Tuesday, May 5, 2026

Legislatif dan Eksekutif yang Pemalas dan Gemar Hura-Hura

 

Ilustrasi: Pixabay

Tiga puluh ribu tahun lalu pernah berdiri sebuah negara di tanah tandus. Udara kering sering menjadi santapan orang-orang di sana. Hal ini tidak hanya membuat mereka kerap merasakan tidak enak di dada, tetapi juga menyebabkan pikiran mereka kacau. Ya, betapa tidak? Mereka sangat susah bercocok tanam. 

Untuk bisa mendapatkan penghasilan, masyarakat di sana menggunakan sistem hidroponik Dengan cairan bernutrisi, meski tanpa tanah sekali pun, mereka tetap bisa panen dan mendapat uang secukupnya. 

Meski begitu, masalah tidak berhenti sampai di situ. Pemerintah dan parlemen di negara tersebut sangat boros. Orang-orang politik biadab itu hidup berfoya-foya. 

Mereka menghambur-hamburkan anggaran belanja negara seenak hati. Dan, ketika utang negara meningkat, mereka menaikkan pajak rakyat. 

Padahal, perusahaan-perusahaan milik negara sudah ada di sana. Namun, keuntungannya mereka korupsi. Agar tidak ketahuan, maka dikatakanlah semua perusahaan itu rugi dan rugi. 

Alhasil, rakyat tercekik. Pajak ada di mana-mana. Saat rakyat panen, uang mereka dikenai pajak. Ketika rakyat belanja, harga barang menjadi tinggi karena kena pajak. Semua sektor kehidupan dikenai pajak. 

Suatu ketika rakyat di sana sudah tidak kuat menahan diri. Dengan segala upaya, mereka bahu-membahu merebut kemerdekaan dari tangan para elit politik yang pemalas dan suka hura-Hura itu. Setelah berupaya selama tiga pekan, akhirnya mereka berhasil. 

Tak mau menunggu lama, rakyat di negara tersebut membangun pemerintahan baru. (Cerpen fiksi) 

Monday, May 4, 2026

Bahasa Mandarin Memasangsa Bahasa Daerah? Cegah!

Foto: Pixabay

Sejak beberapa tahun lalu,. Pemerintah Indonesia menekankan penguasaan bahasa Mandarin oleh masyarakat Indonesia. Alasannya satu, yakni ekonomi. Hal ini dapat dipahami betapa banyaknya perusahaan milik orang berbangsa Han, baik dari Taiwan, maupun Cina Komunis. 

Dengan menguasai bahasa tersebut, diharapkan masyarakat Indonesia bisa bekerja di perusahaan-rusahaan itu. Ya, ini fenomena yang terjadi saat ini. Kita tidak bisa memungkirinya. 

Meski begitu, pemerintah juga wajib ikut serta dalam upaya menjaga eksistensi bahasa daerah sebagai wujud pemertahanan budaya di Indonesia. Terutama sekali, adalah bahasa-bajasa daerah yang hampir dan mendekati kepunahan. 

Menguasai bahasa asing memang perlu, tetapi jangan sampai bangsa Indonesia tercerabut dari akar budayanya sendiri. Dengan perkataan yang lebih khusus, hindari bahasa asing memangsa bahasa-bahasa daerah yang ada di negara ini. 

Sunday, May 3, 2026

Amien Rais, Pejuang yang Tak Kenal Usia

Ilustrasi: Pixabay

Bagi sebagian orang, sosok Amien Rais adalah sengkuni yang licik dan haus kekuasaan. Sebagian yang lain, menilai tokoh reformasi itu merupakan pejuang yang tak kenal usia. Ya, usianya sudah 82 tahun lebih dan masih mau memikirkan keindonesiaan. 

Pro dan kontra terhadap seseorang sebenarnya tak ada yang perlu dipermasalahkan. Setiap orang punya pendapat masing-masing. Si A berpendapat begini, silakan. Si B begitu juga silakan. Kebebasan berpendapat dijamin undang-undang. Itulah sebabnya, pak Amien tidak pernah mempermasalahkan adanya orang-orang yang mengatainya sebagai sengkuni. 

Begitu pula ketika seorang Amien Rais ini berpendapat bahwa sosok tertentu adalah penyuka sesama jenis, itu juga hal yang lumrah. Kalau semisal tidak benar, idealnya ditanggapi dengan bukti dari ahli sebagai sanggahan. Artinya, perihal berpendapat haruslah disikapi secara damai dan tidak cocok dibawa ke ranah hukum. 

Bahkan terkait hal terakhir di atas, sebagian orang berpendapat bahwa "penyelesaian" dengan memidanakan seseorang yang berpendapat bisa dikategorikan terlalu ekstrem dan sebaiknya dihindari. 

Saturday, May 2, 2026

Pembegalan karena Ekonomi, Bukti Indonesia Gelap?

Ilustrasi: Pixabay

Di Kalimantan Selatan sedang heboh dengan kasus pembegalan terhadap seorang ustazah. Begalnya dua orang dan korbannya meninggal dunia. 

Secara ringkas, kedua pelaku sudah berhari-hari mengincar korban yang selalu membawa tas hitam. Mereka mengira tas hitam tersebut berisi uang tunai. Dalam kesehariannya, korban selalu lewat di depan pondok tempat kerja mereka. Selain menjadi ustazah di salah satu pesantren, korban juga menjadi penjaga toko ponsel. Saat kejadian, kedua pelaku yang merupakan petani dan juga pekerja serabutan itu merampas tas, ponsel, dan juga anting korban. Supaya aman, mereka melumpuhkan korban hingga tewas. 

Selain barang-barang ringan yang berhasil mereka rampas, sebenarnya ada sepeda motor korban. Tetapi, agar tetap aman, keduanya tidak membawanya kabur. Dan, setelah berhasil diringkus, keduanya mengaku aksi keji itu mereka lakukan demi mendapatkan uang untuk keluarga di Jawa, termasuk membayar biaya sekolah. 

Dari sini dapat kita ketahui bahwasannya faktor utama tindak kriminal di Sungai Ulin Banjarbaru Utara, Kodya Banjarbaru, Kalimantan Selatan adalah masalah ekonomi keluarga. Artinya, ekonomi sebagian rakyat Indonesia sedang tidak baik-baik saja. Dengan kata lain, Indonesia masih gelap bagi sebagian rakyatnya. 

Pemerintah harus membuka mata lebar-lebar. Jangan malah menolak kondisi yang sebenarnya. Fakta di lapangan seperti ini idealnya segera ditindaklanjuti oleh pemerintah. Misalnya, berikan pinjaman tanpa bunga untuk warga yang terbukti tidak mampu secara ekonomi. Pinjaman bisa untuk modal usaha atau lainnya. 


Presiden Pilih Hari Puisi, Hari Buruh, atau Hari Pendidikan?

Ilustrasi: Pixabay

Kemarin, Presiden Prabowo Subianto merayakan Hari Buruh dengan begitu wah. Acaranya digelar dengan gegap gempita. Ada pidato, joget, dan pembagian sembako untuk para buruh. Bisa dikatakan tanggal 1 Mei ada pesta pora yang wow oleh Presiden Republik Indonesia bersama para buruh. 

Nah, kalau kita mundur beberapa hari sebelumnya, yakni 28 April, tak ada pesta yang serupa hari kemarin. Padahal pada hari itu juga ada hari penting bernama Hari Puisi Nasional. 

Atau, hari ini. Ya, hari ini tanggal 2 Mei yang merupakan Hari Pendidikan Nasional juga sama seperti 28 April. Presiden Prabowo tak merayakan dua hari besar lainnya tersebut. Para penyair dan guru tak mendapatkan perhatian spesial dari sang presiden. Di sini jelas sekali ada perlakuan yang berbeda jika dibandingkan dengan para buruh. Padahal sejatinya, setiap hari besar nasional seharusnya memiliki kedudukan yang sama. 

Pertanyaan, mengapa demikian? Mengapa hanya para buruh yang diistimewakan? Apakah para penyair dan guru tidak penting di negara ini? 

Benarkah Amien Rais Memfitnah Teddy?

Foto: Wikipedia

Tentang fitnah, ada satu hal yang perlu kita camkan, yakni tidak bisa disikapi secara tergesa-gesa. Perlu pendalaman. Mulai dari latar belakang seorang Amien Rais mengatakan bahwa Sekretaris Kabinet Teddy adalah penyuka sesama jenis sampai kepada penyelidikan untuk menemukan kebenarannya. 

Ini perlu waktu yang tidak singkat. Dan, karena panjangnya waktu yang diperlukan tersebut, agaknya kasus ini bisa saja menguap dan hilang. Ya, tinggal cerita yang lambat laun juga sirna. 

Awal dari kasus ini, publik dikejutkan dengan isi konten politikus senior itu di kanal YouTube miliknya. Meskipun saat ini konten tersebut hilang dari sumber aslinya, tapi sudah banyak orang yang menontonnya. 

Pihak pemerintah sendiri, dalam hal ini melalui Komdigi, sudah menyiapkan langkah hukumnya. Gerakan pemerintah benar-benar cepat. Sebagian publik pun menanti yang akan terjadi selanjutnya terkait benar tidaknya perkataan Amien Rais tersebut 



Friday, May 1, 2026

Presiden Adalah Pekeja Bayaran

 

Ilustrasi: Pixabay

Idealnya presiden, raja, atau sultan wajib memenuhi segala perintah rakyat yang menggaji dirinya setiap bulan. Mulai dari keamanan hingga kebutuhan bahan rumah tangga. 

Ya, ketika rakyat butuh ini, buruh itu, presiden dengan sigap memenuhi semuanya. Bisa dikatakan menjadi presiden harus siap melayani rakyat 24 jam penuh. 

Tentu saja dalam melaksanakan pekerjaannya, presiden membutuhkan para menteri dan para pekerja bawahan di setiap kementerian yang ada. Mereka yang membantunya juga digaji rakyat. 

Jika seorang presiden melakukan kesalahan, ia pun akan mendapatkan hukuman yang setimpal. Bahkan, bisa saja berupa pemecatan. Dan, presiden baru akan dilantik setelah dipilih rakyat. 

Meski pada hakikatnya seperti itu, namun pada kenyataannya malah sebaliknya. Pada umumnya presiden di banyak negara menempatkan dirinya sebagai penguasa kejam. Rakyat diperas dengan pajak. Kalau ada rakyat yang menentangnya, sudah dipastikan akan dihukum berat. 

Itulah sebabnya, berlaku hukum kausalitas. Tindakan presiden, raja, atau sultan yang kejam menjadi sebab adanya pemberontakan oleh rakyat. Ada yang berhasil menumbangkan sang presiden. Lalu membangun sistem pemerintahan yang dicita-citakan. Sebutlah Dinasti Yuan yang ditumbangkan rakyat di bawah kepemimpinan Zhu Yuanzhang hingga berdirinya Dinasti. Ming. Atau yang terbaru di Suriah.  Presiden Bashar al-Assad berhasil digulingkan pada 8 Desember 2024 dan digantikan dengan pemerintahan yang baru. 


Thursday, April 30, 2026

Presiden Tukang Fitnah, Rakyat Jadi Korban

Ilustrasi: Pixabay

Rakyat yang pintar menjadi sasaran presiden tukang fitnah? Itu wajar karena memang bagian upaya mempertahankan kekuasaannya sebagai kepala negara. Rakyat yang dikategorikan pintar di sini ialah kaum intelektual dengan daya kekritisan tingkat tinggi. 

Dengan otak mereka yang unggul, kritik membangun kepada pemerintah lahir satu demi satu. Dan, hal ini sebenarnya normal. Namanya saja presiden pasti tidak selalu benar, 'kan? Selama dirinya masih merupakan manusia, pastilah memiliki kekurangan. Itulah sebabnya, ada saling mengingatkan. Salah satunya dengan kritik tersebut. 

Yang menjadi masalah, "ada presiden" dari Republik Gem Aw (sekitar dua ribu tahun lalu) merasa paling benar, paling jago, paling segalanya. Mungkin dirinya sadar atau tidak sudah merasa seperti Tuhan. Orang lain sepintar apa pun tidak boleh mengkritiknya. Semua rakyat harus mendukungnya secara penuh. 

Padahal, keputusan-keputusannya tidak didasari dengani studi yang mendalam terlebih dahulu. Sebutlah contohnya pendirian usaha dagang baru. Tanpa mempelajari dan "mengujicobakan" terlebih dahulu dalam jumlah kecil, dirinya langsung membangun puluhan ribu unit usaha tersebut. Dalam hal ini ia belum tahu apakah usaha yang dibangunnya memang menguntungkan negara atau malah sebaliknya. 

Contoh lain, dengan tergesa-gesa ia menggenjot penggantian atap rumah, yakni dengan atap baru yang seragam untuk meciptakan keindahan. Sebelum menggenjot program itu, dirinya belum memperhitungkan secara matang dampak buruk dari besarnya biaya yang dikeluarkan. Terlebih, jika dikaitkan dengan kondisi keuangan negaranya yang saat itu sedang defisit anggaran. Ujung-ujungnya rakyat ditekan untuk membayar pajak. 

Sedang kaum intelektual yang kritis terus ia sudutkan dengan fitnah "menyerang pemerintah". Bahkan ia ancam mereka dengan keji. Misalnya, dirinya "mengusir" rakyatnya yang pintar dan kritis itu dengan kata- kata "kabur sana" dari negara tersebut. Apa wewenangnya mengusir seperti itu? Presiden harusnya tunduk kepada rakyat. Dirinya digaji rakyat. Ia bawahan rakyat. Tapi, sok-sokan mengusir para majikannya sendiri. Ini sungguh keji. Benar-benar di luar batas. Rakyat menjadi korban oleh kekejiannya. 

Membaca cerita fiksi di atas, kita patut beruntung bahwa di dunia ini tidak. ada presiden yang demikian. Seandainya ada, gawat! 


Rakyatku Keracunan, Aku Bahagia dan Bangga

Ilustrasi: Pixabay

Dalam sebuah forum internasional, dirinya begitu bangga dengan program susu gratis ibu hamil (SUGIH). Dengan wajah berapi-api dan memukuli meja mimbar podium, dia mengatakan bahwa banyak negara meniru programnya itu. 

Dan, setelah sempat menyinggahi beberapa negara maju, ia pulang ke negaranya. Dirinya tampak puas. Tak berapa lama kemudian, ia kumpulkan para pendukungnya di sebuah forum negara. Di sana dia berpidato. Wajah tuanya terlihat sehat. Kata-katanya segera keluar lancar dan seperti kebiasaannya, kedua tangannya tak pernah absen memukuli meja mimbar podium sambil mengklaim program utamanya, yakni SUGIH berhasil. 

Padahal, selain menelan anggaran belanja negara yang sangat besar, di lapangan banyak ibu-ibu hamil keracunan setelah meminum susu gratis tersebut. Bahkan, yang berujung dengan meninggal dunia pun sudah tak terhitung jumlahnya. 

Tapi, sebaga presiden, dirinya tak pernah berempati terhadap para korban itu. Ia tetap bersikeras bahwa SUGIH yang terbaik. Siapa saja yang mengkritik programnya itu dianggapnya musuh besar negara. Dalam sebuah kesempatan, mulutnya pernah mengeluarkan sebuah kalimat kotor, "Kalau tidak setuju dengan SUGIH, kabur saja, tinggalkan negara ini!"

Sebenarnya bukan hanya masuk kategori kalimat kotor, tetapi juga antikemanusiaan. Sudah jelas para kaum intelektual memberikan masukan agar tidak terjadi lagi kematian akibat keracunan SUGIH, malah dicap musuh negara. Parahnya, dengan bahagianya dirinya terus saja membangga-banggakan program pembunuhan massal tersebut. 

Sungguh dirinya adalah presiden keji yang amoral. Untungnya dirinya hanyakah tokoh fiksi. Seandainya benar-benar nyata, wah sudah dipastikan rakyat di negara yang dipimpinnya akan sengsara. 

Wednesday, April 29, 2026

Penjajah Mengasingkan Pejuang ke Yordania

Foto: Pixabay

Mengapa penjajah gemar mengasingkan pejuang? Salah satu jawabannya adalah karena mereka tidak suka diganggu. Ya, para pejuang selalu saja dianggap pengganggu dan pembuat gaduh oleh penjajah. 

Sebutlah salah satu contohnya Soekarno yang diasingkan di Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur pada tentang waktu antara tahun 1934--1938. Intinya, pihak penjajah menginginkan rakyat jajahan nurut, tunduk, patuh, tidak melawan, dan kalau perlu seperti robot yang dengan mudah mereka kontrol. 

Jika ada rakyat cerdas yang melawan, sudah dipastikan akan menjadi musuh bagi penjajah. Hidupnya tidak aman. Sebab, akan diburu, ditangkap, dan disiksa, lalu diasingkan. Bahkan, bisa saja dihukum mati. 

Khusus kasus terakhir di atas, contohnya Panglima Batur dan Demang Lehman di Kalimantan Selatan yang dihukum mati oleh penjajah Belanda. 

Jika di era kekinian masih ada pemerintah yang gemar mengatakan hal berbau pengasingan ke luar negeri bagi orang-orang cerdas, maka sudah dipastikan pemerintah itu merupakan penjajah. Mungkin dalam hal ini terkesan seperti Israel yang menjajah Bangsa Palestina. 

Nah, tentu saja yang dimaksud orang-orang cerdas di era kekinian ialah kaum intelektual yang melihat kondisi nyata di lapangan dan menyuarakannya berdasarkan keilmuan mereka. Kemudian, suara mereka dinilai mengancam kekuasaan pemerintah yang bersangkutan. 

Orang-orang seperti ini sudah barang tentu dimusuhi pemerintah dan diserukan untuk kabur saja ke luar negeri sebagai bentuk pengasingan. Misalnya, kabur saja ke Yordania atau ke Israel. Selain seruan-seruan tak beradab tersebut, biasanya pemerintah penjajah akan membuat hidup orang-orang cerdas sengsara. Bisa jadi mereka dipenjara, disiksa, atau dibuat cacat permanen agar jera dengan asam sulfat. 


Tuesday, April 28, 2026

Wanita di Tengah, Posisi Kecelakaan Pasti di Belakang?

Ilustrasi: Pixabay

Gerbong belakang ditabrak kereta lain. Itu yang terjadi beberapa waktu lalu. Ya, tragedi kecelakaan kereta di Indonesia tersebut sungguh memilukan. Dan, salah seorang menteri mengusulkan gerbong wanita dipindah di bagian tengah kereta. 

Usulan tersebut menimbulkan tanda tanya lucu. Apakah lokasi kecelakaan bisa diatur? Misalnya, kecelakaan hari ini khusus di gerbong depan. Lalu minggu depan di gerbong belakang. Bulan berikutnya di posisi depan. Apakah seperti itu? Tentu jawabnya tidak. 

Kecelakaan terjadi begitu cepat. Tidak bisa diprediksi. Jangankan diprediksi, diharapkan saja tidak. Kemudian juga apakah posisi bagian yang terdampak kecelakaan akan tetap sama? Selamanya akan menimpa gerbong belakang secara terus-menerus? 

Idealnya, usulan itu bukan berfokus pada posisi, melainkan sistem keselamatan perkeretaapian di Indonesia. Sebagai negara yang telah lama berkecimpung di dunia rel, seharusnya keselamatan sudah menjadi hal utama yang secara kontinyu diperhatikan. Keselamatan penumpang, baik wanita, maupun pria, harus menjadi prioritas. Terlebih jika sudah menyangkut nyawa. Perbedaan jenis kelamin harus ditiadakan. Semua penumpang adalah sama. Yang tidak boleh dilupakan juga adalah, seandainya gerbong wanita di tengah aman, apakah suami dan anak laki-laki mereka yang tewas di gerbong belakang tidak membuat para wanita kehilangan? 

 

Reshuffle Kabinet hanya Akal-akalan

Ilustrasi: Pixabay

Jika ditanya akal-akalan siapa? Tentu jawabnya adalah presiden. Selama pemerintahannya berjalan, sudah terjadi reshuffle kabinet sebanyak tujuh kali. Waw! Angka yang tergolong banyak untuk tindakan presiden dalam mengganti, memindahkan, atau memberhentikan sebagian menteri dalam kabinetnya. Pada setiap pidato kebangsaan, sang presiden selalu saja mengutarakan bahwa hal itu untuk meningkatkan kinerja pemerintahannya. 

Padahal, tidak ada istilah "menteri yang mandiri dalam inovasi dan lainnya" dalam kabinet gemuknya tersebut. Sebab, dirinya lah yang berkehendak dan semua menteri hanyalah pembantu dalam merealisasikan segala kehendaknya tersebut. 

Dengan kata lain, siapa pun menterinya, mereka harus bekerja sesuai kehendak Presiden Kac Am Ata di Republik Salin Raya. Itu. Contohnya ketika sang presiden ingin kas semua tempat ibadah dikelola Kementerian Spritual melalui rekening bersama, maka orang yang menjadi menteri di kementerian ini dengan cepat menyuarakannya kepada semua pengelola tempat ibadah. Dan, masyarakat tahunya si menteri itulah yang menggagasnya. Jika kehendak itu dikritik, sang presiden berlepas tangan dan berkata, "Saya keget karena baru tahu ada rencana seperti itu." 

Pertanyaannya, jika demikian, untuk apa ada reshuffle kabinet? Jawabnya sederhana, yakni. sebagai akal-akalan presiden agar masyarakat mengira bahwa yang tidak kompeten adalah menteri-menterinya. Sedang dirinya teelihat bekerja keras. Salah satunya ialah dengan reshuffle kabinet sehingga sang presiden selalu mendapatkan pujian setinggi langit.


Monday, April 27, 2026

Bagaimana jika Iran Kalah?

Foto: Pixabay

Perang Iran versus Amerika Serikat + Israel belumlah usai. Masing-masing pihak masih dalam kondisi prima. Terlebih pascagencatan senjata beberapa waktu lalu. Dari sudut kacamata sederhana, Iran bisa dikatakan sebagai pihak dengan kekuatan di bawah Amerika Serikat. Apalagi ditambah kekuatan Israel, tentu saja Iran diprediksi akan kalah. 

Ya, cepat atau lambat kekalahan itu akan dialami Iran. Pertanyaannya, bagaimana seandainya Iran sudah kalah? 

Jawaban paling mencolok ialah Timur Tengah akan dikuasai secara mutlak oleh Amerika Serikat dan Israel. Kok? Bukankah di sana masih ada Turkiye dengan kekuatan yang besar? Bahkan, bisa dikatakan Turkiye merupakan kekuatan global yang tidak bisa diremehkan. Betul, faktanya memang demikian. Akan tetapi, negeri di bawah kepemimpinan Presiden Erdogan itu belum bisa sepenuhnya lepas dari jeratan Amerika Serikat dan Israel. 

Lihatlah betapa Turkiye berkehendak memiliki F-35. Pesawat F-16 varian terbaru pun masih dibeli republik yang didirikan Mustafa Kemal Attaturk itu selama KAAN belum 100% mengudara bebas. Dari sisi bisnis pun, Turkiye belum mau melepaskan diri dari Israel, yakni di bidang energi. 

Nah, Itu jika Iran kalah. Lantas bagaimana kalau dilihat lebih dalam lagi? Iran sebenarnya merupakan negara superpower, baik dari sisi militer, maupun sisi-sisi lainnya. Buktinya hingga detik ini Amerika Serikat dan Israel belum mampu menguasai Iran. Dalam rekam jejaknya, Amerika Serikat sebenarnya juga pernah berperang melawan negeri Syi'ah tersebut. Kapan? Itu terjadi ketika Iran melawan Irak. Amerika Serikat berada di pihak Irak, tapi selama delapan tahun peperangan, Iran tetap tak terkalahkan. 

Agaknya, perang melawan Iran jika diteruskan akan berkepanjangan, kecuali pihak Amerika Serikat dan Israel menyudahinya secara damai. Akankah? 


Kipandjikusmin: Ternyata Kian Mendung Ajah!

 

Ilustrasi: Pixabay

"Min! Ngapain loe duduk di situ?"

"Udah tau guwa duduk, masih nanya ajah."

"Nggak gitu juga, maksud guwa ngapain loe duduk di situ?"

"Ya, duduk lah. Emang ngapain lagi?"

"Ya elah, Min. Ribet banget. Okey, guwa cancel ajah pertanyaan barusan."

"Terus loe mo ngapain di sini kalo nggak nanya?"

"Ngadem!"

"Emang di sini lemari es apa? Pake ngadem segala."

"Hayaaaah! Di sini surga tau. Makanya enak buat ngadem."

"Tapi, bentar lagi surga di sini akan segera hilang."

"Hilang? Maksud loe?"

"Pihak perusahaan bakal nambang di sini. Pohon-pohon dan lainnya bakal tak ada lagi. Guwa beserta keluarga wajib ngosongin ni rumah. Paling lama besok. Oh, dunia kian mendung ajah!"

"OMG! Guwa turut prihatin."

"Makasih udah peduli."

"Btw, udah dapat tempat baru?"

Kusmin menggeleng. 

Iblis di depannya terdiam. 

Sedang angin sendalu dari timur sibuk mempermainkan rambut mereka. Ya, begitulah siang itu. Sebuah fenomena kekinian yang kian menuju kehancuran. Area yang sebenarnya subur akan segera ditelan keserakahan manusia-manusia rakus. 

***

Sunday, April 26, 2026

Presiden Cerdas Punya Skala Prioritas

Ilustrasi: Pixabay

Menjalani kehidupan pastilah tidak pukul rata. Pasalnya, dalam realitas nyata terdapat beragam fakta. Seorang presiden yang cerdas harus mampu mendahulukan fakta tertentu, barulah ke fakta-fakta lainnya. 

Sebutlah fakta rumah-rumah warga yang hancur akibat banjir bandang dan tanah longsor, tentu lebih didahulukan penanganannya daripada memberikan makanan gratis kepada karyawan pabrik, misalnya. Begitu pula dengan fakta penting lainnya. Artinya, seorang presiden idealnya mengedepankan skala prioritas. 

Jangan sampai fakta yang sebenarnya tidak mendesak sekali malah didahulukan daripada yang lebih urgen. Jika ini yang terjadi, maka tinggal tunggu negara yang dipimpinnya akan segera bubar. 

Rakyat pasti mengidamkan-idamkan dipimipin seorang presiden yang cerdas. Ya, cerdas dalam hal intelektual, emosional, spritual, sosial, dan cerdas dalam hal-hal lainnya. Kembali ke contoh fakta di atas terkait banjir dan tanah longsor. Untuk terwujudnya sikap mendahulukan penanganan bencana alam, diperlukan kecerdasan-kecerdasan itu. Bagaimana mungkin seorang presiden akan berempati kepada para korban kalau kecerdasan sosialnya sangat rendah? Yang ada, presiden tersebut tidak peduli karena dianggapnya sama sekali tidak menguntungkan dirinya secara personal. Biasanya presiden seperti ini hanya senang dengan orang-orang kaya yang memiliki banyak uang, rupawan, berkuasa, dan memiliki kelebihan-kelebihan lainnya. Dengan demikian, ia berusaha untuk dapat turut serta menikmati berbagai kelebihan itu. Terlebih jika mereka memujinya. 

Nah, bagian terakhir di atas dapat berakibat fatal. Sebab, agar medapatkan pujian, dirinya pasti akan menggunakan uang negara untuk hal-hal yang bombastis. Contohnya memberikan makan gratis kepada karyawan pabrik, mendirikan unit-unit usaha di kota-kota, melakuan banyak kunjungan di negara-negara maju, dan sebagainya. Semuanya menguras anggaran belanja negata yang mempercepat kehancuran dan bubarnya negara yang dipimpinnya. 


Saturday, April 25, 2026

Korupsi Itu Budaya, Tidak Ada Hukumannya

 

Ilustrasi: Pixabay

Tak ada rotan akar pun jadi. Tak bisa korupsi besar-besaran, kecil-kecilan pun pasti. Terpenting bisa korupsi. Sebab, korupsi adalah budaya yang mengakar sejak dulu kala. 

