Thursday, October 31, 2019

Kata-Kata pun Bisa Viral


Tidak hanya manusia yang bisa viral. Kata-kata juga dapat seperti itu. Tidak percaya?

Perhatikan saja di jagat dunia maya. Sebut saja media sosial. Kata-kata dengan cepat bisa menjadi viral. Satu kata misalnya, bisa bersifat menyebar dengan cepat dan luas.

Nah, kata-kata tersebut biasanya tidak secara sekaligus viral. Akan tetapi, satu demi satu.

Contoh, ada kata "alay" yang viral di media sosial. Lalu muncul kata "lebay". Ada lagi "baper".

Dan belakangan yang sedang menyebar cepat dan luas adalah kata "radikal".

Kata terakhir ini sangat viral di dunia maya. Bahkan, pihak pemerintah di negara kita juga turut adil dalam memviralkannya.

Waw, luar biasa.


Wednesday, October 30, 2019

Pengorbanan untuk Mencapai Tujuan


Cita-cita. Mungkin kata ulang itulah yang secara kasat mata identik dengan tujuan hidup manusia. Terutama saat masih kecil. Biasanya para orang dewasa, semisal guru di sekolah, bertanya apa cita-cita muridnya. Ada yang menjawab ingin jadi dokter, guru, dan sebagainya.

Tapi, tentunya cita-cita bisa juga dipahami bukan sebagai tujuan, melainkan sarana untuk mewujudkan tujuan. Contohnya, seorang menjadi dokter untuk mengobati orang sakit. Atau, seorang menjadi guru untuk mencerdaskan kehidupan bangsanya.

Baiklah, kita tinggalkan saja soal cita-cita. Fokus kita pada tujuan. Apa tujuan Anda?

Suatu hari yang terik, saya pernah masuk ke sebuah gua. Pemandangannya sangat eksotis. Dan, dari segala yang ada di sana, ada satu bagian terpenting menurut saya. Apakah itu? Sebuah lubang.

Ya, lubang. Mungkin secara umum itu hal paling wajar. Namanya juga gua pastilah berlubang. Jika tak berlubang, mungkin namanya batu atau paku. Meski itu lubang, namun saya tidak melewatinya. Mengapa?

Itu pertanyaan menariknya. Sebab, lubang itu tinggi sekali. Tepatnya ada di puncak gua tersebut. Jadi kalau ibarat rumah, itu adalah lubang pada atap atau sebutlah "kebocoran".

Nah, ketika matahari bebas dari hambatan awan, cahayanya masuk dari lubang itu dan menyinari isi gua. Waw! Begitu indah. Gadis cantik pun kalah olehnya.

Keindahan itulah yang membuat saya berpikir, untuk mewujudkannya diperlukan pengorbanan. Saya membayangkan, hal yang harus dilakukan untuk menghasilkan keindahan itu adalah membuat lubang tersebut. Bayangkan, betapa susahnya jika yang melakukannya manusia. Sangat berat.

Begitulah dalam hidup, diperlukan pengorbanan berat untuk mencapai tujuan. Seseorang tentu tidak secara instan menjadi guru, petani, penulis, dan lainnya. Diperlukan doa dan usaha nyata agar dapat mewujudkan tujuan yang mulia.

Sudahkah Anda mencapainya?

Tuesday, October 29, 2019

Gadis-Gadis Cantik pun Jatuh Hati kepada Mantul


Mungkin sudah puluhan gadis cantik jatuh hati kepada Mantul. Teman-temannya heran mengapa bisa seperti itu. Padahal, dari segi fisik, mohon maaf saja, wajah Mantul di bawah rata-rata. Soal materi? Wah, jauh dari kaya. Jangankan sepeda motor, sepeda genjot saja ia tidak punya.

Alhasil, Baper yang terkenal tampan pun kalah dibuatnya. Begitu pula dengan Santuy dan Lebay yang anak orang kaya juga tak berkutik di hadapan Mantul dalam hal wanita.

Entah apa gerangan yang membuat para gadis cantik seakan takluk di tangan Mantul.

Saking herannya, ketiga temannya itu menanyakan hal tersebut kepada salah seorang gadis yang jatuh hati kepada Mantul.

