![]() |
| Ilustrasi: Pixabay |
Apa pun yang namanya hasil kecurangan tidak akan bertahan lama dan hasilnya hanyalah keburukan. Bukan sekadar satu kali keburukan, tetapi keburukan yang berulang-ulang. Itulah yang pernah terjadi di Negara Manipulatifanda. Di sana ada seorang pemimpin yang menang dalam pemilihan presiden dengan cara curang.
Kecurangan yang dilakukan bukan hanya isapan jempol. Dalam praktiknya melibatkan negara besar yang menginginkan keuntungan fantastis dari Negara Manipulatifanda tersebut terus mengalir kepada mereka. Salah satunya adalah kekayaan alamnya yang luar biasa.
Sebelum pemilihan presiden berlangsung, mereka sudah merancang angka kemenangan sebesar 58 persen untuk calon presiden boneka mereka. Hal itu menyebabkan seberapa besar pun suara yang diraup musuh politik yang ada, angka yang masuk tak bisa melebihi 58 persen tersebut. Alhasil, sejak awal hingga penghitungan berakhir, calon presiden boneka terus mendapatkan angka sebesar 58 persen suara rakyat.
Nah, setelah resmi ditetapkan sebagai presiden, segala program pemerintah yang dijalankannya selalu pro terhadap negara besar yang memenangkannya. Tak ada sama sekali untuk rakyat meski setiap kali berpidato, dirinya selalu mengatakan "demi rakyat".
Dengan fakta yang demikian, rakyat di sana tidak ada lagi yang percaya kepadanya. Mereka lebih percaya kepada media sosial yang berisi kebenaran. Lama-kelamaan rakyat juga mulai enggan membayar pajak. Awalnya hanya segelintir orang yang berani seperti itu. Setelah beberapa hari berikutnya kian banyak yang berlaku sama.
Pada dua tahun kepemimpinannya, semua rakyat tak ada lagi yang mau membayar pajak. Hari demi hari pemerintahannya semakin goyah, lalu sebulan kemudian hancur. Dirinya pun lengser teratur. Dan, rakyat menyambut kejatuhannya dengan penuh suka cita.









0 comments:
Post a Comment