![]() |
| Foto: Pixabay |
Mengapa penjajah gemar mengasingkan pejuang? Salah satu jawabannya adalah karena mereka tidak suka diganggu. Ya, para pejuang selalu saja dianggap pengganggu dan pembuat gaduh oleh penjajah.
Sebutlah salah satu contohnya Soekarno yang diasingkan di Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur pada tentang waktu antara tahun 1934--1938. Intinya, pihak penjajah menginginkan rakyat jajahan nurut, tunduk, patuh, tidak melawan, dan kalau perlu seperti robot yang dengan mudah mereka kontrol.
Jika ada rakyat cerdas yang melawan, sudah dipastikan akan menjadi musuh bagi penjajah. Hidupnya tidak aman. Sebab, akan diburu, ditangkap, dan disiksa, lalu diasingkan. Bahkan, bisa saja dihukum mati.
Khusus kasus terakhir di atas, contohnya Panglima Batur dan Demang Lehman di Kalimantan Selatan yang dihukum mati oleh penjajah Belanda.
Jika di era kekinian masih ada pemerintah yang gemar mengatakan hal berbau pengasingan ke luar negeri bagi orang-orang cerdas, maka sudah dipastikan pemerintah itu merupakan penjajah. Mungkin dalam hal ini terkesan seperti Israel yang menjajah Bangsa Palestina.
Nah, tentu saja yang dimaksud orang-orang cerdas di era kekinian ialah kaum intelektual yang melihat kondisi nyata di lapangan dan menyuarakannya berdasarkan keilmuan mereka. Kemudian, suara mereka dinilai mengancam kekuasaan pemerintah yang bersangkutan.
Orang-orang seperti ini sudah barang tentu dimusuhi pemerintah dan diserukan untuk kabur saja ke luar negeri sebagai bentuk pengasingan. Misalnya, kabur saja ke Yordania atau ke Israel. Selain seruan-seruan tak beradab tersebut, biasanya pemerintah penjajah akan membuat hidup orang-orang cerdas sengsara. Bisa jadi mereka dipenjara, disiksa, atau dibuat cacat permanen agar jera dengan asam sulfat.









0 comments:
Post a Comment