![]() |
| Ilustrasi: Pixabay |
"Kata kakekku, saat ini, perekenomian di sini persis seperti 75 tahun lalu."
"Kita sudah kembali di masa lalu. Masa saat desa berupa kesunyian ekonomi."
"Masih terbayang di otakku, dua tahun lalu sebelum Lurah Praprapra Susanto naik tahta, ekonomi di desa ini bergerak lincah."
"Yah bagaimana tidak sepi, investor pada kabur. Lihatlah kolam ikan di sana sudah tidak beroperasi, pabrik kacang telur dan kripik singkong sudah tutup, tempat wisata kita juga berhenti total."
"Sayang sekali, Lurah Praprapra selalu saja mengambil keputusan dengan tergesa-gesa."
"Beliau sangat asal-asalan tanpa berpikir panjang terlebih dahulu."
"Ya, benar. Dengan kata lain, bersifat cepat. Bertindak secara tiba-tiba menurut gerak hati."
"Itu sangat parah. Logika tidak beliau gunakan. Hanya menggunakan perasaan semata."
"Memang sudah sangat tampak beliau tidak menggunakan logika. Buktinya beliau tidak mau berhitung dengan cermat. Seperti kita ketahui bersama, secara asal-asalan beliau menyamakan 1+1 sama dengan sembilan belas. Itu bukti nyata bahwa beliau tidak menggunakan logika berpikir."
"Sudah begitu, beliau tidak mau dikritik."
"Aku pernah dengar langsung saat di balai desa. Beliau marah dan berkata, 'Saya tidak bodoh! Jangan kritik saya!' Dan, para anak buah beliau langsung diam."
"Alhasil, semua itu menghasilkan produk kebijakan yang serampangan."
"Lalu kepercayaan para investor terkikis dan akhirnya habis."
"Mereka pun meninggalkan desa ini."
"Sedangkan Lurah Praprapra asyik mengadakan lawatan di desa-desa lainnya bersama mas Jura."
***









0 comments:
Post a Comment