![]() |
| Ilustrasi: Pixabay |
Terkadang orang dengan sangat mudah berpikir singkat dan diungkapkan lewat kata-kata. Itu berlaku bagi siapa saja yang malas berlama-lama menggunakan otaknya terhadap objek tertentu. Sebutlah misalnya tentang orang desa. Dikatakan bahwa orang desa suka makan singkong. Perkataan itu didasarkan pada pemikiran secara umum. Padahal belum tentu demikian. Kalau lebih diteliti lagi, tidak semua orang desa suka singkong. Ada saja yang menyukai pisang atau kelapa muda.
Begitu pula ketika ada seorang presiden yang mengatakan rakyat Indonesia tidak bermimpi menjadi kaya raya, melainkan ingin hidup dengan layak dan berkecukupan. Pertanyaan yang segera muncul terkait pernyataan ini adalah, apakah semua rakyat Indonesia seperti itu?
Kita lihat saja fakta di dalam realitas nyata, sebagian rakyat Indonesia kaya raya. Bahkan, ada yang berprinsip untuk menjadi kaya, haruslah berani bermimpi. Tanpa mimpi, manusia tak akan menjadi apa-apa.
Baiklah, sekarang kita lupakan soal singkong dan kaya raya. Sebab, topik pembahasan di sini lebih menitikberatkan pada proses berpikir sang presiden dan siapa saja terkait generalisasi atau penyamarataan seperti dua contoh di atas.
Pertanyaan paling mendasar tentu saja apakah dibenarkan hal yang demikian? Jawabannya boleh iya, boleh tidak. Dibenarkan dengan catatan sudah dicek secara benar terlebih dahulu dengan hasil semuanya sama. Dan, tidak dibolehkan jika generalisasinya asal keluar darii mulut atau asbun (asal bunyi).
Nah, pada dua contoh di atas sangat jelas hanya asbun. Penyamarataannya terbukti salah. Proses berpikir yang ideal itu tidak boleh tergesa-gesa, tetapi dilakukan secara mendalam dan luas. Terlebih jika dirinya seorang presiden, maka wajib baginya untuk lebih fokus terhadap segala yang menjadi bagian dari tugasnya termasuk saat berpidato di hadapan masyarakat luas.









0 comments:
Post a Comment