Sunday, April 26, 2026

Presiden Cerdas Punya Skala Prioritas

Ilustrasi: Pixabay

Menjalani kehidupan pastilah tidak pukul rata. Pasalnya, dalam realitas nyata terdapat beragam fakta. Seorang presiden yang cerdas harus mampu mendahulukan fakta tertentu, barulah ke fakta-fakta lainnya. 

Sebutlah fakta rumah-rumah warga yang hancur akibat banjir bandang dan tanah longsor, tentu lebih didahulukan penanganannya daripada memberikan makanan gratis kepada karyawan pabrik, misalnya. Begitu pula dengan fakta penting lainnya. Artinya, seorang presiden idealnya mengedepankan skala prioritas. 

Jangan sampai fakta yang sebenarnya tidak mendesak sekali malah didahulukan daripada yang lebih urgen. Jika ini yang terjadi, maka tinggal tunggu negara yang dipimpinnya akan segera bubar. 

Rakyat pasti mengidamkan-idamkan dipimipin seorang presiden yang cerdas. Ya, cerdas dalam hal intelektual, emosional, spritual, sosial, dan cerdas dalam hal-hal lainnya. Kembali ke contoh fakta di atas terkait banjir dan tanah longsor. Untuk terwujudnya sikap mendahulukan penanganan bencana alam, diperlukan kecerdasan-kecerdasan itu. Bagaimana mungkin seorang presiden akan berempati kepada para korban kalau kecerdasan sosialnya sangat rendah? Yang ada, presiden tersebut tidak peduli karena dianggapnya sama sekali tidak menguntungkan dirinya secara personal. Biasanya presiden seperti ini hanya senang dengan orang-orang kaya yang memiliki banyak uang, rupawan, berkuasa, dan memiliki kelebihan-kelebihan lainnya. Dengan demikian, ia berusaha untuk dapat turut serta menikmati berbagai kelebihan itu. Terlebih jika mereka memujinya. 

Nah, bagian terakhir di atas dapat berakibat fatal. Sebab, agar medapatkan pujian, dirinya pasti akan menggunakan uang negara untuk hal-hal yang bombastis. Contohnya memberikan makan gratis kepada karyawan pabrik, mendirikan unit-unit usaha di kota-kota, melakuan banyak kunjungan di negara-negara maju, dan sebagainya. Semuanya menguras anggaran belanja negata yang mempercepat kehancuran dan bubarnya negara yang dipimpinnya. 


0 comments: