![]() |
| Ilustrasi: Pixabay |
Dalam sebuah forum internasional, dirinya begitu bangga dengan program susu gratis ibu hamil (SUGIH). Dengan wajah berapi-api dan memukuli meja mimbar podium, dia mengatakan bahwa banyak negara meniru programnya itu.
Dan, setelah sempat menyinggahi beberapa negara maju, ia pulang ke negaranya. Dirinya tampak puas. Tak berapa lama kemudian, ia kumpulkan para pendukungnya di sebuah forum negara. Di sana dia berpidato. Wajah tuanya terlihat sehat. Kata-katanya segera keluar lancar dan seperti kebiasaannya, kedua tangannya tak pernah absen memukuli meja mimbar podium sambil mengklaim program utamanya, yakni SUGIH berhasil.
Padahal, selain menelan anggaran belanja negara yang sangat besar, di lapangan banyak ibu-ibu hamil keracunan setelah meminum susu gratis tersebut. Bahkan, yang berujung dengan meninggal dunia pun sudah tak terhitung jumlahnya.
Tapi, sebaga presiden, dirinya tak pernah berempati terhadap para korban itu. Ia tetap bersikeras bahwa SUGIH yang terbaik. Siapa saja yang mengkritik programnya itu dianggapnya musuh besar negara. Dalam sebuah kesempatan, mulutnya pernah mengeluarkan sebuah kalimat kotor, "Kalau tidak setuju dengan SUGIH, kabur saja, tinggalkan negara ini!"
Sebenarnya bukan hanya masuk kategori kalimat kotor, tetapi juga antikemanusiaan. Sudah jelas para kaum intelektual memberikan masukan agar tidak terjadi lagi kematian akibat keracunan SUGIH, malah dicap musuh negara. Parahnya, dengan bahagianya dirinya terus saja membangga-banggakan program pembunuhan massal tersebut.
Sungguh dirinya adalah presiden keji yang amoral. Untungnya dirinya hanyakah tokoh fiksi. Seandainya benar-benar nyata, wah sudah dipastikan rakyat di negara yang dipimpinnya akan sengsara.









0 comments:
Post a Comment