![]() |
| Ilustrasi: Pixabay |
Harga bahan bakar turun lantaran subsidi diperbanyak di sektor migas, misalnya, merupakan kabar baik bagi seluruh rakyat Indonesia. Perbaikan setiap jalan yang rusak atau pengaspalan di daerah terpencil juga kabar yang membahagiakan.
Atau, kabar-kabar baik lainnya, seperti pemerintah membantu para petani, peternak, pedagang, dan nelayan dalam berbagai hal merupakan angin segar bagi rakyat.
Pertanyaannya, apakah ada kabar-kabar baik tersebut untuk rakyat Indonesia?
Jujur, selama berganti-ganti pemimpin negara, berita-berita semisal kenaikan bahan bakar, kenaikan tarif listrik, kerugian PLN, kerugian Garuda Indonesia, dijualnya saham Indosat, jatuhnya rupiah terhadap dollar Amerika Serikat, bertambahnya utang Indonesia kepada luar negeri, keracunan siswa setelah menyantap makan bergizi gratis, dan berita-berita duka lainnya lah yang meramaikan jahat alam Indonesia.
Rakyat Indonesia agaknya tidak pernah mendapatkan suguhan berupa berita-berita bahagia dari pemerintah. Itulah sebabnya, begitu viral sebuah kalimat yang berbunyi, "Pemerintah tidak prorakyat."
Kalimat itu tersaji di berbagai bidang kehidupan. Di pertanian, contohnya, pemerintah tidak maksimal membantu para petani. Pupuk berkualitas masih mahal. Hilirisasi hasil pertanian masih terhenti di tengkulak. Yang ada malah impor beras secara ugal-ugalan dengan alasan persediaan beras lokal tidak mencukupi untuk pangan di Indonesia. Idealnya, tingkatkan sektor pertanian agar hasilnya sampai di rumah seluruh rakyat Indonesia. Bukannya malah impor dan impor.
Itu semua sebenarnya menjadi pekerjaan bagi pemerintah untuk Indonesia yang lebih baik. Tapi, akankah pemerintah bekerja secara optimal untuk kemakmuran seluruh rakyat di negeri ini?









0 comments:
Post a Comment