![]() |
| Ilustrasi: Pixabay |
"Kalau aku perhatikan, tingkah para menteri ada unsur kesengajaan agar masyarakat bereaksi."
"Emosi maksudmu?"
"Benar. Emosi marah di tengah kehidupan yang parah."
"Demi menutupi keparahan negeri memang harus demikian. Masyarakat dibuat sebisanya melupakan isu demi isu agar pemerintah leluasa berbuat semau mereka."
"Aku masih ingat dulu ada menteri tenaga kerja yang manjat pagar lalu loncat indah dan mendarat di halaman dengan gagah."
"Aku juga masih ingat ada menteri mengatakan bahwa kalau harga lombok mahal, tanamlah lombok di pekarangan rumah."
"Ada lagi menteri yang bilang ekonomi tetap aman meski kekuatan nilai dolar Amerika Serikat kian kuat sehingga masyarakat pun menjadi geram."
"Lalu ada juga orang yang mewakil menteri menyebut presiden layak dijuluki bapak haji."
"Akhir-akhir ini ada pula seorang menteri yang bersuara lantang soal gaji besar dan kecil. Katanya, 'Orang yang bergaji 15 juta lebih pintar dan sehat daripada orang yang bergaji 5 juta.' Perkataanya sungguh sangat menggemaskan!"
"Ha ha ha ha ha!"
Tawa mereka terdengar berpadu menjadi satu, lalu meledak dan seluruh serpihannya mengisi setiap ruang kosong di area itu.









0 comments:
Post a Comment