![]() |
| Ilustrasi: Pixabay |
Pagi-pagi sekali seorang menteri berujar kepada calon demonstran, "Santunlah saat berdemonstrasi seperti angin sepoi-sepoi yang menjatuhkan sang kera jantan."
Perkataannya pun segera diamini banyak pihak. Dalam sejarahnya, kera memang pernah jatuh oleh angin sepoi-sepoi. Ya, sang kera hebat yang diembusi angin tersebut mulai mengantuk. Tak lama setelahnya ia pun tertidur dan akhirnya terjatuh dari atas singgasananya.
Hal itu pula yang sebenarnya diembuskan oleh para menteri dan lainnya kepada sang presiden. Istilah lain dari santun di kalangan mereka adalah, Asal Bapak Senang atau disingkat ABS. Dan, para demonstran ikut-ikutan bersuara santun pula saat berunjuk rasa di depan istana presiden.
Salah seorang perwakilan mereka bersuara merdu dan santun, "Wahai Bapak Presiden yang ganteng, dengarkanlah nyanyian kami. Bahan bakar minyak yang dingin, merangkak naik dari aspal menuju trotoar, median jalan, dan juga jembatan ke jembatan. Kenaikannya sungguh mengiris dada kami. Bagaimana tidak? Lembar-lembar uang kami menjadi kian menipis. Sementara harga-harga kebutuhan sehari-hari juga ikutan naik dari anak tangga satu ke anak tangga berikutnya. Oooooh Bapak Presiden kami yang gagah, dengarkanlah, dengarkanlah, dengarkanlah jeritan kami."
Orator lainnya tak kalah santunnya, "Pernahkah Bapak Presiden yang berkulit bersih dan bersuara merdu memikirkan hasil program-program yang sudah dijalankan selama ini? Roda-rodanya banyak yang bengkok. Jalannya bergoyang-goyang. Sebutlah program menikmati nasi hangat, lauk gurih, dan sayuran segar, banyak sekali menelan anggaran negara. Termasuk anggaran untuk kemakmuran rakyat dipotong untuk program itu. Kami yang kecil dan lemah ini meminta kepada Bapak Presiden yang perkasa dengan otot besar untuk segera menghentikan jalannya program tersebut."
Pada demonstrasi pertama ini, sang presiden mulai bereaksi di balik gedung istana berupa kata-kata sederhana, "Akan saya perhatikan." Melihat fenomena yang demikian, para mahasiswa dan juga pihak-pihak lain yang sebelumnya tak turun ke jalan, akhirnya tersentuh dan berniat ikut berdemonstrasi.
Jumlah para demonstran pada demonstrasi yang kedua meningkatkan drastis. Kata-kata indah yang santun menelusup ke celah-celah dinding-dinding istana negara. Suara santun mereka membuat sang presiden terenyuh dan menangis tersedu-sedu.
"Baiklah, baiklah, baiklah, saya akan menyuntikkan subsidi bahan bakar minyak dan juga menghentikan program nasi hangat, lauk gurih, dan sayuran segar."
Para demonstran langsung menyambut kata-kata sang presiden dengan penuh haru.









0 comments:
Post a Comment