Wednesday, October 23, 2019

Presiden "Penyair" Indonesia Ada, kok Kementerian Puisi Tidak Ada?


Para menteri baru di Indonesia sudah dilantik oleh Presiden Indonesia. Meski demikian, dari sekian yang dilantik itu, tidak ada menteri puisi. Ya, puisi.

Padahal, di Indonesia sudah ada presiden penyair Indonesia. Sengaja dituliskan "penyair" dan bukan "pensyair". Ini agar sebagian masyarakat Indonesia tidak bingung dengan kata yang terakhir itu. Sekadar untuk diketahui saja bahwa yang baku adalah kata "pensyair", tetapi yang lazim digunakan adalah "penyair".

Nah, lalu siapa presiden penyair Indonesia? Tentu saja dari kalangan penyair itu sendiri. Nama Sutardji Calzoum Bachri agaknya sudah dikenal luas dalam dunia perpuisian tanah air kita. Dialah sang presiden penyair Indonesia tersebut.

Pertanyaannya, jika presidennya ada, kok menterinya tidak ada?

Ini terkesan sebuah "guyonan" belaka. Hanya permainan kata-kata. Namun, tunggu dulu! Pertanyaan itu sebenarnya dapat dimengerti sebagai sindiran.

Presidennya memang ada di dunia puisi, bukan seantero Indonesia. Akan tetapi,  tak ada salahnya jika serius diwacanakan pula pengadaan Kementerian Puisi.

Masyarakat Indonesia tentu mafhum bahwa puisi sudah hidup dan berkembang sejak lama di negeri berjuluk Jamrud Khatulistiwa ini. Jauh sebelum adanya puisi-puisi mutakhir seperti sekarang, di tanah air kita ada puisi lama. Bahkan, yang khas dalam negeri pun ada, yakni pantun.

Memang, selama ini ada Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan di bawah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang mengurusi hal kesastraan. Tapi bayangkan jika Kementerian Puisi ada, kemungkinan besar dunia puisi di Indonesia semakin maju.

Mengapa semakin maju? Alasannya sederhana. Kementerian puisi akan fokus pada seluk-beluk puisi dan bukan yang lainnya.

Tapi, ah, sudahlah. Ini hanya sebatas celotehan. Tampaknya, hal yang dibayangkan di atas jauh dari harapan. Jangankan Kementerian Puisi, Kementerian Sastra saja belum ada.

Terpenting, terus fokus pada bidang masing-masing. Tentunya, termasuk pula yang menggeluti  bidang puisi secara khusus dan sastra secara umum.

0 comments: