63% di PCR (Polymerase chain reaction). Dengan kata lain, ada margin kesalahan sekitar 40%, tapi dengan tes ini hasil bisa didapat dengan 100 % akurasi dan dalam waktu singkat, seperti lima hingga 10 menit," kata Murat.

Masih dari sumber yang sama, memperhatikan bahwa mereka telah memulai upaya untuk memulai produksi massal kit tersebut, Sezgintürk berkata, "Kami harus mematenkan kit tersebut terlebih dahulu."

"Kami juga akan mendaftar ke lembaga pendanaan negara kami. Mereka juga telah memberikan dukungan yang sangat substansial dalam hal ini," katanya, seraya menambahkan bahwa mereka berencana untuk memperkenalkan proyek tersebut kepada penyandang dana penting, termasuk lembaga pembangunan dan Kementerian Kesehatan.

Sumber foto: Anadolu Agency melalui Daily Sabah



Pemungutan Suara Melalui Surat pada Masa Pandemi COVID-19



Pemilihan umum terus berjalan meski pandemi virus asal Cina masih menyebar dan korban kian bertambah. Politik seakan terlepas dari persoalan virus mana pun. Selama kekuasaan di hadapan mata, semua diterobos. Begitu kira-kira yang ada di pikiran banyak orang.

Lantas, adalah jaminan bahwa pemilu dapat berjalan sesuai protokol kesehatan untuk menghindarkan masyarakat dari virus Cina tersebut? 

Ini pertanyaan yang agaknya susah dijawab mengingat sebagian masyarakat terkadang abai terhadap protokol kesehatan itu sendiri. 

Pemungutan suara melalui surat masa pandemi COVID-19 bisa menjadi alternatif yang dipertimbangkan. Pemberian suara melalui surat, sering dikenal sebagai pemungutan suara “absen”. Itu diawali oleh pertimbangan jarak antara pemilik hak suara dan tempat pemungutan yang jauh, misalnya tentara yang memilih dari medan perang.

Cara tersebut sebagai akomodasi bagi para pemilih yang jauh dari tempat pemungutan suara pada hari pemilihan atau tidak dapat memberikan suara secara langsung. Otoritas pemilihan lokal mengirimkan surat suara ke pemilih di alamat yang disediakan.

Kemudian, pemilih menerima surat suara, amplop untuk menutup surat suara, dan amplop untuk mengirim kembali surat suara yang disegel. Setelah pemilih menandai pilihannya pada surat suara, mereka menutup surat suara, menandatangani bagian luar amplop surat suara dan lalu menyegel surat suara yang ditandatangani di amplop kedua. Pemilih dapat mengirimkan kembali surat suara yang telah ditutup ke otoritas pemilihan lokal. 

Ketika otoritas pemilihan menerima surat suara yang disegel, mereka memverifikasi pemilih terdaftar. Petugas juga membandingkan tanda tangan pemilih di surat suara dengan tanda tangan mereka di daftar pemilih. Setelah itu, proses penghitungan suara pun dilakukan. 

Alternatif di atas sebenarnya merupakan konsep pemilihan umum di Amerika Serikat seperti terlansir Reuters. Nah, lalu bagaimana dengan di Indonesia? Siapkah Anda sebagai pemilih aktif turut berpartisipasi dalam pemilihan kepala-kepala daerah akhir tahun ini? 


Monday, September 7, 2020

Sekum Muhammadiyah: Jangan Ada yang Su'udzon kepada yang Tampil Good Looking di Masjid



Sekretaris Umum PP Muhammadiyah, Prof Abdul Muti, turut memberikan tanggapan terkait pernyataan Menteri Agama Republik Indonesia, Fachrul Razi yang menyebut paham radikalisme bisa masuk ke masjid melalui orang-orang berpenampilan menarik atau good looking.

Pernyataan pejabat tertinggi keagamaan di Indonesia itu memang sangat kontroversial. Bahkan, bertentangan dengan ajaran Islam. 

Itulah sebabnya, Prof Abdul Muti mengatakan melalui akun instagramnya bahwa Islam mengajarkan agar kalau ke masjid tampil wangi dan wangun atau good looking. Islam melarang umatnya tampil kemproh (kotor) dan kumprung (kumal).

Begitulah Islam yang memang mengajarkan setiap muslim tampil dengan rapi dan elegan sebagai wujud peradaban tertinggi umat manusia. Bukan malah sebaliknya.

Masih dari akun instagramnya, Sekum Muhammadiyah tersebut juga mengingatkan "Jangan ada yang su'udzon kepada yang tampil good looking di masjid. Mari berpenámpilan yang necis dan klimis sebagai wujud pengamalanI Islam"

Sungguh Indonesia membutuhkan orang-orang seperti Profesor Abdul Muti agar negera ini benar-benar menjadi republik yang sangat pancasilais, yakni salah satunya berketuhanan Yang Maha Esa dengan pengamalan ajaran agama secara baik dan benar. Contoh nyatanya adalah berpenampilan menarik atau good looking




Sunday, September 6, 2020

Istri Seorang Penyair Ditangkap, Sebuah Tragedi Memilukan

 


Ini adalah tragedi memilukan. Bermula dari sang suami yang merupakan seorang penyair kenamaan itu menyatakan dukungannya kepada gerakan prodemokrasi di Hong Kong.

Adalah penyair Wang Zang. Tepat 1 Oktober 2014 ia dan keluarganya sedang berada di rumah mereka di Beijing didatangi lebih daripada 20 orang.

