![]() |
| Ilustrasi: Pixabay |
Agaknya ini cara jitu yang sejurus dengan perlakuan Presiden Vladimir Putin terhadap umat Islam Rusia. Konon, presiden penyuka olahraga judo itu melihat umat Islam di negaranya tidaklah sedikit. Ia sadar betul akan potensi yang membahayakan keutuhan Rusia jika dirinya tidak bijak terhadap para muslim di sana. Itulah sebabnya, dirinya merangkul seluruh umat Islam Rusia bersatu padu membangun negeri. Dan, ia berhasil. Bahkan, bisa dikatakan umat Islam di sana menjadi benteng utama terhadap paham-paham yang dianggap Putin dapat melahirkan radikallisme berbahaya.
Hal ini pulalah yang sedang dilakukan salah seorang presiden dalam menghadapi demonstrasi. Ya, lebih tepatnya demonstrasi besar di negara yang dipimpinnya. Presiden ini sadar bahwa penggerak utama unjuk rasa adalah pihak kampus. Benar, para mahasiswa dan juga sebagian dosen mereka.
Nah, untuk mengatasi demonstrasi di negaranya, maka sumber pergerakan tersebut haruslah "diselesaikan" terlebih dahulu. Salah satu caranya adalah mengundang para rektor dan memperlakukan mereka dengan sangat baik. Yang semula sang presiden tak mau dikritik orang-orang pintar, kini dengan kata-kata manisnya ia berjanji akan menampung segala masukan dari para rektor.
Selain itu, dirinya juga menegaskan bahwa kampus adalah tempat bertukar ide-ide, gagasan-gagasan, juga yang lainnya demi perkembangan ilmu dan teknologi. Ini sangat jelas presiden tersebut sedang menggunakan wajah lain. Wajah yang berbeda dengan wajah aslinya yang sombong, radikal, dan juga antisosial.
Tujuan utama penggunaan wajah lain itu tidak lain dan tidak bukan supaya kampus hanya mengurusi dan sibuk dengan keilmuan semata. Sehingga, tidak lagi berunjuk rasa menentang dirinya.
Nah, dalam hal tersebut sebenarnya dirinya tidak paham akan satu hal penting, yakni sejatinya kampus tidak sekadar melahirkan orang -orang cerdas dalam intelektual saja. Para sarjana dilahirkan dengan beragam kecerdasan. Pihak kampus menggembleng para mahasiswa untuk memiliki kecerdasan intelektual, emosional, spritual, sosial, budaya, dan seluruh kecerdasan di setiap sendi kehidupan yang ada. Salah satunya demonstrasi.
Tanpa simpati dan empati, mana mungkin para mahasiswa mau berpanas-panasan dan berhujan-hujanan menggelar unjuk rasa demi kesejahteraan rakyat? Seandainya para mahasiswa antisosial, sudah dipastikan tidak ada yang namanya demonstrasi.









0 comments:
Post a Comment