![]() |
| Ilustrasi: Pixabay |
"Min! Ngapain loe duduk di situ?"
"Udah tau guwa duduk, masih nanya ajah."
"Nggak gitu juga, maksud guwa ngapain loe duduk di situ?"
"Ya, duduk lah. Emang ngapain lagi?"
"Ya elah, Min. Ribet banget. Okey, guwa cancel ajah pertanyaan barusan."
"Terus loe mo ngapain di sini kalo nggak nanya?"
"Ngadem!"
"Emang di sini lemari es apa? Pake ngadem segala."
"Hayaaaah! Di sini surga tau. Makanya enak buat ngadem."
"Tapi, bentar lagi surga di sini akan segera hilang."
"Hilang? Maksud loe?"
"Pihak perusahaan bakal nambang di sini. Pohon-pohon dan lainnya bakal tak ada lagi. Guwa beserta keluarga wajib ngosongin ni rumah. Paling lama besok. Oh, dunia kian mendung ajah!"
"OMG! Guwa turut prihatin."
"Makasih udah peduli."
"Btw, udah dapat tempat baru?"
Kusmin menggeleng.
Iblis di depannya terdiam.
Sedang angin sendalu dari timur sibuk mempermainkan rambut mereka. Ya, begitulah siang itu. Sebuah fenomena kekinian yang kian menuju kehancuran. Area yang sebenarnya subur akan segera ditelan keserakahan manusia-manusia rakus.
***









0 comments:
Post a Comment