![]() |
| Ilustrasi: Pixabay |
"Kamu agen asing ya?"
"Kok kamu nuduh aku kek gitu sih?"
"Yaaaa soalnya kamu vokal banget ngritik pemerintah."
"Aneh kamu. Masa sih gara-gara aku ngritiik pemerintah langsung dikira agen asing?"
"Siapa tahu aja."
"Emang kamu dapat pemikiran kek gitu dari mana?"
"Dari pemilik akun-akun di medsos."
"Apa kata mereka?"
"Agen asing berseliweran mengkritik pemerintah. Misalnya pecinta lingkungan hidup dan pembela hak asasi manusia."
"Kamu udah cek pemilik akun-akun itu sebenarnya siapa?"
Pardio menggeleng sambil menatap sepasang mata pacarnya itu.
"Gini-gini, aku jelasin. Pertama, aku ngritiik pemerintah karena mereka mengenai pajak untuk buku-buku fiksi. Kamu, 'kan tahu aku seorang novelis. Wajar kalau aku ngritik. Soalnya, dengan pajak seperti itu, harga buku karyaku di toko buku jadi naik dan imbasnya penjualannya lesu."
"Terus yang kedua?"
"Kedua karena pemerintah antikritik. Nah, soal agen asing itu sebenarnya ya wujud dari sikap pemerintah yang maunya sesuka hati tersebut. Mereka tidak mau rakyat kritis. Itulah sebabnya, mereka memfitnah para aktivis di semua sektor dengan istilah agen asing.."
"Tujuannya?"
"Sangat jelas, yakni supaya masyarakat membenci dan menghindari semua perkataan dari para pengkritik pemerintah. Dalam hal ini diharapkan masyarakat luas langsung berpikir bahwa kritik yang ditujukan ke pemerintah dibangun atas dasar kepentingan politik semata."
Kali ini pria berambut cepak itu terdiam.
"Udah paham, 'kan sekarang?"
"Ya. Kesimpulannya pemerintah sengaja membangun musuh semu dengan nama agen asing untuk melanggengkan kekuasaan mereka dan agar bisa bertindak sebebas-bebasnya."
Park Ji-won terlihat tersenyum.
Keduanya lalu sama menikmati ramyeon yang baru saja tersaji di sebuah meja rumah makan sore itu.
***









0 comments:
Post a Comment