![]() |
| Ilustrasi: Pixabay |
Andai sebuah negara memiliki banyak industri, maka dijamin negara tersebut menjadi maju. Lihatlah Britania Raya sebagai negara modern pada masa keemasannya, memiliki industri hebat, menjadi negara superpower. Berbeda dengan Turki Utsmaniyah yang mempertahankan sifat tradisional dan tanpa kekuatan industri besar, berakhir lemah dan kalah.
Dengan adanya dunia industri yang sehat, pemerintah di negara bersangkutan tentu tidak akan melirik dana umat. Mengapa? Karena pendapatan negara dari badan usaha milik negara (BUMN) yang di dalamnya banyak industri, sudah jauh melampaui harapan. Ya, uang demi uang mengalir dari dunia industri dengan lancar.
Akan tetapi, seumpama pemerintahnya malas dan korup, BUMN pasti tidak digarap secara optimal. Yang ada adalah, kata sakral pemerintah, yakni RUGI.
PADAHAL, jika dikelola dengan benar, terutama dalam hal persaingan bisnis dengan luar negeri, negara tersebut masih bisa bernapas lega. Sebutlah industri di bidang kontruksi bangunan. Ketika ada proyek pembangunan strategis nasional, gunakanlah produk-produk lokal, seperti semen dan baja buatan dalam negeri. Bukannya malah mengimpor atau menggunakan produk asing yang sudah ada di negara itu.
Industri mobil, misalnya, idealnya juga dikelola dengan sungguh-sungguh. Ketika negara membutuhkan mobil untuk operasional industri, maka belilah mobil produk lokal.
Intinya, jangan sampai negara memiliki industri, tetapi pemerintahnya malah membeli produk industri dari luar negeri. Jika hal ini sudah terjadi, dipastikan PENDAPATAN NEGARA bersumber dari PAJAK. Dan, jika pajak belum memenuhi juga, maka dana umat seperti zakat, infaq, shodaqoh, dan lainnya akan diincar pemerintahnya. Dengan kata lain, dana umat BIKIN ngiler pemerintah di negara tersebut.









0 comments:
Post a Comment