Budaya, selalu baik di mata pelakunya, termasuk korupsi bagi koruptor. Kalau di luar dari komunitas mereka, orang-orang pasti menyebutnya sebagai bencana. Ya, bisa dikatakan ruang budaya korupsi tidaklah mencakup semua orang, meskipun tidak terbatas negara. Budaya ini lintas segalanya di dunia global. Artinya, jika dalam jiwa pelakunya terus membudayakannya, maka korupsi pasti akan terus ada. 

Budaya korupsi tidak memandang gaji dan apa pun juga. Orang-orang yang bergaji tinggi, misalnya, tetap saja melakukan korupsi selama dirinya berbudaya korupsi. Contohnya? Banyak kasus korupsi di Indonesia yang pelakunya merupakan pejabat. 

Dan, yang namanya budaya, tentu saja tidak ada hukumannya. Sesama pelaku budaya ini sudah dipastikan akan saling melindungi. Sebutlah misalnya, hakimnya berbudaya korupsi, para terdakwa korupsi pasti tidak mendapatkan hukuman. Karena mereka hiidup di negara umum, dibuatlah hukuman formalitas. Bisa dua tahun, tiga tahun, bisa juga lebih tinggi lagi, tapi tidak terlalu tinggi. Dalam pelaksanaannya, narapidana kasus korupsi tidak menempati sel, melainkan bebas diam-diam. 

Wow! Begitulah budaya korupsi! 


MBG Bukti Rakyat Indonesia Super Miskin?

Ilustrasi: Pixabay

Orang super miskin tak punya banyak uang. Jangankan beli barang-barang sekunder yang bekas, ngasih makan anak saja tidak mampu. Itulah sebabnya, anak-anak orang super miskin dikasih makan orang-orang berduit atau oleh pemerintah. 

Agaknya gambaran singkat orang-orang super miskin ya seperti itu. Benar, persis di Indonesia. Anak-anak sekolah dikasih menu makan bergizi gratis (MBG). Ya, GRATIS. 

Kata "gratis" membuktikan bahwa seluruh anak sekolah di negeri ini adalah anak orang-orang super miskin. Mereka kelaparan. Mereka tidak mampu membeli makanan. Mereka sekarat. Mereka sangat memperihatinkan. TRAGIS! 

Pertanyaannya, apakah benar demikian? 

Tentu saja tidak. Mereka anak-anak orang mampu. Buktinya, mereka mampu membayar biaya sekolah. Ingat! Sekolah tidak gratis. Sekolah itu berbayar. Bahkan, untuk bisa terus belajar di sekolah, para siswa dipungut sumbangan sana-sini yang memberatkan pihak siswa. 

Lantas, apakah MBG salah? Tidak tepat sasaran? Banyak pihak mengatakan lebih baik dikembalikan seperti dulu, yakni beasiswa kurang mampu. Bagi anak-anak yang memang orang tua mereka berpenghasilan kurang, maka mereka layak mendapatkan uang bantuan. 

Sebagian pihak yang lain berpendapat idealnya pemerintah membantu para orang tua dalam hal pekerjaan. Sehingga, mampu menyekolahkan dan memberikan makanan bergizi yang sesungguhnya. Zaman era Orde Baru, misalnya, pemerintah saat itu membantu masyarakat dalam hal pekerjaan seperti program transmigrasi. 

Intinya, banyak sekali pihak yang menghendaki agar dana MBG dialihkan kepada upaya pemerintah membantu masyarakat termasuk para orang tua siswa agar bisa mandiri secara ekonomi. 


Friday, April 24, 2026

Jemaah Sumbang Barang Ketika Kas Masjid Dikelola Pemerintah

Ilustrasi: Pixabay

Ini kejadian seribu tahun lalu di sebuah negara terkorup sedunia. Saking rakusnya, pemerintah negara tersebut membuatkan rekening tunggal di bank untuk setiap masjid secara keseluruhan. Orang-orang tamak itu tergiur dengan uang infak yang jumlahnya sangat fantastis. 

Mengetahui akal busuk pemerintah tersebut, seluruh jamaah langsung tidak setuju. Alhasil, celengan diganti dengan ruangan besar. Para jemaah ada yang memberikan paku, semen, dan barang lainnya ketika masjid mereka akan ada perbaikan. Bahkan, mereka pula yang menyediakan para pekerjanya.  

Untuk keperluan lain pun, seperti menu berbuka puasa bersama, pihak masjid langsung menerima makanan dan minuman siap saji dari para jemaah. 

Dengan kecerdasan para jemaah di sana, pemerintah Negara Republik Sen La Nah akhirnya gigit jari alias mati kutu. Selang beberapa tahun kemudian, negara berlambangkan piring cokelat itu bangkrut dan tutup permanen. 

Begitulah jadinya jika pemerintahan dipegang oleh orang-orang yang penuh dosa. Mereka tentu tidak akan berhenti berbuat dosa, kecuali tobat tidak lagi menjadi ahli dosa. Dan, idealnya rakyat wajib cerdas agar tidak dikadalin mereka. 

Sekadar informasi, setelah tutup permanen, rakyat bersatu padu membukanya kembali dengan pemerintah yang baru. 

(Cerita di atas hanya fiksi. Jika ada kesamaan kasus, itu hal biasa. Tidak usah diributkan) 

Thursday, April 23, 2026

Pajak, Pajak, Pajak, Jalan-Jalan, dan....

Sumber Foto: Pixabay

Di sebuah negeri, tepatnya di sebelah Gunung Pohinta, hiduplah seorang raja. Namanya Sau Kuarah Ansi. Dirinya naik tahta sejak usia muda. Ya, sepeninggal ayahnya yang tewas saat hendak mengusir sekawanan gajah di lereng gunung, dirinya dinobatkan sebagai raja di sana. 

Kerajaan yang sebenarnya kaya raya akan sumber alamnya itu sudah lama bernasib sial. Karena kalah perang melawan kerajaan lain, maka kerajaan yang bernama Kang Mendung itu terpaksa miskin. Benar, terpaksa. Bagaimana tidak? Di sana kaya emas, nikel, ikan, dan sebagainya, tapi dikuasai kerajaan asing. 

Sumber daya alamnya yang melimpah ruah menjadi tak berarti karena keadaan tersebut. Untuk mencukupi kehidupan di sana, pajak yang beragam dikenakan kepada seluruh rakyat. Mulai pajak penghasilan, pajak bumi dan bangunan, pajak hadiah, pajak pembelian, pajak penjualan, hingga pajak warisan. 

Selain itu, utang luar negeri menjadi santapan umum di kerajaan ini. Sedangkan berbagai usaha milik istana kurang dioptimalkan. Usaha -usaha yang meliputi pabrik semen, maskapai penerbangan, pariwisata, dan banyak lagi selalu merugi. 

Nah, yang anehnya, sang raja tidak peduli dengan kondisi perekonomian yang kian terpuruk di sana. Meski defisit anggaran, Raja Sau Kuarah Ansi hidup dengan boros. Misalnya, dirinya sangat senang melakukan lawatan demi lawatan di kerajaan-kerajaan lain. Tentu saja hal itui menelan biaya yang tidak sedikit dan yang menanggungnya adalah rakyat melalui pajak. 

Rakyatnya pun semakin tidak senang kepadanya. Sebagian kaum terpelajar terus mendorong adanya upaya mengganti dirinya dengan pangeran yang lain. 

Untuk mengamankan posisinya sebagai raja, maka ia melakukan pembungkaman terhadap para pengamat pemerintahannya. Kebebasan berpendapat dan lainnya yang dianggap dapat membahayakan kian dibatasi. 

Alhasil, suasana kehidupan, termasuk di lapisan bawah semakin tidak nyaman. Mereka seakan hidup dalam penjara yang sangat besar. Dan, harapan demi harapan dari hari ke hari terasa kian jauh untuk dapat digapai. 

Dengan kenyataan pahit seperti itulah, rakyat bersatu untuk bangkit. Bukan lagi sekadar kata-kata, melainkan sudah di level aksi nyata di lapangan. Siang malam mereka terus beraksi hingga pada suatu hari sang raja berhasil mereka lengserkan dari singgasananya. 


Indonesia Niru, Ditolak Malaysia dan Singapura

Ilustrasi: Pixabay

Hidup itu kalau bisa jangan suka niru. Berkreasilah meski sedikit. Dan, jika pun terpaksa niru, ya kreasikan agar tidak sama mutlak dengan yang ditiru. 

Agaknya benar saja kata-kata di atas. Hal tersebut berlaku dalam tataran terendah hingga tertinggi. Dalam dunia internasional, saat ini santer kata "tarif". Kata itu booming setelah Iran berencana memungut tarif di Selat Hormuz. 

Nah, pengenaan tarif inilah yang akan ditiru Indonesia di Selat Malaka. Akan tetapi, secara tegas Malaysia dan Singapura menolaknya. Pihak Malaysia melalui menteri luar (menlu) negerinya, Mohamad bin Hasan, mengatakan bahwa Selat Malaka adalah tanggung jawab bersama empat negara pantai. Tidak bisa dilakukan secara sepihak olah satu negara saja. Semua keputusan diambil bersama. 

Sejurus dengan Malaysia, Menlu Singapura--Vivian Balakrishnan--menyatakan bahwa prinsip kebebasan navigasi adalah hal mutlak. Itulah sebabnya, mereka tidak akan mendukung upaya pembatasan atau pungutan di Selat Malaka. 

Dengan demikian, langkah Indonesia untuk mendapatkan cuan dari Selat Malaka pun gagal. Semoga Pemerintah Indonesia mendapatkan ide lain guna meningkatkan pendapat negara. Sehingga, pajak rakyat dapat diperkecil agar kemakmuran yang berkeadilan sosial bisa diwujudkan.