![]() |
| Ilustrasi: Pixabay |
Dikisahkan, ada seorang presiden yang gemar sekali mengadakan perjalanan di banyak negara. Dia menyebutnya demi energi. Demi rakyat. Padahal tidak ada hasilnya sama sekali bagi rakyat, bangsa, dan negara yang dipimpinnya.
Sementara perjalanannya itu memakan biaya yang tentu saja tidaklah sedikit. Ya, menelan anggaran belanja negara yang jumlahnya banyak. Dan, dia tidak peduli terhadap situasi, juga kondisi perekonomian negaranya saat sedang terpuruk. Misalnya ketika sedang defisit anggaran, dirinya tetap saja melakuan kunjungan di negara-negara yang dia inginkan.
Itulah sebabnya, orang-orang bingung tentang statusnya, apakah sebagai seorang presiden ataukah traveller.
Dugaan demi dugaan pun bermunculan. Ada yang menduga sang presiden memang gemar bertamasya. Sebagai wisatawan, dia begitu bahagia saat menikmati perjalanan itu dan juga keindahan negara yang dikunjunginya. Benar, dirinya selalu mengunjungi negara-negara maju yang amazing.
Dugaan lainnya, sang presiden ingin terlihat gagah. Caranya dengan bertemu dan berfoto bersama presiden-presiden negara maju tersebut. Harapannya agar masyarakat di negaranya terpesona dan takjub kepadanya.
Sebagian yang lain menduga perjalanan tersebut diniatkan sang presiden sebagai pencitraan untuk pilpres yang akan diikutinya beberapa tahun kemudian. Pada bagian inilah mulai berkembang pembicaraan-pembicaan di warung kopi, serambi masjid hingga ruang-ruang perkantoran.
Tema politik perlahan terhirup oleh masyarakat luas. Orang-orang merasa hanya dimanfaatkan sang presiden demi kekuasaannya. Anggaran belanja negara yang sebagian besar bersumber dari pajak rakyat digunakannya untuk kepentingan politik semata.
Kian lama, rakyat sudah benar-benar muak terhadap perilakunya. Terlebih kala dirinya berupaya untuk menertibkan para pengamat yang mencoba meluruskan jalan politiknya, termasuk soal perjalanan kenagaraan tersebut.
Bahkan, dari fakta-fakta di lapangan, banyak yang memprediksi sang presiden akan jatuh di tengah jalan. Dia tak akan bisa mempertahankan kedudukannya.
Lantas, bagaimana kisah selanjutnya? Silakan ikuti terus gerak langkah sang presiden dalam realitas yang apa adanya.









0 comments:
Post a Comment