Saturday, December 7, 2019

Yuk, Mengenal Presiden Penyair Indonesia!

Sutardji Calzoum Bachri - Youtube

Bukan hanya di dunia politik kita mengenal istilah presiden. Di dunia sastra pun demikian adanya. Ialah presiden penyair Indonesia.

Bagi kaum sastrawan, istilah itu sudah tidak asing lagi. Tetapi, bagi masyarakat umum, agaknya masih belum familier dengan penyebutan presiden penyair tersebut.

Tidak mengherankan memang jika benar seperti itu. Adalah hal yang wajar mengingat pengenalan dunia sastra secara utuh belum terjadi di dunia pendidikan kita. Hanya beberapa nama sastrawan yang sering disebut dalam buku teks pelajaran bahasa Indonesia di sekolah, misalnya Taufiq Ismail dan Chairil Anwar. Selebihnya, entah kapan?

Kembali ke istilah di atas, satu orang yang menduduki "jabatan" Presiden Penyair Indonesia bernama Sutardji Calzoum Bachri (SCB). Sebenarnya ini hanyalah julukan kepadanya. Artinya, jauh berbeda daripada presiden politik.

Nah, SCB sendiri merupakan salah seorang pelopor penyair angkatan 1970-an, lho.

Pria ini dilahirkan pada 24 Juni 1941 di Rengat, Indragiri Hulu, Riau. Nah, pada tahun 1974 dan bertepatan dengan musim panas ia diundang mengikuti International Poetry Reading di Rotterdam, Belanda.

Tepat bulan Oktober 1974--April 1975 dirinya mengikuti International Writing Program di Universitas Lowa, Lowa City, USA.

Presiden penyair Indonesia ini juga pernah diundang ke Pertemuan Internasional Para Penyair di Baghdad, Irak. Diundang pula oleh Dato Anwar Ibrahim--saat menjabat Menteri Keuangan Malaysia--untuk membacakan puisi di Departemen Keuangan Malaysia.

Selain itu, pada tahun 1997 Tardji (panggilan akrab SCB) memenuhi undangan untuk membacakan puisi di Festival Puisi Internasional Medellin, Columbia.

Adapun puisi-puisinya dimuat dalam berbagai media, baik media cetak semisal Majalah Horison (majalah sastra paling top di kalangan sastrawan saat itu), maupun buku.

Dalam media buku, puisi-puisinya dimuat dalam berbagai antologi, yakni tunggal dan bersama. Khusus yang bersama, sebut saja Arjuna in Meditation (Calcutta, India, 1976), Writing from the World (USA), Westerly Review (Australia), Dichters in Rotterdam (Rotterdamse Kunststichting, 1975), Ik Wil nog dulzendjaar leven, negen moderne Indonesische dichter (1979), dan Journal of Southeast Asian Literature 36 dan 37 (1997).

Sementara antologi puisi tunggalnya ialah O, Amuk (1972) yang mendapatkan Hadiah Puisi Dewan Kesenian Jakarta pada tahun 1976/1977, Kapak (1979), Atau Ngit Cari Agar (2008), Kucing (1973), Aku Datang Padamu, Perjalanan Kubur David Copperfield, dan Realities Tanah Air.

Nah, pada tahun 1981, antologi puisinya O, Amuk, dan Kapak digabung dan diterbitkan dengan judul buku O, Amuk, Kapak.

Jika ditanya penghargaan yang pernah ia terima, antara lain adalah, Anugerah Seni Dewan Kesenian Jakarta (1977), Sea Write Award dari Kerajaan Thailand (1979), Anugerah Seni Pemerintah RI (1993), Penghargaan Sastra Chairil Anwar (1998), Sastrawan Perdana oleh Pemda Riau (2008), dan Bakrie Award (2008).

Di usianya yang sudah lebih daripada 78 tahun ini, ia masih aktif dalam bersastra. Orang-orang pun masih setia menyebutnya Presiden Penyair Indonesia.


Dari berbagai sumber.