Sebagiannya berseragam polisi. Mereka memaksa masuk ke dalam rumah Wang dengan menunjukkan surat perintah penggeledahan. Lalu mengobrak-abrik semua yang ada di sana. Ya, intinya mencari-cari barang yang dapat dijadikan barang bukti kejahatan. Dan, orang-orang itu akhirnya mengangkut payung biru muda, komputer, modern, juga kacamata sang penyair yang menjadi simbol gerakan payung di Hong Kong. Sementara Wang Zang pun digelandang. 

Apa yang terjadi pada Wang Zang ternyata tak berhenti sampai di situ. Dilaporkan Apple Daily, istrinya yang bernama Wang Li sekarang juga menghadapi dakwaan yang sama dengannya, menurut dokumen pengadilan.

Wang Li, juga dikenal sebagai Wang Liqin, ditangkap karena subversi pada 24 Juli dan telah ditahan di Yunnan, menurut dokumen pengadilan yang tersedia pada hari Sabtu. 

Padahal, Wang Li hanya menggunakan Twitter untuk menarik perhatian pada penahanan suaminya.

Masih dari sumber yang sama, Ni Yulan, seorang pengacara hak sipil dan teman pasangan itu, mengatakan Wang Li tidak pernah secara terbuka menyuarakan pendapat politiknya dan hanya menarik perhatian kasus suaminya setelah dia dibawa pergi.

Sementara itu, Wang Zang dan Wang Li memiliki empat anak kecil, yang saat ini dirawat oleh ibu Wang Zang.


Polisi Hong Kong Serang Warga Tak Bersenjata lagi di Mong Kok Hari Ini

 



Perang ideologi antara komunis dan demokrasi seakan tak ada hentinya. Tanpa jeda selama keduanya tertanam dalam jiwa para pendukung masing-masingnya. Mulai dari perang dingin hingga pernah terbuka. Dan yang paling sering terjadi berupa letupan-letupan antara aparat dan warga.

Hal terakhir di atas itulah yang hari ini terjadi di Hong Kong. Sejak Cina daratan mencoba melanggar kesepakatan dengan Inggris dalam hal penyerahan Hong Kong ke Cina, konflik terus berkembang di kota itu. Demonstrasi besar pecah tahun lalu. Kemudian terhenti saat virus Corona merebak beberapa bulan. Dan, pihak Cina memulai kembali dengan penangkapan para aktivis prodemokrasi di Hong Kong.


Maka kembali memanaslah situasi di sana. Dikabarkan hari ini, Minggu (6/9/2020) polisi Hong Kong menyerang warga tak bersenjata lagi di Mong Kok. Padahal hari ini seharusnya menjadi hari pemilihan dewan legislatif, tetapi ditunda selama 1 tahun oleh Carrie Lam atas nama memerangi Virus Wuhan!

Mong Kok atau Mongkok merupakan sebuah wilayah di Distrik Yau Tsim Mong, di bagian barat Semenanjung Kowloon di Hong Kong. 

Peristiwa sendiri bermula di Jordon, Kowloon yang saat itu para pengunjuk rasa yang tersebar sambil meneriakkan "Tahan sampai nafas terakhir!" dan beberapa slogan yang sekarang dilarang. Beberapa berteriak "Saya ingin memberikan suara" sebagai protes terhadap penundaan pemilihan karena hari ini adalah hari pemungutan suara asli di Hong Kong.

Seperti biasa, polisi pun berlaku represif dengan menembakkan butiran merica ke trotoar pejalan kaki untuk memerintahkan orang agar tetap di trotoar pejalan kaki.

Selain itu, petugas polisi anti huru hara menahan sopir bus (yang mengenakan respirator dengan filter merah muda). Dia dilaporkan membunyikan klakson di sebelah garis penjagaan polisi. Sebagian aparat keamanan itu juga menggeledah penumpang di bus. Sementara puluhan orang dicegat dan ditangkap di jalan.

Angka terbaru dari Kepolisian Hong Kong, setidaknya 90 orang telah ditangkap sejauh ini. Kebanyakan dari mereka ditangkap karena ikut serta dalam pertemuan ilegal. 22 lainnya dikeluarkan tiket penalti karena diduga melanggar larangan pengumpulan virus corona. 

Sumber foto: Phoebe Kong


Saturday, September 5, 2020

#BoycottMulan, Tagar yang Menjadi Kepedulian Oposisi Hong Kong dan Dunia



Tanda pagar (tagar) ini terkait dengan sebuah film berjudul Mulan. Sebenarnya tidak ada masalah dengan isi filmnya. Akan tetapi, karena pemeran intinya semisal Jacky Chan, Donnie Yen, dan Liu Yifei yang terang-terangan mendukung rezim Cina, maka tagar itu pun dimunculkan.

Dan sebenarnya tidak masalah juga dengan tagar tersebut. Bagaimana pun kaum oposisi Hong Kong sedang berjuang melawan kediktatoran Partai Komunis Cina (PKC). Kekejaman PKC bukan hanya di Hong Kong melalui Carrie Lam, melainkan menyebar di seluruh Cina daratan, khususnya  Turkistan Timur (Xinjiang), Tibet, dan Mongolia Dalam.

Di Xinjiang, orang-orang Uyghur dan minoritas muslim lainnya dipenjara di kamp-kamp interniran. Para wanitanya dipaksa menikah dengan orang Han. Banyak yang mengalami pengangkatan rahim agar populasi Uyghur berkurang secara drastis. Kemudian, beberapa waktu lalu ada pelarangan dalam menggunakan bahasa Mongol di sekolah-sekolah Mongolia Dalam oleh pihak Cina. Orang-orang Mongol protes dan dikabarkan ada yang melalukan bunuh diri akibat merasa tertekan. 

Begitu pula di Tibet. Sebutlah satu contoh besarnya, akibat kekejaman Cina, Dalai Lama melarikan diri dan harus menetap di salah satu wilayah India agar aman. 

Memperhatikan realitas tersebut, idealnya, tokoh publik seperti pemain inti dalam Mulan mendukung perjuangan itu. Bukannya malah ikut-ikutan latah membela pihak yang jelas-jelas menyalahgunakan wewenang terhadap rakyatnya sendiri.

Itulah sebabnya, tagar #BoycottMulan terus menggema di media sosial. Dan, gema itu tidak hanya oleh oposisi Hong Kong, orang-orang di luar mereka juga turut andil. Sebutlah orang-orang pro demokrasi di Thailand dan Filipina. 


Apa Hikmah di Balik Normalisasi Hubungan Diplomatik UEA-Israel Menurut Najib?

 


Segala sesuatu yang ada pastilah memiliki hikmah tersendiri bagi manusia. Bahkan, tanpa adanya kematian, manusia tidak akan bisa sampai ke akhirat sebagai rentetan kehidupan sesuai ketentua-Nya dan yang hidup akan terlena dengan dunia semata. Maka, normalisasi hubungan diplomatik antara Uni Emirat Arab dan Israel tentu juga ada hikmahnya. 

Lantas, apa hikmah dari normalisasi itu?

Dalam sebuah artikel yang terlansir RMOL, Sabtu (5/9/2020) Dr. Muhammad Najib, memberikan pandangannya terhadap hal tersebut. 

Menurut pengamat politik Islam dan demokrasi ini, hikmahnya tak lepas dari cara Israel memperlakukan musuh-musuhnya. 

Normalisasi hubungan UEA-Israel tidak lain adalah taktik negeri Zionis itu merangkul salah satu musuh mereka. Lebih tepatnya setelah memecah-belah Bangsa Arab. Sebenarnya, UEA bukanlah negara pertama yang melakukan normalisasi dengan mereka, akan tetapi yang ketiga, yakni didahului oleh Mesir dan Yordania. 

Najib berpendapat ini bagian usaha Israel meredam dukungan negara-negara Arab terhadap perjuangan rakyat Palestina dengan cara memecah-belah mereka, kemudian merangkulnya satu persatu.

Hal yang lebih mengiris hati, terlihat tanda-tanda Saudi Arabia, Bahrain, Oman, dan Sudan segera menyusul. 

Nah, dari cara tersebut dan dikaitkan dengan perlakuan Israel di dalam wilayah Palestina, akan terlihat jelas bagaimana taktik Israel sebenarnya. Dan, masih menurut Najib, tampaknya para pemimpin Palestina kini mulai menyadari, bahwa perseteruan diantara mereka hanya menguntungkan Israel.

Ya, cara Israel memperlakukan faksi-faksi di Palestina terlihat berbeda. Israel, misalnya, merangkul Fatah, tapi menginjak-injak Hammas.

Kesadaran itu terlihat dari pertemuan dua faksi terbesar perlawanan, yakni Fatah dan Hammas yang selama ini tidak pernah akur. Dikabarkan Mahmud Abbas yang menjadi orang nomor satu Fatah dan Ismail Haniyeh orang nomor satu di Hammas, serta Jiyad Al Nakhalah orang nomor satu di Jihad Islam, ikut hadir dalam pertemuan Webinar pada Kamis (3/9). 

Najib pun berharap semoga normalisasi hubungan diplomatik UEA-Israel dapat mempersatukan seluruh faksi perlawanan yang ada. Dengan demikian, bangsa Palestina akan menjadi satu-satunya pihak yang berhak berbicara dan menentukan masa depan  negaranya, bukan negara Arab lain, juga bukan Amerika.


Friday, September 4, 2020

Sebuah Video Perlakuan Buruk Israel terhadap Warga Palestina Berusia 65 Tahun Viral!

Ketika banyak orang Islam dipersekusi, ditahan, dianiaya, dan dibantai, sebagai besar mata dunia malah memandang muslim adalah teroris, radikal, dan intoleran. Maklum seperti itu karena memang banyak agen lapangan yang membawa misi menularkan islamofobia di antero dunia.

Contoh nyata perlakuan buruk terhadap umat Islam adalah di Turkistan Timur oleh Cina daratan dan di Israel. Belakangan, viral sebuah video yang memperlihatkan perlakuan tidak manusiawi oleh tentara Israel terhadap warga Palestina. 


Khairi Hannoun, 65 tahun, yang memprotes rencana Israel untuk mencaplok tanah untuk pemukiman warga Israel di Tepi Barat harus berhadapan dengan tentara Israel. Saat tubuh tuanya dilumpuhkan paksa dan terdampar ke tanah,  tentara Israel tersebut berlutut di lehernya. 

Ini mengingatkan kita pada kejadian yang dialami George Floyd oleh seorang polisi di negeri Paman Sam beberapa waktu lalu. 

Meski Hannoun tidak sampai bernasib tragis seperti Floyd, namun perlakuan sewenang-wenang tentara Israel sangat tidak manusiawi.

Protes yang dilakukannya dan sejumlah warga Palestina pun sangat beralasan. Mempertahankan tanah air sangatlah patriotik. Terutama Pejabat Palestina mengatakan Israel telah mempercepat pembangunan pemukiman sejak awal tahun 2020.

Dan, sebenarnya tidak hanya pemukiman ilegal Israel dan infrastruktur mereka yang mengisolasi komunitas Palestina, Pemerintah Israel juga memastikan bahwa pemukiman di wilayah pendudukan sepenuhnya terhubung satu sama lain dengan Israel. Ini tentu membuat ruang gerak warga Palestina kian sempit.

Kini, Khairi Hannoun dibebaskan setelah kejadian itu. Dirinya mengatakan akan terus berjuang mendorong keutuhan Tepi Barat sebagai bagian dari Palestina.


Thursday, September 3, 2020

Cina Lakukan Pengendalian Populasi Muslim Uyghur Secara Kejam, Angka Kelahiran Anjlok 60%



Kabar ini diakui oleh seorang dokter wanita yang pernah bertugas di Xinjiang. Seperti terlansir DB Channel, Jumat (4/9/2020) dirinya mengatakan kepada media Inggris tentang pengalamannya yang mengerikan saat mempraktikkan pengobatan di sana, membenarkan bahwa pihak berwenang Cina telah melakukan pengendalian populasi pada orang Uyghur dengan metode yang kejam.

Dokter wanita di sebuah salon rambut di Turki secara anonim mengatakan kepada wartawan tentang berbagai tugasnya dalam melakukan pengendalian populasi oleh Uyghur dari pemerintah Cina selama dia bekerja di pemerintah China. 

Dia menyebutkan bahwa dirinya telah mengoperasi 500 hingga 600 wanita Uyghur secara paksa. Ini termasuk kontrasepsi paksa, sterilisasi paksa, dan bahkan pengangkatan paksa rahim. Kebanyakan wanita yang menjalani operasi bahkan tidak tahu apa yang terjadi pada mereka.

Masih dari sumber yang sama, dokter wanita Uyghur ini mengatakan bahwa dia hanya melakukan pekerjaan pada saat itu, tetapi sekarang ia menyesalinya, sehingga dirinya memilih untuk mengakui apa yang telah ia lakukan. Dan ia sekarang berada di Turki untuk memberikan bantuan medis yang dibutuhkan beberapa wanita Uighur.

Pengakuannya itu diperkuat dengan adanya dokumen resmi penduduk China bahwa angka kelahiran di beberapa wilayah Uyghur anjlok hingga hampir 60%.


5 Pangkal Persoalan Meruginya Pertamina Menurut Marwan



Dilaporkan RMOL, Kamis (3/9/2020) menurut Direktur Indonesia Resources Studies (IRESS) Marwan Batubara, pangkal persoalan buntungnya Pertamina pada kebijakan pemerintah yang melanggar konstitusi, aturan perundang-undangan dan juga prinsip good corporate governance (GCG). 

Mengutip media itu, pangkal persoalan dari meruginya perusahaan minyak plat merah tersebut dirangkum oleh Marwan ke dalam 5 poin berikut.

Pertama, soal beban Pertamina yang harus membayar signature bonus (SB) Blok Rokan sebesar 784 juta dolar AS (sekitar Rp 11,3 triliun). Padahal sesuai Pasal 33 UUD 1945, mengelola Blok Rokan hak mandatory Pertamina.

"Hal yang lebih runyam, meskipun baru mengoperasikan Rokan Agustus 2021, Pertamina harus membayar SB pada 2018/2019. Untuk itu Pertamina harus menerbitkan surat utang. Seharusnya cadangan blok Rokan diperhitungkan sebagai penyertaan modal negara (PMN), tanpa SB, dan berlaku sejak pengelolaan dimulai Pertamina Agustus 2021," jelasnya. 

Kedua, Pertamina harus membeli minyak mentah (crude) domestik dengan harga Indonesia Crude Price (ICP), yang asumsinya lebih mahal sekitar 8 dolar AS per barel (di blok Banyu Urip), dan 11 dolar AS per barel (di blok Duri), dibanding ICP crude jenis lain. Hal ini, kata Marwan, terlihat pada Kepmen ESDM No.79.K/2020 tanggal 1 April 2020. 

Kepmen ini berlaku untuk ICP Maret 2020. Untuk bulan-bulan lain, antara Januari--Juni 2020, diperkirakan “anomali” atau berarti perbedaan harga masih sama. 

"Rerata produksi lapangan Banyu Urip sekitar 210.000 barel per hari (bph), sedang lapangan Duri sekitar 170.000 bph. Jika seluruh produksi minyak kedua lapangan dibeli Pertamina, maka nilai 'kemahalan' yang harus dibayar Pertamina US$ 302,4 juta, untuk Duri 336,6 juta dolar AS. Sehingga nilai 'keabnormalan' harga yang harus dibayar Pertamina 639 juta dolar AS atau sekitar Rp 9,25 triliun," bebernya. 

"Nilai kemahalan atau kerugian Pertamina di atas dihitung atas dasar 100 persen produksi Banyu Urip dan Duri dibeli oleh Pertamina. Jika diasumsikan biaya cost recovery ditambah nilai bagi hasil (split) rata-rata kontraktor adalah 35 persen total produksi, maka 35 persen dari nilai kemahalan tersebut (Rp 3,24 triliun) malah dinikmati oleh asing Chevron (Duri) dan Exxon (Banyu Urip)," sambungnya.

Ketiga, yang disebutkan Marwan ialah beban pencitraan politik Pilpres 2019 yang harus ditanggung Pertamina. Hal itu terlihat dari beban perusahaan yang harus terlebih dahulu menanggung biaya subsidi BBM dan LPG sejak April 2017 silam. 

"Menurut Dirkeu Pertamina Emma Sri Martini pada RDPU Komisi VII DPR, akumulasi tanggungan Pertamina tersebut adalah Rp 96,5 triliun kompensasi dan Rp 13 triliun subsidi. Sehingga total beban kebijakan populis tersebut adalah Rp 109,5 triliun," papar Marwan. 

"Utang pemerintah ini memang kelak akan dibayar, tapi jadwalnya tak jelas, terutama karena besarnya defisit APBN akibat corona. Jika tak segera dilunasi, Pertamina justru terancam gagal bayar atau default," tambahnya.  

Karena utang pemerintah ke Pertamina yang sebesar Rp 109,5 triliun tak dilunasi, Marwan mengatakan Pertamina harus menerbitkan surat utang. Beban surat utang Pertamina sejak 2011, katanya, mencapai 12,5 miliar dolar AS. Khusus untuk 2018-2020, akibat menanggung akumulasi utang pemerintah yang Rp 109,5 triliun di atas, Pertamina setiap tahun harus menerbitkan surat utang sebesar 750 juta dolar AS(2018), 1,5 miliar dolar AS (2019) dan 3 miliar dolar AS (2020), pada tingkat bunga (kupon) yang berbeda-beda antara 3,65 persen hingga 6,5 persen. 

"Total tambahan surat utang Pertamina 2018 hingga 2020 adalah 5,25 miliar dolar AS. Artinya, dihitung sejak penerbitan surat utang 2018 dan tingkat kupon masing-masing, maka beban bunga (cost of money) yang ditanggung Pertamina akibat kebijakan populis Pilpres 2019 yang menjadikan Pertamina sapi perah adalah sekitar 210 juta dolar AS atau sekitar Rp 3 triliun," ungkapnya. 

Keempat, yang ditanggung Pertamina adalah beban kebijakan lain berupa public service obligation (PSO) atau BBM satu harga, PSO over quota LPG 3kg, pembangunan rumah sakit untuk Covid-19, dan akuisisi perusahaan Maurel & Prom Prancis yang diperkirakan bernuansa moral hazard. 

"Sesuai UU BUMN No.19/2003 beban PSO harus ditanggung APBN. Keseluruhan beban kebijakan tersebut dapat mencapai triliunan rupiah juga. Hanya dari 3 kebijakan pemerintah yang diurai di atas yaitu pertama beban keuangan SB Rokan Rp 11,3 triliun, kedua membeli crude domestic Rp 9,25 triliun, dan ketiga biaya bunga akibat kebijakan populis Pilpres 2019 Rp 3 tiriliun, Pertamina harus menanggung beban keuangan sekitar Rp 23,55 triliun," tandas Marwan. 

"Artinya, jika kebijakan sesuai konstitusi, tidak melanggar aturan dan GCG, maka Pertamina masih untung sekitar Rp 23,55 triliun dikurang Rp 11,3 triliun sama dengan Rp 12,25 triliun," lanjutnya.

Kelima, Marwan menyebut penunjukan penunjukan Basuki Tjahja Purnama alias Ahok sebagai Komisaris Utama PT Pertamina (Persero) adalah salah satu yang melanggar aturan.   

"Terkait posisi Ahok sebagai Komut yang masih dihujat publik, masalahnya sama, yaitu pemerintah mengangkat Ahok tanpa peduli aturan dan GCG. Ahok diangkat menjadi Komut dengan melanggar sejumlah ketentuan dalam UU BUMN No.19/2003, Permen BUMN No.02/MBU/02/2015 tentang Persyaratan Pengangkatan Komisaris BUMN, dan Permen BUMN No.01/2011 tentang Penerapan GCG," sebut Marwan.

"Karena itu, seperti juga sikap publik, IRESS bersikukuh pada sikap semula, Ahok harus segera dilengserkan dari posisi Komut Pertamina," demikian ditekankan.


Wednesday, September 2, 2020

7 Hal yang Menunjukkan Yunani Telah Memanfaatkan Persoalan Siprus dan Status Pulau-Pulau di Laut Aegea untuk Melawan Turki



Yunani sangat terlihat jelas memusuhi Turki. Terutama belakang ini yang terkait persoalan tentang Siprus dan pulau-pulau di Laut Aegea. Yunani menggunakan kedua sumber masalah itu untuk melawan Negeri yang kini dipimpin Presiden Erdogan. 

Kenyataan ini membuktikan bahwa Yunani sudah melanggar prinsip hukum internasional dan pasal perjanjian internasional dalam kebijakannya terhadap Turki. 

Mengutip Daily Sabah, Rabu (2/9/2020) Muhittin Ataman merincikan tujuh hal yang menunjukkan bahwa Yunani telah memanfaatkan kedua sumber masalah tersebut. 

Pertama, pihak Yunani bertanggung jawab atas permulaan pertanyaan tentang Siprus ketika mereka memulai kekejaman mereka terhadap minoritas Turki di pulau itu. Saat ini, tidak ada yang berbicara tentang pembantaian Yunani di pulau itu pada 1960-an dan 1970-an. Turki berusaha melindungi Turki pada 1964, tetapi upaya Turki itu diblokir oleh Amerika Serikat. Namun, Turki ikut campur dalam krisis pada tahun 1974 dan mengakhiri pembunuhan massal dan pelanggaran hak asasi manusia terhadap orang Turki, yang berakhir dengan pembagian pulau menjadi dua entitas politik.

Kedua, pihak Yunani bertanggung jawab atas kegagalan rencana reunifikasi Siprus, yang dikenal sebagai Rencana Annan. Sebuah proses perdamaian dimulai di bawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa dan diwujudkan sebagai Rencana Annan.

Proposal tersebut bertujuan untuk membangun kembali Republik federal Siprus dan itu diajukan kepada penduduk pulau itu dalam referendum tahun 2004. Sementara proposal tersebut didukung oleh 65% orang Siprus Turki, 75% orang Yunani menentang rencana tersebut.

Namun, meskipun ada panggilan dari pejabat PBB, embargo terhadap Siprus utara tidak dicabut. Di sisi lain, orang Siprus Yunani, yang menolak rencana tersebut, diberi penghargaan oleh Uni Eropa dan diterima sebagai anggota penuh Uni Eropa. Uni Eropa membuat dua kesalahan: satu, Uni Eropa menghadiahi spoilsport; dua, itu melanggar salah satu prasyarat keanggotaan penuh - menyelesaikan semua masalah perbatasan.

Ketiga, setelah menjadi anggota penuh Uni Eropa, Siprus Yunani mulai mengambil beberapa langkah sepihak yang serius dan menandatangani beberapa perjanjian yang memberi izin kepada beberapa perusahaan internasional untuk mencari minyak dan gas alam di wilayah tersebut.

Mereka bertindak sebagai perwakilan dari seluruh pulau, yang terdiri dari dua entitas politik. Kemudian, pihak Turki menandatangani perjanjian serupa dengan Turki, dan kapal-kapal Turki mulai mencari di wilayah tersebut. Melupakan siapa yang mengambil langkah pertama, Siprus Yunani sekarang menyalahkan Turki karena bertindak sepihak. Semua pengamat tahu bahwa pihak Yunani-lah yang mengambil langkah pertama.

Keempat, pemerintahan Siprus Yunani mengizinkan penempatan pasukan militer Prancis di pulau itu. Pengerahan pasukan militer dari negara lain selain negara penjamin dilarang oleh perjanjian konstituen. Artinya, langkah ini sama sekali bertentangan dengan pasal-pasal perjanjian internasional yang ditandatangani kedua belah pihak.

Kelima, negara Yunani telah melanggar prinsip hukum internasional dengan meminta seluruh wilayah perairan seluruh pulau, bahkan yang hanya berjarak 2 kilometer (1,2 mil) dari daratan Turki, seperti Kastellorizo ​​(Megisti-Meis) yang hanya berjarak 9 kilometer persegi (3,5 mil persegi).

Yunani meminta klaim teritorial 40.000 kali lebih besar dari ukuran pulau itu. Yunani ingin memenjarakan Turki di semenanjung Anatolia. Secara alami, Turki menyatakan langkah ini sebagai garis merah dan tidak dapat diterima.

Keenam, pihak Yunani ingin mendeklarasikan perairan teritorial 12 mil untuk pulau-pulau itu, yang juga akan memenjarakan Turki di daratannya. Turki tidak akan dapat menavigasi atau mencapai perairan internasional dengan bebas. Sekali lagi, Turki telah menyatakan langkah ini sebagai casus belli, alasan untuk berperang, istilah hukum yang, dibaca dalam bahasa Turki, membawa makna duel yang lebih dari sekadar ironi "mata-mata yang jelas" - dan betapa jelasnya itu. Klaim Yunani sangat bertentangan dengan prinsip keadilan dan kebenaran. Tidak masuk akal mengharapkan Turki untuk mengizinkan Yunani menjadikan Laut Aegea sebagai laut pedalamannya.

Ketujuh, Yunani melanggar pasal perjanjian internasional dan memiliterisasi pulau-pulau yang paling dekat dengan Turki. Ini adalah satu lagi kartu provokasi yang sering dimainkan oleh otoritas Yunani.

Langkah-langkah tersebut di atas dan banyak lainnya menunjukkan bahwa Yunani tidak memiliki niat baik terhadap Turki. Yunani, yang telah mengikuti kebijakan ekspansionis berkelanjutan (dikenal sebagai Ide Megali) terhadap Turki, lebih memilih hubungan zero-sum yang jelas dengan Turki. Mereka yang selalu menyalahkan Turki karena mengikuti kebijakan neo-Ottomanist, klaim yang terus-menerus ditolak oleh pejabat Turki, tidak merasa perlu untuk memperingatkan Yunani tentang irredentisme neo-Byzantinist.

Mengingat Yunani dan Turki sebagai negara tetangga, mereka saling bergantung satu sama lain dan ditakdirkan untuk hidup bersama secara damai. Kelanjutan kebijakan antagonis terhadap Turki tidak akan berkontribusi pada kesejahteraan Yunani atau rakyat Yunani.


Pemerintah Yunani Telah Mendukung, Mendanai dan Melatih Kelompok Teroris Melawan Turki

 


Dilaporkan Daily Sabah, Rabu (2/9/2020) menurut Muhittin Ataman salah satu alasan utama kebijakan antiTurki oleh Yunani adalah perubahan dramatis dalam keseimbangan kekuatan antara Turki dan Yunani. 

Ia mengatakan bahwa Turki mulai bermain di liga atas dan menjadi kekuatan regional utama. Oleh karena itu, Yunani telah berusaha untuk mencegah kebangkitan lebih lanjut dari kekuatan Turki di wilayah tersebut, dan untuk alasan ini, Yunani terus menerus mencoba untuk memprovokasi Turki dan mendorongnya melewati batasnya.

Kemudian, dengan menyatakan telah diincar oleh Turki, Yunani meminta semua negara Barat untuk mempertahankan kepentingan nasionalnya di kawasan itu. Yunani pertama kali memukul Turki dan kemudian mulai menangis, mengklaim bahwa Turki memukulnya. 

Yunani melanggar banyak prinsip hukum internasional, tetapi masih mengklaim bahwa Turki bertindak secara sepihak di wilayah tersebut.

Masih dari sumber yang sama, kebijakan Yunani yang antagonis terhadap Turki disebut Ataman mirip dengan kebijakan antiTurki di Armenia. 

Lebih lanjut, dirinya berpendapat tampaknya para pejabat Yunani terus memanfaatkan ketegangan dengan Turki sebagai instrumen dalam politik domestik mereka. Artinya, para pejabat Yunani memperalat gerakan antiTurki untuk konsumsi domestik.

Yunani, misalnya, mendukung setiap aktor antiTurki atau nonnegara. 

Mengutip media itu, saat ini, Yunani menjadi tuan rumah bagi ribuan anggota Gülenist Terror Group (FETÖ) di negara tersebut. Pemerintah Yunani telah mendukung, mendanai dan melatih kelompok teroris melawan Turki. Sayangnya, sejauh ini, tidak ada negara Barat yang mempertanyakan kebijakan Yunani yang tidak bersahabat dan bermusuhan terhadap Turki ini.


Tuesday, September 1, 2020

Inilah yang Ditandatangani Israel dan UEA pada Kunjungan Luar Biasa AS-Israel di Abu Dhabi



Proses normalisasi hubungan diplomatik antara Israel dan Uni Emirat Arab terus berjalan mulus. Banyak pihak, terutama Palestina mengutuk keras hal itu dan menyebutnya sebagai "tusukan dari belakang". Bahkan, Pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei menhatakan, "UEA mengkhianati dunia Islam, negara-negara Arab, negara-negara kawasan, dan Palestina."

Lantas, apa sebenarnya yang ditandatangani Israel dan UEA dalam pertemuan bersejarah tersebut?

Mengutip Kompas, Rabu, (2 September 2020) Israel dan UEA pada Selasa menandatangani protokol pertama mereka di bidang perbankan dan keuangan, menurut kantor pemerintahan PM Netanyahu.

"Kami akan segera mengumumkan kesepakatan tambahan di bidang penerbangan, pariwisata, perdagangan dan lain-lain," kata perdana menteri itu dalam pernyataannya seperti terlansir media itu.

Masih dari sumber yang sama, Israel juga mengatakan bahwa kedua belah pihak pada Selasa mengadakan pertemuan pertama mereka tentang adanya "kemungkinan untuk saling membuka kedutaan", dan bahwa penerbangan komersial langsung antara negara Yahudi dan UEA kemungkinan akan lepas landas pada akhir tahun.

"Tidak mengherankan apabila pada akhir tahun 2020 akan ada penerbangan langsung antara Israel dan UEA," kata Juru bicara Kementerian Luar Negeri Lior Haiat kepada situs media berbahasa Inggris Al-Arabiya yang dikutip sumber tersebut.


Kepala Suku Socotra Menuding UEA dan Arab Saudi Izinkan Israel Memasuki Wilayahnya

 


Israel dan dunia Arab menjadi topik hangat minggu ini di samping COVID-19. Betapa tidak? Normalisasi hubungan Israel dan Uni Emirat Arab telah menyita perhatian publik internasional. 

Ditambah lagi dalam kaitannya dengan negara Arab lainnya. Dilaporkan Anadolu Agency, seorang Pemimpin Suku Socotra di Yaman pada Selasa menuding Uni Emirat Arab dan Arab Saudi membiarkan Israel memasuki Pulau Socotra di Yaman.

Tuduhan itu muncul dalam sebuah pernyataan oleh Issa Salem bin Yaqut, kepala suku di Socotra, yang memperingatkan agar tidak merongrong kedaulatan Yaman di Socotra dan menyerukan untuk mengusir Arab Saudi dan UEA.

Bin Yaqut juga menuding Riyadh dan Abu Dhabi "menghancurkan landmark lingkungan yang menawan dan langka di Pulau Socotra dan mendirikan kamp di tengah keheningan internasional yang mengerikan."

Masih dari sumber yang sama, pada hari Jumat, South Front, situs web Amerika yang berspesialisasi dalam penelitian militer dan strategis, melaporkan kedatangan delegasi Emirat-Israel ke pulau itu, yang terletak di Samudra Hindia.

Situs web tersebut mengatakan UEA dan Israel bermaksud untuk membangun fasilitas militer dan intelijen di Socotra.

Pada bulan Juni, pasukan yang berafiliasi dengan Dewan Transisi Selatan (STC) yang memisahkan diri mengambil kendali atas Provinsi Socotra dalam sebuah langkah yang digambarkan oleh Pemerintah Yaman pada saat itu sebagai "kudeta melawan legitimasi."

Pemerintah Yaman menuduh UEA - mitra utama kedua Arab Saudi dalam koalisi - mendukung STC untuk melayani kepentingannya sendiri di Yaman, tuduhan yang dibantah Abu Dhabi.

Mengutip media itu, Yaman telah dilanda kekerasan dan kekacauan sejak 2014, ketika pemberontak Houthi menguasai sebagian besar negara, termasuk ibu kota Sanaa.

Krisis meningkat pada 2015 ketika koalisi militer pimpinan Saudi meluncurkan kampanye udara yang bertujuan untuk menggulung kembali keuntungan teritorial Houthi.

Sumber foto: Anadolu Agency


Beranikah Indonesia seperti Malaysia yang Larang Masuk Warga India, Indonesia, Filipina?

 


Penanganan COVID-19 memang harus sangat tertib. Virus ini tidak pandang bulu dalam menyerang manusia. Di Indonesia saja sudah berguguran pejuang medis dalam menghadapinya. Di luar negeri pun tak kalah ngeri. Sudah banyak sekali yang menjadi korban virus asal Cina ini.

Menyikapi dampak yang ditimbulkan pada kesehatan, Malaysia akan memblokir warga negara India, Indonesia, dan Filipina memasuki negara itu mulai Senin mendatang (7/9/2020).

Dilaporkan Bloomberg, Selasa (1 September 2020) pembatasan tersebut akan mempengaruhi mereka yang memiliki izin masuk jangka panjang, pelajar, ekspatriat, penduduk tetap serta anggota keluarga Malaysia, kata Menteri Pertahanan Ismail Sabri Yaakob kepada wartawan dalam konferensi pers yang disiarkan televisi pada hari Selasa. Semua turis asing telah dilarang masuk sejak Maret.

Malaysia memperpanjang langkah-langkah untuk mengekang pandemi hingga akhir tahun karena virus "masih aktif menyebar ke seluruh dunia," kata Perdana Menteri Muhyiddin Yassin dalam pidatonya pada hari Jumat.

Mengutip media itu, Filipina diikuti oleh Indonesia dengan jumlah kasus virus korona terbesar di Asia Tenggara, sementara India bergulat dengan total infeksi mendekati 4 juta. Pemerintah Malaysia akan terus memantau situasi dan mungkin memperluas pembatasan jika kasus virus meningkat di lebih banyak negara, kata Ismail.

Lantas, beranikah Indonesia melakukan hal serupa di atas mengingat betapa berbahayanya vius ini bagi manusia?


Waw! Startup Turki Falcon AI Merevolusi "Game" dengan Pelatih AI untuk Esports



Dilaporkan Daily Sabah, startup Turki Falcon AI siap merevolusi dunia game kompetitif dengan kreasi terbarunya, yakni SenpAI.gg. 

Berk Özer, salah satu pendirinya, memberikan wawancara eksklusif kepada Daily Sabah terkait produk mereka

Mengutip media itu, dalam hal permainan kompetitif, banyak masalah yang dihadapi, yakni bingkai per detik (FPS), yang bergantung pada grafis dan kekuatan pemrosesan komputer; tertinggal, yang terjadi karena tingkat ping yang tinggi dari koneksi internet yang lemah, dan, tentu saja, kesalahan pemain saat dalam game. 

Sebuah perusahaan Turki bernama Falcon AI telah menghadirkan solusi inovatif yang bertujuan untuk meningkatkan keterampilan pemain sambil bertindak sebagai pelatih kecerdasan buatan (AI) untuk bermain game: SenpAI.gg. 

Huruf "gg" di URL situs web resmi produk dan namanya adalah referensi ke singkatan yang biasa digunakan oleh pemain game: "game yang bagus".

Berk Özer, mengatakan kepada Daily Sabah bahwa tujuan mereka adalah menyediakan alat yang akan membantu mereka berkembang dalam game esports kompetitif, yaitu League of Legends, Valorant, DOTA 2, dan lainnya.

“Kami mendirikan Falcon AI pada 2017. Tujuan utama kami adalah meningkatkan kemampuan AI kami. Melihat permintaan yang tinggi dalam esports, kami memutuskan untuk fokus sepenuhnya padanya,” kata Özer terlansir sumber yang sama.

“Saat saya mengatakan esports, orang mungkin salah paham. Kami tidak hanya berfokus pada profesional sejati. Fokus kami mencakup para gamer profesional dan gamer pendatang baru yang hanya ingin meningkatkan keterampilan mereka, ” tambahnya.

Jadi, bagaimana SenpAI.gg benar-benar membantu para gamer meningkatkan keterampilan mereka?

“Saat pemain masuk menggunakan SenpAI.gg, kami menggunakan AI untuk menganalisis data pertandingan mereka. Baik sebelum dan sesudah pertandingan mereka, kami memberi mereka berbagai rekomendasi, analisis, dan jenis konten lainnya,” kata Özer lagi.

“Misalnya, ketika seorang pemain akan memulai pertandingan, kami memberikan mereka informasi penting seperti juara mana yang lebih cocok dengan keterampilan mereka atau juara mana yang lebih bermanfaat dalam upaya mereka untuk mengalahkan tim lawan,” lanjutnya.

Özer menambahkan bahwa SenpAI.gg membuat perbandingan antara pengguna dan pemain yang lebih profesional dan menentukan keterampilan dan gaya bermain siapa yang mirip dengan mereka.

Lalu, game apa yang akan didukung SenpAI.gg?

Pada tahap awal, Riot Games 'League of Legends and Valorant adalah fokus utama SenpAI.gg, tetapi startup tersebut berencana untuk memperluas untuk memasukkan lebih banyak game ke dalam sistemnya. 

Bagaimana tentang nama Turki di balik layar?

Meski perusahaannya berbasis di Boston, Falcon AI mengatakan mereka memiliki banyak insinyur di Istanbul.

“Tujuan kami adalah membuat produk ini, yang dikembangkan oleh para insinyur Turki, berhasil secara global. Insinyur Turki kami sedang mengembangkan SenpAI.gg, dan kami berada di sini di Amerika Serikat untuk tujuan pemasaran," jelas Özer.

Ia juga menjelaskan, “Kami memiliki puluhan ribu pengguna dari seluruh dunia. AS memimpin, Eropa barat dan timur (datang berikutnya). Kami juga memiliki banyak pengguna di Amerika Selatan, khususnya di Brasil. Faktanya, kami memiliki pengguna di Brasil hampir sebanyak yang kami miliki di Turki. Sistem kami juga memiliki dukungan bahasa Portugis."

Beberapa negara yang tidak terduga juga ikut bergabung, seperti Indonesia, meskipun perusahaan tidak pernah beriklan di sana, yang menunjukkan universalitas dan potensi yang berkembang dari game di seluruh dunia.

Özer juga menyatakan bahwa mereka memiliki dua permohonan paten yang menunggu penyelesaian di A.S.

SenpAI.gg saat ini gratis untuk digunakan, tetapi berbayar layanan berlangganan premium dan platinum, bersama dengan respek mereka