Tuesday, March 31, 2026

Prabowo Sekadar Bertanya, BELUM Mengawasi Para Menteri

Ilustrasi: Pixabay

Dikabarkan bahwa Presiden Prabowo Subianto mengaku menyesal karena terlalu mengawasi para menterinya. Konon, dia sering menelepon menteri-menteri pada pukul dua malam atau lima pagi untuk bertanya soal harga telur. 

Kalau diperhatikan, ketika Presiden Prabowo Subianto menelepon menteri di luar jam kerja semisal pukul 02.00 dini hari, itu bukanlah mengawasi. Mengapa? Pasalnya, presiden menelepon sekadar bertanya untuk mendapatkan jawaban, seperti soal harga telur di pasar. 

Sebenarnya jika memang ingin mengawasi, maka Presiden Prabowo bisa langsung ke kementerian dan mengecek kinerja para menteri tersebut di lapangan. Sebutlah soal harga telur di atas, presiden bisa terjun di pasar. Kalau perlu adakan penyamaran secara optimal. Sebutlah dengan berpakaian gembel dan rambut acak-acakan plus berwajah dekil supaya tidak dikenali warga

Di pasar, presiden bisa leluasa bertanya soal harga telur, kendala penjualannya, dan segala hal terkait dengan itu. Jika sekadar bertanya lewat telepon di luar jam kerja, itu hanyalah menerima laporan yang entah benar atau asal bapak senang. 

Terlebih, menelepon di luar jam kerja untuk urusan pekerjaan tentu tidak dibenarkan. Meski bagaimana pun, para menteri juga manusia. Mereka punya keluarga dan perlu istirahat. Dalam hal ini idealnya presiden harus mengedepankan sisi keprofesionalan dalam pekerjaan. Ya, ada waktu untuk bekerja, ada waktu untuk makan, ada waktu untuk keluarga, ada waktu untuk istrahat, dan lainnya. 


Prabowo Tidak Memilih Iran, Melainkan Jepang dan Korea Selatan

Ilustrasi:Pixabay

Ada satu hal yang paling penting bagi kemakmuran rakyat Indonesia saat ini, yakni ekonomi. Terkhusus adalah soal kenaikan harga barang dan jasa sebagai imbas perang antara Iran versus Amerika plus Israel. 

Dan, tentu saja hal tersebut menjadi peringkat pertama dalam skala prioritas. Idealnya, untuk dapat menekankan lonjakan harga, Presiden Prabowo Subianto lebih mengutamakan perhatiannya pada persoalan ini. Salah satunya dengan mengunjungi Iran untuk membicarakan Selat Hormuz. Ya, kalau bisa, rayulah Iran agar sesegera mungkin negeri Persia itu mengizinkan tampa syarat bagi kapal-kapal Indonesia melewati selat itu. 

Jika kapal-kapal Indonesia bebas berlalu di sana, maka persoalan minyak dapat diatasi. Pemerintah Indonesia tidak perlu mencari minyak di negara lain dan soal harga-harga tentunya dapat distabilkan.. 

Akan tetapi, Presiden Prabowo Subianto malah mengadakan kunjungan di Jepang dan ke Korea Selatan. Membahas kerja sama dengan dua negara di Asia Timur itu memang penting, namun menyelesaikan soal jalur perlintasan kapal-kapal di Selat Hormuz lebih penting untuk segera dilakukan. 

Nah, terlepas dari adanya kesengajaan untuk tidak ke Iran atau bagaimana, yang jelas idealnya Presiden Prabowo bisa lebih mengedepankan yang sifatnya mendesak, yakni minyak. Semoga setelah ini mantan Danjen Kopassus itu dapat lebih diandalkan lagi bagi kemakmuran rakyat Indonesia. 


Monday, March 30, 2026

Pesan Maut Israel untuk Indonesia?


Ilustrasi: Pixabay

Sudah tiga prajurit Indonesia gugur di Lebanon dalam dua penyerangan yang berbeda. Penjaga perdamaian yang seharusnya bebas dari serangan, tapi pada kenyataannya diserang Israel juga. Ini sungguh pelanggaran berat. Israel harus dihukum sebagai penjahat perang. 

Ya, minimal ada harapan ke arah sana meskipun selama ini Israel selalu kebal hukum. Segala putusan hukum internasional hanyalah angin kecil yang berembus pelan dan tiada berarti apa-apa bagi bangsa zionis tersebut. 

Dari kejahatan ke kejahatan. Itulah Israel. Termasuk pula dengan gugurnya tiga prajurit pemberani Indonesia. Meskipun mereka gugur sebagai pahlawan, tetapi idealnya hukum harus ditegakkan. Israel wajib mendapatkan hukuman setimpal atas kejahatan ini. Pemerintah Indonesia harus berani menyikapinya dengan tegas. 

Nah dari dua penyerangan itu, adakah latar belakang yang kuat dari Israel sehingga menyasar prajurit-prajurit Indonesia? 

Sekilas kedua peristiwa tersebut merupakan penyerangan "umum" ke Lebanon. Akan tetapi, akibat yang ditimbulkan adalah gugurnya tiga prajurit asal Indonesia. Apakah ini wajar? Mungkinkah Israel sengaja menargetkan TNI sebagai pesan maut kepada Bangsa Indonesia? Mungkin ya. 

Kalau kita perhatikan, belakang ramai tuntutan sebagian rakyat Indonesia agar Presiden Prabowo Subianto menarik Indonesia dari Board of Peace. Bisa jadi Israel sangat marah akan hal ini sehingga menyampaikan pesan lewat serangan maut agar Indonesia tetap di BoP. 

Tapi, itu hanyalah kemungkinan belaka. Yang jelas, apa pun itu, Pemerintah Indonesia harus bertindak tegas atas gugurnya tiga pahlawan Indonesia di Lebanon akibat serangan Israel. 


Adakah Kabar Baik untuk Rakyat Indonesia?