Friday, December 6, 2019

Jasmerah Kebudayaan Islam


Jasmerah atau jangan sekali-kali meninggalkan sejarah lekat sekali dengan Sang Proklamator kemerdekaan republik ini.

Semboyan itu seakan penyemangat dalam menyongsong masa depan yang makmur sentosa. Begitulah setidaknya yang menjadi cita-cita para pejuang waktu dulu.

Bicara dulu, tentu terbentang rentetan sejarah panjang yang kait-mengait. Dan, membahas perjuangan merebut kemerdekaan Indonesia tak lepas dari jasa umat Islam. Sebab, suka tidak suka, mau tidak mau, umat Islam berkontribusi sangat besar dalam mengusir penjajah masa lalu.

Nah, terkait umat Islam, pastinya terhubung langsung dengan sejarah kebudayaan Islam itu sendiri.

Kalau memperbincangkan kebudayaan Islam sebenarnya kita sedang bergumul dengan segala yang dihasilkan oleh kekuatan akal manusia yang beragama Islam. Ya, dengan kata lain, pergerakannya berada di lingkup muamalah.

Itulah sebabnya, di dalam kebudayaan Islam tercakup bidang sosial, ekonomi, ilmu pengetahuan, politik, hukum dan lainnya yang berkaitan dengan hubungan antarmanusia. Sifatnya pun selalu mengalami perkembangan, ada perubahan-perubahan menuju kemajuan.

Dalam hal ini, para ahli sejarah telah membagi sejarah kebudayaan Islam dalam beberapa periode. Berikut adalah periodisasi tersebut.

1. Zaman ideal. Zaman ini meletakkan dasar-dasar pertama kebudayaan Islam. Masanya sepanjang 40 tahun. Termasuk di dalamnya adalah masa Nabi Muhammad saw, yakni sejak hijrah ke Madinah hingga beliau wafat (selama 10 tahun). Kemudian diteruskan ke masa Khulafaur Rasyidin selama 30 tahun.

2. Zaman perkembangan. Masa berkembangnya kebudayaan Islam mencakup tiga benua, yakni Asia, Afrika, dan Eropa. Adapun masa ini terjadi pada masa Amawiyah yang pusatnya di Damaskus selama 90 tahun.

3. Zaman keemasan Islam. Masa ini kebudayaan Islam mencapai puncaknya. Ada dua masa di dalamnya, yakni masa Abbasiyah I yang pusatnya di Baghdad selama seratus tahun dengan para khalifahnya yang berkuasa penuh, berpikir maju, dan pencinta Ilmu. Masa kedua adalah Abbasiyah II.  Masa kedua ini setiap ibukota provinsi berlomba memajukan lapangan kebudayaan, khususnya ilmu pengetahuan dalam rangka menyaingi Baghdad.

4. Zaman perluasan wilayah.

5. Zaman kemunduran. Masa ini dimulai dengan kegemilangan Otsmaniyah, Syafawi, dan Mughal. Lalu diakhiri dengan penjajahan hampir seluruh dunia Islam oleh Eropa Barat.

Lantas, apa yang dapat kita pelajari dari kebudayaan Islam ini?

Kalau kita perhatikan, Islam dengan segala kebudayaannya terus melesat dan berhasil mencapai masa keemasannya. Saat jaya itulah lahir persatuan yang kuat dari berbagai bangsa di bawah naungan Islam. Ilmu pengetahuan pun berkembang dengan pesatnya. Sebutlah ada nama besar Al-Fazari sebagai astronom Islam yang pertama kali menyusun astrolobe atau alat untuk mengukur tinggi bintang.

Kemudian berangsur mengalami kemunduran yang diawali dengan persaingan antarprovinsi. Dan,  lama-kelamaan kalah dan terjajah.

Hal menarik di sini ialah bahwa kemajuan didapat melalui persatuan umat Islam yang kukuh. Sebaliknya, dengan tercerai-berai, maka hancurlah bangunan yang semula kukuh tersebut.