"Kalian tidak perlu heran! Itu biasa. Wajar, 'kan kalau banyak gadis jatuh kepadanya?" balas Alay yang terkenal dengan kecantikannya itu.

"Bagaimana tidak heran? Mantul, 'kan..."

Belum lagi Baper meneruskan perkataannya, Alay sudah memotongnya, "Tidak tampan dan miskin harta maksudmu?"

Baper mengangguk. Lebay dan Santuy turut mengamininya.

Beberapa waktu mereka saling membisu.

"Jadi begini. Mengapa banyak gadis termasuk aku jatuh hati kepada Mantul? Itu karena, ia mampu berpikir matang."

"Matang?" tanya Santuy penasaran.

Alay mengangguk yakin.

"Bisa kamu jelaskan?" Lebay sedikit memaksa.

Alay mengangguk lagi,  "Aku sebut saja contohnya, soal daun. Mantul mampu menangkap tanda kebesaran Allah swt meski hanya pada selembar daun yang kering. Luar biasa, 'kan?"

Baper, Lebay, dan Santuy terlihat melongo.

Sedang Alay menghela napas sejenak. Lalu melanjutkan perkataannya, "Ya, Mantul menjelaskan kepada kami bahwa meski hanya selembar daun yang kering, tapi manusia tidak bisa membuatnya. Hanya Allah swt yang mampu membuatnya. Bagi kami, ia pria yang cerdas dan dewasa. Ia begitu mengesankan dan keren."

Kali ini ketiga pria itu manggut-manggut di hadapan Alay.

"Sudah mengerti, 'kan mengapa banyak gadis jatuh hati kepada Mantul?" Alay memastikan.

"Ya!" suara ketiganya kompak.

Monday, October 28, 2019

Membaca Sebuah Pohon


Pohon. Apa yang Anda bayangkan tentang kata itu? Tumbuhan berbatang besar dan keras? Pokok kayu? Atau apa?

Apa pun itu, kata ini berbunyi "pohon" yang dituturkan oleh masyarakat bahasa Indonesia.

Nah, di suatu pagi yang hangat, saya pernah menuju ke sebuah pohon besar. Awalnya bukan berniat menujunya, melainkan ke sebuah destinasi wisata. Goa Batu Hapu namanya. Di tempat itulah ada sebuah pohon besar menjulang dan terlihat begitu kukuh.

Jika ia hidup sebagai manusia, mungkin setara dengan Hercules. Sang legenda besar dan ikon kekuatan Bangsa Yunani kuno. Ya, anak Zeus yang mereka agungkan.

Kembali ke pohon besar itu. Agaknya ia berdiri di sana bukan tanpa alasan. Benar, yang pasti keberadaan dirinya tentunya atas kehendak-Nya. Lantas  apa yang dapat kita tangkap?

Sambil menatapnya, seakan saya  sedang ia ajak bicara, "Selamat datang! Aku si Pohon Besar menerima kehadiranmu dengan senang hati.  Sejak lahir aku selalu di tempat ini dan menyambut setiap kedatangan manusia sepertimu."

Begitulah kira-kira jika ia dapat bicara lantang. Artinya, ia tak langsung menjadi besar, tapi ada proses menjadi besar. Sejak tumbuh daun pertama hingga dewasa. Ada kesabaran. Ada usaha. Ada beragam cobaan semisal teriknya matahari. Dan berbagai hal yang dihadapinya. Setelah semua hal tersebut terlewati, menjadilah ia besar seperti itu.

Hidup memang demikian adanya. Selalu berproses. Selalu ada tahapan yang harus kita jalani sebaik mungkin, baik dalam kehidupan individu, maupun dalam hubungannya dengan Allah swt, keluarga, masyarakat, hewan, tumbuhan, dan lain sebagainya.

Sunday, October 27, 2019

Empat Rahasia Sukses Bisnis Gerai Ponsel Khas Santuy


Baper, Lebay, dan Mantul sedang khusyuk mendengarkan perkataan Santuy tentang rahasia sukses menjalankan usaha gerai ponsel.

Tiga rahasia sudah ia paparkan dengan baik dan benar di hadapan teman-temannya itu. Meski demikian, ada satu rahasia lagi yang masih ia sembunyikan.

Ketiga temannya itu pun sangat penasaran.

"Ayolah, Tuy, beri tahu kami rahasia yang keempat. Kami janji tidak akan memberitahukannya kepada yang lain. Iya, 'kan teman-teman?" Baper masih berusaha membujuk Santuy mengatakan rahasia yang keempat.

"Iya, Tuy. Benar yang dikatakan Baper. Kami janji akan menyimpannya dengan sangat baik. Kami jamin rahasianya akan aman."

Penegasan yang disampaikan Mantul itu pun diamini Lebay dengan anggukan ke arah Santuy.

Beberapa waktu mereka saling diam. Dan, Santuy pun berdiri. Kemudian berjalan meninggalkan ketiga temannya sambil berkata, "Biarlah keempatnya tetap menjadi rahasiaku."

"Kok begitu, Tuy?" tanya Mantul penasaran.

Santuy tetap diam dengan posisi santai.

"Ayolaaah, Tuy, katakan saja rahasia yang keempat kepada kami!" pinta Lebay.

Santuy menggeleng. Lalu berjalan santai meninggalkan mereka bertiga.

"Eh, tadi bukannya kamu sudah mengatakan rahasia pertama hingga ketiga? Berarti tinggal satu, 'kan rahasia yang masih kamu sembunyikan? Bukan empat lagi!" Baper sedikit jengkel.

Sambil berjalan Santuy bersuara santai, "Ketiganya hoax."

Baper, Lebay, dan Mantul pun saling berpandangan heran.

Saturday, October 26, 2019

Benarkah Puisi hanya Bunyi bagi Masyarakat Pembacanya?


Konon, puisi bisa menggugah jiwa masyarakat pembacanya. Yang semula malas beribadah misalnya, tergugah jiwanya menjadi ahli ibadah setelah ia membaca puisi genre religi. Atau, yang sebelumnya gemar mencuri, setelah membaca puisi tentang kesedihan korban pencurian, ia pun berhenti melakukan perbuatan tercela itu.

Tapi, bagaimana dengan sebagian masyarakat yang mengaku tidak dapat memahami kandungan makna puisi?

Suka tidak suka, pertanyaan di atas memang sebuah kenyataan di lapangan. Tidak sedikit orang yang mengatakan bahwa puisi itu sulit sekali dipahami.

"Sudah kubaca sih, tapi ga ngerti isinya."

Lebih kurang seperti itu yang diungkapkan sebagian pembaca puisi.

Dalam hal ini, kita jangan dulu membahas soal interpretasi terhadap kandungan puisi. Sebab, masyarakat di luar dunia puisi, lebih akrab dengan memahami isi puisi daripada menafsirkannya.

Karena alasan itulah, banyak orang yang menganggap bahwa puisi hanya dipahami penulisnya dan kaum penyair saja. Sementara orang lain tidak bisa mendapatkan apa-apa dari pembacaan puisi.

Namun, ada sebagian orang yang meski tidak memahami isi puisi, mereka memilih untuk menikmati bunyi indah dari puisi yang dibacanya. Ya, mungkin seperti saat seseorang tidak memahami bahasa dalam irik sebuah lagu, tapi dapat menikmati iramanya.

Bagian di atas itu sebenarnya khusus puisi yang sukar dipahami. Memang ada kerja interpretasi di dalamnya.

Nah, berbeda lagi ceritanya pada puisi-puisi yang mudah dipahami semisal karya-karya Taufiq Ismail. Orang akan dengan mudah menangkap maknanya.

Berikut contoh puisi yang mudah dipahami.

