![]() |
| Ilustrasi: Pixabay |
"Ada yang bilang presiden kita pandai membangun komunikasi di kancah internasional."
"Betul. Pake banget malah, tapi untuk menguntungkan negara lain."
"Ha ha ha benar katamu. Dia berkunjung di negara A untuk menawarkan diri sebagai pembeli beras, daging, dan susu, misalnya."
"Dirinya juga langsung tunduk dan patuh kepada presiden yang dia kunjungi. Apa pun yang diminta, langsung diiyakannya."
"Ah, kamu tahu aja."
"Ha ha ha. Mana mungkin tidak tahu. Soalnya sudah rahasia umum. Bandara yang sepi itu aja udah dia serahin kepada Presiden Keong Putih."
"Kalau begitu, bisa dikatakan dirinya adalah budak dari presiden-presiden lainnya."
"Dirinya memang budak yang menjadi mainan menyenangkan bagi para pemimpin dunia."
"Waaaaah keren ya mereka. Para pemimpin negara maju itu memang dahsyat. Beda sekali dengan presiden negara ketiga seperti Uwa Uwa yang hanya bisa berfoya-foya dan matahin kayu meja."
"Hayyaaaaaaa. Jelas laaaaah beda kelas. Ooooh, kapan ya negara kita menjadi negara maju?"
"Yaaaa, kapan-kapan."
"Ha ha ha ha ha ha ha!"
***









0 comments:
Post a Comment