Ilustrasi: Pixabay

Harga bahan bakar turun lantaran subsidi diperbanyak di sektor migas, misalnya, merupakan kabar baik bagi seluruh rakyat Indonesia. Perbaikan setiap jalan yang rusak atau pengaspalan di daerah terpencil juga kabar yang membahagiakan. 

Atau, kabar-kabar baik lainnya, seperti pemerintah membantu para petani, peternak, pedagang, dan nelayan dalam berbagai hal merupakan angin segar bagi rakyat. 

Pertanyaannya, apakah ada kabar-kabar baik tersebut untuk rakyat Indonesia? 

Jujur, selama berganti-ganti pemimpin negara, berita-berita semisal kenaikan bahan bakar, kenaikan tarif listrik, kerugian PLN, kerugian Garuda Indonesia, dijualnya saham Indosat, jatuhnya rupiah terhadap dollar Amerika Serikat, bertambahnya utang Indonesia kepada luar negeri, keracunan siswa setelah menyantap makan bergizi gratis, dan berita-berita duka lainnya lah yang meramaikan jahat alam Indonesia. 

Rakyat Indonesia agaknya tidak pernah mendapatkan suguhan berupa berita-berita bahagia dari pemerintah. Itulah sebabnya, begitu viral sebuah kalimat yang berbunyi, "Pemerintah tidak prorakyat."

Kalimat itu tersaji di berbagai bidang kehidupan. Di pertanian, contohnya, pemerintah tidak maksimal membantu para petani. Pupuk berkualitas masih mahal. Hilirisasi hasil pertanian masih terhenti di tengkulak. Yang ada malah impor beras secara ugal-ugalan dengan alasan persediaan beras lokal tidak mencukupi untuk pangan di Indonesia. Idealnya, tingkatkan sektor pertanian agar hasilnya sampai di rumah seluruh rakyat Indonesia. Bukannya malah impor dan impor. 

Itu semua sebenarnya menjadi pekerjaan bagi pemerintah untuk Indonesia yang lebih baik. Tapi, akankah pemerintah bekerja secara optimal untuk kemakmuran seluruh rakyat di negeri ini? 


Perang Meninggikan Martabat Plastik?

Ilustrasi: Pixabay

Selain korban yang berjatuhan, ternyata dampak perang bisa juga "agak lain". Di Indonesia itu sudah terjadi dan dirasakan oleh banyak pihak, terutama kaum pedagang. 

Kalau Anda mampir di kios atau toko plastik, hal itu akan sangat terasa. Betapa tidak? Harga-harga beragam plastik yang dijual meningkat tajam. Ya, semua jenis plastik mengalami peningkatan harga. 

Orang-orang tidak lagi memandang plastik kresek, misalnya, sebagai barang murahan. Siapa pun perlu merogoh kantong lebih dalam lagi untuk dapat membelinya. 

Jika ditanya mengapa bisa begitu, maka para penjual plastik satu suara dalam memberikan jawabannya, yakni akibat perang Iran versus Amerika Serikat plus Israel. 

Sekilas memang sederhana, tetapi sebenarnya para pedagang juga "pening' memikirkannya. Ingin tidak menaikkan, tetapi memang harganya sudah naik di tempat mereka membelinya. Mau tidak mau, mereka pun terpaksa menaikkannya. 

Dan, kita wajib menerima fakta itu di lapangan. 


Sunday, March 29, 2026

Seorang TNI Gugur SETELAH Israel Dibombardir Iran

Ilustrasi: Pixabay

Konon, Tel Aviv luluh lantak pascaserangan Iran. Rudal-rudal dari negeri Syi'ah tersebut juga menghantam wilayah-wilayah lain di negara zionis itu. Bisa dikatakan "sekilas" Israel sudah dihajar hanis-hanisan. Dan, harusnya tak bisa lagi melakukan penyerangan. 

Namun, kenyataan berkata lain. Negara yang dipimpin Benyamin Netanyahu itu masih mampu melakukan serangan. Bahkan di luar Iran. Ya, kali ini yang menjadi target mereka adalah Lebanon. 

Akibat serangan Israel tersebut, seorang tentara Indonesia gugur dan beberapa lainnya terluka. Mereka tergabung dalam Kontingen Garuda di misi United Nations Interim Force in Lebanon. (UNIFIL). 

Nah yang menjadi pertanyaan, sekuat itukah Israel? Padahal negara mereka sudah dibombardir Iran. Rudal-rudal Israel juga sudah dikerahkan untuk melakukan penyerangan ke banyak tempat, tapi tak juga habis. Kalau boleh disebut, Israel seakan tak ada matinya. Begitu susah untuk dikalahkan. Kekuatannya sungguh luar biasa. 

Mungkin itulah sebabnya negara-negara Arab, seperti Arab Saudi, Yordania, Kuwait, Qatar, Uni Emirat Arab, dan Oman tak ada yang berani melawan Israel. Mereka lebih memilih diam saat orang-orang Arab Palestina dibantai, disiksa, dan diinjak-injak Israel dengan sangat kejam. Orang-orang Arab di luar Palestina tidak mau bernasib sama dengan orang-orang di Gaza dan Tepi Barat. 

Lalu, apakah Indonesia juga diam setelah salah seorang putra bangsa kita gugur? 

Gaza Harus Memiliki Senjata Nuklir agar Merdeka

Ilustrasi: Pixabay

Mungkin sekilas mirip dongeng. Lebih tepatnya dongeng siang bolong yang kering kerontang. Bagaimana bisa Gaza memiliki senjata nuklir? 

Tapi, ini adalah syarat. Benar, syarat! Bisa dibilang merupakan syarat mutlak agar Gaza bisa merdeka. Ya, bisa merdeka sebagai Republik Gaza atau menjadi bagian Palestina yang 100% berdaulat. Pihak Amerika Serikat dan Israel tak akan berani membuat konflik di sana. 

Sebagai bukti yang sudah ada di lapangan, lihatlah Korea Utara, misalnya! Apakah Amerika Serikat menyerang negara berpaham Juche itu? Jawabannya TIDAK! Mengapa begitu? Sebab, negara di bawah komando Kim Jong Un tersebut memiliki senjata nuklir yang siap pakai. 

China dan Rusia juga aman dari serangan Amerika Serikat plus sekutu-sekutunya. Alasannya juga sama. 

Nah itulah sebabnya, jika Gaza ingin merdeka, maka satu syaratnya, memiliki senjata nuklir. Masalahnya, bagaimana cara untuk mewujudkan hal tersebut? 

Jangankan senjata nuklir, hingga kini persenjataan konvensional yang mereka miliki saja kecanggihan dan jumlahnya di bawah milik Israel. Selama fakta ini tidak berubah, rakyat Gaza selalu menjadi sasaran empuk penembakan dan penyiksaan di tanah mereka sendiri. Dan, negara-negara Arab khususnya, juga dunia Islam umumnya tak bisa berbuat apa-apa atas kekejaman negara zionis itu. 


Saturday, March 28, 2026

Hemat BBM, Menjadi Peluang Bisnis Sepeda?

Ilustrasi: Pixabay

Sepeda di sini tentunya kendaraan beroda dua yang dilengkapi dengan sepasang pengayuh untuk menggerakannya. Ya, sepasang kaki kitalah yang mengayuhnya hingga bergerak maju. Orang-orang juga menyebutnya sepeda angin. 

Nah, dewasa ini mulai muncul kepanikan masyarakat akan kelangkaan bahan bakar minyak lantaran perang antara Amerika Serikat plus Israel versus Iran. Untuk menyiasatimya, sebagian orang sudah mulai beralih dari kendaraan bermotor berbahan minyak ke sepeda angin. Ini sebagai upaya penghematan bahan bakar minyak. 

Memperhatikan situasi dan kondisi tersebut, sebenarnya adalah peluang bisnis sepeda yang menjanjikan. Tentu saja ada beragam usaha dalam bisnis ini. Mulai dari penjualan unit-unit sepeda hingga usaha tambal bannya di pinggir jalan. 

Penjualan sepeda tidak harus yang baru, tetapi juga bisa saja yang bekas. Pasalnya, saat ini perekonomian juga sedang tidak baik-baik saja. Harga sepeda baru pastinya mahal dan sepeda bekas menjadi alternatif yang masuk akal sesuai isi kantong. 

Tambal ban sepeda pun tak perlu yang mewah. Cukup bermodalkan pencongkel ban luar, alat pengepres, karet tambal, lem, spritus, dan pompa sepeda manual. 

Apakah Anda tertarik mencobanya? 


Thursday, March 26, 2026

Bahlil: Prabowo Itu Suka Tergesa-gesa

Ilustrasi: Pixabay

Akhir-akhir ini nama Bahlil dan Prabowo begitu tenar. Keduanya sering disebut di rumah-rumah, warung-warung makan, bahkan di pasar tradisional. Maklum masing-masing pemilik nama tersebut sedang naik daun. 

Meskipun demikian, baik Bahlil, maupun Prabowo sebenarnya bukanlah sosok-sosok manusia yang baik. Bahlil, misalnya, sangat gemar bermain judi. Hari-harinya tak pernah dia lewatkan tanpa permainan haram itu. Taruhannya bukan main-main. Pernah dia mempertaruhkan istri ketiganya dalam arena judi yang digelar di rumahnya. 

Prabowo tak kalah buruk daripada Bahlil. Pria pengusaha yang satu ini gemar sekali mencuri dana desa. Ya, koruptor kelas teri. Uangnya dia hambur-hamburkan di panggung hiburan malam. 

Nah suatu hari, Bahlil yang akrab dengan warga pernah berujar di salah satu kedai kopi bahwa Prabowo termasuk orang yang suka tergesa-gesa. Dan, memang begitulah adanya. 

Prabowo yang sejak lama menjadi pengusaha batu bata itu selalu saja tergesa-gesa dalam segala hal. Pernah suatu waktu dia tertarik membuka usaha lain, yakni ayam goreng tepung. Bukannya merintis satu gerai usaha terlebih dahulu, dia langsung membuka sepuluh unit di banyak tempat. Sekilas memang bagus, tetapi karena minim pengalaman, akhirnya usaha barunya ini bangkrut dan semua unit usaha ayam itu pun terpaksa ditutupnya. 

Pernah juga ketika dirinya melihat sepupunya menebas daun pisang miliknya. Dengan tergesa-gesa dia langsung menuduh sepupunya itu hendak mencuri buah pisangnya. Padahal tidaklah demikian. 

Kebanyakan warga yang sudah lama tinggal di Desa Telur Putih tersebut tak bisa berbuat apa-apa dengan sikap buruk keduanya. Mereka hanya bisa menonton prilaku buruk Bahlil Rudianto dan Prabowo Sugiman itu. Mau bagaimana lagi? Mengkritik malah jadi masalah. Jadi, lebih baik cari aman saja

(Cerita di atas hanya fiksi belaka. Semoga dapat ditarik pelajaran untuk hidup yang lebih baik.) 


Board Of Peace Penyebab Krisis Energi di Indonesia?

Ilustrasi: Pixabay

Selat Hormuz menjadi kendala kapal-kapal Indonesia dalam menyalurkan bahan bakar minyak ke dalam negeri. Betapa tidak? Iran secara tegas menyatakan bahwa mereka hanya akan mengizinkan kapal-kapal dari negara yang tidak bersekutu dengan Amerika Serikat dan Israel untuk dapat melewatinya. 

Kapal-kapal negara jiran kita, seperti Malaysia sudah mendapatkan izin melewati selat tersebut. Alhasil, mereka aman dalam hal pasokan energi. Lantas bagaimana dengan masa depan Indonesia terkait minyak dari Timur Tengah? 

Seperti yang kita ketahui bersama, Prabowo Subianto tidak mau keluar dari Board Of Peace (BOP) bentukan Donald Trump itu. Ini artinya Presiden RI tersebut tetap setia menjadi pendukung Presiden Amerika Serikat. Dan, tentu saja Iran pasti keberatan untuk mengizinkan kapal-kapal Indonesia melewati selat di bawah kekuasaan mereka akibat dukungan itu. 

Melihat hal ini idealnya Prabowo Subianto paham terhadap langkah yang ditempuhnya di BOP tersebut sudah menyebabkan kerugian bagi negara Indonesia. Maka, sudah seharusnya dirinya keluar dari sana. Tinggalkan keberpihakan kepada Amerika Serikat. 

Kalau memang Prabowo terus ngotot mendukung Amerika Serikat dan Israel, maka jangan bawa-bawa Indonesia. Dukunglah dua negara agresor tersebut atas nama pribadi. Sehingga, Indonesia aman dari konflik antara Iran versus Amerika Serikat plus Israel, termasuk dalam hal pasokan minyak dari Timur Tengah. 


Wednesday, March 25, 2026

BGN Klaim MBG Perlancar Pengiriman Sampah

Ilustrasi: Pixabay

Ini bukan soal arus mudik ataupun balik lebaran. Tetapi lebih krusial daripada keduanya. Kita bisa mendapatkan penyakit jika arusnya tidaklah lancar. Betapa tidak? Sampah pasti akan menumpuk di mana-mana. Lalat pun berdatangan dan siap menyebarkan bibit penyakit ke tubuh kita. 

Terkait hal di atas, Bahlil yang merupakan pemilik Bengkel Guna Nusantara (BGN)!mengatakan dengan tegas kalau ingin pengiriman sampah rumah tangga di lingkungannya lancar, maka wajib mengganti ban gerobak (MBG). Sebab, arus pemindahan sampah dari rumah-rumah warga di sana menuju tempat pembuangan sampah masih menggunakan gerobak dengan ban lama yang ditarik menggunakan sepeda motor. Nah untuk memperlancarnya, mau tidak mau ban lama harus diganti dengan yang baru. 

Pria berkumis itu juga menambahkan perihal harga ban baru di bengkelnya. Untuk satu unit ban luar harganya 60 ribu rupiah dan ban dalam hanya 30 ribu rupiah saja. Menurutnya angka-angka tersebut terbilang murah. 

Selain itu, dia juga memberikan contoh nyata soal penggantian itu. Ya, dikatakannya bahwa di dua kampung lainnya pengiriman sampah sangat lancar karena ban gerobak lama mereka diganti dengan yang baru di Bengkel Guna Nusantara miliknya. 

Meskipun cerita di atas hanyalah fiksi, tetapi kita memang wajib berusaha memperlancar segala aktivitas termasuk pembuangan sampah agar tidak terjadi masalah serius. 


Prabowo: Daripada Korupsi, Saya Dakwahi Mereka

Ilustrasi: Pixabay

Seperti biasanya pak Prabowo dengan tubuh gagahnya memperhatikan angka-angka rupiah. Tidak sekadar menghitung ulang, tetapi lebih daripada itu. Pria berpakaian rapi ini selalu khawatir jika ada yang korupsi. 

Baginya korupsi bukan hanya perbuatan tercela, tetapi juga pengkhianatan atas kepercayaan yang dia berikan. Jika ada anak buahnya yang korupsi, berarti yang bersangkutan mengkhianati kepercayaannya. Nah, baginya lagi, pengkhianatan merupakan tindakan seburuk-buruknya manusia di muka bumi. 

Itulah sebabnya, untuk mencegah adanya korupsi, Presiden Direktur PT Astaga Raya Bumi Luas tersebut mendakwahi para anak buahnya setiap hari Jumat. Pria yang bernama lengkap Prabowo Subento atau dikenal dengan pak Bento ini pun rela belajar ilmu agama seputar korupsi. Hasilnya langsung dia ajarkan kepada para bawahannya di aula perusahaan. 

Tentu saja para anak buahnya menyimak dengan baik semua yang dikatakannya bapak satu anak itu. Mereka manggut-manggut sepanjang acara dakwah. 

Dan, selama bertahun-tahun, tidak pernah terjadi korupsi di sana. Pak Bento berhasil membuat perusahaan yang dipimpinnya bersih dari pengkhianatan. 

Oh iya, cerita di atas hanya fiksi. Tetapi, kita bisa mengambil pelajaran dari sana. 

Menghamburkan Anggaran Adalah Syarat Menang Pilpres?

Ilustrasi: Pixabay

Ada yang mengatakan bahwa syarat utama menjadi pemenang dalam pilpres atau pemilihan presiden adalah program boros. Kok begitu? 

Konon, ini kaitannya erat dengan para bankir asing yang mencari cuan dari negara-negara berkembang, terlebih miskin. Logikanya, semakin boros sebuah negara dalam membelanjakan anggarannya, semakin banyak pula pemerintahnya berutang. Para pemberi pinjaman akan sangat bahagia saat pemerintah di negara itu berhasil seratus persen menyerap anggaran pengeluaran yang ada. 

Nah, untuk bisa mencapainya, maka harus ada program boros atau pemborosan. Sebutlah makan gratis untuk rakyat kecil, pendirian ritel di desa oleh pemerintah, perjalanan dinas ke luar negeri, pembelian mobil dari negara lain, pemberian uang kepada organisasi asing, dan sebagainya. 

Dari program boros inilah para pemberi utang asing mati-matian mendukung sang calon presiden. Caranya tentu dengan kelicikan yang licin. Permainan angka-angka menjadi kuncinya. Meski kenyataannya kalah telak pun, sang calon dipastikan menang dengan permainan angka tersebut. Dengan kata lain, menang curang. 

Setelah menang, program boros segera digarap. Jika belum terserap juga, pemerintah pusat akan memberikan perintah tegas kepada seluruh kementerian dan juga pemerintah daerah untuk segera melakukan penyerapan tersebut semaksimal mungkin. 

Alhasu, utang demi utang kepada asing terus bergulir lancar. Mereka kian kaya dan sebaliknya, rakyat di negara itu semakin tercekik oleh pajak dan pajak. 

Pertanyaannya, apakah yang dikatakan orang di atas tersebut memang benar adanya? 


Presiden Wajib Berhenti Mencari Pujian Asing

Ilustrasi: Pixabay

Yakinlah pujian dari pihak asing terutama para pemimpin negara lain tak akan memakmurkan rakyat. Terkhusus pujian pemimpin negara adidaya. Mengapa? Karena pujian-pujian seperti itu sangat membahayakan. 

Ya, berbahaya di segala sendi kehidupan. Mulai dari anggaran yang dihamburkan demi terlihat berhasil mengalahkan negara maju hingga terlena oleh pujian yang sebenarnya tipu daya pemimpin negara besar. 

Buntutnya, segala hal yang ada di dalam negeri dikatakan sudah berhasil. Padahal bohong belaka. Sebutlah soal penanganan bencana alam. Ada seorang presiden yang mengatakan kebohongan besar, yakni dia mengatakan bahwa tidak ada lagi korban banjir yang tinggal di tenda pengungsian. Kenyataan di lapangan? Adalah sebaliknya. 

Mental pemimpin negara yang demikian sangatlah tercela. Dan, idealnya yang bersangkutan wajib menghentikannya sebelum negara yang dipimpinnya bubar. 


Tuesday, March 24, 2026

Pengamat Ditertibkan, Tak Ada lagi Pembimbing Pemerintah

 

Ilustrasi: Pixabay

Negara akan kacau balau jika tak ada orang pintar yang membimbing jalannya pemerintahan. Para pengamat sejatinya adalah orang-orang pintar di bidangnya masing-masing. Para ekonom, misalnya, memberikan bimbingan untuk pemerintah ke arah perbaikan ekonomi yang sehat. Bisa dikatakan mereka merupakan para guru bangsa. 

Tapi, sayangnya di Indonesia para pengamat akan ditertibkan. Kata ditertibkan tentu saja dibungkam. Atau kata lainnya dibereskan. Untuk apa? Tujuannya supaya pemerintah bisa menjalankan keinginannya sesuka hati. Ya, lebih tepatnya sesuai keuntungan yang sudah atau akan mereka dapatkan. 

Ini jika diteruskan akan sampai pada titik kehancuran. Ramalan yang pernah dikutip Presiden Prabowo Subianto pada kampanye menjelang pilpres 2019 pun bahwa Indonesia akan bubar tahun 2030 kemungkinan besar akan terjadi. GAWAT! 

Lantas bagaimana dengan nasib rakyat? Agaknya, kata "berharap" menjadi jargon paling populer dalam kaitannya dengan perbaikan kehidupan di negara kita. Dan, harapan terbesarnya, negara Indonesia bisa menjadi lebih baik daripada hari kemarin. 


Monday, March 23, 2026

Pemimpin Halu ataukah Sengaja Mengaku-Ngaku Raja Hebat?

Ilustrasi: Pixabay

Di sebuah tanah datar, ada seorang raja bernama Wajan. Dia baru saja menerima tahta dari ayahnya yang baru mangkat. Meski sudah tua, tapi dirinya masih suka ceroboh dan bertindak semaunya. 

Apa pun yang dia inginkan selalu dipaksakan meskipun biaya kerajaan tidak memadai. Misalnya, dirinya membeli gerobak-gerobak dari kerajaan lain. Padahal kas kerajaannya minus. Maka, atas nama rakyat, dia berutang kepada pihak asing. Nah yang parahnya lagi, dia memberikan uang yang banyak kepada sebuah organisasi yang diikutinya seakan-akan kerajaannya kaya raya. 

Dia sama sekali tidak mau mengakui bahwa kerajaannya miskin dan rakyatnya banyak yang hidup susah. Bahkan, masyarakat korban bencana yang masih hidup di tenda pengungsian tak luput dari kebohongannya. Dia mengatakan semua korban bencana sudah tinggal di rumah. Sedangkan kenyataannya tidaklah demikian. 

Rakyat kian muak kepadanya. Dirinya sama sekali tidak memiliki rasa empati kepada rakyat. Yang ada dalam pikirannya hanyalah dirinya dan dirinya. Dia selalu ingin dipuji pihak asing sebagai raja hebat. Yakni raja yang mampu memimpin kerajaan dengan sangat baik. 

Oh, dirinya benar-benar raja yang buruk! 


Sunday, March 22, 2026

Menjadilah Tahanan Rumah

Ilustrasi: Pixabay

Yang jelas hal itu mengurangi beban negara. Orang yang ditahan di rumahnya sendiri pasti menggunakan listrik, sabun, air, dan sebagainya dengan biaya pribadi. 

Anggaran pengeluaran negara pun secara otomatis dapat ditekan. Alhasil, penghematan dapat diwujudkan. Dan, idealnya ini berlaku bagi semua tahanan. 

Sel-sel tahanan juga akan kosong. Nah ini bisa menjadi lahan bisnis. Pemerintah bisa mendesain ulang ruang-ruang tahanan menjadi hunian nyaman yang disewakan. Dampaknya? Pendapatan negara akan bertambah. 

Sehingga, pajak yang selama ini melilit leher rakyat bisa dibatasi. Perlahan tapi pasti, langkah ini dapat berpotensi menghapus pajak. Rakyat akhirnya bahagia. Dengan kebahagiaan yang demikian, angka kriminal akan terus berkurang dan bisa jadi tidak ada lagi kejahatan di tengah-tengah masyarakat. 


Saturday, March 21, 2026

Dana Umat BIKIN Ngiler Pemerintah?

 

Ilustrasi: Pixabay

Andai sebuah negara memiliki banyak industri, maka dijamin negara tersebut menjadi maju. Lihatlah Britania Raya sebagai negara modern pada masa keemasannya, memiliki industri hebat, menjadi negara superpower. Berbeda dengan Turki Utsmaniyah yang mempertahankan sifat tradisional dan tanpa kekuatan industri besar, berakhir lemah dan kalah. 

Dengan adanya dunia industri yang sehat, pemerintah di negara bersangkutan tentu tidak akan melirik dana umat. Mengapa? Karena pendapatan negara dari badan usaha milik negara (BUMN) yang di dalamnya banyak industri, sudah jauh melampaui harapan. Ya, uang demi uang mengalir dari dunia industri dengan lancar. 

Akan tetapi, seumpama pemerintahnya malas dan korup, BUMN pasti tidak digarap secara optimal. Yang ada adalah, kata sakral pemerintah, yakni RUGI. 

PADAHAL, jika dikelola dengan benar, terutama dalam hal persaingan bisnis dengan luar negeri, negara tersebut masih bisa bernapas lega. Sebutlah industri di bidang kontruksi bangunan. Ketika ada proyek pembangunan strategis nasional, gunakanlah produk-produk lokal, seperti semen dan baja buatan dalam negeri. Bukannya malah mengimpor atau menggunakan produk asing yang sudah ada di negara itu. 

Industri mobil, misalnya, idealnya juga dikelola dengan sungguh-sungguh. Ketika negara membutuhkan mobil untuk operasional industri, maka belilah mobil produk lokal. 

Intinya, jangan sampai negara memiliki industri, tetapi pemerintahnya malah membeli produk industri dari luar negeri. Jika hal ini sudah terjadi, dipastikan PENDAPATAN NEGARA bersumber dari PAJAK. Dan, jika pajak belum memenuhi juga, maka dana umat seperti zakat, infaq, shodaqoh, dan lainnya akan diincar pemerintahnya. Dengan kata lain, dana umat BIKIN ngiler pemerintah di negara tersebut. 

Friday, March 20, 2026

1 Ramadhan dan 1 Syawal Jadi Lahan Keuntungan

Ilustrasi: Pixabay

Perbedaan penetapan 1 Ramadhan dan 1 Syawal sebenarnya sudah selesai di Indonesia. Artinya meskipun berbeda penetapan antara Muhamadiyyah dan NU, misalnya, tidak perlu dipermasalahkan. Itu biasa-biasa saja. 

Akan tetapi, belakangan ini hal tersebut diperuncing kembali. Oleh siapa? Tentu yang memiliki kepentingan. 

Kepentingannya macam-macam. Bisa untuk pengalihan kasus, demi konten, dan lainnya. Sebutlah zaman pak Harto dulu santer terdengar bahwa penetapan awal dua bulan itu memang disengaja. Bahkan, beberapa titik pengamatan yang berhasil melihat hilal pun tidak diakui. Pemerintah lebih memilih titik-titik pengamatan yang tidak dapat melihat hilal sehingga terjadi perbedaan 1 Ramadhan dan 1  Syawal. Dengan demikian pemerintah bisa santai "mengerjakan yang lain" tanpa kegaduhan kritik oleh masyarakat. 

Di media sosial juga tidak kalah seru. Banyak akun yang menampilkan perbedaan ini. Tujuannya ya agar mendapatkan tayangan yang banyak. Cuan pun berdatangan. 

Kita tentu perlu bersikap dewasa dalam menyikapi perbedaan mengenai penetapan awal dua bulan tersebut. Singkatnya, beda ya wajar. Untuk apa dipermasalahkan? 



Thursday, March 19, 2026

Toilet Portabel Wajib Ada di Area Publik

Ilustrasi: Pixabay

Toilet portabel tentu mudah dipindahkan dan membantu masyarakat dalam memenuhi kebutuhan primer. Ya, buang air jelas menjadi hal pokok dalam hidup. Sehari saja tidak melakukannya, apa kata dunia? Yang jelas rasa sangat tidak nyaman menyiksa jiwa dan raga kita. 

Itulah sebabnya, di area publik yang tanpa bangunan gedung permanen, seperti pinggir jalan raya, taman, lapangan, dan  alun-alun wajib disediakan toilet portabel. Jika tidak, masyarakat akan bingung buang air di mana dan ujung-ujungnya di sembarangan tempat. Sebutlah tadi saat saya melintasi salah satu jalan raya. Sebuah mobil mewah berhenti dan seorang pria keluar dari dalamnya lalu buang air di pinggir jalan. 

Kita tentu tidak bisa menyalahkan masyarakat yang sedang kebelet. Hal yang perlu disoroti adalah, penyediaan toilet portabel. Singkat kata, semoga ke depan di Indonesia tersedia toilet seperti itu agar terwujudlah kelegaan jiwa dan raga. 

Board Of Peace Adalah Program Gila

Ilustrasi: Pixabay

Kegilaan Donald Trump agaknya tak jauh berbeda dengan kegilaan presiden-presiden lainnya yang menindas Bangsa Arab Palestina. Mereka mengirimkan persenjataan dan uang segar kepada Israel untuk menyiksa orang-orang di Gaza khususnya. Ya, selebihnya di Tepi Barat dan juga di Yerusalem. 

Bisa dikatakan bahwa Israel merupakan "tukang pukul" mereka. Segala demontrasi yang menyuarakan penghentian serangan Israel tersebut selalu ditekan di negara yang mereka pimpin. Para demonstran selalu mendapatkan kesakitan. Bukan hanya demonstran pria, wanita-wanita penyuara kemanusiaan itu tak luput dari cengkeraman apatrat barat dan Amerika Serikat. 

Lalu, anehnya Donald Trump membentuk Board Of Peace (BOP). Alasannya untuk perdamaian antara Palestina dan Israel. Ini gila! Mana mungkin orang yang memimpin "negara pencipta perang" di Palestina tiba-tiba berlaku demikian? Kalau ingin perdamaian di Gaza, misalnya, maka cukup tekan tombol "HENTIKAN PERANG". Yakni dengan secara tegas memerintah Israel untuk tidak menyerang Palestina dan tidak lagi mengirimkan bantuan militer sekecil apa pun kepada bangsa Zionis itu. SELESAI! 

