![]() |
| Ilustrasi: Pixabay |
Jika ditanya akal-akalan siapa? Tentu jawabnya adalah presiden. Selama pemerintahannya berjalan, sudah terjadi reshuffle kabinet sebanyak tujuh kali. Waw! Angka yang tergolong banyak untuk tindakan presiden dalam mengganti, memindahkan, atau memberhentikan sebagian menteri dalam kabinetnya. Pada setiap pidato kebangsaan, sang presiden selalu saja mengutarakan bahwa hal itu untuk meningkatkan kinerja pemerintahannya.
Padahal, tidak ada istilah "menteri yang mandiri dalam inovasi dan lainnya" dalam kabinet gemuknya tersebut. Sebab, dirinya lah yang berkehendak dan semua menteri hanyalah pembantu dalam merealisasikan segala kehendaknya tersebut.
Dengan kata lain, siapa pun menterinya, mereka harus bekerja sesuai kehendak Presiden Kac Am Ata di Republik Salin Raya. Itu. Contohnya ketika sang presiden ingin kas semua tempat ibadah dikelola Kementerian Spritual melalui rekening bersama, maka orang yang menjadi menteri di kementerian ini dengan cepat menyuarakannya kepada semua pengelola tempat ibadah. Dan, masyarakat tahunya si menteri itulah yang menggagasnya. Jika kehendak itu dikritik, sang presiden berlepas tangan dan berkata, "Saya keget karena baru tahu ada rencana seperti itu."
Pertanyaannya, jika demikian, untuk apa ada reshuffle kabinet? Jawabnya sederhana, yakni. sebagai akal-akalan presiden agar masyarakat mengira bahwa yang tidak kompeten adalah menteri-menterinya. Sedang dirinya teelihat bekerja keras. Salah satunya ialah dengan reshuffle kabinet sehingga sang presiden selalu mendapatkan pujian setinggi langit.









0 comments:
Post a Comment