![]() |
| Foto: Pixabay |
"Nilai mata uang Damai kita melemah lagi menjadi ∆18.028 per dolar Amerika Serikat."
"Wadduh! Berarti harga barang dan jasa kian naik lagi nih. Kita makin sengsara."
"Tapi, kok para pejabat kita, terutama Presiden Pascauwa Sebentar terlihat hepi-hepi aja ya?"
"Orang-orang seperti mereka mana peduli dengan hal beginian. Mau ∆30 ribu kek, ∆90 ribu kek emang mereka pikirin? Nggak lah! Bagi mereka yang penting jabatan tetap di tangan. Rakyat mati pun mereka hepi."
"Jahat banget ya mereka. Padahal 80% pendapatan negara dari uang pajak rakyat. Artinya, gaji mereka dari kita. Tapi, balasan mereka berupa air tuba."
"Pendapatan mereka bukan hanya dari pajak, tapi juga dari uang sogokan, korupsi, dan lainnya seperti penjualan kayu hutan yang mereka babat."
"Mereka makan uang kotor makanya jiwa mereka kotor."
"Itulah sebabnya, jangan heran mereka berbuat di luar hati nurani. So, kita harus hidup lebih hemat lagi mulai sekarang.'
"Kita juga harus lebih giat menanam yang bisa dimakan saat semua harga kian melambung akibat nilai mata uang Damai terus melemah."
"Kira-kira ubi kayu di depan sana cukup untuk berapa bulan ya?"
"Kita tambah saja dengan menanam ubi jalar dan lainnya."
"Aku setuju."
***









0 comments:
Post a Comment