![]() |
| Ilustrasi: Pixabay |
Jika masih menggunakan batubara sebagai sumber pembangkit tenaga listriknya, itu percuma. Toh ujung-ujungnya tidak ramah lingkungan, melainkan menyenangkan di kantong pengusaha. Ah, kebijakan macam apa ini?
Idealnya, pemerintah selalu prorakyat. Sebutlah kompor, misalnya. Untuk apa menggunakan kompor listrik kalau rakyat lebih senang menggunakan kompor minyak atau gas? Sebagai pemimpin, entah itu presiden ataupun raja, terpenting adalah menunaikan amanah rakyat sebagai investor negara. Ya, rakyat sebenarnya berinvestasi dengan pajak demi keberlangsungan kehidupan negara.
Terlebih lagi konversi itu menjadi bencana jika pembangkit tenaga listriknya masih menggunakan batubara. Sebab, akan kian banyaklah penggunaan listrik di negara kita. Dan, secara otomatis semakin rusak pulalah alam akibat penambangan batubara. Ini tidak baik.
Berbeda ceritanya seumpama pembangkit listriknya menggunakan tenaga angin, air, atau surya. Nah, ketiganya ramah lingkungan. Sayangnya, Indonesia masih menggunakan pembangkit listrik tenaga uap yang berbahan batu bara sebagai pembangkit listrik utama.
Jadi, untuk apa konversi ke listrik?









0 comments:
Post a Comment