Saturday, May 16, 2026

Rupiah Ambruk, Orang Desa Dirugikan

Ilustrasi: Pixabay 

"Semoga saja harga kedelai tak naik lagi."

"Aku tak tahu lagi, Wi, kalau harapan itu sirna mengingat rupiah terus melemah terhadap dolar Amerika Serikat."

"Kalau memang begitu, terpaksa harga tempe dan tahu kita naikkan."

"Tapi, kemungkinannya usaha kita semakin sepi. Harga yang lebih tinggi tak seimbang dengan daya beli masyarakat yang turun."

"Lalu kita harus bagaimana lagi? Dengan harga kedelai impor yang naik drastis, susah untuk terus mempertahankan harga produk kita."

Wowo terdiam. Sementara Wiwi tak melanjutkan kata-katanya.

Suasana benar-benar hening. Keduanya terpaku sambil memikirkan nasib mereka dan para karyawan di pabrik tersebut.

Ya, sebagai orang desa yang bergelut di bidang kuliner, yakni sebagai pembuat tahu dan tempe, kenaikan harga kedelai sangat mereka rasakan. 

Begitulah contoh dari dampak lemahnya rupiah yang sudah menebus di angka Rp17.600 per dolar Amerika Serikat. Bahan baku seperti kedelai, misalnya, menjadi lebih mahal. 

Belum lagi mengenai biaya impor energi yang juga naik karena transaksi minyak mentah dan bahan bakar minyak menggunakan dolar AS, kian mencekik masyarakat desa. Dalam hal ini bisa kita pahami bahwa biaya angkut barang dari kota ke desa yang menggunakan BBM pasti menambah mahalnya harga semua barang tersebut. 

Jika hal itu sudah terjadi, tentunya akan berbenturan dengan daya beli masyarakat. Pada akhirnya barang menumpuk di toko dan di gudang. Secara otomatis perekonomian menjadi lesu. 

Kembali ke contoh di atas, pintu pemutusan hubungan kerja sangat terbuka lebar. Bahkan, pabriknya pun bisa ikut ditutup. 

0 comments: