Sunday, March 15, 2026

Samakah Kata TERTIBKAN dan BERESKAN?

 

Ilustrasi: Pixabay

Jika ada seorang kepala negara mengatakan "tertibkan" dalam konteks pembungkaman terhadap para aktivis, bisa berarti sama dengan kata "bereskan". Ini sinyal berbahaya. Mengapa? Sebab, dua kata itu berarti tindakan ganas yang brutal. Hasilnya bisa kematian atau cacat tubuh permanen (kalau bisa selamat). 

Biasanya pemimpin seperti itu kurang menggunakan akal sehat. Kecerdasan emosional dan sosialnya pun sangat rendah. Sedikit-sediikit marah, sedikit-sedikit ingin membunuh. Idealnya, orang yang demikian tidak memiliki kelayakan untuk memimpin sebuah negara. 

Akan tetapi, tentu saja melengserkannya memerlukan tetesan bahkan tumpahan darah. Itulah sebabnya, saat proses pemilihan pemimpin negara, rakyat wajib mengetahui karakter para kandidat calon presiden mereka yang akan "memimpin" pada masa mendatang. 

Memilih pemimpin bukan perkara menerima amplop serangan fajar, melainkan penentuan nasib hari esok. Ya, meskipun kita tidak bisa melepaskan diri dari takdir, ini merupakan bagian dari usaha yang diwajibkan bagi setiap manusia di dunia. 

Nah, pertanyaannya, bagaimana jika pemimpin arogan yang terpilih? Maka, berhati-hatilah. Salah langkah, bukan hanya soal cacat fisik permanen, tetapi juga nyawa Anda taruhannya. 


0 comments: