![]() |
| Ilustrasi: Pixabay |
Akhir-akhir ini nama Bahlil dan Prabowo begitu tenar. Keduanya sering disebut di rumah-rumah, warung-warung makan, bahkan di pasar tradisional. Maklum masing-masing pemilik nama tersebut sedang naik daun.
Meskipun demikian, baik Bahlil, maupun Prabowo sebenarnya bukanlah sosok-sosok manusia yang baik. Bahlil, misalnya, sangat gemar bermain judi. Hari-harinya tak pernah dia lewatkan tanpa permainan haram itu. Taruhannya bukan main-main. Pernah dia mempertaruhkan istri ketiganya dalam arena judi yang digelar di rumahnya.
Prabowo tak kalah buruk daripada Bahlil. Pria pengusaha yang satu ini gemar sekali mencuri dana desa. Ya, koruptor kelas teri. Uangnya dia hambur-hamburkan di panggung hiburan malam.
Nah suatu hari, Bahlil yang akrab dengan warga pernah berujar di salah satu kedai kopi bahwa Prabowo termasuk orang yang suka tergesa-gesa. Dan, memang begitulah adanya.
Prabowo yang sejak lama menjadi pengusaha batu bata itu selalu saja tergesa-gesa dalam segala hal. Pernah suatu waktu dia tertarik membuka usaha lain, yakni ayam goreng tepung. Bukannya merintis satu gerai usaha terlebih dahulu, dia langsung membuka sepuluh unit di banyak tempat. Sekilas memang bagus, tetapi karena minim pengalaman, akhirnya usaha barunya ini bangkrut dan semua unit usaha ayam itu pun terpaksa ditutupnya.
Pernah juga ketika dirinya melihat sepupunya menebas daun pisang miliknya. Dengan tergesa-gesa dia langsung menuduh sepupunya itu hendak mencuri buah pisangnya. Padahal tidaklah demikian.
Kebanyakan warga yang sudah lama tinggal di Desa Telur Putih tersebut tak bisa berbuat apa-apa dengan sikap buruk keduanya. Mereka hanya bisa menonton prilaku buruk Bahlil Rudianto dan Prabowo Sugiman itu. Mau bagaimana lagi? Mengkritik malah jadi masalah. Jadi, lebih baik cari aman saja
(Cerita di atas hanya fiksi belaka. Semoga dapat ditarik pelajaran untuk hidup yang lebih baik.)









0 comments:
Post a Comment