Pertanyaannya, apakah umat Islam mampu bersatu kembali untuk kejayaan Islam dengan budayanya yang tinggi (peradaban Islam)  seperti dulu, bahkan lebih maju lagi? Jawabnya adalah akan. Sementara tahun pastinya kita belumlah tahu.


Thursday, December 5, 2019

Vagabond, Pemerintah yang Membunuh Rakyat


Judulnya tidak menyeramkan, 'kan? Pemerintah membunuh rakyat. Begitulah yang dikisahkan dalam drama Korea Selatan (drakorsel/drakor) berjudul Vagabond.

Drama ini telah selesai tayang pada 23 November 2019 lalu. Dengan didukung akting yang keren dari para pemerannya, seperti Lee Seung Gi dan Bae Suzy, 16 episodenya yang mulai tayang 20 September itu sukses besar.

Ya, skenarionya yang ditulis Jang Young Cheol dan Jung Kyung Soon benar-benar hidup dalam drakor ini.

Mulai dari pembuka yang menarik, penonton dibawa menanjak dengan tragedi kecelakaan sebuah pesawat hingga menewaskan lebih daripada 200 warga sipil.

Pesawat komersial yang nahas itu berangkat dari Korea Selatan menuju Maroko. Keluarga korban pun begitu meluapkan emosi mereka. Dan, seorang di antaranya, yakni paman salah satu korban melihat pria yang terekam dalam kamera keponakannya di pesawat (sebelum berangkat) ternyata masih hidup di Maroko.

Sejak itulah sang paman yang bernama Cha Dal Gun (Lee Seung Gi) yakin bahwa pesawat itu jatuh karena ulah teroris. Ia pun bertekad membongkar kejahatan tersebut.

Dalam usahanya ini, dirinya dibantu seorang anggota National Intellegence Servicenya Korea (Badan Intelejen Nasional Korea Selatan) bernama Go Hae Ri (Bae Suzy).

Perjuangan mereka sangat berat. Nyawa adalah taruhannya. Sebab, yang mereka hadapi bukan orang-orang sembarangan. Ada konspirasi gelap yang melibatkan pihak-pihak berpengaruh, termasuk Presiden Korea Selatan sendiri.

Itulah sebabnya, semua perangkat negara dikerahkan untuk membunuh siapa saja yang berusaha mengungkap kejahatan di balik jatuhnya pesawat tersebut.

Bahkan, sebagian anggota intelejen negara yang melindungi saksi dan keluarga korban pun menjadi target pembunuhan mereka atas nama negara. Dan siapa saja yang tidak mau menaati perintah presiden dianggap pengkhianat negara.

Lalu, pelajaran apa yang dapat kita petik dari drakor menegangkan ini? Hal yang paling mencolok ialah pemerintah dan rakyat. Bagaimana pemerintah bersikap terhadap rakyatnya jelas menjadi sorotan utamanya.

Sebagai pemerintah yang memegang amanah dan digaji dari pajak rakyat, tentu sudah berkewajiban mensejahterakan rakyatnya. Bukan seperti yang dikisahkan dalam drama Vagabond ini.

Mungkin, Anda pun dapat memetik hal lain jika sudah menontonnya hingga selesai.


Wednesday, December 4, 2019

Rugilah Manusia jika Tidak seperti Nasi Goreng


Ada cerita lama yang masih saya ingat. Suatu waktu, seorang teman berkisah tentang lezatnya nasi goreng. Bukan hanya kepada saya kisah itu ia tuturkan. Kami saat itu ada sekitar lima orang.

Kisahnya langsung ditanggapi teman kami yang lain dengan sebuah pertanyaan, "Mengapa ya, kalau aku buat nasi goreng, hasilnya keras?"

Saya dan yang lainnya pun balik bertanya tentang cara memasaknya. Dan, jawaban darinya membuat kami tertawa terbahak-bahak. Betapa tidak? Ternyata yang ia goreng bukan nasi, melainkan beras.

Itu adalah kisah masa lalu. Masa remaja kami. Meskipun sudah lama, nasi goreng tetaplah "hangat" hingga sekarang.

