![]() |
| Ilustrasi: Pixabay |
Di sebuah tanah datar, ada seorang raja bernama Wajan. Dia baru saja menerima tahta dari ayahnya yang baru mangkat. Meski sudah tua, tapi dirinya masih suka ceroboh dan bertindak semaunya.
Apa pun yang dia inginkan selalu dipaksakan meskipun biaya kerajaan tidak memadai. Misalnya, dirinya membeli gerobak-gerobak dari kerajaan lain. Padahal kas kerajaannya minus. Maka, atas nama rakyat, dia berutang kepada pihak asing. Nah yang parahnya lagi, dia memberikan uang yang banyak kepada sebuah organisasi yang diikutinya seakan-akan kerajaannya kaya raya.
Dia sama sekali tidak mau mengakui bahwa kerajaannya miskin dan rakyatnya banyak yang hidup susah. Bahkan, masyarakat korban bencana yang masih hidup di tenda pengungsian tak luput dari kebohongannya. Dia mengatakan semua korban bencana sudah tinggal di rumah. Sedangkan kenyataannya tidaklah demikian.
Rakyat kian muak kepadanya. Dirinya sama sekali tidak memiliki rasa empati kepada rakyat. Yang ada dalam pikirannya hanyalah dirinya dan dirinya. Dia selalu ingin dipuji pihak asing sebagai raja hebat. Yakni raja yang mampu memimpin kerajaan dengan sangat baik.
Oh, dirinya benar-benar raja yang buruk!









0 comments:
Post a Comment