![]() |
| Foto: Pixabay |
Apa yang terpikir ketika Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat mengurus pertanian jagung dan Angkatan Laut mengurus kedelai?
Hal yang sebelumnya tak pernah terlintas di benak kita, tetapi menjadi keseharian nyata mereka yang sangat menyenangkan. Secara otomatis dengan fakta ini jumlah TNI yang siap siaga di bidang militer menjadi berkurang. Itu logika umumnya.
Maka, harus ada pengisian di ruang kosong tersebut. Siapa?
Kalau ditanya demikian, idealnya yang mengisinya adalah orang-orang yang digantikan peran mereka oleh TNI. Ya, petani. Ini jawaban paling pantas untuk harga atas jasa para tentara yang bersusah payah menggantikan para petani di sawah.
Terkait hal itu, para petani bukan secara sukarela lagi, melainkan wajib mengisi kekosongan tersebut. Negara harus hadir dalam melatih para petani memikul senjata dan menggunakannya secara cepat dan tepat. Bukan sekadar keberanian, tetapi juga kesiapsiagaan, kegesitan, dan kecerdasan di lapangan menjadi modal utama mereka.
Sehingga, ketika negara mendapatkan ancaman dan serangan dari negara lain, para petani yang sudah menjadi Pasukan Elit Terlatih Andalan Negara Indonesia (PETANI) maju gagah berani' di medan tempur.
Tentu saja mereka dibekali kecanggihan di bidang militer, seperti pesawat generasi kelima F-35, drone Bayraktar Kizililma yang mengangkut rudal Gazap berhulu ledak bom termobarik, dan rudal-rudal pencegat.
Dengan demikian, negara kita akan tetap aman, damai, dan sentosa dari waktu ke waktu.









0 comments:
Post a Comment