Saturday, November 16, 2019

Listrik Padam, Apa Masih Laniut Menulis?


Tadi, listrik dipadamkan di area sini. Lampu mendadak mati. Ruangan gelap. Dan, entah mengapa seketika saja pikiran saya mendarat pada warga Palestina di Jalur Gaza. Tak terbayangkan bagaimana pahitnya dan getirnya derita mereka akibat gempuran tentara Israel yang bertubi-tubi. Bukan hanya listrik yang padam dan bangunan yang luluh lantak, tapi juga nyawa-nyawa yang terpisah dari raga mereka.

Hal di atas adalah gambaran betapa tidak sempurnanya akhlak sebagian manusia yang antipati terhadap sesama. Keji!

Lalu apa hubungannya dengan menulis? Jika listrik padam di sini tadi menjadi pemantik bayangan tentang kondisi umum Jalur Gaza, maka listrik padam juga ibarat kebuntuan ide bagi penulis.

Ya, orang lebih mengenalnya dengan nama writer block. Kondisi mental dalam menulis ini membuat yang bersangkutan kesusahan menuangkan gagasan atau idenya ke dalam wujud tulisan.

Konon, dari sisi psikologis, penyebab utama virus ini ialah ketidakbahagiaan. Rasa ini muncul oleh beberapa faktor kejiwaan. Sebutlah kelelahan, sifat apatis, rasa marah, kegelisahan, kesedihan luar biasa, dan lainnya.

Saat kita kelelahan misalnya, tentu yang diinginkan adalah istirahat termasuk mengistirahatkan jiwa kita, 'kan? Perkara menulis pun menjadi pilihan ke sekian.

Begitu pula ketika sedang ditimpa kesedihan luar biasa seperti meninggalnya ayah kandung kita, menulis menjadi kegiatan yang susah dilakukan.

Lantas apa yang perlu dilakukan? Tampaknya yang paling ideal adalah meninggalkan sejenak aktivitas menulis. Dalam hal ini para penulis bisa melakukan hal-hal lainnya yang menjadi sarana menentramkan jiwa atau segeralah beristirahat. InsyaAllah ide yang baru akan datang untuk dituliskan sebagai kelanjutannya.

0 comments: