Wednesday, December 4, 2019

Rugilah Manusia jika Tidak seperti Nasi Goreng


Ada cerita lama yang masih saya ingat. Suatu waktu, seorang teman berkisah tentang lezatnya nasi goreng. Bukan hanya kepada saya kisah itu ia tuturkan. Kami saat itu ada sekitar lima orang.

Kisahnya langsung ditanggapi teman kami yang lain dengan sebuah pertanyaan, "Mengapa ya, kalau aku buat nasi goreng, hasilnya keras?"

Saya dan yang lainnya pun balik bertanya tentang cara memasaknya. Dan, jawaban darinya membuat kami tertawa terbahak-bahak. Betapa tidak? Ternyata yang ia goreng bukan nasi, melainkan beras.

Itu adalah kisah masa lalu. Masa remaja kami. Meskipun sudah lama, nasi goreng tetaplah "hangat" hingga sekarang.

Benar, yang biasanya terbuat dari nasi sisa yang masih ada pada pagi hari, menjadi hangat dan lezat setelah digoreng. Tentunya digoreng bersama racikan bumbu yang pas takarannya.

Nah, dari lezatnya nasi goreng, pernahkah terpikir bahwa unsur-unsur di dalamnya bersatu dalam keserasian dan kepaduan yang kukuh?

Ada nasi, bawang putih, garam, minyak, dan lainnya. Bahkan, dalam kandungan nasi terdapat unsur air. Bayangkan, air dan minyak saja bisa bersatu atau bergabung dalam hangatnya nasi goreng. Ini luar biasa, 'kan?

Bagitu pula manusia. Pastinya saya, Anda, dan manusia lainnya tidak bisa hidup sendiri terus-menerus. Ada kalanya kita bersosial untuk memenuhi kebutuhan masing-masing. Dengan kata lain, ada ketergantungan antara manusia satu dan lainnya. Dalam hal ini berlaku rasa ingin bertemu, terutama yang sudah lama terpisah jarak bermil-mil jauhnya.

Itulah sebabnya, menjadi seperti nasi goreng sebenarnya adalah perwujudan manusia sebagai makhluk sosial yang ideal, baik dalam beragama, bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Ada rasa simpati dan empati yang kuat dan besar di dalamnya.

Lalu, bagaimana jika sebaliknya?


0 comments: