![]() |
| Ilustrasi: Pixabay |
Eit! Tunggu dulu! Ini dendam apaan? Kok netizen tak percaya?
Jadi gini. Pada era tahun tertentu, ada kasus penyiraman air keras ke wajah salah seorang aktivis HAM. PELAKUNYA ada empat orang. Keempatnya merupakan prajurit aktif di salah satu negara antah-berantah.
Setelah ditangkap dan diinterogasi, ternyata motif penyiraman itu karena dendam pribadi. Tok! Clear? BELUM! Mengapa?
Sebab, dalam kehidupan sehari-hari, korban dan pelaku tidak saling kenal. Di sinilah letak masalahnya. Ya, bagaimana mungkin muncul dendam pribadi di dalam jiwa para prajurit tersebut kepada korban sedangkan mereka tidak saling mengenal?
Netizen benar-benar tidak bisa mempercayainya. Alasannya sungguh tak masuk akal. Kesannya sangat dibiat-buat tanpa pemikiran yang matang. Seharusnya kalau ingin membuat alasan haruslah dibuat secanggih mungkin agar netizen percaya.
Nah, dari sana pulalah muncul keyakinan netizen bahwa semua sudah direncanakan, tetapi tergesa-gesa. Ya, mulai dari strategi penyiraman, penetapan empat pelaku, hingga motif yang tak masuk akal.
Kalau diperhatikan, penetapan empat pelaku itu sebenarnya tidak masuk di dalam rencana awal, melainkan rencana B. Sebelum penetapan keempatnya, dua bentuk tubuh hidup pelaku berhasil ditangkap layar CCTV. Wujud keduanya gagah. Jelas sekali merupakan sosok prajurit. Setelah tangkapan layar itu heboh, segeralah keempatnya ditetapkan sebagai tersangka. Dan, itu sangat tergesa-gesa agar publik tidak semakin heboh lagi. Lalu, agar dalangnya lepas, dibuatlah motif yang mengada-ada (jauh dari motif sebenarnya). Alhasil, netizen tak percaya.
Menganai motif sebenarnya, netizen menduga itu terkait erat dengan yang disuarakan korban. Dalangnya pasti orang yang dikritik. Untuk membungkam korban, maka dilakukanlah penyiraman tersebut.
Soal kebenarannya? Hingga sekarang belum terungkap.









0 comments:
Post a Comment