Saturday, March 14, 2026

Kami Sakit Tifus, Pak. Kalian Sehat! Titik!

 

Ilustrasi: Pixabay

Begitulah analogi sederhana untuk sebuah negara dengan perekonomian yang tidak baik-baik saja, tetapi dipaksa sang presiden baik-baik saja. 

Aneh? Ya, tentu saja aneh! Ini agaknya mengikuti dunia iklan. Sebutlah orang kena flu, lalu baru saja minum obat langsung sembuh. Singkatnya adalah sebuah kebohongan yang dipaksakan terhadap publik. Dan, jelas sekali mengikuti pepatah menyesatkan, yakni kebohongan yang diulang-ulang akan menjadi kebenaran di otak banyak orang. 

Lantas, apakah hal demikian masih berada di jalan kebenaran birokrasi? Pastinya tidak. Langkah-langkah tersebut memang sengaja dibuat dalam rangka menciptakan hiper realitas yang ujungnya menenggelamkan kebenaran dan mengeksiskan imitasi yang pastinya berupa kesalahan atau berkebalikan dari kebenaran. 

Pertanyaan lainnya, mungkinkah teori kebohongan yang dipaksakan ini masih bisa diterapkan? Mungkin, jika itu dilakukan pada zaman masyarakat masih banyak yang belum melek, akan sangat lancar. Akan tetapi, dunia saat ini sudah berbeda. Masyarakat tidak lagi mudah dibohongi. Orang-orang telah berpikir dan mampu membedakan mana yang benar, mana yang tiruan atau palsu. 

Jadi, lebih baik pemerintah di negara mana pun berhenti menipu rakyat. Sebab, di era keterbukaan dengan luasnya jangkauan masyarakat melalui media informasi, kebenaran terpampang nyata. 

Kebiasaan menutupi kebobrokan dengan cara hitam dan otoriter seperti itu oleh pemerintah hanyalah wujud dari kediktatoran jahat. 


0 comments: