![]() |
| Ilustrasi: Pixabay |
Orang super miskin tak punya banyak uang. Jangankan beli barang-barang sekunder yang bekas, ngasih makan anak saja tidak mampu. Itulah sebabnya, anak-anak orang super miskin dikasih makan orang-orang berduit atau oleh pemerintah.
Agaknya gambaran singkat orang-orang super miskin ya seperti itu. Benar, persis di Indonesia. Anak-anak sekolah dikasih menu makan bergizi gratis (MBG). Ya, GRATIS.
Kata "gratis" membuktikan bahwa seluruh anak sekolah di negeri ini adalah anak orang-orang super miskin. Mereka kelaparan. Mereka tidak mampu membeli makanan. Mereka sekarat. Mereka sangat memperihatinkan. TRAGIS!
Pertanyaannya, apakah benar demikian?
Tentu saja tidak. Mereka anak-anak orang mampu. Buktinya, mereka mampu membayar biaya sekolah. Ingat! Sekolah tidak gratis. Sekolah itu berbayar. Bahkan, untuk bisa terus belajar di sekolah, para siswa dipungut sumbangan sana-sini yang memberatkan pihak siswa.
Lantas, apakah MBG salah? Tidak tepat sasaran? Banyak pihak mengatakan lebih baik dikembalikan seperti dulu, yakni beasiswa kurang mampu. Bagi anak-anak yang memang orang tua mereka berpenghasilan kurang, maka mereka layak mendapatkan uang bantuan.
Sebagian pihak yang lain berpendapat idealnya pemerintah membantu para orang tua dalam hal pekerjaan. Sehingga, mampu menyekolahkan dan memberikan makanan bergizi yang sesungguhnya. Zaman era Orde Baru, misalnya, pemerintah saat itu membantu masyarakat dalam hal pekerjaan seperti program transmigrasi.
Intinya, banyak sekali pihak yang menghendaki agar dana MBG dialihkan kepada upaya pemerintah membantu masyarakat termasuk para orang tua siswa agar bisa mandiri secara ekonomi.









0 comments:
Post a Comment