Dan, yang anehnya lagi, Indonesia turut aktif dalam  BOP. Untungnya apa untuk negeri khatulistiwa ini? Yang ada adalah kerugian karena salah langkah. Sebutlah salah satu kerugian itu seperti, uang Indonesia sebesar 17 trilyun yang tentunya dari pajak rakyat sudah dimanfaatkan Donald Trump untuk hal gilanya itu. Padahal Indonesia masih sangat memerlukan uang. Rakyat masih banyak yang miskin. Tapi, oh! 


Wednesday, March 18, 2026

Pilihan Anda Adalah Trump dan Bangsa Israel

Ilustrasi: Pixabay

Ada yang mengatakan bahwa apa pun yang diminta Trump, maka Prabowo Subianto pasti mengiyakannya. Presiden Amerika Serikat tersebut adalah idola, bahkan majikan yang berkuasa di atas Presiden Indonesia saat ini. Tapi, benarkah demikian? Kemungkinannya tidak. 

Sementara di sisi yang sejurus, konon katanya Prabowo Subianto mengakui penjajah Israel sebagai bangsa yang berdaulat. Yakni, bangsa yang memiliki negara dan harus dijamin keamanannya. 

Seluruh isi paragraf kedua di atas itu pun merupakan perkataan orang saat ngobrol di warung kopi. 

Apa saja yang dikatakan orang, tentu harus dicek kebenarannya. Tetapi, terlepas dari perkara benar atau salah, kita harus jujur dengan diri sendiri berkenaan dengan orang-orang Zionis itu. Ya, faktanya mereka adalah penjajah yang mendapatkan angin segar dari Kerajaan Inggris atau Britania Raya, yakni pada awal pendirian negara Israel di tanah Palestina. Kala itu dengan mudahnya, orang-orang Arab Palestina mengamini apa saja yang diperintahkan Inggris termasuk memberikan izin tinggal kepada orang-orang zionis di tanah mereka yang sudah lepas dari kekuasaan Turki Utsmaniyyah. 

Perlahan, tapi pasti akhirnya Negara Israel berdiri dengan kekuatan besar, yaitu dengan dukungan pihak barat dan Amerika Serikat. Sedang orang-orang Arab Palestina hanyalah korban penipuan Inggris. Mereka ditipu dengan iming-iming kemerdekaan. 

Dengan kata lain, atas bantuan Inggris, mereka sempat memiliki negara berdaulat setelah merdeka dari Kesultanan Turki, tapi.... 

Kemerdekaan itu hanyalah tipuan Inggris untuk bisa memasukkan orang-orang Zionis tanpa halangan dari Sultan Turki yang masih berkuasa. 

Nah, dengan fakta pahit demikian, apakah layak jika penjajah yang terus membantai orang-orang Palestina mendapatkan jaminan keamanan? Jawabannya pastilah tidak. 

Pihak penjajah idealnya diusir dari tanah yang mereka jajah, bukan malah mendapatkan jaminan seperti itu. Dan, Trump merupakan manusia lanjut usia dengan ambisi jahat menguasai dunia. Oleh sebab itu, Indonesia tidak boleh tunduk kepada Amerika Serikat dan Israel. Indonesia wajib mandiri dan terus memperjuangkan kemerdekaan Palestina dengan cara yang baik dan benar. 



Tuesday, March 17, 2026

Horeeee Selama Libur Lebaran Tak Ada MBG!

Ilustrasi: Pixabay

Konon, makan bergizi gratis (MBG) dihentikan saat libur lebaran. Kok bisa? Ini salah besar! Mengapa? Karena mustahil selama libur lebaran anak-anak tidak makan. Mereka pasti makan! Kalau tidak makan, mana mungkin bisa hidup! 

Jadi, penghentian MBG adalah pembunuhan besar-besaran. Membuat anak-anak kelaparan adalah dosa besar. Akan tetapi benarkah demikian? 

Berdasarkan fakta di lapangan, meskipun anak-anak tidak mengonsumsi menu makan bergizi gratis, mereka akan tetap hidup selama masih ada rezeki umur. Jika begitu, untuk apa ada MBG Toh, tanpa MBG pun anak-anak masih bisa melanjutkan kehidupan di dunia. 

Ini artinya, MBG tidak perlu dilanjutkan. Apalagi dengan tidak adanya MBG, anggaran negara bisa dihemat ratusan trilyun rupiah. Penghematan tentu sangatlah diperlukan selama Indonesia belum menjadi negara maju. 

Istilahnya, hemat pangkal kaya. Dan, kekayaan negara bisa untuk kesejahteraan seluruh rakyat di negara ini. Merdeka! 

Monday, March 16, 2026

Melawan, Berarti Siap Dilawan

Ilustrasi: Pixabay


Air keras yang disiramkan ke dan sampai di tubuh aktivis Kontras, Andrie Yunus, menjadi sorotan Perserikatan Bangsa-Bangsa. Ini merupakan citra buruk dan akan lebih buruk lagi jika Pemerintah Indonesia tidak serius menyelidikinya. 

Prabowo Subianto memiliki pekerjaan baru selain persoalan MBG dan Iran. Sebagai Presiden Indonesia, dirinya wajib berhasil mengungkap siapa dalang di balik kejahatan kemanusiaan tersebut. 

Sebenarnya mudah saja cara mengungkapnya. Perhatikan saja siapa yang menjadi lawan Andrie. Dirinya bisa dikatakan melawan pihak "tertentu" sebelum dia disiram air keras. Nah, dalang penyiraman itu pastinya adalah pihak yang dia kritisi. Dari sana jelas sangat mudah menangani kasus ini. Singkatnya, aktivis Kontras itu melawan pihak "tertentu" dan dirinya dilawan oleh pihak tersebut. 

Pertanyaannya, beranikah Prabowo Subianto melakukan pengungkapan yang sangat mudah ini? 


Sunday, March 15, 2026

Samakah Kata TERTIBKAN dan BERESKAN?

 

Ilustrasi: Pixabay

Jika ada seorang kepala negara mengatakan "tertibkan" dalam konteks pembungkaman terhadap para aktivis, bisa berarti sama dengan kata "bereskan". Ini sinyal berbahaya. Mengapa? Sebab, dua kata itu berarti tindakan ganas yang brutal. Hasilnya bisa kematian atau cacat tubuh permanen (kalau bisa selamat). 

Biasanya pemimpin seperti itu kurang menggunakan akal sehat. Kecerdasan emosional dan sosialnya pun sangat rendah. Sedikit-sediikit marah, sedikit-sedikit ingin membunuh. Idealnya, orang yang demikian tidak memiliki kelayakan untuk memimpin sebuah negara. 

Akan tetapi, tentu saja melengserkannya memerlukan tetesan bahkan tumpahan darah. Itulah sebabnya, saat proses pemilihan pemimpin negara, rakyat wajib mengetahui karakter para kandidat calon presiden mereka yang akan "memimpin" pada masa mendatang. 

Memilih pemimpin bukan perkara menerima amplop serangan fajar, melainkan penentuan nasib hari esok. Ya, meskipun kita tidak bisa melepaskan diri dari takdir, ini merupakan bagian dari usaha yang diwajibkan bagi setiap manusia di dunia. 

Nah, pertanyaannya, bagaimana jika pemimpin arogan yang terpilih? Maka, berhati-hatilah. Salah langkah, bukan hanya soal cacat fisik permanen, tetapi juga nyawa Anda taruhannya. 


Saturday, March 14, 2026

Kami Sakit Tifus, Pak. Kalian Sehat! Titik!

 

Ilustrasi: Pixabay

Begitulah analogi sederhana untuk sebuah negara dengan perekonomian yang tidak baik-baik saja, tetapi dipaksa sang presiden baik-baik saja. 

Aneh? Ya, tentu saja aneh! Ini agaknya mengikuti dunia iklan. Sebutlah orang kena flu, lalu baru saja minum obat langsung sembuh. Singkatnya adalah sebuah kebohongan yang dipaksakan terhadap publik. Dan, jelas sekali mengikuti pepatah menyesatkan, yakni kebohongan yang diulang-ulang akan menjadi kebenaran di otak banyak orang. 

Lantas, apakah hal demikian masih berada di jalan kebenaran birokrasi? Pastinya tidak. Langkah-langkah tersebut memang sengaja dibuat dalam rangka menciptakan hiper realitas yang ujungnya menenggelamkan kebenaran dan mengeksiskan imitasi yang pastinya berupa kesalahan atau berkebalikan dari kebenaran. 

Pertanyaan lainnya, mungkinkah teori kebohongan yang dipaksakan ini masih bisa diterapkan? Mungkin, jika itu dilakukan pada zaman masyarakat masih banyak yang belum melek, akan sangat lancar. Akan tetapi, dunia saat ini sudah berbeda. Masyarakat tidak lagi mudah dibohongi. Orang-orang telah berpikir dan mampu membedakan mana yang benar, mana yang tiruan atau palsu. 

Jadi, lebih baik pemerintah di negara mana pun berhenti menipu rakyat. Sebab, di era keterbukaan dengan luasnya jangkauan masyarakat melalui media informasi, kebenaran terpampang nyata. 

Kebiasaan menutupi kebobrokan dengan cara hitam dan otoriter seperti itu oleh pemerintah hanyalah wujud dari kediktatoran jahat. 


Sunday, March 8, 2026

Konversi ke Listrik, Pembangkitnya Tenaga Angin?

Ilustrasi: Pixabay

Jika masih menggunakan batubara sebagai sumber pembangkit tenaga listriknya, itu percuma. Toh ujung-ujungnya tidak ramah lingkungan, melainkan menyenangkan di kantong pengusaha. Ah, kebijakan macam apa ini? 

Idealnya, pemerintah selalu prorakyat. Sebutlah kompor, misalnya. Untuk apa menggunakan kompor listrik kalau rakyat lebih senang menggunakan kompor minyak atau gas? Sebagai pemimpin, entah itu presiden ataupun raja, terpenting adalah menunaikan amanah rakyat sebagai investor negara. Ya, rakyat sebenarnya berinvestasi dengan pajak demi keberlangsungan kehidupan negara. 

Terlebih lagi konversi itu menjadi bencana jika pembangkit tenaga listriknya masih menggunakan batubara. Sebab, akan kian banyaklah penggunaan listrik di negara kita. Dan, secara otomatis semakin rusak pulalah alam akibat penambangan batubara. Ini tidak baik. 

Berbeda ceritanya seumpama pembangkit listriknya menggunakan tenaga angin, air, atau surya. Nah, ketiganya ramah lingkungan. Sayangnya, Indonesia masih menggunakan pembangkit listrik tenaga uap yang berbahan batu bara sebagai pembangkit listrik utama. 

Jadi, untuk apa konversi ke listrik? 


Thursday, March 5, 2026

Cita-Citaku Memiliki Dapur MBG

 

Ilustrasi: Pixabay

Jika setiap hari menjual 3.000 porsi dengan keuntungan per porsinya setengah dari harga jual, maka keuntungan pun sangatlah fantastis. Itulah sebabnya, memiliki dapur MBG menjadi cita-cita baru yang sangat didambakan. 

Dapur MBG atau yang popular dengan singkatan SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi) dapat dimiliki oleh orang-orang berduit banyak. Ya, sebutlah mereka elit. Di Sulawesi Selatan, misalnya, gadis berusia 20 tahun sudah memiliki 41 SPPG. Konon, pendapatan per bulannya mencapai 6,5 milyar rupiah. Wow! 

Ini benar-benar ladang bisnis di bidang kuliner. Apakah Anda berminat?