![]() |
| Ilustrasi: Pixabay |
Tiga puluh ribu tahun lalu pernah berdiri sebuah negara di tanah tandus. Udara kering sering menjadi santapan orang-orang di sana. Hal ini tidak hanya membuat mereka kerap merasakan tidak enak di dada, tetapi juga menyebabkan pikiran mereka kacau. Ya, betapa tidak? Mereka sangat susah bercocok tanam.
Untuk bisa mendapatkan penghasilan, masyarakat di sana menggunakan sistem hidroponik Dengan cairan bernutrisi, meski tanpa tanah sekali pun, mereka tetap bisa panen dan mendapat uang secukupnya.
Meski begitu, masalah tidak berhenti sampai di situ. Pemerintah dan parlemen di negara tersebut sangat boros. Orang-orang politik biadab itu hidup berfoya-foya.
Mereka menghambur-hamburkan anggaran belanja negara seenak hati. Dan, ketika utang negara meningkat, mereka menaikkan pajak rakyat.
Padahal, perusahaan-perusahaan milik negara sudah ada di sana. Namun, keuntungannya mereka korupsi. Agar tidak ketahuan, maka dikatakanlah semua perusahaan itu rugi dan rugi.
Alhasil, rakyat tercekik. Pajak ada di mana-mana. Saat rakyat panen, uang mereka dikenai pajak. Ketika rakyat belanja, harga barang menjadi tinggi karena kena pajak. Semua sektor kehidupan dikenai pajak.
Suatu ketika rakyat di sana sudah tidak kuat menahan diri. Dengan segala upaya, mereka bahu-membahu merebut kemerdekaan dari tangan para elit politik yang pemalas dan suka hura-Hura itu. Setelah berupaya selama tiga pekan, akhirnya mereka berhasil.
Tak mau menunggu lama, rakyat di negara tersebut membangun pemerintahan baru. (Cerpen fiksi)









0 comments:
Post a Comment