Benar, yang biasanya terbuat dari nasi sisa yang masih ada pada pagi hari, menjadi hangat dan lezat setelah digoreng. Tentunya digoreng bersama racikan bumbu yang pas takarannya.

Nah, dari lezatnya nasi goreng, pernahkah terpikir bahwa unsur-unsur di dalamnya bersatu dalam keserasian dan kepaduan yang kukuh?

Ada nasi, bawang putih, garam, minyak, dan lainnya. Bahkan, dalam kandungan nasi terdapat unsur air. Bayangkan, air dan minyak saja bisa bersatu atau bergabung dalam hangatnya nasi goreng. Ini luar biasa, 'kan?

Bagitu pula manusia. Pastinya saya, Anda, dan manusia lainnya tidak bisa hidup sendiri terus-menerus. Ada kalanya kita bersosial untuk memenuhi kebutuhan masing-masing. Dengan kata lain, ada ketergantungan antara manusia satu dan lainnya. Dalam hal ini berlaku rasa ingin bertemu, terutama yang sudah lama terpisah jarak bermil-mil jauhnya.

Itulah sebabnya, menjadi seperti nasi goreng sebenarnya adalah perwujudan manusia sebagai makhluk sosial yang ideal, baik dalam beragama, bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Ada rasa simpati dan empati yang kuat dan besar di dalamnya.

Lalu, bagaimana jika sebaliknya?


Tuesday, December 3, 2019

Teroris dan Radikal dalam "Pelem Aktion"


Begitulah yang saya ingat sewaktu kecil. Kata "film" dan "action" dilafalkan /pelem aktion/ dengan sangat lugunya.

Benar, sewaktu saya kecil sering nonton film laga, terutama produk luar negeri. Bukan hanya betapa indahnya adegan beladiri yang ditampilkan, tetapi juga kelicikan tokoh-tokoh antagonisnya.

Dalam kisah penyanderaan, misalnya, betapa tidak kesatrianya para teroris itu. Padahal mereka berbadan dan berotot besar. Bahkan, semuanya bertato tanda kejantanan dengan dilengkapi senjata api canggih.

Begitu pula dengan kelicikan para penganut radikalisme dalam upaya merebut pemerintahan yang sah. Mereka menggunakan segala cara termasuk pembunuhan besar-besaran untuk mencapai tujuan semu.

Dan, dari semua film laga yang saya tonton itu para teroris dan penganut radikalisme tidak ada yang berjanggut. Perempuannya juga tidak bercadar. Di jidat mereka juga tidak ada tanda hitam sebagai tanda bekas sujud. Selain itu, mereka tidak ada yang bercelana cingkrang.

Nah yang paling penting, mereka juga sama sekali tidak menggunakan atribut keagamaan mana pun. Yang tampak pada mereka adalah kejahatan dan kelicikan luar biasa.

Mungkin banyak orang mengatakan, "Itu, 'kan dalam film?"

Ya, itu ada dalam film. Akan tetapi, jangan lupa bahwa film atau naskah-naskah cerita sebenarnya merupakan pengejawantahan kembali kehidupan nyata.

Kebiasaan manusia seperti cara berpakaian, jenis makanan, dan lainnya dalam kehidupan sehari-hari tidak diganti dengan yang lain saat ada dalam film. Artinya, ada latar sosial, budaya, selain latar tempat dan waktu yang dipertontonkan kepada publik lewat film.

Lalu, bagaimana dengan sekarang?


Monday, December 2, 2019

Reuni 212, Apa yang Bisa Dituliskan? Lalu Maknanya?


Apa yang bisa dituliskan dari acara itu? Agaknya, pertanyaan tersebut selalu mengintai saya jika dihadapkan pada acara yang begitu viral di media sosial tersebut.

Ya, Reuni 212. Lebih tepatnya yang ketiga kalinya. Acaranya sendiri diadakan berturut-turut setiap tahun dan berangkat dari Aksi Damai 212 pada 2016 lalu.

Meskipun tidak heboh di televisi, reuni ini memang sangat ramai di jagat media sosial hingga kini. Di medsos, misalnya, saya melihat foto-foto peserta reuni ini memutihkan jalan-jalan sekitar Monas.

Sebelum itu, ada juga foto-foto yang memperlihatkan mereka sholat Tahajud dan Shubuh berjamaah. Ada jug zikir kebangsaan dan doa bersama yang dilangitkan.

Beberapa waktu saya berpikir. Apa makna reuni aksi damai mereka itu? Jika diambil kata "memutihkan" bisa jadi berarti buih di lautan. Konon, di akhir zaman umat Islam dikabarkan memang banyak jumlahnya, tapi seperti buih di lautan yang jika diterpa badai akan berberaian tak keruan.

Tapi, apa benar seperti itu realitasnya?

Saya pun berpikir ulang. Lalu teringatlah di otak kiri saya tentang kisah Kiai Haji Ahmad Dahlan terkait pendirian Muhammadiyah. Ada satu ayat dalam Alquran yang sebenarnya menjadi faktor pendorong beliau mendirikan organisasi besar tersebut. Benar, Surah Ali ‘Imran Ayat 104.

Terjemahan ayat itu adalah, "Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung."

Tampaknya, bagian terakhir di atas tadi lah yang paling ideal menjadi makna aksi damai 212 dan reuni-reuninya tersebut.

Itulah sebabnya mengapa aksi ini berada di luar lingkaran politik, yakni ditandai dengan tetap diadakan walaupun saat ini tidak sedang dalam masa kampanye politik apa pun.

Bahkan, sejak pertama, aksi diadakan untuk menegakkan keadilan atas kasus penistaan agama Islam oleh Ahok. Ini jelas bukan unsur politik, melainkan murni menyuruh kepada yang Ma'ruf dan mencegah dari yang munkar.

Dan, dari makna itu pulalah saya paham mengapa tidak semua orang turun ke jalan sebagai peserta aksi damai 212. Seandainya semuanya, maka tentu tidak ada yang diserukan, 'kan? Dengan kata lain, ada segolongan penyeru dan ada lagi pihak yang diseru ke arah kebenaran dan terhindar dari keburukan.

Wah, tak terasa sudah lumayan panjang juga saya menulis artikel ini rupanya. Hmm, rasa-rasanya sudah ingin sekali menikmati seduhan kopi yang nikmat, tapi saya baru nelan obat. Daripada berefek buruk, ya sudah, met istirahat saja.

Sunday, December 1, 2019

Mas, Toilet di Mana?


Pagi tadi, saya duduk di dekat sebuah musala. Seorang pria terlihat celingak-celinguk di sekitarnya. Tak lama kemudian ia bertanya kepada saya, "Mas, toilet di mana?"

Tanpa pikir panjang, saya menunjuk ke arah sebuah pintu yang tertutup rapat. Benar, kamar berukuran kecil di baliknya memang sebuah toilet atau jamban.

Pria muda itu pun bergegas menuju ke sana, membuka pintunya, masuk dengan perlahan, lalu menutupnya kembali dari dalam.

Mungkin peristiwa tersebut adalah hal yang biasa saja. Wajar terjadi. Tapi, terpikirkah oleh Anda mengapa pemuda itu sempat bertanya tentang keberadaan toilet kepada saya? Padahal sebenarnya ia telah melewatinya.

Di sinilah pentingnya bahasa. Ya, meski hanya sebuah kata sekalipun.

Bayangkan jika di permukaan pintu kamar kecil tadi ditulis satu kata saja, misalnya "Toilet" tentu siapa pun, kecuali yang buta huruf latin, tidak perlu bertanya, "Toilet di mana?"

Lalu, mengapa tidak ada sama sekali tulisan petunjuk terkait dengan fungsi kamar kecil itu?

Nah, khusus pertanyaan terakhir tadi, belum diketahui secara pasti. Apakah karena pengurusnya lupa? Mereka masih bingung ditulis menggunakan cat atau yang lainnya? Entahlah? Agaknya, apa pun alasannya semoga segera mereka atasi dengan baik.