SEORANG TUKANG RAMBUTAN PADA ISTRINYA
Karya Taufiq Ismail

“Tadi siang ada yang mati,
Dan yang mengantar banyak sekali
Ya. Mahasiswa-mahasiswa itu. Anak-anak sekolah
Yang dulu berteriak: dua ratus, dua ratus!
Sampai bensin juga turun harganya
Sampai kita bisa naik bis pasar yang murah pula
Mereka kehausan datam panas bukan main
Terbakar muka di atas truk terbuka

Saya lemparkan sepuluh ikat rambutan kita, bu
Biarlah sepuluh ikat juga
Memang sudah rezeki mereka
Mereka berteriak-teriak kegirangan dan berebutan
Seperti anak-anak kecil
“Hidup tukang rambutan! Hidup tukang rambutani”
Dan menyoraki saya. Betul bu, menyoraki saya
Dan ada yang turun dari truk, bu
Mengejar dan menyalami saya
“Hidup pak rambutan!” sorak mereka
Saya dipanggul dan diarak-arak sebentar
“Hidup pak rambutan!” sorak mereka
“Terima kasih, pak, terima kasih!
Bapak setuju karni, bukan?”
Saya mengangguk-angguk. Tak bisa bicara
“Doakan perjuangan kami, pak,”
Mereka naik truk kembali
Masih meneriakkan terima kasih mereka
“Hidup pak rambutan! Hidup rakyat!”
Saya tersedu, bu. Saya tersedu
Belum pernah seumur hidup
Orang berterima-kasih begitu jujurnya
Pada orang kecil seperti kita.

1966

Thursday, October 24, 2019

Prabowo Jadi Menhan, Jokowi Semakin Jaya


Ibarat di medan peperangan, Joko Widodo adalah sang pemenang. Sedang Prabowo Subianto merupakan pihak yang berhasil ditumbangkan dan dikuasai. Setidaknya itulah realitas sederhana yang dapat dilihat oleh banyak mata.

Ya, secara empiris, sejak prapilpres hingga pascapilpres lalu, memang begitu adanya.

Sebagai pihak yang kalah dalam "perang total" (versi kubu pemenang), rupanya Prabowo memiliki jiwa yang besar. Ia mau menerima kekalahan sampai titik puncak perjuangan, yakni di Mahkamah Konstitusi. Tidak ada demo, tidak ada peperangan berdarah. Dirinya menerima dengan legawa bahwa ia telah kalah di tangan Joko Widodo (Jokowi).

Melihat sikap positif yang ditunjukkannya itulah, pihak sang pemenang merasa perlu merangkulnya. Lalu memperlakukan Prabowo dengan baik.

Benar saja, Jokowi menawarkan sebuah kursi menteri kepada Prabowo. Sungguh jabatan luar biasa yang didambakan banyak orang di negeri ini. Terutama para elit politik.

Tak pelak lagi, Prabowo Subianto pun dengan senang hati menerimanya. Dirinya terlihat begitu gembira. Sangat bahagia. Tak ada rona kesedihan di wajahnya yang sudah tak muda lagi itu.

Hari pun berganti. Pelantikan para menteri termasuk dirinya pun berlangsung hikmat. Prabowo sah menjadi Menteri Pertahanan yang bersumpah setia membantu atasannya, yakni Presiden Joko Widodo selama lima tahun ke depan menjalankan roda pemerintahan yang baru. Pemerintah Era Jokowi jilid II.

Nah, dengan kata lain, jika Prabowo Subianto dapat melaksanakan tugasnya itu dengan baik, maka secara otomatis visi dan misi Pemerintahan Jokowi pun sukses besar. Dan sudah barang tentu, Presiden Joko Widodo akan semakin jaya dalam karier politiknya.

Kemudian, bagaimana dengan pendukung Prabowo Subianto? Di lapangan banyak pendukungnya berharap bahwa ia (baca: Prabowo Subianto) dapat semaksimal mungkin menjalankan tugasnya tersebut. Jika demikian adanya, berarti mereka sebenarnya mendukung penuh Pemerintah Joko Widodo agar Indonesia dapat meroket menuju kemajuan.

Lalu, bagaimana dengan pihak oposisi seperti yang didengungkan Rocky Gerung terhadap Prabowo secara khusus dan dan Pemerintahan Jokowi secara umum?

Hal terakhir di atas mungkin akan terjawab seiring perjalanan Bangsa Indonesia ini sendiri. Masih setia menjadi oposisi? Atau entah bagaimana kelanjutannya?